Naga Pembunuh 14 Tamat

Seumur
hidup jangan dilihat lagi, jangan diambil. Atau malapetaka
akan menimpamu dan seumur hidup kau bakal menderita!"
Giam Liong tergetar, terkejut. "Sian-su.... Sian-su tahu ini?"
Han Han juga heran. Seingatnya baru kepada dia
seoranglah Giam Liong memberitahukan rencananya itu. Maka
melihat kakek ini tahu dan mengangguk, tertawa, maka Han
Han lebih heran lagi mendengar kakek itu tahu apa yang
mereka bicarakan di kamar.
"Aku tahu, dan aku merasa bahagia bahwa kalian dapat
bersatu dan hidup berdampingan. Aku juga mendengar
percakapan kalian di kamar."
Han Han tertegun.
"Tapi kau..." kakek ini tiba-tiba menoleh kepada Yu Yin.
"Jangan sekali-kali ke kota raja dan pegang sumpahmu, nona.
Sebaiknya tak usah kau menemui siapapun di sana dan tak
usah dikunjungi siapapun dari sana. Mulailah hidup baru dan
benar-benar lupakan kerabat ataupun sahabatmu dari istana."
Yu Yin mengangguk. "Aku memang tak akan kembali ke
sana," gadis ini berkata setengah marah. "Dan aku merasa tak
mempunyai kepentingan lagi dengan istana!"
"Bagus, dan pegang teguh kata-katamu ini, nona. Atau
nanti semua jadi terbalik!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hm, Sian-su membuat kami berdebar," Han Han kini
bicara, mulai tidak takut-takut lagi. "Dan bagaimana dengan
aku, Sian-su. Apa yang harus kuperhatikan!"
"Janganlah kaubiarkan ayah ibumu meninggalkan Hek-yanpang
dalam waktu sepuluh tahun ini. Jagalah mereka dan
sebaiknya kau kawal ayah ibumu kalau ingin bepergian lama."
"Apa? Mengawalnya seperti anak kecil?” Han Han
terbelalak.
"Hm, akan ada gejolak di dunia kang-ouw. Kalau kau ingin
bertanya nasihatku maka itulah yang harus kaulakukan, anak
muda. Katakan agar dalam waktu sepuluh tahun ini sebaiknya
ayah ibumu tak usah bepergian, tak usah meninggalkan Hekyan
pang jauh-jauh. Itu nasihatku."
Hari Han tertegun. Ia merasa heran tapi menganggukangguk
mengucap terima kasih. Betapapun itulah nasihat..
untuknya dan dia akan memberitahukan ayah ibunya pula.
Konon, dari kakek dewa ini pulalah ayahnya mewarisi
kepandaian. Dan ketika kakek itu duduk dan berhadapan
dengan mereka, Tang Siu dan lain-lain mulai berani maka
gadis ini bertanya pula,
"Lalu aku bagaimana, Sian-su? Apa yang harus
kuperhatikan?"
"Gurumu sebaiknya tak usah turun gunung. Dalam waktu
sepuluh tahun ini tahanlah keinginannya untuk tidak keluarkeluar,
sama seperti Ju-taihiap."
"Hm, dan sekarang aku ingat akan syair pemberianmu itu,"
Han Han kini berseru, memotong kekasihnya. "Kata ayah
maupun ibu kau selalu memberikan pelajaran-pelajaran
tentang kehidupan, Sian-su. Dan bagaimana sekarang dengan
syairmu itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar," Giam Liong juga mengangguk, merasa dialah yang
lebih berkepentingan. "Aku dan Han Han sudah membaca
berulang-ulang, Sian-su. Tapi tidak banyak yang kami dapat."
"Ha-ha, isinya jelas dan terang. Masa kalian tak mengerti!"
"Benar, tidak semuanya kami mengerti, Sian-su. Kami
hanya tahu bahwa syairmu bicara tentang dendam. Itu
intinya!"
"Hm, bukan itu saja. T api kelanjutan dari itu lebih penting
lagi!"
"Pada bait ketiga?"
"Benar, kau cerdas."
"Tapi kami tak mampu mengupasnya. Apa yang kau
maksud dengan kata-kata pada baris ketiga itu!"
"Sebaiknya dibaca saja semua," Tang Siu tiba-tiba berseru,
perahu bergoyang dan mereka nyaman sekali diombangambing,
ikan berkecipak dan hilir-mudik berenang di sekitar
perahu. "Aku tak ingin tahu hanya sepenggal-sepenggal saja,
Han Han. Kau boleh cerdas tapi kami ini masih bodoh!"
"Ha-ha, bukan bodoh, hanya belum mengerti. Orang yang
bodoh adalah orang yang sudah tahu sesuatu tapi tak mampu
mengerjakannya, nona. Bukan karena tak bisa melainkan
karena otaknya bebal."
"Dan kami barangkali bebal, kami juga begitu."
"Tidak, dalam hal ini kalian memang belum mengerti, dan
belum mengerti karena memang belum kuberi tahu. Hm,
duduklah yang tenang dan mari kita lihat syair itu. Siapa yang
membawa!"
Giam Liong mengeluarkan syair itu. Dialah yang membawa
karena memang kepada dialah Im Yang Cinjin memberikan.
Yu Yin di sampingnya dan kini tidak takut-takut lagi
menghadapi kakek ini. Bahkan, ada rasa kagum dan takjub.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan karena Tang Siu juga sudah di samping Han Han dan
tidak bersembunyi di belakang punggung lagi, aneh bahwa
semua sudah mengelilingi kakek itu maka Bu-beng Sian-su
yang tersenyum dan bersila di tengah anak-anak muda ini
memandang berseri dan sorot matanya yang lembut menyapu
sejuk.
"Kau bacalah," kakek itu memerintah Giam Liong. "Dan
perhatikan baik-baik apa yang hendak kuberitahukan kepada
kalian."
Giam Liong berdebar. Setelah dia dapat menenangkan
perasaannya kembali berhadapan dengan kakek ini mendadak
sekarang ia merasa tegang dan menggigil menggenggam
kertas itu. Aneh, ia seakan ketakutan, pucat. Tapi ketika
pundaknya ditepuk halus dan lenyap sudah rasa gemetaran itu
maka Giam Liong membaca, seperti ketika Yu Yin membaca
syair itu:
Api memercik di sudut hati merayap cepat membakar bumi
musnahlah sudah kasih dan budi tinggallah jiwa yang penuh
benci
Dendam kesumat membawa laknat hancur periuk ditimpa
genta sudah kodrat datang menjerat celakalah badan rusak
binasa
Satu jalan me lepaskan diri membuang racun lekatkan jari
taruh di tengah sang dewa cinta siap dan tenang menebus
dosa!
"Hm!" kakek itu mengangguk-angguk. "Cukup, anak muda.
Terima kasih. Bagus!"
Giam Liong mengusap keringat. Membaca tiga bait syair itu
saja tiba-tiba ia seakan mendapat tugas berat. Dahinya
berkeringat padahal hawa udara malam masih berhembus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dingin. Aneh! Tapi begitu ia selesai dan kakek itu
mengangguk-angguk, pemuda ini meletakkan syairnya maka
kakek itu berseri, matanya bersinar-sinar.
"Bagus, apa yang dapat kau tangkap, anak muda? Adakah
yang sudah kau mengerti?"
"Hm, masalah dendam. Syair ini bicara masalah dendam.
Tadi temanku Han Han juga sudah bicara begitu!"
"Ha-ha, aku tidak bertanya pendapat temanmu. Aku
bertanya kepadamu sendiri, kau!"
"Aku juga begitu, Sian-su. Aku sependapat bahwa syairmu
ini bicara tentang dendam," Giam Liong agak merah mukanya.
"Baik, dan kau pasti dengan pendapat-mu itu?"
"Ya."
"Hm, apalagi yang kau tangkap!"
"Belum ada...."
Giam Liong mengerutkan kening,
sesungguhnya kurang suka bicara tentang ini. Perasaannya
seperti tercabik-cabik. "Aku belum menemukan apa-apa lagi,
Sian-su, kecuali itu...."
"Hm, kau," kakek ini tiba-tiba menunjuk Han Han. "Coba
kaukupas dan artikan syair itu, anak muda. Barangkali kau
lebih tahu!"
"Aku seperti Giam Liong," Han Han tergagap. "Aku hanya
tahu sebatas itu!"
"Hm, kalau begitu bagaimana kalian!" Bu-beng Sian-su
menoleh pada Tang Siu maupun Yu Yin, yang dipandang
segera berdesir! "Coba kalian baca dan artikan itu!"
"Kami.... kami tak tahu. Kami hanya tahu seperti apa yang
mereka katakan!" Tang Siu menjawab dan memberanikan
hati. Bicara dengan kakek ini ia serasa gentar dan meskipun
tidak takut tapi perba-wa dan wajah kakek itu mengerikannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia merasa jerih! Dan ketika kakek itu tertawa dan
mengangguk-angguk, menarik napas dalam maka dia berkata,
"Baiklah, syair ini sederhana sekali, anak-anak, tak ada
yang sukar. Tapi harus kalian perhatikan baik-baik karena
akibat dari ini bisa tak ada habisnya dan berkepanjangan kalau
tidak segera diputuskan. Nah, dengarlah baik-baik!"
Empat orang muda itu mendengarkan. Mereka memasang
telinga baik-baik dan Giam Liong agak gelisah. Dia tahu bahwa
dialah nanti yang akan dituju dan kalau kakek ini bukan
dikenal sebagai orang yang memberi manfaat kepada orang
lain tentu dia enggan mendengar. Pembicaraan pasti akan
menusuk-nusuk hatinya. Dia harus siap menerima pedih! Tapi
karena tempaan demi tempaan sering dialam inya, Giam Liong
tabah dan menjadi matang maka dia membiarkan saja kakek
itu bicara. Dan Bu-beng Sian-supun memang mulai bicara.
"Pertama, mari kita kupas bait pertama. Ada empat baris
kata yang ada di situ. Dan pembukaannya adalah Api! Hm,
kalian tahu apa itu api, anak-anak? Bisa kalian katakan
sebentar?"
Han Han mengangguk. "Api adalah benda panas
membakar, Sian-su. Dan ia sanggup menghanguskan apa
saja!"
"Bagus, dan api ini adalah benda berbahaya. Api dari
segala api yang paling berbahaya adalah kebencian. Kalian
pernah benci?"
Semua melengak.
"Eh, kenapa melengak? Jangan pandang aku seperti itu,
anak-anak. Jawablah pertanyaanku apakah kalian pernah
benci!"
Han Han tiba-tiba tersenyum, dan tiga temannya tersipu.
"Pernah," jawabnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan apa yang kalian rasakan itu?"
"Rasa tidak suka atau marah kepada yang dibenci."
"Itu saja?"
"Ya, itu saja."
"Ha-ha, tidak lengkap. Coba kau jawab anak muda.
Bagaimana rasanya benci!"
Giam Liong terkejut. Dialah yang ditanya dan dia pula yang
diminta menjawab. Agaknya jawaban Han Han tadi kurang
sempurna dan harus disempurnakan. Dan karena memang
dialah yang paling tepat ditanya, Han Han terlalu lembut dan
mulia seperti ayahnya maka Giam Liong mengepal tinju.
"Aku ingin membunuh dan mencincang musuhku. Aku ingin
menamatkan riwayatnya!"
"Ha-ha, inilah benci. Benci yang sudah berkobar! Kau tepat,
anak muda. Dan itulah api benci yang sudah merayap cepat
dan membakar bumi. Tahukah kalian siapa yang kumaksud
bumi di s ini? Ada yang dapat menjawab?"
Han Han bergidik. Jawaban Giam Liong dengan kepalan
tinjunya tadi membuat ia was-was. Heran bahwa kakek dewa
ini main-main dengan kata-kata yang bisa membuat temannya
marah. Giam Liong bisa bangkit kebenciannya dan dapat
kembali ganas. Pemuda itu bisa menjadi iblis lagi! Tapi ketika
kakek itu tertawa dan bertanya kepada mereka, siapakah
"bumi" yang dimaksud dalam bait pertama maka dia
menggeleng, teman-temannya juga tak tahu.
"Mungkin bumi yang kami tinggali ini, tanah tempat
berpijak. Tapi Sian-su tentu maksudkan lain."
"Ha-ha, benar. Bumi yang kumaksudkan di situ adalah
tubuh kalian. Tubuh kalian ini yang dibakar dan dihanguskan
Api Kebencian. Tanpa tubuh, tanpa wadag, kebencian tak
dapat berbuat banyak karena ia tak mampu melampiaskan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diri. Nah tubuh kalian inilah yang kumaksud bumi. Dan sekali
api kebencian membakar dan merayap cepat maka tiadalah
kasih dan budi di jiwa kalian lagi. Yang ada hanyalah benci
yang kotor dan hitam!"
Han Han dan dua lainnya mengangguk-angguk, Giam Liong
diam saja.
"Lalu apa yang terjadi?" kakek itu me lanjutkan. "Tubuh
kalian dipakai oleh api yang namanya benci untuk
melampiaskan diri. Dan selama ia belum terlampiaskan maka
tak ada akhir dari benci ini. Padahal benci membuat manusia
ringkih dan keropos bagai tulang-tulang tua dimakan tanah!"
"Keropos? Ringkih?" Han Han heran.. "Giam Liong justeru
tampak semakin mengerikan dan dahsyat, Sian-su. Ia seakan
mahluk kuat yang luar biasa menakutkannya. Ia tegar dan
gagah perkasa!"
"Ha-ha, bukan itu. Keropos dan ringkih yang kumaksud
adalah miskinnya dari sumber kehidupan. Itu yang
membuatnya ringkih. T ahukah kau apa sumber kehidupan itu?
Bukan lain adalah cinta kasih. Benci bukanlah sumber
kehidupan,
karena
benci
bersifat
merusak
dan
menghancurkan. Dan karena orang yang diamuk benci adalah
orang yang jauh dari sumber kehidupan ini maka ia
sesungguhnya keropos dan ringkih dari cinta kasih. Orang
yang sudah tahu akibat dari benci tak akan berani
menenggelamkan diri. Benci itu ibarat telaga berapi yang siap
menghanguskan dan merusak diri sendiri!"
Han Han tertegun.
"Lihat temanmu ini, lihat anak muda ini. Bukankah garagara
benci ia sekarang kehilangan sebelah lengannya. Kalau ia
menyadari dan mengerti benar tentang benci tentu ia akan
berpikir seribu kali untuk hanyut dan tenggelam dalam api
kebencian itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Han mengangguk-angguk, tapi Giam Liong tiba-tiba
mengangkat kepala, sinar matanya mencorong, persis seekor
naga yang mau murka, kata-katanya dingin.
"Sian-su, apakah kau hendak maksudkan bahwa orang tak
boleh membenci? Bahwa biarlah kepala kita diinjak-injak dan
dihina orang lain dengan patokan tidak boleh membenci itu?"
"Ha-ha, kau terpancing emosi. Tapi ini berarti jiwamu
hidup, memberontak! Bagus, tapi sayang aku tidak maksudkan
begitu. Kau salah!"
"Jadi bagaimana? Sian-su setuju bahwa kita juga boleh
membenci?"
"Itu juga tidak, melainkan sesuatu yang lain. Aku hendak
maksudkan di sini bahwa kita mengamati benci itu sebagai
'benda' yang asing dan selidiki atau cari dari mana dia berasal.
Kalau sudah ketemu maka kita tak akan terjebak dan dibawa
ke liku-liku yang rumit. Benci sesungguhnya berasal dari ego
yang diganggu, rasa ke-aku-an. Dan karena rasa ke-aku-an ini
berasal dari pikiran, bukan hati, maka kita harus waspada tapi
celakanya banyak yang terjebak!"
"Hm, aku bingung. Apa itu si-aku!"
"Aku adalah ego, rasa kemilikan. Semakin tebal seseorang
memupuk ke-aku-annya maka semakin jauh dia dari cinta
kasih. Contohnya adalah ini....." kakek itu
tiba-tiba memandang Yu Yin. "Siapakah gadis ini? Salahkah
kalau kusebut bahwa dia adalah kekasihmu? Dan siapakah Jutaihiap
suami isteri? Salahkah kalau kusebut sebagai ayah ibu
temanmu Han Han? Nah, mereka ini adalah orang-orang milik
kalian, anak muda. Dan kalian tentu menyebutnya sebagai
kekasih atau ayah ibuku. Iihat, kata ,ku' di s itu adalah ego. Ia
menunjukkan kemilikan. Dan kalau kalian sudah jelas ini tentu
kita akan lebih lancar lagi bicara."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Han dan Giam Liong bersinar-sinar. Hal begini baru kali
itu mereka dengar dan karena merasa tertarik mereka
mengangguk-angguk. Begitu pula Tang Siu maupun Yu Yin.
Tapi belum kakek itu bicara lagi Giam Liong sudah memotong.
"Kalau begitu apa sa lahnya rasa ego ini, Sian-su. Bukankah
rasa ke-aku-an itu wajar dan tidak salah. Apakah kau hendak
menghendaki agar kita tidak memiliki lagi rasa itu. Ingat, kau
bersandar dan menghubungkan rasa kebencian itu dengan
aku, ego!"
"Ha-ha, benar. Dan kau tampak bersemangat sekali. Bagus,
jiwamu hidup, anak muda. Kau cocok sebagai figur yang
meletup. Tapi nanti dulu, aku tidak berkata bahwa ego atau
rasa ke-aku-an itu harus dibuang. Aku, atau ego, sudah ada di
dalam diri setiap manusia. Aku atau ego itu sudah ada seperti
juga jantung atau hati di dalam tubuh. Ia sudah menjadi
bagian dari ujud utuh manusia. Ia tak dapat dihilangkan dan
tak mungkin pula dihilangkan. Tapi kalau ego sudah nyasar ke
tempat lain seperti halnya otak tiba-tiba berpindah ke jantung
atau jantung berpindah ke otak maka kehidupan manusia
menjadi kacau-balau. Dan inilah yang terjadi!"
"Hm, bagaimana itu...."
"Nanti dulu, jangan tergesa memotong. Dengarkan. Kalau
jantung kutaruh di kepala dan otak kutaruh di jantung
bagaimana jadinya. Bukankah semuanya serba kacau. Nah,
begitu pula dengan ego atau aku ini, masing-masing
sebenarnya sudah ada di tempatnya sendiri-sendiri tapi oleh
manusia lalu dipindah-pindah seenaknya. Contohnya adalah
kau ini. Gara-gara ego kau pindah ke tempat lain maka
semuanya berantakan dan kaupun akhirnya menderita!"
"Aku tidak mengerti....."
"Aku akan membuatmu mengerti," kakek itu menyergap,
tangkas. "Dengar dulu dan ingat apa yang kukatakan tadi,
anak muda. Bahwa kita harus mengamati benci sebagai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'benda asing' di tubuh kita. Lihat, bagaimana ia datang. Dari
mana. Dan karena benci berasal dari ego yang diganggu, dan
ego berasal dari pikiran maka inilah yang merusakmu dan
itulah yang tidak kauwaspadai!"
"Nanti dulu, apa yang merusak dan tidak kuwaspadai, Siansu.
Aku tidak merasa apa-apa!"
"Ha-ha, inilah tololnya manusia. Sudah digeragoti dan
dimakan apa yang namanya api benci masih juga bilang tidak
merasa apa-apa. Eh, jawab pertanyaanku, anak muda.
Bagaimana dan dari mana dendam itu berasal ketika kau
membunuh Kedok Hitam!"
Giam Liong terkejut, dibentak. Tiba-tiba ia merasa marah
dan sinar matanya beringas menatap kakek dewa itu. Watak
Si Naga Pembunuh muncul, ia tak takut! Dan ketika dua
pasang mata beradu di udara dan Yu Yin menjerit melihat
sinar mata Giam Liong yang merah membakar, mata itu
seperti Giam Liong yang penuh benci dan dendam maka
pemuda inipun berkata, lantang.
"Sian-su, aku membunuh Kedok Hitam karena ia
membunuh dan mencelakai ayah ibuku. Darah harus dibayar
darah. Tak ada anak yang dapat membiarkan itu kecuali anak
yang tidak berbakti!"
"Ha-ha, bagus. Coba ulang sekali lagi. Siapa yang dibunuh
Kedok Hitam hingga kau sekarang ganti membunuhnya."
"Ayah ibuku!"
"Siapa?"
"Ayah ibuku!" Giam Liong melompat, membentak keras
sekali tapi kakek dewa itu justeru tergelak-gelak. Giam Liong
berdiri dan merah terbakar tapi anehnya kakek itu tak perduli.
Han Han terkejut dan cepat menangkap temannya ini,
menenangkan. Dan ketika Giam Liong tertegun karena suara
lembut kini mengganti tawa bergelak-gelak itu, sinar mata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berwibawa menyorot menembus sinar matanya yang beringas
maka kakek itu berkata,
"Nah, lihat dan dengarkan sendiri kata-katamu tadi. Yang
diganggu adalah milikmu, anak muda. Yang dirusak adalah
milikmu. Siapa itu Sin Hauw dan mendiang Wi Hong. Kau
mengatakannya sebagai ayah dan ibu-ku. Nah, bukankah 'ku'
atau ego muncul di sini? Dan ayahmu maupun mendiang
ibumu juga sama saja. Mereka membenci dan memusuhi
Kedok Hitam karena Kedok Hitam mengganggu atau merusak
rasa aku-nya tadi. Ibumu karena suaminya dibunuh sedang
ayahmu karena ayah dari ayahmu itu dibunuh pula oleh Kedok
Hitam. Masing-masing terlibat dan terjebak rasa aku-nya itu.
Ibumu menganggap ayahmu sebagai 'suami-ku' itu sedang
almarhum kakekmu adalah 'ayahku' bagi ayahmu itu. Betapa
jelas dan gamblang bahwa kau dan semua orang terjungkir
balik oleh ke-aku-an yang dipindah tempatnya ini. Betapa
gamblang dan nyata bahwa kebencian akhirnya merusak diri
sendiri. Lihat bagaimana ketika kekasihmu itu hendak
membunuhmu dalam beberapa hari yang lalu. Lalu apa
jadinya kalau semua sudah balas-membalas dan menjadi
seperti binatang yang ganas dan jalang begini. Bukankah
kehidupan jadi kacau dan mengerikan sekali. Dunia menjadi
tak tenteram dan panas ditinggali!"
"Hm...!" Han Han yang mengangguk-angguk, Giam Liong
masih diam dan tertegun. "Aku mulai dapat menangkap
wejanganmu ini, Sian-su. Tapi bagaimana kalau tidak begitu.
Bukankah rasa marah atau dendam sesungguhnya ada juga di
hati setiap orang, seperti halnya jantung atau hati yang Siansu
katakan tadi."
"Betul, tapi seperti kataku tadi, anak muda. Kalau
kebencian atau dendam itu muncul, lihat dan amatilah dia
sebagai 'benda asing' yang datang. Lihat dari mana dia
berasal. Dan karena dia pasti berhubungan dengan ego atau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'aku’ maka waspadalah agar tidak terjebak dan sampai hanyut
apalagi tenggelam oleh 'benda asing' ini. Jelas?"
"Jelas, tapi juga tidak jelas," Han Han berkerut kening,
pikirannya bekerja keras. "Apakah Sian-su hendak maksudkan
bahwa dengan begini kita tak boleh mendendam, benci!"
"Nanti dulu, benci atau dendam tetap ada di hati semua
orang. Dia tetap tinggal di situ, seperti halnya darah atau
daging di tubuh kita. T api karena ada yang tidak cocok dalam
pengetrapannya, jalan keluarnya maka kita terjebak dan
terseret di sini. Coba katakan dulu apakah sesungguhnya kita
ini punya hak milik!"
"Tentu," Han Han tak ragu. "Aku mempunyai ayah ibuku,
Sian-su. Seperti juga Giam Liong ini pernah mempunyai ayah
ibunya. Dan kupikir setiap manusia punya hak milik!"
"Ha-ha, itu semu, hanya secara lahiriah. Sebetulnya
manusia ini tak mempunyai apa-apa dan tak berhak milik.
Yang ada dapat lewat dan lenyap. Kau salah!"
"Salah?"
"Bagus, kutanya lagi, jangan potong dulu," kakek ini
berseri, kabut di mukanya bergerak membuka. "Coba jawab
dari semua hak milik yang dipunyai manusia apakah yang
dinilai paling berharga, anak muda. Tunjukkan kepadaku dan
mari kita berdebat!"
"Hm, keluarga dan orang tua kupikir adalah hak milik paling
berharga," Han Han menjawab.
"Dan kalian?" kakek itu memandang Yu Yin dan lain-lain.
"Bagaimana jawabannya?"
"Kami pikir juga begitu," Tang Siu mengangguk,
sependapat. "Keluarga dan orang tua adalah hak milik paling
berharga, Sian-su. Dan justeru karena yang paling berharga
inilah yang dicabut Kedok Hitam maka Giam Liong
mengamuk!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ha-ha, kalian hanya bicara tentang yang diluar. Ah, di luar
melulu. Alangkah bodohnya! Bagaimanakah kalau seandainya
semua itu ada tapi kalian sendiri tak ada!"
"Maksud Sian-su?"
"Jelas. Bagaimana kalau semua itu ada tapi kalian sendiri
tak ada, tak pernah lahir. Apakah bukan justeru yang ada di
dalam diri kalian itulah yang paling berharga, nyawa kalian!"
Han Han dan Tang Siu terkejut.
"Lihat," kakek itu melanjutkan. "Nyawa adalah milik kalian
yang paling berharga, anak-anak. Karena nyawa inilah yang
membuat kalian hidup. Bukankah karena ini maka kalian dapat
menikmati hak-hak lain seperti keluarga dan lain-lainnya itu.
Tapi ternyata yang paling berharga inipun ternyata bukan
milik kalian, ha-ha!"
"Eh!" Han Han terkejut, berseru menyergah. "Bagaimana
bisa begitu, Sian-su. Masa nyawa ini bukan milik kami sendiri!"
"Ha-ha, betul. Tapi coba jawab dulu apakah jawaban ini
tidak betul. Bahwa hak milik kalian yang paling berharga
sesungguhnya adalah nyawa kalian itu, yang membuat kalian
hidup!"
"Kau benar," Han Han akhirnya mengangguk. "Nyawa kami
adalah harta milik kami yang paling berharga, Sian-su. Tapi
kenapa inipun kausanggah sebagai bukan milik kami!"
"Gampang,
kalau
itu
milikmu
dapatkah
kau
mempertahankannya di kala kematian menjemput datang?
Dapatkah kau berkata kepada Malaikat Elmaut bahwa itu
milikmu dan karena itu jangan diambil? Coba, jawab, anak
muda. Dapatkah kau mempertahankannya kalau itu milikmu!"
Han Han berubah. Semua yang lain tiba-tiba juga berubah
dan tawa kakek itu amatlah mengejutkan mereka berempat.
Kakek itu berkata dan tertawa begitu benar. Tak dapat
dibantah! Dan ketika mereka bagai melihat barang baru dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Han maupun teman-temannya tak mampu menjawab,
ada sesuatu yang lebih tinggi dan jauh di atas kekuasaan
mereka maka pemuda ini dan tiga temannya tertegun. Dan
kakek itu menyergap.
"Ayo, bagaimana, anak muda. Apakah inipun tidak benar!"
"Benar, tapi.... tapi...." Han Han bingung. "Bukankah kami
memilikinya juga, Sian-su. Bukankah ini ada pada kami!"
"Itupun benar, tapi ketahuilah bahwa hak milik yang kalian
miliki sesungguhnya adalah hak milik semu. Hak milik sejati
tak pernah ada dimiliki manusia. Manusia hanya memiliki hak
manfaat, itu saja. Dan kalau yang berharga saja bukan milik
kalian apalagi milik orang lain. Biarpun itu ibu atau ayah
kandung!"
Giam Liong tergetar. Sampai di s ini ia pucat, terbelalak dan
wajah yang tadi merah terbakar perlahan-lahan surut, putih
dan tiba-tiba pemuda itu mengeluh. Dan ketika ia menutupi
mukanya sementara Han Han dan lain-lain terkejut, mata
mereka seakan dibuka lebar-lebar maka empat anak muda itu
terhentak oleh pikiran masing-masing. Han Han sekarang
melihat bahwa sesungguhnya manusia tak memiliki apa-apa.
Kalaupun ada rasa milik itu maka semuanya bersifat lahiriah,
semu. Dan ketika ia mengangguk-angguk sementara dua
gadis di sebelahnya mendelong dengan sikap bengong maka
Tang Siu teringat bahwa kakek itu masih belum menerangkan
tentang hubungan kebencian dengan aku, dalam pertanyaan
kenapa orang tak boleh membenci, dendam.
"Maaf, Sian-su," gadis ini maju bicara. "Aku sekarang
mengerti apa yang telah kauuraikan ini. Tapi bagaimana
selanjutnya dengan wejanganmu berikut. Kau agaknya hendak
memberitahukan kami bahwa benci dan dendam sebaiknya
tak perlu dipupuk. Kenapa dengan ini, dan mungkinkah pula
bagi kami, manusia, menghapus begitu saja segala benci dan
dendam, apalagi kalau sudah merasuk ke sumsum tulang!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus, pertanyaanmu mengajak kembali," kakek itu
mengangguk-angguk, tersenyum. "Kalian sekarang sudah
mengerti bahwa rasa ke-aku-an mengajak manusia untuk
menikmati secara semu, anak baik. Padahal yang semu ini
bukanlah yang sejati. Yang sejati bukanlah milik kita, milik
siapapun. la ada dan hanya milik Yang Tunggal, Yang
Mahakuasa. Dan kalau kita ngotot dan bersitegang untuk
membela yang semu ini, yang bukan apa-apa maka
sesungguhnya kita telah memboros-boros-kan tenaga dan
pikiran untuk akhirnya malah menjadi celaka sendiri. Aku
hendak memberi tahu kepada kalian bahwa kalau kebencian
atau dendam itu datang, lihat dan amatilah dia sebagai benda
asing. Selidiki dan cari dari mana dia berasal. Dan karena
kebencian ini selalu dan pasti berhubungan dengan aku, ego,
maka waspadalah karena sesungguhnya aku atau ego itu juga
bukan milik kalian. Kalau itu bukan milik kalian lalu apa
gunanya dibela dan dipertahankan mati-matian? Bukankah
hanya membenamkan diri ke dalam lumpur kotor dan hitam?
Kalian akan semakin keruh saja, hilang kejernihan. Dan kalau
sudah begini maka berlakulah seperti apa yang telah dilakukan
Si Naga Pembunuh itu!"
"Kalau begitu Giam Liong tak boleh membalas dendam?
Kalau begitu ia tak boleh mencari musuhnya?"
"Kedok Hitam jelas jahat, dan siapa saja boleh
menghadapinya. Tapi kalau kalian menghadapinya didasari
motif dendam maka inilah yang tidak sehat karena seharusnya
kalian tidak bersikap begitu. Sebagai seorang pendekar maka
jiwa kalian harus dilandasi keadilan, cinta kasih. Bukan
kebencian atau dendam. Lihat ini..." kakek itu memberi
contoh. "Ada sebuah keluarga yang anaknya digigit ular
berbisa. Sang ayah marah-marah dan sang ibu menjerit habishabisan.
Anak kesayangnya mati. Lalu apa yang diperbuat?
Ayah itu lalu mencari dan membunuh ular itu, dicincangnya
penuh dendam. Padahal ketika kulihat ternyata keluarga itu
tinggal di tepi sebuah rawa dan rawa itu memang banyak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ularnya. Dan salahnya lagi, ia tak memagari rumahnya itu
hingga ular berbisa dapat masuk dan menggigit tewas
anaknya, yang celakanya lagi dibiarkannya bermain-ma in di
tepi rawa oleh keteledoran ayah ibunya sendiri! Nah, siapa
yang salah?"
Tang Siu tertegun. Ia jadi semakin membelalakkan
matanya lagi dengan perumpamaan ini. Tapi masih penasaran
ia bertanya,
"Jadi seharusnya bagaimana?"
"Ayah atau keluarga itu harus waspada. Ia harus melihat
bahwa tempat itu berbahaya bagi anak-anaknya. Dan karena
kewaspadaan pasti membuat manusia berjaga-jaga maka tak
mungkin ia membiarkan rumahnya tanpa pagar dan begitu
saja membiarkan anaknya bermain di tepi rawa!"
"Hm, aku sekarang mengerti," Han Han kini juga
mengangguk-angguk. "Wejangan-mu dapat kami terima, Siansu.
Tapi bagaimana dengan Giam Liong ini. Kewaspadaan
bagaimana yang harus ia lihat. Bagaimana ia harus bersikap!"
"Pertama rasa ke-aku-annya harus di-netralisir. Ingatlah
bahwa ibuku ayahku atau apapun juga 'ku-ku' yang lain itu
bukanlah miliknya sejati. Sedang nyawa sendiripun bukan
milik sendiri, apalagi orang-orang lain dan yang di luar kita.
Lalu ia harus waspada dan mengamati kenapa Kedok Hitam
membunuh ayahnya, seperti juga ayahnya dulu harus
mengamati dan waspada kenapa ayahnya itu dibunuh. Kakek
atau ayah dari ayah Giam Liong ini sudah lama merupakan
pembantu Chu Wen. Kedok Hitam dan kelompoknya tak
berhasil membujuk. Dan karena mereka sama-sama
bermusuhan dan satu sama lain membela kepentingan sendirisendiri
maka adalah lumrah kalau kematian atau hal-hal keji
sewaktu-waktu dapat masuk. Kebencian atau kemarahan yang
bersumber dari diganggunya rasa ego atau aku ini memang
bisa bermacam-macam akibatnya, bisa berkembang luas. Dan
karena manusia saling sikat untuk mempertahankan ke-aku-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
annya ini maka waspadalah kalian untuk tidak terjebak dan
kelak susah sendiri terlibat rantai setan yang tak ada habisnya.
Kedok Hitam memang jahat, korban dari kepicikan pikirannya
sendiri. Tapi kalau Giam Liong lalu menghadapi dia dengan
berlandaskan dendam dan sakit hati maka ini bukanlah watak
pendekar karena nanti keluarga atau anak keturunan orang itu
akan mencarinya dan kelak membalasnya juga. Jadi, tak ada
habis-habisnya. Daripada begitu putuskanlah rantai dendam
itu dan hadapilah lawan kalian berlandaskan keadilan, cinta
kasih. Karena gerakan atau tindakan kalian ini sungguh jauh
berbeda dengan kalau kalian menghadapi musuh kalian
berdasarkan dendam atau sakit hati. Jelas!"
Han Han dan teman-temannya mengangguk-angguk.
Mereka tentu saja dapat melihat dan merasakan itu dan
mampu pula menerimanya. Sekarang jelaslah bahwa
kejahatan bukan lalu dihadapi dengan dendam dan sakit hati.
Kejahatan harus dihadapi dengan keadilan dan cinta kasih.
Dan karena perwujudan ini tentu lain dengan sepak terjang
Giam Liong, yang bengis dan sadis maka Han Han maupun
teman-temannya dapat membedakan itu.
Benar, ini pelajaran yang baik. Tapi bagaimana
kelanjutannya? Kakek itu tampaknya baru setengah bicara.
"Kami mulai paham," Han Han berkata lagi, kini tiba-tiba
semakin tertarik. "Tapi bagaimana selanjutnya, Sian-su.
Mohon kau menjelaskan lagi dengan contoh Giam Liong."
"Ha-ha, pemuda itu harus menetralisir ke-aku-annya.
Lihatlah bahwa 'ku-ku' yang dipunyai ini hanyalah bersifat
lahiriah, semu. Lalu kalau sudah lihatlah jauh ke belakang
bagaimana ayah ataupun kakeknya dibunuh musuh. Pertikaian
atau permusuhan antar golongan memang begitu. Di manamana
resikonya sama, sewaktu-waktu diancam kematian.
Kalau tidak mau menderita ya harus pandai-pandai menjaga
diri, atau nanti seperti ayah yang kehilangan anaknya itu,
tewas tergigit ular berbisa karena tak melindungi rumahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan pagar dan celakanya lengah menjaga putera sendiri
bermain-main di rawa!"
"Hm, begitukah?"
"Ya, begitu, sederhana sekali. Kalau tak ingin digigit ular
berbisa ya jangan mendirikan rumah di tepi rawa, yang sudah
jelas banyak ularnya. Ataupun kalau terpaksa mendirikan
rumah di situ ya haruslah diberi pagar dan diusahakan
sedemikian rupa agar tidak dimasuki ular. T api kalau ini semua
sudah dilakukan sang ayah tetap juga teledor menjaga
anaknya ya jangan lalu mengamuk dan dendam kepada ular
itu. Kita harus mengerti ini, tak perlu dipelajari. Sama seperti
halnya rumah yang terlalu dekat dengan telaga itu. Kalau
telaga sewaktu-waktu meluap dan rumahnya kebanjiran ya
jangan mengeluh. Itu resikonya. Kalau tak mau ambil resiko
ya jangan dekat-dekat telaga atau sungai yang bisa
menimbulkan bahaya, ha-ha!"
Han Han kagum. Ia tersenyum dan akhirnya tertawa juga
ketika kakek itu menuding sebuah tempat tinggal anggauta
Hek-yan-pang yang terlalu dekat telaga. Kakek ini seakan
berseloroh, meskipun sebenarnya kata-katanya amatlah tepat
dan tajam, penuh mengandung pengertian yang dalam. Dan
ketika ia mengangguk-angguk sementara temannya yang lain
juga sependapat dan sepengertian maka ia me lihat kakek itu
tiba-tiba bangkit berdiri.
"Maaf, perahu akan terbalik.... prat!" gelombang telaga
tiba-tiba menderu, perahu miring dan sekonyong-konyong Yu
Yin maupun Tang Siu menjerit. Begitu kakek itu berdiri tibatiba
perahu miring, seakan kehilangan keseimbangan. Dan
baru saja kakek itu selesai bicara tiba-tiba perahu terbalik dan
empat anak muda itu terguling.
"Byuurrr...!"
Han Han dan teman-temannya tercebur. Entah bagaimana
asal mulanya tiba-tiba mereka semua gelagapan. Tadi mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
begitu asyik hingga tak tahu bahwa terjadi perobahan angin.
Hanya karena kakek itu berada di tengah maka perahu tetap
seimbang, padahal ombak mulai membuih diterpa angin dingin
yang kuat. Malam menjelang pagi dan perubahan udara inilah
yang membuat riak telaga juga berubah. Empat anak muda itu
tak tahu dan tiba-tiba terguling. Tapi ketika Han Han
menyambar Tang Siu dan Giam Liong juga menyambar Yu Yin,
dua pemuda itu menendang perahu agar berdiri lagi maka Bubeng
Sian-su terkekeh-kekeh di tengah lagi, melihat dua
pemuda ini me lompat dan melayang naik dari dalam telaga.
Pakaian mereka tentu saja basah kuyup!
"Ha-ha, inilah resikonya tinggal di perahu, anak-anak.
Sewaktu-waktu dapat terbalik kalau diserang ombak. Hidup
memang selalu begini. Kepanasan kalau di gurun tapi
kedinginan kalau di laut. Ah, pelajaran apa yang kalian dapat!"
Han Han terbelalak. "Sian-su... Sian-su tak basah?"
"Aku telah waspada dibanding kalian, me lompat ketika
perahu tadi terbalik. Kalian kurang cepat dan keburu
terlempar."
"Hm!" putera Ju-taihiap ini berputar matanya, aneh,
merasa ganjil. "Agaknya ada lagi pelajaran yang harus kami
cari, Sian-su. Entah apa itu!"
"Ha-ha, pelajaran ada di mana-mana. Cari dan temukan itu.
Kalau kalian mengerti tentu kalian semakin cerdas. Barangkali
omong-omong ini cukup...."
"Eh, nanti dulu!" Han Han berseru, kakek itu mau
berkelebat. "Masih ada yang belum selesai, Sian-su.
Bagaimana dengan bait kedua dan ketiga!"
"Hm, itu? Gampang saja, satu di antara yang bermusuhan
akan menjadi periuk atau gentanya. Yang lebih kuat menimpa
dan menghancurkan yang lain."
"Maksud Sian-su?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ha-ha, memupuk kebencian sama halnya menyimpan
racun di periuk atau genta, anak muda. Yang kecil akan
ditimpa yang besar dan yang kuat akan menghancurkan yang
lemah!"
"Kami tak jelas..."
"Kelak akan lebih jelas lagi. Yang jelas anak muda ini sudah
menjadi genta namun mungkin kelak dia menjadi periuknya.
Ha-ha, dendam kesumat itu harus kalian hindari saja. Ingat
akan semua nasihatku tadi. Dan tentang bait ketiga, ah,
apalagi yang harus dilakukan temanmu kecuali pasrah dan
menebus dosa? Api dan dendamnya telah mengecil, anak
muda. Tapi tidak padam. Dan kalau dia tidak membuang
racun itu maka lingkaran setan akan membelitnya lagi dan
akan dibalas atau membalas!"
"Kami masih belum mengerti...."
"Ah, lihatlah perumpamaan dengan keluarga di tepi rawa
itu. Kalau sudah tahu banyak ular lebih baik menyingkir. Kalau
tetap ingin tinggal maka hati-hatilah dan pasanglah pagar.
Atau kalian akan menghadapi ular-ular lain dan tak habisnya
sepanjang hari mencari dan dicari musuh!"
"Jadi Giam Liong seperti ayah dari keluarga ini?"
"Kau cerdas. Dan beruntung bahwa ia sudah memutuskan
untuk pergi. Nah, pergilah dan jangan berhubungan dengan
kota raja lagi. Atau ular-ular lain akan berdatangan
mengganggunya dan karena itulah kunasihatkan agar cepatcepat
mengubur Golok Maut karena golok itu membawa
pengaruh jahat!"
"Dan aku.... aku boleh mendampinginya bukan, Sian-su?
Atau ada sesuatu yang khusus hendak kaupesankan?" Yu Y in
tiba-tiba berseru, bangkit berdiri.
"Hm, sudah kukatakan agar kau tetap memegang
sumpahmu, nona. Jangan pergi dan berhubungan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
istana lagi. Dan sebaiknya awasi suamimu untuk tidak melihat
atau mengambil lagi golok warisan ayahnya itu!"
Yu Yin mencengkeram erat kekasihnya. Giam Liong
gemetar dan menahan sesuatu golakan, matanya berkejapkejap.
Tapi ketika kakek itu menepuk pundaknya dan ia
tenang maka kakek ini berkata sekali lagi agar pemuda itu
melepaskan sisa-sisa
api kemarahannya
dan jangan
mendendam kepada siapapun, baik sekarang maupun kelak
kemudian hari. Dan ketika kakek itu berkata agar racun
dendam benar-benar dilenyapkan, apapun yang terjadi
pemuda itu harus tenang dan tabah menghadapi semuanya
maka kakek ini mengingatkan akan ego atau rasa ke-aku-an
itu.
"Ingat, tak ada hak milik. Yang ada hanya hak manfaat.
Ego atau aku hanya diperlukan untuk membedakan punyamu
dan
punyanya
orang
lain,
dalam
usaha
imenjaga
ketenteraman dan ketenangan da-jlam hidup kebersamaan.
Kalau ego atau aku sudah memasuki hal-hal yang bersifat
non-lahiriah, tidak proposionil, maka semuanya bakal kacau
dan untuk menghadapi lawanmu jangan dilandasi dendam atau
kebencian me lainkan hadapilah berdasarkan keadilan dan
cinta kasih. Barangkali kau agak pening tapi seirama dengan
kematangan jiwamu kau akan tahu ini. Nah, kembalilah dan
selamat tinggal!"
Empat anak muda itu terbelalak. Kakek itu mengebutkan
lengan bajunya dan tiba-tiba terdengar ledakan. Segumpal
asap putih pecah di udara dan bersamaan dengan itu kakek
itupun lenyap. Dan ketika cahaya berwarna-warni
menyilaukan mereka di langit yang berbintang, bulan dan
segalanya tiba-tiba menjauh mendadak Yu Yin dan Tang Siu
menjerit karena mereka terlempar membentur tembok. Dan
begitu dua gadis itu berteriak dan Han Han maupun Giam
Liong merasa diangkat oleh sesuatu yang kuat, mencelat dan
terlempar maka dua anak muda itu terkejut sekali karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka tiba-tiba jatuh dari pembaringan. Perahu dan
segalanya yang mereka rasakan di tengah telaga tadi hilang!
Hancur!
"Eihh!" Giam Liong terkejut dan terbelalak. "Apa yang
terjadi, Han Han. Mana kakek itu!"
"Benar, mana kakek itu. Mana Sian-su!" Han Han juga
bingung, terbelalak. "Dan kita, eh.... kita berada di kamar
sendiri, Giam Liong. Kita bermimpi!"
Dua pemuda ini menjublak. Mereka ternyata ada di kamar
sendiri dan bantal guling mereka jatuh di lantai. Serasa terjun
dari alam gaib saja dua pemuda ini me lotot. Mereka tak tahu
dan tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi ketika
di sana terdengar jeritan Tang Siu dan ayam jantan berkokok,
Giam Liong dan Han Han berkelebat menuju kamar gadis itu
maka terlihatlah bahwa Tang Siu maupun Yu Yin sama-sama
terjatuh dari tempat tidur dan bantal atau guling mereka juga
berantakan, ada di lantai.
"Kami..... kami bertemu Sian-su. Kami bermimpi. Mana
kakek itu....!"
"Benar," Yu Yin juga kebingungan dan tiba-tiba ngeri.
"Kami bercakap-cakap dengannya, Giam Liong. Dan kalian ada
pula di sana. Tapi bagaimana tahu-tahu kami ada di sini, di
kamar kami kembali!"
"Bersama kami?" Han Han terbelalak.
"Ya, bersama kalian, Han Han. Kita berempat berada di
perahu dan bercakap-cakap dengan kakek dewa itu. Kakek itu
bicara tentang aku dan dendam. Ia mengupas syairnya!"
"Hm...!" Han Han menoleh kepada Giam Liong. "Aneh
sekali, Giam Liong. Kita bermimpi tapi seolah tidak bermimpi.
Tapi kalau tidak bermimpi nyatanya kita seperti mimpi. Coba
kaujelaskan lagi apa yang terjadi!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertanyaan terakhir ini ditujukan kepada Tang Siu. Han Han
minta gadis itu menceritakan bagaimana Tang Siu bertemu
dan bicara dengan Sian-su, apa yang terjadi dan bagaimana
akhirnya. Dan ketika semua "mimpi" itu tepat sekali dengan apa
yang mereka lihat dan rasakan, bahwa Han Han maupun
Giam Liong juga sama-sama merasa berhadapan dan bicara
dengan kakek itu di tengah telaga, berempat dengan Tang Siu
dan Yu Yin maka empat anak muda ini saling pandang dan
muka mereka menunjukkan keheranan sekaligus ketakjuban.
Bulu tengkuk meremang!
"Aku melihat bulan dan bintang-bintang begitu dekat di
atas kepala kita, hanya belasan meter saja. Tapi ketika kakek
itu selesai bicara dan mengebutkan lengan bajunya tiba-tiba
terdengar ledakan dan kami semua terlempar ke mari!"
"Dan aku merasa ganjil bagaimana rumah dan tamantaman
di sini ada di atas perahu itu. Aneh sekali!"
"Tentu kita mimpi, sama-sama ke alam gaib!"
"Hm," Han Han menggeleng. "Kalau mimpi tak mungkin
pakaianmu basah kuyup, Tang Siu. Kita tidak sedang
bermimpi!"
"Benar," Giam Liong juga menggeleng. "Kita tidak sedang
bermimpi, Tang Siu. Lihat bahwa Y u Yin maupun Han Han dan
aku sendiri basah kuyup. Kita tadi tercebur di telaga!"
"Mentakjubkan... luar biasa. Kalau begitu apa namanya ini!"
"Aku juga tak tahu, tak mengerti. Tapi itulah kenangan kita
yang indah!"
Pada saat itu berkesiur dua bayangan tubuh. Empat anak
muda yang sedang bercakap-cakap dan merasa senang tapi
juga seram ini tak habis-habisnya merasa heran Seumur hidup
baru kali itulah mereka merasa sesuatu yang ganjil, aneh luar
biasa. Tapi begitu dua bayangan berkelebat di kamar mereka
dan Ju-taihiap suami isteri terkejut melihat sepasang muda-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
muda ini, mendengar ribut-ribut dan melihat pakaian mereka
yang basah kuyup maka kontan saja pendekar itu berseru,
"Eh, apa yang terjadi. Apa yang kalian perbincangkan. Dan
kenapa semuanya seakan habis mencebur di telaga!"
Han Han maju bicara. Dialah yang menyambut dan
memberitahukan ayah ibunya perihal keanehan yang mereka
alami ini. Ayam jantan kembali berkokok dan ternyata hari
telah terang tanah. Dan ketika suami isteri itu tertegun dan
seakan tak percaya, cerita anaknya ini seperti dongeng saja
maka muncullah Kim-sim Tojin yang juga berkelebat datang.
"Siancai, itulah Siau-hun-hwe-sing-sut (Ilmu Menembus
Badan Mengeluarkan Roh).. Aih, hanya kakek dewa seperti
Bu-beng Sian-su saja yang mampu melakukan itu. Kalian
beruntung, telah dibawa ke alam gaib!"
Beng Tan dan isterinya mengangguk-angguk. Akhirnya
mereka sendiri juga teringat peristiwa yang mereka alami dulu
betapa mereka juga seakan-akan dibawa terbang dan
menembus alam roh. Kini putera mereka dan tiga yang lain
juga meng alami hal serupa. Dan karena Beng Tan maklum
betapa kakek itu amatlah saktinya, apa saja dapat dilakukan
tanpa sesuatu yang sukar maka pendekar ini menarik napas
dalam-dalam dan diam-diam kecewa kenapa dia tidak
diikutsertakan.
"Hm, beruntung sekali. Luar biasa. Tapi kenapa kakek itu
hanya mengajak kalian berempat dan tidak bersama kamikami
ini."
"Entahlah," Han Han juga tak mengerti. "Tapi kami telah
mendapat pelajaran bagus dari wejangan kakek itu, ayah.
Sian-su mengupas tentang ego dan rasa milik!"
"Apa saja katanya," sang ayah bersinar-sinar. "Sayang
bahwa kami tak tahu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ego atau rasa ke-aku-an sering dipindah-pindahkan
tempatnya oleh manusia. Yang seharusnya hati dimasuki ego
dan ego sendiri merambah hampir ke segenap penjuru
permasalahan!" Han Han mencoba menerangkan.
"Wah-wah, apa ini. Coba yang urut!" Kim-sim Tojin
tertawa, berseru karena Han Han masih baru dan agaknya
bingung bagaimana harus mulai. Tapi ketika Tang Siu
membantu bahwa ego atau aku harus ditempatkan secara
proposionil, jangan memasuki urusan hati kalau hati yang
sedang bicara maka pemuda ini mengangguk-angguk.
"Ya-ya, begitu.... begitu. Ego atau aku telah begitu serakah
merambah ke tempat yang bukan tempatnya dan ia
menjungkirbalikkan manusia sehingga manusia jadi terjebak
dan terseret ke dalam nafsunya. Ego mengajarkan rasa milik,
sedangkan kita ini sesungguhnya tak punya hak milik!"
"Hm, hak milik? Tak punya? Lalu kalau begitu manusia
mempunyai hak apa?"
"Hak manfaat, suhu. Manusia hanya memiliki hak manfaat,
itu saja. Hak milik hanya dimiliki oleh Yang Maha Tunggal alias
Yang Mahakuasa. Semua rasa milik yang kita miliki adalah
semu, baik itu keluarga atau apapun saja!"
"Wah, aku jadi ingin mendengar. Coba kau ulang lagi!"
Kim-sim Tojin berseru.
"Dan hak milik atau rasa kemilikan menjerumuskan
manusia ke dalam permusuhan dan pertikaian. Mereka
terjebak oleh ke-aku-annya yang tinggi. Padahal manusia
sesungguhnya tak mempunyai apa-apa!"
"Ha-ha, ceritakan kepadaku, anak muda. Aih, sayang benar
pinto tak berhadapan sendiri dengan kakek itu. Wah, pinto
kecele!"
Han Han tersenyum. Ia dan Tang Siu lalu silih berganti
mengoper apa yang mereka dengar dari Bu-beng Sian-su. Yu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yin juga ikut menyambung dan hanya Giam Liong yang tidak
ikut bicara dan diam saja. Dan ketika semua orang duduk
mendengar dan tenggelam dalam keasyikan itu, Giam Liong
bergerak dan keluar secara diam-diam maka pemuda buntung
ini sudah duduk di tepi telaga tepekur memperhatikan tempat
di mana semalam ia seakan bermimpi bercakap-cakap dengan
kakek dewa itu di sana.
Air telaga beriak tenang dan Giam Liong menarik napas
dalam-dalam. Tempat di mana semalam mereka berbincang
dengan Bu-beng Sian-su ternyata biasa-biasa saja. Tempat itu
damai dan hening. Kecipak lembut dari riak telaga membawa
daun-daun kering yang hanyut secara berirama, naik turun
perlahan-lahan dan tampak-ada sesuatu benda putih terbawa
pula oleh riak telaga ini, melekat atau "nangkring" di sehelai
daun kering menuju ke arah Giam Liong. Dan karena Giam
Liong tertuju pandangannya ke sini dengan mata mengamati,
mula-mula kosong dan tak acuh mendadak ia kaget mengira
benda putih yang disangkanya sebagai sampah biasa itu
adalah sebuah surat!
Ia tertegun dan tak percaya. Benda putih di atas daun
kering yang terbawa riak telaga ini kian mendekat.... dekat
dan dekat dan..... Giam Liong akhirnya melompat dan
menyambar surat itu, kertas putih yang dilipat manis
sebagaimana layaknya sebuah surat yang baik, meskipun
sedikit basah. Dan ketika Giam Liong tertegun karena surat itu
diperintahkan untuk diserahkan kepada Yang Im Cinjin
ataupun Kim-sim Tojin, dua kakek lihai dari Kun-lun dan Laut
Selatan maka Giam Liong terkesima dan mengamati sampul
surat itu:
Berikan kepada Yang Im Cinjin ataupun Kim-sim Tojin.
Sian-su
Giam Liong bengong. Sekarang ia yang menjadi perantara
padahal beberapa hari yang lalu dua kakek itulah yang
mendapat surat dan disuruh menyerahkannya kepadanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Aneh sekali sepak terjang kakek ini, penuh rahasia. Tapi ketika
ia mau membalik dan kembali ke dalam ternyata berkelebat
bayangan-bayangan kakek itu dan te m an-temanny a.
"Giam Liong, apa yang kau pegang itu. Kenapa
menyendiri!"
"Hm," Giam Liong merasa kebetulan.
"Ada surat untuk Kim-sim totiang, Yu Yin. Aku mendapat ini
dari Sian-su."
"Surat?"
"Ya, silahkan totiang terima dan baru-saja kudapat!" Giam
Liong langsung memberikan itu kepada Kim-sim Tojin, kakek
ini sudah di depan dan langsung saja surat itu diterima. Dan
ketika ia terkejut tapi cepat membukanya, entah apa isinya
mendadak kakek ini tertawa bergelak.
"Ha-ha, syair lagi, anak-anak. Kelanjutan dari ini. Aih, aku
dan Yang Im Cinjin ditantang untuk menjawab debat kami
dulu. Ha-ha, kakek dewa itu luar biasa. Ia akan mengakhiri
pembicaraan yang belum lengkap. Ia akan bicara tentang
Kebenaran!"
"Kebenaran? Surat itu hanya terisi syair?" Tang Siu
terbelalak.
"Ya, lihat dan bacalah. Pantas Cinjin tak mau di sini karena
mungkin khawatir bertemu kakek itu. Atau mungkin ada
sebab-sebab lain. Ha-ha, kami telah menantang untuk bicara
tentang Kebenaran!"
Tang Siu menyambar dan membaca surat ini. Ternyata
isinya memang syair dan teman-temannya mendekat. Han
Han dan lain-lain menjadi penasaran dan merekapun
membaca. Dan ketika sebuah syair kembali terlihat tapi kali ini
lebih hebat, pening dan puyeng untuk mencerna isinya maka
Han Han menarik napas dalam-dalam dan mundur menarik
diri. Ia merasa tak dapat mengupas dan ayah ibunya juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
begitu. Syair untuk Giam Liong agak mudah tapi syair baru ini
lebih sukar. Penuh teka-teki, misterius. Namun ketika K im-sim
Tojin justeru berseri-seri dan penuh kegembiraan, teringat
perjumpaannya dulu dengan kakek dewa itu bersama guru
Han Han maka kakek ini berkata,
"Aku telah menantangnya untuk bicara tentang Kebenaran.
Dan kakek itu kini menjawab dengan syairnya. Hm, akan
kuberikan Cinjin dan kuberitahukan kepadanya. Kami tak mau
kalah!"
"Apa yang suhu lakukan?"
"Kami orang-orang tua menantangnya berdebat, Tang Siu.
Dan Bu-beng Sian-su menjawabnya. Ha-ha, pinto ingin
bertemu dengannya dan mengupas rahasia ini. Siapa yang
menang!"
Ju-taihiap bersinar-sinar. Ia telah membaca dan mengingatingat
isi syair itu. Ia juga ingin mengupas. Tapi ketika Kim-sim
Tojin memandang kepada muridnya dan lalu kepadanya maka
kakek itu berseru,
"Taihiap, pinto kecele menunggu Bu-beng Sian-su. Kakek
itu telah menemui anak-anak dan rupanya sengaja tak mau
diganggu. Tentu sekarang pinto harus pulang dan biarlah
urusan
anak-anak
pinto
tunggu
kelanjutannya
dari
kebijaksanaanmu. Pinto harus kembali dan biarlah sekarang
juga pinto pergi!"
"Eh, totiang terburu-buru?"
"Ha-ha, tak ada lagi yang dinanti, taihiap. Muridku kubawa
dan biarlah sekalian Yu Yin juga ikut pinto. Kau datanglah ke
Kun-lun dan pinto menjadi wali bagi gadis-gadis ini menerima
pinanganmu di sana. Mereka akan kusiapkan untuk dua
pemuda itu kalau kau sudah datang!"
Yu Yin terkejut. Ia tiba-tiba merasa girang tapi juga tak
enak berpisah dengan Giam Liong. Mereka berdua ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hendak "dipingit" dulu sambil menantikan lamaran itu, jadi
kakek ini langsung menjadi walinya. Dan ketika ia mendapat
cubitan Tang Siu dan tahulah ia bahwa temannya inilah yang
mengatur semuanya itu, Y u Yin terharu dan terisak mengucap
terima kasih maka Beng Tan mengangguk-angguk dan
tertawa berkata,
"Baiklah, totiang. Aku akan mengurus pernikahan dua anak
muda ini secepatnya. Terima kasih bahwa kau mau menjadi
wali Y u Yin. Dan aku tentu saja akan mewakili putera-puteraku
ini menjodohkan mereka. Pergilah, selamat jalan....!"
Kakek itu tertawa bergelak. Yu Yin dan Tang Siu telah
disambar dan belum habis dua gadis itu melambaikan tangan
tahu-tahu sudah diangkat dan diajak terbang ke perahu. Anakanak
murid Hek-yan pang bermunculan dan saat itu semua
memandang, terbelalak dan tertegun melihat kakek ini sudah
mengayuh perahunya dengan cepat meninggalkan pulau. Dan
ketika ia juga melompat dan mengajak dua gadis itu
mendarat, mereka telah tiba di seberang maka si kakek seolah
tak mau tahu ketika dua gadis ini menoleh dan berteriak ke
belakang,
"Giam Liong, kutunggu kau!"
"Han Han, cepat datang ke Kun-lun...!"
Dua pemuda di seberang melambaikan tangan. Han Han
dan Giam Liong tentu saja membalas, Han Han tampak
gembira dan berseri-seri. Tapi ketika Giam Liong menunduk
dan tampak kesedihannya, entah apa yang dipikir maka Beng
Tan menjawil isterinya untuk mengajak dua pemuda itu ke
dalam. Urusan telah selesai dan pagi itu burung-burung
berkicau riang. Seperti biasanya air telagapun berdesir lebih
kuat ketika berhembus angin segar. Suami isteri ini menghibur
Giam Liong untuk tidak bersedih. Mereka berjanji bahwa
seminggu lagi pinangan itu disampaikan. Dan ketika benar
saja seminggu kemudian mereka ke Kun-lun dan sebulan
setelah itu pesta pernikahan dilangsungkan, dua muda-mudi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini berkumpul kembali maka beberapa hari setelah itu Giam
Liong minta pamit.
Si buntung ini tak mau tinggal di situ karena ia akan ke
Lembah Iblis. Golok Maut akan dikubur dan di sanalah
tempatnya semula. Dan karena pemuda itu tak mungkin
dicegah dan pasangan muda ini meminta diri, Tang Siu dan Yu
Yin bertangis-tangisan maka mereka saling lepas dengan
keharuan yang besar.
"Kami akan merantau, mencari tempat tinggal baru. Kelak
kami akan berkunjung ke sini lagi jika sudah menemukan
tempat itu."
"Baik, pergilah, Giam Liong. Dan ingat, kalian berdua tak
ubahnya putera-putera kami sendiri. Jangan lupakan kami,
orang-orang tuamu ini."
Giam Liong memeluk pendekar itu. Air matanya basah dan
pemuda ini berbisik menyatakan maaf. Dan ketika ia
melepaskan orang tua ini dan Han Han ganti memeluknya,
dua pemuda yang pernah bertanding hebat itu kini tampak
bercucuran air mata maka Han Han mengingatkan agar Giam
Liong datang dan tidur lagi sekamar, sepembaringan.
"Tempat tidur itu tak akan kuperbolehkan dipakai s iapapun,
bahkan isteriku sendiri. Datang dan tengoklah aku, Giam
Liong. Aku ingin merasakan kehangatan dan hubungan cinta
kasih persaudaraan ini. Hati-hati dan buanglah semua
keganasanmu dulu."
Giam Liong mengangguk, la melepaskan diri dan sekali lagi
menguatkan hati. Yu Yin tersedu-sedu dan semua anak murid
bengong. Dan ketika pemuda itu membalik dan menjejakkan
kakinya kuat-kuat maka si buntung inipun sudah menyambar
isterinya dan jerit atau panggilan di tepi telaga hanya dibalas
lambaian tangan. Lalu begitu keduanya lenyap meluncur
keluar hutan maka Ju-taihiap dan lain-lain mengusap air mata
mereka. Tang Siu terhuyung dan pingsan di pelukan Han Han!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
TAMAT
Triyagan, 06-12-89
-ooo0dw0ooo

Related Posts:

np 13

Pasukan kalang-kabut. Majunya Giam Liong tak dapat
dicegah, juga pasukan Chu-goanswe yang terus menerjang
dan menyerbu. Kaum pejuang ini bagai angin taufan yang
mengamuk, menghantam atau menggilas apa saja yang di
depan. Tapi ketika Giam Liong sudah mendekati istana dan
Chu-goanswe
dan
pasukannya
bersorak-riuh,
gegap
menggetarkan istana maka tiga bayangan berkelebat dan
limaribu orang mencegat jalan. Istana dikepung rapat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan biarkan pemuda itu masuk. Serang, lepaskan
panah-panah berapi!"
Hujan panah berapi tiba-tiba menghambur. Giam Liong,
yang menghadapi berlapis penjagaan tebal terbelalak di sini.
Ia telah membunuh ratusan orang dan pakaiannyapun penuh
darah. Bahkan wajah dan lengan atau kakinya juga penuh
bercak-bercak darah segar. Ia tak mirip manusia lagi
melainkan iblis, iblis yang haus darah. Dan ketika berulangulang
ia melengking mencari Kedok Hitam, lawan tak keluar
juga maka di depan istana itu ia menghadapi limaribu orang
yang mengepung ketat. Namun pemuda ini tak gentar. Hujan
panah dibiarkannya saja, golok bergerak dan terus
menyongsong ke depan. Panah patah-patah tapi api yang ada
di ujung mengenai bajunya, berkobar dan Giam Liong
mengeluarkan pekik dahsyat di mana getaran suaranya
membuat pasukan yang ada. di depan roboh. Mereka menjerit
tak kuasa menahan getaran suara dahsyat itu. Giam Liong
mengerahkan Sai-cu Ho-kangnya, ilmu memekik yang
membuat gunungpun bisa roboh, berguguran. Dan ketika
pemuda ini berkelebat ke depan dan memadamkan api yang
berkobar di pakaiannya, menyambar dan melemparkan
kembali panah-panah berapi ke arah lawan maka limaribu
pasukan berteriak karena ganti terbakar.
"Aduh, pakaianku kena!"
"Tolong, rambutku terbakar..!"
Pasukan menjadi ribut. Alih-alih mau mencelakai Giam
Liong tak tahunya mereka sendiri yang berbalik menjadi
korban. Ratusan panah disambitkan kembali dan ratusan
hujan api menyambar orang-orang itu. Giam Liong tidak hanya
melempar lawan-lawannya saja melainkan melontar dahsyat
panah-panah berapi ke atap istana. Tenaganya sungguh
mengagumkan karena panah-panah berapi itu melesat jauh
melewati limaribu orang, jatuh dan menim pa untuk akhirnya
membakar istana. Dan ketika kebakaran melanda tempat itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan istana menjadi ajang permainan api, Giam Liong berbalik
mengacaukan mereka maka ribuan orang geger dan bingung
karena harus pula menyelamatkan istana, memadamkan api.
"Hei, gedung sebelah barat terbakar. Hei, padamkan itu
dan ambil air!"
"Tidak, gedung sebelah kiri juga dimakan api. Lihat,
gudang ransum kebakaran!"
"Dan dapur istana juga. Ah, balairung juga kena. Awas....
awas.... jangan lempar panah-panah berapi lagi. Serang
pemuda itu dengan tombak atau senjata-senjata panjang!"
Semua gugup. Giam Liong sungguh gagah perkasa di
depan ribuan orang itu. Ia berulang-ulang mengebut bajunya
kalau tersambar panah-panah api. Tapi karena lawan terus
menyerangnya hingga tak mungkin menyelamatkan baju,
Giam Liong merobek dan membuang bajunya itu maka sambil
bertelanjang dada pemuda ini mengamuk dan menerjang ke
depan, sebelumnya ia sudah mencebur ke kolam agar se luruh
tubuhnya basah kuyup. Api tak lagi dapat membakar
celananya.
"Kedok Hitam, keluarlah kau. Keluar atau nanti kubunuh
semua orang-orangmu ini!"
Semua mata terbelalak. Giam Liong bertelanjang dada
menerjang ke depan, golok tetap bergerak dan duapuluh
orang berteriak ngeri. Mereka terlempar dan tumbang oleh
sabetan goloknya yang gilang-gem ilang, tak pernah basah
oleh darah karena setiap terciprat tentu golok itu sudah
menghisapnya kering. Semakin sering semakin bercahaya.
Dan karena pemuda itu berulang-ulang memanggil Kedok
Hitam dan pasukan di depan roboh tersapu, tak ada satupun
yang kuat akhirnya, tiga bayangan yang tadi bergerak di
belakang sekarang tiba-tiba maju.
"Giam Liong, inilah aku. Hentikan sepak terjangmu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Giam Liong beringas. Ia membuat mundur limaribu orang
itu, seperlima di antaranya sudah luka-luka atau tewas. Dan
ketika bentakan itu menyuruh Giam Liong berhenti dan
pasukan dipakai menyambut Chu-goanswe maka Kedok Hitam
dan Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat sudah berhadapan
dengan pemuda yang kesetanan ini.
"Bagus" Giam Liong bagai mendapat makanan segar.
"Untung kau datang, Kedok Hitam. Kalau tidak tentu
pasukanmu kubantai dan kuhancurkan. Majulah, dan kita
selesaikan hutang jiwa ini. Mana Yu Yin!"
"Hm, tak usah kau bertanya tentang dia. Gara-gara bergaul
denganmu maka dia menjadi rusak. Terimalah, kau harus
menebus dosamu!" Kedok Hitam mengeluarkan sesuatu, juga
sebatang golok tapi Giam Liong cepat menangkis. Dan. ketika
golok bertemu golok tapi golok di tangan laki-laki itu putus,
kutung ujungnya maka Giam Liong tertawa dan berkelebat
membalas lawannya itu, menyeramkan.
"Singgg...!"
Golok Penghisap Darah luput. Kedok Hitam tahu diri dan
mengelak mundur, dikejar namun Pat-jiu Sian-ong maupun
Lam-ciat bergerak, tentu saja tak membiarkan Giam Liong
menyerang temannya. Dan ketika dua pukulan dilepas
menghantam Giam Liong, dari kiri dan kanan maka Giam
Liong membalik dan membabatkan goloknya itu.
"Wherrr...!"
Dua
orang
ini
tahu
bahaya.
Lam-ciat
langsung
mengeluarkan Hoan-eng-sutnya dan langsung menghilang
sementara Pat-jiu Sian-ong me lempar tubuh menjauhi sinar
maut itu. Golok Maut lagi-lagi mengenai tempat kosong. Tapi
ketika Giam Liong sudah mendapat serangan dari Kedok Hitam
dan selanjutnya Lam-ciat muncul lagi me lepas pukulannya,
disusul Pat-jiu Sian-ong yang juga mainkan ilmu silat Dewa
Lengan Delapan (Pat-sian Sin-kun) maka Giam Liong bergerak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan berkelebatan mengelak dan membalas. Kedok Hitam
mengejar namun ia ganti mengelak kalau Golok Maut bicara,
desing atau sambaran angin .golok itu cukup merontokkan
daun-daun di sekitar. Dan ketika tiga orang itu sudah
mengeroyok sementara pasukan kerajaan bertemu dan
bertempur dengan pasukan Chu-goanswe maka sorak dan
bentakan silih berganti meramaikan keadaan. Giam Liong tak
mau main-main lagi sementara Chu-goanswe dan pasukannya
juga bertempur dengan penuh semangat.
Maklumlah, di situ ada Si Naga Pembunuh yang dahsyat,
belum lagi gadis baju putih yang tadi juga membantu mereka
membobol kepungan. Dan ketika semua ini merupakan modal
yang amat besar bagi mereka, limaribu pasukan kerajaan
bekerja keras menahan gelombang gempuran maka Tang Siu
atau gadis baju putih memisahkan diri dari Giam Liong
maupun Chu-goanswe. Dia hendak mencari Yu Yin dan itulah
tujuan
satu-satunya.
Urusan
pertandingan
bukanlah
urusannya dan biarlah diselesaikan masing-masing pihak. Dan
ketika Giam Liong di sana mengamuk dan menghadapi
keroyokan lawan, Kedok Hitam juga mulai mengeluarkan
senjata-senjata rahasia untuk merobohkan Giam Liong, juga
Lam-ciat yang memuntahkan jarum-jarum halus untuk
membunuh pemuda ini maka Tang Siu berkelebat dan
langsung ke tempat di mana semalam dia berpisah dengan Y u
Yin, yakni di kamar pribadi Kedok Hitam di belakang gedung
Coa-ongya.
Ternyata semua tempat penuh penjagaan. Hampir di empat
sudut penjuru istana penuh perajurit, termasuk di gedung
Coa-ongya ini. Dan ketika Tang Siu harus merobohkan dulu
seorang pengawal untuk diambil pakaiannya, menyamar
sebagai pengawal maka barulah dia agak bebas mendekati
gedung Coa-ongya itu. Ia harus berhati-hati dan untung
semua mata sedang tegang menyambut musuh, tak melihat
gerak-gerik atau curiga kepada pengawal gadungan ini. Dan
ketika setapak demi setapak ia berhasil melewati belakang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gedung, melompat dan masuk ke pagar kawat berduri maka
gadis ini tertegun karena ada belasan pengawal berjaga.
Palang pintu kamar tampak tertutup rapat.
"Kasihan Coa-siocia," begitu Tang Siu mendengar sebuah
percakapan. "Kalau saja ia tak melawan gurunya tentu tak
akan ditawan di dalam. Eh, bagaimana pendapatmu tentang
gadis ini, Sam-twako. Apakah belum waktunya diberi makan!"
"Hm, urusan itu ditangani sendiri oleh gurunya. Kita hanya
diperintahkan berjaga. Kalau kita me langgar jangan-jangan
kita kena damprat!"
"Tapi gadis ini merintih sepanjang malam. Aku iba..."
"Aku juga begitu, tapi bagaimana lagi. Eh, siapa ini, Keng
Ke... ada orang suruhan rupanya?" sang pemimpin berhenti
bicara, Tang Siu telah tiba di situ dan kehadirannya yang tibatiba
amat mengejutkan yang menjaga. Gadis itu mengenakan
pakaian pengawal dan disangka pengawal. Tapi begitu Tang
Siu mendekat dan semua tertegun, kaget bagaimana ada
pengawal datang tanpa diketahui maka Tang Siu berputar dan
sekali tumitnya bicara tujuh orangpun terpelanting.
"Aku datang untuk membebaskan puteri Coa-ongya. Kalian
semua minggir.... des-des-dess!"
Yang lain berteriak. Tang Siu telah merobohkan tujuh
teman mereka tapi gadis ini juga tak mau membuang tempo.
Begitu ia berkelebat dan melihat yang lain mencabut senjata
sekonyong-konyong ia membentak, lenyap ke depan dan
berturut-turut duabelas orang itu ditendangnya mencelat. Dan
ketika semua terlempar dan gadis ini lega, tak satupun yang
dapat berdiri maka ia mencabut pedangnya dan sekali bacok
palang pintu itu dipatahkannya, pintu ditendang terbuka.
"Yu Yin!"
Tang Siu tertegun. Yu Yin, sahabatnya, terikat di s itu. Gadis
ini robek-robek pakaiannya dan nyaris telanjang, terisak dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengguguk ditahan tak mau didengar tangisnya oleh
pengawal. Tapi begitu Tang Siu datang dan pintu kamar
terbuka, sembilanbelas pengawal roboh malang-melintang
maka gadis ini menjerit namun tiba-tiba tersedu ketika Tang
Siu melompat dan membebaskan ikatannya.
"Tidak... tidak. Aku sudah kotor, Tang Siu. Aku barangkali
sudah kotor. Guruku, ia... ia menghina aku!"
"Menghina bagaimana, apa yang terjadi," gadis ini terkejut,
membelalakkan mata. "Gurumu sekarang sudah berhadapan
dengan Giam Liong, Yu Yin. Dan mari keluar dari tempat ini.
Kita harus menyelamatkan diri!"
"Aku tak mau. Aku ingin bertemu ayah!"
"Hm, untuk apa?" Tang Siu semakin terkejut, temannya ini
berteriak-teriak, histeris. "Tempat ini berbahaya, Yu Yin. Kita
harus secepatnya keluar”
“Tidak…tidak. Aku ingin secepatnya menghadap ayah. Aku
ingin melaporkan perbuatan guruku yang tidak tahu malu!"
“Apa yang ia lakukan? Kau diapakan ?”
“Aku… aku oohhh!" Yu Yin mengguguk. “Aku.. hendak
diperkosanya, Tang Siu. Entah sudah atau belum. Aku... aku
ingin menghadap ayah. Aku akan melaporkannya”
Tang Siu terkejut. "Diperkosa?"
Yu Y in tak menjawab. Gadis ini mengguguk dan menubruk
temannya dan tiba-tiba menangis sejadinya di situ. Kejadian
semalam membuat shock berat dan puteri Coa-ongya ini
nyaris pingsan. Ia berkali-kali menerima pukulan batin itu
setiap teringat perbuatan gurunya. Betapa dengan enak, dan
tak tahu malu memegang-megang semua tubuhnya untuk
mencari Golok Maut, padahal tak mungkin golok itu
disembunyikan di pakaian dalam. Kalaupun tersembunyi tentu
ada bagian-bagian lain yang menonjol, padahal gurunya sudah
tahu bahwa ia tak membawa golok itu. Dan ketika gadis ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terpukul dan menderita stress berat, perlakuan gurunya
sungguh menghina maka Tang Siu tertegun dan hampir tak
percaya mendengar ini. Tapi ia melihat pakaian Yu Yin yang
robek-robek, terus memandang ke bawah dan gadis Kun-lun
ini berdesir melihat celana Yu Yin yang terkuak. Adakah
malapetaka itu terjadi? Adakah aib itu benar-benar menimpa
temannya? Tapi ketika Tang Siu tak melihat bekas-bekas
mencurigakan dan ia agak tenang maka ia memeluk dan
gemetar menghibur temannya ini. Tak nyana bahwa Kedok
Hitam sungguh keji.
"Yu Yin, kau boleh mencari ayahmu. Tapi apakah hal itu
tepat. Bukankah sekarang ini sedang terjadi pertempuran di
luar."
"Aku tak perduli. Aku akan melapor kepada ayah! Akan
kuberitahukan sepak terjang guruku itu, Tang Siu. Biar ayah
memecatnya dan menghukumnya. Suhu sungguh terlalu!"
"Baiklah," gadis
ini tak melihat jalan lain. "Aku
mengantarmu, Yu Yin. Mari pergi dan kita cari ayahmu itu!"
"Kau ikut?"
“Tentu saja, aku harus menjaga keselamatan mu”
"Ohh" dan Yu Yin mendekap dan memeluk sahabatnya ini
lalu berguncang-guncang mengucap terima kasih. Belum
pernah ada seorang sahabat yang demikian hebat
pertolongannya. Belum ada seorang sahabat yang siap
mempertaruhkan nyawa dan keselamatan diri sendiri untuknya
Dan ketika Yu Yin tersedak dan berulang-ulang mengucap
terima kasih, Tang Siu terharu dan mereka saling cium maka
Tang siu tak mau lama-lama lagi di situ, mengajak temannya.
“Sudahlah, kita berangkat, Yu Yin. Di luar ada perang dan
kerusuhan. Kota raja guncang. Giam Liong mengamuk'"
"Baik, terima kasih, Tang Siu. Seumur hidup akt tak akan
melupakan budi baikmu ini”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ah, itu tak usah dibesar-besarkan. Ayo keluar dan cari
ayahmu!" gadis ini tak mau bicara tentang budi, menyendal
dan membawa temannya keluar tapi Yu Yin teringat
pakaiannya yang robek-robek. Berseru agar perlahan dulu dan
menyambar pakaian seorang pengawal, mengenakannya
dengan tergesa dan baru melanjutkan perjalanan lagi. Dan
ketika mereka masuk keluar gedung itu, menyelidiki kamarkamar
dan beberapa dayang atau pelayan menjerit, roboh
ditotok dua orang ini maka Yu Yin sampai pada kamar utama
ayahnya, di mana biasanya ayahnya berada.
"Tunggu, kau di luar saja. Aku masuk sendirian!"
Tang Siu mengangguk. Beberapa pengawal yang
memergoki mereka juga mereka robohkan. Yu Yin mencari
tempat-tempat sepi hingga tak banyak mereka menemui
pengawal. Gadis itu tahu tempat itu karena itulah tempat
tinggalnya sendiri. Dan ketika Tang Siu berjaga dan waspada
di pintu depan, Yu Yin mendorong dan berkelebat memasuki
kamar ayahnya maka gadis ini tertegun karena kamar itu
kosong.
"Di mana ayah.." gadis ini bergerak ke kiri, membuka
sebuah pintu kecil namun ayahnya juga tak ada. Dan ketika ia
bergerak ke kanan membuka pintu yang lain, pintu yang
menuju ke taman maka gadius itu tertegun karena empat
saputangan hitam bergelantungan di situ dikisi-kisi bambu di
antara tanaman anggrek.
“Milik Suhu….” gadis ini tertegun. Yu Yin tiba-tiba terkejut
karena segera dia mengira suhunya baru saja bertemu dengan
ayahnya, lupa atau mungkin ketinggalan kedok hitamnya itu.
Ia tentu saja mengenal saputangan hitam milik gurunya itu
saputangan yang berciri khusus dengan dua lubang
membentuk segi tiga di sudut mata. Itulah milik gurunya. Dan
kaget tapi bagaimana suhunya sampai sejauh itu memasuki
kamar pribadi ayahnya, hal ini menunjukkan keluarbiasaan
maka Yu Yin menutup Pintu lagi me loncat keluar. Ia tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menemukan ayahnya dan bingung menentukan di mana
ayahnya berada. Dan ketika ia berkelebat dan bertemu lagi
dengan temannya, Tang Siu masih berjaga di s itu maka Yu Yin
menggeleng menyatakan tak berhasil.
“Tak ada, barangkali di tempat kaisar…”
"Kau mau ke sana?"
"Tidak, percuma, Tang Siu. Dan lagi amat berbahaya,
terutama untukmu. Di kamar kaisar banyak terdapat jebakanjebakan
rahasia yang tak kukenal. Kalau aku tertangkap tentu
tidak apa-apa, tapi kalau kau... ah, tentu bahaya. Tidak,
kupikir kita keluar saja, Tang Siu. Aku barangkali ingin
membantu Giam Liong melawan guruku itu. Kita ke sana!"
"Ayahmu benar-benar tak ada di sini?"
"Kosong, tak apa nanti saja kembali atau waktu yang lain.
Mari, sekarang kita keluar, Tang Siu. Tapi tetap hati-hati
terhadap serangan-serangan gelap!"
"Baik, mari Yu Yin, aku juga ingin tahu bagaimana Giam
Liong menghadapi gurumu!"
Dua gadis itu berkelebat. Yu Yin akhirnya tak mencari lagi
ayahnya. Mereka bergerak dan membaur dengan pengawalpengawal.
Untung, karena di luar sedang terjadi kekacauan
dengan serbuan Chu-goanswe maka Yu Y in maupun T ang Siu
pandai menempatkan diri. Mereka bergerak dan hati-hati
sekali memasuki pertempuran. Dan karena mereka sekarang
keluar gedung tidak memasukinya, hal yarig tidak
mencurigakan pengawal maka justeru dua orang ini dapat
dengan mudah menyusup di antara pasukan kerajaan. Tapi
begitu mereka masuk begitu pula mereka kaget. Teriakan dan
jerit pengawal terdengar di sana-sini, sementara derap
pasukan berkuda Chu-goanswe terdengar menyeramkan
disertai bentakan-bentakannva vang ramai. Pasukan pejuang
adalah pasukan yang bercampur dengan orang-orang
persilatan, jadi tentu saja mereka itu memiliki ketrampilan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebih dibanding pasukan kerajaan. Dan karena kaum pejuang
bertempur dengan penuh semangat dan gagah berani, karena
di sana ada Giam Liong yang menghadapi Kedok Hitam tokoh
istana paling lihai maka Pat-jiu Sian-ong yang dikatakan
membantu Kedok Hitam ternyata tewas dan roboh.
"Hidup Sin-siauwhiap. Hidup Si Naga Pembunuh. Sikat dua
sisanya itu!"
Sorak dan pekik riuh memecah di antara pertempuran itu.
Yu Yin dan T ang Siu menoleh namun mereka tertutup ribuan
orang, yang sedang mengadu jiwa, terhalang pandangannya.
Tapi ketika mereka bertanya apa yang telah terjadi, pusat
sorak-sorai itu menarik perhatian maka sekali lagi mereka
mendengar kabar tentang tewasnya Pat-jiu Sian-ong.
"Kakek gundul itu roboh. Kepalanya mencelat dibabat Golok
Maut. Pemuda itu mengerikan!"
"Bagaimana dengan Kedok Hitam dan temannya?"
"Ah," mereka terdesak. “Hantu Selatan berkali-kali
menyelamatkan diri dengan ilmunya menghilang itu!"
"Hm, coba kita ke sana," Y u Yin mendorong dan bergerak
dengan susah ribuan pasukan yang memagari istana. "Kita
lihat keadaan mereka, Tang Siu. Dan bagaimana dengan Giam
Liong!"
"Heii..!" pengawal itu berteriak. "Jangan mencari penyakit,
kawan. Mundur dan sebaiknya menjauh!"
Namun dua gadis itu tentu saja mendengus. Mereka tetap
maju dan perajurit yang diajak bicara ini bengong. Namun
ketika ia memperhatikan dan melihat ujung rambut di balik
topi, tertegun dan kaget maka sadarlah dia bahwa itu kiranya
dua pengawal gadungan. Puteri Coa-ongya dan sahabatnya
itu.
"Hei... heii... itu mereka. Tangkap! Itu mereka!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perajurit yang lain menoleh. "Siapa yang mau ditangkap?
Kau menunjuk siapa?”
“Itu... itu gadis baju putih itu dan Coa-socia dia lolos
menyamar seperti kita”
"Hm, kita sedang menghadapi serbuan pemberontak.
Nyawa kita sedang terancam. jangan berteriak-teriak dan
biarkan saja!"
"Apa?"
"Memangnya kau mampu menangkap dua orang itu? Eh,
menyelamatkan sendiri nyawa kita belum mampu, kawan,
boro-boro dua gadis itu. Biarkan saja dan nanti dicari. Lihat
dan dengar bahwa Si Naga Pembunuh telah membunuh Patjiu
Sian-ong!"
Perajurit itu sadar. Akhirnya ia pucat karena kata-kata
temannva benar. Keadaan sedang kacau, diri sendiri sewaktuwaktu
siap terancam maut. Dan mengangguk menghadapi
serbuan pemberontak, membalik dan mengurusi diri sendiri
akhirnya perajurit ini menganggap benar. Dia akhirnya tak
perduli lagi kepada dua pengawal gadungan itu. Suasana
sedang kalut dan penuh maut. Dan ketika ia menahan
gelombang serbuan lawan sementara Yu Yin dan Tang Siu
mendesak maju ke depan, mereka ingin melihat pertandingan
di sana maka Giam Liong ternyata benar telah merobohkan
dan membunuh Pat-jiu Sian-ong.
Kakek gundul itu orang pertama dari tiga orang ini yang
menjadi korban. Giam Liong mainkan Im-kan-to-hoatnya di
samping pukulan-pukulan Kim-kang-ciang, pukulan sinar emas
yang amat dahsyat tak kalah dengan sambaran Golok Maut itu
sendiri. Dan ketika Giam Liong mengeluarkan pula ilmu
seratus langkah saktinya, Pek-poh-sin-kun untuk mengejar
atau mem buru ke manapun tiga lawannya pergi maka
menghadapi Pek-poh-sin-kun ini Kedok Hitam maupun Lamciat
dan Pat-jiu Sian-ong terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pek-poh-sin-kun, gerak seratus langkah sakti itu benarbenar
luar biasa. Ilmu ini membuat kaki Giam Liong bagaikan
karet, maju mundur dengan cepat dan loncatan-loncatannya
amat mengejutkan. Dan karena Giam Liong juga mampu
menggeser-geserkan
kakinya
dengan
langkah-langkah
mentakjubkan, ke manapun lawan bergerak ke situ pula ia
selalu menempel, Pat-jiu Sian-ong pucat dan berubah
mukanya maka kakek gundul ini berseru keras ketika tiba-tiba
Giam Liong telah mampu menyusul dan mengejarnya ketika
satu pukulannya membuat kakek itu terpental.
"Mampus kau!"
Pat-jiu Sian-ong terbelalak. Ia melihat Kim-kang-ciang dari
tangan kiri Giam Liong menyambar, dikelit namun tetap
mengejar. Dan ketika kakek itu menangkis namun ia
terpelanting, Giam Liong mempergunakan tenaga sinkang
warisan kitab di sumur tua maka gerakan Pek-poh-sin-kun
membuat pemuda itu tahu-tahu mendekat dan kali ini golok di
tangan kanannya bekerja. Gerakan ini tak mungkin dielak dan
Pat-jiu Sian-ong ngeri. Ia berteriak pada temannya namun
Lam-ciat maupun Kedok Hitam tak sempat menolong. Dua
orang ini baru saja juga tergetar oleh tangkisan Giam Liong,
apalagi Golok Mautnya itu benar-benar ditakuti lawan karena
dapat bergerak tak terduga seperti yang dialami kakek gundul
itu. Dan ketika Pat-jiu Sian-ong tak mampu berkelit dan golok
menyambar lehernya maka kakek ini tiba-tiba roboh dan
kepalanya terlepas dari batang tubuh.
"Crat!"
Golok menjadi hidup bersinar-sinar. Kali ini yang menjadi
korban adalah seorang tokoh, bukan perajurit biasa seperti
yang tadi dibabat Giam Liong. Dan ketika kakek itu roboh dan
tepuk riuh di pihak pemberontak menggetarkan istana, Pat-jiu
Sian-ong tewas maka Lam-ciat maupun Kedok Hitam menjadi
pucat. Mereka ngeri dan gentar oleh kehebatan pemuda ini.
Giam Liong bersimbah peluh namun dadanya yang bidang itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serasa makin kokoh, berkilat-kilat dan tampak begitu jantan.
Sungguh mirip seekor banteng! Dan karena Giam Liong telah
membuang bajunya yang robek-robek terbakar panah api,
pemuda ini bertelanjang dada mainkan golok dengan gerak
langkah Pek-poh-sin-kun itu maka tandangnya benar-benar
garang dan siapapun yang coba-coba maju mendekat pasti
terkibas dan roboh oleh sinar maut goloknya. Kedok Hitam
telah dua kali menyuruh orang-orangnya mengacau entah
dengan tombak atau panah mereka. Tapi ketika semua ttu
terpental dan ma lah menyambar Kedok Hitam sendiri, laki-laki
ini menyumpah maka dia benar-benar berdua menghadapi
pemuda ini. Giam Liong tak kenal lelah dan nafasnya hebat.
Dan karena pemuda itu juga bertanding penuh semangat
balas dendam, maka Kedok Hltam dan Hantu Selatan yang
termasuk tokoh-tokoh tua harus mengakui daya tahan sendiri
yang tak sekuat anak muda itu. Perlahan-lahan Kedok Hitam
dikejar napasnya dan Lam-ciatpun memburu. Kakek itu
terengah cepat maka mulai gemetaran. Kim-kangnya, Pukulan
Emas yang didapat dari sinar bulan purnama tak mampu
menghadapi K im-kang-ciang dan Giam Liong. Meskipun samasama
bersinar kuning namun pukulan pemuda ini lebih antep.
Hal itu karena hawa murni pemuda ini jauh lebih baik
daripada lawannya, yang memperoleh Kim-kang dengan cara
mengumbar birahi. Dan karena Lam-ciat sering terhuyung
bahkan terpelanting bertemu pukulan pemuda itu, berkali-kali
melemparkan tubuh kalau tak ingin dicium Golok Maut, maka
kakek ini akhirnya mulai mundur-mundur dan sedikit tetapi
pasti ia mulai menjauhkan diri dari pertempuran.
“Hei..!!” Kedok Hitam membentak tentu saja melihat
gelagat temannya yang tak beres "Jangan menjauhkan diri,
Lam ciat. Keparat kau. Bantu aku dan jangan mundur”
“Hm.." kakek ini terkekeh, menyeringai. “aku tidak mundur,
Kedok Hitam, melainkan mencari kesempatan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merobohkan bocah ini. Kau biar didepan saja dan aku di
belakang”
“Pengecut” Kedok Hitam marah. “Tak usah macam-macam
Lam-ciat. Kau dikanan aku dikiri, tak usah depan belakang.
Keluarkan Hoan-eng-sut mu dan robohkan dia!"
Kakek ini menggerundel. Di mulut ia mengangguk namun
kenyataannya tetap saja ia memasang jarak. Hoan-eng-sut
telah dikeluarkan namun tetap saja gagal. Setiap ia
menyambar di belakang maka pemuda itu pasti membalik dan
Golok Mautpun menyambut, begitu setiap kali ia menyerang.
Dan karena akhirnya ia malah dikejar dan menerima tusukantusukan
cepat, dengan Pek-poh-sin-kun pemuda itu mampu
mengikuti ke manapun ia pergi maka Lam-ciat jerih dan tibatiba
ia mendapat pukulan di tengkuk, bukan dari Giam Liong
melainkan justeru dari Kedok Hitam, rekannya sendiri! Dan
ketika kakek itu berteriak dan tentu saja terkejut, terbanting
bergulingan maka Lam-ciat marah karena mendapat bentakan,
sekaligus juga makian.
"Lam-ciat, jangan macam-macam di sini. Jangan
bertingkah. Kalau kau tidak mau membantuku maka aku akan
membunuhmu!"
"Keparat!" kakek ini memaki, balas melontar marah. "Kau
tak usah marah-marah kepadaku kalau tak mampu
menandingi pemuda ini, Kedok Hitam. Yang dicari pemuda itu
adalah kau juga sebenarnya, bukan aku. Aku enggan apalagi
setelah kau bersikap kasar begini, mentang-mentang
berkedudukan!"
"Eh, kau tak mau membantu aku? Kau meninggalkan istana
?”
“Hm, kupikir cukup sudah bantuanku ini, Kedok Hitam. Tapi
urusan pribadimu sebaiknya tak usah kucampuri. Aku tetap
membantu istana, dan sebagai buktinya lihat aku menghajar
pemberontak-pemberontak itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lam-ciat tiba-tiba meninggalkan pertempuran, tidak
membantu Kedok Hitam melainkan membantu pasukan
kerajaan, menghajar dan melepas pukulan-pukulan ke arah
pasukan Chu-goan-swe itu. Dan ketika Kedok Hitam harus
berhadapan sendiri me lawan Giam Liong, pucat dan kaget
maka Lam-ciat beterbangan dan terbahak muncul dan lenyap
lagi di balik Hoan-eng-sut.
"Ha-ha, lihat ini, Kedok Hitam. Aku tetap membantu istana
dan menghajar pemberontak. Lihat... lihat aku membunuh
mereka... bres-bress!" kakek itu menggerakkan tangannya ke
kiri kanan, melepas atau melancarkan pukulan-pukulan
mautnya dan pasukan Chu-goanswe tentu saja berteriak
roboh. Mereka terlempar dan jatuh bangun dihajar kakek ini.
Dan ketika kakek ini benar-benar tak memperdulikan Kedok
Hitam karena lebih senang menghadapi pemberontak, gentar
atau jerih menghadapi Giam Liong maka Giam Liong tertawa
dingin melihat ketakutan lawannya wajah yang gelisah dan
merah pucat berganti-ganti.
“Hm, itulah hadiah untukmu. Orang sesat mendapatkan
teman yang jahat,. Kedok Hitam. Dan kau sekarang
ditinggalkan kawan mu. Bagus, kita sekarang berdua dan lihat
aku membunuhmu seperti dulu kau membunuh ayahku. Kaki
dan tanganmu akan kupotong-potong. Dan benda jijik yang
kau pakai untuk memperkosa ibuku akan kurajang seperti
cabai!"
“Arghhh...!” laki-laki ini berteriak menggetarkan dinding
tebal. "Kubunuh kau, Giarn Liong. Kubunuh kau.... siut-siutserr…”
dan belasan hui-to kecil yang tiba-tiba berhamburan
dari tangannya mendadak menyambar Giam Liong bagaikan
hujan. Giam Liong terbelalak tapi tidak kaget. Ia telah melihat
gerakan tangan yang mencurigakan, yakni ketika tangan itu
merogoh kantung baju. Dan ketika dengan langkah-langkah
Pek-poh-sin-kun ia mengelak dan menggerakkan goloknya
pula, mementalkan atau meruntuhkan golok-golok terbang itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka iapun membalas dan sekali tangan kirinya terayun maka
Giam Liong-pun me lepas tujuhbelas senjata hui-to kearah
musuhnya.
"Jangan kira kau saja yang bisa. Akupun dapat.... ser-serr!"
Tujuhbelas golok terbang dibabat golok kutung di tangan
Kedok Hitam. Laki-laki itu masih cekatan dan Giam Liongpun
kagum, meskipun kemarahannya tentu saja iuga bertambah
baik. Dan ketika ia mengejar lawannya dan Pek-poh-sin-kun
benar-benar membuat lawan terkesiap, Kedok Hitam sudah
didekati maka laki-laki itu kembali melepas golok terbangnya
dan Giam Liong terpaksa menangkis. Lemparan hui-to ini
bukan sembarang lemparan karena dikerahkan dengan tenaga
sakti. Cuitan sambarannya mengerikan telinga. Tapi karena
Giam Liong berhasil menangkis semuanya itu, golok kecil-kecil
itu runtuh dan patah-patah, sebagian menyambar tuannya
sendiri maka Kedok Hitam menggeram dan melempar tubuh
bergulingan untuk menghindar serangan goloknya ini. Laki-laki
itu mengutuk dan melepas lagi hui-to-hui-tonya, ditangkis dan
patah-patah lagi namun untuk yang terakhir ia membentak
dan melempar tujuh hui-to beronce, bukan ke arah Giam
Liong melainkan ke arah Lam-ciat, yang saat itu tertawa
bergelak melihat laki-laki ini didesak Giam Liong. Hantu
Selatan menghajar pasukan Chu-goanswe dan perhatiannya
masih dilekatkan ke Kedok Hitam. Tokoh-tokoh sesat memang
keji. Maka ketika Lam-ciat terkejut karena tujuh golok terbang
menyambar ke arahnya, yang sedang enak-enak membabat
musuh maka kakek itu berteriak menyelamatkan diri. Hoaneng-
sutnya tak dipakai dan kebetulan disimpan. Menghadapi
para pemberontak ini tak perlu dia takut seperti menghadapi
Giam Liong umpamanya. Maka begitu diserang dan tak
menduga perbuatan siKedokHtam, mengelak tapi tujuh golok
berikut menyambarnya lagi, semua berkecepatan kilat dan
diluncurkan oleh orang macam laki-laki ini maka Lam-ciat tak
sempat mengeluarkan Hoan-eng-sutnya dan kakek itu
menjerit ketika sebatang hui-to menancap di tenggorokannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lam-ciat tersentak dan Giam Liong sendiri kaget. Kedok Hitam
rupanya mata gelap! T api begitu kakek itu sadar dan berteriak
dahsyat, pekikannya bagai gorila kesakitan maka hui-to
dicabut dan kakek itu me lemparkannya lagi ke arah Kedok
Hitam, disusul oleh terjangan tubuhnya yang menubruk bagai
seekor kerbau jantan.
"Kedok Hitam, kau bangsat keparat. Aughh.... berani benar
kau menyerang aku'"
'Kedok Hitam mendengus, la marah sekali terhadap si
Hantu Selatan ini, yang meninggalkannya dan membiarkannya
sendirian menghadapi Giam Liong, padahal pemuda itu terlalu
lihai dan amat berbahaya. Dan karena kakek itu juga
menertawakannya di kala terdesak, tidak membantu
melainkan malah mengejek maka ia melepas dua kali tujuh
golok terbang berturut-turut. Akibatnya si kakek berteriak dan
mendelik. Apa yang dilakukannya ini benar-benar tak
disangka, baik oleh kakek itu sendiri maupun oleh Giam Liong,
yane sejenak tertegun dan berhenti. Dan ketika kakek itu
menyeruduk dan lemparan hui-tonya dielak ke kiri, luput dan
menyambar seorang perajurit maka perajurit itu berteriak, tapi
dengan gerak mengagumkan si Kedok Hitam mi mengayunkan
kakinya dan serudukan si kakek yang juga luput ma lah terus
didorong dan menumbuk Giam Liong.
"Hm!" Giam Liong mengeluarkan tawa dingin. Akhirnya ia
sadar dan tentu saja bergerak. Lam-ciat yang terluka
tenggorokannya itu menggeram bagai babi disembelih. Kedok
Hitam yang dituju tapi Giam Liong yang malah dihadapi.
Kedok Hitam dengan licik menendang pantatnya, mendorong
dan kontan kakek itu menubruk si pemuda. Dan karena Giam
Liong tidak mengelak seperti Kedok Hitam itu, melainkan
menyambut dan menggerakkan Golok Mautnya maka kakek ini
terbeliak melihat kilatan sinar putih panjang. Alih-alih hendak
menerjang srigala tak tahunya bertemu harimau. Yang ini
lebih ganas. Dan karena tak mungkin lagi kakek itu mengelak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan cara serudukannya justeru seperti seekor kerbau
menyerahkan kepala, sinar maut itu memapak gerakannya
maka terdengar suara ngorok ditahan ketika kepala kakek itu
putus.
"Crat!"
Kakek ini tewas dengan mengerikan. Kepalanya seketika
terlempar dan darahpun memuncrat seperti pancuran. Batang
tubuh itu tumbang dan sejenak dua belah pihak tertegun.
Pasukan kerajaan maupun pasukan pemberontak sama-sama
bengong. Tapi begitu kakek itu tewas dan sorak gegapgempita
meledak dari pihak Chu-goanswe, mereka berteriak
dan riuh rendah maka lawan pucat mukanya dan Kedok Hitam
tiba-tiba melarikan diri.
"Berhenti!" Giam Liong membentak dan melihat gerakan
itu. "Selesaikan urusan kita, Kedok Hitam. Jangan lari!"
Kedok Hitam berkeringat dingin. Ia coba menyelinap dan
lari dibalik pasukannya namun ternyata Giam Liong melihat.
Pemuda itu hanya sekejap dikecoh dengan gerakan Lamciat,
mata tetap melirik lawan dan akhirnya tahu ketika si
kedok Hitam melarikan diri. Dan ketika Giam Liong berkelebat
dan Pek-poh-sin-kun nya bekerja dengan cara mengejutkan,
melekat dan tak jauh dari lawan, maka Giam Liong
mengeluarkan golok-golok terbangnya dan sama seperti
lawannya tadi ia menyambit.
“Cit-cit-cit...”
Kedpk
Hitam
tahu
bahaya.
Tanpa
menoleh
ia
menggerakkan tangannya ke belakang, menangkis dan
meruntuhkan senjata-senjata itu. Namun karena Giam Liong
tetao mengejar dan belasan hui-to kembali menyibukkan
lawan, laki-laki ini pucat dan gentar kakinya ia berlari
berbelok-belok dan masuk istana, berteriak kepada pengawlpengawal
agar menyerang atau menghalangi pemuda itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tahan dia. Serang, bunuh..!"
Namun Giam Liong bergerak dengan Golok mautnya itu.
Lawan diterjang dan siapapun cerai-berai. Golok Maut tak
banyak bicara dan akibatnya pasukan mundur berteriak-teriak.
Mereka terjengkang dan saling dorong-mendorong dengan
sesama rekan, gentar menyaksikan golok yang haus darah
itu.. Dan karena semua menyibak dan Giam Liong tentu saja
mudah melakukan pengejaran, tak ada yang berani meng
hadang maka laki-laki ini semakin pucat dan ngeri.
Semangatnya di ujung rambut.
"Heii, tahan. Tahan dia. Jangan biarkan masuk istana!"
Namun tak ada yang menggubris. Laki-laki itu menyuruh
orang menghadang Si Naga Pembunuh sementara dia sendiri
lari terbirit-birit, siapa mau dengar! Dan ketika Giam Liong
tertawa mengejek dan tetap menempel di belakang, Kedok
Hitam menoleh dan pucat seperti kertas maka pemuda itu
mengeluarkan seruan, dingin dan serasa membekukan darah.
"Kedok Hitam, sekarang ajalmu tiba. Menyerahlah, dan
berhenti!"
Laki-laki ini gemetar. Ia coba mengandalkan pasukan
namun tak ada satu pun yang berani, apalagi di situ pasukan
Chu-goanswe bersorak dan menerjang pasukannya, kalut dan
cerai berai dan semua ini membuat keadaan semakin ramai.
Kaum pemberontak girang bukan main karena untuk kesekian
kalinya lagi Giam Liong mengejar si Kedok Hitam.
Kini laki-laki ini tidak dapat mengandalkan tenaga istana
untuk melindungi dirinya. Lagipula Pat-jiu sian-ong dan Lamciat
juga binasa. Dan ketika kemanapun ia lari Giam Liong
menempel di belakang, sebatang hui-to akhirnya menancap di
pundak laki-laki ini, maka Kedok Hitam mencapai puncak
ketakutannya dan menjerit.
“Sri baginda, tolonglah hamba!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Giam Liong mendengus. Lawan sudah memasuki istana
namun ia tetap di belakang. Giam Liong sudah berkali-kali
memasuki istana dan membuatnya waspada akan jebakanjebakan.
Cukup kenyang dia akan semuanya itu. Dan ketika
benar saja beberapa jebakan dipakai lawan, tapi semuanya itu
dapat dihindarkan, jarak dengan Kedok Hitam semakin dekat
maka laki-laki ini melengking dan putus asa, keluar lagi dan
berkelebat di atas gedung-gedung, keluar kota raja.
"Giam Liong, kau bocah jahanam keparat. Lepaskan aku,
harta dan kedudukan akan kuberikan kepadamu!"
“Hm, aku tak butuh semuanya itu. Aku butuh kulit dan
dagingmu, Kedok Hitam, juga jantungmu yang hitam itu.
Berhentilah, dan lihat aku merajang kulitmu termasuk benda
yang kaupakai untuk memperkosa ibuku itu!"
-ooo0dw0oooJilid
31
"TOBAT, aku menyerah. Minta ampun. Lepaskan aku!"
"Hm, tak ada ampun!" Giam Liong muak dan benci
memandang lawannya itu, sikapnya menjadi lebih beringas.
"Kau harus minta ampun terlebih dahulu kepada ayah ibuku di
akherat, Kedok Hitam. Dan baru setelah ku kepadaku!"
"Aduh, kau terkutuk. Kau bocah keparat. Kau... .crep”
Kedok Hitam menjerit, Giam Liong melepas golok terbangnya
lagi dan kini menancap di pipi. Dari samping pemuda itu
menyerang lawannya. Dan ketika lawan terjungkal namun lari
lagi, hebat dan mengagumkan maka laki-laki ini menuju ke
Timur. Ia telah melewati ratusan kepala dan ribuan orang
yang menonton terbelalak. Kejar-kejaran itu mendebarkan
sekali. Golok Maut di tangan Giam Liong tetap bersinar-sinar
dan cahaya dari golok ini memantul menyilaukan mata. Semua
merasa ngeri dan bergidik. Naga Pembunuh benar-benar siap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghabisi lawannya. Celakalah Kedok Hitam itu. Dan ketika
laki-laki ini melompati pintu gerbang dan turun di luar, lari
sekencang-kencangnya maka dia coba menyusup di malam
gelap namun Giam Liong terlalu dekat jaraknya. Sebatang huito
kembali menyambar dan laki-laki itu roboh. Hebatnya masih
dapat berdiri lagi dan lari kesetanan. Kedok Hitam rupanya
mendapat tenaga mujijat yang luar biasa, bukan untuk dipakai
bertanding melainkan untuk me larikan diri. Dan ketika Giam
Liong kembali kagum karena laki-laki itu mampu melesat
kencang, terbang bagai harimau bersayap maka dia melepas
lagi dua golok terbangnya mengenai paha lawan. Kedok Hitam
menjerit namun masih dapat berlari, bahkan kian kencang.
Dan ket-ika malam itu laki-laki ini terus ke timur dan berteriak
mengiba-iba, malam berganti pagi maka Giam Liong terkejut
karena tiba-tiba saje mereka tiba di telaga Hek-yan-pang!
“Heii..!" Giam Liong terkejut dan sadar. "Berhenti kau,
Kedok Hitam. Ada apa datang ke situ!"
Namun laki-laki itu mengeluarkan lengkingan panjang
pendek. Dia sudah memanggil-manggil Pek-jit-kiam Ju Beng
Tan dan Giam Liong berubah karena ayah angkatnya muncul,
berkelebat dan tampak di seberang sana. Dan ketika dua
bayangan lain juga bergerak dan muncul, itulah Han Han dan
bibinya Swi Cu maka berturut-turut anak-anak murid Hek-yanpang
bermunculan dan telaga tiba-tiba penuh orang
"Ju-taihiap,
tolonglah
aku.
Giam
Liong
hendak
membunuhku.... byurr!" laki-laki, itu terjun ke telaga,
menyambar dan buru-buru menyergap sebuah perahu dan
anak murid Hek-yan-pang berteriak karena ditendang dari
perahunya. Kedok Hitam panik. Dan ketika laki-laki itu
mendayung dan cepat serta pucat ia menuju seberang, Beng
Tan dan lain-lain terbelalak di sana maka Giam Liong marah
besar dan melempar dua potong papan kecil, mengejar dan
berjungkir balik di atas telaga, meluncur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kedok Hitam, kau pengecut. Ada apa membawa-bawa
orang lain. Berhentilah, dan terima ini!"
Tiga golok bercuit... Kedok Hitam mengelak namun hui-to
itu tiba-tiba membalik. Laki-laki ini kaget karena Giam Liong
ternyata mempergunakan kepandaiannya yang jarang
digunakan, membuat golok seperti bernyawa dan kini,
menyambar kembali laki-laki itu, bukan main kagetnya. Dan
ketika dia harus menangkis namun tenaga terlampau lemah,
golok melesat dan menyambar di samping maka daun telinga
putus, terpenggal dari tempatnya.
"Aduh, ampun, Giam Liong. T obaat...”
Beng Tan dan anak isterinya terkejut. Kedok Hitam yang
sudah bermandi darah benar-benar pagi itu membuat geger,
la datang dengan keadaan menyedihkan, mukanya pucat pasi.
Pundak dan pipinya juga tertembus golok kecil. Dan ketika
Giam Liong mendengus dan bergerak-gerak diair dengan amat
cepatnya mengejar, maka lawan benar-benar serasa terbang
nyawanya mendengar bentakan pemuda itu, dingin dan
menggetarkan bulu kuduk.
"Kedok Hitam, siapapun tak dapat mencampuri urusan kita.
Kau telah membunuh ayah dan ibuku. Dan kaupun
memperkosa ibuku sebelum mati. Ajalmu sudah dekat,
berhenti dan terimalah!"
Laki-laki ini berteriak. Dia sudah hampir di seberang ketika
tiba-tiba tiga hui-to kecil menyambarnya lagi. Senjata-senjata
itu mendahului Giam Liong sebelum pemiliknya datang. Dan
karena Kedok Hitam tak mungkin menangkis kecuali
mengelak, golok lewat di sisinya dengan cepat tiba-tiba seperti
tadi hui-to-hui-to terbang ini membalik dan kembali
menyambar, dari depan.
"Ju-taihiap, tolong!"
Beng Tan tak sempat bergerak. Bentakan atau seruan
Giam-Liong tadi membuatnya tertegun. Kabar bahwa Wi Hong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dibunuh dan diperkosa laki-laki ini membuatnya merah. Kedok
Hitam sungguh keji. Dan ketika Swi Cu maupun Han Han juga
begitu, terbelalak dan kaget jriaka jeritan ngeri terdengar
ketika hidung laki-laki itu terpapas.
"Crass!"
Kedok Hitam terjungkal. Sekarang ia terlempar dari
perahunya namun tepat sekali di sebarang, la terbanting dan
roboh di dekat ayah dan anak. Dan ketika ia mengeluh dan
bindeng, darah memenuhi muka dan pakaiannya maka Giam
Liong tertawa bergelak dan menyambar ke depan. Golok
Penghisap Darah berkelebat.
"Kedok Hitam, sekarang terimalah kematianmu!"
Laki-laki ini tak sempat mengelak. Kalaupun ia mampu
mengelak maka tak mungkin ia lebih» cepat dari golok.
Senjata di tangan Giam Liong bergerak bagai kilat
menyambar, desingnya mengerikan. Tapi ketika laki-laki itu
terjerembab dan terbeliak menyaksikan sambaran golok,
hidung dan telinganya deras mengucurkan darah maka
berkelebat cahaya putih dan bentakan yang menggetarkah
telaga.
"Giam Liong, jangan bersikap kejam"
Ledakan atau dentangan memekakkan telinga. Giam Liong
sendiri kaget ketika tiba-tiba dari arah kiri menyambar pedang
yang menyilaukan mata, pedang di tangan Han Han yang
dikenalnya sebagai Pedang Matahari, pedang avah angkatnya
tapi yang kini rupanya dimiliki sang anak kandung. Dan ketika
suara beradunya dua senjata di tangan mereka begitu
kerasnya, bunga api memuncrat dan masing-masing sama
terpental, terbanting bergulingan maka Giam Liong berseru
keras sementara Han Han juga berjungkir balik dan telapak
kedua anak muda itu sama-sama terasa panas, terbakar.
"Crangggg....!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Golok Maut dan Pedang Matahari menggetarkan semua
orang. Beng Tan dan isterinya sampai terhuyung mundur
sementara anak-anak murid Hek-yan-pang terlempar ke sana
ke mari. Suara dahsyat dari beradunya dua senjata ampuh itu,
bagai
halilintar
menyambar,
ledakannya
benar-benar
menggetarkan telaga. Air di tepian sampai muncrat tinggi,
begrtu hebatnya! Tapi ketika dua anak muda itu sama-sama
berdiri lagi, Han Han sudah berjungkir balik dan melayang
turun sementara Giam Liong menggigil di sana, berketruk,
maka Giam. Liong marah bukan main kepada pemuda baju
putiti ini, puteri ayah angkatnya.
"Han Han, kau jangan ikut campur. Atau aku tak,
mengingat siapa kau!"
"Maaf," Han Han bergidik dan seram melihat wajah dan
kemarahan Giam Liong ini, mata yang seperti setan. "Aku tak
akan mencampuri kalau kau tak di sini, Giam Liong. Tapi
nyatanya kau telah datang ke Hek-yan-pang. Dan kami
sebagai tuan rumah tentu tak dapat membiarkan pembunuhan
di gepan mata. Urusanmu tak akan kucampuri, kalau kalian di
luar. Dan karena kau sudah datang di sini maka kau dan dia
kuanggap tamu. Tak akan dibeda-bedakan."
"Tapi aku datang bukan untuk bertamu. Aku mengejar
musuhku ini. Kalau begitu lempar dia ke seberang dan jangan
ikut campur”
"Aku tak dapat memaksa Kalau Kedok Hitam tak mau pergi
maka dia adalah tamuku. Silahkan kau tunggu di seberang
atau sama-sama menjadi tamu di sini."
"Kau… kau..!* Giam Liong tak dapat bicara, tiba-tiba
membalik dan menghadap bekas ayahnya. Dan ketika
sepasang matanya membuat Beng Tan mundur selangkah,
sinar mata itu betiar-benar penuh api maka Giam Liong
berkata, menggigil, menahan marah yang meledak-ledak,
"Ayah, apakah sikapmu sama seperti Han Han? Apakah kau
juga akan melindungi dan membela jahanam ini? Kutegaskan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di sini bahwa apapun akan kulakukan untuk membunuh
musuhku ini, ayah. Jangankan di Hek-yan-pang, di istanapun
aku tak gentar. Aku telah bersumpah untuk membunuh dan
membalas dendamku. Nah, aku mohon jawabanmu apakah
kau juga akan bersikap seperti Han Han. Tak usah berbelitbelit
karena s iapapun tahu bahwa jahanam ini sengaja datang
ke Hek-yan-pang bukan sebagai tamu melainkan memang
ingin minta perlindungan. Aku masih menghormat dan
memandang mukamu!"
Beng Tan menarik napas dalam-dalam. Akhirnya ia dapat
menenangkan diri dan sang isteri yang digamit agar tidak ikut
bicara disuruhnya diam. Sesungguhnya siapapun gentar
menyaksikan sikap Giam Liong ini. Si Naga Pembunuh akan
menerjang siapa saja yang berani menghalanginya, termasuk
dirinya sendiri. Dan karena Beng Tan tahu baik watak anak
angkatnya ini, pendiam namun bergemuruh maka ia coba
bersikap obyektif dan netral. Kedok Hitam memang terlalu
jahat dan tak patut dilindungi. Han Han, puteranya, belum
tahu benar watak laki-laki itu. Tapi karena ia juga dapat
memahami watak anaknya yang tak mungkin membiarkan
keberingasan membabi-buta di situ, anaknya terpengaruh iba
dan ngeri me lihat penderitaan Kedok Hitam, puteranya juga
benar maka ia berkata dengan suara datar, namun penuh
wibawa.
"Giam Liong, akupun tak takut akan ancaman mu. Mati bagi
seorang gagah bukanlah apa-apa. Tapi karena urusan ini
sudah melibatkan kami, langsung atau tidak maka meskipun
kau benar tapi Han Han juga tidak salah. Diundang atau tidak,
bermaksud minta perlindungan atau tidak nyata-nyata kalian
telah datang di Hek-yan-pang. Nah, aku akan bersikap netral
di sini. Kau boleh mengemukakan segala alasanmu tapi
betapapun tentunya kau juga harus menghormat dan
menghargai hak kami, penguasa wilayah Hek-yan-pang. Dan
karena baik kau maupun Han Han sama-sama memiliki
kebenaran, aku tak akan campur tangan biarlah kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selesaikan urusan itu dengan Han Han. Aku akan berdiri di
luar, tidak memihak. Kalian selesaikan sendiri masalah itu
sebagaimana layaknya seorang gagah. Kau turuti kata-kata
Han Han atau Han Han siap menerima kemarahanmu!"
"Ayah tak menyuruh minggir Han Han?”
“Aku tak berhak menyuruhnya, Giam Liong. lapun benar
karena ia merasa sebagai pemilik wilayah ini. Tapi karena
kaupun juga benar bahwa kedatangan Kedok Hitam bukan
sebagai tamu melainkan sebagai orang yang minta
perlindungan, nah, Han Han rupanya hendak melindunginya
maka silahkan kauselesaikan urusan itu dengannya atau kau
tunggu di seberang sampai Kedok Hitam keluar!"
Giam Liong mengeluarkan erangan aneh. la terpukul oleh
kata-kata ini namun dilihatnya bahwa kata-kata itupun betul.
Sebagai pemilik Hek-yan-pang yang wilayahnya didatangi
orang tentu saja pemilik berhak mengusir atau menerima,
melawan atau me lindungi. Dan marah bahwa Kedok Hitam
sungguh licik, laki-laki itu tertawa dan terbatuk di sana, bukan
main bencinya Gram Liong maka pemuda itu membentak.
"Kedok Hitam, jangan buru-buru tertawa. Betapapun aku
akan
membunuhmu.
Kalau
Han
Han
melindungimu
bersyukurlah bahwa nyawamu masih diberi sedikit umur
panjang!"
"Heh-heh.... ugh!" laki-laki itw tersedak, girang dan sejenak
dapat melupakan sakitnya. "Kau telah mendengar kata-kata
itu sendiri, Giam Liong. Hek-yan-pang membantuku. Kau
harus berhadapan dengan mereka dulu kalau ingin
membunuhku. Ugh.. jasa baik ini tentu tak akan kulupakan
dan
kelak
sri
baginda
akan
kuberi
laporan
agar
menganugerahkan pangkat besar!"
"Kau tak usah banyak mulut!" Beng Tan membentak dan
tak senang. "Hek-yan-pang tak pernah membela atau
melindungi orang jahat, Kedok Hitam. Yang berbuat di sini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah puteraku sebagai pribadi, bukan membawa-bawa Hekyan-
pang. Ia bergerak semata atas dasar perikemanusiaan,
rasa iba dan kasihannya melihat dirimu diancam bahaya!"
Laki-laki ini tertawa sumbang, la mengerang dan merintih
lagi merasakan sakitnya, duduk bersandar dan membalut lukalukanya,
sendiri. Keadaannya mengenaskan dan siapapun
tentu kasihan. Memang benar kata-kata Beng Tan tadi.
Namun karena semua orang juga tahu bahwa laki-laki ini
amatlah jahatnya, culas dan curang maka tak ada yang
menolong dan Han Han yang melindungi dan membelanya
semata merasa ngeri dan bergidik me lihat keganasan Giam
Liong. Musuh yang sudah terpapas daun telinga dan
hidungnya masih juga dikejar-kejar, belum lagi beberapa
golok terbang yang menancap di pipi dan pundak. Ah, semua
ini membuat watak mulia Han Han bangkit. Ia tak dapat mem
biarkan kekejaman itu berlangsung di depan mata. Lain halnya
kalau Giam Liong menyiksa atau membunuh lawannya di luar
sana. Dan karena lain Han Han lain pula Giam Liong, masingmasing
pemuda itu mempunyai watak sendiri-sendiri maka
Giam Liong sudah berhadapan dengan calon lawannya ini.
Untuk kedua kali berhadapan sebagai musuh!
"Han Han," suara Giam Liong berat dan terdengar dingin,
kemarahannya masih tetap berkobar. "Apakah kau tetap
melindungi dan hendak membela jahanam ini? Apakah kau tak
dapat membiarkan aku menyelesaikan dendamku dan nanti
kita selesaikan urusan kita sendiri?"
"Maaf," Han Han menarik napas dalam-dalam. "Aku
melihatmu terlalu kejam dan tak berperasaan, Giam Liong.
Sungguh ngeri hatiku melihat apa yang kaulakukan kepada
lawanmu ini. Lihat, ia luka-luka dan sudah terpapas hidung
dan telinganya. Tapi masih juga kau kejar-kejar. Ia telah
bertobat dan minta ampun namun kau tetap juga
menyerangnya. Hm, aku tak dapat melihat semuanya ini dan
hatiku berontak. Kau tunggulah di luar sana kalau ingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membunuh. Tapi kalau kau bersikeras dan hendak membunuh
di sini, ada aku di sini maka tentu saja aku tak akan tinggal
diam. Kau berada di wilayah Hek-yan-pang, wilayah ayah
ibuku. Harap kau tahu ini dan terserah mana yang hendak kau
pilih."
"Baik!" Giam Liong bergetar menggerakkan Golok Mautnya,
mata mencorong bagai naga sakti, berkilat-kilat. "Kau dan aku
rupanya sama-sama teguh pendirian, Han Han, kita sudah
sama-sama tak ada titik temu. Mari selesaikan persoalan ini
secara gagah dan kau atau aku yang roboh memperebutkan
jahanam itu!"
"Aku tak berebut. Aku hanya membela kebenaran sesuai
kata hatiku”
"Tak usah banyak cakap. Cukup kita bicara. Han Han. kau
atau aku yang mati, awas...!" dan Golok Maut yang berdesing
menyambar Han Han, bergerak dengan kecepatan kilat tibatiba
sudah melesat dan bagai halilintar menyambar tahu-tahu
membabat leher pemuda ini. Giam Liong tak mau banyak
bicara lagi dan ia sudah berseru memperingatkan. Percuma
adu debat. Han Han akan membela pendiriannya seteguh dia
membela pendiriannya pula. Dan ketika Golok Maut bicara dan
inilah penyelesaian secare laki-laki, dia atau Han Han yang
roboh memperebutkan Kedok Hitam maka Han Han mengelak
namun golok mengejar juga, melompat tapi tetap diburu dan
yang diarah adalah lehernya. Kalau sudah begini Giam Liong
benar-benar seekor Naga Pembunuh, siapapun akan diterkam
dan dilahapnya. Dan karena serangan itu berbahaya dan dua
kali berkelit tetap juga dikejar, hawa dingin Golok Maut
membuat bulu kuduk meremang maka Han Han menangkis
dan untuk kedua kalinya dua senjata yang sama-sama ampuh
itu bertemu.
"Cranggg!"
Anak murid terpelanting. Han Han tergetar sementara Giam
Liong juga terhuyung, membentak dan maju lagi dan Beng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan maupun isterinya harus mundur dengan muka pucat. Swi
Cu menjerit kecil ketika puteranya tadi menangkis. Lelatu api
yang muncrat dari kedua senjata ditangan masing-masing
pemuda itu membuat yang lain berteriak. Apalagi dentang
senjatanya memekakkan telinga. Dan ketika selanjutnya Giam
Liong sudah menyerang dan membacok lagi, cepat dan
bertubi-tubi sementara lawan mengelak dan mundur
menangkis, denting demi denting terdengar lagi maka Swi Cu
terbelalak melihat puteranya itu.
"Han Han, pergunakan Pek-jit Kiam-sut. Cepat, jangan
mundur-mundur dan balas lawanmu itu!"
"Hm, benar," sang ayah juga gatal. "Pergunakan Pek-jit
Kiam-sut yang telah kaupelajari dari aku, Han Han. Jangan
terlambat atau nanti kau tak dapat menahan desakan
lawanmu!"
Benar saja, Han Han tiba-tiba terdesak. Giam Liong yang
menyerang dengan kemarahan membubung tinggi sudah
langsung mengeluarkan jurus-jurus ampuh dari ilmu sillatnya
Golok Akherat, Im-kan-to-hoat. Didorong oleh semangat balas
dendamnya yang tinggi tiba-tiba membuat pemuda ini bagai
seekor harimau kelaparan, membacok dan menusuk dan
sebentar kemudian sudah berkelebatan mengelilingi lawan.
Dan karena sepak terjang atau tandang Giam Liong benarbenar
luar biasa, Golok Maut di tangannya itu benar-benar
berbahaya sekali maka Han Han terdesak dan pemuda yang
semula berkelit dan maju mundur dengan sering menangkis
itu menjadi pihak yang bertahan dan sang ibu sering menjerit
kalau Han Han hampir saja terlambat dan keserempet Golok
Maut.
"Bret-bret!"
Ujung baju dan mata kancing pemuda itu terbabat. Beng
Tan sendiri menahan napas dan hampir berteriak oleh
terlambatnya sang anak. Giam Liong sudah kesetanan. Dan
ketika Han Han menyadari keadaan dan pedang berkelebat ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekeliling penjuru, apa boleh buat dia harus melepaskan diri
dari kungkungan sinar golok akhirnya pemuda ini membentak
nyaring dan tiba-tiba mengeluarkan Hui-thian-sin-tiauwnya
(Rajawali Sakti Terbang Ke Langit). Ilmu ini adalah ilmu
meringankan tubuh dan hanya dengan cara itu ia dapat
melepaskan diri. Dan ketika benar saja tubuhnya melesat dan
terbang ke segala penjuru, gerakan atau tubuh Giam Liong
diikuti pemuda ini tiba-tiba saja Han Han sudah berubah
menjadi bayangan putih yang menyambar-nyambar naik
turun.
"Giam Liong, keluarkan seluruh ilmu kepandaianmu!"
Giam Liong terbelalak. Lawan yang semula berada di balik
bayang-bayang Golok Mautnya mendadak keluar, melesat dan
lolos dan Hui-thian-sin-tiauw yang diperlihatkan lawannya ini
amatlah luar biasa. Han Han yang semula terkurung tiba-tiba
lepas. Namun karena Giam Liong juga bukan pemuda
sembarangan
dan
untuk
menghadapi
ini
ia
harus
mengeluarkan ilmu saktinya Seratus Langkah, Pek-poh-sin-kun
maka Han Han berseru kaget ketika tiba-tiba Giam Liong
mencelat-celat dan ganti membayanginya dengan seruan
tinggi.
"Han Han, jangan sombong. Aku juga mempunyai ilmu
serupa yang akan menandingi kecepatanmu.... sret-sret!" kaki
Giam Liong seperti karet, membal dan mencelat-celat dan Han
Han tentu saja terkejut. Ayah ibunya di sana juga terbelalak
dan Beng Tan menjadi kagum. Kiranya di tengah
pengembaraannya itu Giam Liong menambah ilmunya, maju
dan demikian mentakjubkan karena selama ini sang pendekar
belum melihat ilmu itu. Ilmu ini dipelajari Giam Liong dari kitab
kecil di sumur tua, peninggalan ayahnya yang dulu belum
sempat dipelajari. Kini pemuda itulah yang mempelajari dan
Ju-taihiap menjadi kagum. Kalau dulu mendiang Sin Hauw
menguasai ilmu ini tentu dia kalah. Peng Tan benar-benar
takjub. Tapi ketika Hui-thian-sin-kun ternyata mampu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengimbangi Pek-poh-sin-kun atau barangkali Pek-poh-sinkun
yang berhasil menyamai Hui-thian-sin-tiauw, dua anak
muda itu bergerak sama cepatnya dengan tubuh menyambarnyambar
maka siapapun akhirnya tak memperhatikan lagi si
Kedok Hitam yang perlahan-lahan mulai beringsut dari tempat
itu. Asyik dan tegangnya pertandingan dua pemuda ini
membuat yang lain-lain lengah. Mereka tak melihat betapa
Kedok Hitam menyelinap dan akhirnya menghilang, masuk ke
markas
Hek-yan-pang
dan
di
situlah
laki-laki
ini
menyelamatkan diri. Ia tak tanggung-tanggung karena
memasuki kamar ketua, kamar Beng Tan pribadi. Dan ketika
dua pemuda itu bertempur kian sengit, laki-laki ini merintih
dan mengeluh di dalam kamar maka kebetulan seorang murid
memergokinya
melihat-bercak-bercak
darah
di
kamar
ketuanya.
"Heii..!" murid wanita itu menjerit. "Kau, Kedok Hitam?
Keluarlah, ini kamar ketua!"
Namun Kedok Hitam tertawa sengau. Ia tak dapat bicara
atau tertawa baik gara-gara hidungnya yang terpapas itu.
Namun karena kepandaiannya masih tinggi dan menghadapi
murid rendahan begini tentu saja ia masih terlalu lihai maka ia
menyambar dan murid wanita itu tahu-tahu di toloknya roboh.
"Kau... kau tolonglah aku. Carikan obat yang paling manjur
dan diamlah di sini bersama aku. Awas, jangan berteriak atau
nanti aku membunuhmu!"
Murid wanita ini menggigil. Ia roboh sekali ditotok dan
pucatlah, mukanya melihat wajah mengerikan itu. Sadarlah
dia bahwa Kedok Hitam masih terlalu lihai.
Namun karena ia tak berdaya dan laki-laki itu rupanya
hanya ingin minta tolong, membebaskan totokannya dan
berkata agar dia diam maka murid wanita yang cantik dan
berkulit halus ini gemetar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku... aku tak akan berteriak. Tapi... tapi lepaskan
cengkeramanmu di punggung!
"Kau mau, rpenolongku? Kau mau membantu aku
mengobati luka-lukaku?"
"Mmm.... mau, Kedok Hitam. Tapi lepaskan tanganmu. Aku
kesakitan!"
"Baik, dan berdiam di sini dulu bersama aku. Jangan
macam-macam atau nanti kubunuh!"
"Tapi kita di kamar ketua. Aku takut!"
"Bodoh. Justeru di kamar ini banyak obat-obat mujarabnya.
Heh, carikan obat untuk luka-luka luarku, nona. Dan siapa
namamu-!”
"Aku... aku Thio Leng. Kau jangan membuat aku takut!"
"Heh-heh, aku tak pernah membuat kau takut. Asal kau
menurut dan memenuhi perintah-perintahku maka tak perlu
aku menakutimu. Hayo, bantu aku dan carikan obat pengering
luka. Luka-lukaku masih berdarah."'
Thio Leng, anak murid wanita itu mengangguk. Ia agak
besar hati dan lega karena Kedok Hitam yang dikabarkan jahat
ini ternyata baik-baik saja. Hanya ia merasa seram oleh lukaluka
di tubuh dan mukanya itu. Jijik juga melihat hidung dan
daun telinga yang putus. Namun karena orang tak berbuat
jahat dan ia dimintai tolong, iba dan kasihannya muncul maka
iapun membantu dan mencarikan obat. Semua itu ia temukan
di kamar ketua dan dengan cepat ia mengolesi semua lukaluka
itu. Benar saja, luka-luka itu mengering, cepat sekali.
Darah tak mengucur lagi namun gadis ini tak tahu betapa
sejak tadi gerak-geriknya diperhatikan. Sorot mata aneh
memancar dari balik si Kedok Hitam. Lengan dan jari-jari lentik
menjadi perhatiannya. Dan ketika gadis itu juga harus
membungkuk untuk mengobati luka di pundak dan pangkal
lengan, rambut dan pundaknya yang harum merangsang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
birahi maka Kedok Hitam tiba-tiba tertawa dan secepat kilat
menotoknya roboh.
"Cukup, lukaku sembuh. Heh-heh, kau cantik sekali, anak
manis. Aku tiba-tiba jatuh cinta kepadamu!"
Gadis ini menjerit, la kaget dan berteriak tapi Kedok Hitam
bergerak lebih cepat. Urat gagu gadis itu ditotok. Dan ketika
Thio Leng meronta namun roboh di paha laki-laki ini, Kedok
Hitam merasa aman dan lega di kamar itu maka laki-laki yang
semalam ketakutan dan lari dikejar-kejar Giam Liong ini minta
imbalannya. Hiburan segar!
"Heh-heh, tak usah meronta atau berteriak, T hio Leng. Aku
telah menotokmu. Aih, kulitmu begini segar dan halus. Dan
tubuhmu, aduh... mengilar aku. Kau masih perawan!"
Thio Leng pucat pasi. Ia tak menyangka dan menduga
bahwa Kedok Hitam yang semula dianggapnya baik tiba-tiba
berobah menjadi srigala lapar. Laki-laki itu terkekeh dan
tawanya yang bindeng tak keruan membuatnya ketakutan.
Kalau ada petir menyambar, rasanya ia lebih baik mati
disambar, bukan roboh di tangan laki-laki ini. Dan ketika
Kedok Hitam menggerayangi tubuhnya dan mulai membuka!
kancing-kancing bajunya, mencium dan mendengus maka
murid Hek-yan-pang yang sial ini terbelalak lebar-lebar. Ia
melotot dan menangis namun suara yang dikeluarkan kuatkuat
untuk berteriak dan menjerit tak mau keluar. Ia benarbenar
tertotok luar dalam. Tubuh dan urat gagunya lumpuh.
Dan ketika dengan mata terbelalak ia mulai ditelanjangi,
Kedok Hitam tertawa dan membenamkan mukanya di dada
gadis itu maka Thio Leng seakan pingsan merasa remasanremasan
kasar di tempat terlarang, la menangis dan menjerit
namun tak ada suara keluar. Ia meronta dan menggelepar
namun tubuh diam saja menerima terkaman-terkaman lawan.
Dan ketika jerit tertahan terdengar di situ, gadis ini merasakan
sakit yang luar biasa tiba-tiba gadis itu pingsan dan Kedok
Hitam beringas mengerjai korbannya. Laki-laki ini benar keji
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan rupanya kehidupan di istana tak dapat ditinggalkannya. Di
sana setiap perempuan gampang saja diambil. Bahkan selirselir
kaisar sekalipun. Dan ketika ia tertawa-tawa menggagahi
korbannya, iblis benar-benar memasuki tubuhnya maka lakilaki
ini lengah akan keadaan sekeliling. Ia dengan buas tengah
melahap gadis manis itu. Rasa aman dan lega bahwa Giam
Liong dihadapi Han Han, juga Beng Tan dan isteri serta muridmuridnya
kalau Giam Liong berani bertindak kelewatan
membuat laki-laki ini lupa daratan. Ia begitu mabok
mempermainkan korbannya. Begitu keji memperkosa dan
menggagahi murid Hek-yan-pang ini sampai pingsan berkalikali.
Thio Leng sadar dan menjerit lagi setiap siuman, gadis itu
seolah gila. Dan ketika totokan akhirnya buyar, pengaruh
totokan itu tak dapat lama karena tenaga Kedok Hitam
tidaklah seperti biasanya, laki-laki ini sesungguhnya sudah
lemah dan habis tenaga dikejar-kejar Giam Liong maka jerit
atau teriakan Thio Leng memecah ke segala penjuru, untuk
terakhir kalinya.
"Tolong... tolong.... Kedok Hitam di sini!"
Laki-laki itu terkejut. Ia ceroboh dan terlalu gegabah kalau
menganggap dirinya aman total. Ia tak tahu bahwa beberapa
saat setelah dirinya lenyap maka Giam Liong yang pertama
kali tersentak dan terbelalak lebar tiba-tiba kaget bukan main
kehilangan lawannya itu. Han Han bukanlah musuhnya karena
pemuda itu hanya bertindak sebagai pembela saja. Musuh
besarnya adalah si Kedok Hitam itu, laki-laki yang membunuh
dan memperkosa ibunya. Maka begitu Giam Liong terkejut dan
tak melihat laki-laki ini, membentak dan melakukan tusukan
silang di mana Han Han dipaksa mundur dan menangkis maka
Giam Liong berjungkir balik dan berteriak mengguntur.
"Han Han, mana si Kedok Hitam!"
Han Han terkejut. Ia sudah mulai berkeringat menghadapi
lawannya ini. Giam Liong sungguh hebat dan gagah. Tapi
begitu Giam Liong berjungkir balik dan marah memandang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bekas si Kedok Hitam, tempat itu telah kosong maka Beng Tan
dan anak muridnya tersentak.
"Eh, ke mana dia!"
"Benar, laki-laki itu tak ada!"
Murid-murid Hek-yan-pang geger. Mereka terkejut dan
heran sekali bagaimana laki-laki itu pergi. Tapi ketika sadar
bahwa pertandingan itulah yang terlalu menarik perhatian,
semua tertuju dan memandang ke sini maka Giam Liong
marah sekali kehilangan lawannya itu.
"Han Han, kau harus bertanggung jawab kalau ia lolos.
Awas kau, nanti kital bertemu lagi!"
Han Han tertegun. Ia terbelalak dani kaget juga, Kedok
Hitam ternyata pergi. Tapi begitu Giam. Liong meloncat dan
meninggalkannya, mata pemuda itu bagai elang mencium
mangsa maka Giam Liong me lihat percikan-percikan darah di
rumput dan tanah-tanah kering. Bagai harimau mengendus
daging segar cuping hidung pemuda ini bergerak-gerak. Giam
Liong berkelebat dan mengikuti bercak-bercak darah itu. Dan
ketika Han Han juga berkelebat dan menyusul pemuda ini,
Bengl Tan dan lain-lain juga tak mau ketinggalan maka
mereka terbelalak melihat bercak darah itu menuju markas.
Beng Tani menahan napas melihat Giatn Liong menggerenggereng.
Seluruh wajah dan tubuh pemuda ini memancarkan
api, berkilau-kilauan. Menakutkan. Dan ketika bercak darah itu
hilang dan timbul lagi di tempat lain, Giam Liong terus mencari
dan hidungnya mengeluarkan asap maka saat itulah terdengar
jeritan Thio Leng. Giam Liong berkelebat ke tempat ini dan
Golok Penghisap Darah tiba-tiba mendengung. Ada sesuatu
yang memancar di badan golok itu, semacam sinar terang
yang kemerah-merahan. Dan karena jerit itu di kamar Beng
Tan dan Giam Liong tak sungkan-sungkan mendobrak kamar
ini, Beng Tan dan isterinya terkejut dan marah maka di situ
Kedok Hitam sedang bergegas menyelinapkan diri, masuk ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kolong tempat tidur. Thio Leng dicekik dan mati dengan urat
pecah!
"Kedok Hitam, kau jahanam keparat!"
Bentakan atau seruan Giam Liong ini mengguntur. Pemuda
itu menerjang dan Kedok Hitam pucat pasi. Ia menyesal
kenapa totokannya tak tahan lama. Ia terkejut ketika Giam
Liong menjebol pintu kamar, berarti pemuda itu meninggalkan
lawannya dan saat itu Han Han dan ayah ibunya masuk. T iga
orang ini berkelebat di belakang Giam Liong, dan alangkah
berubahnya wajah mereka melihat kejadian di dalam kamar.
Thio Leng, murid Hek-yan-pang, membujur kaku dengan
tubuh telanjang bulat. Bekas dan kekejian di dalam kamar itu
sungguh terkutuk. Apalagi ini adalah kamar pribadi ketua Hekyan-
pang. Bukan main bejat dan tidak tahu hormatnya lakilaki
itu. Swi Cu, sang isteri, sampai mendelik mengepal tinju.
Wanita ini tiba-tiba teringat peristiwa hampir duapuluh tahun
yang lalu ketika dia juga hampir diganggu laki-laki itu. Kedok
Hitam yang tak bermoral! Dan ketika wanita ini memekik dan
tubuhnya berkelebat ke depan, Giam Liong membacok tempat
tidur namun laki-laki itu meloncat dan bergulingan di sebelah
sana maka wanita ini mengambil bagian dan kemarahannya
tak dapat ditahan.
"Kedok Hitam, kau keji dan tak berperikemanusiaan!”
Kedok Hitam terkejut. Saat itu ia menghindar dari bacokan
Giam Liong namun ditendang nyonya ini, mencelat dan
membentur tembok dan selanjutnya Swi Cu melengkinglengking
mengejar lawan. Nyonya yang semula menahan diri
tiba-tiba kini me ledak. Han Han, yang terhenyak dan tak
menyangka kekejian Kedok Hitam sampai bengong. Ia
sungguh tak mengira bahwa laki-laki yang dibelanya itu malah
menghina keluarganya. Kamar pribadi ayahnya dipakai untuk
memperkosa. Dan ketika pemuda itu tertegun sementara
ibunya melengking-lengking dengan kemarahan luar biasa,
Beng Tan merah padam dan pucat berganti-ganti maka Giam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liong yang melihat campur tangan wanita ini tiba-tiba
berkelebat, mendorong.
"Bibi, serahkan anjing ini kepadaku!"
Swi Cu terjengkang. Ia berteriak dan marah kepada Giam
Liong namun pemuda ku sudah meloncat ke arah lawan.
Kakinya bergerak dengan langkah sakti Pek-poh-sin-kun dan
Kedok Hitam tahu-tahu pucat mukanya melihat pemuda ini. Ia
kepepet di tembok. Dan ketika ia melotot me lihat kerjanya
Golok Maut, yang menyambar dan membacok lehernya maka
laki-laki ini melolong, tangannya menangkis.
"Ju-taihiap, toloong....!"
Tangan itu putus. Dalam panik dan ketakutannya laki-laki
ini menyambut Golok Maut, tentu saja tak kuat dan siku ke
bawah terlempar mencelat. Sekali bacok Giam Liong telah
membuat laki-laki itu menjerit dan roboh terbanting,
bergulingan. Namun ketika Giam Liong mengejar dan laki-laki
ini semakin ngeri, Giam Liong mengeluarkan tawa aneh maka
kaki kanannya menjadi sasaran dan selanjutnya laki-laki ini
menjadi bulan-bulanan kemarahan Giam Liong. Kamar itu
besar namun tidak cukup besar bagi Kedok Hitam melarikan
diri. Ke manapun ia melempar tubuh ke situ pula ia
membentur tembok atau meja kursi. Akibatnya tentu saja fatal
dan Giam Liong telah membuntungi kaki tangannya. Tubuh
yang semula gagah dan tinggi itu sekarang menjadi pendek.
Golok Maut telah menabas paha dan kedua pangkal lengan
laki-laki ini. Dan ketika untuk terakhir kalinya Giam Liong
tertawa bergelak menyambar kedok laki-laki itu, merenggut
dan membukanya maka bersamaan itu goloknya menyilang ke
kiri kanan ke bawah pusar laki-laki itu, sebelum akhirnya
dilepas dan membabat leher.
"Coa-ongya, sekarang aku menepati janjiku.... crat-crat!"
Bergumpal daging mengiringi pekik ngeri laki-laki ini. Giam
Liong, yang bagai harimau haus darah tiba-tiba telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengakhiri kebuasannya dengan bacokan ke bagian rahasia
laki-laki itu. Darah dan potongan daging muncrat ke manamana.
Swi Cu menjerit dan menutupi muka melihat ini.
Pemandangan itu sungguh membuat orang merasa ngeri, juga
muntah. Dan ketika benar saja nyonya itu membalik dan
muntah-muntah bagian yang amat dibenci Giam Liong telah
menjadi cacahan perkedel maka kepala Kedok Hitam mencelat
dan menggelinding di lantai, berhenti dan menumbuk dinding
dan Han Han terbeliak dengan muka merah kehitam-hitaman.
Pembantaian paling sadis terjadi di depan matanya. Ia sejak
tadi terkesima dan seakan melihat mimpi buruk akan apa yang
ada di depan matanya ini. Tapi begitu pembantaian itu selesai
dan Han Han tersentak, ayahnya juga terkejut dan berseru
keras maka pemandangan lebih mengerikan lagi terpampang
di depan mata. Dan itu adalah perbuatan Giam Liong yang di
luar dugaan. Karena begitu lawan berhasil dirobohkan dan
Golok Maut menancap di dinding, bergetar dan bergoyang
setelah membabat kepala Kedok Hitam maka Giam Liong
berlutut dan menghirup darah lawan. Pemuda itu tertawa dan
menangis dan kedua tangannya ditengadahkan ke atas. Dan
ketika ayah dan anak terpaku tak dapat bergerak maka
terdengarlah tawa atau tangis Giam Liong itu.
"Ibu... ayah... lihatlah. Aku telah membunuh musuh
besarku ini. Lihatlah ia telah kucincang dan aku mereguk
darahnya. Ha-ha, aku telah memjenuhi sumpahku, ibu. Dan
aku sekarang keramas darahnya!"
Benar saja, Giam Liong meraup dan keramas darah lawan.
Ia berlutut di batang leher yang deras mengucurkan darah itu
dan di sinilah ia menggelogok dan mencuci dendamnya. Api
kebencian itu telah lumat. Dendam dan sakit hati itu telah
terbalas. Tapi ketika semua orang merasa ngeri dan seram
oleh tingkah laku pemuda ini, Giam Liong bagai binatang buas
yang menikmati daging segar maka berkelebat sesosok
bayangan dan jeritan nyaring
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Giam Liong...!"
Semua menoleh dan terkejut. Seorang gadis cantik, yang
awut-awutan dan lusuh pakaiannya tiba-tiba berteriak dan
masuk ke kamar itu. Giam Liong juga menengok dan dua
pasang mata beradu di udara, Dan begitu masing-masing
sama terkejut dan tersentak, gadis ini merasa ngeri oleh sikap
Giam Liong maka pandangannya bertumbuk oleh sebuah
kepala di atas lantai, juga Golok Maut yang masih bergetar
dan menancap tembok. Dan begitu ia mengamati kepala itu
dan wajah yang rusak segera dikenalnya, itulah wajah
ayahnya maka gadis ini menjerit, histeri.
"Ayahhh....!"
Semua meremang dan berdiri bulu kuduknya. Yu Yin, gadis
itu, menambah suasana lebih memukau lagi. Gadis ini
menubruk dan mengguguk di situ, memeluk dan menciumi
kepala tanpa tubuh ini dan siapapun mengkirik mendengar
jerit tangisnya. Gadis ini seperti kesurupan. Tapi begitu ia
mendongak dan melihat Golok Maut, golok yang masih
bergoyang dan bergetar menancap tembok tiba-tiba ia
meloncat dan berteriak nyaring.
"Giam Liong, kau membunuh ayahku!", dan bergerak serta
menyentak golok itu, membalik, tiba-tiba Yu Yin telah
menerjang dan membabat leher Giam Liong. Gadis ini marah
bukan main oleh kematian ayahnya. Guncangan yang amat
berat memukulnya. Ia betul-betul shock. Tapi ketika golok
menyambar dan Giam Liong tetap berlutut, pemuda itu
membelalakkan mata maka Han Han dan ayahnya kaget
berseru keras. ,
"Giam Liong, awas..!"
Namun Giam Liong tak bergeming. Pemuda ini mengalam i
perubahan psikis sete lah pembunuhan itu dilakukan. Jiwa
yang semula penuh dendam dan api mendadak padam.
Apalagi sete lah kekasihnya datang ke situ, melihat dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyaksikan apa yang dia lakukan. Dan karena yang dibunuh
adalah ayah kekasihnya pula, orang tua gadis itu maka detak
bagai palu godam menghantam pemuda ini. Api kebencian
dan dendam mendadak sirna. Giam Liong tertusuk oleh
pandang mata kekaslhnya pandang mata kaget dan ngeri
serta macam-macam lagi yang bercampur-aduk. Saat itu juga
semacam kepedihan merobek hati pemuda ini. Giam Liong
tiba-tiba ingin bunuh diri! Dan ketika kebetulan kekasihnya itu
menerjang dan Golok Maut dicabut dan dibacokkan ke
lehernya, pemuda ini tak ingin mengelak maka golok
membabat dan sinar putih panjang meluncur ke leher pemuda
ini. Sekali tersabet tentu Giam Liong menggelinding kepalanya.
Tapi ketika bayangan putih bergerak dan itulah Han Han
yang sadar lebih dulu disusul ayahnya yang bergerak dan
menotok pundak Yu Yin maka Giam Liong selamat tapi Golok
tetap menyambar ke kiri. Putuslah lengan Giam Liong.
"Crak!"
Jerit dan pekik sana-sini menggema di ruangan itu Giam
Liong seketika roboh dan mandi darah dan Yu Yin menjerit
Sama seperti Giam Liong iapun tadinya penuh marah dan
benci. Tapi begitu pemuda itu menerima serangannya dan
tidak mengelak atau menangkis, Giam Liong sengaja
menyerahkan kepalanya maka Yu Yin terpekik dan berseru
tertahan. Pukulan Han Han membuat bacokannya melenceng
sementara totokan Ju-taihiap membuatnya roboh. Golok
mencelat dan dirampas pendekar itu. Dan ketika Yu Yin
menjerit dan sadar akan tindakannya, kemarahan berubah
menjadi kecemasan tiba-tiba gadis itu meraung.
"Giam Liong,... Giam Liong.... jangan tinggalkan aku.
Jangan mati!"
Kamar itu menjadi ribut. Tangis dan raungan Yu Yin
memenuhi segalanya dan heran serta mengejutkan mendadak
ia lepas. T otokan Beng T an melumpuhkannya tapi dengan Piki-
hu-hiatnya
ia
mampu
membebaskan
diri.
Inilah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keistimewaan gadis itu. Dan ketika Yu Yin sudah meloncat lagi
dan menubruk Giam Liong, menguguk dan tersedu-sedu
memeluk pemuda itu mendadak ia membenturkan dahinya
dan ingin mati bersama, mengira pemuda itu tewas.
"Giam Liong, tunggu aku. Biar kita beriring ke akherat!"
Namun sesosok bayangan lain berkelebat. Tang Siu, gadis
baju putih membentak dan berseru nyaring. Sesungguhnya
gadis ini ada di belakang dan kini mencengkeram Yu Yin, tepat
di saat temannya itu membenturkan dahi. Dan ketika gerakan
Tang Siu amatlah tepat karena saat itu Han Han dan ayah
ibunya membelalakkan mata, kamar pribadi ini penuh
gelimang darah dan bau anyir maka Yu Yin tersentak dan
terangkat naik. Gadis itu terkejut dan marah, menjerit dan
meronta namun Tang Siu memberi tahu bahwa Giam Liong
masih hidup. Pemuda itu hanya pingsan dengan buntungnya
lengan, juga tentunya peristiwa demi peristiwa yang bertubi
dialam i. Dan ketika Han Han dan ayahnya juga bergerak dan
mencengkeram puteri Coa-ongya ini, darah di tubuh Giam
Liong bukanlah darahnya sendiri melainkan bercampur dengan
darah orang lain maka gadis itu tertegun namun air mata
tetap deras mengucur. Dan Ju-taihiap berkata dengan suara
serak, menggigil.
"Dia benar, Giam Liong masih hidup. Tapi siapakah
temanmu ini."
Yu Yin menangis. Ia mengguguk dan tak menjawab dan
tiba-tiba pingsan. Kecemasan dan kegembiraan bercampur
menjadi satu, juga kekagetannya melihat kematian ayahnya
itu. Dan ketika ia roboh namun Tang Siu memeluknya, Han
Han tertegun dan berkejap gembira maka pemuda inilah yang
menjawab, lirih,
"Inilah gadis yang kuceritakan itu, ayah. Inilah Tang Siu
yang dulu menolongku dari tangan Eng Hwa. Ia gadis gagah
perkasa yang mengagumkan hatiku!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hm, dia kiranya? Gagah sekali. Tapi maaf, kita harus
keluar dari kamar ini dan biarkan murid-murid membersihkan
dahulu!"
Tang Siu buru-buru memberi hormat, dijawab anggukan
dan gadis itu saling lirik dengan Han Han. Tak diduganya
pemuda itu ada di sini, dan kiranya pemuda ini adalah putera
ketua Hek-yan-pang, pemuda gagah yang ayahnya juga
memiliki nama besar! Dan ketika Han Han mengangguk dan
memberi isyarat kepadanya, kejadian mengerikan di kamar itu
harus dibersihkan maka Tang Siu ditemani Han Han
sementara Beng Tan dan isterinya menolong Giam Liong.
Betapapun rasa tak senang mengganggu suami isteri itu
namun dendam dan kemarahan pemuda itu dapat diterima.
Swi Cu yang mendengar kematian sucinya diam-diam
menangis. Giam Liong dan ibunya sebenarnya dalam
penderitaan batin. Dan karena perbuatan Kedok Hitam juga
sungguh keji sekali, di saat terakhir masih memperkosa dan
menghina mereka maka Beng Tan dan isterinya yang
menolong Giam Liong menjadi iba melihat buntungnya lengan
kici pemuda itu. Meskipun semula mereka merasa tak setuju
dan ngeri oleh tindak-tanduk pemuda ini namun sekacang
semuanya telah berakhir. Bahkan, Giam Liong tadi siap
menyerahkan nyawanya di tangan Yu Yin. Tanda bahwa
sesungguhnya pemuda itu tak akan menjadi "iblis" kalau
bukan karena sesuatu yang benar-benar hebat terjadi,
penderitaan dan kisah malangnya ditinggal ayah ibu. Dan
ketika semua murid membersihkan kamar ketua, kamar bekas
pembantaian amat mengerikan maka Giam Liong sendiri
mendapat perawatan bekas ayah angkatnya.
-0-dw-0-
Tiga hari kemudian. Suasana di Hek-yan-pang masih diliputi
mendung perkabungan. Thio Leng, anak murid Hek-yan-pang
yang tewas telah dimakamkan sebagaimana mestinya. Anak-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
anak murid tak ada yang berwajah cerah namun kejadian itu
menjadi pembicaraan bisik-bisik di antara sesama mereka.
Keberingasan Giam Liong dalam membunuh Kedok Hitam
ramai membuat anak murid bergidik. Kedok Hitam juga sudah
dimakamkan dan atas permintaan Yu Yin gadis itu
menghendaki jenasah ayahnya dikubur di hutan di luar Hekyan-
pang. Yu Yin telah mendengar cerita tentang ayahnya dan
gadis ini malu bukan main. Perbuatan ayahnya yang
memperkosa murid Hek-yan-pang sungguh menampar.
Teringatlah dia akan beberapa saputangan hitam di kamar
ayahnya, saputangan yang biasa dipakai gurunya si Kedok
Hitam yang ternyata juga adalah ayahnya sendiri. Gadis ini
terhuyung dan menutupi muka ketika mendengar cerita itu.
Han Han lah yang bercerita didampingi Tang Siu, karena dua
orang itulah yang selalu menemani dan menjaganya. Dua hari
ini Y u Yin selalu menangis saja. Dan ketika di sana Giam Liong
terserang demam, tak sadar dan menggigil maka Yu Yin
terisak-isak melihat buntungnya lengan pemuda itu, air mata
jatuh berderai.
"Bagaimana dengan dia, apakah betul tidak apa-apa.."
"Giam Liong akan sembuh. T api guncangan jiwanya masih
bergetar, nona. Harap kau menjauh dulu dan biarkan ia
bersama kami," Beng Tan, yang merawat dan menjaga
pemuda itu minta agar Yu Yin tidak sering menengok.
Pendekar itu khawatir ada apa-apa yang tidak baik, kalau
nanti dua orang muda itu sendirian bertemu. Dan karena
demam yang dialami pemuda ini juga butuh pengamatan
cermat supaya tidak meninggi maka sang pendekar memberi
isyarat puteranya agar Han Han membawa dulu puteri Coaongya
itu ke tempat, lain, bersama Tang Siu. Dan Han Han
mengerti.
"Benar, biarlah kita serahkan mereka, Y u Yin. Biarkan ayah
yang nanti memberi tahu kalau Giam Liong sudah sembuh
betul. Lengannya yang luka itu juga butuh perawatan serius."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan aku yang membuntunginya. Ooh, aku menyesal, Han
Han. Aku ingin menukarnya dengan tanganku sendiri. Ooh,
aku berdosa kepada Giam Liong!"
"Hm, sudahlah. Semua dalam keadaan tak sadar. Kalau
sadar tentu tidak begitu. Mari kita keluar dan berjaga di
tempatmu saja."
Yu Yin terisak-isak. Dia juga baru saja sembuh dari demam
setelah peristiwa hebat itu terjadi. Pukulan dan guncangan
menghantam batinnya. Kalau tak ada Han Han dan ayah
ibunya di situ barangkali ia dapat gila. Dan karena Tang Siu
juga selalu menghibur dan inilah teman wanita satu-satunya
yang paling setia, Y u Yin dapat menumpahkan perasaannya di
situ maka kepada gadis inilah Yu Yin berbagi duka.
"Aku malu kepada Ju-taihiap. Aku sebenarnya ingin
menyingkir jauh-jauh!"
"Kenapa?"
"Ah, sepak terjang ayahku membuatku malu seumur hidup,
Tang Siu. Bayangkan ia telah menghina keluarga ini padahal
Han Han membelanya!"
"Hm, sudahlah. Tak usah kita bicarakan ayahmu, Yu Yin.
Apa yang telah lewat tak usah dibicarakan lagi. Aku ingin
bertanya apa yang akan kaulakukan kalau nanti Giam Liong
sembuh."
"Aku... aku..." gadis itu berhenti, tiba-tiba bercucuran air
mata. "Aku ingin minta maaf, Tang Siu. Tapi aku tak dapat
mengembalikan lengannya itu!"
"Bagus, kau tak akan membunuhnya, bukan?"
"Apa? Gila! Aku tak mungkin melakukan itu. Aku tahu sepak
terjang ayahku yang sebenarnya!"
"Kalau begitu aku tak khawatir lagi. Dan aku dapat
melepasmu bersama Giam Liong tanpa ganjalan lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau mau ke mana?" Yu Yin tiba-tiba tertegun
mencengkeram gadis ini. "Bicaramu aneh, Tang Siu. Kau
seolah mau pergi!"
Gadis ini menarik napas dalam, tersenyum, pahit. "Kau
menghendaki bagaimana, Yu Yin? Masa kita harus selalu
berkumpul berdua? Aku sudah rindu guruku, aku ingin pulang
ke Kun-lun. Dan tentunya tak mungkin kita harus terusterusan
di sini. Ini rumah orang, kita tamu. Kaupun harus
pergi kalau Giam Liong sembuh!”
Yu Y in tiba-tiba sadar. Mendadak ia menjerit dan memeluk
kencang temannya ini. Perpisahan itu tiba-tiba terasa dan Y u
Yin mengguguk. Namun ketika dengan lembut gadis Kun-lun
ini membelai rambutnya maka Tang Siu berkata,
"Yu Yin, tak ada orang berkumpul selamanya, seperti juga
tak ada orang berpisah selamanya. Kalau kau sudah tidak
mengganggu Giam Liong lagi aku lega dan tidak merasa
khawatir. Kita tentu harus berpisah. Aku bertahan di sini
semata karena ingin menemanimu. Aku turut prihatin atas
nasib burukmu."
"Terima kasih. Tapi.... tapi tak kuat rasanya kalau aku
berpisah denganmu, Tang Siu. Kau sahabat dan pelindungku
paling setia. Aku berhutang banyak budi kepadamu!"
"Hush, omongan apa ini? Kau dan aku sama-sama wanita,
Yu Yin, dan aku dapat merasakan penderitaanmu. Kita
berjodoh untuk bertemu, dan aku kagum kepadamu!”
"Kagum? Ah, kagum kepada seorang puteri manusia sesat?
Aduh, jangan mengejekku, Tang Siu. Akulah yang kagum dan
hormat kepadamu. Kau benar-benar seorang pendekar gagah
dan gadis mengagumkan. Aku iri kepada orang tuamu yang
melahirkanmu!"
"Hm, aku tak tahu siapa orang tuaku. Aku sudah diambil
murid sejak kecil oleh guruku. Sudahlah, aku benar-benar
kagum kepadamu, vYu Yin. Kagum bahwa kau berbeda jauh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan ayahmu. Kau sebutir mutiara di tengah-tengah lumpur
yang kotor. Dan kau tak terpikat oleh segala kesenangan atau
kemewahan istana. Kau puteri bangsawan yang bersahaja.
Dan inilah yang mengagumkan hatiku!"
"Ah, tak seberapa dibanding dirimu, Tang Siu. Aku merasa
tetap ditempeli dosa ayahku itu. Apa kata orang kalau ingat
kekejamannya!"
"Orang tak akan mengingat-ingat itu. Kau adalah pribadi
yang lain dan tidak seperti ayahmu. Kau berbeda! Kau
sekuntum mawar harum yang kebetulan hidup di tengahtengah
pecomberan!"
"Sudahlah, tak usah memuji-mujiku, Tang Siu. Yang jelas
aku tak mau lagi tinggal di istana. Segala gelar dan sisa-sisa
kebangsawananku akan kucopot. Aku ingin hidup jauh dari
istana, sebagai wanita biasa!"
"Maksudmu kau tak.pulang ke rumah?"
"Benar."
"Kalau begitu ke mana?"
"Aku hendak mengikuti Giam Liong, Ke mana dia pergi ke
situlah aku hidup, Aku... aku ingin menebus dosa kepadanya!"
Tang Siu terharu. Tiba-tiba ia memeluk dan mencium
sahabatnya ini. Air mata meleleh dan cinta yang besar
dilihatnya di s itu. Memang sejak dulu Giam Liong dan gadis ini
sebenarnya saling cinta. Dan teringat betapa Yu Yin siap
menerjang bahaya demi pujaannya itu, tak takut dan gentar
membela Giam Liong maka bayangan Han Han muncul. Tadi
pemuda itu meninggalkan mereka sebentar.
"Ayah memanggil Yu Yin, sendiri. Mohon kalian keluar dan
aku ingin bercakap-cakap sebentar denganmu."
Tang Siu tertegun. "Yu Yin?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, ia, Tang Siu. Dan aku ingin bercakap-cakap sebentar
denganmu. Ada sesuatu yang penting!"
Dua gadis itu bangkit berdiri. Yu Yin malah girang karena
mungkin Giam Liong sudah sadar. Dan begitu Han Han
mempersilahkannya dan ia bergerak keluar, menghapus air
matanya maka Han Han mengajak Tang Siu ke taman, di
belakang bangunan. Dan ketika gadis ini mengikuti dan
oerdebar karena ada sesuatu yang dirasakan, Han Han tidak
seperti biasa dan dua kali menumbuk batu, terpelanting dan
hampir jatuh maka di sebuah tanaman anggrek pemuda ini.
berhenti. Dan alangkah herannya T ang Siu melihat wajah Han
Han yang merah dan pucat berganti-ganti.
"Eh, kau sakit, Han Han? Kau tidak enak badan? Kau mau
diserang demam juga?"
"Tidak," suara Han Han gemetar dan seperti orang
kedinginan, menggigil. "Aku ... aku hendak bertanya
kepadamu, Tang Siu. Benarkah kau hendak pulang ke
Kunlun!"
"Eh!" gadis ini terkejut, melengak., "Kau mendengar
pembicaraan itu?"
"Maaf, tadi aku hendak masuk ketika kalian tampak
berangkulan, Tang Siu. Aku berhenti di luar dan terpaksa
menunggu. Dan... dan aku mendengar kata-katamu tadi."
"Hm, ada apakah," gadis ini tak mengerti, merasa heran.
"Bukankah wajar dan itu bukan hal aneh. Masa aku harus
selalu menumpang di Hek-yan-pang. Aku tamu, malah
sebenarnya tak diundang!"
"Kau.... kau tidak senang di sini?"
Gadis ini terkejut, dua mata beradu. Dan ketika Tang Siu
melihat sorot aneh di mata Han Han, seperti bingung atau
penuh permohonan maka dia menahan detak jantungnya
karena tiba-tiba ada sambaran mesra di mata putera ketua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hek-yan-pang ini. Dan Tang Siu tiba-tiba menggigil, ikut tak
keruan.
"Han Han, apa sebenarnya maksudmu. Aku jadi bingung
mendengar kata-katamu. Apa yang hendak kau tuju!"
"Aku... aku..." Han Han tercekik. "Aku sedih mendengar
kata-katamu tadi, Tang Siu. Apakah kau tak kerasan di sini,
tak senang!"
"Tentu saja aku senang, tapi..."
"Tapi bagaimana kalau tidak buru-buru pergi dulu? Aku
mengharap lebih lama lagi kau tinggal di sini, Tang Siu.
Syukur kalau selamanya?"
"Han Han...!"
Namun Han Han tiba-tiba menyambar dan mencekal
lengannya. Ada sesuatu yang berat diperjuangkan pemuda itu
dan
ketika
Tang
Siu
terkejut
tiba-tiba
Han
Han
menggenggamnya erat-erat. Aneh sekali, Han Han tiba-tiba
menangis! Dan ketika pemuda itu memejamkan mata dan
Tang Siu tak mampu melepaskan tangannya, gadis ini
berdetak dan menggigil maka Han Han berkata, terputusputus,
tersedak, "Tang Siu, aku.... aku hendak menyatakan
apa yang selama ini mengganggu perasaanku. Aku... aku
hendak menyatakan cinta! Apakah kau menerima cintaku?
Apakah... apakah kau mau tinggal lebih lama di sini? Aku
butuh jawabanmu, Tang Siu. Atau nanti aku bisa mati berdiri
dihimpit perasaan ini!"
Tang Siu menjerit tertahan. Rasa heran dan kagetnya tibatiba
menjadi perasaan terkejut. Mukanya seketika merah
padam dan tiba-tiba ia membetot lepas tangannya itu. Dan
ketika Han Han terkejut dan membuka mata, ia menyatakan
cinta bagai seorang dusun berhadapan dengan seorang
panglima perang maka Han Han tersentak melihat gadis itu
melarikan diri, menangis, masuk kamar!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tang Siu...!"
Putera Ju-taihiap yang gagah ini berdetak. Ia kaget dan
penasaran oleh sikap gadis ini dan Han Han tentu saja
mengejar. Han Han jatuh lagi ketika keserimpet akar-akaran,
gugup dan bangun dan mengejar lagi dengan muka berubah.
Ada ra-sa takut di hati pemuda itu. Ada rasa terpukul. Dan
ketika hampir saja Han Han menabrak pintu kamar yang
dibanting, pemuda ini berteriak maka dilihatnya gadis Kun-lun
itu mengguguk di tempat tidur. Kepalanya dibenamkan di
bawah bantal!
"Tang Siu, aku... aku salah apa..." Han Han lupa menutup
pintu kamar, berlutut dan bertanya dan mukapun merah pucat
tak keruan. Seumur hidup baru kali ini menyatakan cinta tibatiba
saja mendapat sambutan seperti itu. Kontan Han Han
bingung. Dan ketika murid Yang Im Cinjin ini berbisik dan
kembali bertanya, gemetar, aneh sekali Tang Siu ma lah
tersedu-sedu. Dan Han Han malah mematung.
"Sst...!" sebuah panggilan tiba-tiba mengejutkan. "Kemari,
Han Han. Tinggalkan dia sebentar!"
Han Han menoleh. Dia kaget lupa menutup pintu kamar
dan Ki Bi, bibinya muncul di situ. Dan ketika wanita itu
menggapainya agar dia keluar, Han Han bangkit dan
membiarkan Tang Siu mengguguk maka di luar pintu kamar
wanita itu berbisik,
"Berikan bunga ini kepadanya. Kalau dia menolak berarti
tak cinta tapi kalau diterima berarti cintamu tak bertepuk
sebelah tangan!"
"Bibi tahu?"
"Aku pernah muda, Han Han, dan aku tentu saja tahu
watak..wanita. Berikanlah, dan cepat masuk lagi!"
Sang bibi menghilang. Di genggaman tangan Han Han
terdapat setangkai mawar merah yang segar dan sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkembang. Harumnya menyengat hidung dan Han Han
kagum sekali akan bunga ini. Namun, meng gigil dan masuk
lagi, berjingkat, Han Han kembali berlutut dan isak atau tangis
gadis itu reda. Rupanya Tang Siu heran dan curiga juga
kenapa suara Han Han tiba-tiba hilang. Ke manakah pemuda,
itu. Dan ketika ia menggerakkan kepalanya dan melirik, dari
bawah bantal, mendadak saja Han Han menyusup di situ dan
dua-duanya terkejut. Lucu. Dan Tang Siu tiba-tiba terkekeh,
kaget tak dapat menahan geli!
"Heii.!" keberanian Han Han seketika bangkit, gadis itu
meloncat dan lari keluar kamar. "Ada apa, Tang Siu. Kenapa
menangis dan kini tertawa. T unggu, aku membawa sekuntum
bunga!"
Namun gadis itu tak menoleh. Han Han harus berjungkir
balik dan menghadang di depan kalau ingin menghentikan
gadis ini. Dan ketika benar saja Tang Siu menjerit hampir
menabraknya, gadis itu menahan larinya maka Han Han
gembira menawarkan bunga mawarnya itu. Sikap Tang Siu
mengembalikan keberaniannya.
"Aku hendak mengulang pertanyaanku tadi. Kalau kau
menerimanya harap terimalah persembahan ini. Namun kalau
kau menolaknya harap dibanting dan dicampakkan!"
Tang Siu tertegun. Ia merah padam melihat mata Han Han
yang bersinar-sinar. Mata itu masih lembut dan penuh mesra,
tak mampu ia melawannya. Dan ketika ia menunduk dan Han
Han menyusupkan bunga mawarnya, bau harum menyengit
hidung tiba-tiba Tang Siu menangis dan memejamkan mata.
Mawar itu dicekal erat-erat!
"Ting Siu...!" Han Han girang bukan main. Hatinya serasa
melonjak dan tentu saja pemuda ini me lompat. Dan ketika ia
menubruk dan menyambar kekasihnya, Tang Siu tersedusedan
maka Han Han bertanya kenapa gadis itu menangis.
"Aku... aku bahagia...'."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bahagia?"
"Ya, sekarang tercapai keinginanku, Han Han. Kenapa baru
sekarang kau bilang. Aku... aku sebenarnya menunggununggu..!"
"Ha-ha, kau malah membuat aku bingung. Aduh, tadinya
kusangka ditolak, T ang Siu. Dan aku jadi gemetar tak keruan.
Eh, kau harus dihukum!" dan Han Han yang memberanikan
diri mencium pipi s i gadis tiba-tiba membuat Tang Siu menjerit
dan meronta, tak dilepaskan dan Han Han mencium lagi dan
akhirnya dua muda-mudi ini tertawa. Kegembiraan dan
kebahagiaan besar terjadi di situ. Han Han nyaris mabok. Dan
ketika ia hendak mencium bibir kekasihnya namun Tang Siu
berontak, ada orang di belakang maka Han Han menurunkan
kekasihnya dan dengan tersipu-sipu ia melihat bibinya di situ,
Ki B i.
"Maaf, kau dipanggil ayahmu, Han Han. Ada sesuatu yang
hendak dibicarakan."
"Tak usah, aku sudah di sini!" ketua Hek-yan-pang tahutahu
muncul, berdiri di belakang Ki Bi, seperti setan. "Ada
panggilan untukmu, Han Han. Ada tamu penting. Dan kalian
rupanya sudah saling mengikat janji!"
"Ah," Han Han dan Tang Siu tersipu-sipu, apalagi gadis ini,
seperti kepiting direbus! "Tamu siapa, ayah. Dan kenapa kau
sendiri sampai datang memanggilku!"
"Aku tak sabar menyuruh bibimu Ki Bi. Dan aku ingin
memanggilmu sendiri. Giam Liong telah sadar dan iapun ingin
bertemu denganmu."
"Giam Liong? Bagus, aku ke sana, ayah. Tapi bagaimana
dengan Yu Yin!"
"Ia sudah di sana."
"Dan ibu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ibu mu juga di sana. Sudahlah, cepat datang dan
kuberitahukan
ibumu bahwa sebentar lagi
ia akan
bermenantu!" Beng Tan tersenyum dan berkelebat, lenyap
meninggalkan dua muda-mudi itu dan Ki Bi tertawa ditahan.
Wanita inipun berkelebat dan lenyap meninggalkan Han Han
dan T ang Siu malu bukan main diketahui orang-orang tua itu.
Dan ketika ia mendesis mencubit Han Han, bertanya apakah
ayahnya tadi tahu ia mencium pipinya maka Han Han tertawa
lebar.
"Memangnya kenapa? Kau kini kekasihku, moi-moi. Dan tak
apa ayah ibuku , tahu. Toh nanti aku harus menciummu lagi di
pelam inan!"
"Apa? Di depan banyak orang? Cih, tak tahu malu. Jangan
kurang ajar!"
"Eit-eit, ini adat, peraturan. Masa aku harus mencium
nenek-nenek kalau yang bersanding adalah isteriku yang
cantik ini. Ha-ha... aduh, tobat, Siu-moi. Ampun, lepaskan
cubitanmu. Aduh, bengkak tanganku!"
Ternyata saking gemas dan malunya gadis ini mencubit
Han Han. Begitu orang-orang tua itu pergi kontan Tang Siu
melampiaskan jengah dan malunya kepada Han Han. Ia
mencubit begitu keras sampai kulit Han Han matang biru. Tapi
ketika pemuda itu berteriak dan melolong-lolong, anak murid
berdatangan maka. Tang Siu melepaskan cubitannya dan Han
Han tertawa menggoda.
"Hayo, cubit lagi. Biar mereka menjadi saksi!"
Tang Siu merah padam. Akhirnya ia melompat dan pergi
dari tempat itu sambil memaki Han Han. Murid-murid tertegun
tapi tertawa melihat apa yang terjadi. Kiranya putera Hek-yanpang
ini telah mendapatkan pujaannya. Diam-diam di tempat
itu memang telah tersebar bisik-bisik bahwa alangkah
cocoknya putera ketua mereka bersanding dengan murid dari
Kun-lun itu. Kejadian di kota raja telah mereka dengar dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keberanian serta kelihaian Tang Siu menjadi buah bibir. Dan
ketika kongcu merek bercanda riang dengan gadis ini,
melompat dan pergi maka Han Han sendiri sudah tidak raguragu
atau canggung lagi mendekati kekasihnya. Dengan
terang-terangan ia menggandeng dan membawa kekasihnya
itu, mesra. Anak-anak murid perempuan banyak yang iri
namun mereka tahu keadaan. Diri mereka tidak cukup pantas
dibandingkan putera sang ketua yang gagah dan tinggi
kepandaiannya itu. Dan ketika Han Han masuk dan memenuhi
panggilan ayahnya, sang kekasih mula-mula malu dan likat
tiba-tiba sang calon ibu mertua bangkit dan berdiri,
menyambut.
"Han Han, ibu mengucap gembira bahwa kau telah
mendapatkan pasangan yang cocok. Ayahmu telah memberi
tahu dan biarkan ia duduk di dekat ibu. Lihatlah, siapa yang
datang!"
Han Han dan Tang Siu merah semburat. Gadis ini masih
berdenyar-denyar oleh kebahagiaannya sendiri tapi begitu ia
memandang seorang kakek berjubah emas mendadak gadis
ini terkejut. Seorang tosu berwajah lembut ada di situ, duduk
dekat ketua Hek-yan-pang. Dan ketika Han Han juga terkejut
karena seorang kakek lain bermuka merah duduk di sebelah
kanan ayahnya, tersenyum dan berseri-seri mendadak dua
muda-muda ini langsung menjatuhkan diri berlutut.
"Suhu...!"
"Suhu!"
Hampir serempak keduanya berseru. Han Han, yang
mengenal gurunya di situ langsung memberi hormat dan
terkejut. Sementara kekasihnya, yang juga melihat gurunya di
situ langsung memberi hormat dan girang bukan main. Gadis
ini tak menyangka bahwa Kim-sim Tojin, gurunya, muncul dan
datang di Hek-yan-pang. Dan ketika ia menubruk dan dieluselus
gurunya, Yang Im Cinjin tertawa dan menepuk-nepuk
pundak Han Han maka kakek itu berseru,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Han Han, lama sekali pinto harus menemui Kim-sim
totiang. Pinto jauh-jauh hari telah memberikan lamaran,
mendahului ayah ibumu. Maaf kalau pinto dianggap lancang
tapi kini pinto telah membuktikan kepada Kim-sim totiang
bahwa apa yang pinto lihat adalah benar!"
"Ha-ha, Yang Im toheng sungguh waspada, aku kalah. Tapi
bagaimana, tak ingin bukti kalau jni menyangkut kebahagiaan
anak-anak muda. Maaf, selanjutnya biar Kuserahkan muridku
ini, toheng. Urusan cinta adalah urusan anak muda. Nanti
akan pinto tanya dan beri jawabannya!"
Dua kakek-kakek itu tertawa bergelak. Mereka rupanya
sudah tahu lebih dulu dan Han Han maupun Tang Siu saling
lirik dengan muka kemerah-merahan. Baru sekaranglah Han
Han tahu guru dari kekasihnya ini, seperti juga T ang Siu yang
baru kali itu mengenal Y ang Im Cinjin atau Im Yang Cinjin ini,
karena kakek sakti itu memang sering disebut dengan dua
nama. Namun ketika seseorang terisak di sana, Yu Yin terlihat
dua muda-mudi ini maka semua terdiam dan Han Han
tertegun melihat Giam Liong, yang duduk di sudut, lengan
kirinya terbalut.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 32 tmt
"GIAM LIONG...” sapaan Han Han lirih dan lembut. Pemuda
ini memandang putera mendiang Golok Maut itu dan Giam
Liong mengangguk. Tak ada pancaran kegembiraan di wajah
Giam Liong. Si Naga Pembunuh ini muram. Dan ketika Tang
Siu juga me lihat Yu Yin dan gadis itu beringsut mendekati
murid si Kedok Hitam ini maka Yu Yin tiba-tiba tersedu!
"Tang Siu, aku.... aku terpukul oleh semuanya ini!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tenanglah..." gadis itu memeluk, merangkul sahabatnya
ini. "Semuanya telah terjadi, Yu Yin. Semuanya telah lewat.
Aku turut bersedih tapi semua harus diterima dengan tabah”
"Aku tahu, tapi.... tapi ayah..."
"Ayahmu telah tiada, Yu Yin. Tak usah dipikirkan itu."
"Tidak...
tidak,
bukan
itu.
Aku...
aku
teringat
kekejamannya, Tang Siu. Ooh, ia ..... ia keji dan jahat benar.
Aku tak dapat melupakan kekejamannya. Dan ia... ia ternyata
guruku pula!"
Yu Yin mengguguk dan jatuh di pelukan sahabatnya.
Ternyata ia tidak menyesali kematian ayahnya melainkan
menyesali sepak terjang dan kejahatannya. Gadis itu
mengalami pukulan berat karena guru yang ternyata ayahnya
itu juga adalah seorang kejam dan tidak berperasaan. Dulu dia
hendak melapor kepada ayahnya ketika gurunya membelejeti
pakaiannya, tak tahunya gurunya itu adalah juga ayahnya.
Dan betapa ayahnya juga memperkosa ibu Wi Hong dan
belum kejahatan-kejahatan lain yang tak terhitung banyaknya,
kecurangan dan kelicikan yang tak pantas dimiliki seorang
bangsawan maka Yu Yin tersedu-sedu dan hancur serta
terpukul berat. Ayahnya ternyata adalah gurunya. Dan bahwa
guru atau ayahnya itu juga memperkosa Thio Leng, murid
Hek-yan-pang di mana Hari Han dan ayahnya menolong
gurunya itu maka kehancuran sekaligus kemarahan gadis ini
tak tertahankan lagi. Dia serasa ingin mencekik dan
membunuh ayah sekaligus gurunya itu. Yu Yin seakan ingin
menghancurkan kepala ayahnya. Betapa jahat ayahnya itu!
Dan teringat bahwa guru sekaligus ayahnya ini amatlah jahat,
tak heran kalau Giam Liong sampai mendendamnya
sedemikian rupa tiba-tiba Yu Yin ingin mati saja kenapa dia
dilahirkan dari benih laki-laki seperti itu. Kalau bisa, ia ingin
kembali ke rahim ibunya dan minta dibatalkan. Kalau bisa ia
tak perlu lahir! Dan ketika ia mengguguk dan tersedu-sedu
menceritakan semuanya itu, melepas dan mengurangi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
himpitan batinnya maka Tang Siu juga me leleh air matanya
dan murid Kim-sim Tojin ini tak dapat bicara. Namun
untunglah, Ju-hujin bangkit berdiri dan mengelus gadis ini.
"Yu Yin, tak perlu lagi mengingat-ingat segala perbuatan
ayahmu. Kami telah mengampuninya. Dia telah tiada. Biarkan
arwahnya mencari ketenangan di sana dan jangan diganggu
dengan kebencianmu itu. Jelek-jelek ia ayahmu, tak baik
mengutuk atau mencaci. Diamlah dan lihat dua kakek ini
hendak bicara kepadamu, juga Giam Liong."
Gadis itu mengangkat mukanya. Ia bertemu pandang
dengan isteri ketua Hek-yan-pang ini dan Yu Yin menjerit.
Pandang mata lembut dan penuh keharuan terdapat di situ,
tak kuat ia. Dan ketika Yu Yin ganti menubruk dan tersedusedu
di pelukan wanita ini maka Swi Cu menahan pula
runtuhnya air mata.
"Sudahlah.... sudahlah, Yu Yin. Hapus air matamu itu dan
mari dengarkan apa yang hendak dibicarakan dua orang tamu
kita. Mereka menanti kesempatan. Han Han dan Tang Siu
sekarang ada di sini."
Yu Yin masih tak mampu menahan dirinya. Ia masih juga
tersedu-sedu dan mengguguk di pelukan nyonya itu dan
barulah setelah Ju-taihiap batuk-batuk gadis ini reda
tangisnya. Beng Tan berkata biarlah yang lewat tetaplah
lewat, yang akan datang masih menunggu mereka dan ini
harus disongsong. Dan ketika Yu Yin tertegun karena itu
benar, masih ada hari esok buat mereka maka dia tinggal
terisak-isak kecil ketika ditepuk-tepuk pendekar ini, yang juga
bangkit dan mendekatinya.
"Sudahlah, simpan air matamu untuk hal lebih penting. Jiwi
totiang ini membawa sesuatu untuk kalian, Yu Yin. Lihat
dan dengarkan mereka."
"Ji-wi locianpwe membawa apa?"
"Sesuatu yang penting. Dari Bu-beng Sian-su."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bu-beng Sian-su? Kakek dewa itu?"
"Benar," Yang Im Cinjin tersenyum, mendahului tuan
rumah. "Ada yang kami bawa, anak baik. Tapi sebenarnya
kami hanya bersifat pengantar. Kami membawa oleh-oleh dari
kakek dewa itu."
Yu Yin menghentikan tangisnya dan otomatis terdiam.
Sekarang dia sudah menguasai hatinya lagi dan perasaannya
ringan. Hiburan dan kata-kata sahabatnya di situ amatlah
menyejukkan. Beruntung bahwa dia masih ditemani orangorang
gagah ini. Bagaimana kalau mereka mencapnya sebagai
keturunan laki-laki jahat dan dianggap jahat pula. Tentu
akan dijauhi!
Ketika gadis itu merasa sejuk ada orang-orang yang masih
mau mendekatinya, penuh sayang dan perhatian maka Yu Yin
melepaskan ibu Han Han dan duduk lagi dengan baik. Kini ia
diapit Tang Siu dan nyonya itu, Ju-taihiap telah kembali duduk
di tempatnya.
"Kami datang atas dua hal," Yang Im Cinjin mulai bicara,
menarik napas dalam. "Pertama adalah melihat murid-murid
kami yang bertaut jodoh sedangkan yang kedua adalah
mengantar sesuatu dari Bu-beng Sian-su, guru dari Jutaihiap."
"Hm, Sian-su tak mau kuanggap guru," ketua Hek-yanpang
menggeleng dan membenarkan. "Kakek dewa itu
menganggap setiap orang dapat menjadi guru bagi dirinya
sendiri, totiang. Ia aneh dan tak mau kusebut suhu (guru)!"
"Benar, tapi kau telah mempelajari beberapa ilmu-ilmunya.
Meskipun ia tak mau disebut guru tapi taihiap tentu akan tetap
menganggapnya demikian. Orang yang rendah hati selamanya
begitu!"
"Dan pinto baru kali itu pula bertemu dengannya. Aihh, ia
hebat benar!" Kim sim Tojin, guru dari Tang Siu berseru
kagum, menyambung. "Pinto ingin bertemu lagi, taihiap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sayang, ia pergi dan kesempatan bicara belum pinto dapatkan
lagi!"
"Hm, apa yang ia bawa," ketua Hek-yan-pang tertarik,
wajahnya berseri. "Oleh-oleh apa yang hendak diberikan
kepada kami, totiang. Bolehkah kami tahu!"
"Tentu, tapi sebenarnya ini khusus buat pemuda itu, juga
gadis itu. Hanya kalian semua boleh tahu dan biarlah sekarang
kubuka," Yang Im Cinjin merogoh saku bajunya, memandang
ke arah Giam Liong dan Yu Yin karena dua orang itulah yang
dimaksud, terutama Giam Liong. Dan karena Han Han kini
juga beringsut dan duduk di dekat Giam Liong, menemani
pemuda itu terharu oleh kebuntungannya maka Yang Im
Cinjin menyerahkan secarik kertas kepada Giam Liong,
diterima dengan tenang-tenang saja meskipun sebenarnya
Giam Liong berdetak.
"Dari Sian-su, locianpwe? Untuk aku?"
"Begitu katanya, dan nanti dua tiga hari lagi kakek itu
datang kepadamu."
"Terima kasih, surat apakah ini." Giam Liong membuka,
menjentik dan tertegun karena surat yang diterimanya itu
tidaklah berisi apa-apa. Isinya hanya tiga baris syair dan tentu
saja dia berkerut kening. Isi syair itu bicara tentang dendam.
Dia terkejut! Namun karena dia tidak mengerti apa arti
pemberian ini dan ke mana kakek itu hendak membawanya,
Giam Liong belum berjumpa si kakek dewa maka dia
mengangkat mukanya memandang Yang Im Cinjin. Sorot
matanya memancarkan keheranan.
"Aku tak melihat apa-apa. Surat ini hanya berisi sebuah
syair. Apa maksudnya dan apakah locianpwe tahu."
"Hm, inti ceritanya adalah dendam. Dan jelas yang dituju
adalah kau. Pinto belum jelas ke mana kakek itu
membawamu, Giam Liong. Dan agaknya kau harus
berhadapan sendiri dengan kakek itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Syair apakah," nyonya rumah tiba-tiba bertanya, teringat
bahwa duapuluh tahun yang lalu Bu-beng Sian-su juga pernah
memberi syair kepada mereka. "Bolehkah aku tahu dan
apakah isinya!"
"Silahkan," Giam Liong mengangguk dan memberikan
itu. Han Han sekilas telah membacanya. "Isinya menyeramkan
aku, bibi. Aku tak mengerti tapi agaknya memang aku yang
dituju."
"Hm," alis nyonya itu segera berkerut, matanya bersinarsinar.
"Sama seperti kita dulu, suamiku. Sebuah pelajaran
yang tentu penting!"
"Apakah itu," Beng Tan tertarik dan bersinar-sinar pula.
"Dapatkah kau baca dan biar kudengar."
"Aku agak ngeri. Biar Giam Liong saja yang membaca!"
"Atau aku saja," Yu Yin berseru dan tak tahan ingin tahu
pula. "Tadinya katanya untuk aku dan Giam Liong, bibi. Biar
kulihat dan kubaca!"
Swi Cu mengangguk. Ia menyerahkan dan membiarkan Yu
Yin membaca. Dan ketika gadis itu membaca namun masih di
dalam hati, belum bersuara maka Ju-tai-hiap berseru dan tak
sabar. Semua kini telah melihat dan mengetahui.
"He, baca, Yu Yin. Bagaimana isinya!"
Yu Yin sadar. Akhirnya ia membeber kertas itu dan dengan
wajah agak takut ia membaca. Dan begitu ia mengeluarkan
suara maka Yang Im Cinjin maupun Kim-sim Tojin
mengangguk-angguk:
Api memercik di sudut hati
merayap cepat membakar bumi
musnahlah sudah kasih dan budi
tinggallah jiwa yang penuh benci
Dendam kesumat membawa laknat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hancur periuk ditimpa genta
sudah kodrat datang menjerat
celakalah badan rusak binasa
Satu jalan melepaskan diri
membuang racun lekatkan jari
taruh di tengah sang dewa cinta
siap dan tenang menebus dosa!
"Hm, menyeramkan!" Ju-taihiap mengangguk-angguk,
berdesir. "Benar katamu, Giam Liong. Syair itu menyimpan
sesuatu yang menggetarkan hati. Aku juga merasa seram!"
Yu Yin menutup dan melipat kertas itu. Ia telah selesa i
membaca dan dua kakek di sana mengangguk-angguk.
Mereka telah tahu itu karena sebelumnya memang telah
membaca. Syair itu boleh diketahui semua orang karena
memang untuk semua orang, meskipun Giam Lionglah yang
dituju karena kebetulan pemuda itu sebagai pelaku yang
menonjol, begitu agaknya. Dan ketika Beng Tan menarik
napas dalam-dalam dan Han Han berkerut kening, dia juga
merasa seram tapi tak jelas apa yang hendak dituju lebih
lanjut oleh Bu-beng Sian-su maka pemuda inipun berkata,
"Isinya tentang kebencian dan dendam kesumat. Tapi apa
arti dari bait ketiga!"
"Ya, aku juga belum tahu. Tapi tentu penting!" sang ayah
menjawab.
"Hm, pinto dapat menangkap maksudnya, taihiap. Tapi
pinto tak berani bicara dan biarlah kakek itu sendiri yang
menjawab," kata Yang Im Cinjin.
"Aku juga dapat menangkap. Tapi kurang pantas rasanya
kalau lancang mendahului!" Kim-sim Tojin juga menganggukangguk.
"Apakah ji-wi locianpwe tahu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kami pikir begitu, karena kami adalah orang-orang tua.
Kami telah banyak makan asam garam dunia tapi biarlah Siansu
sendiri yang akan menerangkan."
Beng Tan mengangguk-angguk. Itu adalah etika dan
sebagai sesama orang tua tentu saja Kim-sim Tojin maupun
Yang Im Cinjin tak mau lancang. Dan karena dia diharuskan
berpikir dan diapun sudah berpikir, puteranya dan lain-lain
berkerut kening dan juga berpikir maka Yang Im Cinjin
tertawa mengebutkan lengan. Minuman dan makanan kecil
telah dihabiskan.
"Taihiap,
urusan pinto telah selesai.
Pinto telah
membuktikan kepada Kim-sim totiang dan kini menyampaikan
oleh-oleh itu kepada yang bersangkutan. Pinto hendak pergi
dulu dan biarlah seminggu dua minggu lagi kita bertemu."
"Eh!" Beng Tan terkejut. "Locianpwe mau ke mana?"
pembicaraan tentang syair tiba-tiba buyar. "Jangan tergesagesa,
locianpwe. Kami masih ingin kautemani!"
"Ha-ha, pinto masih ada urusan sedikit. Dan di sini
puteramu Han Han telah menemani. Biarlah pinto pergi dulu
dan nanti seminggu dua minggu kita bertemu lagi!"
Bangkit berdiri tiba-tiba kakek itu tak menanti jawaban. Ia
telah mengangguk kepada tuan rumah dan juga Kim-sim
Tojin. Dan begitu ia mengangguk kepada yang lain dan
berkelebat lenyap maka kakek i-tupun tak mau tinggal lagi.
"Han Han, aku pergi dulu. Dan kau Giam Liong, pinto turut
prihatin atas semua yang menimpamu!"
Giam Liong dan Han Han membelalakkan mata. Mereka tak
menyangka bahwa secepat itu kakek itu pergi. Tapi karena
orang-orang sakti memang membawa adat sendiri-sendiri dan
mereka itu biasanya tak dapat dikekang, nyonya rumah dan
lain-lain juga terbelalak maka Han Han bangkit berseru pada
gurunya, Giam Liong juga berdiri dan menghadap ke arah
mana kakek itu berkelebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suhu, teecu masih ingin melepas kangen kepadamu.
Jangan lama-lama!"
"Dan terima kasih atas pemberianmu, locianpwe. Aku juga
ingin bertemu lagi dan bicara tentang pelajaran-pelajaran
bijak!"
"Ha-ha!" kakek itu tahu-tahu sudah diluar pulau, cepat
sekali. "Pelajaran bijak akan kaudapatkan dari Bu-beng Siansu,
Giam Liong. Aku tak mempunyai pelajaran apa-apa kecuali
nasihat dan sekedar wa-was pandangan. Hati-hatilah
menghadapi masa depanmu!"
Giam Liong tertegun. Kakek itu telah lenyap tapi suaranya
terdengar jelas. Semua juga mendengar dan Giam Liong
berubah. Tapi karena dia sudah ditempa kepahitan-kepahitan
hidup dan apapun akan dihadapi dengan tabah maka dia
duduk lagi dan acuh.
"Siancai, Yang Im toheng membuat orang lain tak enak
saja. Hm, masa depan memang selalu penuh tantangan, anak
muda. Jangan takut!"
"Aku tak takut," Giam Liong tertawa getir, tahu maksud
kakek yang satu itu. "Aku cukup mengalami hal-hal pahit, locianpwe.
Tapi ada baiknya kata-kata Yang Im-locianpwe agar
dapat membuatku waspada."
"Hm, syukurlah. Dan bagaimana aku sekarang." kakek itu
juga bangkit berdiri. "Apakah kita di sini saja, Siu-ji. Apakah
tidak pulang."
"Pulang?" Tang Siu terkejut, di sana Han Han berubah.
"Terserah kepadamu, suhu, tapi bagaimana dengan sahabatku
Yu Yin....."
"Ha-ha, Yu Yin ataukah Han Han!" kakek itu tertawa
bergelak. "Y u Yin sudah ada pasangannya, Tang Siu. Dan kita
tentu harus pulang menunggu pinangan resmi dari Ju-taihiap!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah!" Ju-taihiap terkejut, bangkit berdiri. "Urusan anakanak
gampang dibicarakan, totiang. Tapi kuminta dengan
hormat tinggallah di sini dua tiga hari menunggu Sian-su. Aku
tentu akan melamar untuk puteraku tapi janganlah tergesagesa
meninggalkan Hek-yan-pang. Kami masih ingin
ditemani!"
"Benar," Yu Yin tiba-tiba berseru dan melirik sahabatnya,
Yu Yin tampak bingung harus cepat-cepat berpisah dengan
Han Han, kekasihnya. "Aku butuh sahabatku, locianpwe.
Biarkan Tang Siu di s ini menemaniku. Atau aku juga pergi dan
biarlah kuikut ke Kun-lun!"
"Wah, kalian mendesakku? Ha-ha, pinto tak enak kepada
Ju-taihiap. Merepotkan tuan rumah!"
"Tidak," Swi Cu tiba-tiba juga berseru, tahu lirikan dua
muda-mudi itu dan ingin membahagiakan. "Kata-kata suamiku
benar, totiang. Tinggallah di sini dua tiga hari menanti Siansu.
Tentu kita akan lebih gembira. Kami tak merasa repot!"
"Nah," kakek itu berseru, tertawa memandang muridnya.
"Bagaimana kalau begini, Tang Siu? Apakah kita turuti?"
"Terserah suhu," gadis itu tetap menjawab, diam-diam
mulai girang. "Kalau suhu mau pulang tentu teecu ikut tapi
kalau suhu masih di sini tentu teecu juga menurut. Terserah
suhu!"
"Ha-ha, kalau begini pinto kalah. Eh!" kakek itu menoleh
kepada Yu Yin. "Kau benar-benar butuh muridku ini, nona?
Kau tidak berbasa-basi, bukan?"
"Aku masih ingin bicara banyak dengan murid locianpwe,
aku butuh kehadirannya. Aku tidak berbasa-basi!"
"Bagus, kalau begitu kuterima. Ha-ha, jangan merasa repot
kalau pinto di s ini, Ju-taihiap. Harap kau tidak menyalahkan!"
"Kami tulus mengajak totiang. Justeru kami akan kecewa
kalau totiang buru-buru pergi," Beng Tan tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, kalau begitu pinto akan menunggu sampai kakek
dewa itu datang dan terima kasih atas ajakan ini." Kim-sim
Tojin tertawa mengangguk, di sana muridnya berseri dan
mendapat kedipan Han Han dan Yu Yin tersenyum dan
bahagia. Ia sengaja meminta karena di samping ia sendiri
butuh teman untuk hiburan juga karena sebagai sama-sama
orang muda ia tahu benar betapa kecewanya nanti gadis itu
kalau buru-buru pulang mengikuti gurunya. Tang Siu baru
saja. mereguk nikmat dan bahagianya cinta bersama Han Han.
Sungguh terasa berat kalau belum apa-apa sudah diharuskan
pulang. Dan karena Ju-taihiap maupun isterinya juga
mengundang sungguh-sungguh, Y u Yin girang karena si kakek
tak buru-buru kembali maka hari itu mereka bergembira dan
bercakap-cakap. Sedikit gangguan dengan perginya Im Yang
Cinjin tadi tak mengganjal lagi. Yu Yin sudah memeluk dan
merangkul gadis ini lagi. Dan ketika di sana Giam Liong acuh
dan tenang-tenang saja, menahan debaran hatinya akan syair
Bu-beng Sian-su maka malamnya mereka semua beristirahat
dan melepas lelah. Giam Liong diminta untuk tidur di kamar
Han Han dan Yu Yin bersama Tang Siu. Giam Liong
mengerutkan kening dan mula-mula menolak. T api ketika Han
Han berkata bahwa kamar itu dulunya juga kamar yang
ditempati Giam Liong, ketika Giam Liong disangka sebagai
putera kandung Ju-taihiap maka Giam Liong akhirnya tak
menolak, apalagi karena paman dan bibinya, begitu sekarang
Giam Liong menyebut, mengia-kan pula.
"Kau tak usah sungkan atau malu. Han Han benar. Kalian
tidurlah di satu kamar karena kalian sudah bukan orang-orang
lain lagi bagiku.'"
"Dan kau boleh tinggal selamanya di sini pula kalau kau
suka," Swi Cu berkata, menyambung, pandang matanya
penuh keharuan dan kasih, tidak seperti dulu lagi. "Aku boleh
kauanggap sebagai ibumu, Giam Liong. Paling tidak bibimu
asli karena mendiang ibumu adalah benar-benar kakak
seperguruanku!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih," Giam Liong menunduk, air matanya
mengembang. "Terima kasih atas semua budi dan
kebaikanmu, bibi. Aku..... aku hanya dapat berterima kasih.
Tapi maaf aku tak mungkin tinggal di s ini selamanya."
"Hm, kenapa begitu," sang paman kini menepuk-nepuk
pundaknya. "Kau bertahun-tahun telah menjadi puteraku,
Giam
Liong
Dan
sampai
sekarangpun
aku
dapat
menganggapmu sebagai puteraku. Tak usah ke mana-mana.
Hek-yan-pang bahkan semakin kuat kalau ada kalian dua
orang muda di sini!"
"Terima kasih, tapi... tapi aku harus pergi, paman. Aku
ingin melupakan semua ini dengan merantau di tempat yang
jauh."
"Hm, bagaimana dengan Yu Yin?"
"Ia akan ikut aku. Ia tak mau kembali ke kota raja...."
"Kalau begitu aku harus meresmikan kalian dulu.
Bersabarlah sebentar jangan buru-buru pergi. Kau dan Yu -Yin
biarlah melangsungkan pernikahan bersama-sama Han Han,
kalau kami sudah meminang Tang Siu secara resmi!"
"Benar, dan pinto akan menjadi wali kekasihmu," Kim-sim
Tojin tiba-tiba muncul, mendengar itu. "Tak baik berduaan
tanpa tali ikatan, Giam Liong. Bersabarlah dan turut kata-kata
pamanmu."
Giam Liong menahan runtuhnya air mata. Keluarga paman
dan bibinya ini sungguh betul-betul menganggapnya anak
sendiri, meskipun mereka telah menemukan Han Han sebagai
anak kandungnya. Dan ketika ia mengangguk dan mengucap
terima kasih, bibir gemetar menahan keharuan yang dalam
maka di kamar ia tak kuat lagi dipeluk Han Han, menangis.
"Giam Liong, kau adalah saudaraku. Maafkan kalau aku
pernah menentang dan menyakiti hatimu. Kita adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekeluarga, jangan tolak permintaan ayah dan tinggallah di
sini saja bersama aku."
"Tidak, terima kasih...!" Giam Liong hampir mengguguk.
"Aku... aku harus ke Lembah Iblis, Han Han. Aku harus
mengubur dan mengembalikan senjata itu di tempat asalnya.
Justeru akulah yang harus minta maaf karena berkali-kali aku
memusuhimu!"
"Sudahlah, yang dulu tak usah dibicarakan. Kita
beristirahat, Giam Liong. Silahkan tidur."
Giam Liong tertegun. "Kau saja yang tidur, aku di kursi ini
saja." kamar itu hanya mempunyai satu tempat tidur, tempat
tidurnya dulu!
"Tidak, kau yang di sana, Giam Liong. Aku di sini!"
"Hm," Giam Liong menggeleng. "Kamar ini hanya
mempunyai sebuah tempat tidur, Han Han, dan kau
pemiliknya. Kau yang ,di sana dan aku di sini!"
"Tapi itu adalah tempat tidurmu, dulu. Aku hanya tinggal
pakai dan menumpang!"
"Kalau begitu bagaimana? Kau tetap menyuruh aku?"
"Itu milikmu...."
"Tidak, sekarang milikmu, Han Han. Tidurlah di situ dan
aku di kursi!"
'Tidak, aku tak mau. Kalau begitu begini saja. Kita samasama
tidur di situ. Atau aku juga di kursi dan biarkan tempat
tidur itu kosong!"
"Han Han...!"
Namun pemuda ini menarik tangan Giam Liong. Ia
menyuruh Giam Liong tidur di situ dan barulah Han Hanpun
merebahkan dirinya di situ. Tempat tidur ini tidaklah besar
namun bagi mereka berdua sesungguhnya cukup. Hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena kesungkanan Giam Liong itulah pemuda buntung itu
tak mau. Dan ketika Han Han berhasil memaksa dan mereka
tidur sepembaring-an, Giam Liong menahan tangisnya yang
seakan meledak lagi maka pemuda ini mencengkeram Han
Han dan berseru, gemetar.
"Han Han, pernahkah terbayang olehmu bahwa kita akan
tidur sepembaringan? Terlintas di benakkah bahwa kita yang
pernah bermusuhan dan bertanding begitu hebat suatu ketika
dapat bersatu dan tidur seperti ini? Ah, aku merasa betapa
baik dan mulia budimu, Han Han. Kau seperti ayahmu. Dan
aku... aku pernah menjadi begitu ganas. Aku benar-benar
pernah menjadi iblis!"
"Sudahlah," Han Han tersedak dan menahan runtuhnya air
mata, cepat-cepat memadamkan lampu. "Aku tak pernah
memikirkan semuanya itu, Giam Liong. Tapi kaupun tak salah
sepenuhnya. Tidurlah, dan jangan bicara yang membuat aku
serasa diremas-remas!"
"Oohh...!"
Giam
Liong
menjauh
dan
melepaskan
cengkeramannya.
Han Han menangis! "Maafkan aku, Han Han.... maafkan
....!"
Dua pemuda itu tak bicara lagi. Mereka diam namun
sesungguhnya jiwa mereka menjerit. Han Han dan Giam Liong
sama-sama merasakan kebahagiaan dan keharuan yang luar
biasa. Tidur sekamar dan sepembaringan seperti itu sungguh
tak pernah mereka bayangkan. Seperti mimpi! Mereka yang
pernah bermusuhan dan bertanding begitu hebat tiba-tiba saja
malam itu tidur bersebelahan. Siapa tak tercekik dan ingin
menjerit oleh keharuan dan kebahagiaan yang dalam? Apalagi
bagi Giam Liong, yang telah mendapat pertolongan dan
perawatan dari keluarga itu. Dan teringat betapa tulus dan
lembutnya paman dan bibinya meminta dia tinggal di situ,
selamanya, bersama Han Han maka Giam Liong ingin
memekik dan berteriak kegirangan. Suara bibinya yang begitu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lembut dan penuh perhatian, suara yang tak akan dia lupakan
seumur hidup membuat Giam Liong merasa berdosa atas
tindak-tanduknya yang lalu, apalagi ketika dia pernah
menyakiti dan menusuk perasaan keluarga itu dengan
mengalahkan pamannya. Tentu sakit sekali perasaan
pamannya waktu itu. Giam Liong memejamkan mata kuatkuat.
Dan teringat betapa dia tak pantas tinggal bersama
paman dan bibinya ini, juga Han Han yang berwatak mulia
dan amat lembut maka Giam Liong melihat betapa dia
telengas dan kejam.
Dia khawatir bahwa bibit-bibit seperti ini hanya akan
menyusahkan keluarga itu saja. Dia pendendam dan termasuk
bertabiat panas, meskipun sekarang setelah dendamnya
berhasil dilampiaskan dan ia membunuh Kedok Hitam segala
keganasan atau watak kejamnya itu hilang. Siapa dapat
menjamin diri sendiri kalau suatu ketika ada apa-apa lagi?
Lebih baik dia mundur, menjauh. Biarlah Han Han dan ayah
ibunya hidup bahagia tanpa orang setelengas dia. Kebaikan
dan budi baik keluarga itu tak usah dirusaknya dengan watakwatak
keji. Dia adalah keturunan Golok Maut Sin Hauw yang
sepak terjangnya juga pernah menggiriskan dunia kang-ouw.
Ada semacam "darah hitam" yang diwarisinya dari keluarga.
Itu tak boleh pecah di sini. Dan karena Giam Liong
memutuskan tidak akan selamanya di situ, suatu hari dia
harus pergi maka di kamar lain, ketika dua pemuda saling
tenggelam di pikiran masing-masing maka Tang Siu dan Yu
Yin juga asyik berbisik-bisik, pengantar tidur.
"Sst, mereka tidur sekamar, dan sepembaringan lagi. Ih,
bagaimana pendapatmu, Tang Siu? Apakah Han Han tak
merasa jijik?"
"Hm, jijik? Kenapa? Kau dan akupun sama-sama tidur di
pembaringan yang sama, Yu Yin. Dan aku tak merasa jijik
atau apa kepadamu. Giam Liong pada dasarnya baik!"
"Kau tak ingat sepak terjangnya yang lalu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dia seperti harimau garang yang tak mungkin menerkam
kalau tak disakiti atau diganggu. Giam Liong pemuda luar
biasa yang hanya kejangkitan semacam penyakit. Mungkin
dari hawa gaib Golok Penghisap Darah warisan ayahnya itu!"
"Penyakit?"
"Ya, begitu agaknya, Yu Yin. Tapi entahlah, aku juga tak
tahu. Aku hanya ingat ketika golok itu pernah mengamuk dan
marah-marah kepada kita. Seperti setan!"
"Hm, aku ngeri membayangkan golok itu. Tapi aku ingin
mengucap terima kasih bahwa kau telah membantu aku
menghalau pemberontak-pemberontak yang mengepung kota
raja!"
"Ah, itu soal biasa, Yu Yin. Chu-goan-swe dan orangorangnya
itu harus diusir. Aku tak tega melihat rakyat jelata
menjadi korban!"
"Dan sekarang mereka telah pergi. Tanpa Giam Liong tak
mungkin mereka datang lagi!"
"Eh, bolehkah aku bertanya," Tang Siu tiba-tiba teringat.
"Aneh bahwa kau tiba-tiba membantu istana setelah disakiti
dan ditangkap orang-orang kerajaan. Bagaimana sebenarnya
maumu ini, Yu Yin. Bolehkah aku tahu!"
"Hm, itu? Gampang saja. Aku ingin membalas budi. Jelekjelek
kaisar pernah memberiku kesenangan dan kemewahan.
Aku adalah puteri bangsawan. Meskipun aku kini tak akan
kembali dan tinggal di istana lagi tapi aku ingin berdarma bakti
dan membalas budi baiknya. Apakah aneh?
"Hm, begitukah?"
"Ya, di samping tak ingin rakyat jelata menjadi korban lebih
jauh dari peperangan itu. Sudahlah, aku tak mau bicara lagi
tentang ini, Tang Siu. Aku ingin menutup masa laluku tentang
istana!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tang Siu menarik napas dalam. Akhirnya ia menganggukangguk
dan mereka bicara yang lain, kembali pada Han Han
dan Giam Liong itu. Dan karena masing-masing adalah kekasih
pemuda itu, tentu saja berkisar pada dua pemuda inilah
pembicaraan mereka tertaut maka angin malam berkesiur
lembut dan tiba-tiba mereka menguap.
"Tang Siu, aku mengantuk."
"Aku juga..."
"Marilah tidur dan semoga bermimpi indah!"
"Benar, marilah tidur, Yu Yin. Dan semoga bermimpi
indah!" dan ketika keduanya kembali menguap berbareng dan
lampu dipadamkan maka Yu Yin tiba-tiba sudah lelap dan
Tang Siu menyusul. Hawa dingin dari angin yang segar
membuat mereka menguap, malam telah larut. Dan ketika
kentongan pukul satu terdengar dari tengah pulau, telaga
berdesir dan beriak perlahan maka penghuni rumah itu lelap
dan Ju-taihiappun tertidur memeluk istennya.
-0-dw-0-
Entah apa yang terjadi tak ada yang tahu. Giam Liong,
yang tertidur dan pulas bersama Han Han mendadak serasa
diangkat. Mimpi yang mengejutkan membawa mereka. Giam
Liong merasa digoyang dan tiba-tiba iapun bangun. Dan ketika
Han Han juga bangun dan tersentak membuka mata,
terbelalak, maka sesosok bayangan putih muncul di tengahtengah
mereka. Tempat tidur berguncang-guncang lembut.
"Hantu!" Giam Liong dan Han Han serentak berseru
berbareng. Mereka kaget sekali dan Han Han bergerak
menyerang bayangan putih itu, yang melayang dan
mengambang di tengah udara. Tapi ketika tawa yang lembut
menyambut serangannya dan pemuda itu terjelungup ke
depan, Giam Liong juga bergerak tapi ditangkap tangannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka dua orang muda itu terkejut sekali karena sapaan halus
dan enak didengar memasuki telinga mereka.
"Maaf, jangan bersuara keras-keras, anak-anak. Perahu
nanti terguling!"
Han Han dan temannya tertegun. Mereka diusap lengan
yang lembut dan tawa yang empuk itu sedap sekali didengar.
Han Han membelalakkan mata. Tapi ketika ia mendengar jerit
tertahan dan Tang Siu maupun Yu Yin ada di s itu, di belakang
bayangan putih-putih ini maka mereka ternyata ada di perahu
dan Yu Yin menuding.
"Giam Liong, sss.... setan!"
Giam Liong terpaku. Ia melihat tempat tidur ada di situ, di
atas perahu. Dan ketika ia ternganga karena gedung tempat
tinggal Ju-taihiap juga ada di atas perahu ini, ajaib sekali
maka ia terhuyung dan mengejap-ngejapkan mata.
"Han Han.... apa yang kaulihat!"
"Aku... aku melihat tempat tidur kita .....! Dan... dan, eh....
gedung tempat kita tinggal ada di perahu ini! Itu kamar ayah,
dan itu taman-taman bunga pula. Eh, bagaimana bisa
menumpang dan berdiri di atas perahu. Kita memasuki alam
gaib!"
"Benar, aku... aku merasa seram, Han Han. Dan bintangbintang
ini, aih... dekat sekali. Serasa belasan meter saja dari
tempat kita. Cahayanya gemerlapan!"
"Dan itu bulan yang bundar amat indahnya. Kita serasa
mimpi!"
"Benar, kita mimpi....!"
"Dan ada setan!" Yu Yin tiba-tiba kembali berteriak.
"Tolong, bawa aku ke tempatmu, Giam Liong. Aku tak dapat
bergerak. Siapa kakek ini!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar, siapa dia," Han Han tiba-tiba juga terkejut,
membalik. Ia juga tak dapat melompat atau menjangkau ke
depan. Tadi ia tersungkur dan ditangkap jari lembut kakek itu.
Namun ketika kembali kakek itu tertawa dan tawanya yang
lembut serta halus menyejukkan mereka, membuat mereka
berani untuk memandang jelas maka semua tertegun karena
wajah kakek itu ternyata tertutup halimun sementara dari
kedua matanya menyorot cahaya lembut namun tajam. Itu
saja. Dan selebihnya kakek ini tak menginjak tanah. Manusia
roh!
''Kau..... kau siapa...."
"Duduklah," kakek itu menggerakkan tangan menyuruh
duduk, tawanya masih lembut terdengar. "Aku adalah orang
yang menitipkan syair kepada Yang Im Cinjin, anak-anak.
Jangan takut karena aku tak mengganggu kalian."
"Sian-su?" Giam Liong dan Han Han berseru serentak,
kaget. "Bu-beng Sian-su?"
"Hm, itulah nama yang diberikan orang kepadaku. Aku
sendiri tak bernama. Duduklah, dan harap tenang-tenang
saja."
Han Han dan Giam Liong tiba-tiba terbelalak. Mereka
sekarang dapat bergerak lagi sementara Tang Siu dan Yu Yin
berseru tertahan. Begitu tadi kakek itu menggerakkan tangan
maka sekarang mereka dapat melompat dan Yu Yin maupun
Tang Siu langsung saja bersembunyi di belakang dua pemuda
ini. Mereka merasa takut dan gentar. Kakek ini seperti
siluman! Tapi ketika kakek itu benar-benar tak mengganggu
mereka dan tawanya yang lembut kembali terdengar,
menyuruh mereka tak usah takut maka Yu Yin maupun,
temannya tenang kembali, meskipun jantung mereka terasa
berdebar kencang!
"Aku terpaksa membawa kalian ke sini, tak mau
mengganggu yang lain. Dan karena kalianlah yang lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkepentingan maka aku hendak bercakap-cakap dengan
kalian."
"Kau.... kau hendak bicara apa?"
"Hm," kakek ini memandang Giam Liong, sorot matanya
tajam menembus, Giam Liong tersentak mundur. "Ada
kejadian berat yang akan kaualami lagi, anak muda. Aku
hendak memberi pesan agar kau hati-hati dan jangan sekalikali
memiliki Golok Maut lagi. Rencanamu benar, kembalikan
golok itu ke Lembah Iblis dan kuburlah dia di sana.

Related Posts: