Cerita Dewasa Konglomerat PDK 7 Tamat

Cerita Dewasa Konglomerat PDK 7 Tamat

Baca Juga
-Memang benar pepatah yang mengatakan 'Masuk hutan takut melihat bayangan,
bertemu orang takut dengan nama besarnya'. Biar bagaimana kewibawaannya sampai
sekarang masih terpancar nyata. Para Jago pihak musuh yang sudah mulai mendekat, tanpa
terasa menyurut kembali.
Hanya Cu Tian Cun yang berdiri tegak tanpa bergeming sedikit pun. Orang yang
lainnya sudah menghunus pedang masingmasing, pedangnya sendiri malah sudah
dimasukkan kembali ke dalam sarung. Dia menyongsong kedatangan Song Ceng San
sambil menjura.
"Apakah Song ioya cu ingin memberikan petunjuk langsung kepada cayhe?".
Sinar mata Song Ceng San menatapnya dengan tajam. Terdengar suara tawanya yang
berat dan parau,.
"Anak muda, kau ingin bergebrak dengan lohu? Kau masih belum pantas, lebih baik panggil
saja Cu Leng Sian untuk menghadapiku," sahutnya sinis.
Mendengar nada suaranya yang memandang rendah dirinya, tanpa terasa sepasang
alis Cu Tian Cun langsung teriungkit ke atas. Wajahnya menyiratkan perasaannya
yang gusar. "Kau...!".
Dalam waktu yang bersamaan, wajah Song Ceng San seperti orang yang terpana
Dengari terharu dia juga mengucapkan sepatah kata.... "Kau...?".
Dua petah 'kau' ini boleh dibilang diucapkan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Cu Tian Cun dapat merasakan pandangan Song Ceng San yang seperti orang terkejut.
Kata-kata yang tadi hendak diucapkan jadi berhenti setengah jalan.
"Ada apa dengan cayhe?" tanyanya bingung.
Dua bola mata Song Ceng San terus menatap wajah Cu Tian Cun lekatleka}.
Kemudian dia bertanya dengan cepat....
"Apakah nama kecil Cong huhoat ialah Liong Koan?".
Rupanya ketika Cu Tian Cun mengerutkan sepasang alisnya tadi, dia sempat melihat
setitik tahi ialat merah di atas alis kinnya. Tentunya para pambaca masih ingat ketika
Yok Sau Cun pertama kali terjun dunia kangouw, dia segera menuju ke Tian Hua
sanceng, karena dia mewakili gurunya menyelesaikan dua buah permintaan.
Yang satu harus dengan anggukkan kepala Song loya cu bacu bisa terpenuhi. Sampai
sekarang Yok Sau Cun masih tidak mengertj apa permintaan gurunya yang satu itu.
Satu lagi adalah mencan pulranya yang menghilang enam belas tahun yang lalu.
Satusatunya tanda lahir yang masih diingatnya adatah tahi lalat merah di atas alis
kirinya, dan namanya sewaktu kecil adalah Liong Koan. Ketika menghilang, usia
anak itu bacu dua belas tahun. Kalau masih hidup, semestinya sekarang sudah berusia dua
puluh delapan tahun.
Hal di atas ini Yok Sau Cun yang memberitahukan pada Song loya cu.
Kemudian, setelah mendapatkan pertolongan budi beberapa kali dari Yok Sau Cun,
akhirnya Song loya cu mengabulkan juga permintaan gurunya. Dia memberikan
sebilah giok dan meminta Yok Sau Cun membawanya kepada Hui hujin. Pada waktu
itu Song loya cu memang tidak menJelaskan secara terangterangan kepada Yok Sau
Cun. Tetapi dalam hatinya sudah yakin bahwa suhu Yok Sau Cun yang bergelar Bu
beng lojin adalah adik iparnya yang bungsu. Adik iparnya yang tua adalah Hui Kin Siau.
Mereka adalah suami istri sudah berpisah selama dua puluh tahun lebih. Padahal
sebab musababnya timbul dari masalah yang kecil. Menurut Yok Sau Cun, suhunya
mengatakan bahwa urusan ini hanya bisa diselesaikan dengan anggukkan kepala Song loya
cu. Tentu saJa Yok Sau Cun tidak mengerti. Tetapi Song loya cu segera
memahami maksud adik iparnya yang berharap dia bersedia mendamaikan mereka
suami istn. Song !oya cu menyerahkan sebelah giok kepada Yok Sau Cun dan
memintanya menyerahkan kepada Hui hujin juga karena urusan ini. Dia meminta
bantuan adiknya, Hui hujin, untuk membujuk Tan hujin yang merupakan guru Yok
Sau Cun dan memiliki nama asli Sian.
Dan anak mereka yang hilang itu sudah barang tentu keponakan luarnya.
Kita kembali lagi pada Cu Tian Cun yang mendengar pertanyaan Song toya cu.
Orang tua itu menanyakan apakah nama kecllnya Liong Koan? Untuk sesaat dia tidak dapat
menyahut. Tetapi nama itu seakan tidak asing di telinganya, Namun biar
bagaimana dia menguras otaknya, tetap saja dia tidak dapat mengingatnya kembali
Oleh karena itu, dia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Cayhe tidak mempunyai nama kecil. Sudafi tentu Liong Koan bukan nama kecil cayhe.
Mungkin Song loya cu salah mengenali orang," sahutnya.
Sudah barang tentu Song loya cu tidak mau menyudahi begitu saja.
"Apakah tahun ini kau berusia dua puluh delapan tahun?" lanyanya kembali.
Sekali lagi Cu Tian Cun menjadi tartegun mendengar pertanyaannya. Belum lagi
sempat dia menjawab, tahu-tahu senbu sudah melonjak bangun dari kursi
kebesarannya. Dari seorang wanita palayan yang bardiri di belakangnya, dia
mengambil pedang pusakanya. Kemudian terdengar suara tawanya yang sumbang.
"Song Ceng San, tadi kau mengajukan tantangan kepadaku! Hu kaucumu ini
sekarang juga akan mengabulkan keinginanmu," katanya dengan suara lantang.
Dengan tangan menggenggam padang pusaka, dia barjalan ketuar dan
rombongannya. Tentu saJa tindakannya ini untuk iriencegah Song Ceng San
mengajukan lebih banyak pactanyaan kepada Cu Tian Cun.
Terdengar suara.
"Trangl' yang nyaring. Pedang panjang Song Ceng San pun sudah dihunus dari
sarungnya.
"Boleh juga. Setelah kalah dan menang di antara kita sudah ketahuan, masih balum
terlambat untuk bertanya kepadanya," sahutnya santai.
Hue leng senbu menudingkan pedangnya ke depan. Dengan suara barat dia berkata....
'Kami tidak bertarung untuk menentukan siapa yang akan kalah atau siapa yang akan
menang. Pokoknya salah satu di antara kita harus ada yang terkapar di atas tanah tanpa
bisa bangkit lagi untuk selamanyal" Tibetiba tangan kanannya terjulur ke depan dan
menusuk ke arah bahu kiri Song Ceng San.
Song Ceng San tertawa terbahak-bahak,.
"Bagusl Bagusl Lohu justru ingin lihat apakah kau mempunyai kemampuan untuk membunuh
Lohu?" Pedang panjang yang ada di tangannya langsung diulurkan ke
depan.
Kedua tokoh kelas tinggi ini sama-sama sudah mengeluarkan pedangnya dan mulai
bergebrak. Kalau dilihat sepintas selalu, tampaknya tidak ada yang aneh dan tidak juga
ada yang istimewa. Satu hal yang barbeda depgan pertarungan orang-orang laln, yakni
hredua pedang mereka sama sekali tidak menimbulkan suara.
Tetapi hawa yang terpancar dari setiap pedang, dalam jarak beberapa cun saja su' dah
dapat dirasakan hawa dinginnya, bahkan ; terasa sampai menyusup ke dalam tulang
sumsum. Kalau lawannya adalah Jago kelas teri, pedangnya belum sampai,
rangkuman hawa dinginnya sudah dapat membuatnya mati dalam keadaan baku.
Begitu kedua orang ini mulai bergebrak, Suo Ying Hu dan rekanrekannya juga lang'
sung menyerbu ke arah orang-orang detapan partai besar. Suara teriakan mereka bagai
orang kalap. Dari pihakdelapan partai besar. baru Song Ceng San yang keluar ke
tengah arena. Tapi sebelumnya dia sudah berpesan kepada Ciang bunjin Hua San pai, yakni
Sang Ceng Hun, dan memintanya berunding dengan Wi Ting sintiau Beng Ta
jin mengenai cara membagi orang-orang yang harus mereka hadapi.
Dan ketika Song Ceng San dan Cu Tian Cun sedang berbicara, Sang Ceng Hun sudah
mengajak Beng Ta jm ke samping dan menghitung jumlah jago pihak lawan lalu
membandingkannya dengan jago dari pihak sendiri Sekarang mereka sudah
menentukan siapa yang harus melawan siapa dari pihak lawan.
Saat ini mereka melihat pihak musuh sudah datang menyerbu ke arah mereka Dan
sesuai dengan hasil perundingan, masingmasing pun segera keluar dan kerumunan
dan menghadapi lawan yang telah ditentukan. Tentu saja mereka bukan sembarangan
menentukan pihak yang harus dihadapi, tetapi mempartimbangkannya sesuai dengan
ketinggian ilmu masing-masing.
Bu Cu taisu segera menghentakkan tongkatnya ke atas tanah sehingga menimbulkan
suara.
"Bluk! Bluk!"sebanyakduakali. Kemudian dia melemparkan tongkat itu ke samping serta
mengeluarkan pedang panjangnya.
"Trang! Pedangnya itu pasti merupakan sebilah pedang yang sudah tua sebab
warnanya saja sudah mulai pudar. Setelah itu dia melangkah keluar dan
merangkapkan sepasang telapaktangannya kepada Cu Tian Cun.
"pinceng memohon petunjuk dari Cu sicu." katanya.
Para hwesio Siau lim pai jarang yang menggunakan pedang panjang. Itulah aebabnya orangorang
dunia kangouw mengira bahwa di Siau lim pai tidak ada jurus ilmu
pedang yang hebat Partai ini terkenal dengan pukulannya. Padahal di Siau lim paj ada
tujuh puluh dua macam ilmu pusaka. Dan yang terdaltar sebagai nomor satu justru
adalah Tat mokiam. Tetapi, para murid yang belum mencapai taraf tianglo tidak boleh
mempelajarinya. Oleh karena itu jarang orang yang mengetahui hal ini.
Sekarang Bu Cu taisu tiba-tiba melemparkan tongkatnya dan menggantikannya
dengan pedang. Hal ini membuktikan bahwa orang tua ini sudah menguasai Tat
mokiam. Sebagai seorang tokoh generasi muda yang sudah banyak mempelajari
berbagai ilmu pedang dari berbagai aliran, tenUi saja Cu Tian Cun tahu mengenai Tat mo
kiamhoat ini. Selain rumit, ilmu pedang ini juga mengandung kekuatan yang
dahsyat. Oleh karena itu dia sarfta sekali tidak berani memandang ringan musuhnya yang
satu ini. Dia segera mengeluarkan pedangnya yang terselip di pinggang.
Mulutnya mengembangkan seulas senyuman.
"Taisu barsedia memberi petunjuk benar-benar merupakan kehormatan bagi cayhe."
Cu Tian Cun merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam.
"Silahkanl".
"Cu sicu, silahkan!".
Blbir Cu Tian Cun tetap tersenyum.
"Selama bertarung menghadapi lawan, cayhe belum parnah turun tangan tertebih dahulu.
Silahkan taisu yang mulai dutuan saja," katanya.
"Kalau begitu pinceng tidak sungkan lagi." Pedang Bu Cu taisu langsung digerakkan.
Serangannya yang tanpa suara sedikit pun ini tidak langsung diarahkan kepada Cu
Tian Cun, melainkan ditusukkan ke tengah udara.
Meskipun serangan Bu Cu taisu ini tidak menimbulkan suara dan tidak terasa
dorongan angin yang kencang tetapi gerakannya begitu sempurna dan wajar. Seakan
padangnya itu sudah bersatu dengan lengannya sendiri dan apabila dia menggerakkan
pedangnya, yang terlihat malah seperti orang yang menggerakkan tangan dengan
seenaknya. Hal ini membuktikan bahwa latihan pedangnya sudah mencapai taraf yang
demlkian tinggi sehingga dia sudah bisa menggerakkannya dengan menyesuaikan
keinginan hati.
Sepasang mata Cu Tian Cun memancarkan sinar yang tajam. Tubuhnya bergerak ke
depan dan pedangnya pun langsung ditun' curkan. Dalam waktu yang sangat singkat, kedua
orang itu sudah mulai bergebrak, Suara benturan senjata tajam pun terdengar riuh rendah
bagai berpadu menjadi satu.
Tangan Ciang bunjin Hua San pai, San Ceng San sudah menggenggam pedang
panjang. Perlahan-lahan namun pesti dia menyambut kedatangan Suo Yi Hu. Orang
ini terkenal karena ilmu pukuiannya. Sekarang dia melihat yang menyambut
kedatangannya justru Sang Ceng San. Tanpa terasa sepasang alisnya langsung
terjungkit ke atas.
Perlu diketahui bahwa dan rombongan Song Ceng San serta delapan partai besar,
maka kalau ditilik dari ilmu pedangnya, yang pallng tinggi sudah pasti Song loya cu.
Sedangkan orang keduajustru Ciang bunim Hua San pai ini, yakni Sang Ceng Hun.
Hua San Kiamhoat di dunia kangouw sudah sangat terkenal. Apalagi kalau
dihubungkan, sebetulnya Sang Ceng Hun itu masih adik seperguruan Song Ceng San.
Tentu saja orang ini tidak dapat dianggap enteng.
Long san itpei Suo Yi Hu memang bertangan kosong. Dia segera merangkapkan
sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam. Bibirnya menyunggingkan
seulas senyum yang dipaksakan,.
"Ciang buiin membawa pedang menuju ke slni, apakh berarti Ingin bergebrak dengan
hengte?.
Sang CengHun menatapnya dengan dingin.
"Tidak sala. Urusan hari ini tampaknya tidak dapat dialaskan lagi dengan
musyawarah. Hu Cag huhoat harap keluarkan senjatal".
Long san it pei tersenyum simpul.
"Hengte jaraig sekeli bergebrak dengan orang Tetapi k'adaan hari ini memang berbeda.
Hengte tepaksa menemani!".
Dengan keergganengganan dia mengeluarkan sebatarg potlot besi yang panjangnya
kurang lebh satu cun Digerakkannya potiot besi itu daiam genggaman serta
mendongakkan kepalanya sambil tertawa lebar.
"Sang Ciang bunjin, silahkan'.".
Sang Ceng Sai melihat senjatanya hanya berupa sebatang potlot besi. Dia langsung
menyadari bahwa keahlian lawan adalah ilnui menotok jalan darah Apalagi di dunia
kangouw ada sebuah ucapan yang sangat terkenal, yaitu satu cun lebih pendek, maka satu
totokan lebih keji.
"Beng Ta jin parnah menglakan bahwa orang ini licik sekali. Tampakny kata-kata itu
memang tidak salah," pikirny dalam hati. Membawa piklran demikjan, rulutnya langsung
mengeluarkan suara taw yang dingin.
''Silahkan!".
Tai Pekkiam segera bergrak memutar. Timbul selarik smar berwana keperakan yang
langsung metuncur ke cepan. Sebagai ciang bunjin dari Hua San pa, tentu saja dia tidak
sudi menarik keuntunian dari orang lain. Gerakan pedangnya lanbat sekall.
Padahal ilmu pedang Hua San aai terkenal dengan kelincahannya dan kecepatannya.
Dia membuka serangan dengan perlahan hanya karena menjaga pamornya siJa.
Long san itp^, memperdengarkan suara tawa yang seram.
"Sang ciang bunjin tertafu sungkan!" Kakinya langsung bargerak m^'u beberapa fangkah
mendahului. Tangan kanannya mengibas, setitik sinar berwarna kelabu
bagaikan blntang komet meluncur ke rusuk kanan Sang Ceng Hun. Siapa sangka, baru saja
Tou Smgpit (Potlot bintang jatuh) nya bergerak, pedang di tangan Sang Ceng
Hun tiba-tiba ber.
putar dan menimbulkan cahaya pelangl yang berkilauan. Gerakan itu sungguh indah
dan tepat meluncur ke arah pergelangan tangan ';anan yang menggenggam pollot besi.
Long san itpei terkejut sekali. "Terhyata Hua san kiamhoat mempunyai gerakan yang
demikian cepat," katanya dalam hati. Pergelangan tangannya segera ditarik sedikit.
Terdengarlah suara.
"Trang!" yang keras dan kedua senjata yang berbeda itu pun sudah saling membentur.
Pedang Sang Ceng Hun bergerak bagai awan yang berarak Tidak begitu
mudah bila ingin menekannya Dia telah merasakan kekualan tenaga yang terkandung
dalam potlot besi Suo Yi Hu Ternyata orang ini juga melatih semacam ilmu tenaga
dalam yang berasal dari luar perbatasan Namun dia tidak I gugup sama sekali Tibatiba
pedangnya i ditarik kembali lalu menusuk ke arah pinggang lawan. Long san itpei pun
terdengar sampai menggeser ke samping dengan terburu-buru. Pada jurus kedua, baik Sang
Ceng Hun maupun Long san it Pei sudah muai menunjukkan kecepatan
masingmasing. Kehebatan mereka pun mulai diunjukkan. Sang Ceng Kun meraih
keuntungan dari Hua san kiamhoatnya yang mengandalkan kecepatan. Tampaknya
Long san itpei sebentar lag! akan berada di bawah angin.
Telapi kelihatannya Long san itpei tidak merasa khawatir sama sekali. Mulutnya
sekali tag! memperlihatkan seringai yang menyeramkan. Pottot besinya diputarkan
satu lingkaran, kemudian seiring dengan tubuhnya yang bergerak, potlot itu pun
meluncur ke depan. Pertarungan di antara kedua pihak yang mana satu menggunakan
pedang dan satunya lagi memakai potlot besl pun berlangsung dengan sengit dalam
waktu yang singkat.
Lawan yang telah ditentukan untuk dlhadapi oteh Kim kasin Ciek Ban Cing adalah
Hun Bu Pao. Ketika tubuhnya melesat dan melayang keluar, sepasang tangannya
sudah direntangkan di depan dada. Dia sama sekali tidak menyapa lawannya.
Mulutnya mengeluarkan suara raungan yang keras. Sepasang telapak tangannya
langsung dihantamkan. Serangkum angin yang kencang segera terpancar dari
sepasang telapak tangannya meneriang ke depan.
Hun Bu Pao juga menghampiri maiu dengan tangan kosong. Melihat pukulan telapak
tangan Ciek Ban Cing melucur ke arahnya, rnulutnya langsung menyenngai seram.
"Serangan yang bagusl" Dia membentak lantang dan kakinya langsung bergerak maju kurang
lebih lima cun. Tangan kanannya mengerahkan jurus Menyapu dedaunan yang
rontok, dia bergerak di samping pinggang Ciek Ban Cing dan tiba-tiba tubuhnya
memutar mengikuti luncuran telapak Tangan kirinya bagai sebilah pisau yang tajam
menebas ke arah belakang punggungnya Serangannya ini tidak menimbulkan suara
sedikit pun.
Ciek Ban Cing mempunyai postur tubuh yang tinggi besar. Sedangkan Hun Bu Pao
adalah seorang tua yang tubuhnya pendek kecil, Kalau dibandingkan dengan Ciek
Ban C'mg, palingpaling tingginya hanya mencapai pundak orang itu.
Bagi oraig yang bentuk tubuhnya pendek kecil, gerakannya pastt lebih lincah. Sekali
berputar, tubuhnya sudah nriencapai bagian punggung Ciek Ban Cing Sayangnya
Ciek Ban Cing bukan golongan tokoh yang mudah dihadapi. Dengan gerakan yang
tidak kalah cepatnya, dia meraung keras. Rambut dan jenggotnya sampai
berkibarkibar. Sepasang telapak tangannya diangkat sedikit kemudian dihantamkan ke
depan.
Tubuh Hun Bu Pao yang pendek segera mencelat mundur sembilan cun. Kembali
Ciek Ban Cing mendengus dingin Lengan. nya bergetar dan mendahului menyerang
Sepasang telapak tangannya langsung menyerang dengan gencar.
Hun Bu Pao terlawa dingin.
"Ciek Ban Cing, kau anggap orang she Liau ini takut kepadamu?" Sepasang lengannya
bergerak maju. Sekaligus dia melancarkan dua buah pukulan Yang pertama diarahkan ke
bagian perutCiek Ban Cing, kemudian tubuhnya dengan lincah melesat
maju mengitari lawannya.
Dengan panik Ciek Ban Cing segera mem balikkan tubuhnya. Hatinya m.arah sejtali
mendengar ucapan Hu Bu Pao.
"Kalau kau benar-benar tidak takut menghadapi Ciek toaya, mengapa kau selalu menghindar
dari pukulan telapak tanganku ini?".
"Kau kira aku tidak berani?" Menggunakan kesempatan ketika tubuh Ciek Ban Cing baru
berputar, Hun Bu Pao mencelat ke udara. Sepasang telapak tangannya bagai
golok yang menerjang dan depan Ternyata kedua pukulan ini menimbulkan suara
seperti siulan dan mengandung kekejian yang tersembunyi.
Ciek Ban Cing malah senang melihat serangannya itu Sepasang telapak tangannya
segera didorong ke depan Terdengarlah suara.
"Blam! Blaml" sebanyak dua kali Empat buah telapak tangan saling beradu Ciek Ban Cing
masih berdiri tegak di tempat semula. Sedangkan tubuh Hun Bu Pao berjungkir balik di
udara Keiika tubuhnya melorot turun, kakinya pun bergerak memutar dan
langsung mengeluarkan tendangan.
Ciek Ban Cing segera menepuk ujung kaki lawannya. Pukulannya belum sampai,
angin yang diterbitkan bagai kapakyan tajam.
Di antara kedua orang ini, yang satu bermaksud meraih kemenangan dengan
mengandalkan kekuatan dan kekejian ilmu pukulannya, sedangkan yang satu lagi
lebih mengandalkan kelincahan gerakannya. Namun sebetulnya ilmu pukulan yang
dikuasai kedua orang ini hampir seimbang.
Begitu kedua orang ini bergebrak, di tengah-tengah suara deruan tangan, Ciek Ban Cing
tidak hentihentinya mengeluarkan suara bentakan yang keras, kadangkadang
terdengar pula satu atau dua kali suara getaran akibat pukulan yang sating beradu.
Perkelahian antara pihak lawan dengan rornbongan ini, tidak kalah serunya dengan
pertarungan yang terjadi antara Ciek Ban Cing dengan Hun Bu Pao Di antaranya
Tung Sit Cong dan Pekpo sin cian Yan Kong Kiat.
llmu yang dipelajari oleh Tung Slt Cong adalah Kan Kunjiu dari Siau limpai
Sedangkan Kan Kunjiu ini termasuk ilmu nomor tuJuh belas dan tujuh puluh dua
macam ilmu andalan Slau lim pai. llmu ini masih di atas Lo Han cian (tinju Lo Han)
tatapi sama-sama merupakan ilmu yang mengandung kekerasan.
Sedangkan lawannya mempunyai julukan Pekpo sin cian (Tinju sakti seratus
langkah). Dah namanya saja sudah kentara bahwa ilmu ini juga termasukyang lebih
mengutamakan gwakang. Yang aneh justru duaduanya mengambil nama ilmu yang
dipelajarinya sebagai julukan Hal ini membuktikan bahwa mereka berdua sudah
mempelaiari ilmu ini.
secara khusus.
Begitu pertarungan dimulai, yang satu segera melancarkan sepasang tinjunya yang
bagai baja Sedangkan yang satunya lagi berkali-kali menebas sepasang telapak
tangannya bagai kapak membuka gunung. Siapa pun di antara mereka berusaha
dengan segenap kemampuan untuk merobohkan musuhnya Berulang kali tinju dan
lelapak mereka beradu Timbul angin yang kencang bahkan terasa sampai di kejauhan satu
depa.
Halaman terbuka Ce Po tangoan dikelilingi tembok batu, tanahnya telah dialasi
dengan batu-batu pipih dan besar yang di zaman sekarang disebut pelataran.
Meskipun tidak ada debu-debu yang beterbangan atau batu-batu yang berpentalan,
tapi suara benturan senjata maupun pukulan dan tendangan itu menimbulkan suara
yang rnemekakkan telinga, bahkan terdengar seperti bangunan yang rubuh akibat
gempa burni yang dahsyat. Tetapi itu tentunya hanya pengumpamaan tentang
perasaan saja.
Di antara para pgo yang bertarung ada lagi HLH Hung 1 Su yang menghadapi Goca
cinJtn, Bun Tian Hong Cahaya pedang yang satu berkelebatan naikturun, laksana
pelangi yang melintas di angkasa Sedangkan yang satunya menggerakkan garpu
besarnya sehingga mennnbulkan suara yang menggidikkan hati.
Wt Ting sintiau Beng Ta jin melawan Cuo huhoat Kong Tong pai, yakni Toan Pek
Yang Kan Si Tong melawan Yu huhoatCian poa Teng, tampaknya kekuatan rnereka
juga harnpir seimbang. Sulit ditentukan dalam waktu yang singkat siapa yang akan kalah
atau siapa yang akan menang.
Dua orang dan Wi Yang samkiat, yakni 16toa Wi Lam Cu dan loji Gi Hua to
bergabung melawan dua mayat dari Siang se. Empat orang saling bergebrak. Yang
tampak hanya empat sosok bayahgan kadang beradu, kadang berpencar lagi Begitu
cepatnya sehingga membuat mata orang yang rnenyaksikan jadi berkunangkunang
Sulit untuk rnemastikan manayang pihak sendiri dan mana yang merupakan pihak
musuh.
GiokSi Cu dan BuTong pai dan ketuadari Wi Yang pai, Hui Km Siau rnenggenggam
pedang masing masing dan berdiri di depan bansan Lo han ttn dan Siau Lim pai yang sudah
terbenluk.
Mereka berdua mendapat tugas mengatur barisan Oleh karena itu mereka tidak terjun ke
arena Tetapi tanggungjawab rnerekajuga tidak terrnasuk nngan Karena orangorang dari
delapan partai besar kernungkinan sudah terserang racun pembuyar tenaga pihak musuh
Mereka tidak dapat menunda waktu lamalaina Semakin cepat selesainya
suatu pertarungan semakin baik Sebab apabila mereka bertarung tertalu lama, maka racun
sudah keburu bereaksi dalam tubuh rnereka Lo Han tin dipersiapkan pada
sebelah kiri lapangan tersebut Giok Si Cu dan Hui Kin Siau beserta delapan mund Bu Tong
pai rnenjaga di dekatnya untuk mernberikan pertolongan kepada mereka yang
terluka ataupun racunnya kambuh. Selain itu masih ada Song Bun Cun, Ciok Sam San dan
Kwek Si Hong. Mereka bertiga tadi sudah bergebrak rnelawan Cu Tian Cun.
Mereka sudah mulai merasakan hawa murni dalam tubuh tidak dapat dihirnpun dan
bergerak dengan lancar. Meskipun mereka sudah duduk bersemedi beberapa saat dan
keadaannya agak rnernbaik. Tetapi racun rnasih mengendap di dalam tubuh Apakah
mereka masih sanggup menghadapi lawan tetap merupakan sebuah pertanyaan yang
masih belum terjawab.
Oleh karena itu, mereka bertiga disiapkan sebagai orang di belakang layar yang
hanya akan turun tangan apabila keadaan benar-benar sudah terlalu mendesak.
Mereka berdiri di depan Lo Han tin dan berjagajaga apabila pihak musuh yang
jurnlahnya lebih banyak tiba-tiba menyerbu ke arah mereka.
Pengaturan posisi ini merupakan ide yang diberikan oleh Beng Ta jin. Kalau disimak
memang semuanya mendapat lawan yang tepat dan susunan strateginya juga cukup
memuaskan. Pada dasarnya dia mernaog seorang yang sangat teliti bahkan sampai ke halhal
yang sekecil-kecilnya.
Ce Po tangoan yang tadinya merupakan tempat suci bahkan tempat bersejarah saat ini
menjadi ajang pembunuhan yang berkobarkobar. Bagi orang-orang yang beragama,
hal ini merupakan musibah yang tragis. Sebab dengan pertempuran besarbesaran
seperti itu, tentu tidak sedikit orang yang akan Jatuh sebagai korban.
Dalam situasi yang panas ini, dikalakan Ciek Ban Cing yang sedang bergebrak
dengan Hun Bu Pao sudah berulang kali mengadu kekuatan. Kirakira belasan kali
benturan tenaga kemudian, Ciek Ban Cing rnulai merasakan hawa murni di dalam
tubuhnya sulit lagi dihimpun Hatinya menjadi tercekat seketika.
Justru ketika gerakannya berubah menjadi lambat, Hun Bu Pao menggunakan
kesempatan itu untuk mendesak secara rnendadak dan sebuah pukulan dari telapak
tangannya pun menghantam ke dada Ciek Ban Cing.
Dengan panik Ciek Ban Cing berusaha menahannya dengan telapak tangan. Tetapi
karena hawa murninya mulai mernbuyar, tiba-tiba tenaganya bagai hilang. Ketika
kedua telapaksaling beradu, seluruh tubuhnya tangsung bergetar. Dadanya bagai
terhantam palu. Darah dalam seluruh peredaran tubuhnya bagai bergolak Kedua
kakinya tidak sanggup berdiri dengan rnantap Tubuhnya terhuyunghuyung dan
terdesak mundur sejauh lima langkah.
Hun Bu Pao yang merasa serangannya mencapai sasaran, senang bukan main. Tanpa
sadar dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.
"Kim Kasin yang namanya menggetarkan kolong langit, ternyata cuma begitu ...".
Dua patah 'begitu saja'nya belurn selesai diucapkan, Ciek Ban Cing menghimpun sisa
tenaganya, rambutnya sarnpai berjingkrakan dan tiba-tiba dia meraung keras dan
menerjang ke depan dan menghantamkan pukutannya.
Serangannya ini dilancarkan dalam keadaan kritis. Tentu saja hal inidi luardugaan Hun
Bu Pao. Seseorang yang sudah terkena racun pembuyar tenaga, apabila racunnya mulai
bekerJa, maka dia tidak punya kekuatan lagi untuk menghadapi lawan, apalagi mernbalas
serangannya.
Apalagi serangan Ciek Ban Cing ini dilancarkan dengan mendadak. Kecepatan dan
keanehan gerakannya tak usah dikatakan lagi Menunggu sampai Hun Bu Pao sadar
ada yang tidak beres, dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindar.
Pukulan Ciek Ban Cing yani dab^vat itu sudah meluncur ke arah dadanya. Terdengar suara.
"Blammm!" yang memekakkan telinga. Tubuh Hun Bu Pao yang pendek kecil
langsung terbang dan melayang keluar Sebetulnya racun di dalam tubuh Ciek Ban
Cing memang sudah mulai bekerja Tetapi dengan tenaga dalam yang dilatihnya
selama puluhan tahun, dia rnasih sempat mengurus sisa tenaganya dan membalas
serangan lawan. Oleh karena itu puta, begitu serangannya selesai dilancarkan,
kakinyapun menjadi lemas dan tubuhnya terkulai dt atas tanah.
Dengan panik Giok Si Cu mengibaskan tasbih kumala di tangannya Dua orang murid
Bu Tong segera menghambur ke depan dan menggotong tubuh Ciek Ban Cing lalu
meletakkan ke dalam bansan. Hui Km Siau cepatcepat mengeluarkan sebuah kotak
berisi obat penyembuh luka dalam yang diberikan oleh Bu Cu taisu kapadanya. Dia
mengambil satu butir obat itu dan menyuapkannya ke mulut Ciek Ban Cing.
Pada saat itu, Tung Sit Cong yang sedang bartarung melawan Yan Kong Kiat, juga
dengan susah payah telah bertempur kurang lebih tlga puluhan jurus. Tiba-tiba dia juga
rnerasa tenaga dalamnya mulai melemah, dan bahu kirinya langsung terhantarn telak oleh
tinju Yan Kong Kiat. Tubuhnya limbung dan terhuyung-huyung mundur
sejauh lima tangkah. Lututnya tidak dapat menahan berat badannya dan dia pun jatuh
terduduk di atas tanah.
Yan Kong Kiat memperdengarkan segulungan suara tawa yang menandakan
kebanggaan dihatinya. Dia segera mengerahkan jurus Pekpo sin cian dan
menghantamkannya ke arah Tung Sit Cong yang sudah jatuh terduduk di ates tanah
itu.
Tepat pada saat itu, tampak dua bayangan berkelebat. Dua orang murid Bu Tong pai yang
mengenakan pakaian berwarna biru langsung melesat keluar dan menghadang di
depan Tung Sit Cong. Padang di tangan mereka berputar sehingga tampak cahaya
yang berkilauan.
Serangkum angin pukulan yang kehcang menghantam pada kadua tubuh pedang yang
saling bersilangan. Terdengar suara yang membuat telinga menjadi ngilu dan harnpir saja
kedua murid Bu tong itu tergetar sampai tidak dapat mempertahankan kedua
kakinya. Tetapi, biar bagaimana pun mereka sudah berhasil menyambut sejurus Pekpo sin
cian yang dilancarkan oleh Yan Kong Kiat.
Dua orang mund Bu Tong pai lainnya segera membirnbing Tung Sit Cong bangun
dan membawanya roundur dan tempat tersebutDua orang murtd Bu Tong pai yang
tadi menghadang di depannya melfhat bahwa Tung Sit Cong sudah berhasil
diselamatkan oleh dua orang rekannya Mereka juga segera menarik kembali pedang
panjangnya dan mencelat mundur ke tempat semula.
Sementara itu, Sang Ceng Hun dan Long San it pei juga sudah bertarung kirakira tiga
puluhan jurus. Potlot besi Suo Yi Hu ditebaskan ke depan dan menekan pedang di
tangan Sang Ceng Hun. Menggunakan peluang yang ada, Suo Yi Hu mengulurkan
tangan kirinya dan menghantam ke depan.
Serangannya ini tidak mengandung angin kencang yang dapat mendorong lawannya,
tetapi terasa adanya arus gelombang yang dapat menekan lawannya dan setelah
jaraknya agak dekat, tiba tiba baru terasa dahsyatnya serangan tersebut.
Sang Ceng Hun tertawa dingin Dengan gerakan yang sama, dia mengulurkan telapak
tangan kirinya dan mendorong ke depan Dua buah telapak tangan saling berkelebatan.
Tentu saja dalam sekejap mata kedua telapak tangan itu sudah beradu Terdengarlah suara.
"Plak!" satu kali dan baik Sang Ceng Hun maupun Suo Yi Hu sama-sama terdesak mundur
satu langkah.
Pada hari biasanya, Sang Ceng Hun selalu rnemandang tinggi dirinya sendiri Tetapi han
ini, setelah telapak tangannya beradu dengan pukulan lawan, dia baru merasakan bahwa
seorang tokoh yang kedudukannya lebih rendah dan berasal dari golongan
sesat seperti Long San itpei ternyata sanggup nrienahan pukulannya dan sulit
menentukan siapa yang lebih hebat. Diamdiam hatinya menjadi tercekat.
"Toa lat kimkong ciangl" serunya tanpa sadar.
Rupanya Toa lat kimkong ciang merupakan sejenis ilmu pukulan yang apabila
dilancarkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, bahkan tidak mengandung
kekuatan yang menekan lawannya Tenaga dalam secara keseluruhan terpusat pada
telapak tangan dan apabila pukulan sudah mencapai tubuh lawan, barulah kekuatan itu
mengalir keluar menghantamnya.
Telapak tangan kin Suo Yi Hu sudah beradu dengan telapak tangan Sang Ceng Hun
secara keras Tiba-tiba potlot besinya dipindahkan ke tangan kanan, mulutnya
memperlihatkan senngai yang menyeramkan.
"Sang ciang buriJin harap sambut lagi pukulan orang she Suo ini!" katanya. Tangan
kanannya diangkat ke atas, sebuah pukulan terlihat dihantamkan lagi ke depan.
Serangan ini kali menggunakan ilmu Pitkong ciang, i tapi kalau dibandingkan dengan
Pitkong ciang yang biasa, ada perbedaannya.
Bagi sebagian besar orang Bulim, asal tenaga dalamnya cukup kuat, maka banyak
yang bisa menggunakan Pitkong ciang ini llmu ini apabila dikerahkan maka akan
terasa angin yang rnenderuderu terus meluncur ke arah lawannya Sedangkan Pitkong ciang
yang dimainkan oleh Suo Yi Hu tidak mengeluarkan angin sama sekali.
Pergetangan tangan bagai angin yang bertiup lernbut menghembus ke depan,.
Sebagai seorang Ciang bunjin dari Hua San pai tentu saja Sang Ceng Hun tidak sudi
mengalah. Begitu melihat pihak lawan melancarkan serangannya, tangan kirinya
segera diangkat ke atas, kemudian diturunkan di depan dada dengan posisi menahan baru
dihantemkan keluar.
Telapak tangan kedua orang itu beradu seketika, tiba-tiba Sang Ceng Hun merasakan
gelombang yang terpancar dari telapak tangan lawan masih mengandung serangkum
hawa dingin yang lernbut sekali Namun dibalik kelembutan itu tersimpan kekuatan
yang mengejutkan Sekali lagi hatinya menjadi tercekat.
"Apakah ilrnu Cuisim ciang (Telapak penghancur hati) yang dikerahkannya mi?"
tanyanya dalam hati.
Dia sudah melatih ilmu pedangnya selama puluhan tahun Pedangnya sudah bersatu
dengan kemginan hatinya Begitu perasaannya terkejut, pedang paniang di tangan
kanannya sudah berubah membentuk bayangan seutas rantai. Dengan kekuatan.
tenaga dalam yang dahsyat menerjang keluar.
Serangannya im dilancarkan dalam keadaan terkesiap, segenap kekuatan tenaganya
boleh dibilang telah dilancarkan. Begitu pedangnya meluncur, tentu terbit suara yang
keras dan cahaya dingin pun berkilauan Pancarannya bahkan mencapai satu depa
lebih.
llmu yang digunakan oleh Suo Yi Hu memang Cuisim ciang Hatinya sedang merasa
gembira dan bangga, dia bahkan tidak bermimpi bahwa Sang Ceng Hun dapat
menyerangnya dengan pedang pada saat seperti ini. Terlebihlebih tidak menyangka
kalau serangan ini dikerahkan dengan seluruh kekuatan tenaga dalarn yang telah
dilatihnya selama puluhan tahun. Cahaya pedangnya saja bisa memantul sampai
sejauh ini.
Ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia bermaksud menggerakkan potlot
besinya Tetapi senjatanya itu masih tergenggam di tangan kiri. Apabila
menunggusaropai dia mengalihkan ke tangan kanan, tentu sudah terlambat Dalam
keadaan gugup, terpaksa dia mengerahkan tangan kinnya untuk menangkis.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa pantulan cahaya yang terliFiat bukan benar-benar
serangan yang dilancarkan oleh Sang Ceng Hun. Kalau pedang bisa ditangkis,
sedangkan cahaya hanya merupakan panlulan sinar yang terpancar dan pedangnya
Kalau sampai ditangkis, tentu saja yang ditemukan hanya kekosongan.
Kali ini rasa terkejut dalam hati Suo Y| Hu benar-benar bukan kepalang Tangan
kirinya menggerakkan potiot besi, sedangkan tangan kanannya melancarkan pitkong
ciang Keduanya dihantamkan ke arah cahaya pedang dengan harapan dapat
mengatasinya.
Pernahkah kau berdiri di bawah cahaya matahari dan mengambil sebuah cermin
untuk memantulkan sinarnya kepada orang lain? Bagaimana rnenyilaukan cahaya
seperti itu? Pftkong ciang yang dilancarkan oleh Suo Yi Hu belum mencapai sasaran
Pantulan cahaya pedang Sang Ceng Hun sudah menyinari tubuhnya Tiba-tiba dia
merasakan sekilas sinar yang mencekam melintasi tubuhnya. Dia terkeJut setengah
rnati. Dengan menjent histeris dia rnundur beberapa langkah kemudian terjatuh di atas
tanah.
Orang itu sudah rnati. Dan kematiannya karena hawa pedang San Ceng Hun. Tetapi
pada saat itu juga Sang Geng Hun rnerasakan tenaga dalamnya terkuras habis oleh
serangan yang dilancarkannya itu.
Tenaga dalamnya seperti sirna Sepasang rnatanya terasa berkunang kunang Hampir
saja dia semaput Tetapi biar bagaimana pun dia adalah seorang Ciang bunjin dan
sebuah partai yang terkemuka setiap han dia melatih ilnriu tenaga dalamnya sehingga
sudah harnpir mencapai taraf kesernpurnaan. Saat ini, ketika dia merasakan keadaan
tubuhnya tidak beres, dia segera menancapkan pedangnya di tanah dan menumpu
pada pedang tersebut serta mernpertahankan dirinya jangan sampai terjatuh.
Ketika Sang Ceng Hun dan Suo Yi Hu bertarung dengan sengit, Kiuci lo han masih
bertempur melawan Su Po Hin. Siang si suangse melawan Wi Lam Cu dan Gi Hua to,
serta Goca cinjin yang menghadapi Hui Hung 1 Su Dari pihak delapan partai besar, karena
sudah terserang racun pembuyar tenaga, maka mereka pun terpaksa
mengundurkan diri sebab hawa murni di dalam tubuh sudah terasa mulai membuyar.
Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk bertarung lebih lama Ha! inj berarti
pihak musuh yang meraih kemenangan.
Siasat yang digunakan oleh pihak musuh adalah mengulur waktu
sepanjangpanjangnya. Sampai racun d'i dalam tubuh sudah mulai bekerja, mereka pun tidak
sanggup menghadapi lawan lagi Itulah sebabnya pihak delapan partai besar
mulai merasakan tekanan yang semakin lama semakin berat.
Giok Si Cu sedang mernusatkan perhatian ke tengah arena di mana pertarungan
masih berlangsung. Tentu saja dia melihat Sang Ceng Hun yang kehabisan tenaga
Orang itu sedang berdiri dengan terhuyunghuyung. Cepatcepat dia memerintahkan
dua orang muridnya untuk keluar ke depan dan membimbing Sang C^ng Hun ke
dalam barisan Lo Han tin.
Orang yang terserang racun pembuyar tenaga masih bisa sadarkan dih. Sang Ceng
Hun yang dibimbing mengundurkan diri oleh dua orang mund Bu Tong pai membuka
suara dengan susah payah .
"Giok si toheng, cepat suruh orang kita yang sedang bertarung mundur kembali.
Semua ini termasuk rencana licik pihak musuh. Mereka berharap kita bertarung
sehingga racun dengan cepat menyebar. Kalau sekarang mengundurkan diri, mungkin
masih bisa mempertahankan kekuatan yang ada Kita can aka! lain untuk keluar dan
tempat ini.".
"Harap toheng segera duduk benstirahat agar tenaga dapat dipulihkan kembali Keadaan
saat ini sudah suht dihentikan Kita terpaksa melihat perkernbangannya
saja.".
Sang Ceng Hun menarik nafas panjang.
"Mungkin sudah merupakan takdir Yang Kuasa," katanya lirih.
Hatinya yakin, apabila pihak lawan tidak menggunakan cara licik dengan meracuni
mereka, pihak delapan partai besar tidak mungkin mengalami kekalahan dalam waktu yang
demikian singkat.
"Bukan takdir, tetapi sudah diperhitungkan dengan baik oleh pihak musuh," sahut Giok
SiCu.
Saat ini, dan pihak delapan partai besar yang masih bertarung hanya tingga! empat
orang. Mereka adalah Song Ceng San yang berlawanan dengan Hue leng senbu, Bu
Cu taisu yang menghadapi Cu Tian Cun, Beng Ta jin melawan Toan Pek Yang dan
Kan Si Tong yang berhadapan dengan Cian Poa Teng.
Dengan sebatang pedang di tangan, sebetulnya Song Ceng San dapat melancarkan
berbagai jurus andalaonya yang sulit disambut oleh lawan. Tetapi sSat ini hatinya
sedang digelayuti dua buah persoalan.
Pertama, ketika Cu Tian Cun bergebrak dengan Song Bun Cun, orang muda itu dapat
memecahkan berbagai juru's ilmu pedang keluarga Song dengan mudah Kedua, rom
bongan mereka telah diserang dengan racun ofeh pihak musuh. Sedangkan menurut
penglihatannya, orang-orang mereka apabila mengerahkan segenap kekuatan,
palingpaling masih'dapat berlahan sebanyak tiga puluhan jurus lagi Setelah itu racun
dalam tubuh pasti menyebar dan hawa murni pun membuyar sedikit demi sedikit
Tenaga dalamnya sendiri memang termasuk yang paling tinggi dibandingkan dengan
yang lainnya Tapi dia Juga paling=paling bias bertahan sebanyak tujuh puluhan jurus
saja. Setelah itu dia pasti tidak sanggup menghadapi lawan lagi.
Oleh karena itu, di dalam hatinya sudah mempunyai dua macam pertimbangan.
pertama, mereka harus bergerak cepat. Serangan yang dflancarkan harus mematikan.
Kalau dia ingin memben bar Jan kepada yang lainnya Maka dalam sepuluh atau dua
puluh jurus dia harus berha il membunuh Hue leng senbu Tetapi setelah bergebrak
sekian lama dengan nenp*< itu Dia sadar bahwa dirinya tidak sanggup melakukan hal itu
dalam waktu singkat Bahkan dia merasa ilmu Hue leng senbu demikian tingg;,
termasuk ilmu pedangnya. Kekuatan perempuan itu tidak berada di bawah dirinya
sendiri Biarpun dia mengerahkan segenap kemampuannya, sebelum hma ratus
jurusan, masih sulit ditentukan siapa yang akan kalah da" siapa yang akan menang
Apalagi ingin membunuhnya dalam waktu singkat.
Kedua, tetap mengulur waktu sepanjang rnungkin. Agar racun dalam tubuh jangan
sampai bekerja maka jangan rnengadu kekerasan dengan pihak lawan. Sebab untuk
mengadu kekerasan diperlukan saluran hawa murni. Dengan mempertahankan diri
saja, mungkin dalarn keadaan terdesak dapat memberikan bantuan yang berarti bagi
rombongan pihaknya.
Sekarang dia justru mengembangkan pertimbangan yang kedua. Pedang panJang di
tangannya hanya bergerak kesana kemari. Dia tidak ingin beradu kekerasan dengan
Hue leng senbu.
Ternyata Bu Cu taisu mempunyai pikiran yang sama dengan Song Ceng San. |!mu
yang digunakan adalah Tak rno kiarnhoat dari Siau Lim pai yang terkenal dengan
gerakannya yang tenang Sama sekali Udak terkandung kekejian sebagaimana ilmu
pedang lainnya.
Sejak sepuluh tahun yang lalu, pihak Kong Tong pai sudah membujuk para mund
murtad dari berbagai aliran untuk bergabung dengan pihak mereka. Mungkin sejak itu
mereka sudah mengadakan penelitian terhadap ilmu ilmu delapan partai besar dan
menciptakan ilmu lain yang dapat digunakan untuk menghadapinya.
Tetapi Siau lim pai mempunyai tujuh puluh dua macam ilmu yang hebathebat. Bukan
saja ilmuilmu ini sangat dirahasiakan, bahkan muridmurid perguruannya sendiri,
sebelum mendapat i]in dari ketua kuil tidak boleh mempelaJan ilmu tersebut.
Meskipun Kong Tong pai audah berusaha selama sepyluh tahun, tetapi mereka belum
berhasil mendapatkan apaapa yang berarti.
Oleh sebab itu, ketika melihat Bu Cu taisu menghadapinya dengan pedang, Cu Tian
Cun segera maklurn bahwa ilmu yang akan digunakannya pasti Tat mo kian hoat Dia
sendiri belum tahu cara menghadapinya. Terpaksa dia harus mengikuti
perkembangan. Asal Bu Cu taisu menyerang satu jurus. Dia melakukannya dengan
berhatihati maka dari itu pula pertarungan mereka memakan waktu yang lama.
Beng Ta Jin dan Kan Si Tong secara terpisah menghadapi pelindung hukum kanan
dan kiri dari Kong Tong pai. Kadua belah pihak sama-sama menyerang lawannya
dengan gencar Tetapi Wi Ting sintiau Beng Ta Jin adalah pihak seorang tokoh yang
pengalamarmya luas dan banyak akalnya Melihat jumlah pihak lawan lebih banyak
dari mereka dan sebagian besar dari rekannya sudah sanggup menghadapi lawan lagi karena
racun pembuyar tenaga di dalam tubuh mereka sudah menunjukkan reaksinya,
maka sebelum terjun ketengah arena, dia sudah membisiki Kan Si Tong agar
menghadapi lawan dengan hatihati Kalau bukan dalam keadaan terdesak, jangan
salurkan hawa murni dan jangan mengadu kekerasan dengan pihak lawan.
Meskipun tenaga dalam Kan Si Tong masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan
suhengnya Kwek Si Hong, tetapi ketika mengerahkan Pat Kua kiamhoat, tetap saja
cahaya berkilauan memantul dan pedangnya dan langkah kakinya juga mengikuti
unsur Pat Kua. Namun dia Juga tidak mengerahkan hawa murninya untuk
menghadapi lawan, boleh dibilang Cian Poa Teng seperti sedang diajaknya berlatih ilmu
pedang dan sama sekali tidak serius.
Sedangkan iawan Beng Ta jin, yakni Toan Pek Yang justru merupakan musuh yang
tidak mudah dihadapi. Meskipun bentuk tubuhnya pendek, tetapi pedangnya yang
berbentuk lebar dapat menyapukan angin yang dahsyat.
Namun Beng Ta Jin menghadapinya dengan tenang. Liok Hap k'iamhoatnya memang
merupakan ilmu yang mengandung unsur kelembutan Biarpun lawan menyerangnya
dengan gencar, dia tetap menghadapinya dengan kalem Pedangnya hanya digerakkan
dengan perlahan dan menghindari benturan dengan pedang Toan Pek Yang. Hal ini
membuat hati Toan Pek Yang kesal sampai berkoakkoak marah.
Diamdiam Beng Ta jin merasa geli melihatnya Dan ketika hawa pedang yang
dilancarkan oleh Sang Ceng Hun berhasil membunuh Suo Yi Hu, dia pun tertawa
terbahak-bahak.
"Kan heng, Sang ciang bunJin sudah mendapatkan hasil Kita toh tidak mungkin bertarung
dengan Toan toa tau dan Cian Poa Teng dengan sia-sia. Setidaknya harus menunjukkan
sedikit hasil!" katanya dengan suara lantang.
Kan Si Tong mengerti maksud hati Beng Ta jin, cepatcepat dia menganggukkan
kepalanya berkali-kali.
"Betul, betul. Kita juga seharusnya meringKus kedua orang ini secepatnya," sahutnya
cepat.
Mendengar percakapan mereka, hati Toan Pek Yang marasa marah sekali.
"Beng Ta jin, jangan kau membual! Lihat pedangl" bentaknya keras.
Pedang lebarnya menerbitkan suara berdesir dan langsung menerjang ke depan. Beng Ta jin
memang mengharapkan Toari Pek Yang menJadi marah. Apalagi sejak tadi dia
terus mempermainkannya, dia tahu Toan Pek Yang tidak dapat menahan kekesalan
hatinya lagi. Sekarang tiba-tiba dia tertawa terbahakbahak. pedang panjangnya
bergerak dan Liok Hap kiamhoat pun langsung dilancarkan.
"Trang!" Terdengar suara nyanng. Dalam sekejap mata pedang Beng Tajin sudah menyampok
pedang lebar Toan Pek Yang. Ta ngan kirinya malah bergerak lebih
cepat dan pedangnya. Dengan ilmu Liok Hap sin ci (Totokan sakti Liok Hap bun)
secara diam-diam dia mengincar urat darah di bagian punggung Toan Pek Yang.
Totokan sakti Liok Hap bun ini paling sulit dihindari. Apalagi Toan Pek Yang tidak
menyangka Beng Tajin akan menekan pedangnya secara tiba-tiba. Baru saja dia
bermaksud menyalurkan tenaga dalam yang lebih kuat lagi ke pedangnya, tiba-tiba
dia merasa urat nadi di bagian punggung menjadi kebaf dan separuh badannya pun
lumpuh seketika. Mana mungkm dia masih sanggup mengerahkan tenaga dalamnya?
Mulutnya mengeluarkan suara dengusan. pedang lebar teriepas dan tubuhnya pun
mundur dengan terhuyung-huyung.
Beng Ta jin sama sekali tidak mengejarnya Pedang panjangnya disimpan kembali
dan tertawa terbahak-bahak.
"Kan heng, kita tidak perlu meneruakan lagi babak ini," katanya.
Sementara itu, Cian Poa Teng masih berdiri dengan tertegun menyaksikan apa yang
telah terjadi, Kan Si Tong dan Beng Ta jin sudah mencelat mundur ke tempat
rombongannya berada.
Sekarang, di tengah arena hanya tertinggal Song Ceng San dan Bu Cu taisu yang
sedang bertarung melawan Hue leng senbu dan Cu Tian Cun. Tampaknya kalah atau
menang di antara mereka masih belum dapat ditentukan dalam waktu yang singkat.
Di pihak delapan partai, saat ini ada Beng Ta jin dan Kan Si Tong yang melmdungi dengan
sepenuh hati. Meskipun hanya menjaga saja, tetapi berarti mereka sudah
menambahkan beberapa bagian kekuatan.
Mata Hue leng senbu sampai memerah saking marahnya.
"Kalian ini benar-benar kantong nasi semuanya. Hayo cepat serbu kembali Bunuh semuanya
Pokoknya orang-orang yang hadir di tempat mi, Jangan satypun yang
dibiarkan lolos hari inil" bentaknya gusar.
Begitu mendengar suara bentakannya, rombongan Kiuci lo han, Cian Poa Teng,
Siang si suangse, Goca cin lin dan yang lain-lainnya segera bergerak menyerbu ke arah
barisan Lo Han tin.
Perempuan-perempuan yang berdiri di sebelah kiri seperti Ca popo, Be hua popo
Ciok Sam Ku, Liu Cing Cing, serta Hue moli Cu Kiau Kiau segera berbaris keluar
dan ikut menyerbu ke arah rombongan delapan partai besar.
Dengan demikian, pertarungan yang tadinya telah diatur satu lawan satu menjadi
ajang pertempuran besar-besaran seperti perang saja. Giok Si Cu dapat melihat
keadaan yang kurang menguntungkan Terpaksa dia memerintahkan kepada anak
murid Siau Lim pai yang membentuk Lo Han tin untuk bersiap diri dan menjaga
mereka yang terluka. Sedangkan dia sendiri segera mengajak Hui Kin Siau, Beng Ta Jin,
dan Kan Si Tong dan delapan muridnya untuk terjun ke arena untuk menyambut
serbuan musuh.
Song Bun Cun, Kwek Si Hong dan Ciok Sam San bertiga sudah beristirahat cukup
lama. Mereka merasa keadaan tubuh mereka sudah agak lumayan Tanpa menunggu
perintah lagi, mereka segera terjun ke tengah ajang pertempuran untuk memberiken
bantuan kepada rekan-rekannya yang lain.
Song Bun Cun mehggetarkan pedang panjangnya. Kebetulan dia berampokan dengan
Liu Cing Cing, gadis yang mengaku bernama Cun Bwe dan menyelundup ke dalam
Tian Hua sanceng sebagai mata-mata.
"Budak keparat, antarkan nyawamu kemari!" bentaknya lantang Pedangnya segera ditusukkan
ke depan.
Liu Cing Cing memparlihatkan seulas senyuman yang dingln.
'Kau kira sekarang dirimu berada di Tian Hua sanceng?" sindimya tajam. Sepasang
pedangnya langsung dilancarkan untuk menyambut serangan Song Bun Cun
Terdengar suara.
"Trangl" dari benturan senjata mereka. Saat itu juga Song Bun Cun merasakan hawa
murninya agak membuyar. Tanpa dapat dipertahankan lagi, kakinya tergetar mundur
beberapa tangkah. Padahal sebatang pedang Liu Cing Cing yang lainnya sedang
meluncur dating.
Untung ada seorang murid Bu Tong pai yang kebetulan di belakangnya Orang itu
segera mengulurkan pedangnya dan mewakili Song Bun Cun menyambut serangan
pedang Liu Cing Cing. Kekualan antara murid Bu Tong pai dan Liu Cing Cing
rupanya hampir seimbang. Keduanya terdesak mundur satu langkah.
Ciok Sam San dan Kwek Si Hong demikian juga. Mereka berhadapan dengan Ca
popo dan Cu Kiau Kiau. Tidak sampai satu jurus, mereka tidak dapat
mempartahankan diri lagl dan sambil mengeluh pasrah, mereka terpaksa mencelat
mundur ke dalam barisan Lo Han tin kembali.
Kalau dipikirkan, pada hari biasa, Cu Kiau Kiau dan Ca popo pasti bukan tandmgan Ciok
Sam San maupun Kwek SS Hong. Dibandingkan dengan kedudukan mereka
saja, sudah terpaut jauh. Justru inilah kelicikan pihak musuh Para perempuan yang
tadinya hanya berdiam diri di sebelah kiri, sengaja menunggu sampai racun di dalam
tubuh tokohtokoh delapan partai besar bekerja, baru turun tangan menghadapt mereka Pada
saat sekarang, tentu saja tokohtokoh itu bukan tandingan para perempuan itu lagi.
Ketika pihak musuh mulai menyerbu, delapan belas mund Siau Lim pai yang
membentuk Lo Han tirl sudah mengeluarkan tongkat besi masing-masing Mereka
menjuturkannya serentak Pergelangan tangan mereka bagai delapan belas ekor naga
yang meliuk-liuk di angkasa Suara yang terbit dari sapuan tongkat mereka
berdesirdesir. Kurang lebih lima depa tanah di sekeliling mereke terjaga dengan ketat.
Lo Han tin yang berjumlah delapan belas orang itu, di Siau Lim si merupakan barisan Lo
Han tin kecil Lo Han tin yang sebenarnya atau Lo Han tin besar merupakan
gabungan dari seratus delapan orang hwesio Tetapi kekualan Lo Han tin kecil ini saja
sudah cukup mengejutkan. Malah membawa manfaat yang besar bagi;rombongan
delapan partai besar Pihak musuh yang sedang menyerbu ke arah mereka terpaksa
tartahan di luar barisan tersebut.
Pertempuran ini benar-benar sengit. Di manamana terlihat bayangan tubuh
berkelebat. Senjatasenjata tajam saling bersilangan dan beradu. Suara begitu
menggetarkan hati bagai gemuruh geledek yang aedang mengamuk. Sinarsinar
berkilauan akibat senjata yang diktbeskan kesana kemari. Begitu senjata tajam saling
membentur, tampaklah cahaya bunga api yang memercik Benar-benar merupakan p
tarungan mati hidupyang menegangkan.
Bagi pihak delapan partai besar, partarungan ini benar-benar membahayakan Apabila waktu
terus berlalu, maka dengan parlahanlahan kekuatan mereka semakin berkurang dan otomatis
mereka yang akan keluar sebagai pecundang. Kalau sebelumnya mereka
bisa bertempur dengan tidak mengerahkan hawa murni kerena mereke menghadapi
lawan satu berbanding satu Tetapf sekarang keadaan sudah kacau. Pokoknya setiap
musuh yang ada di depan mata lang' sung diserang. Mereka tidak bisa memperdulikan hal
lainnya lagi. Sampai kapan mereka bisa bertahan, mereka akan terus berjuang
menghadapi lawan.
Tangan Sang Ceng Hun masih menggenggam pedang Dia menopang pada pedangnya
dan berusaha bangkit dengan perlahanlahan. Dihimpunnya sisa tenaga yang masih ada dan
berteriak dengan sekeras-kerasnya.
"Cuwi toaya kalian tidak usah perdulikan pinto sekalian, Yang masih sanggup menerobos
keluar, harap tenang keluar dengan secepatnya Selama delapan partai
besar masih ada, asal bisa menerjang keluar secara hiduphidup, pasti bisa kumpulkan
jagojego lainnya untuk membasmi manusiamanusia sesat ini sehingga lenyap dari
muka bumi. Kalian tidak boleh berkutat terus di sini Jangan sampai kita gugur
bersama secara parcuma'".
Kata-katanya ini diucapkan dengan kekuatan tenaga yang masih tersisa Begitu
ucapannya selesai, orangnya pun terkulai jatuh ke belakang.
Melihat keadaan itu Hue leng senbu langsung tertawa terkekeh-kekeh.
"Apakah kalian masih bermimpi dapat menerjang keluar dari tempat ini?".
Pedang panjang Song Ceng San disapukan ke depan. Matanya mendelik lebar-lebar.
"Cu Leng Sian, usia Lohu sudah tinggi. Meskipun harus kehilangan selembar nyawa ini,
pokoknya kau harus merasakan dulu ketajaman pedangku ini!" Angm yang timbul dari
pedangnya begitu kencang Bahkan terhhat selarik sinar yang berkitauan bagai seutas
rantai emas yang dikibaSkan Gerakan pedangnya begai naga sakti
mengibaskan ekor Wajah Hue leng senbu sampai berubah hebat melihat serangannya
Tanpa terasa kakinya bergetar mundur sejauh lima enam langkah.
"Omitohud'".
Tepat pada saat itu. terdengar suara seseorang yang menyebut nama Buddha Dia
berjalan dan arah !uar bukit menuju ke tempat pertempuran berlangsung Yang
pertamatama terlihat adalah seorang hwesio tua yang bentuk tubuhnya tinggi besar dan
berpakaian kuning Tangannya membawa sebatang pedang kuno Sinar matanya
tajam sekali Dengan berkelebat melewati orang yang bertarung, dia sampai di depan
barisan Lo Han tin.
Di belakangnya mengikuti seorang hwesio lainnya yang memakai pakaian berwarna
putih ke abu-abuan. Tangannya Juga menggenggam sebatang pedang panjang.
Hwesio tua ini rupanya adalah Ciang bunjin Go Bi pai yang sekarang yakni Lian Seng
taisu.
Masih ada empat perempuan yang datang bersamasama Lian Seng taisu. Mereka
adalah Hui hujin, Hui Fei Cen, Slau Cul dan seorang wanita setengah baya yang
memakai gaun panjang dan kain kasar. Keempat orang ini semuanya juga membawa
pedang dan saat ilu sedang menghampin ke arah barisan Lo Han tin.
Mata Song Ceng San yang mengedar berhenti pada diri wanita setengah baya yang
berkain kasar itu Dia cepatcepat berseru memanggilnya.
"Sam moay, Cu Tian Cun yang sedang berkelahi melawan Bu Cu taisu dari Siau Lim Pai
adalah putramu yang menghilang enam belas tahun lalu!".
Rupanya wanita setengah beya yang pakaiannya terbuat dan bahan kain kasar ini
merupakan adik ketiga dari Song Ceng San. Selama ini dia menetap di kota Kiu Hua.
Hui huJin yanapergi ke kota itu dan mengajaknya kesini.
Mendengar ucapannya Hue leng senbu marah sekali.
"Ji lo cepat hadang mereka! Jangan sampai satu pun meloloskan diri dari tempat ini!"
bentaknya lantang.
Jj lo yang dipanggilnya barusan, sudah pasti Lotoa dan losam dari Kong Tong si hao.
Loji dan Losi sedang mengemban tugas ke Soat san dan sampai saat itu belum
kembali.
Sejak tadi mereka mempartahankan kedudukannya yang tinggl, maka tidak ter]un ke
gelanggang, Tetapi mereka juga mempunyai tugas tersendiri, yaitu bertanggung jawab
untuk melihat jalannya partempuran Apablla ada orang dari delapan partai besar ada yang
sempat menerjang keluar dan ajang pertempuran, maka merekatah yang harus
menahan orang itu agar tidak sempat meloloskan diri. Pokoknya tidak boteh ada
seorang pun dari pihak delapan partai besar yang sempat melepaskan diri dari
perangkap mereka. Tetapi keadaan saat itu sudah berbeda. Dengan kedatangan Lian
Seng taisu beserta rombongannya, pihak delapan partai besar yang su dah kewalahan
seperti mendapat tenaga baru dan semangat terpacu kemball.
Oleh karena itu, Hue leng senbu segera menyuruh dua kakek dari Kong Tong sihao
itu untuk turun ke arena dan menghadang combongan Lian Seng taisu. Dua kakek itu segera
mengiakan. Kemudian tarlihat dua sosok bayangan melayang bagai burung
terbang menuju ke barisan Lo Han tin.
Tepat ketika tubuh kedua orang itu melesat, darl depan plntu batu juga melesat
masuk sesosok bayangan lainnya. Kedatangan sosok bayangan ini begitu mendadak,
melayangnya juga menuju ke arah kedua orang Kong Tong sihao. Memang yang
terlihat hanya satu beyangan, apabila sampai beramprokan, pasti juga satu yang
tertubruk olehnya.
Siapa sangka, tiba-tiba mata lotoa dan Lo sam seperti melihat bayangan orang yang
melesat, tahutahu keduanya sudah ditabrak orang sampai terhuyung-huyung.
Terdengar suara.
"Blukl Bluk!" sebanyak dua kali Tidak! Ketiga orang itu samasama terhempas ke atas
tanah. Kemudian bangkit lagi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Toahoa dan Samhao merasa heran, Mata mereka segera terangkat. Mereka melihat
bahwa yang bertabrakan dengan mereka tadi ternyata seorang lakilaki berusia kurang
lebih lima puluh tahunan dan kepalanya ditutupi topi dari kulit labu yang bentuknya
jadi aneh Tubuh orang itu kurus sekali.
Sedangkan tampang orang ini benar-benar tidak enak dilihat. Matanya sipit seperti mata
ayam, hidungnya seperti burung betet, warna mukanya kuning seperti orang
penyakitan. Di atas bibirnya dipelihara dua baris kumis yang panJang dan tipis.
Tubuhnya seperti kulit langsung membungkus tulang. Bahunya juga memanggul dua
buah karung besar.
Pada saat ini dia sedang mendelikkan sepasang mata ayamnya Dia menatap kepada
Lotoa dan Losam lekat-lekat Dengan tampang kesal dia meletakkan kedua karung
yang tadi dipanggulnya ke atas tanah.
Dia sepertl orang yang habis melakukan perialanan jauh Nafasnya masih
tersengalsengal. Dengan bersungutsungut dia menggerutu dl hadapan Lotoa dan
Losam dan Kong Tong sihao.
"Kalian berdua tua bangka ini, jalan juga tidak lihatlihat lagi ada Siau loji yang
sedang masuk ke dalam sini Juga tidak perduli barang apayang SJau loji bawa ini.
Main asal tabrak saja! Untung saja tulang kurus Siau loji ini cukup keras dan untung
saja dua buah kacung berharga ini tidak sampai terlempar ke atas tanah. Kalau sampai
dua orang yang masih hidup ini berubah menjadi orang mati, kalian tidak boleh
melemparkan kesatahan pada diri Siau Loji".
Sikapnya yang sangat khas ini sudah pasti Kim Ti jui adanya!".
Meskipun toahao tidak dapat mengenali asalusul orang yang ada di hadapannya ini, tetapi
melihat dia sanggup menabrak mereka berdua sekaligus tanpa terluka sedikit pun, sudah
membuktikan bahwa orang ini bukan orang sembarangan llmunya pasti
cukup tinggi.
Toahao sama sekali tidak berani memandang remeh orang yang baru datang ini.
Bibirnya hanya mengembangkan senyuman mengejek. ..
"Siapa Saudara? Maafkan mata Lohu yang sudah lamur ini,' katanya dengan nada dingin.
Bagi toahao, ucapan yang dikeluarkannya ini sudah termasuk sungkan. Kim Tijui
memandang kadua orang itu darl atas kepala sampai ka ujung kaki. Tiba-tiba dia
tertawa terkekeh-kekeh. Sepasang kepalan tangannya segera dirangkapkan dan dia
menjura dalam-dalam.
"Lao ko berdua, kalau tidak salah kalian adalah Lotoa dan Losam dari Kong Tong sihao
yang namanya sudah menggetarkan kolong langit. Rejeki Siau loji memang
bagus sekali. Baru sampai yang dicari tangsung bertemu. Siau loji sebetulnya
menerima titipan dari seseorang untuk mengantarkan dua orang kepada Lao koko
berdua. Orang itu mengatakan, asal hengte mengantarkan kedua orang ini sampai di tujuan
yang disebutkan, Lao koko berdua pasti akan menghadiahkan uang sebanyak
dua puluh tail. Sekarang orangnya sudah dlantarkan. Hi... hi... hi..,. Sesudah kalian
menerima barang aotaran, maka uang jasa itu...." Dia mengulurkan tangannya dan membuat
gayaseparti Sedang menimbangnimbang. Maksudnya tentu saja ingin
meminta upah yang dljanjikan.
"Di mana orang itu?" tanya toahao, Kim Tijui menunjuk kedua buah karung yang
diletakkannya diatas tanah. Dia mengangkat sepasang bahunya dan tersenyum simpul.
"Di dalam karung itu. Hengte memanggulnya dari kaki gunung sampai ka tempat inl.
Perjalanan yang ditempuh kurang lebih tujuh puluh delapan li. Semakin dipanggul
rasanya semakin berat. Beberapa tail uang ini sungguh tidak mudah didapatkan. He..
he .. he....".
Di dunia Bulim sekarang, orang yang berani menyebut dirinya sebagai adik di
hadapan Kong Tong sihao.'rasanya sudah tidak ada lagi.
Sam hao mendengus dingin. "Coba kau buka kedua karung itul" "'Orang itu mengatakan
behwa Lao koko berdua harus memenksanya sendiri, Lagipula hengta
sudah memanggulnya sampai demikian jauh. Untuk menarik nafas saja rasanya masih
susah, masa kalian masih ingin kerja gralis dari Siau loii?' sahut Kim Tijui.
"Sam te, coba kau saja yang buka. Lihat sebetulnya siapa yang dimasukkan ke dalam
karung itu?" kata toahao,.
Sementara itu, seprang gadis yang seJak semula berdiri di sebelah kiri dengan
termangumangu dan sepasang alisnya terjungkit ke atas, yakni Ciok Ciu Lan, telah
melihat Kedatangan Kim Tijui Dia seperti bertemu dengan sanak familinya sendiri
Dengan langkah tergopohgopoh dia segera menghambur ke arahnya.
"Lao koko, kau sudah datang, dia .
Sepasang mata ayam Kim Tijui langsung berkejapkejap. Kedua bahunya
dijungkitkan ke atas, bibirnya tersenyum cengar-cengir.
"Jangan tergesa-gesa, jangan tergesa Dia ada di belakang, Lao koko hanya datang lebih
cepat sedikit dari padanya," sahut Kim Tijui dengan nada menghibur.
Dia yang dikatakan oleh Ciok Ciu Lan dan 'Dia' yang dimaksud oleh Kim Tjjui,
kirakira siapa gerangan?.
Baglan Enam Puluh Enam.
Sejak turun dari gunung Soat san, Yok Sau Cun dan Tiong Hul Ciong melakukan
perjalanan dengan tergesa-gesa menuju Ce Po tangoan. Mereka takut tidak sempat
menghadiri pertamuan tersebut.
Sepanj'ang perjalanan, merekajuga harus menjaga kondisi tubuh agar stamina dapat
terj'aga dengan baik Karena siapa tahu di dalam pertemuan tersebut, tenaga mereka akan
dipertukan Terpaksa mereka hanya tmelakukan perjalanan pada siang hari.
Malam harinya mereka mencari penginapan untuk bermalam dan berangkat lagi
keesokan paginya. Pahng tidak, mereka harus memberi kesempatan bagi kudanya
untuk beristirahat. Akhirnya mereka sampai Juga di tujuan.
Tanggal satu bulan dua belas, hampir tengah hari. Dua ekor kuda pilihan dari Soat san
berjalan dengan nafas tersengalsengai. Dari mulutnya sampai terlihat uap putih
mengapulngepul Mereka berhenti di kaki gunung Oey san.
Dengan sekali toncat, Yok Sau Cun turun dari kudanya. Dia menepuknepuk kepala
binatang itu dan membiarkan kedua ekor kuda itu beristirahat di bawah sebatang
pohon yang terdapat di pegunungan. Tiong Hui Ciong sagera menambatkan kedua
ekor kuda tersebut. Dia memalingkan kepalanya ke arah Yok Sau Cun.
"Adik Cun, mari kita teruskan perialanan.".
Kedua orang itu segera mendaki ke atas. Jalanan di pagunungan itu bertikuliku.
Tidak berapa lama kemudian mereka sudah melewati Sing husi, nama sebuah kuil.
Pemandangan di sana sangat indah. Suasananya tenang. Mungkm hal inilah yang
membuat nama Oey san jadi terkenal.
Tentu saja mereka berdua tidak berminat menikmali pamandangan yang indah.
Mereke bahkan meneruskan perjalanan dengan targesa-gesa. Kirakira mencapai
setengah perJalanan, Mereka sampai di sebuah sungai yang airnya bening sekali. Di
sampingnya ada sebelang pohon siong yang sudah tua sekali. Di bawahnya duduk
sepasang pria dan wanita yang tampaknya sedang memadu kasih. Di sisi kedua orang itu
tardapat dua buah karung yang ukurannya cukup besar.
Yang laki-laki bersandar dengan bahunya karena pinggangnya sudah bungkuk.
Tampak seperti orang yang sudah berlanjut usia. Tetapi yang perempuan justru
mempunyai rambut yang indah. Bentuk tubuhnya langsing sekali. Kulit tangannya
yang tersembul Juga sangat halus. Tampaknya usia kedua orang itu terpaut cukup
jauh.
Sepasang kekasih yang sedang beristirahat di bawah pohon, pada dasarnya adalah
peristiwa yang jamak Tetapi justru karena lakilakinya begitu tua dan perempuannya masih
muda, maka menank perhatian orang yang kebetulan lewat di tempat itu.
Sekali linkan itu membuat pikiran Tiong Hui Ciong meriJadi tergerak. Perempuan itu
mengenakan paRaian barwarna hijau dan tecbuat dan bahan sutera Kalau dilihat dari
bagian punggungnya ada sedikit kemlripen dengan selir Li.
Padahal kedua orang' itu sudah berjalan menelusurl pegunungan untuk menuju ke
puncaknya, tetapi karena kecurigaan yang timbul dalam hati Tiong Hui Ciong maka
dia segera berseru....
Adik Cun, tunggu sebentarl".
Langkah kaki Yok Sau Cun otomalis terhenti,.
"Apakah Ciong cici menemukan sesuatu?" tanyanya.
Tiong Hui Ciong menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Aku melihat seseorang yang tampaknya seperti selir Li. Mari kita balik ke tempat tadi
dan lihat sekali lagi," ajaknya.
Kedua orang itu segera membalikkan tubuh dan kembali ke tepi sungai tadi Sekarang di
bawah pohon Siong itu hanya tiriggat seorang saJa, yakni si perempuan berpakaian hijau
tadi' Dia duduk sambii menundukkan kepalanya Lakilaki yang duduk
bersamanya barusan sudah tidak tertihat lagi.
Semakin diperhatikan, perempuan itu semakin mirip selir Li. Dengan diamdiam dia
memberi isyarat kepada Yok Sau Cun agar dia berjagajaga apabila perempuan itu
becmaksud melarikan diri.
Tubuhnya berkelebat bagai hembusan angin. Sekali melesat saja dia sudah sampai di
hadapan perempuan berpakaian hijau itu. Matanya segera menatap lekat-lekat. Kalau
perempuan itu bukan selir Li yang meloloskan diri dari Soan san, habis'siapa lagi?
Wajahnya menjadi berseriseci seketika.
"Adik Cun, cepat ke sini! Dia memang sellr Li!" teriaknya keras-keras.
Baru saja suaranya sirna, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang tarbahak-bahak.
Suara itu berkumandang dari atas pohon.
"Ha... ha... ha.. kami sudah menunggu kalian di tempat ini cukup lamal".
Yok Sau Cun segera melesat ke depan. Dia berdiri di samping Tiong Hui Ciong
dengan sikap melindungi.
"Siapa? Mengapa masih belum mengunjukkan diri'"' bentaknya dengan suara lantang.
"Kami sudah keluar!" Terdengar suara desiran lengan baju, dan atas pohon berkelebat
empat lima sosok bayangan Dalam sekejap mata kedua orang itu sudah terkurung di
tengahtengah.
Yok Sau Cun dan Tiong Hui Ciong segera memperhatikan siapa orang-orang itu.
Tanpa sadar mulut mereka mengeluarkan suara seperti helaan nafas panjang. Orang
yang menjadi pemimpin itu langsung tertawa terkekeh-kekeh. Dia memalingkan
wajahnya ke arah empat orang yang melayang turun bersama-sama dengannya tadi.
"Coba katian lihat. Bagaimana? Apa yang Siau loji duga lidak pernah salah, bukan?".
WaJah Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun tampak berseriseri. Mereka memanggil
dengan serentak.
"Lao koko!".
Rupanya orang yang memimpin itu memang si tukang ramal nasib, Kim Tijui
adanya. Sedangkan keempat orang lainnya, tentu saja pelayan Tiong Hui Ciong, yakni Cun
Hong, Sia ho, Ciu Suang dan Tung Soat.
Kim Tijui mengangkat sepasang bahunya dan tetap tertawa terkekeh-kekeh.
"Lao koko mengatakan kepada mereka agar tidak usah langsung ke Ce Po tangoan.
Asal menurut apa kate Siau loji, yaitu menunggu di sini saja, pasti dapat bertemu
dengan kalian. Tadinya mereka masih tidak per'caya!" katanya kepada Tiong Hui Ciong.
Tiong Hui Ciong melirik sekilas ke arah selir Li. Perempuan itu duduk bersandar di
batang pohon dan tidak bergerak sama sekali. Seperti orang yang tertotok jalan
darahnya. Tidak usah diragukan lagl ini pasti perbuatan Kim Tijui.
"Lao koko, bagalmana kau bisa tahu bahwa kaml sedang mencari perempuan inl dan tangsung
meringkusnya?" tanyanya heran.
'Mudah saja. Bukankah dia baru saja meloloskan diri dari Soat san?".
Yok Sau Cun merasa kagum sekali.
"Lao koko, sepertmya kau memang benar-benar bisa meramal hal yang belum
terjadi?".
"Tukang ramal kalau tidak tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan lerjadl,
namanya kan bukan tukang ramal lagi?" sahut Kim TiJui sambil
mengembangkempiskan pucuk hldungnya. Bibirnya tersenyum lebar sehingga dua
bans giginya yang kekuningkuningan tangsung terlihat jelas 'Siau hengte, Lao koko hanya
bercanda Baiklah, aku akan mengatakan terus terang Sebetulnya aku
mendengarnya dari Kong Tong jihao.".
Tiong Hui Ciong terkejut sekali.
"Lao koko, apakah kau juga sudah bertemu dengan Kong Tong Jihao dan Sihao yang baru
turun dari Soat san?".
Kim Tijui menunjuk ke arah dua buah karung yang tergeietak di atas tanah.
"Bukankah mereka ada di dalam situ." Rupanya Kong Tong jihao dan Sihao sudah dimasukkan
ke dalam karung olehnya. Yok Sau Cun sampai penasaran mendengar
kata-katanya.
"Lao koko..,.".
Kim Tijui mengibasngibaskan tangannya. Dia segera menukas ucapan Yok Sau
Cun....
"Jangan panggil Lao koko tecus. Kalian harus cepat berangkat Kalian kira keadaan d< Ce
Po tangoan masih amanaman saja? Biar Lao koko beritahu kepada kalian, saat ini orangorang
dari delapan partai besar $udah kembang kempis menghadapi lawan
Kalau kalian masih tidak berangkat juga, sebentar lagi mereka pasti tamat
hwayatnya.".
Mendengar keterangannya, Yok Sau Cun menjadi panik.
"Begitu gawat? Lao koko, kalau begitu kita berangkat sekarang juga!".
Kim Tijui menggelenggelengkan kepalanya.
"Lao koko justru karena menunggu kelian di sini, kalau tidak se|ak tadi aku sudah
berangkat. Tapi, Siang hengte, hari ini kau meCLipakan pemeran utama. Nenek she
Cu itu harus kau yang menghadapinya. Mari, kau sudah belajar dua jurus ilmu
pedang, tepi kau masih belum sanggup membunuhnya. Sekarang juga Lao koko akan
mengajarkan jurus yang ketiga.".
Yok Sau Cun merasa ragu-ragu.
"Apakah jurus ketiga ini tidak sukar dipelajan? Masa baru belajar sudah bisa
digunakan?".
"Sekarang juga Lao koko akan mengajarkannya kepadamu Hari ini kau harus unjuk gigi.
Cepat dekatkan telingamu ke mari," sahut Kim TI]UI.
Yok Sau Cun masih bimbang, tetapi dia mendekatkan juga tetinganya ke samping
mulut Kim Tijui Tukang ramal nasib itu segera berbisik dj felinganya " "Ingat, setelah
menjalankan jurus yang kedua, pedang ditusukkan ke sebelah kanan kirakira satu cun
tebih sedikit.".
Mendengar kata-katanya, Yok Sau Cun menjadi tertegun.
"Itu yang Lao koko maksudkan dengan jurus ketiga?" tanyanya dengan nada kurang percaya.
Kim Tijui tertawa lebar.
"Tidak salahl".
"Masa begitu gampang?" tanya Yok Sau Cun masih kurang yakin.
"Begitu kau bilang gampang?" Kim Tijui mengangketangkat behunya. Kemudlan dia
melanjutkan lagi kata-katanya. 'Tigajurus ini merupakan ilmu pedang paling dahsyat pada
jaman ini. Jangan kau anggap enteng. Boleh dibilang, di bawah kolong langit ini masih
belum ada orang yang sanggup memecahkannya Baiklah, Lao koko akan
berangkat duluan. Kalau sampai terlambat bisa gawat." Dia tangsung mengangkat kedua
buah karung yang tadinya tergeletak di atas tanah. Kakinya mulai melangkah, tetap!
kepalanya sempat menoleh satu kali. "Nyonya muda ini Lao koko serahkan kepada kalian
saja!" Sebentar kemudian bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.
Yok Sau Cun juga menofehkan kepalanya.
"Ciong cici, kita juga harus berangkat!" ajaknya.
"Tenang sa|a. Ada Lao koko yang sampai duluan di sana, pasti tidak akan terjadi apaapa.
Sedangkan perempuan ticik ini sudah tertangkap di tangan kita. Seharusnya kita lanyaKan
dulu sampai jelas, racun apa sebetulnya yang diberikan kepada Yaya. Dan di mana kita
bisa mendapatkan obat pemunahnya?" sahut Tiong Hui Ciong.
Yok Sau Cun menganggukken kepalanya. "Apa yang cici katakan memang benar."
Melihat sikap Yok Sau Cun yang selalu menurut kepadanya, hatt Tiong Hui Ciong
senang sekali. Seulas senyuman manis fangsung tersungging di sudut bibirnya.
Kemudian dia berjalan ke bawah pohon Siong dan menepuknepuk tiga jalan darah
selir Li berturut-turut.
Selir Li mengeJapngejapkan matenya. Perlahanlahan dia mutai tersadar. Sekali lihat, dia
langsung mengenad siapa yang sedang berdiri di hadapannya Tanpa terasa
mulutnya mengeluarkari seruan terkejut,.
Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soat tidak menunggu perintah lagi. Tubuh
mereka segera melesat dan mengambil posisi mengurung selir Li. Wajah Tiong Hui
Ciong menjadi dingin dan kaku.
"Selir Li, kau pasti tidak menyangka bahwa kau akan terjatuh di tanganku bukan?
Aku boleh memandang muka Ci Sancu dan tidak menyusahkan dirimu. Tetapi kau
harus menjawab baik-baik. Apabila ada setengah patah kata saja kau berdusta, jangan
salahkan kalau aku turunkan tangan kejam terhadapmu!" ancamnya dengan nada
sinis.
Mendengar perkataannya, tanpa menunggu perintah lagi Cun Hong, Sia Ho, Ciu
suang dan Tung Soat segera menghunus pedang masing-masing. Terdengar suara.
"Trang! Trang! Trang! Trang!" sebanyak empat kali. Empat larik cahaya yang memantulkan
hawa dingin pun memenuhi tempat itu.
Hal Jni saja sudah cukup menyiutkan nyali orang yang melfhatnya. Tetapi selir Li
mengedipngedipkan matanya dengan genit. Dia mengedarkan pandangannya ke arah
rombongan Tiong Hui Ciong Kemudian terdengar suara tertawa cekikikan keluar dari
mulutnya.
"Ji kouwnio, tahukah tempat apa kita sekarang berada?" tanyanya kenes.
Sikap Tiong Hui Ciong masih kaku seperti tadi.
"Aku tidak perduli tempat apa ini. Kau sudah tecjatuh ke dalam tanganku, maka kau harus
menjawab pertanyaanku.".
Sekali lagi selir Li tertawa terkekeh-kekeh.
"Mungkin kalian masih kurang paham. Jarak Ce Po tangoan darl tempat Ini hanya kurang
iebih dua belas li. Di sini sudah termasuk wilayah Tian Te kau. Apakah kau masih berani
mengumbarkan kemarahanmu pada diriku?".
"Memangnya kenapa kalau wilayah Tian Te kau?".
"Tampaknya hal ini kau juga belum paham. Wilayah Tian Te kau berarti tempat yang berada
di bawah pengawasan Tian Te kau. Mulai siang hari ini, Tlen Te kau sudah
menguasai dunia Bulim. Tiga perkumpulan delapan partai, sungai telaga dan berbagai
pegunungan semuanya harus mengakui kejayaan Tian Te kau. Aku adalah salah satu
dari selir pendamping kiri kanan dari kaucu Tian Te kau. Mengandalkan diri kalian saja,
memangnya bisa berbuat apa terhadap diriku?".
Akhirnya Tiong Hui Ciong mengerti juga. Rupanya Tian Te kau yang dia bicarakan
adalah hasil ulah orang-orang Kong Tong pai. Mungkin perkumpulan ini akan
diresmikan pada pertemuan besarbesaran di Ce Po tangoan.
"Hm, menguasai dunia Bulim? Nada bicara mereka benar-benar cukup berani,"
pikirnya dalam hati. Pikirannya tergerak, tanpa terasa dia mendengus dingin.
"Kalau hanya mengandalkan sebuah Kong Tong pai saja, memapgnya seberapa besar kemampuan
kalian?" sahutnya sinis.
Selir Li mencibirkan bawah bibirnya yang merah menawan.
"Kalau kalian tidak percaya, mengapa tidak ikut aku ke Ce Po tangoan dan saksikan
sendiri. Delapan partai besar Huh! Mungkin sejak tadi sudah menyerah".
"Aku tidak percaya!" tukas Yok Sau Cun. Selir Li mengangkat jan tangannya. "Coba kalian
lihat, bukankah tukang ronda.
pegunungan tni sudah datang?" Tiong Hui Ciong tertawa dingin. "Selir Li, tidak perlu
berbuat macam-macam di hadapanku !".
Belum lagi kata-katanya sirna, tiba-tiba sebuah suara yang parau berkumandang ke arah
mereka.
"Siapa di sana?" Lima sosok bayangan seperti terbang metesat ke tempat Tiong Hui Ciong
dan rombongannya berada. Tidak, seluruhnya berjumlah enam orang Tetapl
orang yang terakhir melangkah dengan lambat sekali. Dapat dipasiikan bahwa
kedudukan orang ini lebih tinggi sehingga dia sengaja berjalan di bagian pating
belakang.
Lima orang yang berjalan di depan, dalam sekejap mata sudah sampai di hadapan
mereka. Kelima orang ini, sudah pasti dikenali oleh Yok Sau Cun.
Tiga orang yang paling depan adalah Ma blnlong Sen Kiu, Pek pilong, Pak Seng.
Yang terakhir Toan bwelong Tio Cao. Dua orang yang lainnya adalah Potlot besi Li pak
Tou dan Kang Jiauho Pak Tong Mereka pernah bertemu di kedai arak yang
terdapat di kote Kwa Ciu.
Si Potlot besi Li pak Tou langsung melihat Yok Sau Cun. Hatinya merasa heran.
Tetapi dia segera merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalamdalam.
"Kalau ingatan hengte tidak salah, kau tentunya Yok kongcu bukan? Dalam jarak dua puluh
ini merupakan wilayah Tian Te kau, entah apa keperluan Yok kongcu datang ke tempat
ini?" tenyanya ramah.
Tiong Hui Ciong menyahul tanpa menofehkan kepatanya sama sekali,.
"Aku ada sedikit upupan dl tempat ini, kalian enyahlah!" katanya ketus.
Kang Jiau yang adatnya lebih berangasan tangsung maju satu langkah.
"Slapa kau? Berani-beraninya blcara seperti itu di hadapan Li totoa?".
Belum lagi kumandang suaranya sirna, sudah terdengar suara.
"Plokl Plok!" sebanyak dua kali. Mata Ho Pak Tung sampai berkunangkunang terkena
pukulan itu. Rupanya dalam sekejap mata, di hadapannya sudah bertambeh
seorang tua yang tubuhnya kurus kering. Dialah yang menampar Ho Pak Tung tadi.
"Kau benar-benar sudah buta? Berani-beraninya kau membentak Ji kuownio,
mungkln batok kepalamu sudah bosan berdiam di atas lehermu?" bentaknya marah.
Ho Pak Tung menatep orang tua berpakaian biru yang ada dihadapannya semb'ari
mengelusngelus pipinya yang langsung membengkak. Tubuhnya membungkuk
dalam-dalam.
"Betul, betul. Hamba minta ampun....".
Orang tua berpakaian biru itu melink pun tidak kepada Ho Pak Tung. Dia
membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda penghormatan.
"Hamba tidak tahu ada Ji kouwnio di sini. Bawahan hamba tadi tidak mempunyai bi|i mata,
harap Jj kouwnio sudi memaafkan.".
Selir Li segera mendengus dingin.
"Sun Bukai, jadi kau hanya melihat Ji kuownio dan Nyonyamu yang sebesar ini tidak
terlihat olehmu? Mana majikanmu, Cao Kuan Tu?" bentaknya kesal.
Rupanya orang tua berpakeian blru itu memang Houw Jiau Sun B.ykai adanya.
Mendengar ucapan itu, matanya segera dialihkan. Dia melihat empat gadis yang
masih mudamuda dengan tangan masing-masing menggenggam sebilah pedang
pendek. Dan ujung pisau yang tajam ditempelkan pada leher seorang nyonya muda
berpakaian hijau.
Nada bicara nyonya muda berpakaian hijau ini sombong sekati. Tetapi dia sendiri
belum pernah melihat orang itu. Tanpa terasa dia jadi termangu-mangu.
"Sebetulnya apa yang sedang terjadi di tempat itu?" Hatinya bertanya-tanya.
Tentu saja dia mengenali bahwa keempat gadis yang usianya masih muda itu adalah
pelayan pribadi Ji kouwmo. Tetapi siapa perempuan berbaju hijau itu?.
Justru kelika dia sedang tertegun itulah, terdengar kumandang suara yang nyaring sekati
dari kejauhan...,.
"Siapa yang menanyakan diri lohu?".
Majikan Sun Bukai, siapa lagi kalau bukan Hek Houwsin Cao Kuang Tu? Seiring
dengan berkumandangnya suara tadi, dari kejauhan tampak dua sosok bayangan
melesat dengan cepat menghampiri.
Kedua orang itu semakin mendekat. Semua orang dapat melihat kalau yang berjalan
di muka adalah seseorang yang mengenakan jubah panjang berwarna abuabu.
Tubuhnya kurus tinggi hampir sama dengan batang bambu. Wajahnya datar tanpa
menunjukkan mimik apa pun Sampaisampai kedua bola matanya juga hampir tidak
pernah bergerak.
Orang ini adalah Houw Cang Au Bu Ki. Bersamasama Sun Bukai, mereka berdua
merupakan orang kepercayaan Hek Houwsin Cao Kuang Tu.
Di mana tampak Sung Bukau, Hek Houwsin belum tentu ada di sekitar tempat itu.
Tetapi apabila muncul Au Bu Ki, Hek Houwsin pasti ada di belakangnya.
Sekarang yang berjalan di depan adalah Au Bu Ki, yang di belakangnya terdapat
seorang lakilaki yang bertubuh tinggi besar, alisnya tebal dan matanya buas. Orang ini
mengenakan jubah longgar berwarna hitam. Siapa lagi kalau bukan Hek Houwsin
Kuang Tu?.
Tiong Hui Ciong tertawa dingin.
"Perempuan laknat, kau kira dengan kedatangan Cao Kuang Tu, kau pasti bisa
diselamatkan olehnya? t<alau kau tidak menjawab pertanyaanku baikbaik, biar yang datang
adalah Ci sancu sendiri, aku akan membuat kau hidup enggan ingin matipun
sulit!" ancamnya sembari menolehkan kepala kepada Yok Sau Cun dan memberi
perintah. "Adik Cim, kau halangi Cao Kuang Tu. Jangan sampai dia mendekat ke mari!".
Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya. Dia segera maju beberapa langkah. Ketika
Tiong Hui Ciong mengucapkan kata-katanya, Au Bu Ki yang berjalan di depan
Hek'Houw Sin sudah hampir sampai di dekat batang pohon Siong.
"Saudara harap berhenti! ' bentak Yok Sau Cun.
Sepasang mata Au Bu KJ yang seperti orang buta itu langsung mendelik lebarlebar.
Belum lagi sempat dia mengucapkan sepatah kata pun, He Houwsin yang melangkah
di belakangnya sudah membentak dengan suara nyaring.
"Enyah kau! Matanya segera beredar dan berhenti pada diri Tiong Hm Ciong Tentu saja dia
juga sudah meiihat adanya selir Li di tempat itu. Wajahnya menjadi terpana.
Dia segera menjura dalamdatam. "Mohon tanya kepada Ji kouwnio, apa sebetulnya yang
terjadi di sini?".
"Di sini tidak ada urusanmu!" sahut Tiong Hui Ciong sinis.
"Lohu mengemban tugas menjaga di pegunungan ini Ji kuownio harus tahu behwa nyonya ini
adatah salah satu selir pendamping kaucu kami. Apabila terjadi
kesalahpahaman, seharusnya Ji kuownio laporkan kepada kaucu. Ji kuownio
meringkus selir Li, di sini jadi...
"Aku sudah mengatakan bahwa di sini tidak ada urusanmu Kau tidak usah ikut
campur!" sahut Tiong Hui Ciong masih dengan nada dingin dan kaku.
Wajah Hek Houwsin menjadi kelam seketika.
"Perbuatan Ji kuownio ini tidak dapat dibenarkan. Lohu bertugas menjagakeamanan di
pegunungan ini Kalau di sini terjadi sesuatu, sebagai seorang yang diserahi tugas,
bagaimana mungkin Lohu diam saja?".
Tiong Hui Ciong mendengus dingin.
"Hm, kehancuran Kong Tong pai sudah di depan mata Untuk apa lagi kau menjaga keamanan
di pegunungan ini Cepat enyah darl hadapanku!".
Kata-kata yang diucapkan oleh Tiong Hui Ciong ini merupakan sindiran yang telak
Sepasang mata Hek Houwsin sampai memancarkan sinar yang menusuk.
"Ji kuownio, apa yang kau maksudkan?" tanyanya dengan nada berat.
"Apakah kau masih belum mendengar jelas apa yang kukatakan tadi?".
"Apakah Ji kuownio bermaksud berkhianat?.
"Aku bergegas datang dari Soat san justru ingin membuat perhitungan dengan Hue Leng
senbu," sahut Tiong Hui Ciong.
Hek Houwsin tertawa terbahak-bahak.
"Rupanya Ji kuownio bermaksud berpaling hati. Terpaksa Lohu ringkus dulu dirimu dan
seret ke Ce Po tengoan.".
Tiong Hui Ciong marah sekali.
"Cao Kuang Tu, kau berani berbicara seperti itu terhadapku?".
"Mengapa Lohu tidak beram?" Baru saja dia hendak melangkahkan kakinya. ..
"Cao Kuang Tu, berhentil" Yok Sau Cun sudah membentaknya.
Hek Houwsin bermaksud mempertahankan kedudukannya. Dia merasasungkan
bergebrak dengan Yok Sau Cun. Kapalanya segera dipalingkan ke belakang.
"Bu Ki, wakili Lohu ringkus orang inil".
Houwcang Au Bu Ki segera mengiakan. Gerakan orang ini lambat sekali. Dengan
tampang kemalas-malasan dia melangkahkan kakinya. Hanya mututnya saja yang
terdengar membentak.
"Enyah!".
Telapak tangannya terulur kemudian dihantamkan ke depan. Apabila orang-orang dl
dunia kangouw bertamu dengan Houwjiau Sun Bukai, di bawah cakar mautnya masih
ada yang mungkin bisa meloioskan diri. Tetapi apabila bertemu dengan Au Bu Ki,
maka sembilan di antara sepuluh pasti tewas di bawah pukulannya. Itulah sebabnya dia
becnama Au Bu Ki (Sombong karena tidak tectanding).
Hek Houwsin tadi memberi perintah kepadanya untuk menngkus Yok Sau Cun.
Karena tidak dikatakan apakah dia harus meringkus Yok Sau Cun hiduphidup atau
dalam keadaan mati, maka Au Bu Ki merasa tidak perlu melelahkan diri Kan lebih
mudah menangkap orang mati dan pada orang hidup?.
Yok Sau Cun berdiri tegak sambll memangku tangan. Dia tidak menghindar atau pun
menangkis. Pukulan Au Bu Ki dengan telak menghantam dadanya. Tubuh Yok Sau
Cun bahkan tidak bergerak sedikit pun. Tangan kirinya diulurkan dan tahutahu
pergelangan tangan kanan Au Bu Ki sudah tercengkeram olehnya. Mulutnya
mengeluarkan suara bentakan....
"Kau saja yang enyah!" Tangannya bergerak, tubuh Au Bu Ki langsung melayang melewati
kepala yang Jainnya dan terpental sampai jauh.
Au Bu Ki tidak menyangka lawannya tidak menghindarkan diri atau pun menangkis.
Dengan dada menantang anak muda itu membiarkan pukulannya menghantam telak
pada sasarannya. Oia terlebihlebih tidak menyangka bahwa dalam keadaan tidak
menyadari sedikit pun tahutahu tubuhnya sudah dilempar orang sampai terpental jauh.
Tetapi biar bagaimana pun, dia adalah seorang tokoh yang sudah punya nama seiama
puluhan tahun. Begitu tubuhnya melayang di udara, kakinya segera dihentakkan.
Dengan berjungkir balik, tiba-tiba dia menerjang kembali ke mari.
.'Kakinya belum sempat memijak tanah sedikit pun, dari lengan bajunya yang
longgar terlihat dua titik sinar yang berkilauan. Dua batang pisau terbang meluncur
lebih cepat dari pada kilat menyerang ke arah dada sebelah kiri dan kanan Yok Sau Cun.
Pada gagang kedua bilah pisau terbang ini terdapat kaitan yang disambungkan
dengan seutas rantai halus, jadi dapat dilemparkan atau ditarik kembali dengan sesuka
hati. Selama ini belum pernah mengalami kegagalan.
Namun ketika dua titik sinar yang membawa hawa dingin itu meluncur ke bagian
depan tubuh Yok Sau Cun, tahutahu keduanya sudah terjepit oleh jari telunjuk dan jari
tengah anak muda itu Alis Yok Say Cun segera terjungkit ke atas.
"Au Bu Ki, orang she Yoksudah lama mendengar bahwa tindakanmu selalu
semenamena Kau adalah pembunuhnya Hek Houwsin. Dengar-dengar kau sudah
banyak mewakilinya membunuh orang Sepasang tanganmu berlumuran darah Hari ini
orang she Yok akan membasmi bencana bagi dunia Bu lim. Tetapi orang she Yok
selamanya tidak suka membunuh orang Nyawamu boleh diampuni, tetapi sepasang
tanganmu yang berlumuran darah itu harus dibuat cacat!" Kedua tangan mengibas, dua
belah pisau terbang berubah menjadi dua cank kitat dan meluncur kembali ke
arah Au Bu Ki.
Melihat dua belah pisau terbang itu berhasil dijepit dengan jan tangan oleh Yok Sau
Cun, Au Bu Ki langsung sadar bahwa anak muda yang dihadapinya ini bukan lawan
enteng. Ketika Yok Sau Cun sedang berbitfara, secara diamdiam dia menarik kembali
rantai halus di. tangannya, tetapi dia tidak berhasil. Pisau terbang yang terjepit di
tangan Yok Sau Cun tidak bergeming sedikit pun,.
Saat itu dia mefihat Yok Sau Cun menyambitkan kembali kedua pisau terbang itu ke
arahnya, dalam hati dia masth sempat menertawakan.
"Pisau terbangku itu mempunyai kaitan rantainya, mana rtiungkin bisa melukai diriku?"
katanya dalam hati.
Mana tahu pikirannya masih bergerak, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara Jeritan
ngeri. Dua batang pisau terbang itu sudah menancap di kedua lengannya. Bahkan
tulangnya pun ikut tersayat putus. Begitu sakitnya dia sampai berguhngan di atas tanah.
Dari sepasang mata Hek Houwsin terpancar dua sorot sinar yang tajam. Dia
mendengus berat,.
"Bocah busuk, lohu benar-benar salah melihat. Baik! Sambutlah pukulan lohu ini'"
benteknya marah.
Ternyata dia memang pantas menyandang gelar Hek Houwsin. Kegarangannya
tersirat jelas. Kakinya segera melangkah maju dan mendesak maju. Tiba-tiba
terdengar mulutnya mengaum keras, tangan kanannya terangkat ke atas. Tampaklah
warna kulit telapaknya yang putih keabuabuan. Ukuran telapak tangannya Jauh lebih besar
dari orang biasa Lima jarinya menekuk, kemudian meluncur ke arah Yok Sau
Cun.
Yang paling aneh justru telapak tangannya begitu pucat sehingga berwarna putih
keabuabuan, tetapi kuku jan tangannya malah hitam pekat dan mengkilap Tiong Hui
Ciong yang melihat keadaan itu segera berteriak....
"Adik Cun, hati-hati terhadap Hek Houwtok ciangnya. (Pukulan beracun harimau hitam)!".
Yok Sau Cun tidak memandang sebelah mata kepada Hek Houw Sin, Dia matah
menolehkan kepalanya kepada Tiong Hui Ciong.
"Apakah Ciong cici pernah mendengar sebuah cerita tentang seorang anak kecil yang ingin
menggambar hanmau tetapi yang dibuatnya malah lebih minp seekor anjing
budukan! Siaute Justru merasa bahwa orang ini hanya seekor anjing buas di dalam
dunia kangouw,,,.".
Mendengar kata-katanya, tanpa dapat menahan diri lagi Cun Hong, Sia Ho, Cu
Suang, langsung tertawa cekikikan.
Sebelah telapak tangan Hek Houwsin yang besar baru meluncur setengah jalan. Di
dalam dunia kangouw, dia terkenal sebagai orang yang selatu menganggap tinggi
dirinya sendiri Dia masuk ke perguruan Kong Tong pai dan menjabat sebagai kepala
keamanan. Kedudukannya tidak berada di bawah Cong huhoat.
Sekarang Yok Sau Cun malah menganggapnya sebagai seekor anjing buduk dalam
dunia kangouw, apalagi ucapannya itu dikeluarkan di hadapan para bawahannya.
Mana mungkin dia sanggup menahan dirinya?.
Begltu marahnya dia sampaisampai telapak tangannya yang sudah diiuncurkan bisa
berhenti di tengah jalan. Bewok yang memenuhi wajahnya seperti berdiri kaku.
Pakaiannya yang longgar seperti tambah mengembang. Matanya bagai mengandung
bara api, terlihat sorot kebuasan seperti ingin menerkam lawannya hidup-hidup.
Mulutnya mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan.
'Bocah cilik, justru karena kata-katamu itu. lohu akan memakan jantungmu mentahmentah'"
Benar-benar menggidikkan! Rupanya dia Juga suka makan jantung manusia.
llmu andalan Hek Houwsin adalah Houw hong patsut (Delapan jurus terjangan
harimau) Ganasnya serangan ini bagai hanmau mengamuk di tengah pegunungan.
Bukan saja keji, tetapi kecepatannya juga bagai hembusan angin. Di daiam dunia
kangouw belum pernah ada orang yang sanggup menerima tiga kali pukulannya Dia
juga belum pernah melancarkan serangan sebanyak delapan kali berturut-turut.
Kali ini dia berhadapan dengan Yok Sau Cun. Boleh dibilang merupakan musuh
tertangguh yang baru dltemuinya selama puluhan tahun ini. Oleh karena itu dia
langsung melancarkan delapan pukulan secara berturutturut. Tetapi suara yang
menggelegar dari pukulan-pukulan Mu terang-terangan ada sembilan kali!.
Setelah terdengar suara pukulan sebanyak sembilan kaii, kedua orang itu langsufig
terpisah lagi. Batu dan debu yang beterbangan membuat tempat itu bagai diselimuti kabut
tebal. Lambatlaun debudebu itu memudar, tampak jarak kedua orang itu
sekarang kurang lebih satu depaan.
Selembar wajah Yok Sau Cun yang tampan menjadi pucat pasi Sepasang mata Hek
Houwsin yang tadinya berbmarbinar sekarang mulai memudar cahayanya. Kepalanya
tertunduk perlahanlahan Jubahnya yang tadi menggelembung sekarang seperti balon
yang kempes Di depan dadanya tercetak jelas tanda telapak tangan.
Angin bertiup sepoisepof Pakaiannya di bagian dada langsung membuyar bagai
kertas yang terbakar api. Kemudian beterbangan ke angkasa,.
"Tenaga pukulan yang hebat!" Hek Houw sin hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata
itu saja. Dari sudut bibirnya terlihat darah mengallr. Di antara darah yang mengalir
itu masih tarlihat gumpalan darah lainnya yang merupakan gumpalan-gumpalan kecil.
Rupanya ketika Yok Sau Cun mendengar bahwa dia ingin memakan jantungnya
mentahmentah, dia sudah mengambil keputusan untuk mennbasmi bencana bagi dunia
perEilalan. Setelah menyambut delapan kali pukulannya, suara menggelegar yang
kesembilan kali merupakan hantaman telapak tangan Yok Sau Cun yang langsung
mengenai dadanya Hal ini membuat jantungnya tergetar hingga pecah berantakan.
Setelah mengucapkan kata-kata terakhir, tubuh Hek Houw Sin pun limbung dan
akhirnya terhempas ke atas tanah. Sun Buhai yang melihat majikannya mati terkapar Jadi
terkejut setengah mati Bersamasama dengan Potlot besi Li Pak Tou, Kangjiau Ho Pak Tong
serta tiga bersaudara Sen Kiu, Pak Sen dan Tio Cao Jadi kebat-kebitdan
bermaksud melarikan diri dari tempat itu.
"Kalian semua berhentil" bentak Yok Sau Cun dengan suara garang,.
Tubuh Houw jiau Sun Buhai gemetaran.
"Siauhiap....".
Wajah Yok Sau Cun kereng sekali.
"Meskipun kau adalah anak buah Hek Houw sin, tapi aku tahu pada hari biasanya kau tidak
seberapa Jahat. Aku juga tidak suka membunuh orang yang tidak terlalu
bersalah. Li Pak Tou, Ho Pak Tong, kalian juga orang-orang dan golongan sesat.
Biasanya masih mengikuti peraturan kangouw, hanya Ma binlong Sen Kiu bertiga,
selalu berbuat kaJahatan,. .".
Ma Binlong Sen Kiu bertiga ketakutan sekali mendengar kata-katanya Wajah mereka
berubah hebat. Tanpa disuruh lagi, ketiganya segera menjatuhkan diri berlutut di atas
tanah....
"Mohon ampun, Yok siauhiap Hamba bertiga mulai sekarang akan menjadi orangorang
baikbaik. Harap siauhiap bersedia membuka hati mamberi pengampunan.".
Yok Sau Cun tersenyum simpul.
"Kalau aku ingm turun tangan, apakah kalian masih mempunyai kesempatan hidup?
Aku sudah mengatakan tidak akan membunuh kalian. Tetapi sejak hari ini kalian
harus merubah semua tingkah laku dan memulai hidup baru. Kehancuran Tian Te kau
sudah di depan mata, Cao Kuang Tu merupakan contoh yang nyata. Baiklah, kalian
kuburkan dia baik-baik kemudian boleh tinggalkan tempat ini'".
Ma binlong bertiga segera. mengiakan. Mereka langsung mengangkat mayat Cao
Kuang Tu. Dengan dibantu oleh Li Pak Tou, Ho pak Tung dan Sun Buhai, sebentar
saja sebuah lubang yangcukup dalam sudah tecgali. Mereka segera menguburkan
mayat itu kemudian mengucapkan tenma kasih berulang kali dan menggotong Au Bu
Ki yang tangannya sudah cacat meninggalkan tempat itu.
Tiong Hui Ciong segera menotehkan kepalanya.
"Selir Li, Cao Kuang Tu sudah mati. Orang-orang Kong Tong pai yang berada di Ce Po
tangoan kemungkinan juga sudah hampir tamat riwayatnya. Kalau kau masih tidak bersedia
meniawab terus terang semua pertanyaanku, kau harus tahu bahwa
kesabaranku ada batasnya. Aku tidak akan berlaku sungkan tagi," Selasai berkata, dia
memalingkan kepalanya kembali dan berpesan. "Cu Hong, aku akan mengajukan
sebuah pertanyaan. Kalau dia tidak menyahutmaka kau iris sebelah
telinganya.Pertanyaan kedua tidak dijawab, kau potong lagi telinga sebelahnya. Kalau
masih belum mau menjawab, maka kau potong hidungnya. Pokoknya kaiau dia masih
tidak mau bicara, kau boleh potong seluruh anggota tubuhnya satu per satu.".
Cun Hong membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Budak tahu, pokoknya yang penting tinggalkan mulutnya saja, bagian lamnya boleh
dipotong sesuka hati," sahutnya tersenyum simpul.
Kali ini selir Li benar-benar ketakutan. Mana berani dia berbuat macammacam lagi.
"Ji kouwnio, suruh dia Jangan turun tangan dulu, aku akan bicara.".
"Baik!" Tiong Hui Ciong menganggukkan kepalanya kepada Cun Hong, kemudian mulal
mengajukan pertanyaan. "Coba katakan, siapa yang menyuruh kau meracuni kakakku? Dan
racun apa yang kau gunakan?".
"Aku mendapat perintah dari Hu kaucu,.
Pada saat itu Ci Sancu balum mengetahui apa-apa. Sefelah Hue leng senbu
mengajaknya berunding, dia mengatakan bahwa ketiga cucu perempuan Lao sinsian
sudah turun gunung. Sekarang tidak ada orang yang melayamnya Ci sancu merupakan
sahabat lama dengan Lao sinsian, maka aku disuruh pergi ke Soat san untuk
melayaninya. Matah Sancu sendiri yang mengantar aku ke sana. Aku disuruh Senbu
untuk memberikan racun yang reaksinya lambat. Sama seperti yang dibenkan kepada
Ci sancu dan ditambahkan dengan obat penghilang kesadaran yang jumlahnya sedikit sekali
." sahut selir Li.
Yok Sau Cun terkejut sekali mendengar keterangannya.
"Kalian Juga membenkan racun pembuyar tenaga itu kepada Ci sancu'?'.
"Betul. Tapi bukan aku yang membenkannya, melainkan selir Liu, seiir yang satunya lagi,
karena Ci sancu tidak setuju dengan rencana Senbu yang ingin menguasai dunia
persilatan.".
"Kau dan selir Liu berdua adalah orang-orang yang melayani Ci sancu sehariharinya,
mengapa kalian malah menurut perkataan Hue leng senbu?" tanya Yok Sau Cun
kembali.
Selir Li memperiihatkan tertawa yang getir.
"Kami kan orangerangnya Hue leng senbu, lagipula kami sudah menelan racun yang dibenkan
olehnya. Biar bagaimana pun kami harus menuruti kata-katanya kafau tidak ingin
mengalami kematian yang mengerikan," sahut selir Li.
"Racun yang kau benkan kepada Yaya adalah racun pembuyar tenaga dan racun
penghilang kesadaran. Apakah ada obat pemunahnya?" tanya Tiong Hui Ciong.
"Mengenai hal ini, aku kurang jelas," sahut selir Li.
"Lalu, kedua macam racun itu diramu oleh Siapa?" tanya Tiong Hui Ciong kembali.
"Be Hua popo Ciok Sam Ku dan Ca popo yang meramunya. Kemungkinan
besarmereka mempunyai obat pemunahnya. Karena racun pembuyar tenaga
merupakan warisan dari keluarga Ca di Sia Pak. Sedangkan racun penghilang
kesadaran merupakan warisan kaluarga Be hua popo. Kedua Jenis racun ini samasama tidak
berbau dan tidak berwarna. Kalau dicampurkan ke dalam tah pasti sulit di
ketahui. Mereka berdua sekarang tidak pernah berpisah dengan Hu kaucu. Mungkin
karena takut kedua orang itu akan membocorkan rahasia," sahut selir Li.
Sejak berpisah dengan Yok Sau Cun di Yang Ciu, Ciok Ciu Lan bagai tenggelam ke
dasar lautan. Sama sekali tidak pernah terdengar kabar beritanya. Hati Yok Sau Cun
terus tenngat kepadanya. Tetapi karena banyak kejadian yang dialaminya, Yok Sau
Cun tidak mempunyai kesempatan untuk mencarinya. Sekarang dia mendengar bahwa
orang-orang yang meramu racun pembuyar tenaga dan racun penghilang kesadaran
adalah Be Hua popo dah Ca popo yang mana kedua orang itu tidak pernahberpisah
sejengkal pun dengan Hue leng senbu, hatinya langsung yakin bahwa Ciok Ciu Lan
pasti ada di samping ibunya. Mengingat hal itu, tanpa bisa menahan perasaannya lagi dia
langsung bertanya....
"Apakah Be Hua popo juga sudah bergabung dengan Kong Tong pai?".
Selir Li tersenyum manis.
"Be Hua popo memang merupakan orang kepercayaan Senbu, Dia berjuatan bunga
sebetulnya hanya sebagai kedok. Tujuan sebenarnya adalah mencari orang-orang
dunia kangouw yang memiliki ilmu tinggi dan membujuk mereka bergabung dengan
Kong Tong pai.".
Be Hua popo pandai menggunakan racun penghilang kesadaran, tentu merupakan hal
yang mudah baginya untuk membujuk tokohtokoh dunia kangouw untuk bergabung
dengan Kong Tong pai.
"Ciong cici, apakah pertanyaanmu sudah selesai?" tanya Yok Sau Cun Dia ingin bergegas
berangkat ke Ce Po tangoan.
"Baiklah, kita berangkat sekarang " Dia menolehkan kepalanya dan berpesan kepada
kaempat pelayannya." Kalau sudah tiba di Ce Po tangoan nanti, di antara kalian
berempat, biar Ciu Suang dan Tung Soat yang mencekal selir Li Cun ftong dan Sia
Ho harus bersiap-siap meringkus orang!".
Ciu Suang dan Tung Soat segera mengiakan.
"Ji siocia, siapa yang harus diringkus oleh budak berdua?" tanya Cun Hong.
"llmu silat Be Hua popo cukup tinggi, biar aku yang menghadapinya. Kau dan Sia Ho harus
meringkus Ca popo. Tetapi ingat. orang ini mempunyai hubungan yang penting dengan
keselamatan Yaya Kalian harus meringkusnya hiduphidup, namun jaga jangan
sampai dia metoloskan diri!".
"Budak mengerti Ji siocia jangan khawatir Pasti tidak terjadi kesalahan," sahut Sia Ho.
"Kalau hanya seorang Ca popo saja, tidak perlu khawatir dia bisa tumbuh sayap,"
tukas Cun Hong.
"Tidak Urusan ini kalian tidak boleh mainmain. Karena hanya dengan menngkusnya secara
hidup-hidup baru bisa menyelamatkan diri Yaya dan racunnya," kata Tiong Hui Ciong,.
Ciu Suang dan Tung Soat mengemban tugas mengginng selir Li Dengan Ujung
pedangnya, Tung Soat menutuk tahu perempuan itu.
"Bangun, bangun Kita mau berangkat. Buat apa kau masih enak-enakan bersandar di sana?"
teriaknya pura-pura galak.
Selir Li sudah terjatuh ke tangan mereka, Terpaksa dia menanma hinaan ini. Dia
tidak percaya Tian Te kau yang sudah lama direncanakan dengan segala persiapan
matang oleh Hu kaucu dapat dihancurkan begitu saja. Apalagi untuk menghadapi
orang-orang dari delapan partai besar, Hu kaucu sudah menebarkan racun pembuyar
tenaga. Siapa lag! yang mempunyai kemampuan sebesar Itu hendak berbentrok
dengan Tian Te kau? Oleh karena itu, mendengar mereka akan menyeretnya ke Ce Po
tangoan, diamdiam dalam hatinya merasa senang bukan kepalang. Dia segera
melonjak bangun mendengar perintah Tung Soat.
Tiong Hui Ciong mengedarkan pandangannya.
"Adik Cun, mari kita berangkatl" katanya kemudian.
Tung Soat dan Ciu Suang yang menggiring selir Li berjalan di bagian buntut. Mereka
meneruskan perjalanan dengan tergesa-gesa. Tidak iama kemudian mer6ka sudah
sampai di Ce po tangoan.
Pada saat itu, pertarungan di dalam berlangsung dengan seru. Tetapi dari luar
suasananya sunyi mencekam, Kalau dilihat dari jauh, tampaknya tidak terjadi
keributan apa-apa. Apabila didengarkan dengan seksama, maka samarsamar akan
terdengar suara bentakan dan benturan senjatanya.
Ternyata kedua belah pihak masih melangsungkan pertarungan. Hati Yok Sau Cun
tercekat sekali. Langkah kakinya segera dipercepat. Tiba-tiba dari pintu sebeiah kanan
keluar delapan orang manusia yang mengenakan cadar berwarna hijau untyk
menutupi sebagian wajahnya.
Wajah mereka tidak terlihat Jelas Tetapi tangan nnasingmasing mencekal sebatang
pedang panjang. Warna kulit mereka pucat, mata menyorotkan sinar dingin Di balik
langkah kaki mereka yang nngan, terlihat sedikit kekakuan.
Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di hadapan Tiong Hui Ciong dan Yok Sau
Cun. Dari balik cadar yang tipis, terlihat sorot yang menyeramkan dari mata mereka.
Tiong Hui Ciong langsung merasa curiga melihat keadaan delapan orang ini.
"Adik Cun, hati-hati. Kedelapan orang ini bukan tokoh sembarangan!".
Belum lagi suara bentekannya sirna, kedelapan orang itu tanpe mengucapkan sepatah
katapun langsung menggerakkan pedang masing-masing dan menyerbu ke arah
mereka. Sinarpedang berkilauan, hawayang terpancar dari kedelapan batang pedang
itu sangat keji dan mematikan.
Tanpa sadar sepasang alis Yok Sau Cun langsung terjungkit ke atas.
"Tidak tahu diri!" bentaknya marah.
"Cring!" Dia mengeluarkan sebatang pedang yang diujungnya terdapatdua buah kaitan.
Sebetulnya itu merupakan senjata Ci sancu yang direbut dan langan selir Li Pedang iUi
mengeluarkan cahaya putih keperakperakan. Dalam sekejap mata dia
sudah menyapukan ke arah empat manusia berkain cadar itu.
Tiong Hui Ciong Juga tidak bertambatlambat. Dalam waktu yang bersamaan dia
menghunus Han engkiamnya Kakinya segera maju ke depan menghadang keempat
manusia bercadar tersebut.
Cun Hong dan Sia Ho tidak menunggu perintah lagi. Mereka membalikkan tubuh dan
berdiri di samping Ciu Suang dan Tung Soat untuk berjaga-jaga apabila ada
kemungkinan pihak lawan yang ingm menyelamatkan selir.
Tapi tampaknya tujuan kedelapan manusia bercadar itu bukan untuk menolong selir
Li. Setelah melihat dua orang lawan di hadapannya, mereka langsung menjulurkan
pedang menyerang. Untuk sesaat, hawa pedang mulai menebal Bayangan pedang
kokoh bagai gunung Serangan mereka sangat keji dan juga kehebatannya tidak usah
diragukan lagi.
Gerakan tubuh Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun bagai awan yang berarak.
Sepasang pedang mereka bagai dua ekor naga yang meliuk-liuk Mereka menghadapi
serangan kedetapan manusia bercadar itu Dalam sekejap saJa mereka sudah
menemukan bahwa ilmu pedang yang digunakan kedelapan orang ini semuanya
berlainan Jenis. Ada yang menggunakan Hua San kiamhoat, ada yang berasal dan Go
Bi pai, Bu Tong pai dan beberapa partai dunia persiiatan lainnya. Dan masing-masing
sudah menguasai ilmu itu dengan mahir sekali.
Salah satu yang berhadapan dengan Yok Sau Cun mempunyai gerakan yang aneh.
llmu pedang yang digunakannya berasal dari Bu Liangkiam pai. Tenaga dalam yang
dimilikinya bahkan lebiil tinggi dari Ciang bunjin Bu Liangkiam pai sendiri, yakni Hong
Lam San,.
Dengan kekuatan tenaga Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun, mereka malah berhasil
mendesak kedua jago kita hingga hanya mempunyai kesempatan untuk
mempertahankan diri saja. Dalam waktu yang singkat, mereka berdua sudah
berputaran sampai belasan kali.
Tiba-tiba Tiong Kui Ciong merasakan bahwa kedelapan orang ini hanya tahu
menyerang musuhnya dengan gencar. Mereka sama sekali tidak memperdulikan
keselamatan diri masing-masing Hatinya jadi tergerak, dia segera berkata dalam
hatinya.
"Cu Leng Sian menggunakan racun penghilang kesadaran Bahkan Yaya dan Ci sancu pun
diracuninya. Jangan-jangan ingatan orang ini juga sudah hilang sehingga
menyerang orang tanpa memperdulikan keselamatan diri...".
Mengingat hal itu, dia segera berseru kapada Yok Sau Cun.
"Adik Cun, rasanya kedelapan orang ini sudah kehilangan kesadarannya. Jangan sampai
melukai mereka di tempat yang membahayakan nyawanya!" kemudian dia
berpaling ke arah empat pelayannya. "Kalian berempat, cepat robohkan merekal".
Baru saja ucapannya selesai, Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soat segera
mengibaskan tangannya. Tampaknya beberapa titik sinar yang meluncur dengan
pesat. Apabila mata orang itu kurang awas, pasti tidak dapat melihat dengan jelas.
Karena sinar itu begitu halus.
Di sebelah sini sinar berkeredep, di sebelah sana delapan orang berkain cadar itu rubuh
di atas tanah Rupanya kata-kata yang diucapkan oleh Tiong Hui Ciong
merupakan isyarat bagi keempat pelayannya. Sebab dia melihat kedelapan orang itu hanya
perduli menyerang musuh dan tidak memperdulikan keselamatan diri mereka
sendiri Oleh karena itu dia menyuruh Cun Hong berempat merubuhkannya,
Sedangkan keempat pelayan itu segera mengerti apa yang dimaksudkannya, Mereka
langsung menyambitkan Jarum yang haius untuk merubuhkan mereka.
Jarum itu sebetulnya merupakan ilmu khas dari Soat san sameng. Senjaia rahasia itu
dinamakan Bwehua ciam (Jarum bunga bwe). Tetapi Jarum yang digunakan Oleh
Tiong Hui Ciong ini Jauh lebih halus dari Bwehua ciam yang biasa. Setiap jarumnya hanya
seukuran bulu kerbau. Khusus untuk menusuk ke dalam urat nadi lawan. Tiong Hui Ciong
sendiri menamakannya Jarum angin, karena sentuhannya hanya seperti
tiupan angin sehingga orang sulit menghindannya.
Yok Sau Cun sampai tertegun melihat kedeiapan orang itu tahu-tahu sudah rubuh di atas
tanah. Baru saja dia ingin menanyakan hal ini kepada Tiong Hui Ciong, tiba-tiba
terdengar suara teriakan seseorang....
"Yok siauhiap, harap jangan melukai mereka!".
Yok Sau Cun segera menolehkan kepalanya. Dia melihat beberapa sosok bayangan
sedang melesat ke arahnya. Yang paling depan merupakan seorang tosu tua yang
mengenakan jubah berwarna biru. Dia adalah Ciang bujin dari Bu Liangkiam pai,
Hong Lam San. Sedangkan delapan orang yang mengikuti di belakangnya sudah pasti
merupakan murid orang itu.
Yok Sau Cun menyimpan pedangnya kembali. Dia tangsung menjura dalam-dalam.
"Rupanya totiang juga sudah datang kemari," sapanya.
Hong Lam San menyingkapkan sebelah tangannya, dia bahkan belum sempat
mengatakan apa-apa. Kakinya langsung menuju ke tempat delapan orang bercadar itu
terkapar. Diperhatikannya mereka satu per satu.
"Apakah Yok siauhiap yang meringkus mereka?"tanyanya.
Hong Lam San sudah banyak pengalaman di dunia kangouw. Sekali lihat saja dia
langsung menyadari bahwa kedelapan orang ini tidak mengalami luka apa pun. Hanya jalan
darahnya saja yang tertotok.
"Tidak salah. Aku lihat kesadaran mereka seperli hilang, maka sengaJa hanya menotok
jalan darah mereka saja," sahut Tiong Hui Ciong.
"Baguslah kalau begitu," kata Hong Lam San sambil menyingkapkan sebelah tangannya
sekali lagi. "Pinto mendapat undangan dari Kong Tong pai, karenanya bergegas datang ke
tempat in.i. Hanya kedatangan Pinto agak terlambat. Tadi dari kejauhan Pinto melihat
Yok siauhiap bergebrak melawan seseorang yang
menggunakan Bu liangkiam hoat. Baik bentuk tubuh maupun gerakannya ada
kemiripan dengan suheng pinto, Ca Nam Kiau Itulah sebabnya Pinto minta Yok
siauhiap jangan melukai mereka ...".
"Suheng totiang mungkin sudah diracuni dengan sejenis obat yang dapat meng^
hilangkan kasadaran sehingga pribadi mereka tidak dapat dikenali lagi. Sekarang
mereka lertotok oleh Tian hongciam dan sebelum obet pemunah drdapatkan,
totokannya lebih baik jangan dibuka dulu," tukas Tiong Hui Ciong.
"Kong Tong pai juga termasuk salah satu partal besar di dunia kangouw. Mengapa mereka
bisa menggunakan racun penghilang kesadaran? Apakah mereka tidak takut
akan ditertawakan oleh sahabatsahabat dari dunia kangouw?" tanya Hong Lam San.
"Mungkin karena totiang datang terlambat sehinggatidaktahu urusan yang sebenarnya
Sekarang ini pihak detapan partai besar sedang bertarung matimatian dengan pihak Kong
Tong pai .." sahut Tiong Hui Ciong.
"Masa ada kejadian seperti itu?" Hong Lam San lerkejut setengah mati.
"Kaml juga baru datang dari Soat san. Keadaan yang sebenarnya juga belum paham betul
Menurut kabar, banyak orang-orang dari delapan partai besar yang sudah
terkena racun pihak Kong Tong pai. Apabila totiang masuk ke dalam, tentu akan
membuktikan sendiri. Tetapi kadelapan orang ini sekarang sedang dalam keadaan
tertotok, mereka tidak bisa bergerak. Untuk sementara ini leblh baik totiang suruh
kedelapan muridmu itu untuk menjaga mereka di sini Setetah mendapatkan obat
pemunahnya, baru kita bebaska.n totokan di tubuh mereka. Entah bagainnana
pendapat totiang?" kata Tiong Hui Ciong mengeluarkan pendapatnya.
Hong Lam San segera menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Apa yang Nona katakan memang benar." Dia menolehkan kepalanya dan memberi pesan kepada
delapan mundnya. "Kedelapan orang ini dalam keadaan tertotok. Kalian jaga saJa di sini,
tidak perlu ikut Suhu masuk ke dalam.".
Kedelapan orang muridnya segera membungkukkan badan mengiakan. Hong Lam
San mengulapkan tangannya.
"Yok siauhiap, Nona. . silahkan!".
Karena tidak tahu bagaimana keadaan di dalam, YoK Sau Cun ingin bergegas masuk
untuk melihatnya. Oleh karena itu, dia tidak sungkan lagi. Dengan langkah lebar dia
masuk ke daiam Ce po tangoan. Tiong Hui Ciong dan Hong Lam Sair pun ikut
melebarkan langkah kaki mereka. Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soat tidak
menunggu perintah lagi. Mereka segera menyeret selir Li dan mengikuti di belakang
ketiga orang tersebut.
Saat itu di dalam Ce po tangoan yang sedang tarjadi pertempuran besar-besaran,
sudah terjadi perubahan! K«lau tadi pihak delapan partai besar sudah mulai
kewalahan menghadapi musuh, tetapi sejak kemunculan Liang Seng taisu, Hui hujin, Hue
Fei Cin dan Tan hujin, semangat mereka kembali terpacu.
Di antera delapan partai besar, meskipun sudah banyak orang-orangnya yang
merasakan hawa murni di datam tubuhnya mulai membuyar sedikit demi sedikit,
setelah mengadakan pertarungan yang sengit Tetapi beberapa yang memegang
peranan penting seperti Song Ceng San, Bu Cu taisu, Beng Ta jin dan Kan Si Tong
masih dapat mempertahankan diri. Hal ini karena mereka menahan diri agar jangan
mengerahkan hawa murni ketika melawan musuhnya tadi. Apalagi tenaga dalam
orang-orang ini memang sangat tinggi. Jadi sampai sekarang racun masih belum
bereaksi.
Sementara itu Giok Si Cu dan Hui Kin Siau berlugas membantu rekanrekan yang
tidak sanggup berlempur lagi Sejak tadi mereka belum bergebrak dengan siapa pun.
Otomatis hawa murni di datam tubuh mereka masih belum membuyar,.
SedangkandipihakTlanTekau, Long San itpei Suo Yi Hu sudah terbunuh oleh Ciang
bunjin Hua San pai, Sang Ceng Hun. Hun Bu Pao dan Ciek Ban Cing yang bertarung
dengan sengit, akhirnya sama-sama terluka. Pekpo sin cian Yan Kong Kiat yang
menghadapi Tung Sit Cong sama-sama lerkuras habis tenaganya, akhirnya
mengundurkan diri berdua untuk menghimpun tenaga baru. Cuo huhoat Toan Pek
Yang tertotok oleh ilmu Liok Hap sinci mili Beng Ta jjn, hampir saja hawa mucninya
buyar semua. Saat ini ia juga sedang memejamkan matanya bersemedi. Bagi Tian Te
kau, semua ini merupakan kerugian besar.
Ketika Lian Seng taisu, Hui hujin, Tan hujin serla yang lainnya sampai ke tempat itu,
sebetulnya Hue leng senbu telah menyuruh toahao dan samhao dari Kong Tong sihao
untuk menghalangi mereka. Tetapi tiba-tiba muncul Kim Ti jui yang menahan kedua
kakek tersebut.
Cian Poa teng yang sedang bertarung melawan Kan Si Tong tadi, tanpa alasan apa
pun ditinggalkan begitu saja Karena tidak mempunyai lawan lagi, dia segera
menghunus pedang panjangnya dan menghadang di depan Lian Seng taisu. Ca popo
dan Be Hua popo Ciok Sam Ku Juga tidak mau ketinggalan. Mereka segera
menyambut kedatangan Hu hujin dan Tan hujin.
Sementara itu, Hue moli Cu Kiau Kiau melihat munculnya Hui Fei Cin. Dia paling
benci pada gadis yang satu ini (karena menganggapnya sebagai saingan dalam
asmara). Mulutnya langsung mengeluarkan suara bentakan....
"Hui Fei Cin, tepat sekali. kedatanganmu.
Sambut pedangku ini!" Dengan jurus ajaran Hue leng senbu sendiri, yakni Ya hue sau tian
atau api berkobar-kobar ke atas langit, dia segera menyerang ke arah Hui Fei Cin.
Pedang Sit kim kiam di tangan Hui Fei Cin diulurkan ke depan. Bibirnya tersenyum
mengejek. "paling-paling kau hanya bisa main beberapa jurus senjata api, memangnya
selain itu kau masih memiliki ilmu lain yang lebih hebat? Berani-beraninya
menantang akul" terdengar suara "Trak!" Pedang Cu Kiau Kiau pun tertangkis olehnya.
Pergelangan tangannya barputar, dia juga melancarkan sebuah serangan.
Siau Cui mengikuti di belakang nonanya. Melihat Liu Cing Cing, dia langsung
menghampiri.
"Bagus sekali kaulah yang mengaku bernama Cun Bwe!" bentaknya nyaring. Pedang pendeknya
dituding ke depan dan sebuah serangan pun segera dikerahkan.
Giok Si Cu melihat bantuan tenaga sudah datang. Semangatnya terbangkit kembali
Dia meminta Beng Ta Jin menggantikan dirtnya dan Hui Kin Siau untuk mengatur
barisan Lo han tin Tepat pada saat itu duamayat dari Siang si menerjang ke arah
mereka Pikiran Giok Si Cu langsung tergerak Dia mengambil keputusan untuk
membasmi kedua manusia sesat ini Pedangnya ia getarkan ke udara kemudian
ditudingkan kepada dua mayat dan Siang si lersebut.
"Goheng liek tin (Barisan tangguh lima langkah)! bentaknya dengan suara nyaring.
Dia memerintahkan kepadalima muridnya untuk segera membentuk barisan dan
mengurung kedua orang itu. Dan delapan murid Bu Tong pai yang ikut hadir dalam
pertemuan itu,lima di antarahya segera maju dengan pedang masing-masing di tangan Dalam
sekejap mata mereka sudah mengambil posisi mengurung Siang si suangse
Cahaya pedang bersambungan membantuk jaring. Kedua musuh sudah terkepung di
tengah-tengah barisan.
Pedang panjang Giok Si Cu dikibaskan, dia menyerang ke arah Go Ca cinjin yang
sedang menerjang datang Pada waktu yang bersamaan, Hui Kin Siau pun
menghadang di depan Kiu ci lo han.
Untuk sesaat, pertarungan yang tadinya semrawut sekarang dapat teratasi lagi.
Barisan lo han tin yang dibentuk oleh delapan belas orang murid Siau lim pai masih
tetap gagah seperti semula Selain itu masih ada Beng Ta jin dan Kan Si Tong yang
berdiri santai menyaksikan jalannya pertempuran. Mereka hanya menjaga di tempat
itu bersama sisa tiga murid Bu Tong pai dan empat murid Go Bi pai yang diajak oleh Lian
Seng taisu Apabila keadaan menjadi genting, mereka baru turun tangan.
Situasi saat itu bukan hanya menjadi tenang, bahkan ada kemungkinan pihak delapan
partai besar yang akan meraih kemenangan.
Diceritakan kembali tentang Kim Tijui yang meletakkan dua buah karung di atas
tanah. Mendengar perintah dari toahao, samhao segera maju dengan maksud
membuka kedua karung tersebut. Kim TiJui segera merentangkan tangannya
mencegah Bibirnya tetap tersenyum.
"Samhao lao koko, jangan terburu-burul" Kesabaran samhao hampir habis
menghadapi orang yang satu ini.
"Ada urusan apa lagi?" bantaknya kesal.
Kim Tijui menyurutkan kepafanya. Bahunya diturun naikkan. Tangan kanannya
terJulur ke depan dan mulutnya cengar-cengir.
"Ini... He... he... he. . Lao koko berdua, kerja keras hengte ini....".
"Kau mau minta upah?" tanya samhao.
Kim Tijui langsung memanggLitmanggutkan kepalanya Bibirnya tersenyum simpul.
"Barang kan sudah diantar kemari, tentunya upah capai lelah juga harus segera
diberikan".
Samhao tambah kesal melihat tampangnya.
"Biar matipun kau masih tetap minta uang itu?" bentaknya sambil menghantamkan sebuah
pukulan.
"Kalau Lao koko tidak mau memberikan upah, tidak apa-apa. Jangan sernbarangan memukul
orang. Benar-benar orang yang tidak tahu aturan. Kalau memang kepingin
pukul, hayo! Pukul saja" Tangan kirinya segera bergerak dan tahu-tahu sebuah karung
sudah diangkat olehnya dan digendong di depan tubuhnya.
Coba beyangkan sampai di mana kecepatan gerakan samhao. Di dunia ini ada barapa
orang yang sanggup menghindarkan diri dari serangannya? Kim TiJui bukan saja
tidak menghindar, bahkan bicaranya saja seperti sengaja dilambat-lambatkan. Selesai
bicara dia baru meraih karung yang tergeletak di atas tanah dan menggendongnya
sebagai perisai. Seberapa banyak waktu yang dihabiskannya untuk melakukan semua
ini?.
Tetapi dia mengambil karung itu dan menggendongnya di bagian depan, gerakannya
itu malah lebih cepat dan serangan yang dilancarkan oleh Samhao Melihat keadaan
nu, toahao langsung membentak..
"Lao sam, tunggu dulu!".
Kong Tong sihao melatih ilmu tenaga dalam hampir tujuh puluh tahunan. Tentu saja
serangannya dapat dilancarkan ataupun ditarik kembali sesuka hati Mendengar suara
bentakan sang toahao, samhao segera menghentikan serangannya. Padahal Jaraknya
dengan karung itu tinggal satu cun. Dia memalingkan kepalanya dan bertanya....
"Lotoa, ada urusan apa lagi?".
"Sahabat ini sengaja menghantarkan kedua buah karung itu ke sini. Kita tidak boleh
berpandangan picik. Berapa yang dia inginkan, kita berikan saja," sahut toahao.
Kim Ti Jui tersenyum senang.
"Memang pikiran toahao lao koko lebih terbuka.".
"Berapa yang kau inginkan?" tanya samhao.
Kim Tijui mengangkat kedua bahunya. Dua jari tangannya ditunjukkan dan
digerakgerakkan. Bibirnya tersenyum-senyum.
"Ini kan sudah menurut perjanjian.... Orang yang menitipkan kedua karung itu
mengatakan, asal aku mengantarkan kedua karung ini ke hadapan Lao koko berdua,
maka aku akan menerima upah sebanyak dua puluh tail.".
"Baik, kau akan mendapatkan dua puluh tail itu," sahut samhao.
Kim Tijui masih tersenyum simpul.
"Dua puluh tail memang tidak banyak, tapi takutnya kantong Lao koko berdua
sedang kosong sekarang," katanya.
Sindirannya memang telak. Orang seperti mereka mana pernah membawa uang?
Oleh karena itu, toahao segera memalingkan kepalanya ke arah seorang gadis
berpakaian hijau.
"Kalian cepat ambilkan uang sebanyak dua puluh tail" perintahnya.
Gadis berpakaian hijau itu segera menglakan. Dia membalikkan tubuhnya dan
menuju ke dalam ruangan. Tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan
sebongkah uang perak di tangan.
"Hei, uang ini berjumlah empat puluh tail. Ambillah semuanyai".
Kim Tijui tidak mengulurkan tangannya untuk menyambut uang perak tersebut.
Mulutnya malah tertawa cengengesan.
"Selamanya Siau Loji rnerupakan orang yang paling taat pada peraturan Sudah bilang dua
puluh tail, tetap harus dua puluh tail. Nona tadi mengatakan uang itu jumlahnya lebih,
Siau loji semakin tidak berani menerima Maaf, Nona. Kalau uang itu lebih, harap
disimpan saja kembali. Siau loji hanya menginginkan dua puluh tail, kurang tidak sudi,
lebih pun tidak mau.".
"Bagaimana sih kau ini?" gerutu gadis berpakaian hijau itu kesal.
Sepasang mata toahao bersinar tajam menusuk, tetapi bibirnya menyunggingkan
senyuman.
"Tampaknya sahabat ini sedang mengulurkan waktu, apakah sedang menantikan
datangnya bala bantuan?".
Kim Tijui terlawa terkekeh-kekeh.
"Apa yang Lao koko tebak hanya benar setengahnya saja. Hengte memang sedang menantikan
kedatangan seseorang Orang itu kemLingkinan akan membuka harga
yang lebih tinggi untuk membeli kedua buah karung ini. Tetapi bukan bala bantuan
seperti apa yang Lao koko katakan barusan.".
Kim Tijui mendongakkan kepalanya Dia melihatlihat cuaca Tiba-tiba tangannya di
ma sukkan ke dalam saku baju dan mengeluarkan sesuatu benda yang warnanya
kehitamhitaman. Dia melemparkan ke arah samhao.
"Maukah kau mencoba ini?" tanya Kim TiJUI seenaknya.
Samhao tidak tahu benda apa yang dilemparkan Kim Ti Jui tadi. Dengan gugup dia
mencelat mundur beberapa langkah.
Kim Tijui memandang ke arahnya sambil memamerkan dua baris giginya yang
kekuning-kuningan.
"Lao sam, mengapa kau mundur dengan moratmarit? Hengte hanya menawarkan
sepotong tahu kering Hm, harum sekalil" Dia menggigit tahu kenng itu sedikit, bibirnya
mendecapdecap Kemudian dia menggelenggelengkan kepalanya "Sayangnya sudah terlalu lama
disimpan dalam saku sehingga meniadi kenng sekali Gigitnya saja pun susahl".
Dia sendiri yang mangatakan menggigitnya saja susah. tetapi lagaknya seperti orang yang
kepalang tanggung. Sepotong basar tahu kering itu dimasukkannya sekaligus ke dalam
mulut. Dengan susah payah dia mengunyah...
Sepotong tahu kenng ukurannya memang tidak terlalu besar. Tetapi kalau
dimasukkan ke dalam mulut sekaligus, tentu saja susah mengunyahnya. Tetapi kalau tidak
dikunyah, bagaimana dapat menelannya?.
Terdengar suara krokt krokl dari tenggorokannya. Tampaknya Kim Tijui terselak
karena berusaha menelan aepotong tahu kering itu sekaligus. Hidungnya bergerakgerak.
Tanpa dapat ditahan lagi, dia berbangkis sampai keras sekali. Sepotong tahu
kering yang masih ada di dalam mulutnya, seperti pancuran air mancur bermuncratan
kemana-mana.
Di arena pertempuran, orang yang pertama mendapat hasil seharusnya terhitung
barisan Goheng liek tin dari Bu Tong pai. Begitu barisan pedang terbentuk, bukan saja
berhasil mengurung Siang 51 suangse, tetapi kurang lebih dalam waktu
sepembakaran hio terdengar suara siulan panjang, Pertamatama Sam yan ciangsi Bun Cing
Ho tertusuk satu pedang, mulutnyalah yang mengeluarkan siulan panjang itu.
Yang kemudian disusul dengan jehtan ngeri. Gerakan barisan pedang dari Bu Tong
pai ini cepat seperti angin. Mereka menyerang lawan dengan cara berputaran. Asal lawan
sudah terkena satu tusukan pedang, maka tusukan yang lain pun akan menyusul sampai
genap lima kali. Begitutah apa yang terjadi pada saudara tua Siang si suangse tersebut.
Rupanya dia menjerit ngeri ketika empat tusukan yang lain menembus
tubuhnya. Sudah tentu riwayat hidup orang itu tinggal sebentar lagi.
Saudara kedua dari Siang si suangse, yakni Bu Cing Lui. melihat kakaknya rubuh
terkapar di atas tanah. Hatinya menjadi panik sekaligus marah. Begitu perhatiannya
terpencar, pinggang kanannya pun tertusuk satu pedang. Dengan memberontak dia
bangun kembali. Namun justru di saat dia sedang berjuang untuk berdiri, bagian
belakang pinggangnya kembali terkena satu tusukan. Disusul lagi bagian tubuhnya
yang lain. Sesaat kemudian dia sudah rubuh di atas tanah.
Dua orang iblis yang telah banyak berbuat kejahatan, akhirnya mati bersama dalam bahsan
Goheng liek tin dari Bu Tong pai Suatu akhir yang tragis namun sesuai dengan kejahatan
yang telah mereka lakukan.
Sementara itu, Cu Kiau Kiau yang menggenggam sebatang Hue lengkiam telah
melancarkan berbagai ilmunya yang aneh. Tetapi selalu pedangnya terhisap oteh Sit
kimkiam di tangan Hui Fei Cin. Walaupun belum sampai kalah, tapi dia sudah mulai
kelabakan menghadapi lawannya.
Hui hujin menghadapi Be Hua popo, sedangkan Tan hujin menghadapi Ca popo.
Meskipun kedua nenek itu berilmu tinggi, telapi kedua kakak beradikyang
dihadapinya mengerahkan seratus Jurus Hmu pedang dari keluarga Song. llmu pedang mereka
merupakan ilmu tingkat tinggi di dunia kangouw. Dalam belasan jurus saja, baik Be Hua
popo maupun Ca popo sudah mulai barada dj bawah angin.
Cian Poa Teng juga bukan tandingan Lian Seng taisu dan Go Bi pai. Di antara tiga kali
serangannya, pasti ada satu kali yang hampir tidak dapat disambut oleh Cian Poa Teng.
Berulang kali dia terdesak mundur.
Dengan sebatang potlot besi, Kiuci lo han menghadapi Hui Kin Siau yang
menggunakan sebatang pedang Meskipun masih bisa mempertahankan diri, tapi
gerakgeriknya sudah mulai kalang kabut.
Go ca cinjin Bun Tian Hong berhadapan dengan Ciok Si Cu dari Bu Tong pai.
Sebelumnya dia sudah bertarung melawan Hui Hung I su. Tubuhnya sudah mulai
lelah. Sedangkan Oiok Si Cu belum bertarung dengan siapa pun. Begitu terjun ke
arena dia langsung mengerahkan jurus-jurus yang mematikan. Satah satu ilmunya
yang hebat adalah Tai kiat kiamhoat. Cahaya yang terpancar dari pedang
segelombang demi segelombang menerJang datang. Hal ini membuat Goca cinjtn
sampai ber]ingkrak kesana kamari untuk menghindari serangannya.
Hanya Siau Cui yang bukan tandingan Liu Cing Cing. Setelah beberapa gebrakan,
dia mulai kewalahan. Beberapa kali hampir dia tertebas pedang lawannya Justru pada saat
itulah, telinga semua orang mendengar suara bangkisan yang keras Kecuaii Hue leng
senbu, Cu Tian Cun, Cian Poa Teng, Be Hua popo berempat yang tanaga
dalamnya lebih tinggi, selain itu orang Fang seperti Kiuci Lo han, Goca cinJin, Ca
popo, Hue moli Cu Kiau Kiau dan Liu Cing langsung terkulai lemas akibat semburan tahu
kering dari mulut Kim Tijui yang langsung menotokjalan darah beberapa orang itu dalam
waktu yang bersamaan.
Orang-orang dari pihak delapan partai besar yang sudah merasa gusar sekali seperti Hui
Kin Siau, langsung nnenggunakan kesempatan itu untuk menebas putus batok
kepala Kiuci lo han. Giok Si Cu juga ti ak kalah sigap. Pedangnya langsung menusuk ke
arah jantung Goca cinjin sampai tembus ke betakang. Tan huJin pun tidak mau
ketinggalan, pedangnya juga menikam ke dada Ca popo sehingga darah muncrat
kemanamana. Beberapa kali terdengar dengusan marah yang menyusul suara
bangkisan tadi.
Kim Tijui (nenjadi panik sekali. Dia segera berteriak sekeras-kerasnya.
"Hei! Hej! Kalian semua berhenti! Jangan sampai menambah dosa Siau loji yang memberikan
kesempatan membLinuh untuk kalian...!".
Toahao sama sekali tidak menyangka kalau semburan tahu kering dan mulut Kim
Tijui saja sudah mempunyai kekuatan sedahsyat itu Hatinya menJadi marah sekali.
"Tua bangka! Sambut pukulan!" Telapak tangannya menjulur dan melancarkan sebuah
serangan ke arah Kim Tijui. Bayangkan saja bagaimana hebatnya tenaga
dalam Toahao yang sudah dilatih hampir tiga perempat abad itu.
Dalam waktu yang bersamaan, samhao juga melangkah maju, tahu-tahu dia sudah
sampai di bagian belakang punggung Kim Tijui. Lima jari tangan kanannya segera
menekuk membentUk cakar dan diluncurkan ke arah punggung lawannya.
Tafflpaknya Kim Tijui sejak semuta sudah menduga kalau dia akan diserang dari
depan belakang oleh dua bersaudara itu. Sepasang tangannya secepat kilat
mengangkat kedua karung di atas tanah dan menjadikannya pensai untuk bagian dada dan
punggungnya.
"Tenang, tenang! Kalian benar-benar menginginkan selembar nyawa tua ini? Apa tidak bisa
perlahan-lahan'' Apakah kalian tidak perduli lagi dengan nyawa kedua
orang saudara kalian ini?" teriaknya berkaok-kaok.
Hali toahao jadi cunga seketika. Tanpa sadar telapak tangannya langsung berhenti di
tengah jalan.
"Apa yang kau katakan?" bentaknya dengan suara parau.
"Apa yang aku katakan, masa kau tidak mendengarnya?".
"Saudara siapa yang kau katakan barusan?" tanya toahao sekali lagi.
"Masa perlu ditanyakan lagi? Kalian kan terdiri dari Kong Tong sihao, kemana dua orang
saudara kalian yang lainnya?" sahut Kim TiJui sambil mengangkat sepasang bahunya dan
tertawa cengar-cengir.
Terdengar suara tertawa yang aneh dari mulut samhao.
"Kau bermaksLid mengatakan bahwa orang yang ada di dalam karung ini adalah Loji dan
losi?".
Sepasang mata ayam Kim Tijui langsung mendelik lebar-lebar.
"percaya atau tidak, terserah!".
"Coba lohu lihat sendicil" sahut samhao sambil melesat maJu dan mengulurkan tangannya
untuk merebut karung yang ada di tangan kanan KimTijui.
Tetapi gerakan Kim TiJui lebih cepat dari padanya. Dia segera menarik mundur
karung tersebut.
"Tidak bisa. Karung ini baru boleh dibuka setalah semuanya ada di sini'".
Toahao menyadari bahwa ilmu silat Kim Tijui 1ebih tinggi dari mereka empat
bersaudara. Tetapi dia juga kurang percaya kalau Lo ji dan Lo si bisa tarjatuh begitu
saja di tangan Kim Tijui. Matanya menyorotkan sinar tajam menusuk.
"Lalu mau tunggu sampai kapan baru boleh dibuka?".
Kim Ti]ui melongokkan kepalanya ke arah pintu Mututnya tertawa terkekeh-kekeh.
"Bukankah pemer i utama yang sebenarnya sudah muncul?".
Ce Po tangoan hanya mempunyai sebuah lapangan yang besar Dan orang-orang dari
kedua pihak semuanya berkumpul dalam lapangan tersebut. Tapi karena banyaknya
tokoh yang harus diceritakan, maka semuanya harus diuraikan dengan terperinci.
Apalagi semua kejadian boleh dibilang berlangsung dalam waktu yang hampir
bersamaan. repot menceritakannya satu per satu.
Kembali, pada saat Kim Tijui menyemburkan tahu kering dan mulutnya sehingga
beberapa jago pihak musuh terkulai lemas karena tertotokjalan darahnya. Kesempatan itu
digunakan oleh pihak delapan partai besar untuk membunuh tokoh sesat yang
kejahatannya sudah kelewat batas. Sedangkan yang lainnya langsung diringkus oleh
lawannya masingmasing.
Perubahan ini terjadinya terlalu mendadak. Keadaan jadi berbaiik Sekarang pihak
Kong Tong pai mulai melemah kekuatannya dan boleh dibilang sudah kehilangan
banyak jagonya yang dapat diandalkan.
Hue leng senbu yang sedang bertarung denflan seimbang melawan Song Ceng San
sampai berubah hebat wajahnya. Begitu marahnya dia sehingga matanya menjadi
merah dan rsimbutnya seakan berdiri tegak. Giginya digertakkan erat-erat.
"Tua bangka she Song, urusan hari ini garagara kau yang sengaja berbentrok
denganku. Hu kaucu akan membunuhmu lebih dahulu baru membuat perhitungan
dengan yang lainnya." bentaknya gusar Pedang digenggam erat-erat Serangan yang
dilancarkannya bagai orang kalap Rupanya kali ini hawa aimarah dalam dadanya
benar-benar telah meluap. Dia ingin mengadu selembar nyawa tuanya dengan Song
Ceng San.
Sebatang padang di tangannya bergerak bagaikan allran air sungai yang deras Perlu
dikatahui bahwa dia sudah menghabiskan waktu yang lama dan tenaga yang banyak
untuk memahami seratus jurus ilmu peclang keluarga Song. Kemudian dia berhasil
menciptakan serangkaian ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu pedang keluarga
Song tersebut. Sekarang dia mulai mengerahkan ilmunya yang sejati.
Sejak pertarungan antara Song Bun C un dengan Cu Tian Cun, Song Ceng San
sud.ah sadar bahwa pihak lawan sudah berha.sil memecahkan ilmu pedang
keluarganya S5ekarang lawan sudah melancarkan berbaig ai serangan dengan gencar.
Hanya karena te'naga dalamnya yang tinggi sekali, maka sam pai saat ini dia masih dapat
mempertahankan diri. Tetapi dia merasa mulai kewalahan, pedang di tangannya hanya dapat
menahan diri, dia hampir tidak mempunyai kesempatan untuk membalas
menyerang.
Sementara itu, Beng Hu Ing yang sejak tadi berdiri di sebelah kanan sudah melihat
perubahan yang terjadi Kiuci lo han, Ooca cinjin dan Ca popo mengocbankan nyawa
dengan sia-sia. Adik iparnya Cu Kiau Kiau dan gadis pelayan bernama Liu Cing Cing sudah
tertotok jalan darahnya oleh pihak lawan Bahkan kedua gadis itu sedang diseret oleh
Siau Cui dan Hue P'ei Cin menuju ke dalam barisan Lo han tin.
Hatinya menjadi panik. Dia segera mengambil pedang Han engkiamnya dan seorang
gadis berpakaian hiJau. Tubuhnya melayang di udara melewatl kepala beberapa orang yang
ada di tengah arena dan bagai burung hong terbang ke arah Hui Fei Cin
Orangnya belum sampai, pedang Han engkiamnya sudah meluncur ke depan. Hui Fei
Cin terkeJul sekali. Pegangannya pada Cu Kiau Kiau terlepas, kakinya mundur
beberapa langkah. Pada saat itulah, Beng Hui Ing menepukjalan darah Cu KiaU Kiau untuk
membebaskan dari totokan.
Dengan sekali tusuk. Tan hujin berhasil membunuh Ca popo. Matanya melihat
sesosok bayangan melayang di udara dengan dnringi secarik cahaya yang berkilauan
Sasaran orang itu Justru Hui Fei Cin. Bahkan gadis itu beium apeapa sudah terdesak
mundur. Sudah tentu Tan hujin dapat melihat bahwa ilmu orang ini Jauh lebih tinggi dari
keponakannya. Hui Fei Cin pastl bukan tandingan orang ini. Dengan panik dia segera
melesat maju. Pedang panjangnya melintang di depan dada dan dia berdiri di hadapan Hui
Fei Cin.
Cu Kiau Kiau yang melihat Hui Fei Cin merasa bencinya bukan kepalang. Oiginya
sampai mengatup erat-erat.
"Budak she Hui, keluar ke sinil" bentaknya nyaring.
Hui Fei Cin mendengus dingin.
"Prajurit yang sudah kalah masih berani berkoarkoarl" Tubuhnya melesat dan langsung
menyerang.
Kedua gadis itu benar-benar seperti musuh bebuyutan. Begitu bertemu, dua batang
pedang langsung dikerahkan, mereka pun terlibat pertarungan yang seru sekali lagi.
Beng Hui |ng melirik Tan hujin sekilas. "Apakah kau ingin bergebrak dengan
nonamu ini?" tanyanya dengan nada dingin.
"Sikap perempuan ini benar-benar dingin dan angkuhl" pikir Tan hujin dalam hatinya.
Namun di luar dia mengembangkan seulas senyuman.
"llmu Nona sangat tinggi aku sudah mehhatnya. Kalau boleh, dengarlah sedikit nasehat
dari .".
"Selamanya aku tidak pernah mendengati nasehat orang lain Tidak perlu rewel, sambut
seranganku ini!" bentak Beng Hui Ing marah.
Tan hujin tidak tahu kalau perempuan yang ada di hadapannya ini adalah
menantunya sendiri. Melihat nada bicaranya yang begitu sombong, hatinya kesal juga.
"Dalam ilmu pedang, di atas langit masih ada langit. Di atas seorang Jago masih ada
jago tainnya lagi. Hanya mengandalkan sedikit kepandaianmu itu, kati berani
menyombongkan diri di hadapan aku orang tua?" katanya dengan nada suara yang tak kalah
dinginnya.
Tangannya bergerak, pedangnya langsung diluncurkan untuk menyerang Beng Hui
Ing. Mertua dan menantu berdua, baru bertemu langsung sudah bertarung dengan
sengit. Sementara itu, Siau Cui sudah menyeret Liu Cing Cing ke dalam barisan Lo han
tin.
Be Hua popo ahli dalam senJata rahasia. Itulah sebabnya dia tidak sampai tertotok oleh
semburan tahu kering dari mulut Kim TiJui. Tetapi ilmu pedangnya kalau
dibandingkan dengan Hui huJin masih kalah satu tingkat Saat itu dia sudah terkurung
dalam cahaya pedang di tangan Hui hujin.
Baik tenaga maupun ilmu pedang Cian Poa Teng masih belum bisa menandingi Lian
Seng taisu Berkali-kali dia terdesak mundur dan hanya dapat mempertahankan diri
tanpa sempat membalas sekalipun.
Hanya Cu Tian Cun dan Bu Cu taisu yang masih bertarung dengan seimbang. Hal ini
disebabkan karena Bu Cu taisu yang membisikkan beberapa patah kata ketika mereka
bergebrak. Dia mengatakan asalusul Cu Tian Cun seperti apa adanya Hwesio tua itu sama
sekali tidak tahu kalau Tan hujin yang datang bersama Lian Seng taisu adalah ibu
kandung Cu Tian Cun Dia hanya tahu kalau Song Ceng San adalah pamannya.
Terhadap kata-kata ini, tentu saja Cu Tian Cun merasa curiga. Tampaknya dia masih
kurang percaya Tetapi sedikit banyaknya kata-kata Bu Cu taisu berpengaruh pada
perasaannya sehingga serangan pedang panjangnya pun tidak segencair tadi lagi.
"Orang-orang Siu lim pai dan Kong Tong pai, harap keluar ke depanl".
Suara teriakannya demikian lantang. Persls sebuah lonceng besar yang berdentang
sehingga membuat telinga mereka seperti di tusuktusuk Jarum Hampir serentak
mereka tertegun.
Saat itu, dari luar pintu gerbang Ce Po tangoan terlihat enam tuJuh sosok bayangan yang
menghambur ke tengah arena. Orang yang paling depan mengenakan pakaian
berwarna hijau. Di pinggangnya terselip sebatang pedang yang ujungnya mempunyai
dua kaitan taJam Dia adalah Yok Sau Cun.
Di belakangnya terlihat Tiong Hui Ciong, Hong Lam San, Cun Hong, Sia Ho dan Ciu
Suang beserta Tung Soat yang mengiringi selir Li Justru ketika rombongan mereka
berbondong-bondong memasuki pintu gerbang, dari tembok sekeliling yang tingginya
delapan sembilan depa di sebelah kiri melayang seorang kakek yang sudah tua sekali.
Sekejap mata dia sudah melayang turun di atas tanah. pakaiannya berwarna kuning.
Matanya bersinar tajam. Datang-datang dia langsung membentak dengan suara keras.
Orang yang dl tunjuk oleh Kim Tijui adalah orang ini Toahao dan samhao segera
mengalihkan pandangannya mengikuti telunjuk Kim TiJui Menggunakan peluang ini,
Kim Tijui segera mengangkat dua buah karungnya dan melesat ke depan orang tua
berpakaian kuning itu Mulutnya yang tajam langsung menggerutu.
'Mengapa Lao koko sampai sekarang baru datang? Benar-benar membuat aku Kim
loji jadi panik setengah mati!'.
Mata orang tua berpakaian kuning itu menatapnya lekat-lekat. Sejenak kemudian dia baru
menganggukkan kepalanya.
"Apakah loheng ini si tukang ramal nasib, Kim Tijui?" Akhirnya dia ingat juga siapa
orang yang ada di hadapannya ini.
Kim Tijui segera memanggutmanggutkan kapalanya sambil tersenyum.
'Sedikit pun tidak salah. Hengta memang Kim Tijui adanya. Hari itu hengta sudah
pernah meramalkan nasib untukmu dan menyuruh kau Lao koko datang ke tempat ini
Pasti pembunuh yang dicari akan berhasil ditemukan.".
"Terima kasih kepada loheng," sahut orang tua berpakaian kuning tersebut.
Dengan kedua tangan memanggul karung, Kim Tijui tertawa cengar-cengir.
"Kita kan orang sendtn Tidak perlu sungkan-sungkan. He... he he. Entah bagaimana cara
Lao koko berterima kasih kepada hengte?".
"Harap loheng minggir dulu sebentar Lohu ingin mencari orang-orang Bu Tong pai dan Siau
lim pai untuk membuat perhitungan," kata orang tua berpakaian kuning.
Kim TiJui tetap berdiri di hadapannya. Kepalanya di geleng-gelengkan.
"Hengte toh tidak mengatakan kepada Lao koko bahwa pembunuhnya merupakan
hwesio dari Siau lim pai atau tosu dari Bu Tong pai.".
Orang tua berpakaian kuning mendengus marah.
"Tidak perlu kau katakan, Lohu sendiri sudah tahu. Cepat kau minggirl".
Kim TiJui tetap tidak bergeser. Bibirnya matah menyunggingkan seulas senyuman
lebar.
"Lao koko katau mencari tosu atau hwesio untuk membuat perhitungan, maka berarti kau
telah membuat kesalahan besar.".
Sepasang mata orang tua berpakaian kumng itu langsung mendelik.
"Kalau begitu, coba kau katakan siapa yang membu.nuh kedua adik lohu, Lojit dan
Lopat?".
Rupanya orang tua berpakaian kuning ini adalah Gokong Cuang Kong Yuan dari Pat
Kong san Waktu itu dia memenksa luka yang diaiami oleh Lojit dan Lopat. Dari
kematian mereka, dia berhasil mengetahui bahwa Jitkong Tnati oleh serangan Tai
kittiam dan Bu Tong pai Sedangkan Patkong mati oleh serangan Pan juo sinkang dari Siau
lim pai. Oleh karena itu pula dia ingin mencari orang-orang Bu Tong pai dan Siau lim
pai untuk membuat perhitungan.
Kim Tijui yang mendengar Gokong meminta pendapatnya, langsung saja merasa
bangga. Dia menganggukkan kepalanya.
"Inilah sebabnya hengte mengaJak Lao koko datang ke tempat ini. Hengte jamm kau dapat
menemukan pembunuhnya di sini. .".
"Siapa pembunuhnya?" tanya Gokong penasaran.
Kim TiJui meletakkan kedua karung yang dipanggulnya ke atas tanah.
"Dua orang tersangka sudah hengte masukkan ke dalam karung-karung ini Justru menunggu
kedatangan Lao koko dan secara berhadapan msnanyakan persoaian ini
sampai jelas " Selesai berkata, dia menggapaigapaikan tangannya kepada toahao dan
samhao.
"Lao koko berdua, kalian juga harus ke sini mempunyai hubungan erat dengar
kalianl" teriaknya.
Toahao masih belum bisa menebak asalusul Kim Tijui. Tapi dia selalu merasa bahwa orang
ini bukan tokoh sembarangan Terutama dua orang yafig ada di dalam
karungkarung tersebut. Kalau dltilik dan nada bicaranya, kemungkinan besar kedua orang
itu adalah saudaranya. yakni Loji dan Losi. Mulamula dia masih kurang
percaya. Tiba-tiba sekarang dia merasa percaya juga dengan kata-kata orang itu.
Maka dia pun melangkah perlahan-lahan ke tempat Kim Tijui.
Kim Tijui meluruskan pinggangnya seperti orang tua yang baru terserang penyakit
encok.
"Sebelum hengte membuka kedua karung ini, ada sedikit ucapan yang harus
disampaikan kepada kalian bertiga Apabila aku membuka karung-karung ini, kalian
bertiga harus tenang Jangan sekali-kali menyelesaikan urusan dengan emosi Kalian harus
mendengarkan dulu semua keterangan dariku, baru merundingkarinya
baiktoaik," katanya serius.
Gokong toahao dan samhao segera menganggukkan kepaianya serentak tanda
setujudengan usul Kim Tijui Tanpa banyak bicara lagi, Kim TIJUI menyingsingkan
lengan bajunya dan kedua tangannya tangsung membuka ikatan tali pada kedua
karung tersebut.
Ternyata di dalam karungkarung itu memang terdapat dua orang. Mata Gokong,
toahao dan samhao langsung menatap ke arah kedua orang itu.
"Siapa kedua orang ini?" tanya Gokong heran.
Toahao dan samhao mengeluarkan suara terkejut dalam waktu yang bersamaan.
"Rupanya iriemang Loji dan Losi!".
Wajah toahao berubah hebat Dengan cepat dia membalikkan badannya.
"Tua bangka, apa yang telah kau perbuat atas diri Loji dan Losi?".
Jihao dan sihao duduk di dalam karung seperti orang yang sedang tidur Mereka tidak
dapat bergerak sama sekali Sudah pasti jalan darah keduanya dalam keadaan tertotok
Samhao tidak banyak bicara Dia langsung menepuk beberapa jalan darah di tubuh
Jihao dan sihao, tetapi kedua orang itu tptap memejamkan matanya, sedikit pun tidak
bergerak. Ha! ini berarti jalan darah mereka sama sekali belum terbebaskan.
Kim Tijui segera mengibasngibaskan tangannya.
"Hengte barusan sudah mengatakan bahwa kaiian tidak boleh menyelesaikan urusan dengan
emosi. Tenanglah dulu, Biar hengte selesaikan kata-kata ini, dengan
sendirinya kalian akan mengerti," kata Kim Tijui.
"Cepat katakan!" Bentak toahao.
Kim Tijui merabaraba dua untai kumisnya yang tipis. Dia malah berdehem dulu
beberapa kali.
"Hengte hanya menotok mereka dengan semacam ilmu yang khas. Orang lain tentu saja tidak
bisa membebaskan totokan pada diri mereka. Sebetulnya bukan apaapa,
Kalau totokan sudah terbebas, mereka akan pulih kembali seperti biasa Mengenai. oh ya,
betul. Toahao seharusnya tahu, apakah Loji dan Losi pernah mempelajari ilmu
Toajiuin (Telapak tangan besar) dan ilmu Wu Songkang (llmu laba-laba)?".
"Kami empat bersaudara masingmasing memang mempelajan semacam itmu yang
khas. Orang-orang Bulim se Tua juga tahu. Untuk apa kau menanyakannya?" sahut Samhao.
Kim Tijui mengangkat bahunya sedikit dan memandang Gokong sambil tersenyum,.
"Benarkan ? llmu Toa jiuin apabila mengenai tubuh seseorang, ciricirinya sama dengan
Pan juo sinkang dan Siau lim pai Sedangkan orang yang belajar ilmu Wu
Songkang hanya menggunakan dua jan tangannya, yakni jan telunjuk dan Jari tengah.
Hal ini juga tidak berbeda dengan Tai kittiam dari Bu Tong pai. Sekarang seharusnya kau
sudah mengerti bukan?".
Sepasang mata Gokong menyorotkan sinar yang menyeramkan.
"Kalau begitu, maksudmu kedua orang ini yang membunuh Jitkong dan Patkong Han iru Lohu
harus ..".
Kim Tijui cepatcepat menggoyangkan tangannya.
"Lao koko tenang dulu Memang betul kedua orang ini yang meiTibunuh kedua
saudaramu. Tapi sebetuloya Jihao dan sihao juga diperalat oleh orang lain Mereka bukan
melakukannya atas kemauan sendiri Itulah sebabnya hengte menotok jalan
darah mereka.".
Sepasang mata toahao memancarkan sinar yang berbinarbinar. Wajah Gokong juga
tampak seperti orang yang curiga.
"Apa maksud ucapanmu itu?" tanya mereka serentak.
Kim Tijui mengangkat sepasang bahunya. "Karena Jihao dan Sihao sudah dicekoki semacam
racun yang dapat menghilangkan akal sehat mereka. Bukan mereka berdua
saja, bahkan Ci sancu dan Soat san lojin juga sudah terkena racun yang sama ".
Yok Sau Cun dan Tiong Hui Ciong sudah masuk ke dalam pelataran Ce Po tangoan.
Mereka langsung dapat melihat pertarungan sengit yang sedang berlangsung Yok Sau Cun
yang sudah mendapatkan petunjuk dari Kim Tijui, inatanya langsung mengincar
pada diriHue leng senbu.
Pada saat itu tangannya yang menggenggam pedang Hue lengkiam terus mendesak
maju Begitu tangannya membuka serangan, pedang di tangannya bagai angin topan
yang sedang mengamuk Meskipun tenaga dalam Song Ceng San sangat tinggi, tetapi
iimu kepandaiannya sudah berhasil dipecahkan lawannya Setiap kali dia melancarkan
sebuah jurus dari iimu pedangnya, baru sampai di tengah jalan, lawan sudah berhasil
menyampoknya sehingga dia terpak&a mengganti jurus yang tain. Namun apa yang terJadi
tetap sama saja. Tampaknya dia hanya mengandalkan tenaga dalamnya yang
sudah dilatih selama puluhan tahun dan pengalamannyayang luas untuk
menghadapiHue leng senbu. Ini pula salah satu alasan mengapa dia masih bisa
mengimbangi perempuan tua itu.
Yang dikhawatirkan oleh Tiong Hui Ciong justru Be Hua popo. Karena racun yang
mengendap di dalam tubuh kakeknya adalah buatan nenek ini. Dan hanya dia saja
yang mempunyai dbat pemunahnya Tetapi ketika matanya sedang mencaricari,
diajustru melihat toacinya sedang bertarung melawan seorang wanita setengah baya yang
memakai pakaian bahan kasar Pertarungan mereka berlangsung dengan sengit.
Padahal Tiong Hui Ciong tahu sekali kalau ilmu Soat san huihong kiamhoat milik
toacinya sangat hebat. Tetapi nyatanya dia hanya bisa mengim bangi wanita setengah baya
itu. Hatinya teckejut sekali. Untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus
dilakukannya. Tiba-tiba telinganya mendengar suara seperti dengungan nyamuk.
"Hei, Tiong kouwnio. Cepat suruh toacimu itu berhenti. Masa mertua dan menantu
beckelahi seperti banteng yang diadu,kan tidak lucu?".
Mendengar dari nada suaranya saja, Tiong Hui Ciong segera mengenalinya sebagai
Kim Tijui. Tiong Hui Ciong jadi tertegun. Mertua dan menantu? Toacinya adalah istri Cu
Tian Cun. Mana mungkin dia menJadi mertua dan menantu dengan wanita
setengah baya itu? Tetapi biar bagaimanapun, apa yang dikatakan Lao koko tidak
pernah salah.
Tiong Hui Ciong menolehkan kepalanya Dia melihat Be Hua popo sudah terkurung
dalam sinar pedang Hui hujin yang berkilauan. Biar bagaimana dia menubruk ke kiri
ataupun ke kanan, tetap saja dia tidak sanggup melepaskan diri dari kurungan sinar
pedang tersebut. Kalau ditilik dari keadaannya, Hui hujin hanya ingin mengurungnya
untuk sementara, sama sekali tidak bermaksud me[ukainya. Kemudian dia
membisikkan beberapa patah kata kepada Cun Hong dan Sia Ho. Dia berdiri segera
mengeluarkan Han engkiamnya dan melesat ke udara.
Tampak segurat sinar dingin terpancar dari pedangnya. Dia meluncur dengan pedang di
tangan dan menerobos di antara Tan hujin dan Beng Hui Ing.
"Toaci, cepat berhenti'" teriaknya lantang.
llmu yang digunakan oleh Beng Hui Ing memang Soat san Huihong kiam hoat.
Pedang panjang seperti seekor burung hong yang menannari. Perubahannya
menakjubkan Tetapi dla masih belum berhasil merath kemenangan. Hatinya merasa
gusar sekali Dia segera mengerahkan jurus Burung Hong terbang melintasi awan Dan
gerakan pedangnya terlihat bayangan lebar seperti bentangan sayap seekor burung
Serangannya dengan cepat meluncur ke arah Tan hujin Tiba-tiba dia mendengar
teriakan Tiong Hui Ciong. Di depan matanya segera melintas cahaya yang berkilauan.
Cahaya itu meimtas dengan cepat. Kemudian telinganya mendengar suara benturan
senjata sebanyak tujuh delapan kali. Jurus Burung hong melintasi awannya sudah di
sambut oleh Tiong Hui Ciong.
Tan hujin memang tidak berniat melukai orang. Melihat melesatnya Tiong Hui Ciong yang
langsung menyambut serangan Bens Hui Ing, dia pun cepatcepat mundur ke
samping Pada saat itu Beng Hui Ing sudah menyimpan pedang Han engkiamnya.
"Bukankah kau sudah pulang ke Soat san? Untuk apa lagi kau datang ke sini?"
bentaknya dengan nada marah.
Setelah menyambut serangan toacinya, Tiong Hui Ciong juga sudah mendarat
kembali di atas tanah "Toaci, apakah kau sudah tahu katau teiah teriadi sesuatu pada
diri Yaya?" tanyanya cepat.
Waiah Beng Hui Ing langsung berubah mendengar perkataannya.
"Apa yang kau katakan'?" Tanyanya seakan salah dengar.
Tiong Hui Ciong segera menarik toacinya ke samping dan dia langsung menceritakan
berbagai kejadian yang diataminya. Begitu terkejutnya Beng Hui Ing sampai
tubuhnya bergetar.
"Ji rnoay, be.. benarkah apa yang kau katakan?".
"Siau moay sudah menggiring selir Li ke mari Kalau toaci tidak percaya, mengapa tidak
tanyakan langsung saja kepadanya?' Selesai berkata, dia segera menggapai ke pada Ciu
Suang dan Tung Soat segera menyeret selir Li ke tempatnya.
Cun Hong dan Siau Ho yang sudah mendapat perintah dari Tiong Hui Ciong segera
mencabut pedang masingmasing dan menghampiri Hu hujin dari arah yang
berlawanan. Melihat keadaan itu, Hu Fei Cin segera melintangkan padangnya dan
membentak.
"Berhenti!".
Cun Hong langsung menghentikan langkah kakinya. Dia menjura kepada Hui Fei
Cin.
"Hui kouwnio, kau salah paham. Budak berdua menenma perintah darl Ji Siocia untuk
meringkus orang," sahutnya tanang.
"Siapa yang akan kalian ringkus?" tanya Hui Fei Cin.
"Be hua popo," sahut Cun Hong dengan suara rendah.
"Be hua popo sudah ditahan oleh ibuku Kalian tidak perlu melelahkan diri," sahut Hui
Fei Cin dengan nada dingin.
"Hui kouwnio tidak mengerti. Orang-orang darl delapan partai besar hampir
semuanya sudah terkena racun pembuyar tenaganya. Hanya nenek itu yang memiliki
obat pemunah racun tersebut. Kalau sampai dia tari,kan gawat. Itulah sebabnya Ji Siocia
memerintahkan kami untuk meringkus," kata Cun Hong.
Setalah mendengar keterangannya, Hui Fei Cin Juga tidak enak lagi menghalangi
mereka.
"Baiklah. Apakah kalian sanggup meringkusnya?".
Cun Hong tersenyum simpul.
"Kalau mengandalkan budak berdua saja, tentu tidak sanggup menngkusnya. Tetapi
sekarangkan ada Hui hujin yang menahannya. Urusan ini menjadi mudah.
"Kalau begitu, cepat kalian kerjakan.".
Cun Hong dan Sia Ho tidak banyak cakap lagi. Tubuh mereka melesat. Dengan ilmu
Tian sin hoat mereka mengambil posisi seorang di kiri dan seorang lagi di kanan.
Geakan mereka bagai dua ekor ikan yang linah. Keduanya langsung menerobos lewat
ahaya pedang Hu! hujin yang berkitauan.
Meskipun cahaya pedang Huj hujin sangat cepat. tetapi seseorang yang menggunakan
pedang, biarpun sudah melatihnya selama puluhan tahun dan ilmu ini sudah mahir
sekali serta cahaya pedang yang terpancar lebih rapat lagi, tetap saja hanya
menggunakan satu tangan dan satu pedang Dengan demikian tetap saja ada
kekosongan Sedangkan orang yang menguasai Tian 1 sinhoat, meskipun hanya sedikit
kekosongan yang terlihat, dia tetap dapat menerobos masuk ke dalamnya.
Be hua popo adalah orang kepercayaanHue leng senbu. Pedang yang digunakannya
berukuran pendek namun lebar. Di bawah Jaringan cahaya yang terpancar dari pedang Hui
Hujin, sudah sejak tadi dia kewalahan menghadapinya. Rairibunyayang putih
bagai berdiritegak Wajahnya kelamsekali Biardia menerjang ke kin dan kanan, tetap saja
dia tidak sanggup menerobos keluar dan jaringan yang dibuat oleh Hu hujin.
Dia menguasai semacam ilmu yang dapat menyambitkan delapan belas senjata
rahasia sekaligus. Nama ilmu itu Tian li sanhua (Bidadari menaburkan bunga) Dia
juga mempunyai semacam obat bius yakni Pek iihiong llmuilmu ini khusus untuk
menghadapi musuh tangguh Tetapi kali ini dia benar-benar terdesak sehingga tidak
mempunyai kesempatan untuk mengerahkan kedua macam ilmunya itu.
Ha! ini sudah diperhitungkan matangmatang oleh Hui hujin. Maka dan itu, begitu
tucun tangan dia langsung menyerang nenek itu dengan gencar sehingga dia tidak
dapat mengeluarkan dua macam ilmu yang unik itu. Tetapi Be hua popo juga bukan
tokoh sembarangan Hui hujin hanya sanggup mengurungnya tetapl tidak bisa
merubuhkannya.
Tepat pada saat itu, dua sosok bayangan hijau dan arah kiri dan kanan menerobos
masuk ke dalam cahaya pedang. Hatinya tercekat sekali BehJm tagi dia mengetahui
apakah yang datang itu kawan atau lawan, telinganya sudah mendengar teriakan
seorang gadis.
"Hui hujin, harap berhenti. Ciok San Ku sudah diringkus oleh budak berdua!".
Tentu saja Hui hujin tidak percaya. Tangannya yang menggenggam pedang malah
menyerang semakin gencar Dia mengalihkan pandangannya Dia metihat Be hua popo
telah dicekal dari kiri kanan oleh dua orang gadis. Bahkan pedang pendeknya juga sudah
direbut oleh mereka. Hui hujin segera menghentikan serangannya.
"Kalian....".
Dengan wajah berseri-seri, Hui Fei Cin bedari menghampiri.
"Ibu, mereka adalah pelayan Tiong kouwnio. Di tubuh Be Hua popo ada obat
pemunah racun....".
"Tidak ada. Biar kalian bunuh aku juga sama saja!" tukas Be Hua popo dengan suara
tajam.
"Ibu...." Dengan gerakan seperti terbang, Ciok Ciu Lan menghambur mendekati. Dia
langsung menjatuhkan diri di depan Hui Fei Cin "Hui cici, tolonglah, ibuku benarbenar
tidak punya obat pemunah itu," katanya dengan suara meratap.
Hui Fei Cin segera membangunkannya.
"Ciok cid, Ibuku pasti tidak akan melukai ibumu. Tetapi banyak orang yahg terserang
racun. Tanpa obat pemunah dari ibumu ...".
"Setahu Siau moay, obat pemunah racun itu memang dibuat oleh Ca popo dan ibuku.
Tetapi obat pemunah yang sudah jadi, semuanya di ambil oleh Hu leng senbu. ..".
"Budak kurang ajar! Tutup mulutmu. Kau maiah membela orang luar.. Kau... kau bisa
membuat aku mati kesai!" bentak Be Hua popo.
Jadi obat pemunah racun itu semuanya ada padaHue leng senbu? Hui HuJin sampai
tertegun mendengarnya.
"Ibu, apa yang dilakukan olehHue leng senbu selama ini, kau tahu sendiri. Tian Te kau
merupakan sebuah perkumpulan sesat yang hanya akan mencelakakan sesama
manusia Perkumpulan seperti ini pasti tidak akan bertahan. Sekarang saja ambang
kematiannya sudah hampir tiba. Tidak ada kemudian han bagi Tian Te kau Kau orang tua
seharusnya kembali ke Jalan yang benar ." suara Ciok Ciu Lan lebih mirip ratapan.
Be Hua popo gusar sekali Sayangnya dia dicekal oleh Cun Hong dan Sia Ho Kalau
tidak ingin rasanya dia menampar pipi putn'nya sampai bengap. Terdengar suara
tawanya yang aneh . ".
"Yang akan hancur justru delapan partai besar. llmu kepandaian Hu Kaucu tidak dapat
ditandingi oleh siapa pun. Kalian ingin mendapatkan obat pemunah? Ha.. ha...
ha... Huhl Jangap bermimpil".
Kepandaian Hu leng senbu memang tinggi bukan kepelang. Selama bertahuntahun
dia dengan licik menutupi kepandaiannya. Sekarang begitu dikerahkan, nyatanya
sampai Song Ceng San yang pernah mendapat julukan Jago pedang nomor satu
kewalahan menghadapinya. Bukan begitu saJa, tampaknya orang tua itu mulai berada di
bawah angin.
Apalagi Song Ceng San sudah terkena racun pembuyar tenaga Meskipun tenaga
dalamnya sangat tinggi, dan dapat bertahan agak lama, tetapi sampai kapan dia dapat
menahan seranganHue leng senbu yang seperti orang kalap itu?.
Hui KinSiau.GiokSiCu,Beng TaJin,Kan Si Tong serta yang lainlainnya tentu
mengerti Setelah mendengar ucapan Be Hua popo mereka semakin terkejut. Tanpa
sadar mereka saling memandang Satu pun tidak ada yang bersuara.
"Sekarang ini hanya ada satu jalan yang dapat ditempuh. Entah bagaimana pendapat kalian
semua?" tanya Beng Ta Jin akhirnya.
"Harap Beng toheng katakan saja," uJar Giok Si Cu.
"Satusatunya jatan adalah membasmi iblis yang mendalangi semua ini. Kita tidak perlu
memenuhi peraturan dunia kangouw lagi. Kita semua menyerangnya dengan
segenap kemampuan. Pokoknya sampai iblis itu mati barulah delapan partai besar
dapat dipertahankan. Kalau tidak .".
"Ini. takutnya ... Bengcu.. ." Giok Si Cu tampaknya ragu-ragu.
"Lurus dan sesat memang tidak pernah bisa berdiri bersama Demi ketentraman dunia
kangouw, kita tidak bisa perduli lagi ketidaksetujuan Song heng," tukas Hui Kin Siau.
"Apa yang Hui heng katakan memang benar".
Hui Kin Siau mengggapaikan tangannya. "Fe ji, kemari'".
"Tia ada perintah apa?" tanya Hui Fei Gin.
"Kesinikan dulu pedang Sit kim kiammu itu. Kita akan mengadu jiwa dengan Cu leng
Sianl".
Hui Fei Cin segera mempersembahkan pedang Sit kimkiamnya derigan kedua tangan,
Hui Kin Siau segera menyambutnya dan beralih lagi kepada rekanrekannya yang lain.
"Cuwi toheng, biar hengte yang serang dulu. Bila kesempatannya sudah ada hengte akan
menahan pedang Cu Leng Sian dengati Sit kimkiam ini. pada saat itulah kalian langsung
menyergapnya. Ingat harus sekali gerak langsung berhasi!".
"Akh...." Terdengar seruan dan mulut Hui Fei Cin "Tia, cepat Iihat, Yok toako, dia..
.".
Dengan langkah perlahan-lahan Yok Sau Cun berjatan ke sisi Song Ceng San dan Hu
leng senbu. Dia menggenggam pedangnya sambil menjura.
"Song loya cu,Hue leng senbu merupakan bencana bagi dunia persilatan yang telah berbuat
banyak kejahatan. Biar boanpwe saja yang menghadapinya," kata anak muda itu dengan
suara tantang.
Karena melihat pihaknya terusterusan mengalami kekalahan,Hue leng senbu merasa
benci setengah mati tarhadap Song Ceng San. Pedang bergerak bagai terbang.
Berulang kali dia mendesak maju. Dalam tiga kali serangannya, Song Ceng San hanya bisa
membalas satu kali. Serangan pun lambat, hawa murni dalam tubuhnya bagai
bergolakgolaK. Sekarang dia hanya mengandalkan tenaga dalamnya yang sudah
dilatih selama puluhan tahun untuk mempertahankan diri dari serangan lawannya.
Perkelahian di antara dua orang ini sudah menjadi pertarungan hidup mati Yang satu
pedangnya menyambar bagai kilat, cahayanya berkilauan. Yang satunya bergerak
lambat, tetapi setiap JUFUS yang dikerahkan mengandung hawa pedang yang
memancar deras Dalam sekitar satu dua depa dari jarak mereka, terasa bagai ada
angin topan dan geledak yang menggelegar. Sinar pedang tajam menusuk. Apabila
seseorang yang ilmunya kurang tinggi, jangan kata berjalan sannpai ke samping
mereka, ingin maju satu langkah saja pasti tidak sanggup. Kalau bukan terhempas
oleh angin serangah mereka yang kencang, pasti akan terluka oleh tajamnya i sinar
pedang kedua orang itu.
Ini dimaksudkan apa.bila melangkah satu tindak dari jarak satu atau dua depa seperti
yang diuraikan tadi. Kalau masih terus menerobos masuk, bisabisa selembar nyawa
pun ikut melayang.
Saat ini angin yang terpancar dari pedang demikian dahsyat. Belum lagi smarnya
yang tajam, tetapi Yok Sau Cun irielangkah masuk dengan tenang. Tentu saja kedua orang
itu sama-sama terkejut.
Song Ceng San melink sekilas Ketika dia melihat orang yang datang itu Yok Sau
Cun, tanpa dapat menahan diri lagi dia berseru .
"Yok laote, kau bukan tandingannya. Cepat mundur!".
Yok Sau Cun masih berdiri di teiripatnya tanpa bergeser sedikit pun.
"Harap Joya cu mundur saja, Boanpwe mempunyai keyakinan dapat
menghadapinya!".
Hueleng senbu yang melihat kehadiran Yok Sau Cun langsung memperdengarkan
suara tawa yang menyeramkan.
"Bocah busuk, ternyata kau juga datang mengantarkan kematian. Tambah satu lagi, aku
juga tidak keberatan.".
"Srettt'l!"Hue leng kiamnya memancarkan secank sinar yang menggigilkan, tiba-tiba dia
menyerang ke arah Yok Sau Cun.
Pedang milik Ci sancu di tangan Yok Sau Cun hanya digerakkan sedikit. Terdengar
suara.
"Tranggg!" Pedangnya langsung menekan pedangHue lengkiam lawannya. Dia masih sempat
memalingkan kepalanya kepada Song Ceng San.
"Song loya cu, silahkan mundur".
Song Ceng San sudah bertarung dengannya sebanyak ratusan Jurus Tetapi dia tidak
pernah mempunyai kesempatan untuk menekan pedang lawannya Tetapi dia melihat
Yok Sau Cun hanya menggerakkan pedangnya dengan asalasalan saja, namun pedang
Hue leng senbu langsung tertekan olehnya. Baru berpisah selama tiga hari, anak muda itu
aeperti berubah menjadi diri orang lain saja. Mungkin dirinya yang sudah tua!
Diamdiam Song Ceng San merlank nafas panjang. Akhirnya dia terpaksa
mengundurkan diri dari ternpat tersebut.
Bermimpi punHue leng senbu tidak pernah berpikir kalau Yok Sau Cun dapat
menyambut serangan pedangnya dalam satu jurus saja. Hatinya menjadi marah
sekaligus terkejut Ketika Yok Sau Cun sedang menyambut serangannya, dia
menyuruh Song Ceng San mengundurkan diri. Apabila hal inl terjadi pada orang lain,
pasti dianggapnya sebagai sesuatu hal yang memalukan Tetapi bagiHue leng senbu
malah menjadi sebuah kesempatan.
Oleh karena itu puia, dia tidak tergesa-gesa menarik pedangnya kembah Mulutnya
mengeluarkan suara dengusan, tangan kirinya tiba-tiba terangkat dan dengan secepat
kilat dihantamkan kepada Yok Sau Cun.
"Blam!" Mata semua orang langsung beralih ke arah sumber suara. Dalam waktu yang
barsamaan, Yok Sau Cun juga mengangkat tangan kirinya dan menyambut
serangan yang datangnya mendadak itu.
Kedua telapak tangan telah beradu Yok Sau Cun masih berdiri dengan tidak bergerak
sedikit pun. Sedangkan Hue leng senbu tergetar sampai mundur dua langkah. Bagi
Hue leng senbu, kenyataan ini baru benar-benar membuatnya terkejut bukan
kepalang!.
Dia sudah melatih ilmunya setama tiga puluh tahun. Dia menganggap di dunia ini
tidak ada orang yang sanggup menyambutHue lengciang (Telapak tangan apinya).
Ternyata seorang pemuda yang usianya paling banter dua puluh tahun sanggup
menyambutnya. Bahkan dirinya sendiri sampai tergetar mundur sejauh dua langkah!.
Untuk sesaat, Giok Si Cu, Hui Kin Siau, Hui hujin, Tan hujin, Beng Ta jin, Kan Si Tong
dan Hui Fei Cin serta yang lainnya sudah barhamburan datang. Mereka
langsung berhenti di samping Song Ceng San yang baru saja mengundurkan diri dan
ajang pertarungan. Hal jni disebabkan karena pertarungan yang berlangsung
merupakan penentuan. Asal iblis yang satu ini dapat diienyapkan dari muka bumi,
maka badai yang melanda dunia kangouw kali ini pasti akan mereda kembali.
Para hadirin yang melihat Yok Sau Cun sanggup menyambutHue lengdang milikHue
leng senbu, menjadi tambah kepercayaannya. Mereka yakin dia akan berhasil meraih
kemenangan. Secara diamdiam Beng Ta jin membisikkan kepada rekanrekannya
bahwa biar bagaimanapun hari ini nenek jahat itu tidak boleh dibiarkan lolos lagi.
Kalau dia merasa akan kalah dan berusaha melarikan diri, maka mereka semua harus
menghafanginya.
Wajah Hue leng senbu garang sekali. Rambutnya yang putih sampai berdiri tegak.
Sepasang matanya yang menyorptkan sinar tajam mulai memerah Dia menatap Yok
Sau Cun lekat-lekat. Dia memanggutmanggutkan kepalanya berkalikah.
"Di bawah kolong langit ini, orang yang sanggup menyambut Hue Lengciang ini, kaulah
yang termasuk orang pertama Tetapi sayang sekali....".
"Apanya yartg harus disayangkan?" tanya Yok Sau Cun.
"Karena kau menyianyiakan tiga bulir obat yang diben'kan oleh putriku. Menurut
pandanganku, di kolong langit ini hanya kau yang pantas bersanding dengannya
Sayang sekali kau tidak menjadi menantuku. Oteh karena itu, hari ini juga aku harus
membunuhmu!".
Sepasang mata Cu Kiau Kiau langsung memerah. Dengan terisakisak dia
memanggil....
"Ibu...!"'.
"Ini sudah merupakan takdir!" kataHue leng senbu.
Yo'k Sau Cun melintangkan pedangnya di depan dada.
"Senbu, harap mulai saja.".
Hueleng senbu kembali melinknya sekilas. Mulutnya mengeluarkan suara keluhan
yang menyayangkan Pedang Hue lengkiamnya perlahan-lahan di angkat ke atas.
"Yok Sau Cun, hati-hatilah!" katanya dengan nada dingin.
Pedang langsung digerakkan. Pergelangan tangannya bagai seutas rantai yang
menyapu kesana ke mari Serangannya ini diarahkan ke kepala Yok Sau Cun. Jurus
yang digunakannya ini bernama Leng Coa Jiauciag (Ular sakti melilit leher) yang
merupakan jurus terkeji dari Kong Tong kiamhoat. Apalagi Hue leng senbu yang
memainkat'inya. Kehebatannya dapat dibayangkan.Ada kesan seperti dewadewa di
zaman dahulu yang menggunakan pedang terbang untuk menebas kepata orang.
Metihat jurus serangannya ini, para hadirin menjadi kebat-kebit.
Yok Sau Cun masih berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada Dia
sepertinya balum menyadari. Sampai sinar pedang hanya tinggaj satu cun kurang dari
hadapannya, pedang yang ujungnya terdapat kaitan baru digerakkan. Sekarang ini dia
sudah mahir sekali menjalankan Tian san samsut yang diajarkan oleh Kim Tijui
Begitu pedangnya dikeluarkan, diadapat menggerakkannyasesuka hati. Apalagi ketika
pedang bergerak, jangkauannya juga pendek sekali. Orang-orang yang menyaksikan
jalannya pertarung an, termasuk Song Ceng San juga tidak melihat adanya perubahan yang
hebat pada jurus pedangnya. Tetapi serangan maut danHue leng senbu ini,
diiringi dengan suara.
"Trang!" dari benturan kedua senjata dan tahu-tahu pedangHue leng senbu sudah
tertangkis olehnya.
Jurus serangan Yok Sau Cun ini sudah pernah dilihat olehHue leng senbu
sebelumnya. Justru keti'ka pedangnya tertangkis oleh Yok Sau Cun, mulutnya
mengeluarkan suara raungan keras dan tiba-tiba tubuhnya mem batik. Untuk sesaat,
terlihatlah gerakan pedangnya yang berubah menjadi bayangan dan mengeluarkan
laksaan titik sinar Persis seperti tiba-tiba turun badai salju yang menggigilkan tubuh
Tiliktltik itu baga! baterbangan di udara dan menyelimuti tubuh Yok Sau Cun dari depan
dan belakang.
Tanpa sadar mulut Ciok Ciu Lan dan Hui Fei Cin mengeluarkan seruan terkejut.
Tetapi justru ketika laksaan titik itu menyelimuti tubuh Yok Sau Cun, terdengar lagi
suara.
"Trang! Trang!" sebanyak dua kali. Suara itu memekakkan telinga. Di udara pun terlihat
titiktitik lainnya yang jumlahnya tidak kalah banyak dengan yang pertama memijarmijar.
Tidak ada seorang pun yang sempat melihat jurus apa yang dimainkan oleh Yok Sau Cun
Mereka juga tidak mengerti bagaimana caranya Yok Sau Cun
memecahkan Jurus serangan Hue leng senbu yang mengerikan itu?.
Hanya terlihat pergelangan tangan kanannya memutar dan pedang yang mempunyai
dua kaitan itu sudah meluncur ke arah dadaHue leng senbu. Jaraknya tinggal empat lima
cun Tiba tiba luncuran pedangnya berhenti Dia tidak menusukkannya ke dada
Hue leng senbu. Pada saaty ang bersamaan, terdengar suara Yok Sau Cun yang
nyaring.
"Senbu harus tahu. pintu Buddha selalu terbuka. Lepaskanlah golok pembunuhan dan
berpalinglah selagi masih ada kesempatan Kau mencelakai Ci Sancu dan bahkan
meracuni Soat san lojin yang tadinya bersedia memberikan bantuan kepadamu
Dengan pikiran jahat kau membangun perkumpulan Tian Te kau, namun akhirnya kau
gagai juga. Kalau dapat bertobat secepatnya .".
Hue Leng senbu melihat jarak pedang Yok Sau Cun dengan dadanya hanya tinggal
sedikit lagi. Hatinya menjadi gusar bukan kepalang. Wajahnya merah padam bagai
képiting rabus. Mulutnya mangeluarkan suara bentakan nyaring dan tubuhnya melesat ke
udara. Pedang Hue leng-kiam yang tadinya sudah barhasil ditangkis oleh Yok Sau Cun
secara mendadak diangkat ke atas dan baru saja dia bermaksud meluncurkannya
Sejak Hue leng sen-bu bergerak tubuh Yok Sau Cun sudah mulai ikut berkelabat
bagai bayangan. Dengan keyakinan penuh dia mendesak, gerakannya masih sama
Pedang yang sebelumnya ditudingkan di depan dada Hue leng sen-bu perlahan-lahan
diangkat ke atas kurang lebih satu cun. Gerakannya ini bukan saja mematikan
serangan Hue leng sen-bu, malah dengan kecepatan kilat ujung pedangnya menekan
di salah satu urat darah Hue leng sen-bu yang mematikan. Snnar mata Yok Sau Cun
menunjukkan kemarahan hatinya.
"Cu Leng Sian, tampaknya kau sudah tidak dapat dirubah lagi Mungkin hanya
kematian saja...!".
Belum lagi kata-katanya selasai, Cu Kiau Kiau yang melihat keadaan mulai gawat,
begitu paniknya sehnngga menguraikan air mana, Dia menghambur ke depan Kaki
Yok Sau Cun dan menjatuhkan dirinya berlutut. Sambil terisak-isak dia meratap .... ,
"Yok siauhiap, waktu itu aku melihat kau terkena serangan Hue Yan to, secara diam diam
aku menucri tiga butir obat untukmu. Tidak perduli kau menelannya atau tidak, pokoknya
aku melakukannya dengan satulus hati. Aku harap dengan mengingat hal
ini kau bersedia mengampuni jiwa ibukui".
Hueleng sen-bu tambah marah Dia membentak keras-keras. "Cu Kiau Kiau, tutup mulutmu!
Biar aku beritahukan kepadamu, kau hanya seorang bayi yang kutemukan
di tengah jalan. Bukan anak kandungku, kau bukan she Cu Aku bahkan tidak tahu
siapa she―mu yang sebenarnya Kalau aku mati, kau bebas menemukan jalan
hidupmu. Kau pun tidak perlu mengurus jenasahku!" .
Baru saja perkataannya selesai, telapak tangannya secepat kilat menepuk ubun-ubun
kepalanya sendiri. Terdengar suara "Prak!" yang membuat telinga ngilu Tubuh Hue leng
san-bu pun tarkapar dengan otak berantakan .
"Ibu !" terial Cu Kiau Kiau Sambil menubruk mayat ibunya dan menangis tersedusedu.
Song Ceng San segera menghambur maju Wajahnya berseri seri.
"Yok Laote, ternyata kau sudah berhasil Tragedi yang melanda kangouw kali ini, rupanya
dapat diselesaikan dalam tanganmu!".
Yok Sau Cun menyrmpan pedangnya kembali dan cepat-cepat menjura.
"Tenma kasnh atas pujran Song loya cu," katanya .
Begitu gembiranya Ciok Ciu Lan, sampai- sampai air matanya mangalir dengan
deras.
”Yok toaki, cbat pemunahnya ada di dibalik pakaianHue leng sen bu!" .
Yok Sau Cun melangkah periahan-lahan mendekati Cu Kiau Kiau "Cu kouwmo,
kematian Sen-bu adalah atas kemauannya sendiri. Orang yang sudah mati tidak akan hidup
kembali Kouwnio seharusnya menerima kenyataan ini dan menjalani hidup
dengan tegar.
Lagipula banyak orang yang terserang racun saat ini tarma- suk Cn sancu dan Soat san I0
sm snan. Obat pemunahnya ada pada nbumu Harap Kouw- m0 bersedaa
mengambnlkan cbat pmamunah rtu dan ssrahkan kepada cayha Cayhe tentu mcrasa
bsrtsrnma kasrh sekaln " katanya de- ngan nada menghnbur Cu K1au Kiau
menghapus aur mma dr prpmya Dna mengulurkan tangan dan mang- ambnl Inga b0t0|
yangterbuat darn batu kumala kemudian dia berdrrf Wajahnya berhadapan dengan
Yok Sau Cun Sepasang matanya yang masnh mengembang arr menatapnya Ie- kat
Iekat Botci dn tangannya dnserahkan kepada anak muda rtu.
"Pada saar menjelang kemaliannya, rbu tidak membuang ketnga bum! nm Mesknpun dia tidak
berkata apa-apa, tetapi tentunya dia bermaksud menyerahknn obat pemunah ini kepada
kalian. AmbiIlahi“ katanya dsngan terisak-isak.
Yok Sau Cun mengulurkan tangannya menyagnbut ketiga botol obat itu "Terima
kasih Cu kcuwnic " "Obat pemunah racun pembuyar tenaga dan racun penghilang kesadaran
dapat di- bedakan dari tuiisan di botol masing-masing. Bctcl yang satunya lagi bensn
obat pemunah racun Put in kiam·tan (Pil emas nada yang kedua). Setiap crang yang
meniadi pengikut Kong Tong pai harus minum obat pemunah itu masingmasing satu bum
Dengan demikian racun di dalam tubuh dapat dipunahkan dan
mereka pun akan tersadar ksmbali pada dirinya sendiri." Selesai menieiaskan, kedua
tangannya Iangsung menggendcng mayatHue lang sen-bu dan membalikkan tubuhnya
meninggalkan tempat terssbut.
"Tidak heran mengapa ibu bagitu setia kepadaHue leng sen-bu, dia benar-benar menganggap
tidak ada crang kedua di dalam hatinya kecuaii nenek itu. Rupanya dia sudah mensian
racun Put ji kim―tan," kata Cmk Ciu Lan.
Yok Sau Cun mengeluarkan salah satu butcl itu dan menysrahkannya kspada Cick
Ciu Lan.
"Lan mcay, kau bawa cbat pemunah ini dan capat ambil satu butir dan minumkan ikepada
ibumu Lalu bagnkan juga cbat pe- imunah ini kepada crang-crang Kong Tong
‘pai iamnya. Urusan ini aku serahkan kepadamu.".
Cick Ciu Lan msnyambut bctcl cbat itu kemudian dia membalikkan tubuh untuk metlaksanakan
tugasnya Yok Sau Cun meng- lulurkan dua botol obat Iainnya kepada Hui
FeìCin dan maminta dia membagikan cbat pa- munah itu kepada crang-crang dan
delapan partai besar.
Begitu Hue lang sen-bu mati, Cian Pea Teng dan Cu Tian Cun yang sedang beriarung
Iangsung berhenti.
"Ibu .. " Dengan berderai air mata, Cu Tian Cun menghambur mengeiar Cu Kiau Kiau. Kim
Ti-iui saat itu sedang menerangkari kejadian yang sabenarnya kspada Gokong, tea-hac dan
sam-hac Bang Hui Ing sudah mendengar keterangan dari Ticng Hui Cicng dan kemudian
membuktikannya lagi dari mulut selir Li. Bukan hanya kakeknya saia yangi sudah
terserang racun bahkan Ci sancu sen diri iuga diperdayai cieh Hue leng sen-bu Kata·kata
ini terdengar guga cleh tea-hao dar sam·hac. Semua orang
terkejut bukan kepalang Pada saat itu, terirhat tubuh Kim Ti-jun meiesat ke depan dan
menghadang Cu Tiani Cun. I.
”Lacte, kau mempunyan ibu kandung sen diri maiah tidak dnakui, iustru mengaku se crang
nblns ssbagan ibumu?' katanya Cu Tian Cun menghentikan Iangksh kaki- nya.
"Apa yang kau ¤¤ehkan" Cepat mnngg¤r¤" bentaknya marah.
Beium lagi Kam Ti-iui sempat mengeiaskan kepadanya, Tan hujnn sudah
menghambur mendekati "Anak, apakah ibumu sendirn saia kau su- dah tidak
mengenaln |ag|?" katanya dengan berurai air mata.
Cu Tran Cun menatap Tan hujin Iekat-Ie kat. Dia merasa wanna setengah baya ini
tidak asing bagnnya, tetapi dna tidak dapat mengingat apa·apa.
"Huiin, mungkin kau salah manganali ¤rang’?“ sahutnya dangan wajah sarius. Pada saat
itu, Song Gang San sudah ms- nalan chat pamunah. Dangan parlahan-Iahan dia
malangkah ka arah maraka.
"Tnan Cun, mba kau ingat bank-baik. Waktu kacil kau barnama Liang Kean Banar tidak? Kau
adalah kapunakan Ichu sandiri. Ayahmu barnama Tan Pit Sian. Dna
adalah ibu kandungmu sandm. .“ Cu Tian Cun banar·banar trdak bisa mang- ingat
sadnknt pun.
"Aku tidak tahu apa-apa," sahutnya br- ngung.
Tardangar sabuah suara yang parau ma- nyahut dan kajauhan "Kau parnah manalan cbat
panghilang ka- sadaran yang aku buat Kamudian kau di- cakckn lagi clah Hua
lang san-bu dangan Put ijl kim-tan. Tantu saja kau trdak ingatapa·apa. }Pada dasarnya
dalam hanmu cuma ada sa- crang Hua lang san―bu " Yang bicara mi su- dah pasti Cick Sam
Ku. Dia sudah manalan chat pamunah Put ji kim―tan. Katika dia me- `hhat crang ramai
sadang barbncara dangan Cu Tian Cun Dia sagara mengajak Cick Ciu
Lan menghampiri ks arah mereka. 'Bagaimana kau bisa tahu7" tanya Cu Tim Cun.
Cnck Sam Ku tersenyum simpul "Asal kau sudah menelan cbat pemunah tentu kau akan
mengerti sendiri Karena aku yang menculikmu dengan nlmu Pak hua sin heat.
Saat itu dalam keadaan tertotck Aku menyerahkan kau padaHue lang sen-bu yang
Iangsung meminumkan racun Putji kim tan.".
Cu Tian Cun terkajut sekaln "Apakah kata-karamu nu benar?" "Buat apa aku mendustanmu?"
sahut Cnok Sam Ku.
Hun Fei Cin dan Ciok Cru Lan masnng masmg mengsluarkan sebutir 0bat pemunah
dari botol obat dn tangan mereka dan me nyerahkannya kepada Tan hujnn Wanna se
tengah baya itu menerimanya dengan meng uraikan air mata.
"Anak, cepat kau telan kedua butir cbat pemunah im. Sebentar Iagn kesadaranmu pasti
akan puhh kembaln," katanya. Cu Tian Cun mengedarkan pandangannya ks
sekeliling. Dia merasa mereka semua sepertinyn bersungguh·sungguh. Akhirnya dia
menerima juga kedua butir obat tersebut dan langsung menelannya.
Pada saat itu, Ci sancu, Kong Tong si-hav. Tcan Pek Yang. Cian Pca Teng, sehr Li, selir
Liu dan yang Iain-Iainnya juga sudah menelan ubat pemunah tersebut. Kim Tijui
menjelaskan sekali Iagi bahwa yang mem- bunuh Jit―kcng dan Pat―kcng
sebetulnya atas perintahHue lang sen-bu. Dalam hal iniji-hav dan shhac tidak dapat
disalahkan. Mereka melakukannya tanpa sadar sebab keduanya telah diben racun oleh nenek
jahat itu. Se- karang Hue Ieng sen-bu sudah mati. Segala dendam pun harus
dihabisi sampai di situ. Yang ialu bnarkan barlaiu. Gc―kong yang mendengarkannya
manarik naias panjang- panjang Setelah menghentakkan kaki dua kaii, dia Iangsung male
at meninggalkan tempat tersebut.
Yok Sau Cun iuga menyerahkan pedang iemasnya kepada Hong Lam San. Kemudian
Ci¤k Sam Ku ruga menjelaskan bahwa dia yang menggunakan racun pcnghilang kesadaran
untuk mengajak para iago dari bs- berapn partai besar bsrgabung dengan
Kong Tong pai. Termasuk suhengnya Ca Nam Kiah dari Bu Liang-kiam pai. Dialah
yang mem- berikan pedang lernasnya kepada Ciuk Ciu Lan yang kemudian
menghadiahkannya kspada Yak Sau Cun.
Song Ceng San yang mendengar bahwa delapan crang manusia berkaun cadar yang
saat ini dalam keadaan tertutck dn depan pmtu gerbang adalah tukch-tokoh dan ber-bagan
partan persnlatan, ssgera menyerahkan sagumlah obat pemunah kepada Hong
Lam San dan memintanya supaya mencekckkan cbat-cbat tersebut kepada delapan
orang xtu Dengan demnkian pihak Hong Lam San juga dapat segera kembirh ke
perguruannya sen- dui.
Hcng Lam San menerima kembali psdang Iemasnya dan memura sekah Iagi kapada
Yok Sau Cun. Dna juga menyambut obat-chat pe munah dari tangan Song Ceng San
serta mengucapkan terima kasih sekaln Iagi Se- telah itu dia membalikkan tubuhnya
mening- galkan tempat itu.
Cu Tian Cun sudah menelan kedua bum obat pemunah yang diberikan oleh Tan huiin
Tidak lama kemudnan pikirahnya mulai sadar kemball. Dia mencoba mangingat-ingat
masa lalunya. Akhirnya dia merasa bahwa nama kecilnya mamang Lieng Kean, Dia
Iangsung menjatuhkan diri berlutut dengan mang- uraikan air mata.
"Anak sudah teringat kembali Anak me- mang bernama Lneng Kean waktu kecilnya.
Tetapn di mana ayah sekarang’?" Tan hujnn segera merangkul anaknya dan menangns
tersedu-sedu. Bagitu terharunya hati wanna itu sehingga dia tidak sanggup
mengucapkan sepatah katapun Bang Hui Ing sagera mengnkuu tindakan suaminya
man- |atuhkan_d1ri berlutut di hadapan wanita stu.
"Manantu taiah melakukan kesalahan be- sar. Harap Ibu mertua bersedna
memaa1kan." Tan hupn capat-capat memapahnya ba- ngun.
“Menantu yang baik, erang yang tidak tahu ndak dapat disalahkan Aku tidak akan
me- nyalahkan d¤rimu," katanya dengan mengam- bangkan seulas senyuman yang
Iambut. Selembar wajah Bang Hui Ing menjadi merah padam.
"Tsrima kasih, Ibu..." sahutnya lirih.
Sampai saat mi Yek Sau Cun baru tahu kulau Cu Tian Cun adalah anak suhunyai
yang menghilang enum belas tahun yang Ialu. Hatinya meniadi gembira sekstika. "Cu
toako, rupanya kaulah suheng yang siaute carl-can selama ini. Suhu, dia crang tua,
sudah mencanmu selama enam belas tahun.".
Kim Ti―|ui mengamkat bahunya sambil ter- tawa Iebar.
"Urusan ini, biar Lao kckc saja yang ce- ritakan. Song Loya cu, He... he... he.. Hm,
siaute seharusnya memanggil Lac kcko se- bagai suheng. Eegini, pada waktu dulu,
suhu Tian San I Sou mswariskan nimu pedang se· banyak seratus yurus yang
kemudian meniadn ilmu pedang keluarga Song dan dikatakan sebagai ilmu pedang
yang tidak terpscahkan Sebetulnya seratus jurus yang diajarkan cleh Suhu adalah
almu pedang yang sudah ada rumus pc-mecahannya .... ".
Song Ceng San menganggukkan kapaia nya sambil tarsenyum-senyum. "sebetulnya Lao siu
tidak terhitung mund suhu. Sute baruiah muridnya yang se sungguhnya." Kim Ti-gui juga
tertawa Isbar.
"Tan Pit Sian juga termasuk orang yang mandapatkan warisan dari Suhu. Keiuarga Tan iuga
terdiri dari pendekar-pendekar yang ahii dalam ilmu pedang. Dia akhirnya me- nikah
dengan adikmu. Ilmu yang dipelajari Tan hupn utcmatis adalah ilmu
pedang ke- Iuarga Song. Pada suatu hari, hanya karena sepatah kata yang diucapkan
ketika beriatih ilmu pedang bersama-sama... Tan huiin me- ngatakan bahwa ilmu
pedang keluarga Song tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun iuga dan Tan Laukc
menyahut bahwa di dunia ini tidak ada ilmu padang yang tidak dapat di- pecahkan
Justru karena ucapan inilah ke- mudian teriadi partentangan di antara suami istri Siang
dan malam Tan Iackc berusaha mencari ialan untuk memecahkan ilmu pe- dang
keluarga Sung. Pada suatu hari dia du- duk termenung sacrang diri di Iuar hutan.
Kebatulan Suhu iewat di tempat itu. Sengaja dia berlatih ilmu di Iuar hutan tersebut.
Tan Iackc Iangsung tertarik. Apa yang dijalankan olsh Suhu pada saat itu adalah Pit
kiam sln- hoat. Ketika sampai Tan Iacku berhasil mem- pelajarinya, suhu sudah pergi.
Hati Tan Iacko senang sakali. Dia segera pulang ke rumah dan memberitahukan
kepada lstrinya behwa dia sudah berhasil memacahkan ilmu pedang keluarga Song.
Dan dia memaksa Tan hujin mengujinya. Kebetulan Song lacks datang berkunjung.
He... he... he... Pada seat itu, Song Iaoko kesal sakah mendengar kata- katanya. Kau
mengatakan: 'Kau hanya bisa menghindarkan diri dari serangan pedang, apa termasuk
hebat? Kalau kau bsnar-bsnar sanggup menerima due puluh jurus serangan ilmu
pedangku, baru boleh menyumbongkan diri!' Tan Iaoko yang mendengar ucapan itu,
Iangsung terbangkrt hawa amarahnya. Dia mengatakan: 'Apabrla aku orang she Tan
ti- dak sanggup menyambut dua puluh serang- anmu, maka aku akan mengundurkan
diri dari dunia kang¤uw!' Sebstulnya kata-kata itu di- ucapkan dalam keadaan emcsi.
Siapa sang- ka malam harinya dengan mengendap-endap dia membawa anaknya
memnggalkan rumah .... ".
Selembar wajah Song Ceng San menjadn merah padam.
"Sebstumya bukan dia saja, kaml semua juga terbawa emosi. Aih, Lac siu sendiri juga
rkut bersalah. Tetapl sstelah Tan lacks meninggalkan rumah. kami semua keluar
mencarinya. Tapi ssiamq ini tidak berhasil menemukannya." ‘.
"Tentu saja. Suhu menyembunyikan diri di rumahku selama bertahun·tahun," kata Yok Sau
Cun dalam hatinya. "Laiu di mana Tia sekarang?" tanya Cu Tian Cun.
"Suhu ada di Hun Tai san." Hue Fei Cin yang telah membagi-bagikan obat pemunah kepada
crang-orang delapan parfai besar segera menyerahkan kedua bo- t¤I czbatnya kepada Tiong
Hui Cicng.
"Tiong cici, kedua chat ini khusus memusnahkan racun pembuyar tenaga dan racun
penghiiang kesadaran. Sekarang siau moay menyerahkannya kepadamu.".
Ticng Hui Ciong menerima kedua bctcl itu Cick Ciu Lan iuga menyerahkan bctoi
nba! dìtangannya kepada gadis itu.
{ "Tiong cici, yang ini adaiah obat pemunah racun Put ji kim―tan milik Hue Ieng sen-bu.
Kau bawalah sekaIian," katanya.
' Tiong Hui Ciong sekali Iagl menerima nba! itu dari tangan Cick Ciu Lan. Bibimya mengembengkan
seulas senyuman.
"Terlma kasih kepada adik berdua." .
Dia berhadapan dengan Hui Fei Cin yang Iembu! dan Cick Ciu Lan yang Iincah seria
cerdas. Diam-diam dna menarik natas panjang dalam haiinya. Dia sendiri sudah
meng· angkat saudara dengan Yok Sau Cun. Sebagai senrang kakak seharusnya dia
memikirkan kebahagiaan adiknya. Pikirannya ter- gerak, hati Ticng Hui Cicng yang
tadinya ba- gai diganduli beban berat meniadi Iega seketika. Dia ikui berbahagia demi
Yok Sau Cun. Perlahan-Iahan dia melangkah ke sam- ping Beng Hui Ing.
"Toaci, Yaya memerlukan chat pemunah ini secepatnya. Aku akan kembali ke Scat san
sekarang juga.".
Beng Hui lng menganggukkan kapaianya "Baiklahi Aku akan mengikuii mertuaku ke Hun Tai
san. Seielah kembali dari tempai itu. aku akan menjenguk keadaan Yaya.
Kau boleh berangkai duluan." sahutnya.
'Hong Hui Cicng juga menganggukkan ke- palanya. Dia membalikkan tubuh
menghadap Yuk Sau Cun.
'Adik Cun, cici akan kembali ke Soat San. Kau... harap jaga dirimu beik-baik.' Sudui
matanya terlihat air mata mengambang. Tetapi dia memaksakan dlrlnya untuk tidak
menangis di hadapan anak muda itu. Yuk Sau Cun yang mandengar Ciang cici- nya
akan pulang ke Soat san, marasa hatinya agak barat barpisah dengan gadis itu. Dia
menatap Tiong Hui Ciong Iekat-Iekal.
Ciang cici juga harus menjaga diri baik- baik," katanya kemudian.
. Ti¤ng Hui Ciong tidak barkata apa-apa Iagi. Dia sagera mambalikkan tubuhnya
meninggalkan tampat itu. Cun Hong. Sia Ho, Ciu Guang dan Tung Soat sagera
mengikuti dari balakang. Sebentar saja mareka sudah manghilang dari pandangan.
Orang-orang dart delapan partai basar sudah menelan obat pemunah. Setelah beris?
tirahat sajanak, tenaga dan hawa mumi maraka talah pulih kemball. Hanya Ci sancu yang
karena sudah agak lama tarserang racun sampai sekarang balum sadar juga. Bu Cu taisu
baserta rombongannya mendengar Song Cang San dan keluarganya akan be-rangkaf ke Hui Tai
San. Maraka sagem memohon diri satu per satu. Sebelumnya
me- raka mangucapkan tarima kasih sebasar·besarnya kepada Yok Sau Gun Kalau
bukan karena anak muda itu, urusan yang pehk nm belum tamu dapat diselesaukan
secara tuntas hari ini, Yok Sau Cun mengucapkan kata- kata yang merendah.
"Yok lame, Kita juga sudah harus berangkat " ajak Song Ceng San.
"Ibu. kau juga harus ikut dengan mereka ke Hun Tan san Dulu kau yang menculik Cu toako
Kau merupakan satu?satunya saksi hidup bagi mereka,? tukas Ciok Ciu Lan.
Tentu saia Ciok Sam Ku mengerti maksud hati anaknya. Dia Iangsung memanggut
manggutkan kepalanya barulang kali.
"Baiklah. Ibu sudah membuat mereka ss- keluarga terpisah se|ama enam belas tahun.
Memang seharusnya lbu msminta maat kepada Tan taihiap. Hal ini juga akan meringankan
perasaan Ibu yang marasa bersalah ".
"Cick tcacn gangan berkata demikian Aku- lah yang bersalah terhadap suam|ku," kata Tan
hujin.
Yok Sau Cun segera melepaskanpadang drpinggangnya. Dna msnyerahkan ke tangan
Cn sancu sambnl berpesan kepada sehr Li dan sslar Liu.
"Pedang ini milik Ci sancu. Harap kalian simpankan ".
Kam Ti aua merentangkan kedua tangan- nya.
"Kau juga harus mengembalakan semacam barang kepada Lao koko ".
Yok Sau Cun msnaada terpana. "Apa yang Lao k¤k0 maksudkan?".
Kam Ta aua tertawa terkekeh·kekeh. "Kau tadi menyambut serangan Hue lang sen-bu dengan
kekerasan Kalau bukan Lao koko maminjamkan semacam benda pusaka dari
Pak haa, masa kau bisa tidak terluka oleh serangan telapak tangan apanya? Lao koko
masah harus berangkat secepatraya ke Pak haa umuk meragembalikan benda pusaka
tersebut ".
"Benda pusaka apa sebetulnya yang dimaksudkan cleh Lao kcako?" tanya Yak Sau Cun
bingung. Kam Ti-aui meaagangkat sepasangbahunya.
"Mengapa kau tadak meraba ke balik pakaaanmu sendiri?" Yok Sau Cun segera menuruta
perkataan- nya Ternyata daa memarag merasakan ta- ngannya menyentuh
semacam barang yang dingin. Cepai-copai dia msngeluarkannya. Ternyata bends itu
adalah sebuah baiu ku- mala berwarna hiiam.
"Apa inl? Kapan Lao koko meleiakkannya ke dalam balik pakaian siaute?".
Kim Tl·jui segera mengulurkan iangannya menyambui benda tersebut. "Batu ini adalah
semacam benda pusaka yang sudah ierpendam selama ribuan tahun dalam
iautan. Khasiatnya khusus uniuk menyambut serangan yang mengandung unsur api.
He... he... he... Tadi waktu membisik di teiingamu, secara diam-diam aku memasukkannya
ke balik pakaianmu. Baiklah Lac koko akan berangkai sekarang." Dia menge·
dip-ngedipkan matanya kepada Ciok Ciu Lan dan meiangkah keiuar dan iapangan
tersebut.
"Lao koko, di mana kita bisa beriemu iagi?" tsriak Yok Sau Cun.
'Apabila ada iodoh, ribuan Ii pun dapat bertemu. Lao koko menunggu saat kau menyajikan
arak kebahagiaan. 'tidak diundang pun akan hadiri" sahuinya dari jauh dan
tahu- tahu orangnya sudah menghilang dari pandangan.
Song Ceng San menarik nafas panjang. "Dla benar-benar orang aneh yang tiada duanya di
dunia Inii".
Song Ceng San. Song Bun Cun, Ciek Ban Cmg, Hui Kln Siau suami istri, Hue Fei
Cin, Tan huiin. Cu Tian Cun suami isiri, Yok Sau Cun, Be Hua popo dan Ciok Ciu
Lan serom? ongan semuanya akan menuju ke Huan Tai an Dengan
berb¤nd¤ng·b¤nd0ng mereka eninggalkan Ce Po ian-goan`.
Kong Tong si-has mengantarkan sampai di depan pintu gerbang. Toa-hao segera
menjura dalam-dalam.
"Kong Tong pai tertimpa musibah. Kami benar-benar diperalat oleh Hua Ieng sen-bu untung
saja ada Song Ioya cu dan Yok iauhiap yang mengerahkan segenap tenaga
menyelesaikan urusan ini, sehingga Kong tong pai dapat dibenahi kembaii. Sancu
sampaii saat ini belum sadar. Kami empat bersaudara mewakili Sancu mengucapkan
terima kasih kepada cuwi.".
Song Gang San segera membalas penghormatan yang diberikan oieh Toa-hao. "Suwi cianpwe
terlalu sungkan. Apabia Sancu tarsadar nanti, tolong sampalkan salam
Lohu untuknya." .
Rombongan itu segera berangkat ke Hun Tai san. Tentu saja Cu Tian Gun merubah
namanya menjadi Tan Tian Cun. Suami istri keluarga Tan pun bersatu kembali, Yok
Sau Cun sendiri terjun ke dunia kangouw untuk memenuhi dua permintaan suhunya.
Sekarang tugasnya sudah selesai. Malah dia mendapatkan dua orang istri yang cantik
Jelita. Sudah pasii ia gembira tidak kepalang.
.
---- TAMAT -----

Related Posts: