TP 5

Pui Hong yang sedang lari menuju ke arah Nyo toakoh,
mendadak menjerit kesakitan dan meloncat mundur,
kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Seng-in.
Dengan suara dingin Ki Seng-in berseru, “Aku toh tidak
menghancurkan tulang kakimu, buat apa kau mesti bersikap
aleman? Ayo cepat bangkit berdiri!”
Nyo toakoh benar-benar tak sanggup mengendalikan
kobaran api kemarahan yang membara di dalam dadanya,
sambil melompat ke depan, bentaknya keras-keras, “Ki Sengin,
jika punya nyali lebih baik bertarung denganku, jangan
beraninya menganiaya anak kecil!”
“Bagus sekali, kau boleh menyambut senjata rahasiaku, dan
aku akan menyambut pukulan Lak-yang-jiu-mu!”
Ilmu silat yang paling lihay dari Ki Seng’in adalah ilmu
melepaskan senjata rahasia, sedangkan kepandaian andalan
Nyo toakoh adalah ilmu pukulan Lak-yang-jiu, menurut
peraturan dalam dunia persilatan, bila orang kenamaan
bertarung dan sebelumnya tidak dibicarakan bagaimana
pertarungan itu harus dilangsungkan, masing-masing pihak
akan mengeluarkan kepandaian andalan masing-masing.
Itulah sebabnya Ki Seng-in mengutarakan hal tersebut lebih
dahulu, untuk memperlihatkan bahwa serangan senjata
rahasianya nanti bukan merupakan suatu sergapan, dan
seandainya dia menyerang dengan senjata rahasianya lebih
dulu nanti, itu pun tak bisa dibilang melanggar peraturan
bertanding….
“Baik,” seru Nyo toakoh dengan suara lantang, “akan
kusuruh kau menyaksikan kelihayan ilmu Lak-yang-jiu-ku!”
Dengan jurus Hu-hi-huan-im (Memanggil Hujan Membalik
Awan), tangan kiri disertai tenaga im dan tangan kanan
disertai tenaga yang, bersama-sama membacok ke depan.
“Triing… triing… triing…” di antara suara dentingan nyaring,
empat batang teratai baja sudah tersapu rontok oleh angin
pukulannya.
Tapi Ki Seng-in melepaskan tujuh batang teratai baja secara
bersama-sama, walaupun ada empat batang yang kena
dirontokkan, masih ada tiga batang di antaranya yang
menembus lingkaran tenaga pukulan yang dipancarkan
olehnya.
Nyo toakoh terkesiap, pikirnya, “Sungguh tak kusangka
nama baikku akan rusak dan musnah oleh senjata
rahasianya!”
Ketiga batang teratai baja itu hampir semuanya tertuju ke
jalan darah kematian di tubuh Nyo toakoh.
Buru-buru Nyo toakoh mengerahkan tenaga pukulannya ke
depan, saat ini dia sudah tak sanggup lagi untuk melindungi
diri.
Teratai besi im menerobos masuk dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat, dalam keadaan demikian, sekalipun
Nyo toakoh mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya,
paling banter cuma dua batang di antaranya yang bisa
dihindari, senjata rahasia yang ketiga sudah pasti akan
menghajar jalan darahnya.
Lak-jiu-Koan-im termasyhur jauh sebelum Jian-jiu-Koan-im,
atau tegasnya sekalipun Ki Seng-in tak bisa dianggap
“boanpwe” oleh’Nyo toakoh, paling tidak tingkatannya masih
rendah setengah tingkat.
Dengan watak Lak-jiu-Koan-im, andaikata begitu bergebrak
lantas menderita kekalahan di tangan seorang siauwpwee,
sekalipun teratai besi itu tidak sampai menghajar jalan darah
kematiannya, mungkin dia pun akan mati karena mendongkol.
Baru saja Nyo toakoh merasa terkesiap, tiba-tiba tampak
ada tiga titik cahaya merah yang meluncur datang jauh lebih
cepat daripada gerakan teratai besi itu.
Dengan cepat teratai besi kena tersambar dan bersamasama
rontok ke atas tanah tanpa menimbulkan sedikit suara
pun.
Ternyata ketiga gulung bayangan merah itu adalah tiga
kuntum bunga teh merah yang dipetik oleh Ki See-kiat Waktu
itu dia sedang berdiri di sisi bunga teh yang sedang mekar
sambil menonton jalannya pertarungan. Setelah menyaksikan
ibunya terancam bahaya maut, sudah barang tentu dia tak
bisa berpeluk tangan saja.
Padahal dia tak mempunyai senjata rahasia, terpaksa
dipetiknya bunga teh yang tumbuh di sisinya, lalu
menghimpun tenaga dalamnya dan menimpukkan bunga
tersebut sebagai senjata rahasia
Bunga adalah sebuah benda yang lunak, tidak mudah
dilontarkan dengan tenaga, akan tetapi sesudah di-saluri
tenaga dalamnya yang sempurna, nyatanya benda itu bisa
menyusul teratai besi yang dilancarkan oleh Ki Seng-in bahkan
menggulung teratai besi itu ke tengah putik bunga
Begitu dua gulung tenaga serangan saling bertumbukan,
kedua-duanya hilang kekuatan dan rontok ke atas tanah.
Mimpi pun Lo Hi-hong sekalian tidak menyangka kalau Ki
See-kiat memiliki ilmu silat yang begitu lihay.
Bahkan Koantang tayhiap Utti kau tahu harga diri, harap
lepaskan dulu bocah tersebut, saat itu masalah uang bisa
dirundingkan lagi, kalau ingin berkelahi, kami pun pasti ada
orang yang akan mengiringi kehendakmu itu!”
Kembali Utti Keng tertawa terbahak-bahak.
“Perbuatan manusia rendah semacam itu sudah banyak
dilakukan oleh keponakan muridmu itu, sedang apa yang
kulakukan hari ini tak lebih hanya menirukan cara yang sering
dia lakukan. Cuma mendengar dari beberapa patah katamu
tadi, bisa saja aku melepaskan dulu bocah itu. Seng-in,
kendorkan cambuk lemasmu, dan Lak-j iu-Koan-im, bila kau
punya kepandaian, silakan kau gandeng bocah itu pergi dari
situ.”
Nyo toakoh cukup mengetahui kelihayan Ki Seng-in sebagai
Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu), tentu ilmu
melepaskan senjata rahasianya sangat hebat, sebenarnya dia
mengharapkan putranya mau turun tangan bersamanya, tapi
segan untuk mengutarakannya secara langsung, maka ia
lantas memberi lirikan mata sebagai tanda.
Lo Pek-soat duduk di samping Ki See-kiat, dia lantas salah
mengira kedipan mata Nyo toakoh itu ditujukan kepadanya.
Sementara itu Ki Seng-in telah mengendorkan cambuk
lemasnya, Pui Hong menuju ke arah Nyo toakoh, sebab dia
tahu di antara sekian banyak orang yang hadir di sana, Nyo
kohpo-nya yang berkepandaian paling hebat.
Pada detik itulah, beberapa persoalan telah berlangsung
dengan cepatnya secara beruntun, hampir saja semua
berlangsung pada saat hampir bersamaan.
Pertama-tama Lo Pek-soat yang melompat keluar lebih
dulu, segera teriaknya, “Untuk memotong ayam buat apa
memakai pisau penjagal kerbau? Biar boanpwe yang mewakili.”
Ternyata dia menganggap ayahnya dan Nyo toakoh pasti
akan membantunya bilamana perlu, selain itu dia pun salah
paham dengan mengira Nyo toakoh menyuruhnya untuk
memperlihatkan ilmu silatnya hingga memberi kerlingan mata
kepadanya.
Dia menganggap jika Ki Seng-in berani turun tangan untuk
menghalanginya, ayahnya dan Nyo toakoh pasti akan
membantu secara diam-diam.
“Seandainya aku dapat merobohkan bajingan perempuan
ini, engkoh Kiat pasti akan berpandangan lain kepadaku.”
Dengan menyimpan harapan inilah dia melompat ke muka
dan menarik tangan Pui Hong.
Tak terlukiskan rasa kaget Lo Hi-hong ketika menyaksikan
putrinya melompat ke depan, cepat-cepat dia melepaskan’ dua
biji peluru besi ke muka.
Yang besar menghantam ke arah Utti Keng sedangkan yang
kecil menghantam Ki Seng-in.
“Triiing… .’”sebatang teratai baja yang dilemparkan Ki
Seng-in saling membentur dengan peluru baja itu.
Walaupun peluru baja yang dilepaskan Lo Hi-hong jauh
lebih kecil bentuknya, tapi bila dibandingkan dengan teratai
baja itu, entah berapa ratus kali lebih berat. Sewaktu teratai
baja itu saling membentur dengan peluru, ternyata peluru baja
itu yang kena tertumbuk sehingga berubah arah.
Hampir pada saat yang bersamaan, Utti Keng membentak
keras, “Sinar kunang-kunang juga ingin bertanding dengar
sinar rembulan!”
Dengan suatu gaya yang manis dia sambut peluru baja
yang besar, kemudian menimpukkannya balik.
Sewaktu peluru besi kecil yang kena ditumbuk teratai baja
sampai berubah arah itu saling berbenturan dengan peluru
baja besar yang ditimpukkan balik oleh Utti Keng, bunga api
segera memercik di udara, gerak luncur kedua benda tersebut
bertambah cepat dan langsung menghantam tubuh Lo Hihong.
Sebagai seorang ahli silat yang berpengalaman, ketika Lo
Hi-hong menyaksikan datangnya gerakan peluru baja tersebut,
ia segera tahu kalau tenaga sambitan benda itu beberapa kali
lipat lebih besar daripada kekuatannya tadi, dengan
mengandalkan tenaga dalam yang dimilikinya, mustahil dia
bisa menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras.
Walaupun di meja perjamuan belum dihidangkan sayur,
namun poci arak dan cawan telah disiapkan. Poci air teh dan
cawan air teh juga belum dibereskan.
Dalam keadaan seperti ini, Lo Hi-hong tak berani
menyambut dengan kekerasan, dalam gugupnya tanpa
memikirkan soal nama baik lagi, dia merendahkan badannya
dan menyembunyikan diri di bawah meja.
“Praaang… prang… prang….’” bergema suara hiruk pikuk
yang ramai sekali, poci arak, cawan arak, poci air teh, cawan
air teh hampir semuanya kena terhajar sampai hancur
berkeping-keping.
Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Seng-in
menggetarkan ru-yung lemasnya dan menggulung tubuh Lo
Pek-soat.
“Budak busuk yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya
bumi, lebih baik kau duduk tenang saja di tempat dudukmu!”
seru Ki Seng-in sambil tertawa.
Di tengah gelak tertawa, ruyung lemasnya diayunkan ke
depan, tubuh Lo Pek-soat segera terlempar ke udara.
Lemparannya itu ternyata indah dan hebat, karena secara
jitu sekali melontarkan tubuh Lo Pek-soat untuk duduk kembali
di tempat semula tanpa menderita luka barang sedikit pun jua.
Meski begitu, ia sudah dibuat ketakutan setengah mati
hingga mukanya pucat dan sukma serasa melayang
meninggalkan raganya.
Pui Hong yang sedang lari menuju ke arah Nyo toakoh,
mendadak menjerit kesakitan dan meloncat mundur,
kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Seng-in.
Dengan suara dingin Ki Seng-in berseru, “Aku toh tidak
menghancurkan tulang kakimu, buat apa kau mesti bersikap
aleman? Ayo cepat bangkit berdiri!”
Nyo toakoh benar-benar tak sanggup mengendalikan
kobaran api kemarahan yang membara di dalam dadanya,
sambil melompat ke depan, bentaknya keras-keras, “Ki Sengin,
jika punya nyali lebih baik bertarung denganku, jangan
beraninya menganiaya anak kecil!”
“Bagus sekali, kau boleh menyambut senjata rahasiaku, dan
aku akan menyambut pukulan Lak-yang-jiu-mu!”
Ilmu silat yang paling lihay dari Ki Seng’in adalah ilmu
melepaskan senjata rahasia, sedangkan kepandaian andalan
Nyo toakoh adalah ilmu pukulan Lak-yang-jiu, menurut
peraturan dalam dunia persilatan, bila orang kenamaan
bertarung dan sebelumnya tidak dibicarakan bagaimana
pertarungan itu harus dilangsungkan, masing-masing pihak
akan mengeluarkan kepandaian andalan masing-masing.
Itulah sebabnya Ki Seng-in mengutarakan hal tersebut lebih
dahulu, untuk memperlihatkan bahwa serangan senjata
rahasianya nanti bukan merupakan suatu sergapan, dan
seandainya dia menyerang dengan senjata rahasianya lebih
dulu nanti, itu pun tak bisa dibilang melanggar peraturan
bertanding…. “Baik,” seru Nyo toakoh dengan suara lantang,
“akan kusuruh kau menyaksikan kelihayan ilmu Lak-yang-jiuku!”
Dengan jurus Hu-hi-huan-im (Memanggil Hujan Membalik
Awan), tangan kiri disertai tenaga im dan tangan kanan
disertai tenaga yang, bersama-sama membacok ke depan.
“Triing… triing… triing…” di antara suara dentingan nyaring,
empat batang teratai baja sudah tersapu rontok oleh angin
pukulannya.
Tapi Ki Seng-in melepaskan tujuh batang teratai baja secara
bersama-sama, walaupun ada empat batang yang kena
dirontokkan, masih ada tiga batang di antaranya yang
menembus lingkaran tenaga pukulan yang dipancarkan
olehnya.
Nyo toakoh terkesiap, pikirnya, “Sungguh tak kusangka
nama baikku akan rusak dan musnah oleh senjata
rahasianya!”
Ketiga batang teratai baja itu hampir semuanya tertuju ke
jalan darah kematian di tubuh Nyo toakoh.
Buru-buru Nyo toakoh mengerahkan tenaga pukulannya ke
depan, saat ini dia sudah tak sanggup lagi untuk melindungi
diri.
Teratai besi im menerobos masuk dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat, dalam keadaan demikian, sekalipun
Nyo toakoh mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya,
paling banter cuma dua batang di antaranya yang bisa
dihindari, senjata rahasia yang ketiga sudah pasti akan
menghajar jalan darahnya.
Lak-jiu-Koan-im termasyhur jauh sebelum Jian-jiu-Koan-im,
atau tegasnya sekalipun Ki Seng-in tak bisa dianggap
“boanpwe” oleh Nyo toakoh, paling tidak tingkatannya masih
rendah setengah tingkat.
Dengan watak Lak-jiu-Koan-im, andaikata begitu bergebrak
lantas menderita kekalahan di tangan seorang siauwpwee,
sekalipun teratai besi itu tidak sampai menghajar jalan darah
kematiannya, mungkin dia pun akan mati karena mendongkol.
Baru saja Nyo toakoh merasa terkesiap, tiba-tiba tampak
ada tiga titik cahaya merah yang meluncur datang jauh lebih
cepat daripada gerakan teratai besi itu.
Dengan cepat teratai besi kena tersambar dan bersamasama
rontok ke atas tanah tanpa menimbulkan sedikit suara
pun.
Ternyata ketiga gulung bayangan merah itu adalah tiga
kuntum bunga teh merah yang dipetik oleh Ki See-kiat Waktu
itu dia sedang berdiri di sisi bunga teh yang sedang mekar
sambil menonton jalannya pertarungan. Setelah menyaksikan
ibunya terancam bahaya maut, sudah barang tentu dia tak
bisa berpeluk tangan saja.
Padahal dia tak mempunyai senjata rahasia, terpaksa
dipetiknya bunga teh yang tumbuh di sisinya, lalu
menghimpun tenaga dalamnya dan menimpukkan bunga
tersebut sebagai senjata rahasia
Bunga adalah sebuah benda yang lunak, tidak mudah
dilontarkan dengan tenaga, akan tetapi sesudah di-saluri
tenaga dalamnya yang sempurna, nyatanya benda itu bisa
menyusul teratai besi yang dilancarkan oleh Ki Seng-in bahkan
menggulung teratai besi itu ke tengah putik bunga
Begitu dua gulung tenaga serangan saling bertumbukan,
kedua-duanya hilang kekuatan dan rontok ke atas tanah.
Mimpi pun Lo Hi-hong sekalian tidak menyangka kalau Ki
See-kiat memiliki ilmu silat yang begitu lihay.
Bahkan Koantang tayniap Utti Keng yang sudah duapuluh
tahun malang melintang di dunia persilatan dan nyaris tanpa
tandingan pun ikut merasa terkesiap oleh peristiwa tersebut
Bila tenaga dalam seseorang dapat dilatih hingga mencapai
tingkat kesempurnaan, soal “memetik daun melempar bunga
bisa melukai atau membunuh orang” memang bukan suatu
kejadian besar, cuma kesemuanya itu hanya pernah didengar
dan belum pernah mereka saksikan dengan mata kepala
sendiri.
Ilmu silat dari Ki See-kiat memang belum mencapai taraf
sedemikian rupa, tapi apa yang dilakukan sudah termasuk ke
dalam jenis tersebut
Utti Keng sebagai ahli silat, meski belum pernah melihat,
tapi sekilas pandang saja sudah mengetahuinya.
Dengan perasaan bergetar keras Utti Keng berpikir, “Entah
murid siapakah pemuda ini? Usianya masih muda, tapi
kesempurnaan tenaga dalamnya tidak berada di bawahku. Bila
Pui Hou memiliki seorang pembantu yang demikian baik, aku
tak boleh memandang enteng musuhku.”
Sebelum ingatan tersebut melintas habis dalam benaknya,
Lo Hi-hong yang tertegun telah berhasil mengendalikan rasa
kaget yang mencekam perasaannya, dia segera membentak
nyaring, “Ki see-tit, kepandaian yang hebat? Heehh…heeehh…
Jian-jiu-Koan-im, untuk mengalahkan putra Nyo toakoh saja
belum tentu ilmu melepaskan senjata rahasiamu bisa
memadai, masa kau hendak menyuruh dia untuk turun tangan
sendiri?”
“Benar. IImu silat yang dimiliki pemuda ini memang bagus.
Nyo toakoh, tak nyana kau memiliki putra sebaik ini, baiklah,
silakan kau pulang…!”
Dari pembicaraan itu bisa diartikan pula kalau dia
mengatakan ilmu silat yang dimiliki ibunya tak mampu
mengalahkan kemampuan putranya. Tapi memandang di atas
wajah putra Nyo toakoh itu, dia pun tak ingin menyusahkan
dirinya.
Tentu saja Nyo toakoh dapat menangkap arti dari perkataan
itu, cuma dengan kedudukannya di dalam dunia persilatan, ia
tak dapat berbuat seperti Lo Hi-hong.
Bila Lo Hi-hong bisa menggunakan kata seperti “memotong
ayam buat apa memakai golok penjagal kerbau” untuk
menutupi rasa malunya, maka dia balik ke tempat duduknya
tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Utti Keng mendengus dingin, lalu katanya, “Bila kalian ingin
meraih kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak,
silakan maju bersama-sama! Tak peduli berapa pun jumlah
kalian, kami akan tetap maju berdua! Bila kalian punya
kepandaian, silakan kalian bunuh kami suami istri. Kalau tidak,
aku pun tak ingin membunuh kalian, tapi uang sebesar
sepuluh laksa tahil perak harus diserahkan kepadaku!”
Perlu diketahui, kendatipun di pihak Pui Hou terdiri dari Lo
Hi-hong dan putrinya, Nyo toakoh dan putranya serta Pui Hou
berlima yang mengerti ilmu silat, namun dalam pandangan
Utti Keng, hanya Ki See-kiat seorang yang dianggap sebagai
musuh tangguh. Nyo toakoh mungkin saja masih bisa
bertarung secara paksa, sedang tiga orang lainnya sama sekali
tak dipandang sebelah mata.
Pui Hou tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, “Haahh haah
haah, Utti sianseng, kau terlalu memandang rendah orang
lain. Walaupun ilmu alat yang dimiliki aku orang she Pui masih
amat dangkal, tapi dengan kehadiran cianpwe dari
perguruanku di sini, kau anggap aku akan membiarkan orang
lain memandang hina kepadaku? Tak usah khawatir, kami tak
akan mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak!”
Dia adalah seorang manusia yang berotak licik dan cermat,
apa yang bisa dipikirkan lawan tentu saja dapat dipikirkan pula
olehnya, dalam hati dia pun berpikir, “Bila See-kiat sute turun
tangan satu lawan satu dengannya, meskipun belum tentu
menang, paling tidak jauh lebih hebat hasilnya daripada
bermain kerubutan!”
Sementara itu Utti Keng telah menatap Ki See-kiat dengan
pandangan dingin, lalu berkata, “Baik, kalau begitu bertarung
satu lawan satu pun boleh juga!”
“Sukoh, bila kau orang tua harus turun tangan sendiri, hal
mana terlalu menurunkan pamor sendiri, apalagi kalau dilihat
dari ucapan Utti sianseng, agaknya dia amat penuju dengan
See-kiat sute, lebih baik suruh sute saja yang mencoba kelihayan
ilmu silat Utti sianseng, entah bagaimana menurut
pendapat-mu?”
“Pamor sudah hilang semenjak tadi, apa gunanya bergaya
bermacam-macam?” jengek Utti Keng dingin. “Lak-jiu-Koanim,
keganasan ilmu pukulanmu sudah dicoba oleh istriku. Bila
kau ingin merebut kembali pamormu melalui putramu itu,
lebih baik suruhlah dia mencoba beberapa jurus, aku cukup
tahu diri, tak nanti akan kusiksa angkatan muda secara
keterlaluan.”
“See-kiat,” seru Nyo toakoh marah, “orang lain begitu
memandang rendah terhadap kita ibu dan anak, segera
unjukkan kepandaianmu dan cobalah sampai di mana
kehebatan ilmu silat dari Utti sianseng ini!”
“Mari, mari, mari!” seru Utti Keng kemudian, “pertarungan
ini hendak dilangsungkan dengan cara yang bagaimana?
Harap kau saja yang mengutarakan usutnya.”
“Harap jangan bertarung dulu, ada beberapa patah kata
hendak kuutarakan terlebih dulu.”
“Baik, sebetulnya meski tidak kau katakan, aku pun ada
beberapa patah kata yang hendak diucapkan, sekarang lebih
baik kau saja yang berbicara lebih dulu.”
“Utti sianscng. aku harap kau sudi melepaskan keponakan
muridku yang masih kecil itu.”
“Menang kalah toh belum ketahuan hasilnya kenapa aku
mesti melepaskan tawanan?”
“Aku tak ingin mencampuri pertikaian antara kau dan Pui
suko, tapi bocah itu tidak bersalah, dia pun tidak tahu
persoalan dan tidak tersangkut dalam persoalan orangtua-nya,
mengapa kau mesti membuatnya kaget dan ketakutan?”
“Banyak anak kecil dari keluarga baik-baik yang telah
dicelakai su-heng-mu sepanjang hidupnya, apakah orangorang
itu hanya menderita kaget dan ketakutan belaka?”
“Pepatah kuno mengatakan, kesalahan seseorang janganlah
dilimpahkan kepada orang lain. Aku tidak bermaksud membela
perbuatan suhcng-ku, tapi kalau toh Utti sianseng
menganggap apa yang dilakukan tak benar, buat apa kau
mesti menirukan perbuatannya itu?”
Ucapan itu kontan saja membuat Utti Keng menjadi
tertegun, katanya kemudian, “Sebetulnya aku sendiri pun tidak
bermaksud hendak menyusahkan bocah ini, aku tak lebih
hanya ingin menukar bocah ini dengan uang sebesar sepuluh
laksa tahi! perak!”
“Kalahkan diriku, sepuluh laksa tahil perak segera akan
kuserahkan kepadamu!”
Berbicara sampai di sini, dia lantas berpaling ke arah ibunya
dan melanjutkan, “Ibu, seandainya seluruh harta kekayaan
kita dijual, tentunya masih laku sepuluh laksa tahil perak
bukan? Dengan mengandalkan nama baikibu, boleh bukan bila
kupinjam dulu uang sebesar itu?”
“Soal itu tak usah kau khawatirkan, sekarang hadapi dulu
Uni sianseng dengan hati yang tenang, serahkan saja soal
sepuluh laksa tahil perak itu kepadaku!”
“See-kiat sute, mengapa kau berkata demikian?” buru-buru
Pui Hou berseru pula. “Jangankan sepuluh laksa tahil perak
belum tentu akan diserahkan kepadanya, seandainya kalah
taruhan pun aku tetap merasa berterima kasih kepadamu,
masa aku akan membiarkan harta kekayaan kalian ludes?”
Perlu diketahui, dari ucapannya terhadap Ki See-kiat tadi,
jelas terdengar kalau dia merasa tak puas terhadap anak
muda ini, namun bagaimanapun juga, dia tidak berharap
miang punggungnya ini turut ambruk dan kalah
“Pui suheng, kau tak usah ber-baik kepadaku,” kata Ki Seekiat
hambar, “aku bertindak demikian bukan lantaran
urusanmu, aku hanya bertindak menuruti perintah ibuku dan
ingin mencoba ilmu silat dari Utti sianseng…!”
Pui Hou segera merasakan air mukanya berubah, tanpa
terasa dia memandang ke Nyo toakoh.
“Kiat-ji,” Nyo toakoh segera berkata, “soal uang adalah
masalah kecil, kau tak usah menggubris bagaimanakah
keputusanku nanti. Yang jelas pertarunganmu melawan Utti
sianseng kali ini mempunyai sangkut paut yang amat erat
sekali dengan Pui suheng-mu!”
“Ibu, kalau kau mengatakan ada hubungannya, anggap saja
ada hubungannya, pokoknya, ananda hanya bertarung
sepenuh tenaga melawan Utti sianseng karena menuruti
permintaanmu. Seandainya ananda tewas di ujung goloknya,
harap kau pun tak usah bersedih hati!”
Tanpa terasa Nyo toakoh berkerut kening sesudah
mendengar perkataan itu, pikirnya, “Heran, mengapa si bocah
ini hanya bisanya mengucapkan kata-kata yang bernada
kurang baik? Haaai… seandainya kau benar-benar tak sanggup
menandingi lawan, apakah ibumu akan hidup seorang diri?”
Ternyata dia bukannya tak tahu sampai di manakah
bahayanya pertarungan antara putranya melawan dua orang
pendekar aneh dari dunia persilatan itu, tapi berhubung
wataknya memang keras kepala, apa yang telah diputuskan
enggan diurungkan lagi.
Diam-diam ia telah memutuskan, andaikata keselamatan
putranya terancam, dia lebih suka beradu j iwa dengan Utti
Keng berdua, daripada menerima penghinaannya lagi.
Tiba-tiba terdengar Utti Keng berkata, “Sudah selesaikah
pembicaraan kalian ibu dan anak? Sekarang tiba giliranku
untuk berbicara!”
“Silakan berbicara!”
Utti Keng tertawa dingin lebih dahulu, kemudian katanya,
“Di sini hanya kau seorang yang masih terendus bau manusia,
memandang wajahmu, aku bersedia melanggar kebiasaanku
satu kali.”
Kemudian sambil berpaling ke arah istrinya, dia
menambahkan, “Seng-in, lepaskan bocah itu!”
Ki Seng-in melepaskan Pui Hong, lalu katanya sambil
tertawa, “Baik, kau boleh kembali. Sekalipun tanpa sandera,
aku pun tidak khawatir ayahmu tak mau membayar uang
sebesar sepuluh laksa tahil perak kepadaku!”
“In-moay,” seru Utti Keng tertawa, “jangan kelewat yakin
kalau bicara, sepuluh laksa tahil perak tersebut belum pasti
bisa kita menangkan!”
Mendengar perkataan tersebut, Nyo toakoh segera
merasakan semangatnya bangkit kembali, pikirnya, “Ternyata
kau pun tidak yakin bisa memenangi pertarungan ini, kalau
begitu, aku tak boleh melenyapkan semangat tempur anakku
ini….”
Sementara itu Ki Seng-in sudah berkata pula sambil tertawa
terbahak-bahak, “Haahh… haahh… haahh… bocah muda,
sekalipun hari ini kau menderita kekalahan di tangan suamiku,
kau pun cukup merasa bangga. Sebab selama ini hanya kau
seorang yang pernah menerima pandangan seserius ini
darinya.”
Walaupun ucapan mana bernada memuji kehebatan Ki Seekiat
namun arti yang sebenarnya adalah seakan-akan
mengatakan Ki See-kiat sudah pasti akan menderita
kekalahan.
Utti Keng berkata pula lebih jauh, “Sudah kukatakan tadi,
aku tak akan mencari keuntungan dari angkatan muda, begini
saja, asal kau dapat menerima seratus jurus se-rahganku,
anggap saja kau yang menang dan aku tanpa menerima
setengik uang pun akan segera berlalu dan sini!”
“Kau tak usah mengalah kepadaku!” seru Ki See-kiat.
“Setiap patah kata yang telah kuucapkan selamanya tak
pernah diubah lagi. Kau enggan menerima kebaikanku, hal itu
adalah urusanmu sendiri, pokoknya aku hanya akan bertarung
sebanyak seratus gebrakan saja, bila aku tak berhasil mengalahkan
dirimu, sejak kini aku tak akan menginjakkan kakiku
dalam gedung keluarga Pui lagi!”
Pul Hou kegirangan setengah mati setelah mendengar
perkataan itu, cepat-cepat serunya, “Sute, orang lain adalah
tokoh kenamaan dari dunia persilatan, sudah seharusnya
mereka mengalah kepada angkatan muda, sedangkan kau pun
tidak seharusnya bersikap sungkan-sungkan terhadap
angkatan tua, masa kau hendak tak tahu diri dan ingin
bertarung setaraf dengan mereka?”
Walaupun di luaran kedengarannya seperti menegur Ki Seekiat,
yang benar dia khawatir kalau pemuda tersebut enggan
menerima kebaikan Utti Keng.
“Baiklah,” kata Ki See-kiat kemudian, “Utti sianseng, kalau
kau ingin mengambil seratus gebrakan sebagai batasannya, itu
adalah masalahmu sendiri. Sekarang tak usah banyak
berbicara lagi, silakan kau lancarkan seranganmu!”
“Kau hendak mempergunakan senjata apa?”
“Aku hendak mengandalkan sepasang kepalanku ini untuk
mencoba ilmu golok kilatmu!”
Utti Keng segera tertawa tergelak sesudah mendengar
perkataan itu, serunya, “Anak muda, kau kelewat jumawa, aku
tahu kalau ilmu silat yang kau miliki sangat hebat, tapi bila
ingin menghadapi golok kilatku dengan tangan kosong belaka,
tak nanti kepandaian tangan kosongmu itu bisa dikembangkan
permainannya, aku tak ingin merenggut nyawamu dengan
begitu saja!”
Pui Hou yang berada di sisi arena, lagi-lagi berteriak keras,
“Sute, ilmu Lak-hap-to dari keluarga Ki dan Lak-yang-jiu dari
keluargaNyo merupakan ilmu sakti andalan keluargamu,
sebenarnya dengan menggunakan ilmu Lak-yang-jiu saja
sudah cukup, tapi hal ini kurang hormat terhadap seorang
cianpwe, bila kau tidak membawa senjata, gunakan saja golok
tipisku ini.”
Seraya berkata dia lantas mengayunkan tangannya ke
depan dan melemparkan golok tipis tersebut ke tangan Ki Seekiat.
Golok tipis itu dibeli Pui Hou dari tangan seorang raja muda
Burma dengan harga tinggi. Golok itu terbuat dari sekeping
baja mumi yang luar biasa lunak tapi ampuh, bila tidak
disorenkan biasanya dapat digunakan sebagai ikat pinggang
Bila golok itu dicabut dari. sarungnya, maka akan terlihat
cahaya bening yang amat lembut
Nyo toakoh khawatir putranya keras kepala dan enggan
menerima nasihat dari Pui Hou buru-buru dia berseru pula,
“Kiat-ji, ilmu golok kilat dari Utti sianseng merupakan ilmu
golok nomor wahid di kolong langit, kesempatan baik seperti
ini jarang bisa dijumpai, kau harus memanfaatkan peluang ini
sebaik-baiknya dengan meminta petunjuk beberapa jurus ilmu
golok darinya. Kalau tidak, soal kurang hormat hanya soal
kedua, membuang kesempatan dengan sia-sia itulah yang
merupakan suatu kejadian yang patut disayangkan!”
Dengan mengucapkan perkataan tersebut, pertama selain
khawatir putranya menderita kerugian besar, kedua khawatir
putranya tak tahu kelihayan lawannya.
Maka dia memberitahukan lebih dulu semua keistimewaan
Utti Keng, agar putranya tahu diri dan menghindar, sekalipun
tak berhasil mematahkan serangan golok kilat lawan, paling
tidak bisa mematahkan beberapa jurus serangannya.
Dia tahu putranya telah berhasil melatih ilmu Liong-siu-kang
hingga mencapai ke tingkat delapan, Liong-siu-kang
merupakan ilmu silat tingkat tinggi dari negeri Thian-tok
(India) dan tingkat yang paling tinggi adalah tingkat
kesembilan.
Itu berarti, seseorang yang dapat melatih hingga mencapai
ke tingkat delapan sudah luar biasa sekali, atau dengan
perkataan lain selisihnya dengan kemampuan Utti Keng pun
tak terlampau jauh lagi.
Seandainya pemuda itu tahu diri dan tahu keadaan lawan,
dia pasti akan lebih leluasa dalam melakukan perlawanan
nanti, siapa tahu kalau ia sanggup bertahan ratusan gebrakan?
Terdengar Utti Keng tertawa terbahak-bahak, kemudian
katanya, “Sebutan golok kilat nomor wahid tak berani
kuterima. Buktinya ilmu golok Beng Goan-ciau masih jauh
lebih cepat dan hebat daripada ilmu golokku, ilmu silat yang
dimiliki putramu juga hebat, aku rasa dia pun masih sanggup
menerima berapa puluh jurus serangan ku.”
Arti lain dari perkataan yang diucapkan ini seakan-akan
menerangkan kalau gelar nomor satu meskipun tak berani
diterima, gelar nomor dua masih pantas dia terima.
Selain itu bagaimanapun dia memuji kehebatan Ki See-kiat,
namun dia yakin anak muda itu tak akan sanggup menahan
serangannya sebanyak seratus gebrakan.
Cuma saja perkataan tersebut memang tidak terlampau
merendahkan diri ataupun menghina lawan, ucapan itu boleh
dibilang diutarakan dengan tepat sekali.
Sepuluh tabun berselang dia memang dianggap umat
persilatan sebagai golok kilat nomor wahid di kolong langit,
bahkan sampai sekarang pun masih ada orang yang
beranggapan kepandaiannya masih setaraf dengan
kepandaian Beng Goan-cau.
Ilmu golok Beng Goan-cau menjadi tenar belakangan, Nyo
toakoh bukannya tak tahu soal ini, tapi berhubung Beng Goancau
merupakan musuh besar keluarga Nyo, maka ia lebih suka
menghadiahkan gelar “golok kilat nomor wahid di kolong
langit” ini pada Utti Keng, kendatipun Utti Keng termasuk
salah seorang musuhnya pula.
Sekalipun begitu, nada pembicaraannya terhadap Utti Keng
masih tetap tak puas, sambil menarik muka dia berseru
lantang, “Kiat-ji, orang sudah menantangmu, mengapa kau
tidak sambut tantangan tersebut? Sambutlah beberapa jurus
serangannya, jangan biarkan orang lain memandang rendah
kita.”
Sesungguhnya Ki See-kiat ingin sekali bertarung dengan
menggunakan tangan kosong, hal ini bukan disebabkan ia
angkuh atau takabur, melainkan kesempurnaan ilmu silatnya
justru terletak pada tenaga dalam bukan ilmu golok, lagi pula
dia pun dapat melihat kalau golok yang dipakai lawan adalah
sebilah golok mestika, golok biasa tak dapat menandingi
kehebatannya.
Ia berpendapat, bagaimanapun juga kemungkinan baginya
untuk meraih kemenangan tetap kecil, apa salahnya bila tak
usah menggunakan senjata tajam?
Bagi seseorang yang berhasil melatih ilmu silatnya hingga
mencapai tingkat tinggi, soal memakai senjata atau tidak sama
saja, tapi perlu diketahui musuh Ki See-kiat adalah seorang
yang berilmu silat sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi
daripada dirinya, jadi dalam hal ini terdapat suatu perbedaan
yang jauh sekali.
Sekarang, Ki See-kiat telah memegang golok mestika yang
dilemparkan Pui Hou kepadanya, dia merasa dalam hal senjata
tak bakal menderita kerugian dari lawannya, karena itu dia
pun mengubah niatnya semula….
“Boanp we Ki See-kiat mendapat perintah dari ibuku untuk
memohon petunjuk dari Utti sianseng, harap sianseng sudi
memberi petunjuk,” kata anak muda itu kemudian setelah
melintangkan goloknya di depan dada.
Pelan-pelan Utti Keng meloloskan pula goloknya, lalu
berkata sambil tertawa, “Pertarungan kita ini memperebutkan
uang sebesar sepuluh laksa tahil perak, bukan suatu
pertarungan mengadu kepandaian, kau tak usah sungkansungkan
lagi, ayolah lancarkan seranganmu itu!”
Begitu goloknya diloloskan dari sarung, semua orang
merasa terkejut bercampur tertegun sedangkan Ki See-kiat
sendiri pun merasa tercengang karena tak menduga, ia berseru
tertahan. Ternyata golok dari Utti Keng ini panjangnya
tiga depa tiga inci, sarungnya bolak-balik terdapat dua butir
permata berwarna merah dengan delapanbelas mutiara di
sekelilingnya, suatu perhiasan yang mahal dan mencolok
mata.
Diam-diam mereka berpikir, “Utti Keng adalah seorang jago
golok yang sangat hebat di kolong langit, memang manusia
macam dia yang pantas menyandang golok mestika yang tak
ternilai harganya itu.”
Siapa tahu, setelah golok diloloskan, semua orang baru
tertegun dan melongo.
Ternyata “golok mestika” itu hitam pekat tanpa sinar,
malahan ujung goloknya tumpul hingga sepintas lalu mirip
sebatang besi rongsokan. Bila dibandingkan dengan golok tipis
yang berkilauan di tangan Ki See-kiat, maka ibaratnya
perempuan jelek dibandingkan dengan bidadari cantik.
Sekali lagi Ki See-kiat berseru tertahan setelah menyaksikan
kejadian itu.
Semua orang melihat ia menganggap besi rongsok sebagai
“golok mestika” hampir saja meledak gelak tertawanya
lantaran geli, tapi tak seorang pun yang berani bersuara.
Semenjak menyerahkan golok tipisnya kepada Ki See-kiat
tadi, Pui Hou selalu bermuram durjadan bersikap tak tenang,
ia khawatir golok mestikanya tak mampu menandingi
kehebatan golok musuh.
Tapi setelah tahu kenyataan sekarang, ia merasa sangat
lega sekali, pikirnya, “Golok tipisku ini tajamnya bukan
kepalang, bulu saja akan terpapas kutung apalagi besi rongsokan,
sebentar akan kusuruh kau tahu benda manakah baru
pantas disebut golok mestika.”
“Tidak berani!” terdengar Ki See-kiat menjawab.
Sambil tertawa cekikikan Ki Seng-in menegur, “Apanya yang
tak berani? Kau tak berani memandang enteng golok mestika
suamiku? Ataukah tidak berani turun tangan untuk
melancarkan serangan? Mengapa sih kau hanya melulu mengatakan
tak berani?”
“Harap Utti sianseng memberi petunjuk!” Ki See-kiat segera
berseru lantang.
Sepasang tangannya menggenggam golok dan
mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian diayunkan ke depan
melepaskan bacokan kilat.
Jurus serangan ini bernama Leng-san-pay-hud (Menyembah
Buddha di Bukit Suci), satu gaya pembukaan yang
menunjukkan rasa hormat seorang boanpwe terhadap
angkatan yang lebih tua.
“Tak usah sungkan-sungkan!” sahut Utti Keng cepat
Tubuhnya maju, langkah kakinya miring ke samping seperti
orang mabuk, kemudian goloknya diayunkan menyongsong
datangnya ancaman tersebut
Baik gerakan tubuh maupun ilmu goloknya, sama-sama
termasuk kepandaian yang sangat aneh.
0odwo0
Bertarung Melawan Perampok Budiman
“Jurus Cui-ta-kim-kong (Mabuk Sambil Menghajar Malaikat)
yang sangat hebat” teriak Nyo toakoh lantang, “terima kasih
banyak atas kesudianmu memberi muka untuk putraku!”
Ternyata jurus Cui-ta-kim-kong ini merupakan warisan dari
Lu Ci-san yang menghajar pintu benteng dalam keadaan
mabuk di jaman Song dulu; jurus ini terkandung dalam ilmu
toya Ciang-mo-cianghoat yang kemudian diubah untuk menggunakan
golok.
Jurus pembukaan dari Ki See-kiat tadi adalah Leng-san-payhud
(Menyembah Buddha di Bukit Suci), sedangkan Utti Keng
membalas dengan jurus Cui-ta-kim-kong (Mabuk Sambil
Menghajar Malaikat), sebetulnya pembalasan ini amat tak
sopan, akan tetapi berhubung dia menganggap Ki See-kiat
seolah-olah seorang “kim-kong” atau malaikat, maka bagi
seorang angkatan muda, hal ini merupakan suatu
penghormatan.
Sudah barang tentu teriakan Nyo toakoh tadi bukan
bermaksud untuk berterima kasih, yang benar ia khawatir
putranya tak mengenal jurus serangan itu, maka ia hendak
memperingatkan dirinya.
Ilmu silat Ki See-kiat sekarang jauh melampaui ibunya,
maka ia sudah tahu betapa lihaynya jurus serangan Utti Keng.
Sekalipun Ki See-kiat menaruh kepercayaan yang amat
besar terhadap tenaga dalam yang dimilikinya, tapi
berhasilkah menandingi Utti Keng, masih merupakan sebuah
tanda tanya besar di dalam hatinya.
Ia tak berani menyambut d a tangnya serangan lawan yang
begitu ganas dengan keras lawan keras, dengan langkah
Boan-liong-you-poh (Naga Melingkar Melangkah ke Samping)
dia bergeser ke sisi arena, kemudian dengan jurus Cuan-jiucongto-
si (Gaya Memutar Tangan Menyembunyikan Golok)
dia bacok lengan kiri lawan.
Dalam jurus ini terdapat pertahanan terdapat pula
serangan, tapi yang pasti merupakan suatu serangan paksaan
yang mendesak musuh untuk melindungi diri.
Siapa tahu gerakan Utti Keng jauh lebih cepat daripadanya.
Sreet, sreet…! Secara beruntun dia lancarkan tiga buah
bacokan berantai yang dilancarkan dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat
Ternyata ia tidak mencoba menolong diri, malahan saling
berebut serangan dengan Ki See-kiat.
Pepatah kuno bilang, teknik bcrmai n catur lebih tinggi
setingkat pihak musuh dibikin kelabakan.
Begitu pula dengan ilmu silat, ilmu golok dari Utti Keng
lebih sempurna daripadanya, teknik menyerang pun lebih
cepat dan jitu, pada hakikatnya tanpa pertahanan Ki See-kiat
tak mampu memanfaatkan peluang baik itu untuk mencecar
lawannya.
Dengan menggunakan jurus Cuan-jiu-cong-to-si tadi, Ki
See-kiat menyangka musuhnya tentu akan menarik diri guna
menyelamatkan diri, siapa tahu baru saja ujung goloknya
menusuk ke bawah, sambaran golok lawan yang disertai desingan
angin tajam telah membacok ke atas kepalanya.
Berada dalam keadaan seperti ini, bukan ia yang memaksa
musuh untuk menyelamatkan diri, justru sebaliknya dialah
yang dipaksa oleh Utti Keng untuk menyelamatkan diri.
Dengan mengerahkan segenap kepandaian yang
dimilikinya, Ki See-kiat menghindarkan diri dari dua jurus
serangan yang pertama, tapi jurus ketiga telah memaksa
seluruh tubuhnya terkurung di dalam serangan golok lawan.
Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia harus menyambut
datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
“Traanggg!” ketika sepasang golok saling membentur satu
sama lainnya, terjadilah benturan nyaring yang mengakibatkan
percik an bunga api ke empat penjuru.
Tubuh Utti Keng hanya bergetar sedikit akibat bentrokan
itu, sebaliknya Ki See-kiat terdesak mundur sejauh tiga
langkah.
Dalam pertarungan jago kenamaan, dilihat dari keadaan
sekarang maka Ki See-kiat sudah dianggap kalah “setengah
jurus” (Andaikata tubuh Utti Keng tidak bergerak sama sekali,
maka Ki See-kiat akan dianggap kalah satu jurus penuh).
Dalam pada itu Lo Hi-hong telah menghitung dengan cepat
dari tepi arena, “Satu, dua, tiga… empat, lima….”
Terhitung berikut “jurus pembukaan” dari kedua belah
pihak, bara lima jurus yang berlangsung. walaupun kalah dua
tiga jurus dalam pertarungan pertama belum bisa dikatakan
kalah total dalam seluruh pertarungan, salah satu pihak harus
dirobohkan atau sudah tak bertenaga lagi untuk memberikan
perlawanan baru bisa dianggap kalah, tapi dalam lima jurus
saja Ki See-kiat sudah kalah setengah jurus, hal ini kontan
saja membuat hati Nyo toakoh dingin separuh.
Dia tahu lebih banyak ruginya daripada keuntungan dalam
pertarungan tersebut, apalagi berharap putranya bisa
bertahan seratus jurus hakikatnya hal itu lebih sukar daripada
naik ke langit
Pui Hou paling terkejut, dia tak menyangka golok
mesrikanya yang begitu tajam dan biasanya memotong besi
baja seperti memotong tahu, ternyata tidak berhasil mematahkan
golok lawan yang begitu tumpul, bahkan golok tumpul
Utti Keng sama sekali tidak rusak atau cedera barang sedikit
punjua.
Tapi seandainya ia dapat melihat dengan lebih jelas lagi,
mungkin dia masih akan lebih terperanjat lagi.
Sewaktu Ki See-kiat mundur tiga langkah dan memeriksa
senjatanya tadi, ternyata golok tipis tersebut sudah cuil
sebagian. Hanya saja cuilan itu hanya berkisar sebesar kuku,
maka kecuali dia, orang lain sama sekali tidak melihatnya.
Diam-diam Ki See-kiat menghembuskan napas dingin,
pikirnya, “Mungkin saja selisih tenaga dalam yang kami miliki
tidak terlalu banyak, tapi golok tumpulnya itu benar-benar
mustika, sampai pergelangan tanganku linu dan sakit, kalau
dilihat dari kehebatan senjatanya, jelas bahan baja untuk
membuat goloknya jauh di atas golok mestika milik Pui suko!”
Ternyata bukan hanya Ki See-kiat seorang yang kaget Utti
Keng jauh lebih terperanjat lagi.
‘Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki bocah muda ini
berada di atasku, tak mungkin berada di bawahku. Dalam
bentrokan barusan, aku tak lebih hanya meraih keuntungan
dari hal senjata, jadi sesungguhnya tak bisa dianggap masuk
hitungan. Coba kalau golok yang kugunakan bukan golok ini,
jelas dalam ilmu golok mungkin saja aku masih
mengunggulinya, tapi soal tenaga dalam, ia tak lebih lemah
dari ku, kalau begini keadaannya, belum tentu aku bisa meraih
kemenangan dalam seratus gebrakan saja,” demikian Utti
Keng berpikir.
Ternyata golok tumpul dari Utti Keng itu terbuat dari bahan
inti baja yang sangat kuat. Meskipun dengan bentuk yang
sama, namun “inti baja” biasanya berbobot sepuluh kali lipat
lebih berat daripada besi baja biasa.
Inti baja merupakan benda yang langka dan sukar dijumpai
di dunia, tigapuluh tahun berselang, Si Pek-tok seorang
gembong iblis yang termasyhur pernah malang melintang
dalam dunia persilatan dengan mengandalkan sebilah pedang
inti baja yang berat, lihaynya bukan alang kepalang.
Kemudian pedang ini terjatuh ke tangan Kim Tiok-liu (Istri
Kim Tiok-liu yang bernama Si Hong-ing adalah adik kandung Si
Pek-tok, meski saudara sekandung namun cara kerja mereka
berbeda).
Kim Tiok-liu adalah seorang jago pedang nomor wahid di
jagat, tanpa mempergunakan pedang mestika pun sudah tiada
tandingannya di kolong langit, itulah sebabnya pedang inti
baja tersebut tak pernah muncul kembali dalam dunia
persilatan.
Golok tumpul milik Utti Keng ini meski hanya mengandung
dua bagian inti baja, namun untuk menghadapi senjata golok
dan pedang biasa sudah lebih dari cukup, sekalipun pihak
lawan menggunakan senjata mestika, andaikata tenaga
dalamnya kalah, tetap saja senjata mereka tak sanggup
menahan sekali bacokan golok inti bajanya ini.
Tentu saja Utti Keng dapat menjadi jago golok yang tiada
taranya, terutama karena ilmu goloknya yang lihay, meski tak
bisa disangkal goloknya yang berat itu sangat membantu
dirinya.
Sedangkan golok tipis dari Pui Hou tersebut meski terbuat
dari baja mumi, tapi bahan goloknya masih kalah
dibandingkan dengan golok tumpul yang mengandung dua
bagian inti baja tersebut.
Pertama, golok mestika yang digunakan Utti Keng masih
lebih kuat dibandingkan dengan golok mestika yang digunakan
Ki See-kiat
Kedua, Utti Keng .yang melihat Ki See-kiat masih muda dan
menduga tenaga dalamnya tak mampu melebihi dirinya meski
terhitung tidak lemah, maka Utti Keng mengira benturan tadi
pasti akan menyebabkan golok mestika lawan patah menjadi
dua.
Siapa tahu yang terjadi sama sekali di luar dugaannya.
Alhasil golok mestika yang dipakai Ki See-kiat cuma gumpil
sebagian kecil, lagi pula dalam bentrokan tadi tubuh Utti Keng
kena terhisap oleh tenaga dalam lawan sehingga turut
bergetar keras.
Sebagai seorang ahli ilmu silat dengan dasar kedua hal
tersebut.
Utti Keng segera mengetahui kalau tenaga dalam lawannya
berada di atasnya dan tak mungkin berada di bawahnya.
Cuma saja, walaupun hasil dari bentrokan ini jauh di luar
dugaan Utti Keng, tapi setelah sepasang golok itu saling
beradu, dia makin yakin kalau kemenangan sudah pasti
berada di pihaknya.
Dalam hati dia pun lantas berpikir, “Walaupun tenaga dalam
yang dimiliki bocah ini tidak lebih lemah daripadaku, sayang
caranya menggunakan tenaga dalam masih belum mencapai
tingkatan yang paling tinggi. Ilmu golok serta pengalamannya
dalam menghadapi musuh pun tidak melebihi aku! Tahu
begini, buat apa aku mesti menentukan batas seratus jurus
dengannya hanya untuk menjaga nama? Duapuluh gebrakan
pun belum tentu ia sanggup mempertahankan diri!”
Sementara Ki See-kiat mundur tiga langkah, Utti Keng telah
berseru sambil tertawa terbahak-bahak, “Haahh… haahh…
haahh… anak muda, berdiri dulu yang tenang sebelum kita
lanjutkan.”
Sedang Lo Hi-hong yang berada di sisi arena berkata
kepada putrinya dengan lantang, “Keistimewaan ilmu golok
Lak-hap-to dari keluarga Ki adalah kerapatan permainan golok,
dengan pertahanan lebih banyak ketimbang penyerangan.
Seandainya tidak terburu-buru ingin mencari kemenangan,
sekalipun bertemu dengan musuh yang berilmu silat lebih
tinggi daripada diri sendiri pun tak bakal menderita kekalahan.
Sebentar kau perhatikan permainan itu baik-baik, sudah pasti
banyak manfaat yang dapat kau raih. Bukankah begitu Nyo
toakoh?”
Tentu saja Nyo toakoh mengerti maksud dari
pembicaraannya itu, walaupun di luaran dia bermaksud
memberi petunjuk kepada putrinya, yang benar petunjuk
tersebut ditujukan buat Ki See-kiat.
“Benar sekali,” kata Nyo toakoh cepat-cepat. “Paling
pantang bagi orang yang menggunakan ilmu golok ini adalah
pikiran kalut dan terpengaruh oleh nafsu, putraku masih
belum berhasil menguasai dua bagian kemampuan yaya-nya,
belum tentu dia memahami arti dari kata-kata tersebut.”
Sifat memberi petunjuknya tampak semakin nyata lagi
dengan diutarakannya perkataannya tersebut.
Sambil tertawa dingin Ki Seng-in segera berseru, “Hmm,
ilmu golok Lak-hap-to juga pantas dibanggakan? Benar-benar
katak dalam sumur. Sekalipun Su-hay-yu-liong (Naga Pesiar
Empat Samudra) Ki Kian-yap menggunakan ilmu golok itu
sendiri, belum tentu ia sanggup menahan seratus jurus
serangan suamiku!”
Merah padam selembar wajah Nyo toakoh karena
mendongkol, baru saja dia akan mengajak Ki Seng-in beradu
mulut, tampak Ki See-kiat sudah bertarung kembali melawan
Utti Keng. Dalam pertarungan kali ini, Ki See-kiat telah
menuruti petunjuk ibunya dan lebih baik bertahan daripada
menyerang.
Menyaksikan hal itu, Nyo toakoh segera berpikir, “Nah
begini baru betul, dalam permainan senjata tadi Kiat-ji
memang tidak menderita kerugian apa-apa, siapa tahu ia
dapat bertahan sampai seratus gebrakan.”
Padahal dalam hal senjata pun Ki See-kiat menderita
kerugian besar, cuma saja hal ini tidak diketahui olehnya.
Utti Keng masih tetap membacok dengan golok kilatnya,
ketika mencapai jurus keenam (jadi berikut serangan
sebelumnya menjadi sebelas jurus) tiba-tiba terdengar suara
bentrokan nyaring.
“Traang… traang…!” di antara dentingan nyaring yang
disertai percikan bunga api, golok lemas Ki See-kiat kena
terbentur lagi oleh golok tumpul lawan sehingga kali ini timbul
dua gumpilan kecil.
Dengan lemas Nyo toakoh duduk kembali di kursinya,
sekarang dia tahu kalau ucapan Ki Seng-in bukan bualan
belaka, dalam hati kecilnya dia lantas berpikir, ‘Tenaga dalam
yang dimiliki Kiat-ji sekarang masih belum mampu menandingi
kemampuan yaya-nya di masa jaya dulu, tapi sekalipun
permainan golok Lak hap-to-nya sudah hampir menyamai
yaya-nya, belum tentu dia sanggup menahan serangan dari
perampok Kwangtang ini sebanyak duapuluh gebrakan….”
Mendadak terdengar Lo Hi-hong berseru tertahan, lalu
teriaknya, “Aah, ilmu golok apakah yang digunakan putramu?
Belum pernah kulihat ilmu golok semacam ini!”
Nyo toakoh membelalakkan matanya lebar-lebar, dia sendiri
pun tidak tahu ilmu golok apakah yang telah dipergunakan
oleh putranya.
Bukan cuma dia saja yang tidak tahu, bahkan Utti Keng
yang berpengetahuan jauh lebih luas daripada dirinya pun
tidak tahu.
Ternyata Ki See-kiat yang merasa ilmu golok Lak-hap-to tak
akan mampu menghadapi golok kilat dari Utti Keng, ia lantas
mengubah kepandaiannya dengan mempergunakan ilmu
pedang Peng-coan-kiam-hoat, ilmu pedang Peng-coan-kiamhoat
yang diubah menjadi ilmu golok.
Ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat hasil ciptaan Kui Hoaseng
suami istri telah disimpan dalam gua salju di bawah Kota
Iblis, dalam dunia saat ini hanya Ki See-kiat seorang yang
pernah menyaksikan ilmu pedang Peng-coan-kianvhoat
tersebut selengkapnya, tak heran kalau Utti Keng tak
mengetahui akan hal ini.
Sekarang dia telah melebur jurus pedang itu ke dalam jurus
golok, sementara kesaktian jurus masih dinomorduakan,
setelah beberapa gebrakan kemudian, barulah desingan angin
goloknya mulai membawa hawa dingin yang merasuk tulang
sumsum.
Hal itu kontan membuat Utti Keng merasa makin
terperanjat bercampur heran.
Kalau berbicara soal keindahan jurus belaka, golok kilat dari
Utti Keng sama sekali tidak lebih jelek daripada ilmu pedang
Peng-coan-kiam-hoat, sekalipun mungkin lebih rendah sedikit,
hal itu tak akan sampai mengejutkan tokoh aneh dari dunia
persilatan yang sudah banyak berpengalaman ini.
Tapi begitu ilmu golok lawan dikembangkan, dia segera
merasakan munculnya hawa dingin yang aneh, bahkan angin
aneh itu bukan muncul dari angin golok melainkan dari golok
itu sendiri, perasaan inilah yang membuatnya jadi
kebingungan.
Cuma Utti Keng sudah amat berpengalaman di dalam
menghadapi beratus-ratus pertempuran, apa yang
dirasakannya sekarang tak lebih hanya rasa “kedinginan” belaka,
terhadap tenaga dalamnya sama sekali tidak
mendatangkan pengaruh apa-apa.
Seaneh-anehnya ilmu golok yang dimiliki Ki Sce-kiat, ilmu
golok kilatnya masih sanggup untuk menghadapi.
“Ooh, sayang…!”diam-diam Ki See-kiat berpekik dalam hati
kecilnya. “Seandainya aku mempunyai pedang inti es Pengpokhan-
kong-kiam, kendatipun tak bisa mengalahkan
Kwangtang tayhiap ini, paling tidak juga tak akan menderita
kekalahan!”
Berbeda dengan Utti Keng, ia bukan khawatir tak bisa
mengalahkan anak muda itu, melainkan takut jika dalam
seratus gebrakan gagal merobohkan si anak muda tersebut.
Lo Hi-hong menghitung terus engan cepat, “Sebelas,
duabelas, tigabelas… duapuluh dua, duapuluh tiga, duapuluh
empat… duapuluh delapan, duapuluh sembilan, tiga-puluh….”
Tak selang berapa saat kemudian, genaplah mereka
bertarung sebanyak tigapuluh gebrakan.
Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu) yang selama
ini acuh tak acuh, kini mulai tampak gelisah.
“Heran, mengapa ilmu golok bocah muda itu sedemikian
anehnya? Tampaknya ia benar-benar mampu untuk
menyambut seratus jurus serangan toako….”
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya,
terlihat Utti Keng telah memutar goloknya secepat angin, lagilagi
dia melancarkan enam buah bacokan berantai.
Di dalam mempergunakan ilmu golok kilatnya, sudah
menjadi kebiasaan bagi Utti Keng untuk sekaligus melancarkan
tiga serangan atau enam serangan berantai, namun dalam
melepaskan enam bacokan berantai sekarang, tampaknya
telah terjadi sedikit perubahan.
Lima buah bacokan pertama dilepaskan dengan kecepatan
bagaikan sambaran petir, sedang bacokan yang keenam,
mendadak dilancarkan lebih lamban.
Mendadak terdengar ia membentak keras, “Patah!”
Menyusul kemudian berkumandang serentetan suara
gemerincing yang memekakkan telinga.
Ternyata golok mestika yang berada di tangan Ki See-kiat
benar-benar terpapas kutung menjadi dua bagian, bekas
bacokan itu rata dan halus, ternyata golok berkarat yang
tumpul itu jauh lebih unggul dibandingkan dengan mata golok
yang berkilauan tajam
Ternyata pengalaman Utti Keng dalam menghadapi musuh
jauh lebih matang ketimbang Ki See-kiat, dia pandai sekali
meminjam tenaga untuk menghantam lawan.
Pada kelima buah serangan berantai yang pertama tadi,
secepat kilat dia mengancam tiga bagian tubuh dari anak
muda tersebut, menanti Ki See-kiat telah mengerahkan tenaga
dalamnya hingga mencapai pada puncaknya, dan menangkis
serangan goloknya yang kelima dengan jurus Ki-hwee-liauthian
(Mengangkat Obor Membakar Langit) tiba-tiba saja
serangannya yang terakhir itu diubah mengancam tubuh
bagian bawah.
Tentu saja Ki See-kiat harus membalikkan goloknya sambil
menangkis, oleh karena kecepatannya tidak mengungguli
lawan, maka kedua gulung tenaga dalam tersebut berubah
jadi sama-sama menekan ke bawah.
Di saat inilah dia menggetarkan goloknya lebih keras hingga
menambahkan besarnya daya ketokan ke bawah, akibatnya
golok mestika Ki See-kiat memperoleh tekanan yang berlipat
ganda, alhasil patahlah golok mestika itu menjadi dua bagian.
Pada detik inilah semua orang sama-sama dibuat tertegun
oleh peristiwa tersebut.
Yang paling sakit hati tentu saja Pui Hou, golok mestika itu
dibelinya dengan harga delapanribu tahil perak
“Ooh… delapanribu tahil perak, delapanribu tahil perak, tak
kusangka harus lenyap dengan begitu saja!”
Delapanribu tahil perak saja sudah membuatnya sakit hati,
apalagi masih ada sepuluh laksa tahil perak yang bakal dibayar
belakangan.
Andaikata Ki See-kiat kalah, tentu saja dia harus membayar
kekalahan tersebut
Begitu berhasil mematahkan golok mestika anak muda
tersebut Utti Keng segera melompat mundur dan berseru
sambil tertawa, “Lo Hi-hong, semuanya berapa jurus?”
Lo Hi-hong tak berani menjawab, dia hanya membungkam
dalam seribu bahasa. Sambil tertawa Ki Seng-in segera
berseru, “Tigapuluh enam jurus!”
Sebetulnya Nyo toakoh telah bersiap sedia, begitu
keselamatan jiwa putranya terancam, dia akan segera
menerjang ke tengah arena untuk beradu jiwa dengan Utti
Keng, maka ketika dilihatnya Utti Keng mengundurkan diri, dia
pun menghembuskan napas lega.
Nama baik memang penting, tapi keselamatan putranya
jauh lebih penting lagi, sedikit banyak Nyo toakoh berterima
kasih juga kepada Utti Keng karena telah mengampuni jiwa
putranya.
Tapi di saat dia hendak mewakili putranya untuk mengaku
kalah, mendadak terlihat olehnya Ki See-kiat sedang
membuang kutungan goloknya ke luar gelanggang, kemudian
menubruk maju lagi ke depan.
“Tunggu sebentar!” Utti Keng segera membentak.
“Betul ilmu golokku kalah di tanganmu, tapi aku masih
mempunyai sepasang telapak tangan, aku masih mampu
untuk melanjutkan pertarungan, Siapa yang menerapkan
peraturan bahwa senjata yang patah adalah pihak yang
kalah?” bantah Ki See-kiat.
“Aku bukan bermaksud demikian,” kata Utti Keng sambil
tertawa.
“Lantas mengapa kau enggan melanjutkan pertempuran?”
Sebetulnya kalah dalam jurus serangan bukan berarti kalah
menang sudah ditetapkan, apalagi sejak awal Ki See-kiat
sudah mengatakan akan menghadapi serangan golok lawan
dengan tangan kosong.
Dengan diutarakannya perkataan tersebut, tiada orang
yang bisa bilang kalau dia tak tahu aturan atau melanggar
janji, tapi tentu saja Nyo toakoh tak berani membiarkan putranya
melanjutkan pertarungan itu.
“Golok mestika yang dipakai Utti sianseng-lah baru
merupakan golok mestika yang sesungguhnya! Hari ini, kami
benar-benar merasa terbuka mata kami! Anak Kiat Lak-yangjiu
dari keluarga kita hanya bisa dipakai untuk menghadapi
golok biasa, lebih baik kau mengaku….”
Perlu diketahui, meskipun Nyo toakoh belum pernah melihat
golok inti baja, namun ia sebagai seorang angkatan tua, tentu
saja pernah mendengar tentang kehebatan dari inti baja
tersebut
Dengan mengandalkan pengetahuannya yang luas, dia
lantas menduga bahwa di balik golok mestika yang digunakan
Utti Keng sekarang sudah pasti ada campuran inti bajanya.
Tapi kata “kalah” belum sempat diutarakan keluar, Ki Seekiat
telah berteriak lantang, “Ibu, kau tak usah mempedulikan
diriku, aku tak akan mengaku kalah!”
Utti Keng segera tertawa terbahak-bahak, “Haahh…
haahh… haahh… yang kunantikan adalah ucapanmu itu!”
Begitu ucapan tersebut diutarakan, termasuk Ki See-kiat
sendiri turut menjadi tertegun.
Terdengar Utti Keng berkata lebih jauh, “Apa yang
diucapkan ibumu tepat sekali, aku memang mencari
keuntungan dengan mengandalkan golok mestika tersebut,
kalau bukan demikian, bagaimana mungkin aku berhasil
mengungguli kau dalam tigapuluh enam gebrakan saja?
Sekarang kau berhasrat menantang aku bertarung ilmu pukulan,
tentu saja aku hanya bisa menerima tantangan mu dengan
tangan kosong juga, masa aku harus mencari keuntungan lagi
dengan mengandalkan golok mestika tersebut?”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia telah
memasukkan golok ke dalam sarung dan melemparkan ke
arah istrinya, Ki Seng-in.
“Utti tayhiap, kau benar-benar seorang pendekar yang
berjiwa ksatria,” Ki See-kiat segera memuji. “Aku tahu,
pertarungan macam apa pun yang dilangsungkan, tak nanti
aku bisa mengalahkan dirimu, tapi sekalipun tak mampu aku
harus bertarung juga, bukan untuk orang lain, tapi untuk ilmu
silat keluargaku, aku tak boleh membiarkan orang lain
memandang rendah kami!
“Kendatipun hari ini yaya tidak ikut datang, aku pun harus
mencarikan nama baik untuknya.”
Terutama tentang perkataannya “bukan untuk orang lain”,
dalam pendengaran Pui Hou, rasanya ucapan itu amat tak
sedap didengar, tentu saja berakibat hatinya tersinggung.
Dengan wajah bersungguh-sungguh Utti Keng berkata lagi,
“Ki lote, aku pun menghormati kau sebagai enghiong muda,
aku pun minta maaf bila ada ucapanku tadi yang
menyinggung nama baik kakek serta ibumu. Baiklah, sekarang
kau boleh mulai menyerang.”
Dengan kedudukan Utti Keng yang terhormat, ternyata
minta maaf terhadap seorang “angkatan muda”, peristiwa
semacam ini boleh dibilang baru berlangsung untuk pertama
kalinya:
Kendatipun Ki See-kiat menderita kekalahan dalam
peristiwa ini, dia kalah secara terhormat.
Ki See-kiat segera membuat satu gerakan lingkaran busur
dengan telapak tangan kirinya, sementara tangan kanan
bergerak ke muka menerobos lingkaran busur tadi,
serunya dengan lantang, “Biar boanpwe menghadapi Utti
tayhiap dengan mengandalkan Lak-yang-jiu keluarga kami!”
Sebutan “Lak-yang-jiu” itu kembali menimbulkan perasaan
hangat dan lega dalam hati Nyo toakoh, tanpa terasa ah*
mata mengembang di dalam kelopak matanya.
Setiap orang tahu, ilmu Lak-yang-jiu yang dipelajari Ki Seekiat
diperoleh dari ibunya, siapa pun dapat memahami bahwa
Ki See-kiat sengaja mengucapkan perkataan itu karena dia
hendak membalaskan sakit hati ibunya.
“Kukira di dalam hati kecilnya hanya ada siluman
perempuan itu seorang, ternyata dia tetap adalah putraku
yang terbaik! Untuk membalaskan sakit hatiku, dia tak segansegannya
menyerempet bahaya dan mempertaruhkan jiwa
raganya”
Menyusul kemudian Nyo toakoh berpikir lebih jauh, “Kalau
kudengar dari nada pembicaraan Utti Keng, tampaknya dia
sangat menghormati anak Kiat, malah terhadap aku pun ikut
menjadi sungkan, rasanya tak mungkin dia akan mencelakai
jiwa anak Kiat.”
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Ki
See-kiat telah bertarung sengit melawan Utti Keng.
Lak-yang-jiu terdiri dari jurus dengan enam gerakan, ilmu
pukulan itu merupakan ilmu pukulan yang terumit
perubahannya, mengandung pelbagai unsur rahasia ilmu silat
pelbagai perguruan. Begitu Ki See-kiat turun tangan, empat
arah delapan penjuru segera dipenuhi oleh bayangan telapak
tangannya.
Berbicara soal ilmu pukulan, mungkin Ki See-kiat belum
dapat mengungguli ibunya, tapi berbicara soal kekuatan, dia
jauh lebih tangguh. Di mana angin pukulannya menyambar
lewat, daun dan bunga berguguran ke tanah.
Utti Keng segera memuji, “Ilmu pukulan Lak-yang-jiu dari
keluarga Nyo memang terhitung ilmu silat yang nomor satu
dalam dunia persilatan, sayang tiada pewaris yang bagus di
masa lalu, tapi aku yakin mulai saat ini kepandaian ini akan
berjaya kembal i.”
‘Terima kasih atas pujianmu.” Sementara pembicaraan
berlangsung, dia telah melancarkan tiga jurus dengan
delapanbclas gerakan serangan.
“Tigapuluh tujuh, tigapuluh delapan, tigapuluh sembilan,
empat-puluh….” Lo Hi-hong menghitung terus tiada hentinya
Mendadak Pui Hou teringat akan sesuatu, serunya, “Utti
sianseng, apakah seratus jurus yang kau tentukan itu berikut
juga ketigapuluh enam gebrakan yang telah berlangsung
tadi?”
Utti Keng segera tertawa terbahak-bahak, “Haah haah
haah, tentu saja sekalian dihitung, adik In, ingat baik-baik, kini
adalah jurus yang keempatpuluh enam.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia telah
melepaskan enam buah serangan balasan.
Tiba-tiba telapak tangannya berubah, kali ini semua orang
merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan
berkunang-kunang.
Rupanya dia telah mengeluarkan ilmu pukulan ciptaan
sendiri yang gerakan serangannya menyerupai bacokan,
babatan, tebasan, tangkisan, pukulan maupun ledakan, yang
dipakai semuanya adalah ilmu golok.
Kecepatan geraknya tidak berada di bawah gerakan ilmu
golok.
Dengan mengandalkan tenaga dalamnya, bila seseorang
sampai terkena bacokan ‘telapak tangan golok”nya, niscaya
akibat yang diperoleh tak. jauh berbeda dengan terkena
bacokan golok inti baja.
Jika tadi dia masih menggunakan sebilah golok, maka
sekarang dia memakai sepasang telapak tangan yang tak
ubahnya seperti dua buah “telapak tangan golok” saja, di
mana angin pukulannya menderu-deru, terasa mengerikan
sekali bagi siapa pun yang memandangnya.
Dari sini bisa dilihat kalau ilmu silatnya tak berada di bawah
keampuhan Lak-yang-jiu Ki See-kiat, bahkan bisa jadi jauh di
atasnya.
Nyo toakoh merasakan jantungnya berdebar keras dengan
perasaan yang amat khawatir,
“Bisa jadi Utti Keng akan mengampuni selembar jiwanya….”
demikian dia menduga-duga sendiri
Tapi, siapa pula yang bisa menebak perasaan hati Utti Keng
yang sebenarnya?
Di bawah kurungan dan bacokan yang begitu ganas dari
ilmu telapak tangan golok lawan, asal putranya sedikit saja
kurang berhati-hati, niscaya dia akan tewas bermandikan
darah.
Tampak Ki See-kiat mundur terus ke belakang, sementara
pukulan yang dilancarkan Utti Keng makin lama semakin
cepat, kian lama kian bertambah gencar, namun telapak
tangan’ kedua belah pihak jarang sekali saling membentur.
Ilmu telapak tangan golok yang dilancarkan Utti Keng
secepat kilat itu seakan-akan ditujukan semua ke bagian tubuh
yang mematikan di tubuh lawan, di bawah ancaman dan
desakan macam ini, untuk bertahan saja Ki See-kiat sudah
kerepotan, mana mungkin ia bisa melancarkan serangan
balasan lagi?
Kalau dilihat keadaan ini, agaknya setiap saat ada
kemungkinan Ki See-kiat bakal terluka di ujung pukulan
telapak tangan golok lawan.
Yang membuat Nyo toakoh rada tentram adalah langkah
kaki putranya yang tak menjadi kacau atau gugup meski harus
mundur terus berulang kali. Nyo toakoh bisa melihat bahwa
setiap langkahnya dilakukan mengambil posisi Ngo-heng-patkwa,
tiap langkah dia mundur ke belakang, setiap kali dia
berhasil memunahkan sebagian dari tenaga serangan lawan.
Namun tenaga serangan yang dilancarkan Utti Keng ibarat
air bah di sungai Huangho, menggulung ke depan dengan
amat dahsyatnya.
Satu gelombang baru menggulung lewat, gelombang lain
telah menyusul tiba, baru saja scgulung tenaga pukulan
dipunahkan, serangan berikut yang jauh lebih ganas dan
dahsyat telah menyambar tiba
Nyo toakoh masih dapat melihat kalau putranya masih
memiliki kemampuan untuk memunahkan serangan lawan,
sebaliknya orang lain tak berhasil melihat apa-apa bahkan
pandangan seperti Nyo toakoh pun tidak diperoleh.
Lo Hi-hong jadi terkesiap sekali, saking kagetnya dia sampai
terbelalak dengan mulut melongo, pada hakikatnya lupa untuk
menghitung jumlah jurus serangan yang digunakan.
Padahal sekalipun ia bisa menghitung dengan tenang pun
tak bisa terhitung, sebab gerak serangan dari Utti Keng benarbenar
ke lewat cepat….
Siapa tahu sementara semua orang mengkhawatirkan
keselamatan Ki See-kiat, sebaliknya Utti Keng sendiri pun
diam-diam mengeluh.
Ternyata ilmu pukulan Lak-yang-jhi masih lebih unggul
ketimbang ilmu golok Lak-hap-to, ditambah lagi kemampuan
Ki See-kiat dalam permainan ilmu pukulan jauh lebih ampuh
dari ilmu goloknya
Tapi yang paling menguntungkan baginya adalah Lak-yangjiu
pada dasarnya merupakan ilmu pukulan yang berhawa
keras, ketika dikombinasikan dengan tenaga dalam Liong-siukang
tingkat dela-pannya, menyebabkan kekuatannya berlipat
ganda hal ini menyebabkan tenaga dalamnya tidak lebih
rendah daripada Utti Keng.
Bagi pandangan orang lain, ilmu ciang-to atau pukulan
golok dari Utti Keng sangat berat dan mantap melebihi golok
inti bajanya tapi dalam kenyataan perbedaan masih tetap ada
Bagaimanapun juga memainkan ilmu golok dengan telapak
tangan tak akan bisa lebih tangguh daripada mempergunakan
golok yang sebenarnya
Ilmu telapak tangan masing-masing orang mempunyai ciri
dan keistimewaan tertentu, sedang tenaga dalam pun berada
dalam keseimbangan, apalagi ilmu pukulan merupakan
kepandaian andalan Ki See-kiat, maka kalau dibicarakan yang
sebenarnya anak muda tersebut tidak menderita kerugian apaapa
Yang paling merugikan Ki See-kiat adalah pengalamannya
yang dangkal dalam menghadapi musuh, selain daripada itu
tenaga dalamnya yang digunakan juga belum mencapai taraf
seleluasa Utti Keng. Tetapi kalau diperhitungkan dari
keuntungan serta kerugiannya, Ki See-kiat tak jauh
ketinggalan….
Tapi Utti Keng khawatir bila gagal mengalahkan pemuda
tersebut dalam seratus gebrakan, soal ilmu golok dia yakin
dan merupakan andalannya tapi soal ilmu pukulan ia tak
punya pegangan apa-apa karenanya dia harus bertarung
semakin cepat, tiap serangan yang dilancarkan memaksa
musuh untuk menyelamatkan diri, alasannya dia mencoba
menghindari bentrokan dengan ilmu Liong-siu-kang pemuda
itu, sebab makin berkurangnya tenaga dalamnya berarti makin
tipis harapannya meraih kemenangan.
Ki See-kiat kurang berpengalaman, setelah kena didesak
sampai keteter hebat dan ia cuma mampu menangkis serta
bertahan belaka, sedikit banyak hatinya mulai gugup.
Di bawah desakan serta serangan Utti Keng yang melanda
datang seperti angin puyuh itu, kendatipun Lak-yang-jiu dari
Ki See-kiat memiliki perubahan jurus yang rumit, tak urung ia
keteter juga sampai dibikin kelabakan setengah mati. .
Di tengah pertarungan, mendadak terdengar suara baju
yang tersambar robek… “Breeett!” rupanya ujung jari tangan
Utti Keng berhasil merobek pakaian Ki See-kiat sepanjang lima
inci lebih, masih untung pemuda itu segera berkelit, kalau
tidak, hampir saja urat nadi pada pergelangan tangannya kena
terluka oleh sambaran ilmu “ciang to”nya Ki See-kiat
terperanjat sekali, segera pikirnya “Seandainya menggunakan
ilmu golok, mungkin lenganku telah berpisah dengan badan!
Apa yang dia katakan memang benar, dalam kolong langit
dewasa ini memang belum ada orang yang mampu
menyambut seratus jurus serangan golok kilatnya dengan
mempergunakan ilmu Ki-na-jiu-hoat!”
Nyo toakoh yang berdiri di sisi arena merasakan jantungnya
seakan-akan hendak melompat keluar dari rongga dadanya,
apalagi Lo Hi-hong, dia merasakan hatinya bergidik.
Yang paling mengenaskan adalah Pui Hou, waktu itu dia
hanya bisa berpikir, “Sepuluh laksa tahi! perak, aah…
tampaknya aku pasti kalah, aku harus membayar sepuluh
laksa tahi! perak, aku tetap akan kalah!”
Tiba-tiba Lo Pek-soat bertanya “Ayah, sudah berapa jurus?”
Lo Hi-hong menjadi terbelalak dengan mulut melongo,
sesaat kemudian dia baru berkata “Aku-aku lupa menghitung,
mungkin-mungkin hampir mencapai seratus jurus.”
Utti Keng seperti teringat pula akan hal itu, buru-buru dia
turut bertanya, “Adik In, sudah berapa jurus?”
“Seratus delapan jurus!” sahut Ki Seng-in.
Kiranya di saat terakhir, Utti Keng makin bertarung semakin
cepat, pada saat dia bertanya kepada isterinya, baru mencapai
sembilan-puluh delapan jurus, tapi di saat Ki Seng-in
menjawab, dia telah melancarkan sepuluh jurus serangan lagi.
Sementara suami istri itu sedang berbicara, pikiran Utti
Keng telah bercabang karena harus berbicara, permainan
goloknya menunjukkan setitik lubang kelemahan yang tidak
begitu kentara.
Namun bagi orang yang berilmu silat tinggi, kesempatan
semacam ini tak akan disia-siakan dengan begitu saja, apalagi
di saat yang terakhir Ki See-kiat memusatkan segenap perhatiannya
ke tengah arena, begitu melihat datangnya titik
kelemahan, serta merta ia manfaatkan peluang tersebut
Terdengar Utti Keng membentak keras, sepasang telapak
tangannya didorong berbareng ke depan.
Tubuh Ki See-kiat segera mencelat ke udara dan
menumbuk sebatang pohon besar… “Kraaakkk!” sebatang
dahan pohon sebesar lengan bocah kena tertumbuk sampai
patah menjadi dua bagian.
Rupanya Utti Keng telah menggunakan ilmu meminjam
tenaga memukul tenaga….
Setelah itu, sambil meluruskan lengannya ke bawah, Utti
Keng berkata, “Betul-betul kepandaian yang bagusi Enghiong
memang muncul di saat muda, kini seratus duabelas jurus
sudah lewat, aku Utti Keng mengaku kalah!”
Sebenarnya Lo Hi-hong lupa menghitung jurus, di dalam
keadaan begini bisa saja Ki Seng-in menyebutkan angka yang
tidak sebenarnya, namun kenyataannya, kendatipun
perempuan itu berharap suaminya menang, ia toh mengaku
juga dengan sejujurnya.
Nyo toakoh merasa malu di samping berterima kasih
kepadanya, diam-diam ia berpikir, “Coba kalau berganti aku,
sudah pasti aku akan membela orangku sendiri….”
Dia bukan berterima kasih kepada Ki Seng-in saja, terlebihlebih
kepada Utti Keng. Sebetulnya ilmu pukulan golok dari
Utti Keng bisa dilancarkan enam buah jurus serangan
sekaligus, tapi dalam serangannya yang terakhir tadi, dia hanya
melancarkan empat jurus untuk memukul mundur Ki Seekiat,
sedang dua jurus serangan yang terakhir tidak
dilanjutkan.
Coba kalau bukan begitu, mungkin Ki See-kiat kalau tidak
mampus sudah pasti akan terluka parah.
Kini Utti Keng telah mengaku kalah, sepantasnya pihak
keluarga Pui merasa kegirangan setengah mati. Namun
“kemenangan” tersebut diperpleh sama sekali di luar dugaan,
agaknya setiap orang terpengaruh oleh kegagahan serta kejujuran
Utti Keng, dalam waktu singkat suasana di sana malah
berubah menjadi sunyi senyap tak terdengar suara sedikit
pun.
Sesudah termangu sesaat, akhirnya Nyo toakoh baru
berkata, “Anak Kiat, kau tidak apa-apa bukan?”
Meskipun dia dapat melihat kalau putranya tidak cedera,
namun perasaannya belum lega seratus persen.
Mungkinkah putranya yang kena dilempar ke belakang oleh
tenaga pukulan lawan menderita cedera dalam yang tak
tampak mata telanjang…?
Ki See-kiat menghembuskan napas panjang, sahurnya, “Utti
tay-hiap tidak turun tangan keji, syukur ananda tidak
menderita cedera apa-apa.”
Selesai berkata dia kembali ke sisi tubuh ibunya.
Sekarang Nyo toakoh baru bisa menghembuskan napas
panjang dan merasa lega sekali.
Saat itulah, Utti Keng baru pelan-pelan berkata, “Pui toacaycu,
anggap saja kejadian ini merupakan rejekimu, untung
ada sute-mu yang telah membantumu!”
Berbicara sampai di situ, sambil berpaling katanya lagi
kepada Ki See-kiat, “Ki lote, kau sanggup menerima duabelas
jurus tambahan di luar batas seratus jurus yang kita tetapkan,
hal ini boleh dibilang hal yang luar biasa sekali, mungkin tiada
orang kedua di antara kaum muda dalam dunia persilatan
dewasa ini yang sanggup menandinginya Aku hanya berharap
kau bisa memanfaatkan ilmu silatmu dengan sebaik-baiknya!”
Maksud dari ucapan itu jelas menunjukkan betapa tidak
puasnya pendekar besar itu lantaran anak muda tersebut telah
melindungi seorang hartawan durjana
Buru-buru Ki See-kiat menjura dalam-dalam, sahurnya,
“Nasihat cianpwe akan boanpwe ingat selalu di dalam hati.
Hari ini boanpwe hanya bertindak atas perintah ibuku, harap
Utti tayhiap maklum”
Di balik ucapan itu pun, dia seolah-olah menunjukkan kalau
hanya akan terjadi satu kali, lain kali tak mungkin bisa terjadi
lagi.
Utti Keng segera berseru, “Adik In, mari kita pergi!”
“Tunggu sebentar!” mendadak Ki Seng-in berseru. “Aku
masih ada persoalan yang hendak kusampaikan!”
Ucapan yang diutarakan Jian-jiu-Koan-im secara tiba-tiba ini
kontan saja mengejutkan semua orang.
Perlu diketahui, ilmu melepaskan senjata rahasia yang
dimiliki Ki Seng-in lihay sekali dan tiada tandingannya di
kolong langit, ilmu silat yang dimiliki pun cuma setingkat di
bawah suaminya. Baru saja Ki See-kiat melangsungkan suatu
pertempuran sengit, paling tidak tenaga dalamnya sudah
berkurang separuh, andaikata perempuan itu tak mau
menyudahi persoalan sampai di sini saja, atau menerbitkan
persoalan baru, siapakah yang akan mampu menghadapinya?
Buru-buru Pui Hou berseru, “Utti tayhiap, kau sudah bilang
hanya akan bertanding satu babak suami istri asalnya satu,
kalian tak boleh mencari gara-gara di sini….”
“Hmmm, apa yang pernah dibilang suamiku?” jengek Ki
Seng-in dingin.
“Dia bilang, jika menang kalah sudah ditentukan maka
persoalan di sini pun dianggap selesai, sepeser uang tembaga
pun dia tak sudi mengambil, di samping itu dia pun tak akan
pernah melangkah masuk ke halaman rumahku lagi!”
“Walaupun kami suami istri berdua seringkah turun tangan
bersama, ada kalanya masing-masing pihak bekerja sendirisendiri.
Kali ini dia hanya mengabulkan permintaanmu,
sebetulnya aku masih berhak untuk melakukan transaksi
denganmu, tapi memandang wajah suamiku, maka apa yang
telah dia sanggupi, akan kuturuti pula!” Sementara perempuan
itu berbicara, Pui Hou merasakan hatinya berdebar keras, tapi
sampai akhirnya dia baru menghembuskan napas lega. Segera
pikirnya, “Kau bilang hendak menuruti semua perjanjian,
bukankah berarti persoalan telah beres?”
Terdengar Ki Seng-in berkata lebih jauh, “Apa yang hendak
kukatakan adalah persoalan yang tidak ia janjikan kepadamu.
Pertama, aku tak sudi uangmu. Kedua, aku pun tak sudi
melangkah masuk ke dalam halaman rumahmu, tapi aku pun
melarang kalian melakukan perbuatan durjana lagi diluaran!”
“Aku orang she Pui tidak berani, aku orang she Pui tidak
berani!” buru-buru Pui Hou berseru.
Sambil tertawa dingin kembali Ki Seng-in berkata, “Aku tahu
kalau kau tak berani, coba lihat akibatnya bila kau berani
nekat!”
Berbicara sampai di situ, dia lantas menuding ke arah
sebatang pohon bunga tho seraya menambahkan, “Dalam
sekali ayunan tangan, akan kurontokkan delapanbelas kuntum
bunga tho!”
Pohon itu penuh dengan bunga tho, sedemikian rapatnya
bunga yang tumbuh di situ paling tidak mencapai seratus
kuntum lebih.
Merontokkan bunga tho bukan suatu pekerjaan yang sulit,
tapi kalau ingin merontokkan delapanbelas kuntum bunga tho
tanpa menimbulkan gelombang serta berakibat rontoknya
bunga lain, pekerjaan itu boleh dibilang sulit sekali. Apalagi dia
sudah menerangkan hanya di dalam “sekali ayunan tangan”
saja.
Tanpa terasa semua orang membelalakkan matanya lebarlebar,
mereka ingin melihat kelihayan yang hendak dilakukan
olehnya.
Tampak perempuan itu mengayunkan tangannya, cahaya
emas segera berkilauan, sekuntum demi sekuntum bunga tho
jatuh berguguran ke atas tanah.
“Pui toa-caycu!” kembali Ki Seng-in membentak. “Biasanya
kau paling cermat dalam soal hitung-menghitung, coba kau
hitung jumlah bunga tho yang rontok itu.”
Pui Hou tak berani menampik, terpaksa dia maju untuk
menghitung jumlahnya, setelah dihitung segera katanya,” Aah,
benar, persis jumlahnya mencapai delapanbelas kuntum.”
“Kau boleh mengambil bunga-bunga tersebut dan coba
periksalah lebih seksama lagi!”
Pui Hou mengambil tiga kuntum bunga tho dan
diserahkannya kepada Nyo toakoh dan Lo Hi-hong untuk
diperiksa bersama.
Tampaklah sebatang jarum emas yang amat kecil masingmasing
menembus putik bunga di balik tiap kuntum bunga tho
tersebut, padahal jarum bunga bwe adalah senjata rahasia
yang paling lembut, biasanya hanya bermanfaat dipakai untuk
jarak dekat, selain itu tenaga sambitannya pun begitu besar.
Tapi sekarang, dia telah mempergunakan senjata rahasia
yang paling lembut untuk menghajar ranting pohon yang
berada tigapuiuh langkah jauhnya bahkan berhasil menembusi
setiap putik bunga yang kena dihajar tanpa merusak ujud
bunga tho tersebut, apalagi delapanbelas kuntum bunga
diserang bersamaan waktunya, kepandaian ilmu melepaskan
senjata rahasia semacam ini boleh dibilang benar-benar
mengerikan sekali.
Jangankan Pui Hou, bahkan Lo Hi-hong yang
berpengetahuan sangat luas pun belum pernah mendengar
kepandaian selihay ini.
Pada saat itulah sambil tertawa dingin Ki Seng-in baru
melanjutkan kembali kata-katanya, “Seandainya kusaksikan
ada orang dari keluarga Pui berani membuat keonaran atau
tindakan durjana lagi diluaran, terutama sekali perbuatan yang
memeras rakyat jelata, hmm! Tiap orang akan kuhadiahi
sebatang jarum emas, bukan tempat lain yang kuhajar, aku
hanya akan menghajar ulu hatinya saja!”
Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan,
“Suamiku telah berkata tak akan melangkah masuk ke
halaman rumah keluarga Pui maka kuanjurkan kepada Pui toacaycu
agar sejak kini tinggal rumah secara baik-baik dan
melanjutkan sisa hidupmu tanpa banyak ulah, pokoknya
selama kau tidak melakukan perbuatan durjana, kami pun tak
akan mengurusimu. Tapi kau harus berhati-hati, jangan
sampai bertemu kami di luaran!”
Ki See-kiat yang mendengarkan perkataan tersebut diamdiam
berseru memuji, pikirnya, “Cara yang digunakan
perempuan ini benar-benar tepat sekali, sejak kini, kendatipun
Pui suko masih ingin menjadi seorang lintah darat, belum
tentu anak buahnya berani melaksanakan apa yang
diperintahkan pada mereka!”
Dalam pada itu, Utti Keng telah berseru pula, “Rejeki atau
bencana datangnya tanpa permisi, mereka muncul karena
dicari manusia sendiri. Pui toa-caycu, bila kau ingin mengakhiri
hidupmu dalam keadaan baik-baik, kuanjurkan kepadamu agar
baik-baik menjaga diri! Kalau tidak, sekalipun aku telah
melepaskan dirimu, biniku belum tentu akan melepaskan kau
begitu saja.”
Menanti Utti Keng suami istri sudah keluar dari halaman
rumah, Pui Hou baru berhasil menguasai perasaan kaget dan
ngerinya. Buru-buru dia bersama Lo Hi-hong dan Lo Pek-soat
berebut menyanjung serta mengumpak Ki See-kiat.
“Ki toako,” seru Lo Pek-soat ambil tertawa, “tampaknya kau
pandai sekali membohongi orang!” “Kapan aku berbohong?”
tanya
Ki See-kiat dengan perasaan tertegun.
Lo Pek-soat tertawa.
“Masih bilang tidak, baru saja kau membohongi aku!”
Ki See-kiat kurang senang bergurau dengan gadis itu, maka
sambil menarik muka serunya lagi, “Aku berbohong apa
kepadamu?” ‘
“Aduuh mak….” Lo Pek-soat pura-pura berteriak. “Walaupun
kau membohongi aku, namun aku tidak akan menyalahkan
kau, buat apa sih mesti bersikap tegang? Tadi kau bilang ilmu
silatmu cuma ilmu silat kasaran, tapi nyatanya bahkan si
perampok ulung dari Kwangtang, Utti Keng pun memuji kau
sebagai jago muda nomor wahid di kolong langit, coba
bayangkan sendiri bukankah kau sedang membohongi aku?”
“Haahh… haah… haahh, anak bodoh, perkataan orang masa
kau anggap sungguhan? Ehmm orang muda merendahkan
diri, hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit,
apalagi ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan,
namun masih dapat merendahkan diri, hal ini benar-benar luar
biasa.”
“Ki toako,” Lo Pek-soat kembali berseru sambil tertawa,
“sekalipun kau membohongi aku, namun aku tidak marah,
cuma lain kali kau harus banyak memberi petunjuk ilmu silat
kepadaku.”
Memandang wajah ibunya, Ki See-kiat segan memberi malu
kepada gadis itu, terpaksa dia berlagak acuh tak acuh,
katanya kemudian, “Utti tayhiap kelewat memuji siautit,
padahal hal ini karena dia belum pernah bertemu dengan jago
muda yang betul-betul berilmu sangat tinggi!”
“Ki lote, kau sedang bergurau bukan?” seru Lo Hi-hong.
“Aku tak percaya kalau dalam dunia persilatan dewasa ini
masih ada anak muda lain yang berilmu silat lebih hebat
daripada dirimu.”
“Utti tayhiap yang begitu luas pengalamannya pun tak tahu,
tak heran kalau Lo lopek pun tak mau percaya.”
“Kalau kudengar dari pembicaraanmu itu, tampaknya kau
sudah pernah berjumpa dengan pemuda yang berilmu silat
lebih tinggi daripada Utti Keng…?”
“Benar, aku pernah bersua dengan pemuda lihay itu
sewaktu masih berada di Sinkiang tempo hari, tahun ini dia
hanya berusia delapan-belas tahun, lebih muda sepuluh tahun
daripadaku, soal ilmu silat, apakah dia lebih hebat daripada
Utti tayhiap, aku pun tak tahu. Yang kuketahui adalah dia
sudah mencapai tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada aku.
Sebab aku pernah bertarung melawannya, belum lagi
mencapai seratus gebrakan, aku sudah menderita kekalahan
di tangannya!”
Lo Hi-hong merasa setengah tidak percaya oleh perkataan
itu, segera tanyanya dengan perasaan terperanjat, “Benarkah
dr dunia ini terdapat pemuda yang berilmu silat selihay ini?
Siapakah orang itu?”
Ki See-kiat segera teringat kembali kejadian di mana Nyo
Yan enggan mengakui nama sebetulnya di hadapannya, meski
dia sekarang sudah tahu siapa gerangan pemuda itu, tapi buat
apa dia mesti menyebutkan namanya di hadapan orang yang
tiada sangkut pautnya dengan pemuda itu?
Berpendapat demikian, dia pun lalu berkata, “Jagoan muda
itu ibaratnya naga sakti yang tampak kepalanya tak tampak
ekornya, apalagi siautit pun hanya bertemu muka satu kali,
jadi aku tak tahu siapakah orang itu.”
Tentu saja Nyo toakoh mengerti siapa gerangan yang
dimaksudkan putranya, tapi teringat bagaimana Nyo Yan
sebagai keponakannya enggan mengakui dirinya sebagai
sanak sendiri, maka dia pun merasa segan untuk
menyebutkan namanya
Pui Hou segera tertawa terbahak-bahak, “Haahh… haahh…
haahh… tak peduli apakah di dunia ini benar-benar terdapat
seorang jago muda macam ini atau tidak, sekalipun apa yang
kau ucapkan merupakan suatu kenyataan, orang ini tak
mungkin bisa menandingi Ki sute!”
Ki See-kiat menjadi tertegun.
“Pui suheng,” segera serunya, “bukankah sudah
kuterangkan tadi, aku pernah menderita kekalahan di
tangannya, apakah tidak kau dengar?”
“Rupanya kau belum paham maksud hatiku. Sewaktu dia
mengalahkan dirimu, apakah ada orang ketiga yang turut
menyaksikan?”
“Tidak ada”
Kembali Pui Hou tertawa terbahak-bahak, “Haaa… haaa…
haaaa… nah itulah dia Sewaktu kau dikalahkan dia, tidak ada
pihak ketiga yang melihatnya, berarti tak bakal ada orang
menyiarkan kekalahanmu itu pada umum, sebaliknya setiap
orang yang hadir di sini mendengar kalau perampok ulung dari
Kwangtang itu mengaku kalah kepadamu, peristiwa ini pasti
akan menyebabkan nama besarmu menjadi tenar sejagat! Siapa
yang berani tak menuruti perkataan Utti Keng dengan
menyebut dirimu sebagai jagoan muda nomor wahid di kolong
langit dewasa ini?”
Ki See-kiat semakin memandang hina watak suheng-nya ini,
segera tukasnya, “Aku sih tidak sudi nama kosong semacam
itu.”
Dalam pada itu Pui Hou sedang merasa girang, dia segera
berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak, “Haaaa… haaa…
manusia punya nama, pohon punya bayangan, sekalipun ingin
kau buang juga tak akan bisa dilepaskan. Ki sute kau telah
membantuku menghemat sepuluh laksa tahil perak, sudah
sepantasnya kalau kuucapkan banyak terima kasih padamu!”
Baru selesai dia berkata, dengan kening berkerut Nyo
toakoh telah menukas, “Dengan orang sendiri tidak usah
sungkan-sungkan, buat apa kau mesti menyinggung soal
terima kasih segala?”
“Aah, betul, betul,” sambung Pui Hou lagi sambil tertawa.
‘Tentu aku tahu, sekalipun aku hendak berterima kasih kepada
sute, belum tentu sute bersedia menerimanya. Tetapi aku
mempunyai suatu ide yang bagus sekali, ide ini amat
sempurna, entah bagaimana menurut pendapat-mu?”
“Kau belum mengutarakannya, dari mana aku bisa tahu
bagus atau tidak?”
“Bila sua; menikah nanti, biarlah kuhadiahi mutiara dan
perhiasan sebesar selaksa tahil perak sebagai penambah mas
kawin bagi pengantin perempuan. Meski si pengantin
perempuan belum tentu sudi menerima perhiasanku itu, tapi
pertama aku bisa menyampaikan maksud hatiku, kedua juga
menambah keanggunan si pengantin perempuan, rasanya aku
pun bisa mengangkat martabat sukoh di hadapan orang
banyak.”
“Kau tak usah menarik pula diriku,” seru Nyo toakoh
tertawa. ‘Tapi aku lihat idemu itu memang bagus juga, belum
lagi See-kiat menemukan jodohnya, kau sudah mencari muka
lebih dulu di hadapan si pengantin perempuan. Lihat saja
nanti, putri siapakah yang mempunyai rejeki besar untuk
menerima hadiah besarmu itu?”
Mereka berdua seperti sengaja tak sengaja bersama-sama
mengalihkan sorot matanya ke wajah Lo Pek-soat, kontan saja
hal ini menyebabkan gadis tersebut menjadi tersipu-sipu
dengan wajah memerah namun dalam hati kecilnya merasa
manis dan hangat
Melihat setiap perkataan dari Pui Hou tak pernah terlepas
dari soal uang, tergerak juga hati Ki See-kiat, mendadak dia
bertanya, “Pui suko, seandainya tiada orang yang mampu
menghadapi Utti Keng, apakah sepuluh laksa tahil perak itu
bakal kau serahkan kepadanya?”
Pui Hou hanya tahu mengumpak, mendengar pertanyaan
itu, buru-buru sahurnya, “Aku hanya mempunyai seorang
putra, seandainya sute tak berhasil mengalahkannya, jangankan
sepuluh laksa tahil perak, sekalipun dia mengajukan
permintaan beberapa kali lebih besar pun terpaksa aku harus
menyerahkan juga kepadanya! Sute, pertolonganmu itu benarbenar
besar tak terlukiskan, selama hidup aku tak akan pernah
melupakannya lagi.”
“Baik,” kata Ki See-kiat kemudian. “Kalau begitu kesepuluh
laksa tahil perak itu sama artinya dengan benda yang harus
keluar bagimu bukan? Aku akan memberi sedikit keuntungan
bagimu, aku hanya minta separuhnya saja, tolong serahkan
lima laksa tahil perak itu kepadaku.”
Begitu ucapan itu diutarakan, semua orang jadi tertegun
dibuatnya….
Nyo toakoh menegur, “Anak Kiat, kau sudah gila? Mengapa
minta uang dari suheng-mu?”
Pui Hou sendiri jaga terkejut bercampur tak tenteram,
sambil tertawa terbahak-bahak katanya pula, “Haahh… haah…
haah… sudah pasti sute sedang bergurau. Sukoh, kau jangan
menganggap sungguhan.”
“Siapa bilang aku sedang bergurau?” seru Ki See-kiat cepat
sambil menarik muka. “Lima laksa tahil perak berarti hanya
separuh dari nilai yang dituntut Utti tayhiap, itu berarti kau
telah berhemat separuh dari nilai yang sesungguhnya. Aku
tidak bergurau, pokoknya kau harus menyerahkan uang
sejumlah itu padaku.”
Ucapannya yang bersungguh-sungguh ini bukan saja
membuat paras muka Pui Hou berubah hebat, Lo Hi-hong
yang sebenarnya ingin menimbrung juga jadi membungkam
dalam seribu bahasa, suasananya menjadi canggung dan
serba runyam.
0odwo0
Menuntut Lima Laksa Tahil Perak
Setelah hening sekian lama, akhirnya Nyo toakoh yang
memecahkan keheningan paling dulu, segera bentaknya, “Bila
kau butuh uang, aku akan penuhi keinginanmu itu, mengapa
kau minta uang kepada Pui suheng-mu?”
“Sewaktu hendak bertarung melawan Utti keng tadi, aku
telah bilang, aku turun tangan bukan lantaran ingin
melindungi Pui suheng, aku hanya ingin menjaga nama baik
ibu serta yaya”
“Hmm, menjaga nama baikku?” Nyo toakoh makin marah.
“Kau tahu, perbuatanmu minta uang kepada Pui suheng-mu
sudah cukup membuat aku kehilangan muka.”
“Ibu, perkataan ananda belum selesai, janganlah marah
lebih dulu. Aku tidak butuh sepeser pun uang milik Pui
suheng, kelima laksa tahil perak itu aku mintakan bagi orang
lain!”
“Minta untuk orang lain? Utti Keng kan sudah bilang kalau
dia tak mau uang tersebut?”
“Aku bukan mintakan untuk Utti Keng, aku mintakan untuk
kaum fakir miskin. Bagi Pui suheng, uang sebesar lima laksa
tahil perak tak lebih dari seujung rambut, tapi untuk fakir
miskin, entah berapa ratus jiwa yang bisa tertolong.”
“Ooh, maksudmu aku harus berbuat amal?”
“Benar. Aku minta kau mendermakan uang sebesar tiga
laksa tahil perak itu kepada yayasan sosial, agar uang itu bisa
digunakan untuk menolong rakyat jelata yang hidup sengsara.
Sedang dua laksa tahil perak sisanya biar disimpan untuk
sementara waktu di sini, andaikata suatu ketika tiba musim
paceklik, anggap saja uang tersebut sebagai uang
pembayaran rakyat atas pajak yang mesti dibayar, caraku ini
tentunya cocok dan cengli bukan?”
Pui Hou menghembuskan napas panjang, pikirnya,
“Walaupun Ki See-kiat si bocah keparat ini lebih membantu
pihak luar, untung saja ia masih kurang berpengalaman. Aku
dengan Li San-jin yang mengetuai yayasan sosial adalah
saudara angkat, asal kuberi tiga ribu tahil perak, dia akan
menyerahkan selembar kuitansi senilai tiga laksa tahil perak
itu tetap tinggal di sini, berarti terserah apa yang hendak
kulakukan!”
Berpikir demikian, dia lantas tertawa terbahak-bahak seraya
berkata, “Haah haah haah, ya benar, memang cocok, memang
cengli, terus terang saja aku pun ingin sekali banyak berbuat
amal. Besok pagi uang sebesar tiga laksa tahil perak itu akan
kudermakan kepada yayasan sosial, tanda terimanya segera
akan kuserahkan kepadamu!”
“Baik,” kata Ki See-kiat kemudian seraya beranjak.
“Mewakili kaum fakir miskin kuucapkan banyak terima kasih
atas dermamu itu. Selamat tinggal!”
Pui Hou tertawa paksa. “Aku sudah menyuruh orang
menyiapkan meja perjamuan lagi, minumlah arak barang
secawan dua cawan sebelum pergi.”
“Benar,” sambung Lo Pek-soat cepat. “Ki toako, bukankah
kedatanganmu kemari hendak minum arak sambil menikmati
bunga? Bunganya toh belum dinikmati? Mengapa mesti
terburu-buru hendak berpamitan?”
“Aku sudah tidak mempunyai kegembiraan lagi untuk
minum arak sambil menikmati bunga”
Lo Pek-soat masih saja tak tahu diri, tanyanya lebih jauh,
“Mengapa secara tiba-tiba tidak ada?”
“Biaya sekali perjamuan untuk orang kaya sama nilainya
dengan ransum selama setengah tahun bagi orang miskin, bila
kuingat mereka yang harus mengandalkan putrinya menjadi
budak dan dayang orang kaya hanya gara-gara hutang beberapa
tahil perak dari Pui suheng, bagaimana mungkin aku bisa
meneguk arak perjamuan ini? Pui suheng, kuanjurkan
kepadamu ada baiknya berhemat sedikit dalam soal perjamuan
dan perbanyaklah perbuatan amalmu, mau bukan?”
Paras muka Pui Hou kontan berubah menjadi hijau
kemerah-merahan, di mulut ia tak berbicara apa-apa namun di
hati kecilnya segera berpikir, “Bocah keparat ini benar-benar
tak tahu diri, apa yang diucapkan hampir senada dengan
perkataan Utti Keng. Hmm, uang toh milikku sendiri, aku
senang menggunakannya untuk apa peduli amat dengan kau?
Memangnya kau si bocah keparat berani datang merampok
seperti apa yang telah dilakukan oleh Utti Keng?”
Lo Pek-soat yang terbentur pada batunya turut merasa
malu bercampur mendongkol, kontan dia ikut bungkam seribu
bahasa.
Dengan agak tersipu Nyo toakoh segera berkata “Anakku ini
belum tahu urusan, untung saja yang hadir sekarang bukan
orang luar, harap kalian sudi memandang wajahku memberi
maaf kepadanya….”
Selesai berkata, terpaksa dia mengajak putranya pulang ke
rumah….
Semenjak peristiwa itu, Pui Hou tak berani mengundang
mereka lagi, sedangkan soal perkawinan yang diinginkan pihak
keluarga Lo pun tak berani disinggung kembali.
Berbeda sekali dengan Ki See-kiat, pemuda ini malah lebih
gembira dan senang karena tak pernah diganggu lagi.
Kejadian itu semakin merisaukan Nyo toakoh, di samping
pikirannya makin kalut dan mendongkol.
Suatu ketika ia pun berkata begini kepada putranya, “Kiat-ji,
tahukah kau setiap keluarga kalangan atas yang berada di
kota Po-tcng telah menganggap dirimu sebagai makhluk aneh?
Bila kau tak tahu mengubah diri, mungkin tiada anak gadis
yang mau kawin denganmu.”
Mendengar perkataan tersebut, Ki See-kiat segera
menjawab, “Pertama, aku tidak merasa pernah berbuat salah.
Kedua, aku pun tak sudi nona-nona dari keluarga kaya menjadi
biniku, peduli amat dengan perkataan orang.”
Nyo toakoh lalu menghela napas panjang.
“Aaai… sekalipun kau tidak gelisah, paling tidak harus
berpikir bagiku, selewatnya tahun baru kau sudah berusia
duapuluh delapan tahun dan belum beristri, belum punya
pandangan, sampai kapan aku baru bisa memondong cucu?”
Ki See-kiat kembali tertawa “Kan ada putramu yang menemani
kau? Masa tidak cukup? Soal perkawinan adalah masalah
besar, Suatu masalah yang tak bisa dipaksakan, bila suami
istri tak akur, tiap hari cekcok melulu, bukankah kau orang tua
tak bakal senang?”
Beberapa patah kata itu ada sebagian yang persis mengena
di hati Nyo toakoh.
Ternyata sejak terjadinya peristiwa itu terhadap putranya
dia menaruh semacam perasaan “kehilangan sesuatu tetapi
mendapatkan yang lain”. Tak seperti dahulu, terhadap putra
sendiri pun seolah-olah orang asing.
Oleh karenanya walaupun dia merasa tidak puas dengan
cara kerja putranya pada waktu itu, namun hubungan
perasaan antara ibu dan anak makin bertambah erat, dan
keakraban itu sudah cukup untuk menutupi perasaan
mendongkol di dalam hatinya.
Bukti yang jelas, di saat yang paling kritis putranya masih
tetap membantu ibunya.
Dalam hati kecilnya Nyo toakoh berpikir, “Bocah ini masih
belum bisa melupakan orang she Leng itu, terpaksa biarlah dia
berbuat sesukanya untuk sementara waktu.”
Berpikir demikian, dia lantas berkata, “Kau tak suka nona
orang lain juga tak menjadi soal. Cuma haruslah tahu sedikit
perasaan, bayangkan saja sikapmu terhadap keluarga Lo
tempo hari, sungguh membuatku tersipu-sipu, apalagi
terhadap Pui suheng, tak pantas kau berbuat demikian.”
“Ibu, sekali lagi kuulangi,” kata Ki See-kiat cepat. –Aku tak
merasa kalau perbuatan yang kulakukan itu salah!”
“Aku tak mengatakan perbuatanmu itu semua salah, kau
bisa membalaskan sakit hatiku dan memukul mundur Utti
Keng, hal itu merupakan suatu perbuatan yang baik sekali.
Maksudku, aku hanya minta padamu agar sedikit tahu
perasaan!”
“Ibu, selama ini bukankah kau selalu luntang-lantung
seorang diri tanpa menggubris perkataan orang lain?”
Perlu ketahui, Nyo toakoh bergelar Lak-jiu-Koan-im, tentu
saja soal hubungan persahabatan tak akan begitu baik, cuma
sebagai putranya tentu saja dia merasa tak leluasa untuk
secara langsung menyinggung soal julukan ibunya.
Nyo toakoh menghela napas panjang, “Aai, sekarang aku
pun mulai menyesali tindak-tandukku semasa muda dulu. Aku
tahu, orang lain menyebutku Lak-jiu-Koan-im (Koan-im
Bertangan Keji}, cuma aku hanya bertangan keji bila
menghadapi orang persilatan, selamanya tak bertangan keji
terhadap sanak keluarga sendiri.”
Mendengar itu, diam-diam Ki See-kiat berpikir “Aku lihat,
meski dalam dunia persilatan terdapat juga mereka yang
munafik dan rendah moralnya, namun bagaimanapun juga
masih mendingan mereka daripada sanak keluargamu itu.”
Terdengar Nyo toakoh berkata lagi, “Aaaai… kini aku baru
tahu kalau aku benar-benar sudah tua, yaah, mulai sekarang
aku pun tak akan melakukan perjalanan lagi dalam dunia
persilatan.”
Ucapan tersebut seakan-akan muncul secara mendadak,
tapi sebagai putranya, anak muda itu mengerti lantaran
apakah hal tersebut sampai diutarakan keluar.
“Ibu, kau tak lebih baru berusia limapuluh tahunan, belum
termasuk tua. Tempo hari ananda bertindak karena aku tak
ingin ibu menyerempet bahaya, itulah sebabnya aku lantas
mewakilimu memukul rontok senjata rahasia dari Ki Seng-in.
Sekalipun ananda tidak turun tangan, kau pasti dapat
mengungguli dia.”
Nyo toakoh tertawa getir.
“Kau tak usah mengumpak diriku, seandainya aku lebih
muda sepuluh tahun, mungkin saja aku masih sanggup
menghadapi Jian-jiu-Koan-im (Koan-im Bertangan Seribu) tapi
sekarang aku bukan tandingannya lagi. Untung aku punya
anak berilmu tinggi seperti kau, jadi aku tak usah berkelana
lagi dalam dunia persilatan hanya dikarenakan ingin mencari
nama….”
Setelah mengalami kekalahan tempo hari, sekalipun tidak ia
katakan, Ki See-kiat juga dapat merasakan kalau ibunya jauh
lebih menua.
Sejak kecil Ki See-kiat sudah kehilangan ayahnya,
menghadapi ibunya yang murung dan sayu, tanpa terasa
hatinya menjadi kecut
“Ibu memang sudah tua,” demikian dia berpikir. “Lebih baik
ku temani dia beberapa tahun lagi, aku tak boleh
meninggalkannya seorang diri.”
Ternyata selama berapa bulan ini, bukan hanya sekali saja
timbul niatinya untuk meninggalkan rumah.
Nyo toakoh seperti dapat membaca suara hati putranya, dia
lantas berkata, “Kiat-ji, seandainya kau merasa kesal tinggal di
rumah, tak ada salahnya jalan-jalan ke ibu kota.”
“Mau apa ke ibu kota?”
“Aku tahu kau paling cocok dengan Peng-ci dan Lian-kui,
bagaimanapun mereka bukan piausu kenamaan dalam
perusahaan Ceng-wan piaukiok. bila kau ke sana, mereka
punya waktu untuk menemani kau pesiar.”
“Aah, tidak, aku tak akan ke situ, aku ingin tinggal di rumah
bersama ibu.”
“Toh bukan pergi selamanya, imunlah barang sepuluh hari
atau setengah bulan, ibu tidak keberatan kau pergi ke sana,”
Nyo toakoh tertawa.
“Ibu tidak keberatan lantaran ananda yang keberatan
meninggalkan ibu? Dengan susah payah kita dapat berkumpul
kembali sekarang, soal ke ibu kota lain waktu masih banyak
kesempatan, mengapa aku harus meninggalkan rumah sekarang
juga?”
Nyo toakoh benar-benar merasa gembira sekali setelah
mendengar perkataan itu, katanya kemudian, ‘Tak kusangka
kau begitu berbakti kepadaku, aai… aku juga tak tak tahu
masih bisa hidup berapa tahun lagi, kalau begitu temanilah
aku selama beberapa tahun lagi.”
Padahal masih ada satu alasan (ain yang menyebabkan Ki
See-kiat enggan pergi ke ibu kota, yaitu karena Nyo Bokjuga
berada di situ.
Ki See-kiat tak senang dengan engku (adik ibu)nya ini,
benar dia bisa menolak untuk bekerja dengan engku-nya ini,
tapi dengan hubungan mereka yang begitu erat, setibanya di
ibu kota berarti dia harus pergi mengunjungi engku-nya itu.
Seringkah banyak kejadian tak terduga yang bisa
berlangsung tanpa diundang, tak sampai sepuluh hari setelah
peristiwa di gedung keluarga Pui, suatu peristiwa yang tak
terduga telah berlangsung.
Malam itu, ketika mendekati tengah malam baru saja dia
akan tidur, mendadak terdengar desiran angin lirih di atas
atap rumah, dengan mengandalkan pengetahuan serta ilmu
silat yang dimilikinya sekarang, dia segera mengetahui kalau
ada orang sedang berjalan malam di atas genteng.
Begitu mengetahui kalau ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki orang itu cukup tangguh, dia lantas berpikir,
“Mungkinkah Utti Keng yang datang mencariku? Tapi mengapa
dia hanya seorang diri?”
Pikir punya pikir, dia jadi khawatir kalau orang itu adalah
musuh besar ibunya yang datang mencari balas.
Seperti diketahui, ibunya bergelar Lak-jiu-Koan-im, tidak
sedikit musuh besar yang diikatnya selama berkelana dalam
dunia persilatan, malah belakangan ini ibunya telah
membunuh The Hiong-toh, seorang perampok ulung dari
dunia persilatan yang dibunuhnya di wilayah Sinkiang.
Tapi, tak peduli orang itu sahabat atau musuh, ia tak bisa
berpeluk tangan dengan begitu saja.
Baru saja ia membuka pintu kamar, tampak sesosok
bayangan hitam telah melompat turun dari atas dinding
pekarangan dan melangkah ke halaman di belakang kamar
tidurnya.
Ki See-kiat segera melompat keluar dari balik kegelapan,
kemudian sambil merentangkan lengannya dia berkata dengan
suara dalam, “Sobat, berhenti!”
Orang itu tidak berbicara, sepasang tapak tangannya segera
direntangkan, dan kemudian dengan jurus Lak-jut-ci-san
(Enam Lekukan Bukit Ci-san) melepaskan pukulan ke arahnya.
Begitu serangan dilancarkan, Ki See-kiat menjadi amat
terperanjat. Yang membuatnya terperanjat bukan ilmu silatnya
yang lihay, melainkan jurus Lak-jut-ci-san itu merupakan salah
satu jurus yang tangguh dalam Lak-yang-jiu keluarga Nyo.
Kesempurnaan Lak-yang-jiu yang dimiliki orang ini meski
belum melebihi ibunya, namun jauh lebih sempurna dari
permainannya sendiri.
Buru-buru Ki See-kiat menangkis dengan jurus Ji-hong-si-pit
dari ilmu Lak-yang-jiu pula, kali ini dia hanya menggunakan
tenaga sebesar tiga bagian untuk membawa ancaman lawan
keluar dari garis.
Orang itu agak sempoyongan, kemudian tertawa terbahakbahak,
“Haa.. haa… haa… See-kiat, ilmu Lak-yang-jiu-mu
benar-benar hebat,” puji orang itu sambil tergelak “Seingatku,
jurus Ji-hong-si-pit ini kau pelajari atas petunjukku, kini
hampir saja aku tak mampu menandingimu. Masih ingatkah
dengan diriku?”
Ki See-kiat agak tertegun, serunya tergagap, “Sii… siapa.,
siapakah kau?”
Padahal dia sudah tahu siapakah orang itu.
Pada saat itulah Nyo toakoh sudah mendengar suara ributribut
dan memburu ke situ. Benar juga, begitu tiba dia lantas
menegur, “Kiat-ji, mengapa kau bertarung dengan engkumu?”
“Di tengah malam buta, bukannya masuk lewat pintu
gerbang, tapi menyelundup masuk lewat pintu belakang, siapa
yang menduga kalau dia adalah engku?” dengan perasan tak
senang bercampur mendongkol Ki See-kiat berseru.
“Anak bodoh, kau sudah lupa dengan kedudukan engku-mu
sekarang? Kini engku-mu adalah seorang pengawal istana
yang bertugas di samping kaisar, tentu saja jejaknya harus
dirahasiakan.”
Dia khawatir putranya mengejek, maka ia memberi tanda
agar dia jangan kehilangan rasa hormat.
Ki See-kiat berlagak seperti tidak mengerti, segera ucapnya,
“Ooh… rupanya kau sudah menjadi pengawal istana? Lantas
mengapa gerak-gerikmu harus main sembunyi seperti takut
bertemu orang saja?”
Nyo Bok segera tertawa terbahak-bahak, “Haahh… haahh…
haahh… Engku-mu yang dulu seorang busu itu kini sudah
mampus, selain kalian ibu dan anak serta dua orang muridku,
tiada orang yang tahu kalau sesungguhnya aku masih hidup,
lebih-lebih tiada orang yang tahu kalau aku telah menjadi
pengawal istana. Orang yang sudah mati tentu saja tak bisa
berjalan seenaknya di tengah hari bukan? Apalagi masuk lewat
pintu gerbang secara terang-terangan?”
“Aku masih tidak habis mengerti, engku, sesungguhnya kau
toh belum mati, mengapa harus berlagak sudah mati?”
Buru-buru Nyo toakoh menimbrung, “Adikku, kau jangan
menertawakan kebodohan keponakanmu ini, dia memang
berotak bebal, baru bertemu sedikit persoalan yang memusingkan
kepala, dia sudah dibikin kebingungan setengah
mati.”
Sambil tertawa Nyo Bok segera menyambung, “Oleh karena
sudah banyak tahun aku tak pernah muncul lagi dalam dunia
persilatan, orang persilatan mengira aku sudah berpulang ke
alam baka. Padahal aku lebih senang jika mereka menganggap
aku sudah mati, sebab dengan begitu aku akan lebih
leluasa lagi untuk melaksanakan tugas dari kaisar…!”
“Ooh, kiranya begitu,” sekarang Ki See-kiat baru berlagak
seakan-akan setengah mengerti setengah tidak.
“Adikku, lantaran urusan apa kau meninggalkan ibu kota
kali ini?” tanya Nyo toakoh kemudian.
“Aaai, panjang sekali untuk diceritakan….”
“Kalau begitu mari kita masuk dan diperbincangkan pelanpelan.
Anak Kiat, cepat ambilkan air teh untuk engku-mu!”
Setelah duduk dan menghirup air teh setegukan, Nyo Bok
baru berkata, “Enci, kionghi, kionghi untukmu!”
“Kionghi soal apa?” “Berita tentang berhasilnya anak Kiat
mengalahkan Utti Keng telah tersiar luas sampai di ibu kota,
kau bisa mempunyai seorang putra semacam ini, aku yang
menjadi engku-nya turut merasa bangga.”
“Ooh, cepat amat berita itu tersiar,” seru Nyo toakoh
tertawa. ”Padahal berita itu tidak benar seluruhnya.”
“Bagaimana tidak benarnya?”
“Utti Keng hanya memberi batas seratus gebrakan saja, ia
baru berhasil mengalahkan anak Kiat pada jurus keseratus
duabelas, maka dia mengaku kalah, jadi bukan kekalahan
yang sebenarnya.”
“Kejadian seperti itu sudah merupakan suatu kejadian yang
amat hebat,” sela Nyo Bok sambil tertawa. “Berbicara
sebenarnya, di antara para pengawal istana, belum tentu ada
seorang manusia pun yang sanggup menerima seratus jurus
serangan Utti Keng.”
“Kau kelewat memuji dia. Cuma dia berhasil mengalahkan
orang itu dengan mengandalkan Lak-yang-jiu, jadi kalau
dihitung-hitung, dia telah mengangkat nama keluarga Nyo
kita.”
Rasa bangga jelas terlihat di atas wajahnya.
“Benar, itulah sebabnya aku pun turut merasa bangga,”
sambung Nyo Bok. “Bicara terus terang, keper-gianku
meninggalkan ibu kota kali ini, pertama karena kudengar
kalian ibu dan anak telah pulang maka sengaja datang
menengok, kedua juga dikarenakan masalah Utti Keng.”
“Konon di masa lampau Utti Keng pernah menyelundup
masuk ke dalam Istana Terlarang dan mencuri barang mestika
istana. Apakah sri baginda yang menitahkanmu untuk
meringkus Utti Keng?”
“Cici, kau kelewat menilai tinggi diriku,” seru Nyo Bok
sambil tertawa. “Aku rasa congkoan dari pengawal istana pun
belum berani merecoki Utti Keng, apalagi diriku ini? Dia tahu
jelas akan hal ini, bagaimana mungkin tugas berat semacam
itu dibebankan kepadaku? Cuma congkoan pengawal istana
memang mengutus aku keluar untuk mencari seseorang guna
menghadapi Utti Keng.”
Nyo toakoh tahu kalau adiknya hendak membicarakan
sesuatu, maka dia hanya bungkam seribu bahasa.
Terdengar Nyo Bok berkata lebih jauh, “Utti Keng suami
istri pernah melakukan beberapa kali perampokan besar di ibu
kota, maka ketika mendapat kabar kalau kedua orang suami
istri itu muncul lagi di kota Po-teng, banyak orang yang panik
dan khawatir, khawatir kalau mereka datang lagi ke ibu kota
dan membuat keonaran. Meskipun Sri baginda tidak berhasrat
menelusuri kembali peristiwa pencurian di masa (alu, namun
congkoan pengawal istana serta komandan pengawal khusus
kena direcoki tiap hari oleh keluarga raja-raja muda sampai
siang malam tak enak makan dan tidur, itulah sebabnya…”
“Peristiwa ini berlangsung pada sepuluh hari berselang,”
tukas Nyo toakoh cepat, “kalau didengar nada
pembicaraanmu, tampaknya Utti Keng suami istri belum
muncul di ibu kota.”
“Benar, pihak istana telah mengutus mata-mata untuk
melakukan pemeriksaan, tapi jejak kedua orang suami istri itu
belum berhasil ditemukan.”
“Utti Keng suami istri merupakan orang-orang yang
berpandangan tinggi dan sombong, siapa tahu mereka sudah
kembali ke Kwangtang gara-gara menderita kekalahan di
tangan Kiat-ji tempo hati?”
“Moga-moga saja begitu. Cuma para raja muda di ibu kota
kelewat ketakutan terhadap sepasang perampok ulung itu
mereka tak berani bertindak teledor dengan begitu saja.
Andaikata bisa ditemukan seseorang yang sanggup
menghadapi Utti Keng, kemudian dibantu beberapa orang
pengawal istana kelas satu, aku pikir masih ada harapan untuk
membekuk kedua orang perampok ini.”
Tiba-tiba Ki See-kiat berkata, “Aku tahu ada seseorang yang
mampu menghadapi Utti Keng.”
“Oh, lebih hebatkah ilmu silatnya darimu?”
“Tentu saja jauh lebih hebat, kendatipun usianya jauh lebih
muda”
Tapi Nyo Bok segera menggebu
“Aku tidak percaya, sekalipun ada manusia semacam ini, dia
toh tak akan membantuku, bagaimana mungkin bisa
menandingi hubungan kita sebagai engku dan keponakan...”
“Engku, kau keliru,” kata Ki See-kiat sambil tertawa.
“Aku keliru?” Nyo Bok tertegun.
“Sekalipun aku tak tahu apakah dia bersedia membantumu
atau tidak, tapi hubungannya dengan dirimu jauh lebih erat
ketimbang hubunganku dengan dirimu!”
Perlu diketahui, kendatipun Ki See-kiat tidak begitu suka
dengan engku-nya, namun dia merasa berkewajiban untuk
menyampaikan kabar tentang adik misannya kepada Nyo Bok.
Akan tetapi berhubung sejak kedatangannya Nyo Bok hanya
sibuk membicarakan soal Utti Keng, dia dan ibunya tidak
memperoleh kesempatan untuk mengemukakan masalah itu.
Maka setelah menangkap maksud Nyo Bok yang datang
untuk minta bantuan, dia lantas menggunakan kesempatan itu
dengan mengemukakan Nyo Yan sebagai tameng.
Sudah barang tentu dia sendiri pun tahu kalau Nyo Yan tak
bakal membantu ayahnya.
“Apakah kau maksudkan anakku Yan-ji?” mendadak Nyo
Bok berseru dengan perasaan terperanjat.
“Benar, engku, apakah kau tak tahu kalau kepergianku ke
wilayah Sinkiang adalah untuk mencari adik misan?”
“Aku tahu, aku pun tahu kalau kalian ibu dan anak telah
pulang, akan tetapi aku tak punya keberanian untuk
mengajukan pertanyaan tersebut kepada kalian. Aaai… meskipun
ibu dari anak itu tidak setia, bagaimanapun juga dia
adalah satu-satunya darah dagingku, bagaimana mungkin aku
tidak merindukan dia? Mungkin hingga sekarang dia masih
belum tahu kalau aku adalah ayah kandungnya.”
“Aku duga ia sudah tahu.”
“Jadi kalian berhasil berjumpa dengan dia?” seru Nyo Bok
kejut bercampur girang.
“Benar, aku dan Kiat-ji secara beruntun telah menjumpai
dirinya….”
“Cici, apakah dia mengetahui rahasia riwayat hidupnya?”
buru-buru Nyo Bok bertanya lagi.
“Aku belum memberitahukan hal tersebut kepadanya.”
“Kenapa?” tanya Nyo Bok tercengang.
“Setelah pertemuan itu aku baru tahu kalau dia adalah anak
Yan.”
Secara ringkas dia lantas mengisahkan apa yang telah
terjadi tempo hari, sebagai akhir kata dia menambahkan, “Dia
sudah terpikat oleh siluman perempuan, belum sempat aku
mengutarakan hal yang sebenarnya, dia sudah kabur bersama
perempuan siluman itu. Adikku, bagaimanakah caranya di
kemudian hari untuk membawanya ‘melepaskan jalan sesat
kembali ke jalan benar’, hal tersebut tergantung dari pendidikanmu
sebagai ayahnya.”
Nyo Bok tertawa getir.
“Aku sebagai seorang pengawai istana hanya bisa pergi
atas dasar perintah, bagaimana mungkin aku bisa melalaikan
tugas dengan pergi ke Sinkiang untuk itu? Apalagi Sinkiang
begitu besar, belum tentu aku bisa menemukannya”
“Hubungan ayah dan anak melebihi apa pun, kecuali dia
tidak tahu siapakah ayahnya, kalau tidak, kuduga dia pasti
akan kembali ke kota Po-tcng untuk mencarimu.”
Ternyata dugaan Nyo toakoh dalam hal ini tepat sekali,
waktu ini Nyo Yan memang sedang dalam perjalanan menuju
ke kota Po-teng
Nyo Bok kembali menjawab sambil tertawa getir, “Sudah
barang tentu aku berharap dia mau pulang mencariku, tapi
aku khawatir harapanku ini tipis sekali. Lagi pula aku tak tahu
sampai kapan dia baru kembali, untuk menolong kebakaran
tak mungkin bisa mengharapkan air dari jauh!”
Berbicara sampai di sini, secara blak-blakan Nyo Bok segera
mengemukakan keinginannya
“Cici, bukankah kau sangat berharap Kiat-ji bisa mempunyai
masa depan yang cemerlang? Kini kesempatan baik telah tiba
biarlah dia turut aku pergi ke ibu kota”
“Maksudmu, kau hendak meminta bantuannya untuk
membantu kalian menghadapi Utti Keng?”
“Betul, kisah pertarungan keponakan Kiat melawan Utti
Keng telah menggetarkan seluruh ibu kota, terus terang saja
kukatakan, kedatanganku kali ini adalah atas perintah
congkoan tayjin untuk mengundangnya masuk ibu kota.”
“Tidak bisa!” tolak Nyo toakoh.
“Kenapa tidak bisa?” tanya Nyo Bok dengan wajah
tercengang. “Bukankah kau berharap ia bisa menduduki
jabatan yang tinggi sehingga menjunjung nama baik kakek
moyangnya?”
”Kini aku telah berubah pikiran,” sahut Nyo toakoh.
Sesudah berhenti sebentar, pelan-pelan dia melanjutkan,
“Pertama, dengan susah payah aku harus berangkat sendiri ke
wilayah Sin-kiang sebelum berhasil mencarinya kembali; aku
menginginkan dia menemani aku selama beberapa tahun
untuk melepaskan rasa rinduku kepadanya. Kedua,
sesungguhnya dia pun bukan tandingan Uttj Keng, kendatipun
menjadi pembesar itu baik, tapi nyawa jauh lebih berharga
daripada segala-galanya!”
“Toh bukan hanya dia seorang yang harus menghadapi Utti
Keng?” kembali Nyo Bok membujuk.
“Engku!” tukas Ki See-kiat tiba-tiba, “harap kau jangan
melanjutkan pembicaraan tersebut, pokoknya aku segan kalau
disuruh menghadapi Utti Keng…!”
“Sewaktu kau berada seorang diri pun kau masih sanggup
menghadapinya, kenapa setelah ada orang membantumu, kau
malah segan untuk melakukannya? Pamor Utti Keng sudah
kau rusak di dalam pertarungan tempo hari, apakah kau tidak
khawatir ia mendendam kepadamu?”
“Dalam peristiwa yang lampau, pertarungan itu bisa
berlangsung berhubung Utti Keng suami istri telah bersikap
kurang sopan kepadaku, untuk membalaskan sakit hati inilah
terpaksa Kiat-ji bertarung melawannya, kemudian Utti Keng
minta maaf kepadaku dan rasa kesalku kepadanya pun lenyap
tak berbekas. Prinsipku sekarang, asal tiada orang
menggangguku, aku pun tak akan mengijinkan Kiat-ji mengganggu
orang.”
“Benar,” sambung Ki See-kiat pula, “dalam pertarungan itu,
sesungguhnya aku tak akan mampu mengalahkan dia, adalah
dia yang sengaja mengalah kepadaku sehingga aku tak
sampai cedera, lagi pula dia malah mengaku kalah. Coba bayangkan
sendiri, berbicara soal ke-setiakawanan dalam dunia
persilatan, pantaskah bila aku mencari teman untuk
menghadapinya bersama-sama?”
Nyo Bok mengira ibu dan anak berdua ini menolak
ajakannya ber hubung takut pada Utti Keng suami istri, maka
tanpa berpikir lebih jauh kembali ujarnya, “Kalau begitu, aku
mempunyai dua macam cara yang baik sekali agar cici bisa
memenuhi ‘ harapannya dan See-kiat pun dapat menjaga
kesetiakawanannya.”
“Coba terangkan dulu, cara macam apa yang kau
maksudkan sebagai cara yang sempurna?”
“Keponakan Kiat boleh turut aku ke ibu kota untuk menjadi
pengawal istana, sebelumnya akan kubicarakan dulu dengan
congkoan tayjin agar ia dibebaskan dalam tugas penangkapan
terhadap Utti Keng. Dari Po-teng sampai ke ibu kota paling
cuma dua hari perjalanan, kau bisa sering menengoknya di
sana atau paling baik lagi bila kau pun ikut pindah ke ibu kota.
Dengan demikian, bukankah dia masih tetap dapat melayani
masa tuamu nanti?”
Tanpa terasa tergerak juga hati Nyo toakoh setelah
mendengar perkataan itu, namun ketika teringat akan janjinya
pada putranya dulu ia tak berani menyanggupi dengan begitu
saja.
“Cici tak usah ragu lagi,” kembali Nyo Bok membujuk. “Baru
terjun ke dunia persilatan, Kiat-ji sudah dapat menjadi
pengawal istana, kejadian ini luar biasa dan tak mungkin bisa
dialami oleh orang lain!”
“Setiap orang mempunyai cita-cita dan jalan pemikiran
masing-masing, jikalau orang lain menganggap hal itu luar
biasa, biarkanlah orang lain berpendapat demikian, kalau aku
tidak!” ujar Ki See-kiat ketus.
“Mengapa kau segan?”
‘Tidak karena apa-apa, aku hanya tak mau menim orang
lain menjadi seorang budak,” kata pemuda itu sinis.
Tentu saja yang dimaksud sebagai “orang lain” adalah
engku-nya sendiri.
Dengan wajah berubah Nyo Bok menatapnya, tapi karena
dia adalah seorang manusia yang licik dan banyak tipu
muslihat, ia tak menjadi marah malah sebaliknya tertawa
terbahak-bahak, “Haaaa… haaa… kita bekerja untuk sri
baginda, bila kau bersikeras mengatakan pekerjaan ini sebagai
budak, maka seharusnya dikatakan sebagai budaknya sri
baginda”
“Engku, kau tahu watakku adalah tidak senang bila
diperintah orang, sekalipun menjadi budaknya sri baginda, toh
tetap seorang budak! Aku tak bisa meniru cara engku, setiap
persoalan setiap tindakan harus menuruti perintah congkoan.
Maaf, aku telah menganggap congkoan tayjin-mu sebagai
budak, harap kau jangan marah.”
Walaupun nada pembicaraannya kali ini jauh lebih lembut
dan lunak, padahal nada sindirannya jauh lebih tebal dan tak
sedap.
Buru-buru Nyo toakoh melerai.”Cici tak usah ragu lagi,”
kembali Nyo Bok membujuk. “Baru terjun ke dunia persilatan,
Kiat-ji sudah dapat menjadi pengawal istana, kejadian ini luar
biasa dan tak mungkin bisa dialami oleh orang lain!”
“Setiap orang mempunyai cita-cita dan jalan pemikiran
masing-masing, jikalau orang lain menganggap hal itu luar
biasa, biarkanlah orang lain berpendapat demikian, kalau aku
tidak!” ujar Ki See-kiat ketus.
“Mengapa kau segan?”
‘Tidak karena apa-apa, aku hanya tak mau menim orang
lain menjadi seorang budak,” kata pemuda itu sinis.
Tentu saja yang dimaksud sebagai “orang lain” adalah
engku-nya sendiri.
Dengan wajah berubah Nyo Bok menatapnya, tapi karena
dia adalah seorang manusia yang licik dan banyak tipu
muslihat, ia tak menjadi marah malah sebaliknya tertawa
terbahak-bahak, “Haaaa… haaa… kita bekerja untuk sri
baginda, bila kau bersikeras mengatakan pekerjaan ini sebagai
budak, maka seharusnya dikatakan sebagai budaknya sri
baginda”
“Engku, kau tahu watakku adalah tidak senang bila
diperintah orang, sekalipun menjadi budaknya sri baginda, toh
tetap seorang budak! Aku tak bisa meniru cara engku, setiap
persoalan setiap tindakan harus menuruti perintah congkoan.
Maaf, aku telah menganggap congkoan tayjin-mu sebagai
budak, harap kau jangan marah.”
Walaupun nada pembicaraannya kali ini jauh lebih lembut
dan lunak, padahal nada sindirannya jauh lebih tebal dan tak
sedap.
Buru-buru Nyo toakoh melerai. Nyo toakoh seperti dapat
membaca suara hati putranya, dia lantas berkata, “Kiat-ji,
seandainya kau merasa kesal tinggal di rumah, tak ada
salahnya jalan-jalan ke ibu kota.”
“Mau apa ke ibu kota?”
“Aku tahu kau paling cocok dengan Peng-ci dan Lian-kui,
bagaimanapun mereka bukan piausu kenamaan dalam
perusahaan Ceng-wan piaukiok. bila kau ke sana, mereka
punya waktu untuk menemani kau pesiar.”
“Aah, tidak, aku tak akan ke situ, aku ingin tinggal di rumah
bersama ibu.”
“Toh bukan pergi selamanya, imunlah barang sepuluh hari
atau setengah bulan, ibu tidak keberatan kau pergi ke sana,”
Nyo toakoh tertawa.
“Ibu tidak keberatan lantaran ananda yang keberatan
meninggalkan ibu? Dengan susah payah kita dapat berkumpul
kembali sekarang, soal ke ibu kota lain waktu masih banyak
kesempatan, mengapa aku harus meninggalkan rumah sekarang
juga?”
Nyo toakoh benar-benar merasa gembira sekali setelah
mendengar perkataan itu, katanya kemudian, ‘Tak kusangka
kau begitu berbakti kepadaku, aai… aku juga tak tak tahu
masih bisa hidup berapa tahun lagi, kalau begitu temanilah
aku selama beberapa tahun lagi.”
Padahal masih ada satu alasan lain yang menyebabkan Ki
See-kiat enggan pergi ke ibu kota, yaitu karena Nyo Bok juga
berada di situ.
Ki See-kiat tak senang dengan engku (adik ibu)nya ini,
benar dia bisa menolak untuk bekerja dengan engku-nya ini,
tapi dengan hubungan mereka yang begitu erat, setibanya di
ibu kota berarti dia harus pergi mengunjungi engku-nya itu.
Seringkah banyak kejadian tak terduga yang bisa
berlangsung tanpa diundang, tak sampai sepuluh hari setelah
peristiwa di gedung keluarga Pui, suatu peristiwa yang tak
terduga telah berlangsung.
Malam itu, ketika mendekati tengah malam baru saja dia
akan tidur, mendadak terdengar desiran angin lirih di atas
atap rumah, dengan mengandalkan pengetahuan serta ilmu
silat yang dimilikinya sekarang, dia segera mengetahui kalau
ada orang sedang berjalan malam di atas genteng.
Begitu mengetahui kalau ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki orang itu cukup tangguh, dia lantas berpikir,
“Mungkinkah Utti Keng yang datang mencariku? Tapi mengapa
dia hanya seorang diri?”
Pikir punya pikir, dia jadi khawatir kalau orang itu adalah
musuh besar ibunya yang datang mencari balas.
Seperti diketahui, ibunya bergelar Lak-jiu-Koan-im, tidak
sedikit katanya, “Adikku, terima kasih banyak atas maksud
baikmu hendak mengangkat keponakanmu untuk menduduki
jabatan tinggi, sayang Kiat-ji tidak cocok menjadi pembesar,
hingga kini aku pun menjadi putus asa menyaksikan tingkah
lakunya itu.”
Nyo Bok masih tak mau menyerah dengan begitu saja,
kembali ujarnya, “Jika dia tak suka menerima perintah orang
lain, aku masih ada cara lain untuk ditempuh.”
“Mau menjadi pembesar tapi tak mau terikat dan diperintah,
aah, masa ada pekerjaan yang begitu baik di dunia ini?” kata
Nyo toakoh sambil tertawa.
Mendadak Nyo Bok mengalihkan pokok pembicaraannya ke
soal lain, ujarnya, “Konon sewaktu Sce-kiat masih ada
Sinkiang ia telah berkenalan dengan seorang gadis she Leng
dari Thian-san-pay. Cici, bersediakah kau menerima nona Leng
itu sebagai menantumu?”
“Song Peng-ci dan Oh Lian-kui yang memberitahukan
kepadamu?” seni Nyo toakoh.
“Benar. Menurut mereka, Sce-kiat amat senang pada nona
ini, entah apa sebabnya kau tak setuju untuk menjodohkan
mereka?”
Ki See-kiat menggigit bibirnya kencang-kencang tidak
berbicara, sementara hatinya merasa perih dan sakit Di
samping itu, dia pun tidak habis mengerti apa sebab persoalan
itu disinggung-singgung oleh eng-ku-nya
Nyo toakoh sendiri pun tidak senang adiknya menyinggung
kembali persoalan yang merupakan ganjalan bagi ibu dan
anak itu, tapi toh dia berkata juga, “Kalau toh Peng-ci dan
Lian-kui telah memberitahukan kepadamu, tentunya kau juga
tahu bukan apa sebabnya aku tak setuju untuk menjodohkan
mereka berdua. Apakah muridmu itu tidak menyebutkan asalusul
nona Leng?”
“Konon dia adalah keponakan perempuan Leng Thiat-jiau?”
‘Tepat sekali. Leng Thiat-jiau bermusuhan dengan
pemerintah, sedang kau adalah pengawal istana yang
melindungi keselamatan sri baginda, masa kau senang melihat
keponakan perempuan Leng Thiat-jiau menjadi menantu
keponakanmu? Bicara terus terang saja, sebagian besar
alasanku adalah dikarenakan kedudukanmu sekarang, maka
aku keberatan untuk mengikat hubungan ini!”
Perlu diketahui, kendatipun mereka adalah saudara
kandung, tapi setelah persoalan menyangkut masalah
“pemberontakan” mau tak mau dia harus meningkatkan
kewaspadaannya. Ia sengaja berkata demikian untuk
membaiki udiknya, daripada Nyo Bok curiga.
Siapa tahu Nyo Bok dengan senyum tak senyum malahan
tertawa terbahak-bahak, “Haahh… haahh… haahh… Cici, aku
justru hendak memberi tahu kepadamu, aku gembira sekali
dengan perkawinan keponakan Kiat dengan nona Leng itu!”
Kali ini giliran Nyo toakoh yang tercengang, dia memandang
wajah adiknya keheranan, sementara hatinya tidak habis
mengerti apakah ucapan itu berarti sebenarnya atau justru
merupakan kebalikannya
“Cici, kau tak usah curiga” kembali Nyo Bok tertawa. “Aku
ber-sungguh hati memohonkan pengertianmu bagi See-kiat
Aku pun mendengar orang bilang, sepulangnya kemari kau
telah menghubungi mak comblang untuk mencarikan jodoh
baginya, tapi ia selalu menolak. Kalau toh dia menyukai nona
Leng seorang, buat apa kau mesti memisahkan mereka
berdua?”
0odwo0
Rencana Busuk di Balik Maksud Baik
“Apakah kau tidak khawatir bila dia benar-benar mengawini
keponakan perempuan Leng Thiat-jiau, maka kejadian ini akan
mempengaruhi masa depanmu?” tanya Nyo toakoh
Nyo Bok segera tertawa, “Aku telah menerangkan persoalan
ini kepada congkoan tayjin. Justru dialah yang menganjurkan
kepadaku untuk kemari dan memohonkan pengertian darimu.”
“Aku benar-benar tak habis mengerti obat apa yang
sebenarnya kau jual di dalam buli-bulimu itu? Orang tua hanya
melahirkan kita berdua, aku adalah satu-satunya enci-mu, tak
ada salahnya bila kau bertenis terang saja padaku!”
Bagaimanapun jua dia adalah seorang yang
berpengalaman, secara lamat-lamat ia dapat merasakan
bahwa di balik “maksud baik” adiknya ini pasti tersembunyi
suatu rencana busuk
Benar juga sambil tertawa terbahak-bahak Nyo Bok berkata
“Asal dia tidak sejalan dengan Leng Thiat-jiau, hal ini sudah
lebih dari cukup. Bila ia menikahi keponakan perempuan Leng
Thiat-jiau, berarti dia akan mengetahui lebih banyak rahasiarahasia
yang menyangkut gerak-gerik komplotan Leng Thiatjiau.
Bila secara diam-diam kami mengutus orang untuk
melakukan hubungan kontak dengannya maka bukan saja
gerak-geriknya tak akan dirintangi bahkan berjasa pula bagi
kerajaan. Di kemudian hari sudah pasti dia akan menerima
imbalan jabatan yang tinggi bagi jerih payahnya itu. Sebelum
tugas itu berhasil, tentu saja kami pun akan menjaga rahasia
ini baginya!”
Ki See-kiat mendongkol sekali hingga sekujur tubuhnya
gemetar keras, untuk sesaat dia sampai tak sanggup
mengucapkan sepatuh kata pun.
“Tak usah khawatir,” kembali Nyo Bok tertawa. “Kau adalah
menantu keponakan Leng Thiat-jiau, orang-orang dari
komplotannya tak bakal menaruh curiga kepadamu. Orang
muda harus membayangkan masa depan yang cemerlang,
untuk mencapai keadaan seperti itu, tentu saja dia harus
berjuang dan menyerempet bahaya. Heeeeh heeceh, inilah
yang dinamakan tubuh berada di istana Cho hati berada di
pihak Han. Asal kau sanggup bersandiwara dengan sebaikbaiknya,
bagaimana mungkin mereka dapat menembus
rahasia hatimu”
Ki See-kiat benar-benar tak bisa menahan diri lagi, sambil
tertawa dingin serunya, “Engku, aku rasa ucapanmu itu salah
dalam penerapan, siapa yang Cho Coh dan siapa yang bangsa
Han? Kau jangan lupa, orang-orang dari komplotan Leng
Thiat-jiau semuanya bangsa Han sejati!”
Paras muka Nyo toakoh berubah hebat, buru-buru
bentaknya, “Kiat-ji, kau jangan mengaco belo, untung engku
bukan orang luar, coba kalau sampai kedengaran orang lain,
bisa runyam kita! Adik Bok, kau jangan salah mengerti
ucapannya, aku tahu dengan pasti, dia baru dua kali berjumpa
dengan keponakan perempuan Leng Thiat-jiau, sedang dengan
Leng Thiat-jiau pribadi hakikatnya tidak saling mengenal.
Apalagi setelah Utti Keng menderita kekalahan di
tangannya, tindakan itu telah menyalahi pihak Leng Thiat-jiau,
aku rasa dia hanya tak berani menempuh bahaya tersebut
hingga karena salah bicara mengucapkan kata-kata tersebut.
“Adikku, harap kau jangan memikirkan kata-kata tersebut di
dalam hati….”
“Cici, kau pun kelewat khawatir,” Nyo Bok tertawa paksa.
“Masa aku akan melakukan tindakan yang tidak
menguntungkan keponakan sendiri? Kalau toh See-kiat
enggan menyerempet bahaya ini, ya sudahlah.”
Kini dia sudah mencari jalan mundur tanpa harus
kehilangan muka.
Siapa tahu Ki See-kiat telah mengucapkan lagi kata-kata
yang lebih tak sedap didengar, “Bukan aku takut
menyerempet bahaya, seandainya perbuatan itu untuk suatu
kebaikan dan keadilan, engku, jangankan baru persoalan
macam begitu, kendatipun kau suruh aku terjun ke lautan api
atau mendaki bukit golok, aku tak akan menolak!”
Nyo toakoh dapat menangkap nada yang kurang beres di
balik ucapan putranya itu, sepasang matanya kontan melotot
besar.
Sambil tertawa paksa Nyo Bok kembali berkata, “Engku tak
lebih hanya berharap kau dapat memper-sunting seorang istri
yang kau cintai dan bersama-sama berbakti untuk kerajaan,
tindakan ini merupakan suatu perbuatan baik, sekali tepuk
mendapat dua, apakah kau anggap salah?”
“Keponakan tak berani menuduh ucapan engku salah,” ujar
Ki See-kiat pelan-pelan. “Cuma keponakan merasa mata-mata
jauh lebih… lebih dari seorang tak becus!”
Sebetulnya dia ingin mengatakan “lebih-lebih tak tahu
malu”, seandainya mata ibunya tidak melotot besar ke
arahnya, niscaya ucapan tersebut telah diutarakan keluar;
Melotot besar sepasang mata Nyo Bok karena mendongkol,
dia segera mendengus dingin, “Hmm, apa maksudmu yang
sebenarnya?”
“Tidak bermaksud apa-apa, keponakan hanya tahu diriku ini
bukan manusia bertulang budak, lebih-lebih bukan manusia
yang cocok menjadi seorang mata-mata, oleh karena itu aku
tak dapat menuruti permintaanmu itu, harap engku sudi
memaafkan.”
“Kiat-ji,” bentak Nyo toakoh keras, “kau masih berani
mengaco belo tak keruan? Sungguh menjengkelkan hatiku!”
Sambil mengibaskan ujung bajunya Nyo Bok beranjak dari
tempat duduknya, dia berkata, “Sebenarnya aku bermaksud
baik, siapa tahu malah mengundang kesal ahanpahaman
kalian, baiklah, tiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda,
bila kau sukar diberi tahu, sudahlah, terserah pada
kehendakmu sendiri.”
“Adikku, binatang cilik ini tak tahu tingginya langit dan
tebalnya bumi, harap kau sudi memandang wajah cici, jangan
memikirkan perkataannya itu,” buru-buru Nyo toakoh berseru,
kemudian sambil berpaling ke arah putranya, kembali dia
membentak, “Binatang cilik, cepat kemari dan minta maaf
kepada engku-mu.”
Terpaksa Ki See-kiat berkata, “Ananda tak pandai berbicara,
bukan saja menyakiti hati engku, membuat ibu marah lagi,
ananda tahu salah.”
Beberapa patah kata itu diucapkan amat sederhana, kalau
dibilang ucapan itu merupakan permintaan maaf kepada
engku-nya, maka lebih cocok kalau dibilang minta maaf
kepada ibunya. Lagi pula dia hanya mengakui “tidak pandai
berbicara”, jelas ucapan itu bisa diartikan juga kalau dia tidak
mengakui kalau telah salah bicara.
Namun, bagaimanapun juga minta maaf sudah dilakukan,
paras muka Nyo Bok pun jauh lebih baik-an, dengan lagak
pura-pura dia lantas berkata lebih jauh, “Enci, kau tak usah
berkata begitu, masa aku akan ribut dengan seorang angkatan
muda? Cuma aku merasa agak khawatir bila See-kiat sampai
menempuh jalan sesat, meskipun hubungan antara engku dan
keponakan tetap hubungan keluarga toh tak akan melebihi
hubungan ibu dan anak, kini aku sebagai engku-nya gagal
membujuknya, aku hanya bisa berharap kau sebagai ibunya
dapat lebih banyak memberi petunjuk kepadanya.”
“Aku pasti akan mendidiknya dengan ketat,” Nyo toakoh
berjanji. “Adik, kau tidak berdiam lebih lama lagi?”
“Fajar sudah hampir menyingsing, tidak ingin pergi pun tak
bisa. Cici, harap kau menjaga diri baik-baik, bila aku kebetulan
lewat Po-teng lagi pasti akan datang menjengukmu.”
Sepeninggal Nyo Bok, Nyo toakoh duduk kembali sambil
menghela napas panjang.
“Ibu,” Ki See-kiat lantas berkata, “Engku hanya tahu
membuat rencana agar dia cepat naik pangkat, dia hanya
ingin memperalat ananda belaka, masa kau tidak dapat melihatnya?
Kau masih menyalahkan aku yang telah membuat
kesalahan kepadanya?”
“Sekalipun begitu, tidak seharusnya kau mengucapkan katakata
yang tak sedap didengar sehingga menjengkelkan
hatinya!”
“Justru karena aku tak bisa menerima ucapannya maka tak
tahan aku menyemprotnya. Jika lain kali dia tak berani datang
lagi hal itu lebih baik lagi.”
“Belum cukupkah kau membuat marah diriku? Mengapa
mengucapkan lagi kata-kata seperti itu? Aku hanya
mempunyai seorang adik, apakah kau menginginkan aku memutuskan
hubungan dengannya?”
“Ananda tidak berani, cuma ananda berbicara sejujurnya,
manusia macam engku tak lebih hanya manusia yang gila
pangkat dan kemaruk harta, kedatangannya kemari masa
akan mendatangkan kebaikan untuk kita? Ibu, coba kau
bayangkan, dia menyuruh aku meninggalkanmu untuk
melalaikan perbuatan munafik yang terkutuk, bahkan melakukan
pekerjaan macam begitu merupakan pekerjaan yang
tiap kali bisa mengancam keselamatan jiwa sendiri, pernahkah
dia memikirkan tentang dirimu?”
Ucapan tersebut segera menggetarkan hati ibunya, dengan
sedih Nyo toakoh berkata, “Bukankah aku telah membantumu
untuk menolak permintaannya? Tapi, ya… bagaimanapun
juga, dia toh satu-satunya adik kandungku!”
“Ibu, kau pun hanya mempunyai seorang putra. Bukan
berarti aku menganjurkan kepadamu untuk tidak ambil peduli
terhadap engku. Aku hanya berharap kau lebih waspada lagi
terhadapnya demi diriku. Bila dia mau datang, aku tak mungkin
menolaknya, tapi bila kau menyuruh aku berterus terang,
aku tidak senang melihat kehadirannya” Ketika Nyo toakoh
mendengar putranya menyinggung soal “waspada”, hatinya
merasa amat terperanjat, hingga ucapan berikutnya hampir
tidak terdengar lagi olehnya Dalam hati kecilnya dia sedang
berpikir, “Aku hanya mempunyai seorang adik, ayah dan ibu
sudah mati lama, pada hakikatnya akulah yang menjadi ibu,
mendidik dan memeliharanya hingga dewasa Gara-gara dia,
entah berapa banyak perbuatan yang sebenarnya tak ingin
kulakukan terpaksa harus kulakukan. Julukan Lak-jiu-Koan-im
yang kumiliki sekarang pun mungkin sebagian besar gara-gara
dia, seperti misalnya demi dia kudesak Hun Ci-lo sampai mati,
kalau dibayangkan kembali sekarang, aku merasa menyesal
sekali. Kendatipun Hun Ci-lo tidak baik, tidak seharusnya aku
bertindak kelewat batas terhadapnya Kali ini, demi
menemukan kembali putra kandungnya, aku tidak segan
mengutus putraku sendiri untuk menyerempet bahaya di Sinkiang,
di mana hampir saja aku tak dapat bersua lagi dengan
putraku. Aku memang tak mengharapkan balas jasa darinya,
tapi tidak pantas bila dia melakukan hal-hal yang merugikan
diriku gara-gara ucapan Kiat-ji yang menyinggung perasaannya
Tak mungkin, tak mungkin, dia adalah satu-satunya
adikku, dia tak akan mencelakai putra tunggalku….”
“Ibu, apa yang sedang kau pikirkan?” mendadak Ki See-kiat
menegur.
Nyo toakoh segera sadar kembali dari lamunannya, buruburu
dia menyahut, “Aah, tak apa-apa aku hanya merasa
ucapan engku-mu ada benarnya juga.”
“Mana yang benar?”
“Dia takut kau menempuh jalan yang salah, aku pun takut
kau salah jalan. Lain kali bila tak ada urusan lebih baik jangan
sembarangan pergi. Sekalipun aku tak khawatir kau
berkenalan dengan orang jahat, aku takut kalau kau salah
bicara lagi dengan orang lain, apalagi orang lain toh bukan
engku-mu sendiri!”
“Jangan khawatir ibu,” Ki See-kiat tertawa “sekembaliku ke
rumah kali ini, aku memang bermaksud untuk menemanimu,
sekalipun kau suruh aku berangkat ke ibu kota pun belum
tentu aku mau pergi.”
Kendatipun Ki See-kiat telah meluluskan permintaan ibunya
namun perasaannya tidak menjadi tenang.
Hal ini bukan karena ia dibikin mendongkol oleh engku-nya,
dia sudah tahu manusia macam apakah engku-nya itu,
manusia macam begitu tak berharga untuk digusari; tapi
ketidaktenangan hatinya justru timbul gara-gara ucapan
engku-nya.
Nyo Bok telah menyinggung kembali luka di dalam hatinya,
dia teringat kembali pada Leng Ping-ji.
Tak heran kalau Leng Ping-ji bersikeras hendak berpisah
dengannya, ketidaksenangan ibu terhadapnya, mungkin masih
merupakan alasan kedua.
“Aku mempunyai seorang engku semacam ini, bagaimana
mungkin ia bisa berlega hati ? Aaai, sekalipun dia
mempercayai diriku, aku pasti akan merasa rendah diri dan
tertekan. Buktinya engku bisa mempunyai jalan pemikiran
yang begitu rendah dan terkutuk, aku disuruh untuk menjadi
seorang mata-mata… mana mungkin aku bisa jadi suami isteri
dengannya?” Walaupun hatinya tak bisa tenang, namun tubuh
luarnya justru nampak amat tenang. Ia menuruti perkataan
ibunya dan benar-benar tak pernah meninggalkan pintu
gerbang.
Tapi suasana tenang hanya bisa bertahan selama dua hari
saja. Pada malam ketiga, suatu peristiwa yang sama sekali tak
terduga kembali terjadi.
Malam itu, setelah mengikuti peraturan di hari-hari biasa
menyampaikan salam kepada ibunya, kembali ke kamar
sendiri untuk tidur. Mendadak di atas meja kecil di ujung
pembaringan ditemukan sebatang pisau sepanjang tiga inci
enam hun yang menancap di atas sepucuk surat. Ketika surat
itu dibuka, terbaca isinya berbunyi demikian,
Harap datang ke kuil Hay-sin-bio untuk bicara, jangan
sampai diketahui siapa pun.
Dalam rumah hanya ada tiga orang, kecuali ibu dan anak
hanya ada seorang pelayan perempuan yang sudah lanjut
usia, dia adalah dayang ibunya ketika masih muda dulu dan
sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
“Jangan sampai diketahui siapa pun” yang dimaksud “siapa
pun” di sini mungkin hanya ibunya seorang.
Siapakah orang yang hendak berjumpa dengannya itu?
Mengapa harus tanpa sepengetahuan ibunya?
Utti Keng-kah?
Tidak mungkin.
Waktu itu ia bertarung dengan Utti Keng gara-gara ibunya,
tak mungkin Utti Keng meminta kepadanya mengelabui
ibunya.
Andaikata dia tahu orang itu benar-benar adalah Utti Keng,
ia pasti akan mengabulkan permintaan ini, namun bagi Utti
Keng, dia tahu kalau pemuda itu seorang anak yang berbakti,
mana mungkin dia akan mengajarkan cara yang tidak benar
seperti itu kepadanya?
Setelah berpikir bolak-balik, mendadak dia merasakan gaya
tulisan orang itu seperti “pernah dikenal”, namun dia pun tak
bisa mengingat kembali tulisan siapakah itu.
Ki See-kiat tak bisa membendung rasa ingin tahunya lagi,
dia lantas berpikir, “Sekalipun dia sengaja mengatur
perangkap untuk menjebakku, aku tetap akan ke sana untuk
memeriksa sampai jelas.”
Kuil Hay-sin-bio tak jauh letaknya dari rumahnya, sewaktu
masih kecil dulu dia sering bermain ke sana.
Diam-diam dia meninggalkan rumahnya, lalu mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya mendekati tempat tujuan, tak
sampai setengah sulutan hio, ia sudah tiba di situ”
Pemuda itu sengaja tidak melalui pintu utama, melainkan
melompati dinding pekarangan di belakang kuil dan langsung
menuju ke ruang tengah.
Dalam ruangan tidak tampak cahaya lampu, hanya sinar
rembulan dan bintang di luar jendela yang menyorot ke dalam
dan memperlihatkan pemandangan remang-remang.
Tampak di bawah altar terdapat sesosok bayangan manusia
sedang duduk bersila mirip seorang pendeta, kalau dilihat
bayangan punggungnya tidak mirip dengan Utti Keng.
Ki See-kiat melompat turun bagaikan selembar daun, tanpa
menimbulkan sedikit suara pun ia mendekati orang tersebut,
tampaknya orang itu sama sekali belum merasa.
Dengan suara keras Ki See-kiat berseru, “Sobat, aku orang
she Ki datang memenuhi janji, kau….”
Dengan terperanjat orang itu melompat bangun.
Ki See-kiat telah membuat persiapan semenjak tadi, dia
segera memasang lampu.
Di antara kilatan cahaya, tampak wajah orang itu penuh
noda darah, pakaian pada bagian bahu kirinya juga penuh
dengan bercak-bercak noda darah….
Ki See-kiat makin terperanjat lagi setelah menyaksikan
kesemuanya itu, serunya tertahan, “Pui su-heng rupanya kau,
mengapa kau luka?”
Ternyata orang ini adalah murid ketiga dari Nyo Bok, Pui
Liang adanya.
Usianya jauh lebih tua tujuh» delapan tahun dibandingkan
dengan Ki See-kiat. Ia berjiwa lurus, cara kerjanya mantap
dan terbuka, maka di antara enam orang murid engku-nya, dia
adalah orang yang paling dihormati oleh Ki See-kiat
“Aah, luka kecil, tidak mengapa,” bisik Pui Liang. “Ki sute,
sudah kuduga kau pasti datang, ternyata kau benar-benar
datang, tapi kedatanganmu tak sampai diketahui sukoh
bukan?”
Ki See-kiat segera memadamkan api obornya, lalu
menjawab, “Ibuku sudah tidur, aku akan kembali sebelum
fajar, tentu saja tak akan diketahui olehnya. Pui suheng. kau
datang dari mana? Siapa yang melukai dirimu?”
“Ji-suheng!”
“Masa ji-suheng melukaimu? Sesungguhnya apa yang telah
terjadi?” makin lama Ki See-kiat semakin bingung.
“Duduklah dulu, akan kuceritakan pelan-pelan. Ada satu
hal, aku membutuhkan bantuanmu.”
“Katakanlah, asal sanggup kulakukan, sekali pun harus
terjun ke lautan api pun tak akan kutolak.”
“Tiga tahun berselang aku pergi tanpa pamit kau temu tak
tahu ke mana aku telah pergi bukan? Aku tidak takut
memberitahukan kepadamu, aku telah pergi ke Jik-tat-bok dan
bersama-sama Huan sute menggabungkan diri dengan
pasukan pembela bangsa penentang bangsa Cing. Kau tak
takut karena hal ini bukan?”
“Tentu saja tidak,” Ki See-kiat Jrtawa, “sebab aku pun
sudah tahu akan peristiwa ini.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Pui Liang tertegun.
‘Aku mendengar dari Song su-,”
Pui Liang segera berkerut kening.
“Untung dia tidak memberitahukan hal ini kepada orang
luar,” serunya.
“Tahukah ibumu akan hal ini?”
“Jangan kau salahkan dia. Song suheng tidak
memberitahukan bal ini secara langsung kepadaku, suatu
ketika tanpa disengaja aku telah mencuri dengar
pembicaraannya dengan Oh suheng, dari sanalah kuketahui
akan hal ini. Tak usah khawatir, aku berani menjamin ibuku
tidak tahu.”
“Pasukan pembela bangsa tinggal di tengah hutan belantara
di wilayah Jik-tat-bok,” Pui Liang melanjutkan perkataannya.
“Hidup di situ, yang paling kekurangan adalah obat-obatan.
Sebulan berselang, kami telah mengutus seorang saudara
yang bernama Ciat Hong untuk membeli obat-obatan di kota,
siapa tahu setibanya di kota Po-teng telah terjadi suara
peristiwa!”
“Peristiwa apa yang telah terjadi?” tanya Ki See-kiat dengan
perasaan terkejut
“Ia telah ditangkap oleh komandan opas kota Po-teng yang
bernama Thi-tan (Peluru Baja) Lau Liang. Orang ini adalah
murid Lo Hl-hong, tentunya kau pun tahu, Lo Hi-hong masih
terhitung famili dengan Pui Hou bukan?”
“Apakah Lau Kun sudah mengetahui identitas Ciat Hong
yang sesungguhnya?” tanya Ki See-kiat
“Agaknya belum tahu, dia mengatakan dia sangat
mencurigakan….”
“Tentu Ciat Hong tak akan mengaku bukan?”
“Celakanya dañar obat-obatan yang dibutuhkan pihak
pasukan pembela bangsa telah digeledah oleh pihak
pemerintah dan berhasil disita.”
“Tapi di atas daftar pesanan toh tak akan ditulis siapa
pembelinya bukan?”
“Tentu saja tidak, tapi Lau Kun adalah seorang manusia
yang hebat, dañar obat-obatan tersebut sudah cukup
menimbulkan kecurigaan di dalam hatinya.”
“Apa yang membuatnya curiga?”
“Dari saku Ciat Hong, mereka cuma berhasil merampas
beberapa ratus tahil perak, padahal nilai obat-obatan yang
akan dibeli itu mencapai lima enam laksa tahil perak.”
“Mengapa dia cuma membawa beberapa ratus tahil perak
saja?”
“Di ibu kota terdapat orang kita, sepintas lalu orang
menganggap mereka adalah saudagar kaya atau hartawan
sosial. Setibanya di ibu kota, di sana ada orang yang akan
mengatur segala sesuatunya. Akan tetapi bila pihak
pemerintah melakukan pemeriksaan, bagaimana mungkin Ciat
Hong bisa mengatakan kalau di ibu kota ada orang yang akan
membayarkan rekeningnya itu? Andaikata dia asal menyebut
suatu nama toko, ibu kota dengan Po-teng berjarak begini
dekat tidak sampai berapa hari, semuanya pasti akan berhasil
diselidiki.
“Selain itu,” Pui Liang melanjutkan setelah berhenti
sebentar, “obat-obatan yang tercantum di dalam daftar
tersebut bukanlah bahan obat-obatan yang digunakan
sembarangan orang seperti misalnya, obat untuk
menyembuhkan hawa kabut beracun dan sebangsa-nya, selain
itu kami pun memesan beberapa ribu bungkus Heng-kun-san,
barang-barang semacam ini paling sukar untuk dijelaskan.”
“Lantas bagaimana baiknya?”
“Untung saja Ciat Hong cukup cekatan. Dia bilang dia
adalah saudagar obat-obatan dari Kuiciu, dikatakan daerah
Inlam dan Kuiciu sedang terjangkit penyakit menular, soal
Heng-kun-san dia mengatakan di Kuiciu dia mempunyai
sebuah toko obat yang besar yang punya nama selama
seratus tahun belakangan ini. Dikatakan pula, untuk mencegah
perampokan dan pembegalan di jalanan, maka setibanya di
ibu kota, dari rumah baru akan mengirim uangnya lewat
perusahaan pengiriman uang.”
“Apakah pihak pemerintah percaya?”
“Sesungguhnya hal ini cuma merupakan taktik mengulur
waktu dari Ciat Hong, Kuiciu jauh letaknya dari Po-teng, bila
pihak pemerintah hendak melakukan penyelidikan, paling tidak
juga makan waktu satu dua bulan lamanya. Selain ini menurut
dugaan kami, mungkin pengadilan Po-teng juga bermaksud
mencari uang pelicin darinya, sebab andaikata ia benar-benar
seorang pedagang obat besar paling tidak harus ada uang
pelicin sebesar satu laksa beberapa ribu tahi! sebelum bisa
dibebaskan. Tentu saja mereka lebih berharap kalau dapat
menyelidiki kalau dia punya hubungan dengan pentolan
pemberontak serta Utti Keng sekalian, karena jasa besar itu
bisa jadi akan membuat mereka naik pangkat.”
“Kalau begitu, hingga kini Ciat Hong masih dikurung dalam
pengadilan kota Po-teng?”
“Benar, konon dia tidak mendapat siksaan apa-apa, cuma
setiap hari selalu diperiksa, digertak dan ditakut-takuti.”
“Bagaimanapun juga, taktik mengulur waktu bukan suatu
taktik yang baik, cepat atau lambat toh rahasianya akan
terbongkar juga. Bagaimanapun jua kita harus berusaha untuk
menolongnya.”
“Benar, itulah sebabnya kami lantas berpendapat
bagaimana kalau minta bantuan ji-suheng.”
“Keliru, keliru besar. Ji-suheng mempunyai hubungan yang
akrab dengan para pembesar kerajaan, konon semua pejabat
di kota Po-teng saling menyebut saudara dengannya,
bagaimana mungkin ka-ian malah meminta bantuannya.” Pui
Liang tertawa getir. “Semuanya ini kebodohanku lldiri, aku
tidak menyangka kalau ii Hou sejahat itu. Aku berasal satu
marga dengannya, bukan hanya sesama saudara seperguruan,
kalau dibicarakan, sesungguhnya aku dan dia mempunyai
kakek moyang yang sama, dengan hubungan yang akrab ini
aku mengira paling tidak dia akan memberi muka padaku.
“Kita toh tak mungkin menyerbu ke penjara untuk memberi
pertolongan, karena itu kita harus mencari hubungan dengan
pihak pejabat pemerintah dan berusaha untuk menyuap
mereka.
“Justru karena Pui Hou adalah seorang hartawan terkemuka
di kota Po-teng, maka kami jadi teringat pada dirinya
“Maksud kami, dia hendak dimintai pertolongannya untuk
membebaskan Ciat Hong, sekarang Ciat Hong cuma dicurigai
dan belum terbukti dosa dan kesalahannya, ditambah pula
guru Lau Kun — komandan opas dari Po-teng — adalah Lo Hihong,
sedang Lo Hi-hong adalah enthio-nya, asal ia bersedia
untuk menampilkan diri dan memberi jaminan, kemungkinan
untuk membebaskan Ciat Hong dari penjara besar sekali.
“Tentu saja kami pun telah mempertimbangkan
kemungkinan ia takut terlibat dalam peristiwa ini, maka
seandainya dia setuju, hal ini paling baik, jika menolak maka
kami pun hanya berharap dia bisa membantu kami untuk
mencarikan kabar tentang nasib Ciat Hong. Soal ikut sertanya
kami dalam pasukan pembela bangsa tidak diketahui olehnya,
kami hanya mengaku sebagai sahabat karib Ciat Hong saja,
karena suatu kesalahpahaman ia ditangkap pemerintah dan
masuk penjara, maka untuk menengok dia dalam penjara
tentunya bukan sesuatu yang luar biasa bukan?”
Sambil menggeleng kepalanya berulang kali Ki See-kiat
berkata, “Perhitungan kalian ini benar-benar kelewatan sedikit,
janganlah dianggap segala sesuatunya itu gampang dicapai.”
Pui Liang tertawa getir.
“Kau tidak tahu, bila bulan empat tiba maka Jik-tat-bok
akan berada di musim hujan, dalam musim hujan saudara
yang menderita sakit akan hanyak sekali, maka obat-obatan
tersebut harus sudah sampai di tempat tujuan sebelum musim
hujan tiba. Bila kami tak dapat menolong Ciat Hong, paling
tidak juga harus mengetahui dari mulutnya siapakah orang
yang harus kami hubungi setibanya di ibu kota. Dalam
keadaan yang amat terdesak ini, meski kami tahu kalau Pui
Hou tak dapat dipercaya, terpaksa aku harus menyerempet
bahaya untuk mencari bantuannya.”
“Setelah mengetahui tujuan kalian, apakah dia lantas
menolak?” tanya Ki See-kiat kemudian.
“Itu sih tidak. Ketika ia menyaksikan aku dan Huan sute
datang, seperti menemukan mestika saja, dengan wajah
berseri segera melayani kami dengan hangat, sedemikian
hangatnya hingga jauh melebihi sikapnya ketika masih samasama
berguru dulu. Setelah kami utarakan maksud tujuan,
ternyata ia segera menyanggupi. Ia bilang kekuasaan dalam
penjara berada di tangan Lau Kun, kalau hanya ingin
menengok ke dalam penjara sih urusan kecil, dia bilang asal
permintaan itu disampaikan, tentu Lau Kun akan
menyetujuinya.”
“Sekalipun minta pembebasan buat Ciat Hong dia pun dapat
melakukannya.”
“Siapa tahu setelah kami mengucapkan terima kasih
kepadanya, dia baru berkata lagi”, ‘Kita adalah sesama
saudara seperguruan, saling membantu sudah merupakan
suatu hal yang wajar. Cuma aku pun berharap kalian benarbenar
tidak menganggapku sebagai orang luar!1
“Aku lantas bilang, ‘Apa maksudmu?’
“Dia menjawab”, ‘Aah, tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu,
selama beberapa tahun ini ke mana saja kalian telah pergi?’
“Aku pun menjawab”, ‘Selama beberapa tahun ini kami
mengembara dalam dunia persilatan, sulit untuk
mengungkapkan semua tempat yang pernah kami kunjungi
selama ini*
“Tiba-tiba ia menghela napas sambil berkata lagi”, Aaai,
kuanggap kalian sebagai saudara sendiri, dengan
mempertaruhkan kedudukanku sekarang, aku bersedia membantu
kalian, tapi kenyataannya kalian enggan berterus terang
kepadaku, sungguh hal ini membuat hatiku sedih.
“Huan sute lembek hatinya, dia lantas berkata begini”,
‘Bukannya kami enggan membicarakan hal ini kepadamu, tapi
suheng adalah seorang hartawan kenamaan di sini, buat apa
sih mesti mencampuri urusan dunia persilatan?’
“Kali ini dia seperti berhasil mendapatkan kelemahan, maka
dia pun bertanya lagi”, ‘Huan sute, dengan perkataanmu itu,
apakah kau ada maksud untuk mempermainkan aku?
Persoalan yang kalian mohon bantuannya d ariku sekarang
bukankah masalah dunia persilatan juga? Betul, pertama aku
memandang wajah kalian, kedua aku pun berniat untuk
bersahabat dengan Ciat Hong, maka kukabullcanpermintaan
kalian untuk menolongnya, tapi paling tidak kalian pun harus
memberi keterangan kepadaku agar aku juga tahu,
sesungguhnya dia adalah sahabat dari aliran mana?’
“Paras muka Huan sute segera berubah menjadi merah
padam, buru-buru dia berkata,” Ji-suheng, aku tidak
membohongimu, dia memang seorang saudagar obat-obatan
dari Kuiciu, dahulu kami pernah berhutang budi darinya,
sebagai orang yang seringkah membeli obat-obatan di luar
daerah, tentu saja sedikit banyak ia pandai bersilat’
“Huan Kiri tidak terbiasa berbohong, tentu saja cerita
karangan yang disusun secara tergesa-gesa itu kurang leluasa
sewaktu diutarakan, buru-buru aku pun menambahkan”, ‘Jisuheng,
bila kau menaruh curiga, ya sudahlah, aku pun tak
berani memohon bantuan lagi dari kalian.’
“Apakah kalian lantas bentrok?” Ki See-kiat menyela.
“Aah, masih terlampau awal, dia masih belum mau
menyerah dengan begitu saja, sambil berpura-pura tertawa
kembali ujarnya, “Dengan tulus hati aku ingin membantu
kesulitan kalian, padahal Huan sute pun tak usah membohongi
aku, urusan kalian sudah lama kuketahui dengan pasti.”
Dengan nada terperanjat Huan sute segera berseru, “Apa
yang telah kau ketahui?”
Sahut Pui Hou dengan suara rendah, “Aku tahu kalian telah
bergabung dengan Leng Thiat-j iau di Jik-tat-bok. Kalian tak
usah gugup, walaupun aku punya banyak harta,
sesungguhnya aku pun lebih condong ke pihak pasukan
pembela bangsa. Hanya saja beban keluarga membuatku
terikat Lagi pula waktunya belum sampai maka aku tak berani
meniru kalian bergabung dengan begitu saja dengan pihak
pasukan pemberontak. Aku rasa sahabat Ciat tersebut sudah
pasti anak buah Leng Thiat-jiau bukan? Aku harap kalian suka
berterus terang sehingga aku pun dapat menolongnya dengan
hati lega.”
“Aku segera berkata begini, ‘Ji-suheng, dari mana kau
dengar berita itu? Apa yang telah kami ..katakan tadi adalah
kata-kata yang jujur, soal pasukan pemberontak kami benarbenar
tak tahu. Bila kau baru bersedia membantu bila ada
syarat tertentu, lebih baik tak usah saja.’
“Huan sute telah melihat pula maksud tujuannya, dengan
wataknya yang jauh lebih berangasan dari diriku, sambil
bangkit segera serunya”, ‘Ji-suheng, maksud baikmu biar
kuterima di dalam hati saja, baik-bai kiah menjaga harta
kekayaanmu, kami tak berani merepotkan dirimu lagi, selamat
tinggal!
“Dalam keadaan beginilah, ia baru memperlihatkan
wajahnya yang menyeringai seram tiba-tiba serunya sambil
tertawa dingin”, ‘Kalian tidak menganggap aku suheng,
heehh… heeehh… jangan harap bisa pergi dari sini dengan
gampang!’
“Di tengah suara dinginnya, dari balik penyekat segera
berhamburan senjata rahasia, kawanan centeng yang sudah
dipersiapkan sejak semula segera menyerbu keluar bersamasama.
H uan sute kena terhajar sebatang paku Toh-kut-ting
pada bagian pentingnya, aku kena terhajar sebatang piau
kupu-kupu, untung masih punya tenaga untuk menerjang
keluar dari kepungan dan meloloskan diri.”
Mendengar sampai di situ, dengan gemas dan mendongkol
Ki See-kiat segera berseru, “Aku sudah tahu kalau Pui Hou
seorang manusia munafik, tapi tidak kusangka kalau hatinya
sekeji ini! Baik, Pui suheng, katakanlah apa yang harus kulakukan?”
“Aku tahu, baru saja kau membantunya, meski dia menaruh
benci kepadamu gara-gara kau memaksanya untuk
memuntahkan lima laksa tahil perak, namun bagaimanapun
juga dia masih ingin membaiki ibumu. Dan lagi Utti Keng
pernah kalah di tanganmu, bila kau muncul di ramahnya,
kurasa dia tak akan berani menghadapi kau seperti apa yang
telah dia lakukan ketika menghadapi aku dan Huan sute tadi.”
“Aku pun tidak takut dia menuduhku sebagai anggota
pasukan pemberontak. Baik, sekarang juga aku akan minta
orang darinya.”
“Kuanjurkan kepadamu untuk bekerja menurut keadaan,
tak usah kelewat berangasan dan gegabah, aku tahu ibumu
tak ingin kau bentrok dengannya, cuma demi dirimu,
kemungkinan juga dia bersedia memintakan ampun buat Huan
sute. Besok pergilah mencari berita Huan sute, paling baik lagi
kalau meng gunakan cara halus sebelum memakai kekerasan.”
“Tak bisa ditunggu sampai besok lagi, sekarang juga aku
akan ke rumahnya. Paling lambat sebelum fajar besok, aku
pasti sudah kembali ke sini, harap kau menunggu aku di sini.”
Dari ujung jalan sana berkumandang suara kentungan,
waktu menunjukkan kentongan ketiga tepat.
Sambil meninggalkan kuil Hay-sin-bio, diam-diam Ki Seekiat
berpikir, “Untuk sementara waktu lebih baik persoalan ini
jangan sampai diketahui ibu. Put Hou bersikap begitu tak
berbudi dan tidak setia kawan terhadap sesama anggota
perguruan, buat apa pula aku mesti menggunakan nama ibu
untuk memohon kepadanya?”
Maka dengan cepat dia mengambil kepatusan di dalam hati
kecilnya, “Paling baik kalau aku bisa menyelamatkan Huan Kui
tanpa menimbulkan sedikit suara pun, berusaha menghindari
suatu pertarungan secara kekerasan melawan Pui Hou dan tak
usah meminta-minta padanya.”
Malam itu udara sangat gelap, rembulan telah tertutup oleh
awan hitam yang tebal.
Suasana seperti ini merupakan saat yang paling cocok bagi
orang yang berjalan malam untuk beroperasi.
Diam-diam Ki See-kiat menyusup masuk ke kebun bunga
keluarga Pui, betul juga tiada angin berhembus, tiada rumput
bergoyang, tak ada seorang manusia pun yang mengetahui
akan kehadirannya.
Pui Hou adalah seorang hartawan kaya raya di kota Poteng,
kebun bunganya sangat luas dengan pelbagai bangunan
kecil menghiasi sekelilingnya.
Dari tiga lapis halaman rumahnya, paling tidak terdapat
puluhan gedung besar dengan ratusan buah kamar, dalam
kebun bunga pun penuh dengan bangunan gardu serta loteng
yang tersebar di sana-sini.
Walaupun Ki See-kiat terhitung tamu yang sering
berkunjung ke gedung keluarga Pui, namun ia tak tahu Huan
Kui disekap di mana. Seandainya dia harus menggeledah
kamar demi kamar, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang
gampang.
Sementara dia sedang memutar otak untuk mencari jalan
keluar, mendadak dari balik kebun bunga, di sudut sebuah
bangunan loteng kecil, lamat-lamat dia menyaksikan pancaran
sinar lentera.
Ki See-kiat mengenali bangunan loteng itu sebagai “Si-hunlo”,
merupakan salah satu tempat yang dipakai Pul Hou untuk
mencari angin, sekeliling loteng memang sengaja ditanami
pepohonan dan aneka bunga yang amat lebat sehingga
suasana amat gelap.
Di hari-hari biasa, dia paling suka menerima tamu agung di
sini, terutama sekali tamu-tamu dari golongan pembesar yang
disebutnya sebagai orang-orang dari golongan seni dan
sastrawan.
Tergerak hati Ki See-kiat setelah menyaksikan keadaan di
situ, diam-diam pikirnya, “Sudah begini malam, mengapa
masih ada orang di loteng Si-hun-lo? Sudah pasti orang itu
bukan anggota keluarga Pui, jangan-jangan Pui Hou sedang
menerima tamu agung di tengah malam buta? Biar kutengok
ke sana….”
Ia mengambil segenggam lumpur dari tepi kolam dan
melumuri wajah sendiri, maksudnya andaikata jejaknya
ketahuan nanti, Pui Hou tak dapat mengenali wajahnya.
Begitulah, dengan langkah yang sangat berhati-hati dia
mendekati bangunan loteng itu, akhirnya dari balik jendela ia
menyaksikan dua sosok bayangan manusia. Dugaannya tak
meleset, Pui Hou memang sedang menerima tamu di loteng
Si-hun-lo.
Bayangan tubuh dari Pui Hou segera dapat dikenali dalam
pandangan pertama, tapi siapa orang yang kedua? Punggung
orang itu menghadap ke arah jendela, namun bayangan
punggung tersebut terasa seperti amat dikenalnya.
Sementara dia masih termenung sambil mengawasi
bayangan punggung itu, mendadak terdengar orang itu
berkata, “Pui Hou, kali ini kau sudah banyak membantuku,
untung aku punya seorang murid sebaik kau, coba kalau
bukan begitu, aku bisa mati mendongkol, akibat ulah kedua
murid murtad tersebut. Kali ini kau sudah mengeluarkan
banyak tenaga, hal ini pasti akan kulaporkan ke pihak
penguasa di kota Po-teng agar jasamu itu mendapat imbalan.”
Ternyata orang itu tak lain tak bukan adalah engku-nya Ki
See-kiat sendiri, Nyo Bok adanya.
Kejadian ini sama sekali di luar dugaan, tanpa terasa Ki
See-kiat jadi tertegun dan untuk sesaat tak tato apa yang
harus dilakukan.
Bila engku-nya hadir di gedung keluarga Pui, maka sulitlah
baginya untuk menyelamatkan Huan Kui yang terluka parah
dari situ, sebab sebaik-baiknya ilmu silat yang dimiliki, tak
mungkin dia harus bertarung sendiri dengan engku-nya itu.
Bukan saja tak bisa bertarung dengan engku-nya, dia pun
harus bekerja keras untuk menghindari agar engku-nya tak
tahu kalau dia pernah mendatangi gedung keluarga Pui
Sewaktu dia menolak ajakan engku-nya untuk bersamasama
menghadapi Utti Keng, engku-nya sudah curiga,
seandainya kini jejaknya ketahuan, sudah pasti engku-nya
akan menduga kalau kedatangannya mempunyai maksud tertentu,
hal ini bukan cuma terbatas pada soal “curiga” belaka,
bahkan terbukti kalau dia memang bermusuhan dengan
engku-nya
Betul dia tidak takut menghadapi engku-nya, namun
bagaimanapun jua dia harus memikirkan ibunya.
Tempo hari, sikapnya yang “tidak tahu diri” itu sudah cukup
membuat engku-nya pergi dengan mendongkol dan ibunya
khawatir setengah mati. Sekarang, mana boleh dia menambah
beban kemurungan lagi bagi ibunya?
Tapi, jika ia diharuskan mengurungkan niat dengan begitu
saja, dia pun enggan.
Sementara dia masih kebingungan dan tak tahu apa yang
harus dilakukan, mendadak terdengar Pui Hou berkata,
“Kesemuanya ini berkat doa restu dari suhu, begitu suhu
sampai di Po-teng, dia pun datang mengantarkan diri, sedang
Huan sute juga suhu sendiri yang membekuknya, tecu telah
mengeluarkan tenaga apa?”
Mendengar sampai di situ, Ki See-kiat menjadi amat
tercengang, segera pikirnya, “Pui suko sama sekali tidak
menerangkan kalau ia telah bertemu dengan suhu-nya di
gedung keluarga Pui, mengapa bisa engku yang turun tangan
membekuk Huan suko? Aneh!”
Sementara itu Nyo Bok telah tertawa terbahak-bahak,
“Haahh… haahh… haahh… benar, kalau dibicarakan memang
rezeki kita sedang baik. Kau adalah muridku yang terbaik, aku
pun tidak khawatir untuk berterus terang denganmu, adapun
kedatanganku ke Po-teng kali ini memang bermaksud untuk
menyelidiki jejak Utti Keng, tapi masih ada masalah yang lebih
penting lagi selain persoalan itu, yakni menyelidiki kasus dari
Ciat Hong. Utti Keng memiliki kepandaian silat yang sangat
Iihay, kendatipun cong-koan tayjin turun tangan sendiri juga
belum tentu dia seorang diri bisa membekuk pencoleng besar
tersebut, tapi Ciat Hong sudah disekap dalam penjara Po-teng,
hanya gentong-gentong nasi itu saja yang tak mampu
memaksanya buka mulut. Andaikata kita dapat menyelidiki
asal-usul Ciat Hong dan membongkar kasus ini, jelas jasa yang
kita buat tidak berada di bawah jasa membekuk Utti Keng,
mengertikah kau…?”
“Aku mengerti, aku mengerti,” sahut Pui Hou berulang kali.
“Kalau ditinjau sekarang, tampaknya Ciat Hong ada sangkut
pautnya dengan gerombolan yang dipimpin Leng Thiat-jiau,
sudah jelas dia pun termasuk pemberontak. Andai kita dapat
melakukan penyelidikan lebih jauh, apalagi jika dapat
mengetahui siapa-siapa saja komplotan mereka yang bercokol
di ibu kota, sudah jelas jasa yang kita buat kali ini luar biasa
sekali.”
Terdengar Nyo Bok melanjutkan, “Sudah enam tujuh hari
pihak pengadilan kota Po-teng menyekapnya, namun asal-usul
yang tepat pun belum berhasil diketahui sebaliknya begitu aku
sampai di sini, semua titik terang telah berhasil kutemukan,
boleh dibilang rejekiku memang jauh lebih besar daripada mereka.
Yang jelek dalam masalah ini adalah kasus yang kita
kerjakan sekarang justru melibatkan anak murid sendiri.”
“Ranting kering di atas pohon yang besar merupakan suatu
kejadian yang lumrah,” buru-buru Pui Hou berkata “Siapa
suruh Pui Liang dan Huan Kui tak tahu diri dan menodai nama
perguruan? Kalau sudah berani berbuat kesulitan, sudah sepantasnya
pula menerima hukuman yang setimpal, hal ini
merupakan suatu peristiwa yang tak bisa dihindari lagi.”
“Betul, aku mempunyai dua orang murid jelek dan dua
orang murid baik. Seng Liong serta kau merupakan orang
kepercayaanku, terutama kau, cara kerjamu sangat berkesan
di dalam hatiku.”
“Aah, suhu kelewat memuji,” buru-buru Pui Hou
membungkukkan badannya sambil tertawa licik. “Seandainya
kau orang tua tidak melepaskan senjata rahasia untuk melukai
Huan sute lebih dulu, belum tentu tecu dapat membekuknya”
Sekarang Ki See-kiat baru menyadari apa gerangan yang
telah terjadi, rupanya orang yang bersembunyi di balik
penyekat dan melukai Pui Liang dan Huan Kui dengan paku
penembus miang tak lain adalah guru mereka sendiri.
Guru menyergap murid, peristiwa ini benar-benar
merupakan suatu kejadian yang sangat aneh dan baru
terdengar untuk pertama kalinya tak heran kalau Pui Liang
pun tidak mengetahui akan hal ini.
Pui Hou tidak diam sampai di situ saja, kembali dia menjilat
pantat gurunya dengan berkata “Suhu, ilmu senjata rahasiamu
benar-benar luar biasa hebatnya belum pernah tecu
menjumpai kehebatan seperti ini. Seandainya waktu itu kau
orang tua turut hadir di arena niscaya tecu tak usah takut lagi
dengan Jian-jiu-Koan-im Ki Seng-in.”
Nyo Bok tertawa terbahak-bahak, “Haahh… haahh…
haahh… bukan suhu merendahkan diri, jika dibilang harus
beradu senjata rahasia dengan Jian-jiu-Koan- im, mungkin aku
masih selisih setingkat dengannya. Cuma paku penembus
tulangku khusus menghajar bagian persendian miang, jadi
kendatipun aku tak bisa menandingi Jian-jiu-Koan-im, mungkin
masih lumayan- Uh jika dibandingkan amat persilatan lainnya.
Kepandaian tersebut merupakan suatu kepandaian yang baru
saja berhasil kulatih. tentu saja kalian belum pernah melihat
sebelumnya.”
Sesudah membual cukup lama. NyoBok kembali
melanjutkan kata-katanya, “Kau jauh lebih berkenan dalam
hatiku ketimbang Bun Seng-liong karena kau lebih pandai jadi
orang. Misalkan saja Pui Liang dan Huan Kui dua orang
manusia murtad itu, mereka tak nanti berani mempercayai
toa-suheng-nya, tapi buktinya mereka berani kemari untuk
meminta bantuanmu. Di sinilah letak keberhasilan mu sebagai
manusia. Km bisa memancing mereka masuk perangkap dan
tindakanmu itu sudah merupakan suatu jasa yang amat besar
sekali.”
“Berjuang demi guru merupakan kewajiban bagi setiap anak
muridnya, cuma setelah Pui Liang berhasil meloloskan diri, ia
pasti mencatat sakit hati ini atas nama tecu, sejak kini aku
khawatir.-aku khawatir….”
“Apa yang mesti kau takuti? Paling banter mulai kini kau
turut aku menuju ke ibu kota menjadi pembesar.”
“Terima kasih atas pengangkatan suhu,” Pui Hou segera
berseru dengan wajah berseri.
Terdengar Nyo Bok berkata lebih jauh, “Sesungguhnya
paku penem-bus tulangku bisa menembusi tulang pi-pa-kut
dari Huan Kui, tapi aku tak berbuat demikian, tahukah kau
kenapa aku tidak berbuat begitu?”
“Suhu berhati bajik dan penuh kasih sayang, kau tak tega
untuk memunahkan ilmu silatnya.”
“Kali ini tebakanmu keliru,” seru Nyo Bok sambil tertawa.
“Aku bekerja untuk sri baginda, sedang dia adalah
pemberontak penentang kerajaan, dalam hal ini buat apa kita
mesti mempersoalkan hubungan antara guru dan murid lagi?”
“Lantas karena apa?” Pui Hou pura-pura tidak mengerti.
“Aku sedang mempersiapkan tempat berpijak bagiku
sendiri. Andaikata kulakukan tindakan kelewat batas, jangan
harap kita punya harapan untuk memancingnya menyerah.”
“Tapi Huan Kui si bocah keparat itu tak bisa dihalusi tak
bisa pula dikerasi” kata Pui Hou dengan kening yang berkerut
“Kini ia sudah membenciku sampai ke tulang sumsum,
jangankan membujuknya untuk menyerah, sewaktu kusuruh
orang mengantar nasi untuknya pun mangkuk nasi dibanting
sampai rusak, tampaknya dia bermaksud untuk berpuasa
sampai mati.”
“Ia toh tak tahu kalau aku pun berada di sini?”
“Tecu tidak memberitahukan hal ini padanya.”
“Baik, bawalah dia menghadapku, katakan kalau aku baru
saja datang ke rumahmu.”
Mendengar sampai di situ, Ki Scc-kiat yang bersembunyi di
luar jendela menjadi terkejut bercampur girang diam-diam
pikirnya, “Bila Pui Hou keluar dan menggusur Huan Kui ke atas
loteng Si-hun-Io nanti, aku akan menotok jalan darahnya
secara mendadak dan melarikan Huan Kui.”
Siapa tahu di atas jendela kini tinggal bayangan tubuh dari
Nyo Bok seorang, namun tidak tampak Pui Hou berjalan
keluar.
Kejadian ini kontan mencengangkan Ki See-kiat, sambil
memberanikan diri dia melompat naik ke atas atap rumah, lalu
dengan menggantungkan diri pada wuwungan rumah di
belakang jendela, secara diam-diam ia mengintip ke dalam.
Sewaktu melompat naik ke atas atap rumah tadi, dia telah
mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi,
ditambah lagi di luar jendela memang tumbuh pepohonan
yang rimbun, sehingga gerak-geriknya itu sama sekali tidak
diketahui oleh Nyo Bok yang berada dalam kamar.
Tak selang berapa saat kemudian, tampak Pui Hou dengan
memayang seseorang telah muncul di atas mulut anak tangga
dan masuk ke dalam ruangan. Di bawah sinar lentera, dapat
terlihat dengan jelas kalau orang itu adalah Huan Kui.
Ternyata Huan Kui disekap dalam penjara bawah tanah.
Penjara itu terletak persis di bawah loteng Si-hun-Io tersebut,
sehingga dengan demikian Pui Hou tak perlu berjalan ke luar
rumah.
Huan Kui tampak terperanjat sekali setelah berjumpa muka
dengan gurunya, ia seperti agak terkejut.
“Huan Kui!” Pui Hou segera membentak, “besar amat
nyalimu, setelah bertemu suhu belum juga memberi hormat”
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Huan Kui
berseru, “Suhu, maafkanlah tecu karena sedang terluka….”
Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, Nyo Bok
telah menukas sambil berlagak iba, “Aduuuh… tampaknya luka
yang kau derita benar-benar tidak enteng, kalau memang
sudah terluka, lebih baik tak usah memberi hormat….”
“Suhu, dalam peristiwa yang terjadi hari ini, aku pun dibikin
apa boleh buat,” kata Pui Hou pula sambil berpura-pura sedih.
“Obat luka yang kububuhkan di atas lukamu tadi adalah obat
luka yang terbaik. Tentunya sudah ada perubahannya bukan?”
Huan Kui meludah dengan sinis, kemudian sambil melotot
ke arahnya dengan gusar, katanya ketus, “Pui Hou, aku telah
salah mencarimu, sekarang hatiku benar-benar menyesal
sekali. Lebih baik bunuhlah aku!”
Pui Hou mengegos ke samping menghindari ludahnya,
kemudian kembali berseru, “Sute, apa maksud ucapanmu itu?
Aku datang untuk menolongmu, masa hendak kubunuh
dirimu?”
Nyo Bok dengan lagak seorang guru segera ikut berbicara,
ujarnya pelan-pelan, “Huan Kui, justru karena aku mendengar
kabar tentang dirimu, maka sengaja aku datang kemari.
Persoalanmu sudah kudengar dari Pui Hou. Betul, dia memang
turun tangan kelewat berat terhadapmu, cuma kau pun tak
dapat menyalahkan dia, yang ia lakukan benar-benar demi
kebaikanmu, aku memahami maksud hatinya.”
Sambil menggigit bibir Huan Kui membungkam seribu
bahasa, ia tak pernah memandang wajah gurunya dengan
pandangan lurus.
Terdengar Nyo Bok melanjutkan kembali kata-katanya, “Kau
tak mau menuruti nasihat, sehingga terpaksa dia harus
menggunakan cara ini untuk menahan dirimu.”
Huan Kui masih tetap membungkam seribu bahasa.
“Kau tidak percaya pada suheng-mu, tentunya percaya
pada gurumu bukan?” ujar Nyo Bok lagi dengan nada berat
“Suhu menyuruhku mempercayai apa?”
“Baik atau buruk kau adalah muridku, sekalipun kau telah
melakukan pelanggaran besar, aku tetap akan berusaha
melindungimu!”
“Suhu, sungguhkah perkataanmu itu?”
Ki Sec-kiat yang menyadap pembicaraan tersebut dari luar
menjadi gelisah sekali, dia berpekik dalam hatinya, “Tahukah
kau, orang yang menghajarmu dengan paku penembus tulang
adalah gurumu sendiri!”
Sementara dia masih berpikir, Nyo Bok dengan Sikap
tenang dan kalem telah berkata, “Masa suhu-mu akan
membohongi kau?”
“Baik, kalau begitu harap suhu menyuruh ji-suheng
melepaskan aku…?”
Nyo Bok tertawa terbahak-bahak, untuk menutupi rasa
malunya dia berkata, “Mana ada cara mau pergi lantas pergi?
Sudah banyak tahun kita guru dan murid tak pernah bersua
muka, bagaimanapun jua kita harus berbincang-bincang lebih
dahulu.”
“Suhu, apa yang harus kita bicarakan?”
“Selama banyak tahun ini, kau telah ke mana saja?”
‘Tampaknya pertanyaan ini aku yang menjadi murid
bertanya dulu kepada suhu. Tecu baru dua tiga tahun
meninggalkan kota Po-teng, tetapi suhu, semenjak tahun itu
lenyap tak berbekas secara tiba-tiba, hingga kini paling tidak
sudah melebihi belasan tahun. Tecu merasa kangen sekali
padamu entah selama belasan tahun ini suhu pergi ke mana
saja…?”
“Huan Kui, kau benar-benar tak tahu adat,” bentak Pui Hou
keras. “Sekarang suhu sedang bertanya kepadamu,
seharusnya kaulah yang menjawab dulu pertanyaan suhu,
mengapa malah sebaliknya menanyai gurumu?”
“Suhu mengkhawatirkan diriku, aku lebih-lebih
mengkhawatirkan suhu. Apakah ucapanku ini tidak seharusnya
ditanyakan?”
Terpaksa Nyo Bok harus menjawab sambil tertawa paksa,
“Persoalan suhu panjang untuk diceritakan, lain kali saja
kuberitahukan kepadamu, sekarang jawab dulu pertanyaanku
tadi.”
“Kisah cerita tecu pun panjang sekali untuk diceritakan, bila
suhu benar-benar menyayangi tecu, harap kau lepaskan diriku
sekarang juga Paling cepat sepuluh hari, paling lambat
setengah bulan, aku pasti akan kembali lagi kemari untuk
melaporkan diri kepada suhu.”
“Ooh, persoalan penting apakah yang begitu terburu-buru
harus kau selesaikan?”
Huan Kui tidak menjawab pertanyaan itu.
Kembali Nyo Bok berkata “Bagaimanapun juga kau harus
merawat luka bila kau benar-benar ada urusan penting yang
harus segera diselesaikan, biar suhu yang mewakilimu untuk
menyelesaikannya….”
“Aku lebih suka mampus di luar daripada mati dalam
gedung keluarga Pui! Suhu, bila kau enggan melepaskan aku,
maka urusanku pun tak perlu suhu risaukan.”
Sambil menahan pergolakan emosi dalam hatinya kembali
Nyo Bok berkata “Bukankah aku sudah pernah berkata
kepadamu. Pui suheng-mu khawatir kau melakukan kesalahan
di luaran sehingga terpaksa melukaimu dan menahanmu di
sini. Sekarang lukamu belum sembuh, kasus Ciat Hong pun
belum diselesaikan secara tuntas, bagaimana mungkin kami
tega melepaskan kau pergi?”
Untuk pertama kalinya dia menyinggung kasus Ciat Hong,
sementara matanya memperhatikan dengan seksama reaksi
dari Huan Kui.
Paras muka Huan Kui sama sekali tanpa emosi, ujarnya
kaku, ‘Tecu sudah lama membuang jauh-jauh pikiran tentang
mati hidup, tak usah suhu risaukan lagi!” Nyo-Bok tak dapat
menahan diri lagi sambil mendengus segera serunya “Kami
hendak menolongmu, bukan ingin mencelakaimu, mengapa
sih kau belum juga sadar? Padahal sekalipun tidak kau
katakan, aku pun tahu!”
“Kalau suhu memang sudah tahu, buat apa mesti bertanya
lagi kepadaku,..?”
“Kau adalah muridku, aku minta kau berterus terang
kepadaku. Konon kau telah berkomplot dengan Leng Thiat-jiau
di Jik-tat-bok, benarkah berita ini?”
Tidak mendengar jawaban dari muridnya, Nyo Bok berkata
lebih lanjut, “Kau tak usah takut, sudah kukatakan sedari tadi,
kendatipun kau telah melanggar dosa yang paling besar pun,
suhu tetap akan melindungimu, cuma kau harus berterus
terang!”
Sekarang Huan Kui baru mengangkat kepalanya seraya
berkata, “Tidak sulit bila suhu ingin aku berterus terang, cuma
ada sepatah kata pantaskah bagi tecu untuk mengajukan lebih
dulu?”
“Baik, apa yang ingin kau ketahui? Katakanlah!”
‘Tecu pun mendengar orang berkata, konon—”
“Konon apa? Mengapa mencla-mencle kalau bicara?” bentak
Nyo Bok keras-keras.
“Konon suhu membantu keraja-an penjajah secara diamdiam
dan menjadi pengawal pribadi sri baginda, entah berita
ini benar atau tidak?”
“Kau ingin memeriksagurumu?” bentak Nyo Bok gusar.
“Tidak berani. Tapi bukankah suhu pun hendak memeriksa
tecu?”
Kemarahan Nyo Bok benar-benar memuncak, sambil
menggebrak meja segera bentaknya, “Kesabaranku terhadap
dirimu sudah lebih dari cukup, kau bukan berterima kasih atas
perlindunganku kepadamu, sebaliknya makin lama malah
semakin kurang ajari Apa yang hendak suhu lakukan, bukan
wewenang seorang murid untuk mengurusinya, tapi sebagai
seorang murid ia pun punya kewajiban untuk mendengarkan
perkataan gurunya, bukan saja peraturan ini merupakan
peraturan dunia persilatan yang sudah turun temurun sejak
dahulu kala, kau pun pernah mengangkat sumpah di
hadapanku! Aku ingin tanya, sewaktu kau menyembah dan
mengangkat diai sebagai gurumu, bukankah kau pernah
bersumpah hendak taat pada peraturan perguruan? Sebutkan,
apa isi peraturan yang pertama?”
“Pertama, tak boleh melawan guru dan menodai nama
leluhur, kedua, tak boleh mengandalkan ilmu silat melakukan
perbuatan yang melanggar hukum keadilan dan kebenaran.”
“Bagus, aku hanya menanyakan peraturan pertama,
peraturan selanjurnya tak usah kau sebutkan. Sekarang kau
sudah tahu kalau tak boleh melawan guru dan menodai nama
leluhur, sudah tahu mengapa melanggarnya?”
“Meski tecu agak lambat waktu masuk perguruan, aku pun
tahu kalau Hok Teng-kong cikal bakal perguruan kita
merupakan pembela kebenaran. Bahkan pernah bertempur
melawan tentara Cing di kota Yang-ciu. Tecu merasa semua
perbuatanku tak ada yang menentang ajaran leluhur, jadi
tuduhan ‘menodai nama leluhur’ sama sekali tak cocok untuk
dilimpahkan pada tecu!”
Paras muka Nyo Bok berubah menjadi merah kehijauhijauan,
dengan kemarahan yang memuncak bentaknya, “Apa
maksudmu menuduhku mengkhianati perguruan, menjual
perguruan dan memalukan leluhur? Jelek-jelek begini aku toh
gurumu, justru engkau yang enggan berbicara jujur kepadaku,
merupakan tindakan mengkhianati perguruan mengerti?”
“Benar, ilmu silat yang tecu miliki memang berasal dari
ajaran suhu,” kata Huan Kui gagah. “Bila suhu hendak
menuduh tecu sebagai pengkhianat perguruan, tecu pun
bersedia mengembalikan ilmu silatku kepada suhu!”
Melihat muridnya begitu keras kepala, Nyo Bok tahu
nasihatnya tak bakal manjur, maka sambil memperlihatkan
wajah yang menyeringai seram, serunya sambil tertawa
dingin, “Baik, bagus sekali, kalau kau bersedia mengembalikan
ilmu silatmu kepadaku, dan kau pun malu mengakui diriku
sebagai gurumu, aku akan segera memenuhi keinginanmu
itu!”
Telapak tangannya diayunkan ke udara lalu pelan-pelan
digerakkan ke bawah menghantam tubuh Huan Kui.
0odwo0
Yang dimaksudkan sebagai “mengembalikan ilmu silat”
sesungguhnya merupakan suatu tindakan memunahkan ilmu
silat yang dimiliki seorang murid oleh gurunya. Menurut
peraturan dunia persilatan, jika seorang murid sudah
menyatakan kesediaannya untuk “mengembalikan ilmu silat”
miliknya, berarti dia hendak melepaskan diri dari hubungan
antara guru dan murid.
Pui Hou segera pura-pura menghibur, “Huan sute, kau
mesti berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan,
ketahuilah, bila ilmu silatmu punah maka keadaanmu akan
lebih sengsara daripada mati.”
Huan Kui hanya tertawa dingin tiada hentinya, dia malah
membusungkan dada sambil mengangkat kepala, sekejap pun
tidak sudi memandang ke arahnya.
Nyo Bok kembali membentak, “Baiklah, sebelum sampai di
Huangho kau tak akan puas, sebelum melihat peti mati kau
tak akan mengucurkan air mata, buat apa mesti dinasihati
lagi?”
Tampaknya telapak tangan Nyo Bok segera akan
menghantam ubun-ubun Huan Kui.
Pada saat itulah, mendadak berkumandang suara
hancurnya kaca disusul munculnya sebutir batu yang
menghajar hancur lampu lentera di meja, lampu segera
padam dan suasana menjadi gelap gulita
Tapi orang yang melepaskan sambitan untuk
menghancurkan lampu lentera tersebut bukan Ki See-kiat.
Waktu itu Ki See-kiat memang menggenggam tiga batang
mata uang, sesungguhnya dia ingin turun tangan, tapi orang
itu bertindak jauh lebih cepat darinya.
Dalam sekejap mata itulah, Ki See-kiat terkejut bercampur
gembira. Dia terkejut karena tak menyangka ada orang lain
yang sama-sama mengintip di situ tanpa diketahui olehnya.
Dia gembira karena di saat yang kritis orang itu telah
menghancurkan lampu lentera, berarti maksud kedatangannya
adalah untuk menolong nyawa Huan Kui.
Belum habis dia berpikir, dari dalam ruangan telah bergema
lagi suara gemerincing nyaring yang berkumandang tiada
hentinya. Dari suara gemerincing itu, Ki See-kiat tahu kalau
Nyo Bok telah melepaskan paku penembus tulangnya, tapi
serangan itu kena dipentalkan semua oleh sentilan jari tangan
orang tersebut
Ki See-kiat makin terperanjat lagi. Sampai di manakah ilmu
silat yang dimiliki engku-nya, pemuda ini cukup memahami,
tapi kenyataannya orang tersebut mampu merontokkan
beberapa puluh batang paku penembus tulang yang dilepaskan
Nyo Bok dalam jarak sedekat ini, dari sini menunjukkan
kalau orang itu telah mempergunakan ilmu Tan-ci-sin-tong
yang sangat lihay.
Ternyata bersamaan waktu orang itu memadamkan lentera,
sebiji batu menyambar ke depan menghajar jalan darah Laukionghiat
pada telapak tangan Nyo Bok.
Jalan darah Lau-kiong-hiat merupakan sebuah jalan darah
amat penting, bila Nyo Bok sampai terhajar, niscaya ilmu silat
yang dimilikinya akan punah.
Sebagai seorang jago silat yang berpengalaman, dari
desingan angin tajam yang menyambar datang, ia sudah tahu
akan kelihayannya, tentu saja jalan darahnya tidak dibiarkan
kena tersambar, cepat-cepat dia mengegos ke samping.
Tapi justru karena tindakannya ini, dia pun tak sempat lagi
memunahkan ilmu silat Huan Kuil
“Mau kabur ke mana kau?” bentak Nyo Bok menggeledek.
Secara beruntun dia melepaskan serangkaian senjata
rahasia, di antaranya terdapat paku penembus tulang, jarum
bunga bwee, ada pula panah-panah pendek.
Dua batang panah pendek nyaris mengenai Ki See-kiat,
untung pemuda itu berkelit cepat hingga senjata tadi
menyambar lewat dari sisinya.
Menghadapi keadaan seperti ini, Ki See-kiat merasa hatinya
tak tenang, bila engku-nya melancarkan serangan senjata
rahasia sedemikian gencarnya, kendatipun orang itu masih
sanggup untuk menghadapinya, bagaimana mungkin dia
berkesempatan untuk menolong Huan Kui?
Sebaiknya jika orang itu sampai melancarkan serangan
balasan, mungkinkah engku-nya akan menjadi korban?
Sementara dia merasa gelisah dan tak tenang, cahaya
lentera tetah menyinari kembali ruangan tersebut.
Pui Hou yang menyulut api penerangan itu. Namun, setelah
dapat melihat keadaan di sana, dia segera menjerit kaget,
“Aduh celaka, Huan Kui si keparat itu sudah lenyap tak
berbekas…!”
Pui Hou menjerit kaget, Ki See-kiat justru merasa lega
sekali, buru-buru dia kabur dari kebun bunga keluarga Pui dan
mengejar orang yang telah menyelamatkan Huan Kui.
Di atas loteng Si-hun-lo, Pui Hou termangu-mangu
beberapa saat, kemudian baru tanyanya dengan pelan, “Suhu,
bagaimana sekarang?”
Dia agak takut bila suhu-nya juga pergi melakukan
pengejaran.
Untung saja Nyo Bok segera berkata, “Ilmu silat yang
dimiliki orang itu lihay sekali, tak baik untuk beradu kekerasan
dengannya. Tapi aku sudah dapat menduga siapakah orang
itu, besok saja kita pergi mencarinya.”
Waktu itu Ki See-kiat sudah meninggalkan kebun bunga,
apa yang diucapkan engku-nya tentu saja tak terdengar
olehnya. Dia harus menyusul orang itu, maka begitu keluar
dari gedung keluarga Pui, dia segera mengembangkan ilmu
meringankan tubuh Pat-poh-kan-sian (Delapan Langkah
Mengejar Comberet) untuk melakukan pengejaran.
---ooo0dw0ooo---
Sayang sekali, kendatipun Ki See-kiat telah mengejar
secepat angin namun dia kehilangan jejak orang tersebut,
tanpa terasa dia telah sampai lagi di depan kuil Hay-sin-bio.
Di muka ruang tengah tempat pemujaan terdapat sebuah
pelataran, di tengah pelataran tumbuh sebatang pohon Kui. Di
bawah pohon Kui waktu itu nampak seseorang sedang
membungkukkan badan sambil memotong sebatang dahan
dengan goloknya.
Dengan perasaan tercengang Ki See-kiat memunculkan diri
dari tempat persembunyiannya, kemudian menegur, “Pui
suheng, sedang apa kau?”
Dengan nada lebih kaget dan keheranan, Pui Liang berseru,
“Ki sute, baru saja kau pergi mengapa telah kembali lagi?”
“Apa kau bilang?” Ki See-kiat terperanjat “Kapan sih aku
datang kemari…?″
“Lhoo… yang barusan datang bukan kau? Lantas Huan tute,
dia….”
“Bagaimana keadaan Huan suneng?”
“Orang itu telah mengantar kemari aku malah mengira kau
yang mengantarnya pulang!”
“Ki sute! Ki sute…!” benar juga, dari dalam ruangan
terdengar Huan Kui sedang berteriak memanggilnya.
Terkejut dan girang Ki See-kiat mendengar panggilan itu,
buru-buru dia lari masuk ke dalam ruangan, lalu tanpa banyak
bicara ia menyulut api dan memeriksa keadaan luka Huan Kui.
Waktu ini Huan Kui sudah berpegangan sisi meja dan
bangkit berdiri, lengan kirinya masih dibalut kain dan darah
tampaknya masih meleleh keluar, akan tetapi sorot matanya
tajam, semangatnya masih tetap segan
Sambil tertawa Huan Kui berkata, “Obat luka yang diberi Pui
Hou memang obat luka berkualitas bagus, bila ada tongkat
penyangga, aku rasa masih sanggup untuk menempuh
perjalanan. Sam suheng, harap kau berikan tongkat itu
kepadaku.”
Sekarang Ki See-kiat baru tahu, rupanya Pui Liang
memotong dahan pohon tadi untuk digunakan sebagai tongkat
penyangga bagi Huan Kui.
“Huan suheng duduklah dulu,” Ki See-kiat segera berkata.
“Mari kita rundingkan persoalan ini, setelah tempat untuk
merawat luka ditemukan, besok baru melanjutkan perjalanan.”
“Aku harus berangkat sekarang juga, tidak bisa menunggu
sampai besok lagi,” seru Huan Kui tampak agak tercengang.
“Kau tidak boleh pergi sekarang, di kota Po-teng kan masih
ada orang-orang kalian? Suruh mereka memondongmu
keluar.”
“Hei, bukankah kau yang menyuruh kami segera
meninggalkan kota Po-teng, mengapa sekarang kau malah
menyuruh kami tetap tinggal di sini?” Huan Kui berseru
tertahan.
“Huan suheng, kau tentu salah paham….”
“Salah paham apa?”
“Bukan Ki sute yang mengantarmu kembali tadi,” Pui Liang
segera menerangkan.
“Ki sute, coba kau ulangi sekali lagi kata-katamu tadi”,
‘Jangan mengkhawatirkan Ciat Hong, kalian segera tinggalkan
kota Po-teng.’
Ki See-kiat tertawa, “Aku tak pernah mengucapkan katakata
tersebut, tapi boleh saja kalau kuulangi perkataanmu
sekali lagi.”
Setelah mendengar si anak muda itu mengulangi perkataan
tersebut, Huan Kui berkata sambil tertawa, “Ya, ternyata
orang itu memang bukan kau, sekarang aku dapat
membedakannya. Dia menirukan suaramu yang sengaja
diparaukan.”
“Orang itu masih mengatakan apa lagi?”
“Setelah menolongku dari gedung keluarga Pui, sepanjang
perjalanan ia tidak berkata apa-apa. Hanya sesampainya di
kuil Hay-sin-bio, dia baru membisikkan beberapa patah kata
itu kepadaku.”
“Manusia macam apakah dia? Tahukah kau?”
“Aku berada di atas punggungnya sedang dia berlari sangat
kencang hingga aku tak sempat melihat jelas raut wajahnya,
tapi aku dapat merasakan kalau dia masih muda. Ki sute,
sudah beberapa tahun kita tak bersua, di tengah kegelapan
aku selalu menganggapnya sebagai dirimu.”
“Ooh, rupanya seorang pemuda!”
“Kau sudah tahu siapakah dia?”
“Masih belum begitu jelas, tapi pemuda yang memiliki ilmu
silat sedemikian lihaynya tak akan banyak, asal kupikirkan
pelan-pelan akhirnya pasti akan ketahuan juga.”
“Tak ada waktu untuk dipikirkan lagi. Orang ini tak mau
dibalas budinya, berarti dia adalah seorang pendekar.
Sementara waktu tidak tahu namanya bukan suatu masalah
penting, nah Ki sute, pulanglah dulu, kita bersua lagi lain
kesempatan.”
“Huan suheng,” seru Ki See-kiat lagi dengan cemas, “kau
toh tak mungkin bisa keluar dari kota Po-teng hanya
mengandaikan tongkat saja, biar aku yang menggendongmu….”
“Soal ini tak perlu kau khawatirkan Ki sute,” sahut Pui Liang
cepat “Di tepi sungai sana kami telah menyimpan sebuah
sampan, jadi kami hanya berjalan sedikit saja….”
Ternyata kuil Hay-sin-bio dibangun di tepi sungai, sungai
tersebut bernama sungai Cio-ho, sebuah sungai yang digali
dengan tenaga manusia, dari terusan atau sungai Cio-ho ini
orang bisa memasuki Pek-yang-teng, melalui kota Thian-keng
dan langsung bisa sampai di lautan bebas.
Bila orang tak ingin keluar samudra, maka mereka bisa
mendarat di kota Thian-keng lalu berangkat ke ibu kota,
perjalanan akan jauh lebih cepat daripada melalui jalan darat.
“Kalau memang begitu, biar kuantar kalian sampai ke
perahu sebelum pulang,” kata Ki See-kiat
Huan Kui tahu kalau pemuda itu tak akan pulang dengan
begitu saja sebelum mengantarnya naik perahu, dia pun
berkata, “Baiklah, perjalanan tak jauh, kita boleh berkumpul
sebentar lagi, cuma kau tak boleh menggendongku, biar aku
mencoba berlatih untuk jalan dengan tongkat”
Bagaimanapun juga orang yang mempunyai dasar ilmu silat
jauh berbeda dengan manusia biasa, ia dapat berjalan dengan
cukup cepat mungkin lebih cepat daripada orang biasa berlari.
Ki See-kiat yang menyaksikan keadaan luka saudaranya
tidak begitu parah, harinya baru merasa lega.
Pui Liang yang jalan berendeng dengannya berkata lebih
jauh, “Sampan ini kusiapkan dengan bantuan Kay-pang,
pendayungnya adalah anggota Kay-pang. Sebetulnya kami
bermaksud pergi bersama setelah Ciat Hong tertolong, tapi sekarang
kami hanya bisa mempercayakan tugas ini kepada
sahabat yang menyelamatkan Huan sute, kami tak bisa
menunggu dia lagi.”
“Benar, ilmu silat yang dimiliki sahabat itu memang
sanggup melakukan segala sesuatu, aku rasa dia memang
mampu menyelamatkan Ciat Hong dari penjara.”
“Semoga saja begitu. Tapi untuk menolong seorang
tawanan dari penjara kota Po-teng bukan suatu pekerjaan
yang gampang….”
“Lebih baik kalian pergi dulu, besok biar aku yang
mencarikan berita untuk kalian.”
“Baik, asal kau memperoleh sesuatu berita, sampaikan saja
kepada pihak Kay-pang.”
Dia lantas memberikan alamat kantor cabang Kay-pang
untuk kota Po-teng kepada Ki See-kiat. Berbicara sampai di
situ, mereka telah tiba di tepi sungai. Pui Liang segera bersiul,
benar juga dari balik ilalang segera muncul sebuah sampan
kecil.
Ki See-kiat mengantar mereka sampai naik ke atas perahu
dan menunggu sampai perahu itu keluar dari mulut sungai, dia
baru pulang ke rumah, waktu itu fajar baru menyingsing.
Menyaksikan suasana di sekeliling tempat itu amat hening,
Ki See-kiat segera berpikir, “lak mungkin ibu bangun sepagi
ini, biar aku berganti pakaian dulu baru pergi menjumpainya,
daripada dia merasa terkejut”
Siapa tahu, baru saja dia melangkah masuk ke dalam
kamarnya, ibunya sudah duduk di situ menantikan
kedatangannya
Begitu ia muncul, dengan wajah sedingin es Nyo toakoh
segera menegur ketus, “Kiat ji, semalam ke mana saja kau
pergi?”
“Aku… semalam aku pergi ke rumah Pui Hou,” sahut Ki Seekiat
agak tergagap.
“Mau apa kau ke rumahnya?”
“Soal ini… soal ini… pan… panjang untuk diceritakan….”
Diperiksa Ibunya
Dengan matanya yang tajam, Nyo toakoh segera
menyaksikan pakaian yang dikenakan putranya penuh noda
darah, ia lantas membentak lagi keras-keras, “Kau telah,
bertarung melawan Pui suheng?”
“Ti… tidak, ibu, deng… dengarkan dulu perkataanku!”
“Jangan berbicara dulu, cepat membersihkan muka, ganti
pakaian baru kemari! Tahukah kau bagaimana tampangmu
sekarang, coba ber-cermin dulu.”
Tentu saja Ki See-kiat tahu bagaimanakah tampangnya
sekarang. Semalam ia telah menggosok wajahnya dengan
segumpal lumpur di tepi’ kolam ikan keluarga Pui, hingga kini
lumpur tersebut belum dibersihkan, apalagi pakaiannya kena
darah Huan Kui.
Sehabis membersihkan muka dan berganti dengan pakaian
bersih, dia baru duduk sambil berkata, “Ibu, bagaimanakah
pendapatmu tentang Pui Liang dan Huan Kui berdua?”
“Selama berada di kota Po-teng, kedua orang ini memang
menunjukkan tindak-tanduk yang lurus dan jujur. Tapi selama
tiga tahun ini mereka lenyap secara aneh, sejak meninggalkan
kota Po-teng, aku kurang tahu apakah mereka berubah
menjadi baik atau jelek. Eeh, mengapa kau singgung tentang
kedua orang ini?”
“Ibu, seandainya jiwa mereka terancam, pantaskah bila
ananda menyelamatkan jiwa mereka?”
“Apa?” seru Nyo toakoh terkejut, “kau… jadi kau ke rumah
Pui Hou untuk menyelamatkan mereka berdua?”
“Benar, setelah kembali ke kota Po-teng, berhubung ada
suatu urusan mereka datang mengunjungi Pui Hou, siapa tahu
Pui Hou seperti telah melupakan hubungan sebagai sesama
saudara seperguruan, kedua orang itu dihajarnya sampai
terluka. Akhirnya Pui Liang berhasil kabur, tapi Huan Kui
tertawan.”
‘Tunggu dulu, ucapanmu barusan menimbulkan kecurigaan
di dalam hatiku____”
“Yang mana?”
“Dari enam orang murid engku-mu, tentu saja murid
pertama Bun Seng-liong yang memiliki ilmu silat paling baik,
tapi Pui Hou meski menempati urutan kedua, ilmu silatnya
justru tak sanggup menandingi kemampuan sute-nya Pui
Liang serta Huan Kui, kendatipun centengnya berjumlah
banyak, ilmu silat yang dimiliki centeng-centeng itu hanya
kucing kaki tiga, bagaimana mungkin kedua orang itu bisa
dilukai?”
“Mereka terkena serangan gelap dari engku. Huan Kui
terhajar sebatang paku penembus tulang yang dilepaskan
engku sehingga nyaris melubangi pi-pa-kut-nya.”
Rasa kaget Nyo toakoh sekarang makin menjadi, dengan
mata terbelalak ia berseru, “Apa… kau bilang? Engku-mu
adalah guru mereka, mana ada guru menyergap murid
sendiri?”
Kontan Ki See-kiat tertawa dingin. “Heeehh… heeeh h…
heeehh… aku sendiri pun merasa heran masa di dunia ini bisa
terjadi kejadian semacam itu, tapi justru peristiwa semacam
itu telah terjadi?”
Nyo toakoh terbungkam untuk beberapa saat lamanya,
setelah hening sesaat dia baru bertanya, “Bagaimana dengan
engku-mu?”
“Sekarang dia masih berada di rumah Pui Hou.”
“Bukankah dia bilang mau meninggalkan kota Po-teng?”
“Ibu. mengapa kau percaya dengan perkataan engku?
Tempo hari dia cuma membohongi kita, padahal ia masih
tetap berada di Po-teng mengurusi tugasnya, mungkin khawatir
kita tahu.”
“Aku tidak peduli persoalan apakah yang sedang dilakukan
olehnya, yang paling penting kuketahui sekarang adalah
jejakmu berhasil diketahui engku-mu atau tidak?”
“Tidak”
Nyo toakoh merasa sedikit agak lega, kembali dia bertanya,
“Lantas dari mana datangnya noda darah di atas pakaianmu?”
“Darah itu berasal dari tubuh Huan suheng.”
“Kalau begitu kau telah menolong Huan Kui dari situ? Ilmu
silat yang dimiliki engku-mu tidak lebih rendah daripada
dirimu, masa ia sama sekali tidak menyadari?”
“Bukan aku yang menolong Huan suheng, melainkan orang
lain”
“Siapa” tanya Nyo toakoh tercengang.
“Masih belum tahu. Setelah ananda berjumpa dengan Huan
Kui, orang itu sudah pergi jauh.”
“Lantas, di mana Huan Kui sekarang?”
“Sebelum fajar menyingsing tadi, dia bersama Pul suheng
telah pergi meninggalkan kota ini. Dengan perahu mereka
meninggalkan kota Po-teng.”
Nyo toakoh baru merasa lega setelah mendengar kalau
mereka telah pergi meninggalkan kota Po-teng, katanya
kemudian, “Baiklah, sebenarnya apa yang telah terjadi
sekarang kau boleh ceritakan sejujurnya kepadaku, tak boleh
ada yang dirahasiakan.”
Terpaksa Ki See-kiat harus membeberkan kasus Ciat Hong
tersebut pada ibunya.
Semakin mendengar Nyo toakoh merasa makin terperanjat,
ketika selesai mendengarkan seluruh rangkaian cerita
tersebut, ia duduk bersandar di kursi dengan lemas.
Lama kemudian ia baru berkata lagi, “Kiat-ji, aku sudah tua,
aku sangat berharap kau bisa tetap mendampingi diriku,
mendampingi aku selama beberapa tahun lagi. Tetapi
sekarang terpaksa aku harus menyuruh kau pergi
meninggalkan aku. Mumpung hari belum terang, cepatlah
pergi meninggalkan tempat ini, pergilah cepat.”
“Ibu, bukankah sudah kukatakan kepadamu, bukan aku
yang menolong Huan Kui? Apalagi engku pun tidak melihat
diriku.”
“Sekalipun engku tidak melihat dirimu, tapi pasti akan
mencuriga! dirimu.”
“Ibu, bukankah kau seringkali berkata, gwakong dan nenek
sudah lama mati, kau sebagai anak-nya Melulu mendidik dan
memelihara engku bagaikan seorang ibu terhadap anaknya.
Kini ia bisa kaya dan hidup makmur, sebagian besar juga
dikarenakan Jasamu. Sekalipun tidak memberi muka kepada
pendeta haruslah memberi muka kepada Buddha, masa dia
berani berbuat sesuatu padaku?”
Nyo toakoh menghela napas.
“Aaaai, andaikata kasus tersebut cuma suatu kasus biasa,
mungkin keadaan takkan begini, tapi kasus Ciat Hong adalah
suatu kejadian yang luar biasa Aku percaya dia tak akan
menyulitkan kita berdua, tapi dia adalah orang yang bekerj a
untuk baginda, bagaimanapun juga kita harus memikirkan
pula tentang dia Sekarang, menyingkirlah dulu keluar selama
beberapa waktu, bila keadaan sudah mereda kau baru kembali
kemari lagi, jangan terlalu menyusahkan engku-mu.”
“Baiklah, kalau ibu kelewat khawatir, untuk sementara
waktu ananda akan menyingkir dulu dari sini.”
Siapa sangka baru saja pemuda itu akan mohon diri dari
ibunya seseorang telah mendorong pintu rumahnya, kemudian
terdengar suara langkah manusia yang ramai berlarian masuk
Buru-buru Nyo toakoh menyembunyikan pakaian kotor yang
baru saja dilepas Ki See-kiat ke bawah kolong ranjang,
kemudian bentaknya keras-keras, “Siapa?”
Padahal ia sudah menduga siapa yang datang.
Benar juga… segara terdengar suara dari Nyo Bok
menyahut “Enci, aku yang datang. Lo-suhu ada urusan hendak
menjumpaimu, maka aku sengaja menemaninya kemari.”
Agaknya Lo Hi-hong khawatir ucapan tersebut kurang
sempurna maka mengikuti peraturan yang berlaku dalam
dunia persilatan, dia berseru dengan suara lantang, “Lo Hihong
sengaja datang kemari untuk mengunjungi enso dan
keponakan.”
Suami Nyo toakoh semasa masih hidupnya dulu menyebut
saudara dengan Lo Hi-hong.
Karena ia sudah menyebutkan hendak berjumpa dengan Ki
See-kiat, terpaksa Nyo toakoh harus mengajak putranya untuk
bersama-sama menyambut kedatangan tamunya
Nyo toakoh tidak menggubris Lo Hi-hong tapi sengaja
berlagak keheranan sambil mengawasi Nyo Bok tanpa
berkedip, kemudian tegurnya “Hei, titi, baru dua tiga hari
berangkat, mengapa secepat ini sudah sampai di sini lagi.”
Merah padam wajah Nyo Bok karena jengah.
“Ah, kebetulan masih ada sedikit urusan yang belum beres,
maka aku harus berdiam selama beberapa hari lagi di Poteng.”
“Enso!” Lo Hi-hong kembali berkata, “maafkan kedatangan
kami yang mendadak, jika ada kesalahan tolong jangan
marah. Terus terang saja, kalau tiada urusan kami pun tak
akan berkunjung kemari.”
Berbicara sampai di situ, secara diam-diam ia lantas
memperhatikan perubahan wajah Nyo toakoh.
Paras muka Nyo toakoh masih tetap seperti sediakala, dia
berkata hambar, “Kita semua adalah saudara sendiri, buat apa
mesti sungkan-sungkan? Bila ada persoalan, katakan saja
secara blak-blakan.”
“Urusanku ada sangkut pautnya dengan urusan adikmu,
kedua kasus ini sesungguhnya merupakan satu kasus yang
sama. Nyo heng, kau duluan atau aku duluan?” kata Lo Hihong
lebih lanjut.
“Lo suhu adalah tamu, lebih baik kau duluan.”
“Kalau memang enso tidak menganggap asing diriku aku
pun tak usah berputar kayun lagi. Berbicara terus terangnya,
aku datang kemari karena ingin memohon bantuan dari
keponakan.”
“Aah, Lo toako sedang bergurau rupanya, dia masih begitu
muda, bantuan apa yang dapat ia berikan?”
“Asal keponakan sudi memberi muka, hal ini berarti sudah
memberi bantuan yang sangat besar bagiku!”
Nyo toakoh segera menarik wajahnya lalu menegur, “Maaf
aku tidak memahami apa maksud ucapanmu yang
sebenarnya?”
“Aku datang disebabkan kasus Ciat Hong. Keponakanku,
tentunya kau mengerti bukan?”
“Ciat Hong apa? Aku tidak mengerti!” Seru Ki See-kiat.
Sambil menahan diri, Lo Hi-hong berkata, “Ciat Hong adalah
seorang pemberontak yang berani melawan pemerintah
kerajaan, sekarang sudah ditangkap dan disekap dalam
penjara Po-teng, tapi semalam ia telah dilarikan orang. Siheng
(keponakan), kau kan tahu, muridku Lau Kun adalah kepala
opas kota Po-teng ini, bila dia sampaj tidak berhasil
menangkap kembali buronan tersebut, dosa yang dipikulnya
tentu berat sekali. Itulah sebabnya terpaksa aku harus datang
kemari untuk memohon bantuan siheng.”
Terkejut dan girang hati Ki See-kiat sesudah mendengar
perkataan itu, pikirnya, “Ah, ternyata perkataan orang itu
memang dapat dipercaya, sudah pasti dialah yang sudah
menyerbu penjara setelah berhasil menolong Huan Kui.”
Ki See-kiat tidak mengerti harus merahasiakan perasaan,
tanpa terasa dengan wajah berseri dia tertawa terbabakbahak,
“Haah haah haah, jadi kau mengira aku yang telah
membobol penjara?”
“Aah, tidak berani, tidak berani. Cuma mungkin saja siheng
tahu dia telah bersembunyi di mana, itulah sebabnya kami
mohon kepada siheng agar sudi memberitahukan soal itu
kepadaku.”
“Berdasarkan apa kau mengira aku tahu akan soal ini?”
Lo Hi-hong segera berkerut kening, tanpa sadar dia
mengalihkan sorot matanya melirik Nyo Bok.
“See-kiat,” dengan lembut Nyo Bok berkata, “kini peristiwa
tersebut sudah terjadi, satu-satunya cara untuk mengatasi
keadaan ini adalah memberi petunjuk kepada kami, ketahuilah
mustahil buat kami untuk mungkir dengan begitu saja. Kau –
mesti percaya kepada engku-mu, tak mungkin engku akan
mencelakai-mu! Asal kau bersedia menerangkan kepada kami,
di tempat manakah kami dapat menemukan Ciat Hong, urusan
selanjurnya masih dapat dirundingkan lagi!”
Perlu diketahui, dia sudah menganggap orang yang
menolong Hoan Kui semalam ialah Ki See-kiat Yang
dimaksudkan sebagai “urusan selanjutnya” dalam
perkataannya barusan adalah memberi kisikan kepada Ki Seekiat
bahwa dia tak akan mempersoalkan peristiwa Huan Kui
lagi, asal Ciat Hong berhasil ditangkap.
“Jikalau kalian bersikeras mengatakan aku yang berbuat,
terpaksa aku pun memberi tahu secara terus terang kepada
kalian,” kata Ki See-kiat kemudian.
Nyo Bok menjadi gembira sekali, segera teriaknya, “Benar,
asal kau bersedia bicara terus terang, ada persoalan sebesar
apa engku-mu sanggup untuk menghadapinya!”
Ki See-kiat tertawa terbahak-bahak, “Hah hah hah hah,
kalian telah salah mencari orang. Terus terang saja, Ciat Hong
itu gemuk atau kurus, tinggi atau pendek, sampai sekarang
aku pun tidak tahu. Pada hakikatnya aku belum pernah berjumpa
dengan manusia semacam ini, bagaimana mungkin aku
bisa mengetahui jejaknya?”
Lo Hi-hong jadi sangat terperanjat, “Soal ini… soal ini… Ki
siheng, kau jangan bergurau dengan kami!”
“Kiat-ji memang benar-benar tidak sedang bergurau dengan
kalian,” kata Nyo toakoh cepat. “Aku tahu jelas tentang hal ini,
masalah tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan
dia.”
“Enso, dari mana kau bisa tahu kalau persoalan ini sama
sekali tak ada sangkut pautnya dengan dia?”
Nyo toakoh menyahut dingin, “Kau tidak percaya dengan
perkataan See-kiat, masa perkataanku pun tidak kau percaya?
Heeehh heeehh… jadi sekarang kau sedang memeriksa
diriku?”
Nyo toakoh termasyhur sebagai Lak-jiu-Koan-im (Koan-im
Bertangan Keji) begitu tertawa dingin, tanpa terasa sorot
matanya pun memancarkan hawa pembunuhan yang
menggidikkan.
Lo Hi-hong menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru dia
berseru dengan nada gemetar, “Enso, harap kau jangan
marah dulu, aku toh cuma bertanya saja….”
“Sebenarnya aku hendak menerangkan kepadamu, apa
sebabnya aku bisa tahu kalau urusan ini tidak menyangkut diri
Kiat-ji, tapi kau mesti memahami watakku, aku tak sudi
memberi penjelasan karena nada pemeriksaan dari
seseorang.’ Maaf, kini aku tak ingin banyak berbicara lagi, apa
yang ingin kau tanyakan sekarang sudah ditanyakan. Kalau
tiada urusan yang lain lagi, silakan pergi ke tempat lain untuk
melakukan pemeriksaan!”
Selesai berkata, dia lantas mengangkat cawan air tehnya
sebagai pertanda mempersilakan tamunya pergi.
Buru-buru Nyo Bok berkata, “Enci, persoalanku belum
selesai disampaikan, dua persoalan itu ada sangkut pautnya
antara yang satu dengan lainnya, tak mungkin Lo lu bisa pergi
saat ini juga”
“Kau pun tidak percaya dengan perkataanku?” seru Nyo
toakoh cepat. “Baiklah. Kalau kau masih ada urusan lain yang
membutuhkan bantuanku, cepat katakan!”
“Cici, bukan aku tak percaya dengan perkataanmu. Ada
suatu persoalan entah See-kiat telah memberitahukan
kepadamu atau belum?”
“Soal apa?”
“Semalam dia telah pergi ke mana?”
“Pertanyaanmu itu sama artinya dengan mencurigai Kiat-ji
sebagai pembobol penjara, hm, selama hidup aku tak pernah
bohong, terus terang kuberitahukan kepadamu, aku tahu
orang yang melepaskan Ciat Hong dari penjara bukan dia!”
“Lantas siapa?” tanya Lo Hi-hong cepat.
Nyo toakoh melirik sekejap ke arahnya, kemudian berkata,
“Dari mana aku bisa tahu? Hmm, rupanya kau baru akan puas
bila aku mengakui dirikulah yang telah masuk penjara
menolong orang?”
Lo Hi-hong jadi ketakutan setengah mati sehingga tak
berani bersuara lagi.
Nyo Bok adalah seorang manusia yang berotak cerdas dan
berakal. banyak, ia segera berpikir, “Aku bertanya ke mana
Kiat-ji semalam, tapi ia selalu menghindari pertanyaan
tersebut, jangan-jangan di balik kesemuanya ini masih
terdapat hal-hal lainnya?”
Ia tak berani mengulangi kembali pertanyaan tersebut dan
mendesak enci-nya untuk menjawab, terpaksa sambil berputar
kayun dulu, dia berkata lagi, “Enci, tentu saja kau tak akan
membohongi aku. Tapi aku khawatir See-kiat berbuat tolol
sehingga melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dia
lakukan, yang lebih dikhawatirkan lagi adalah setelah berbuat,
dia tak berani menceritakan hal itu kepadaku.”
“Menurut anggapanmu, perbuatan apakah yang sengaja dia
rahasiakan terhadap diriku?”
“Semalam di rumah Pui Hou telah terjadi suatu peristiwa,
Huan Kui telah dilarikan orang.”
“Jadi Huan Kui telah pulang?” ucap Nyo toakoh pura-pura
kebingungan. “Dia dan Pui Hou adalah muridmu, apa salahnya
kalau dia tinggal di rumah Pui Hou? Mengapa kau
menggunakan istilah ‘dilarikan’?”
Nyo Bok tidak tahu enci-nya benar-benar tak tahu atau
pura-pura tak tahu, terpaksa dia harus memberitahukan
kepadanya, “Enci, kau tidak tahu, murid-muridku ini telah
menggabungkan diri dengan komplotan yang dipimpin Leng
Thiat-jiau untuk memberontak, kedatangannya ke Po-teng kali
ini adalah dalam usaha menyelamatkan Ciat Hong. Sebetulnya
Pui Hou ingin menolongnya dan menahan dia di sana, siapa
tahu semalam ia telah dilarikan orang!”
“Jadi kau mengira orang yang melarikan Huan Kui adalah
keponakanmu ini?”
“Orang itu turun tangan di saat ruangan menjadi gelap, tapi
aku sudah tahu kalau dia adalah seorang pemuda. Padahal di
dunia persilatan dewasa ini hanya ada beberapa orang
pemuda saja yang bisa melarikan orang tepat di depan
hidungku!”
“Maka kau pun lantas menuduh perbuatan ini dilakukan
olehnya?” kata Nyo toakoh dingin.
“Semoga saja bukan dia,” buru-buru Nyo Bok menjawab,
“tapi sekalipun dia yang melakukan perbuatan ini, keadaan
masih dapat ditolong, asal dia mau berterus terang, persoalan
yang lebih besar pun akan kuhadapi….”
“Terima kasih atas kasih sayang engku,” teriak Ki See-kiat
lantang, “tapi engku pun tak usah gelisah. Aku dapat
memberitahukan kepadamu, orang yang melarikan Huan Kui
bukanlah aku!”
Nyo Bok tidak mempedulikan ucapan itu, kembali ujarnya
lebih lanjut, “Enci, kau telah melepaskan budi setinggi bukit
kepadaku, sudah sepantasnya kau percaya kepadaku bahwa
aku tak akan menyulitkan See-kiat Tapi andaikata dari pihak
ibu kota mengirim orang lagi untuk memeriksa kasus ini,
waah… urusan jadi lebih sulit untuk diselesaikan. Setiap orang
yang berada dalam gedung keluarga Pui sama-sama
mencurigai See-kiat Lau Kun juga bersikeras mengatakan dia
yang membobol penjara. Orang yang ditugaskan menyelidiki
peristiwa ini sudah pasti datang mencari kesulitan untuk,
kalian berdua”
“Kau mengira enci adalah seorang yang takut urusan?”
tanya Nyo toakoh dingin.
“Cici, kau adalah perempuan Ulung, tentu saja tak akan
takut urusan, tapi sekarang seharusnya adalah waktu bagimu
untuk menikmati sisa hidupmu, daripada banyak urusan lebih
baik tak ada urusan. Dengan kekuatanmu seorang, bagaimana
mungkin kau bisa melawan kekuasaan pemerintah? Oleh
sebab itu aku berharap kepadamu agar menanyai See-kiat,
andaikata memang dia yang melakukan, lebih baik berterus
terang saja kepadaku, daripada orang lain datang mencari
gara-gara dengan kalian!”
“Masa kau tidak mendengar, kedua peristiwa itu bukan dia
yang lakukan?”
Nyo Bok agak tertegun, lalu katanya lagi, “Cici, bukannya
aku tak percaya dengan perkataan Kiat-tapi siapa tahu kalau
tadi ia mejadi takut akan sesuatu dan tak bisa berterus
terang?”
”Baik, jika kau tak percaya degannya biar aku yang
memberitahukan kepadamu, orang yang melepaskan Huan Kui
bukan dia Tapi dia merupakan orang yang paling dicurigai, aku
khawatir orang lain tak akan percaya dengan perkataan cici!”
“Lantas mau apa kau sekarang?”
Nyo Bok memandang sekejap ke arah Lo Hi-hong,
kemudian berkata “Cici, murid Lo suhu adalah kepala opas
kota Po-tcng, dialah yang melaporkan peristiwa ini kepada
walikota dan dia pula yang mengundang gurunya untuk
menyelidiki peristiwa ini Sedang aku adalah orang yang dikirim
pihak ibu kota untuk membantunya menyelesaikan persoalan
ini. Kalau soal pihakku gampang, tapi pihak walikota Po-teng
tidak mungkin bisa ditembusi hanya berdasarkan sepatah dua
patah kata saja!”
“Betul!” timbrung Lo Hi-hong pula cepat, “enso, harap kau
suka berbesar hati, baik atau buruk kau mesti mencari suatu
akal, agar kami bisa mempertanggungjawabkan diri kepada
atasan!”
Paras muka Nyo toakoh berubah hebat
“Kalau begini, paling tidak kalian hendak mengajak putraku
untuk menghadap walikota dan diperiksa?”
‘Tidak berani, tetapi… ya, kecuali orang yang membobol
penjara adalah orang lain, jika tidak terpaksa kami harus
mengajak putramu untuk menghadap walikota!”
“Kau anggap hanya See-kiat seorang yang berkemampuan
untuk membobol penjara dan menolong orang?” seru Nyo
toakoh dingin.
Tergerak juga hati Nyo Bok setelah mendengar perkataan
itu, buru-buru ia bertanya, “Cici, kalau begitu kau sudah tahu
siapakah orang yang telah membajak penjara dan menolong
Ciat Hong?”
Sebelum Nyo toakoh sempat menjawab, mendadak dari luar
kedengaran seseorang berseru, ‘Tidak usah bertanya
kepadanya tanya saja kepadaku!”
Meskipun suara itu berasal dari luar pintu, namun
kedengarannya seakan-akan berasal dari sisi telinga Nyo Bok.
Tak terlukiskan rasa kaget Nyo Bok setelah mendengar
suara itu, ia segera membentak, “Siapa kau?”
“Aku adalah orang yang membobol penjara dan melarikan
Ciat Hong, aku juga yang melarikan Huan Kui, dua peristiwa
tersebut merupakan hasil karyaku. Bila kau ingin mencari
mereka, ikutilah aku!”
---ooo0dw0ooo---
Setelah Nyo Bok berlalu, Nyo toakoh menghembuskan
napas panjang, katanya “Kau dapat mengenali bukan, orang
itu adalah Nyo Yan?”
“Sudah kuduga kalau dia. Ibu, bagaimana kalau secara
diam-diam kita saksikan peristiwa selanjutnya?”
“Jangan!”
Setelah berhenti sejenak dan menghela napas, terusnya,
“Aku rasa lebih baik kau cepat kabur saja meninggalkan
tempat ini!”
“Sekarang piaute sudah pulang, mengapa aku harus pergi?”
“Kau anggap Nyo Yan dapat menyerahkan Ciat Hong dan
Huan Kui kepada ayahnya?”
“Aku cukup memahami watak piaute, setelah dia menolong
orang itu, tak nanti dia akan mengantar kembali orang yang
ditolongnya ke mulut harimau.”
“Tepat sekali, bila ia gagal menangkap buronan pemerintah,
tak bisa berkutik pula pada putra sendiri, bagaimana caranya
mempertanggung-jawabkan diri?”
“Ibu, apakah kau. masih khawatir engku akan datang lagi
untuk mencari gara-gara dengan kita?”
“Aaai, paling tidak pasti akan terjadi sedikit keributan.
Selama kau masih berada di rumah tentu saja dia akan datang
merecoki kita terus menerus, mendingan kalau telingaku
masih tahan menerima semua ucapan tersebut, seandainya
berita ini sampai tersiar, dari pihak pemerintah mengirim
petugasnya untuk melakukan penyelidikan? Waah… bisa
bertambah berabe kita”
“Tapi dengan cepat engku akan tahu kalau kedua peristiwa
tersebut adalah hasil karya dari putranya.”
“Justru lantaran anak lebih akrab daripada keponakan,
setelah dia tidak mampu berbuat banyak terhadap putra
sendiri terpaksa ia akan melimpahkan kesalahan tersebut
kepadamu. Benar kedua peristiwa tersebut bukan hasil
karyamu, tetapi jangan lupa, semalam kau pun berada di
gedung keluarga Pui, hal ini membuktikan kalau kau pernah
berjumpa dengan Pui Liang yang sedang melarikan diri, kalau
tidak dari mana kau bisa tahu jika Huan Kui disekap di
rumahnya Pui Hou? Sebagai seorang opas, mereka tak akan
melepaskan setiap titik terang yang bisa digunakan untuk
memecahkan peristiwa tersebut”
Ki See-kiat segera tertawa. “Ooh ibu… rupanya kau pun
tidak percaya dengan engku?”
Nyo toakoh menghela napas panjang.
“Bagaimanakah watak adikku, masa aku tak tahu? Aku
bersedia mengorbankan segalanya demi dia, tetapi andaikata
benar-benar sudah berada dalam keadaan yang kritis,
jangankan kau, aku pun mungkin akan dikhianati olehnya!”
Ki See-kiat semakin girang sesudah mendengar perkataan
ini, serunya kemudian, “Ibu, asal kau dapat memahami watak
engku yang sebenarnya, hal itu sudah lebih dari cukup.”
“Pergi saja dengan hati lega, aku telah berpikir beberapa
kali, hanya dengan kepergianmu untuk sementara dari rumah
ini, urusan baru bisa diselesaikan secara tuntas.”
“Baik, kalau begitu ananda akan pergi, ibu, kau sendiri pun
harus baik-baik menjaga diri!”
“Tunggu dulu anak Kiat!” mendadak Nyo toakoh berseru
lagi.
“Ibu masih ada pesan apa lagi? tanya Ki See-kiat sambil
berpaling.
“Kau bermaksud hendak ke mana?”
“Mengembara di dalam dunia persilatan, ke mana saja asal
aman.”
“Ada satu hal yang mesti kau penuhi dulu sebelum pergi
meninggalkan rumah!”
“Silakan ibu sampaikan.”
“Ke mana saja kau boleh pergi, hanya Jik-tat-bok saja yang
tak boleh kau singgahi!”
Jik-tat-bok merupakan markas besar pasukan pembela
tanah air yang dipimpin Leng Thiat-jiau berada. Ki See-kiat
baru mengerti sekarang, rupanya ibunya khawatir dia pergi
mencari Leng Ping-ji.
Terdengar Nyo toakoh berkata lebih jauh, “Kiat-ji, aku tahu
kalau kau belum bisa melupakan nona Leng, tetapi aku tidak
berharap kau bertemu lagi dengannya. Sekarang engku-mu
sudah mencurigai kau beraliran sama dengan Leng Thiat-jiau,
entah bagaimanapun bencimu padanya, kau tak boleh
bertindak demikian hingga tebakannya benar. Aku… aku pun
tidak ingin kau bergaul dengan orang-orang dari komplotan
mereka!”
Ki See-kiat tertawa getir.
“Ibu, sekalipun kau tak bilang, aku pun tak dapat berjumpa
lagi dengan nona Leng. Aku mempunyai seorang engku
macam begini, engku pun pernah memaksaku pergi ke Jik-tatbok
menjadi mata-mata, dapatkah aku pergi ke sana dan
terlepas dari kecurigaan orang?”
Nyo toakoh menjadi amat gembira.
“Baik,” serunya kemudian, “jadi ibu sudah menyetujui?” “Ya
ibu, aku berjanji, aku pasti tak akan pergi ke Jik-tat-bok,”
jawab Ki See-kiat sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.
“Bagus, kalau begitu aku pun merasa lega, sekarang
pergilah!”
Mengantar keberangkatan putranya, dia merasa hatinya
sangat pedih sehingga tanpa terasa titik air mata jatuh
bercucuran.
0odwo0
Kepedihan hati Ki See-kiat pun tidak berada di bawah rasa
sedih ibunya. “Kini, entah Ping-ji berada di mana? Sudah
kembali ke Thian-san? Atau pergi ke tempat pamannya di Jiktatbok?
Aaai, padahal buat apa aku mesti memikirkannya
lagi? Toh aku tak mungkin bisa bersua lagi dengannya…?”
Terkorek kembali luka di dalam hatinya, ia merasa amat
sedih, tapi air matanya tidak dibiarkan meleleh, dia harus
menelan kesedihan tersebut.
Ia sangat berharap bisa bersua kembali dengan Nyo Yan,
selain karena hubungan mereka sebagai saudara misan, ada
dua alasan penting lainnya…
Alasan yang pertama adalah ia tak sanggup membendung
rasa ingin tahunya, dia ingin tahu setelah Nyo Yan berjumpa
dengan ayahnya, apakah mereka akan saling memperkenalkan
diri?
Alasan kedua, sewaktu ia berpisah dengan Nyo Yan di
Sinkiang tempo hari, dia tahu kalau Nyo Yan akan pergi
mencari Leng Ping-ji, apakah mereka telah berjumpa?
Bagaimanapun dia berusaha untuk menghindari pemikiran
terhadap Leng Ping-ji, namun dalam hati kecilnya dia masih
selalu berharap bisa menerima kabar berita tentang Leng
Ping-ji.
Tapi, ke manakah dia harus pergi mencari Nyo Yan?
Otaknya berputar kencang, dia mencoba untuk menduga-duga
ke mana saja engku-nya mungkin dibawa adik misannya itu.
“Yang pasti bukan ke tempat yang ramai,” demikian dia
berpikir. “Tempat itu pun tak akan jauh dari rumahku, kalau
tidak setelah matahari terbit nanti orang yang berlalu lalang di
jalanan pasti akan bertambah banyak.”
Waktu fajar baru menyingsing, rumah-rumah penduduk di
sekitar sana belum ada yang buka.
Mendadak ia teringat akan suatu tempat, tempat itu tak
jauh letaknya dari tempat tinggal mereka… kuil Hay-sin-bio.
Ternyata dugaannya memang benar, waktu itu Nyo Yan
memang telah memancing ayahnya menuju ke kuil Hay-sinbio.
Nyo Bok dan Lo Hi-hong khawatir jika di sekitar kuil
tersembunyi jago-jago lihay, mereka tak berani masuk ke
dalam ruangan kuil dengan begitu saja.
Nyo Yan segera berkata “Semalam, aku mengantar Huan
Kui ‘kemari dan menyerahkan kepada suheng-nya Pui Liang.
Nyo… Nyo toaya, aku tahu kalau kau adalah guru mereka
terlepas kau hendak menganggap mereka sebagai muridmu
atau sebagai buronan, tapi paling tidak kau tak akan j eri
terhadap murid sendiri bukan? Sudah kukatakan sedari tadi,
aku pun tidak bermaksud jahat kepadamu, kalau toh sudah
sampai di sini, mengapa kau tidak bernyali untuk masuk ke
dalam?”
Sepanjang jalan melakukan pengejaran tadi, Nyo Bok sudah
mencoba mengamati bayangan punggung Nyo Yan dengan
seksama, apalagi setelah berbicara dengan berhadapan muka
sekarang, memandang raut wajah pemuda tersebut, ia merasa
amat terperanjat.
“Heran mengapa wajah pemuda ini seperti pernah
kukenal?”
Tanpa terasa dia mengamati dengan lebih seksama lagi,
tapi makin dilihat dia merasa semakin aneh. Perasaan aneh
tersebut bukan terbatas pada perasaan “seperti pernah
dikenal” saja pada hakikatnya ia seperti bertemu dengan
seseorang yang amat dikenal, seperti seseorang yang sudah
lama berpisah banyak tahun kemudian berjumpa lagi secara
mendadak.
Maka ketika didengarnya Nyo Yan memanggil dia sebagai
“Nyo toaya”, lagi pula nada suaranya lembut dan halus, sama
sekali tidak berniat jahat, hal ini membuat perasaan aneh yang
timbul dari dalam hatinya itu semakin bertambah tebal.
Setelah ragu-ragu sejenak, tanpa terasa dia mengikuti di
belakang Nyo Yan melangkah masuk ke dalam kuil.
Melihat Nyo Yan sudah masuk, Lo Hi-hong membesarkan
juga nyalinya untuk mengikuti dari belakang.
Siapa tahu Nyo Yan berpaling secara tiba-tiba kemudian
membentak keras-keras, “Lo Hi-hong aku toh tidak
mengundangmu masuk, siapa suruh kau ikut kemari?”
Lo Hi-hong termasuk jago persilatan yang berkedudukan
sangat tinggi sekali dalam kota Po-tcng.
Sebagaimana diketahui, dalam kota Po-teng terdapat dua
orang busu terkenal, yang kesatu adalah Nyo Bok sedang
yang lain adalah dia Ketika Nyo Bok baru terjun ke dunia
persilatan, ia sudah jauh sebelumnya ternama di mata umum,
itulah sebabnya dalam soal urutan nama semestinya Nyo Bok
lebih maju daripadanya, namun di hadapan orang ini, dia
selalu membahasakan diri sebagai angkatan yang lebih muda.
Bagi seseorang yang “punya nama dan tingkat kedudukan
tinggi” seperti dia, bagaimana mungkin ia bisa tahan
menghadapi dampratan dari seorang bocah ingusan?
Tak tahan dia lantas mendengus, kemudian serunya- “Sobat
kecil, setelah berani melakukan perbuatan besar, masa kau
belum tahu kalau kepala opas kota Po-teng ini adalah murid
lohu? Kebetulan sekali lohu datang atas undangan muridku
untuk menyelidiki kasus ini.”
Bagaimanapun jua, dia masih merasa jeri juga terhadap
pemuda yang berani mendobrak penjara dan menolong
tawanan dari dalamnya ini, apalagi dia pun bisa menduga
kalau ilmu silat orang ini sangat lihay, coba kalau bukan
begitu, mungkin sedari tadi ia sudah mencaci maki habishabisan.
Siapa tahu ucapan yang dianggapnya sudah cukup sungkan
ini tak bisa diterima Nyo Yan.
Belum selesai Lo Hi-hong berbicara, kembali Nyo Yan sudah
membentak,
“Tidak peduli kau adalah kepala opas atau bukan,
jangankan baru gurunya sekalipun raja sendiri juga harus
menggelinding dari sini, dengar atau tidak? Aku menyuruh kau
menggelinding pergi dari sini?”
Lo Hi-hong tak berani memakinya, siapa tahu ia justru
memaki Lo Hi-hong lebih dulu.
Habis sudah kesabaran Lo Hi-hong, dengan gusar dia
membentak keras-keras, “Sudah enampuluh tahun lebih aku
hidup di dunia ini, belum pernah ada orang menyuruh aku
menggelinding pergi, kau… kau si bocah keparat., kau….”
Di tengah bentakan keras, dua buah peluru baja segera
menyambar ke muka dengan membawa suara desingan tajam.
Dalam serangannya kali ini, Lo Hi-hong telah menggunakan
ilmu senjata rahasia tunggalnya peluru kecil meluncur dulu
menghajar muka Nyo Yan untuk mengacaukan pandangan
matanya, kemudian peluru besar yang menyambar belakangan
tiba lebih dulu menghantam punggung pemuda itu setelah
membentuk gerakan lingkaran busur.
Siapa tahu punggung Nyo Yan seperti mempunyai mata
saja, sambil membalikkan tangannya, tahu-tahu peluru besar
itu sudah tertangkap olehnya, kemudiau tanpa berpaling dia
menjepit dengan kedua jari tangannya, peluru kecil yang
disambitkan belakangan pun ikut terjepit pula
Setelah menyambut kedua buah peluru baja tersebut, Nyo
Yan berkata sambil tertawa dingin, “Huuh, mutiara sebesar
beras juga ingin bercahaya terang, buat apa kau memamerkan
besi rongsokan seperti ini di hadapanku?”
Ia banting kedua buah peluru itu ke bawah, “Blaarr!” diiringi
suara benturan nyaring, dua buah lubang besar sudah muncul
di atas permukaan tanah, sedemikian dahsyatnya tenaga
sambitan tersebut hingga kedua buah peluru baja itu melesat
ke dalam tanah dan hilang lenyap tak berbekas.
Sekarang, Lo Hi-bong baru merasa ketakutan setengah
mati, sukma serasa melayang meninggalkan raganya, baru
saja dia akan melarikan diri, Nyo Yan telah membentak keras,
“Hai tua bangka, jika kau segan melarikan diri, lebih baik berbaring
saja di sini!”
Sewaktu peluru besi itu menembus permukaan tanah tadi,
pasir beterbangan ke mana-mana, Nyo Yan meraup
segenggam pasir lalu disambitkan ke muka sambil membentak
keras, “Kalau hanya menerima pemberian tanpa dibalas,
kurang sopan namanya, biarlah dua biji peluru baja kutukar
dengan segenggam pasir!”
Hamburan pasir dengan cepat meluncur ke depan dan
menghantam sepasang lutut Lo Hi-hong.
Seketika itu juga Lo Hi-hong merasakan sepasang kakinya
menjadi lemas, ia segera roboh tak sadarkan diri.
Dengan perasaan terkejut Nyo Bok menegur, “Hei, kau
apakan Lo losianseng?”
“Tak usah khawatir,” Nyo Yan tertawa, “aku hanya tidak
senang dengan kehadirannya di sini, biarkan saja ia tidur di
situ, selewatnya dua-belas jam,jalan darahnya akan bebas
sendiri.”
Nyo Bok jadi bingung dan tak tahu apa yang mesti
diperbuat, tapi ia tahu ilmu silat yang dimiliki pemuda ini lihay
sekali, bila ia ingin kabur, jelas tak mungkin akan terlepas dari
pengejarannya, sebab itu sambil membesarkan nyali dia
mengikuti pemuda tersebut masuk dalam ruangan.
“Coba kau lihat, bukankah paku penembus tulang ini
milikmu,” ujar Nyo Yan kemudian.
Mengikuti arah yang ditunjuk, Nyo Bok menyaksikan di atas
tanah memang tergeletak dua batang paku penembus tulang
yang masih bernoda darah, selain itu terdapat pula gumpalan
darah yang sudah mengering, kesemuanya ini membuat
hatinya amat terperanjat.
“Tampaknya pemuda ini memang tidak membohongi aku,”
pikir Nyo Bok kemudian.
Buru-buru dia bertanya, “Ke mana orangnya?”
“Aku hanya bisa mengatakan Pui Liang dan Huan Kui
pernah datang kemari, kau toh tidak berpesan kepadaku agar
menjaga mereka, dari mana aku bisa tahu mereka sudah pergi
ke mana?”
Bertemu Tapi Tak Dikenal
“Bukankah kau mengatakan hendak mengajakku kemari
untuk menangkap buronan?” seru Nyo Bok lagi.
“Betul. Tapi aku kan tak berjanji kepadamu untuk
menangkapkan buronan tersebut, kalau mau membongkar
kasus tersebut, itu urusanmu sendiri!”
Mencorong sinar tajam dari mata Nyo Bok, sesudah
menatap wajah Nyo Yan sekian lama, katanya kemudian,
“Maaf kalau terpaksa aku mesti berlagak sok tua dengan menyebutmu
sebagai saudara cilik. Saudara cilik, kau berasal dari
marga apa?”
Diam-diam Nyo Yan merasakan hatinya kecut, pikirnya,
“Ayah dan anak berjumpa, tapi ia tak mengenali siapakah
aku….”
Tanpa terasa ia menghela napas panjang, sahurnya
kemudian, “Kau keliru!”
Padahal dari mana dia tahu kalau pertanyaan tersebut
sengaja diajukan Nyo Bok untuk menyelidikinya.
“Antara aku dengan dirimu tak mungkin bisa saling
menyebut sebagai saudara, buat apa kau mesti mengetahui
namaku?” ‘
“Mengapa?” desak Nyo Bok lebih jauh.
“Perjumpaan kita hari ini tak lebih hanya suatu perjumpaan
kebetulan. Seandainya pembicaraan tak cocok, selanjurnya
aku pun tak akan sudi berjumpa lagi denganmu. Bila kita tak
akan berjumpa lagi, buat apa kau mesti mengetahui namaku?”
“Seandainya kita bisa cocok dalam pembicaraan?”
“Kita bicarakan nanti saja, nama tak lebih cuma suatu
perlambang, bila hari ini kau memanggilku dengan sebutan
apa, panggil saja dengan sebutan tersebut,” katanya
kemudian.
“Baik, ilmu silatmu tinggi, jarang kujumpai manusia
semacam kau di dunia ini, akan kusebut dirimu sebagai siauenghiong
saja. Nah, Siau-enghiong, walaupun aku gagal menangkap
kembali buronanku kali ini, tapi toh kau sudah
membantuku, bolehkah kau membantuku sekali lagi?”
“Kau menginginkan bantuan apa dariku?”
“Untuk melepaskan keleningan harus dicari yang memasang
keleningan tersebut, bantulah aku memecahkan kasus ini,”
katanya memohon.
“Nah, tidak salah bukan perkataanku tadi, baru membuka
suara, pembicaraan kita sudah tidak saling mencocoki,” keluh
Nyo Yan dengan menghela napas.
“Jadi kau tidak bersedia membantuku?”
“Bukan saja aku tak bisa membantumu, bahkan ingin
manganjur-kan kepadamu untuk mengurungkan saja niatmu
itu, bukan hanya peristiwa ini saja, di kemudian hari pun
jangan kau urusi lagi peristiwa-peristiwa sejenis itu.”
“Mengapa kau menganjurkan aku untuk berbuat demikian?”
tanya Nyo Bok tertegun.
“Coba bayangkan saja, hubungan saudara sama dengan
hubungan orang tua, hubungan murid dan guru sama dengan
hubungan ayah dan anak. Pepatah bilang sebuas-buas-nya
harimau, dia tak akan melalap anak sendiri. Tapi kau begitu
tega mencelakai murid sendiri, masih terhitung manusiakah
dirimu itu?”
Ucapan itu bernada berat dan tajam, tapi Nyo Bok papat
merasakan kalau nasihat itu muncul dengan maksud baik,
sama sekali tidak mengandung nada teguran ataupun
dampratan.
“Aku bukan bermaksud mencelakainya, aku ingin
menyelamatkan jiwanya,” Nyo Bok segera membantah.
“Benar, kau pun berkata demikian terhadap Huan Kui, tapi
ucapanmu dengan ucapan Pui Hou tampaknya berbeda Maaf,
semuanya sudah kudengar. Aku tahu kalian hanya bermaksud
untuk membohonginya agar dia mau mengaku saja.”
“Enghiong kecil, walaupun ilmu silatmu lihay, sayang
usiamu ke lewat muda, ada sementara persoalan yang belum
tentu bisa kau pahami.”
“Baik, kalau begitu aku ingin mohon petunjuk kepadamu,
bagaimanakah menurut pendapatmu?”
‘Tahukah kau apa kerjaku sekarang?”
“Ehmm, aku tahui” jawab Nyo Yan sinis.
“Kalau sudah tahu malah lebih baik. Aku bekerja untuk sri
baginda, mengapa tak boleh membongkar kasus peristiwa
tersebut untuk sri baginda pula? Selain itu mereka toh lebih
baik terjatuh ke tanganku daripada terjatuh ke tangan orang
lain, asal Huan Kui bersedia untnk bertobat dan mau menjalani
hidup baru, aku benar-benar bermaksud untuk
menyelamatkan dirinya!”
“Aku justru lebih berharap kau sendiri yang bisa bertobat
dan mulai menjalani hidup baru!”
“Tapi kesalahan apa yang telah kulakukan?”
Nyo Yan menghela napas panjang.
“Aaaai… sebenarnya kau adalah seorang busu kenamaan
yang dihormati dan disegani setiap orang, buat apa kau mesti
menjadi kuku garudanya kaisar bangsa Tartar? Aku tak mau
tahu apa alasannya kau sampai berbuat demikian tapi yang
pasti tindakanmu ini merupakan suatu tindakan yang salah
besar!”
“Baik, kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, kita
sebagai rakyat kecil tentunya harus mempunyai seorang kaisar
bukan?”
Nyo Yan tertegun sesudah mendengar perkataan itu,
ujarnya kemudian, “Soal itu tak pernah kupikirkan lebih
seksama, aku tidak tahu apakah kita harus mempunyai
seorang kaisar, tapi sejak dulu sampai sekarang selalu ada
kaisar yang muncul, mungkin saja demikian.”
“Kalau toh kaisar itu selalu ada, apa salahnya jika kita
bekerja dan berbakti demi kaisar?”
“Tapi kaisar sekarang adalah kaisarnya bangsa Tartar,
orang dari Mancuria….”
“Suku Han, suku Mancuria, suku bangsa Mongol dan suku
bangsa Tibet serta suku bangsa Sinkiang merupakan lima suku
bangsa yang bergabung menjadi satu bangsa besar, entah kau
berasal dari suku bangsa yang mana, semuanya adalah orang
Tionghoa Mengapa kau harus memaki suku bangsa Mancuria
sebagai orang Tartar?”
Nyo Yan berpikir sebentar, kemudian berkata, “Ehmm,
ucapanmu memang ada benarnya juga, tapi menurut
pengertianku semula yang dimaksudkan sebagai ‘bangsa Tartar’
adalah manusia jahat di luar suku bangsa Han. Kalau
memang begitu mudah menimbulkan kesalahpahaman,
selanjutnya aku tak akan mempergunakan istilah itu lagi.”
“Kalau toh kau tidak mempunyai rasa sentimen yang khusus
terhadap bangsa Mancu, rasanya aku bekerja untuk kaisar
bangsa Han juga bukan suatu kesalahan bukan? Coba kau
bayangkan lagi, seandainya di suatu keluarga terdapat lima
saudara bangsa Han, sebagai toako, bangsa Man-chu sebagai
jiko, bangsa Mongol sebagai samko mengapa hanya sang
toako saja yang boleh menjadi kaisar, sedang jiko tak boleh
menjadi kaizar?”
Nyo Yan merasa teori yang di kemukakan ayahnya ada
betulnya juga, tapi setelah dipikir kembali dia menggelengkan
kepalanya berulang-ulang kali.
“Sekalipun demikian, namun dalam kenyataannya mungkin
sedikit kurang benar!”
“Apanya yang kurang benar?”
“Sebab setelah bangsa Manchu menjadi kaisar, dia tidak
menganggap bangsa Han kita sebagai saudaranya. Meskipun
usiaku masih muda, apa yang kuketahui tidak banyak, tapi aku
pun sering mendengar orang bercerita, ketika tentara bangsa
M aneh u menyerbu ke daratan Tionggoan, telah terjadi
banyak sekali peristiwa berdarah seperti peristiwa ‘Sepuluh
Hari di Yangciu’, ‘Tiga Pembantaian di Kaleng’ dan sebagai n
ya, coba bayangkan berapa banyak bangsa Han yang telah
tewas di tangan mereka.”
Berbicara sampai di situ, mendadak ia teringat kembali akan
satu persoalan yang baru diketahui dari mulut Huan Kui
semalam, maka sambungnya lebih jauh, “Padahal apa yang
kau ketahui tentu jauh lebih banyak daripada diriku, sebab
orang pertama yang menciptakan Lak-yang-jiu dari keluarga
Nyo adalah leluhurmu sendiri, dialah yang membantu pasukan
pembela tanah air menjaga kota Ka-tcng sewaktu pertama kali
pasukan bangsa Man-chu menyerbu daratan. Kini kau justru
menjadi kuku garuda mereka, tidak malukah kau pada
leluhurmu?”
Bcrsemu merah wajah Nyo Bok karena jengah, cepat-cepat
dia berkata, “Peristiwa seperti Sepuluh Hari di Yangciu, Tiga
Pembantaian di Ka-teng sudah merupakan peristiwa-peristiwa
basi yang sudah lewat lama, persoalan yang berlangsung pada
seratus tahun berselang, buat apa mesti diperhitungkan lagi?”
“Hutang lama boleh disingkirkan, tapi sikap kaisar bangsa
Manchu sekarang terhadap bangsa Han apa cukup baik?”
“Sekalipun bangsa Han sendiri yang menjadi kaisar, juga
belum tentu baik terhadap bangsanya sendiri. Coba baca di
buku sejarah, berapa banyak jiwa yang tewas di tangan rajaraja
lalim itu?”
Seperti diketahui, Nyo Yan tak lebih hanya seorang bocah
berusia delapan belas tahun tentu saja tak bisa memenangi
perdebatannya dengan Nyo Bok yang jauh lebih
berpengalaman, tapi setelah berpikir sebentar, akhirnya dia
pun berhasil menemukan suatu kesimpulan.
Maka ujarnya, “Baik, tidak peduli dia bangsa Han atau
bangsa Manchu, pokoknya asal kaisar itu adalah kaisar yang
lalim, kita sebagai orang baik tidak seharusnya menjadi kuku
garudanya kaisar jahat.”
“Dari mana pula kau bisa tahu kalau kaisar yang sekarang
adalah kaisar lalim? Begitu banyak orang yang bekerja di
bawah perintah sri baginda, di antara sekian banyak orang
memang tak terlepas dari beberapa oknum yang jahat, tapi
toh belum tentu lebih jelek dari perbuatan kaisar-kaisar dari
pemerintahan sebelumnya!”
“Aku belum pernah berjumpa dengan kaisar, tapi aku tahu
dia orang jahat. Sekalipun tidak jahat sekali, tapi jahatnya
terhitung cukupan!”
“Atas dasar apa kau berani berkata demikian?”
“Aku percaya dengan temanku, kalau bukan kaisar kalian
begitu jahat, mengapa begitu banyak orang baik yang
memberontak kepadanya?”
“Siapakah teman-temanmu itu?”
“Hmmm, kau ingin membekuk mereka?”
“Aku khawatir kau kena ditipu mentah-mentah oleh
mereka.”
“Jika orang lain yang bilang begitu, sudah pasti akan
kuhajar dia sampai mampus!”
Nyo Bok segera tertawa
“Waah, kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu
atas belas kasihanmu itu. Tapi mengapa kau lebih percaya
kepada temanmu daripada mempercayai diriku?”
“Selama kau masih menjadi kuku garuda bangsa Manchu,
selama itu juga aku tak akan mempercayai dirimu. Baiklah,
apa yang harus kukatakan sekarang telah selesai
kusampaikan, mau dituruti atau tidak terserah kepadamu
sendiri!”
Saking kesal, mengkal dan sedihnya, tanpa terasa dua tetes
air mata jatuh berlinang.
“Hai, tunggu dulu, tunggu dulu!” cepat-cepat Nyo Bok
berteriak.
Sambil berpaling Nyo Yan berkata, “Kau toh tak sudi
mendengarkan nasihatku, buat apa kau memanggilku
kembali?”
“Kau… kau… sebenarnya siapakah kau?”
“Sudah kukatakan sedari tadi, aku tak bisa memberitahukan
hal tersebut kepadamu!”
Dengan mata yang basah oleh air mata Nyo Bok
menatapnya lekat-lekat, kemudian ujarnya “Buat apa kau
merahasiakan lagi kepadaku, sekalipun tidak kau katakan aku
juga tahu, kau… kau adalah….”
“Jika kau sudah tahu siapakah aku, kau lebih-lebih tak usah
bertanya lagi kepadaku,” tukas Nyo Yan cepat. “Sekarang,
kenyataan membuktikan kalau pembicaraan kita tak pernah
akan cocok, mulai detik ini aku pun tak akan menjumpai
dirimu lagi!”
“Eeeh… mengapa kau mesti terburu-buru? Aku masih ada
persoalan yang hendak dibicarakan denganmu, aaai…
bukannya aku tak mau menuruti nasihatmu….”
Nyo Yan mengira ayahnya sudah berubah pikiran, maka dia
duduk kembali sambil berkata “Lantas, apa sebabnya kau tak
dapat menuruti nasihatku?”
Nyo Bok menghela napas panjang.
“Aaaai, terus terang saja kuberitahukan kepadamu,
sebetulnya aku pun tak ingin menjadi seorang pengawal istana
atau sebangsanya aku mempunyai kesulitan yang tak bisa
diterangkan kepada orang lain!”
“Jikalau memang sukar diceritakan, tak usah kau bicarakan
lagi.”
“Kejelekan rumah tangga tak boleh diceritakan kepada
orang lain, terhadap orang luar tentu saja aku tak akan
bercerita, tapi terhadap dirimu….”
“Aku tak sudi mendengarkan, aku tak sudi mendengarkan!”
teriak Nyo Ya n berulang kali sambil menutupi telinga sendiri.
Sekalipun dia pernah mendengar soal “kejelekan rumah
tangga”nya, tapi dari mulut Leng Ping-ji pun dia mendapat
tahu bagaimana tersiksa dan menderitanya ibunya dahulu sehingga
pada akhirnya dia mengorbankan diri demi
kepentingan pasukan pembela bangsa.
Walaupun untuk sesaat sulit baginya untuk membedakan
mana yang salah dan mana yang benar, namun terhadap
ibunya dia masih menaruh perasaan sayang dan kagum
Sebab itu dia tak ingin mendengarkan soal kejelekankejelekan
ibunya lagi dari mulut ayahnya.
“Apakah kau sudah mengetahuinya meski tak usah
kubicarakan?” tanya Nyo Bok kemudian.
Nyo Yan hanya membungkam saja.
Nyo Bok segera berbicara lebih jauh, “Baik, kalau toh kau
sudah mengetahui masalah tersebut, aku pun tak perlu
menceritakan kembali. Hanya saja aku pun ingin memberitahukan
kepadamu, aku pun mempunyai seorang putra,
seandainya dia masih hidup, kebetulan usianya sebaya dengan
kau. Tapi sayang dia sudah tertipu oleh orang jahat, orang
jahat itu telah menghancurkan hidup ayahnya, mencelakai
ibunya sampai mati, kemudian mengaku-aku sebagai ayah
kandungnya! Itulah satu-satunya persoalan yang membuatku
dendam, bila aku gagal menemukan kembali putraku, sia-sia
saja hidupku di dunia ini! Orang-orang yang mengaku sebagai
pendekar sejati telah melakukan kesalahan padaku, aku pun
tak peduli akan makian dan caci maki orang-orang yang
mengaku sebagai pendekar sejati tersebut kepada diriku!”
“Andaikata kau tidak menjadi pengawal istana lagi, aku
percaya putramu tentu akan kembali!”
“Andaikata apa yang kau ucapkan benar, jangan toh baru
pengawal istana, sekalipun menjadi kaisar pun aku tak mau!
Yang kuinginkan hanyalah berjumpa kembali dengan putraku,
aku ingin hidup bersamanya tanpa mencampuri urusan duniawi
lagi, aku ingin hidup berbahagia sehingga akhir
hayatku.”
Ucapan yang diutarakan dengan nada sungguh-sungguh
dan meyakinkan itu hampir saja mengharukan perasaan Nyo
Yan, panggilan “ayah” pun nyaris meluncur keluar dari balik
bibirnya, akan tetapi untuk sementara waktu dia masih tetap
bersabar, katanya kemudian, “Asal suatu saat kau melepaskan
diri dari jabatanmu itu, tanggung kau akan mendapatkan
kembali putramu itu!” “Aku khawatir sekalipun aku berhasrat
untuk berbuat demikian, belum tentu orang lain akan melepaskan
diriku.”
“Kau takut kepada siapa? Takut kaisar kalian tak akan
melepaskan dirimu?”
“Bukan. Kaisar masih mudah dihadapi, aku bisa
meninggalkan tugas dan melarikan diri, tanpa surat pamit atau
segala upacara tetek bengek. Tapi musuh besarku justru tidak
gampang untuk dihadapi, begitu aku melepaskan diri dari
jabatan-ku sebagai pengawal istana sehingga kehilangan
perlindungan, aku khawatir dia akan datang membuat perhitungan
denganku. Aaai… sekarang kau sudah mengerti
bukan, justru lantaran aku takut terhadap musuh besarku di
masa lampau, mau tak mau terpaksa aku menjadi pengawal
istana”
“Andaikata dia berani mencari gara-gara denganmu, biar
aku yang menghadapinya!”
‘Tahukah kau siapakah musuh besarku itu?”
Tentu saja dia tahu kalau putranya telah mengetahui akan
persoalan ini, tapi dia sengaja mengatakannya kembali.
“Dia adalah si golok kilat nomor wahid di kolong langit
dewasa ini Beng Goan-cau adanya!”
“Kalau Beng Goan-cau lantas kenapa? Aku tidak takut
menghadapinya…” seru Nyo Yan sambil mengigit bibirnya
kencang-kencang menahan emosi.
“Mungkin saja kau dapat menghadapinya, tapi sehari dia
belum mati, sehari juga aku merasa khawatir!”
Masih tetap menggigit bibirnya kencang-kencang, dia
berkata lagi, “Mau… mau apa kau?”
“Aku menginginkan batok kepala dari Beng Goan-cau!”
Ucapan tersebut diutarakan dengan suara berat dan nada
yang keras, ibaratnya paku-paku besi yang tajam, satu demi
satu menancap di dalam hatinya.
Sekalipun jawaban tersebut sudah diduga semenjak tadi,
toh ia dibikin terkesiap juga sesudah mendengar ucapan
tersebut.
Dia tahu, Beng Goan-cau adalah orang yang paling
dihormati oleh enci Leng-nya,di masa lampau bukan baru satu
kali Leng Ping-ji menasihatinya agar dia menghilangkan rasa
permusuhannya dengan Beng Goan-cau.
“Enci Leng hanya tahu kalau aku menaruh permusuhan
pada Beng Goan-cau, begitu pun sudah membuat batinya tak
tenang, apalagi jika dia tahu kalau aku memenggal batok
kepala Beng Goan-cau, entah bagaimanakah sikapnya
kepadaku nanti?”
Tapi syarat tersebut merupakan sebuah syarat yang
diajukan ayahnya, bila batok kepala Beng Goan-cau tidak
diperoleh, sudah pasti ayahnya tak akan bertobat dari
perbuatan jahatnya. Demi melindungi keselamatan sendiri bisa
jadi ayahnya akan menjadi pengawal istana lebih jauh.
Itu berarti seandainya dia menginginkan ayah dan anak bisa
hidup dan berkumpul kembali, seandainya dia tidak
menginginkan ayahnya menjadi kuku garuda, mau tak mau
dia harus memenggal batok kepala Beng Goan-cau seperti apa
yang diinginkan.
Mengabulkan permintaannya? Atau jangan? Untuk sesaat
dia merasakan pikirannya bertambah kalut, bibirnya yang
digigit sampai berdarah, akan tetapi rak separah kata pun
yang bisa diutarakan.
Secara diam-diam Nyo Bok memperhatikan terus perubahan
mimik wajah anak muda tersebut, kemudian sambil berpurapura
menghela napas, katanya lebih jauh, “Ilmu silat yang
dimiliki Beng Goan-cau sangat lihay, golok kilatnya tiada
tandingannya di dunia ini aku sendiri saja tak mampu membalas
dendam, bagaimana mungkin aku bisa meminta kepada
orang yang sama sekali tiada hubungannya dengan diriku
untuk mengantar kematiannya? Sudah, sudahlah… dengan
sakit hati’ ini pun tak ingin kutuntut balas, aku hanya berharap
kau bisa menyampaikan beberapa patah kata pesanku kepada
putraku yang belum pernah kujumpai itu!”
“Apa yang harus kusampaikan?”
“Aku menderita penghinaan karena istriku dirampas orang,
sayang sakit hati ini tak mampu kutuntut balas, bagaimana
mungkin aku punya muka untuk hidup terus di dunia ini?
Setelah aku mati nanti, harap kau memberitahukan kepada
putraku itu, Beng Goan-cau-lah yang telah mengakibatkan
kematian ayah ibunya, sekalipun dia tidak memiliki kepandaian
untuk membalaskan dendam atas kematian dan aib yang
diterima ayahnya, tidak seharusnya dia menganggap musuh
sebagai ayah. Seandainya dia masih mempunyai harga diri,
seandainya dia masih mempunyai perasaan sayang kepada
ayahnya, suruh dia pulang untuk membereskan tulang belulangku!”
Pada dasarnya Nyo Yan adalah seorang pemuda berdarah
panas dan mudah terpengaruh oleh emosi, setelah dihasut
oleh ayahnya dengan kata-kata tersebut, tak tahan darah
panas segera mendidih dalam tubuhnya, semua kekhawatiran
yang semula mencekam perasannya segera tersapu lenyap
hingga tak berbekas.
Mendadak teriaknya keras-keras, “Anakmu bukan manusia
semacam itu, kau pun tak usah mencari jalan pendek untuk
menyelesaikan hidupmu, baik, tunggu saja di sini, aku akan
segera memenggal batok kepala Beng Goan-cau!M
Dalam girangnya titik air mata segera jatuh berlinang
membasahi wajah Nyo Bok, dia segera maju ingin memeluk
putranya, “Anakku sayang, aku sudah tahu kalau….”
Dengan cepat Nyo Yan mengegos ke samping menghindari
pelukan orang, ujarnya, “Bila kau sudah tidak menjadi kuku
garuda lagi, putramu pasti akan kembali ke sisimu!”
“Aku kan sudah memberitahukan kepadamu, begitu batok
kepala Beng Goan-eau dikirim kemari, aku akan segera
melepaskan tugasku sebagai pengawal kaisar!”
“Asal kau bersedia mendengarkan nasihatku hal ini lebih
baik lagi, nah aku akan pergi dahulu!”
Baru saja akan melangkah keluar dari pintu, mendadak
sambil berpaling ujarnya lagi, ‘Hampir saja aku melupakan
suatu persoalan, sebetulnya aku hendak melakukannya sendiri,
tapi sekarang terpaksa harus minta bantuanmu untuk
melaksanakannya.”
“Persoalan apa?”
“Aku mempunyai suatu urusan pribadi, tiada bahaya apaapa,
hanya menyampaikan suatu pesan saja kepada
seseorang.”
Diam-diam Nyo Bok merasa sangat girang, buru-buru dia
bertanya, “Menyampaikan kepada siapa?”
Dia mengira pesan dari Nyo Yan itu ditujukan untuk Ciat
Hong atau orang yang bersangkutan dengan Ciat Hong,
seandainya demikian hal itu justru merupakan apa yang dia
harapkan.
“Pesan itu untuk keponakanmu Ki See-kiat—” terdengar
Nyo Yan berkata lagi. Nyo Bok jadi tertegun.
“Pesan apakah yang harus kusampaikan kepadanya?”
“Dia mempunyai seorang nona yang dicintainya, tak usah
kau tahu siapakah dia….”
“Ooh, rupanya persoalan itu,” kata Nyo Bok sambil tertawa
lebar.
“Ooh, jadi kau sudah tahu?”
“Bukankah nona yang kau maksudkan itu adalah Leng Pingji,
keponakan perempuan Leng Thiat-jiau?”
“Betul, jika kau sudah tahu lebih baik lagi, aku pun tak usah
memberi banyak penjelasan lagi, Ki See-kiat menyukai nona
Leng ini, akan tetapi ibunya tidak suka.”
“Padahal keponakan perempuan Leng Thiat-jiau juga tidak
mengapa, aku pernah menasihati enci. Apakah nona Leng itu
yang titip pesan kepadamu agar disampaikan kepada See-kiat?
Tak usah khawatir, aku akan mengaturkan hubungan mereka
berdua.”
Nyo Yan kelihatan agak tersipu-sipu, selang sesaat
kemudian dia baru berkata, “Bukan.”
“Lantas bagaimana?”
“Sesungguhnya nona Leng hanya menganggap dia sebagai
teman, tak Ingin kawin dengannya. Sekarang orang itu sudah
mempunyai kekasih lain, orang itu dikenal oleh Ki See-kiat.”
Nyo Bok merasa sedikit agak tercengang, katanya kemudian
sambil tertawa, “Waah, kalau begitu aku si penyampai kabar
adalah seorang penyampai kabar yang tidak dikehendaki. Bila
See-kiat mengetahui berita ini, mungkin hatinya akan merasa
sangat sedih, tapi begitu pun ada baiknya, biar dia padamkan
pula keinginannya tersebut”
“Aku tahu kalau dia pasti akan bersedih hati, tapi mau tak
mau aku harus memberitahukan kepadanya!” kata Nyo Yan
sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.
Rupanya justru karena dia akan menghindari keadaan yang
serba rikuh, sengaja berita itu dititipkan kepada ayahnya agar
disampaikan kepada orang yang bersangkutan.
Nyo Bok segera merasakan sikap yang sedikit aneh dari
putranya, tanpa terasa timbul rasa ingin tahu dalam hatinya
“Siapa sih orang itu?” tanyanya kemudian. ‘Dapatkah kau
memberitahukan kepadaku?”
Nyo Yan memang mengharapkan Ki See-kiat mengetahui
lebih jelas lagi, ia segera berpikir, “Kalau hanya dibilang orang
itu adalah teman yang dia kenal, sudah pasti dia akan
menduga-duga tak keruan, ehm Orang lain telah menganggap
hubungan cinta kami sebagai perbuatan yang sangat berdosa,
bila piauko pun beranggapan demikian, terpaksa terserah saja
pada jalan pemikirannya. Bila aku tak berani memberitahukan
apa yang sesungguhnya terjadi kepadanya, hal ini malah
menunjukkan kelemahan diriku sendiri.”
Begitu mengambil keputusan, dia segera berkata,
“Beritahukan saja padanya, orang itu adalah orang yang
pernah ditemui olehnya di selat Tong-ku-si-sia sewaktu dia
baru saja lolos dari Kota Iblis. Cuma soal ini merupakan soal
pribadi antara dia dengan nona Leng, bersediakah dia
memberitahukan nama orang itu kepadamu; soal itu
merupakan masalahnya sendiri.”
Nyo Bok masih belum menduga kalau orang itu adalah
putranya sendiri, setelah mendengar ucapan itu, dia pun
merasa keponakannya itu sudah tidak bermanfaat lagi
baginya, soal keponakan perempuan Leng Thiat-jiau akan
kawin dengan siapa, baginya sudah bukan merupakan suatu
persoalan yang penting lagi.
“Baik, sebentar aku akan ke rumahnya dan menyampaikan
berita tersebut kepadanya. Apakah kau sendiri tak bermaksud
untuk mampir di rumah keluarga Ki?” tanya Nyo Bok.
“Aku harus segera berangkat ke Jik-tat-bok, daripada kau
mesti menunggu dengan cemas.”
Nyo Bok menjadi sangat gembira.
“Baik, semoga saja kau sukses dengan usahamu dan cepatcepat
menyerahkan batok kepala Beng Goan-cau kepadaku!”
Belum selesai dia berkata, Nyo Yan sudah beranjak pergi
meninggalkan tempat itu.
Nyo Bok benar-benar tak bisa membendung rasa gembira
dalam hatinya lagi, sesudah Nyo Yan berlalu, dia segera
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak
seorang diri dalam kuil.
Sekalipun dia gagal menangkap Ciat Hong, tapi perubahan
selanjurnya sungguh di luar dugaannya.
Sambil tertawa terus, pikirnya kemudian, “Dibandingkan
dengan Beng Goan-cau, Ciat Hong cuma seujung kuku.
Heeehh heeehh heeeehh andaikata aku benar-benar
memperoleh batok kepala Beng Goan-cau, bukan mustahil
kaisar akan mengangkat diriku sebagai komandan pasukan
pengawal kaisar! ilmu silat yang dimiliki anak Yan lihay sekali,
aku rasa dia masih mampu menghadapi Beng Goan-cau,
sekalipun dia gagal membunuhnya, paling tidak akan menyebabkan
kedua belah pihak sama-sama terluka parah.”
Saking tak tahannya menghadapi rasa gembira tersebut,
tanpa terasa ia bergumam seorang diri, “Sekarang aku harus
berangkat ke gedung pengadilan lebih dulu? Ataukah pergi ke
keluarga Ki? Hrrtm… hm… terlepasnya Ciat Hong sudah tidak
terhitung seberapa lagi, aku pun tak usah melaporkan
kejadian mi lagi, soal pengadilan pun tak usah kukunjungi,
Leng Ping-ji mau kawin dengan siapa pun tak ada sangkut
pautnya dengan aku, rasanya soal ini tak usah kusampaikan
kepada See-kiat. Lebih baik pulang dulu ke ibu kota dan
memberitahukan kabar gembira ini kepada congkoan tayjin….”
Siapa tahu, tak usah dia yang memberitahukan persoalan
tersebut kepada Ki See-kiat, Ki See-kiat sudah mendengar
semua pembicaraan tersebut, ia muncul di luar kuil tersebut di
saat Nyo Yan mengatakan hendak pergi membacok batok
kepala Beng Goan-cau.
Kuil Hay-sin-bio adalah tempat yang sering kali
dikunjunginya waktu masih kecil dulu, dia hafal sekali dengan
keadaan di tempat itu, bagaikan hafal rumah sendiri, secara
diam-diam dia menyelinap masuk melalui ruang belakang lalu
menyembunyikan diri di tempat kegelapan dan mendengar
pembicaraan dari Nyo Bok berdua.
Sedemikian berhati-hatinya dia, sehingga Nyo Yan yang
berilmu silat amat lihay pun tidak merasakan kehadirannya.
Ketika ia mendengar Nyo Bok menganjurkan kepada
putranya pergi membunuh Beng Goan-cau, hatinya merasa
terperanjat sekali, sehingga ketika ia mendengar dari mulut
Nyo Yan, anak muda itu semakin tertegun.
Menurut rencana semula, sebenarnya dia itu hendak
mengajak Nyo Yan bertemu setelah pemuda itu berpisah
dengan ayahnya nanti, akan tetapi berhubung persoalan itu
munculnya di luar dugaan sehingga membuat hatinya tak
keruan dan pikirannya kosong, maka menanti dia sadar
kembali dari lamunannya, Nyo Yan sudah pergi.
Sebenarnya dia sedang menahan napas karena khawatir
jejaknya ketahuan engku-nya, tapi setelah pikirannya bingung
dan jari tangannya gemetar, tak terasa ia telah
menghancurkan sebuah atap hingga menimbulkan suara
berisik.
Bagaimanapun juga, Nyo Bok adalah seorang jagoan
persilatan yang berilmu tinggi, sekalipun sedang gembira akan
tetapi kewaspadaannya tak pernah mengendor, dia masih
tetap mempertahankan rasa waspadanya untuk menghadapi
segala kejadian yang tak diinginkan.
Begitu mendengar ada suara di luar kuil, dia segera
melompat bangun sambil membentak, “Siapa di luar?”
Dia mengira putranya telah balik kembali maka sewaktu
tidak mendengar suara jawaban buru-buru dia lari keluar.
Tampak Lo Hi-hong sedang merangkak bangun dan
mengucak-ucak mata, keadaannya itu seperti seseorang yang
baru bangun tidur.
Nyo Bok lantas berpikir, “Ooh… rupanya dialah yang
membut suara berisik tadi, tapi Yan-ji sudah bilang, jalan
darahnya baru akan bebas dengan sendirinya sesudah lewat
dua-belas jam, mengapa dia dapat membebaskan diri dalam
waktu yang demikian singkatnya?… Padahal ilmu silatnya amat
dangkal?”
Tetapi bagaimanapun juga bebasnya jalan darah Lo Hihong
dari pengaruh totokan merupakan sesuatu yang
menguntungkan baginya, sebab mereka datang bersama,
kalau dia gagal membebaskan jalan darah Lo Hi-hong dan
pulangnya harus memanggul tubuh orang itu, bukankah hal ini
merupakan suatu lelucon besar?
0odwo0
Jilid III
Memberi Kabar ke Jik-tat-bok
Angin berhembus kencang, setelah keluar dari pintu kota, Ki
See-kiat merasa sedikit kedinginan, bukan rasa dingin yang
dirasakan oleh tubuhnya, melainkan “rasa dingin” yang muncul
dari dasar hatinya.
Tapi rasa dingin semacam itu, merupakan rasa dingin yang
dapat membuat orang sadar.
Berjalan menyambut datangnya hembusan angin dingin, Ki
See-kiat merasakan benaknya yang semula panas dan
membara lambat laun menjadi dingin kembali.
“Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang
sama sekali di luar dugaan, bagaimana mungkin piaute bisa
mencintai nona Leng? Bukankah selama ini dia selalu
menganggap nona Leng sebagai enci-nya? Bagaimana mungkin
kakak beradik secara tiba-tiba berubah menjadi sepasang
kekasih?”
Tapi dia segera berpikir lebih jauh, “Padahal hal ini pun tak
ada salahnya, mereka toh bukan kakak beradik yang
sebenarnya, sejak kecil piaute sudah mengikutinya, setelah
dewasa dan tahu soal muda-mudi, bila sampai jatuh cinta
kepadanya hal ini pun sesuatu yang lumrah, kecuali usia yang
berbeda jauh, jika nona Leng bisa kawin dengan piaute, itu
pun sangat baik sekali, sudah sepantasnya bila aku turut
bergembira bagi mereka. Aaaai… buat apa aku mesti
memikirkan persoalan ini?”
Tapi ada persoalan yang lain memaksanya mau tak mau
harus memikirkannya juga, justru karena masalah inilah dia
baru merasakan timbulnya rasa dingin dari dasar hatinya.
“Engku menyuruh piaute pergi membunuh Beng Goan-cau,
seandainya tidak mengetahui akan persoalan ini masih
mendingan, kini aku sudah mengetahuinya dengan jelas, apa
yang harus kulakukan sekarang? Berusaha untuk menghalangi
niatnya? Ataukah kubiarkan saja dia membunuh Beng Goancau?”
Benar, dia memang tidak kenal Beng Goan-cau, pada
hakikatnya tak bisa dibilang mempunyai hubungan apa-apa,
bahkan berhubung ibunya mendendam kepada Beng Goancau,
mau tak mau dia terpengaruh juga oleh keadaan
tersebut, seperti misalnya peristiwa tragis yang menimpa
keluarga engku-nya, walaupun kesalahan berada di pihak
engku-nya sendiri, namun sedikit banyak Beng Goan-cau toh
ada kesalahannya juga.
Cuma persoalan itu hanya merupakan persoalan pribadinya
yang menyangkut masalah beberapa orang, seandainya Nyo
Yan sampai benar-benar membunuh Beng Goan-cau, maka
soal tersebut sudah menyangkut perjuangan pasukan pembela
tanah air dalam melawan penjajah bangsa Manchu.
Selain itu, bagaimanapun jua, Bcng Goan-cau adalah
pendekar sejati yang diakui umum, kendatipun dia pernah
melakukan “kesalahan” dan ‘”kerugian” dalam masalah
pribadinya, dosa semacam itu masih belum pantas untuk
ditebus dengan suatv kematian.
Dia tahu Bcng Goan-cau dan Utti Keng adalah sahabat
karib, meskipun Bcng Goan-cau belum pernah dijumpai, dia
pernah berjumpa dengan Utti Keng.
Kegagahan dan jiwa pendekar dari Utti Keng telah
meninggalkan kesan yang mendalam sekali di dalam
benaknya. Entah bagaimana, sekalipun dia belum pernah
berjumpa dengan Beng Goan-cau, akan tetapi bayangan orang
itu selalu muncul secara otomatis dalam benaknya bersamasama
dengan bayangan tubuh Utti Keng.
Dia percaya dengan perkataan yang berbunyi begini,
‘makhluk menurut jenisnya manusia menurut kelompoknya’.
Dari sini bisa disimpulkan kalau Beng Goan-cau adalah
manusia sekelompok dengan Utti Keng yang gagah.
“Aku membantu seorang tuan tanah lalim Pui Hou untuk
bertarung dengan Utti Keng sudah merupakan perbuatan
salah, bila piaute dibiarkan membunuh Beng Goau-cau, hal ini
semakin keliru lagi.”
Kemudian Ki Sec-kiat berpikir lebih jauh, “Sekarang aku
sudah mengetahui dengan pasti kalau perbuatan piaute itu
keliru benar, jika aku tidak berusaha untuk mencegahnya,
perbuatanku ini sama-sama kelirunya.”
Terpikir sampai di situ, akhirnya dia memekik di dalam hati,
“Tidak, tidak bisa! Aku tidak bisa membiarkan piaute pergi
membunuh Beng Goan-cau.”
lapi, apa yang harus dia lakukan untuk mencegah persoalan
ini berkembang lebih jauh…? Bila mencari Nyo Yan,
harapannya kecil sekali.
Nyo Yan tak ingin memberitahukan sendiri persoalan
tersebut kepadanya, hal ini menunjukkan kalau hatinya masih
rikuh, untuk menghindari kerikuhan tersebut maka pemuda itu
enggan berjumpa dengannya.
Ilmu silat yang dimiliki Nyo Yan pun masih jauh lebih hebat
daripada kepandaian yang dimilikinya, termasuk di dalamnya
ilmu meringankan tubuh, bila dia bertekad untuk
menghindarinya, berarti sulit baginya untuk menemukan Nyo
Yan.
Lantas apa yang harus dia lakukan untuk membantu Beng
Goan-cau agar lolos dari bencana pembunuhan tersebut?
Setelah berpikir pulang pergi, akhirnya dia menyimpulkan
kalau caranya hanya ada satu, mendahului Nyo Yan dan
berangkat ke Jik-tat-bok untuk menyampaikan kabar ini
kepada Beng Goan-cau.
Tapi dia pernah mengangkat sumpah di hadapan ibunya
bahwa tempat mana pun boleh dia kunjungi kecuali Jik-tatbok.
Ibunya paling khawatir kalau dia sampai mempunyai
hubungan dengan pihak pasukan pembela tanah air, padahal
Beng Goan-cau justru berada dalam kelompok pasukan
pembela tanah air yang bermarkas di Jik-tat-bok.
Seandainya dia bersikeras mengunjungi Jik-tat-bok juga,
bukankah tindakan tersebut sama artinya dengan melanggar
sumpahnya di hadapan ibunya?
Selama hidup dia tak pernah berbohong kepada ibunya,
apalagi melakukan pelanggaran secara sengaja dengan tujuan
membohongi ibunya sendiri.
Makin dipikir semakin kalut, dalam kebimbangan itulah dia
tak tahu sudah berjalan berapa jauh, tahu-tahu dia sudah
sampai di samping sebuah warung teh.
Sejak pagi-pagi tadi Ki See-kiat sudah pergi meninggalkan
rumah, setetes air pun belum sempat diminum, tanpa terasa
dia agak haus dan lapar juga setelah semalam begadang.
Warung teh di tepi jalan ini selain menjual air teh, juga
menyediakan arak dan daging, maka dia memasuki warung
tersebut. Setelah minum secawan air teh panas, ia pun
memesan sekati arak putih dan setengah kati daging sapi.
Dalam warung itu hanya ada seorang tamu, seorang
sastrawan yang berwajah tampan.
Di luar pintu sana tertambat seekor kuda, tak usah ditanya
lagi sudah pasti tunggangan sastrawan tadi.
Ki See-kiat segera berpikir, “Sastrawan ini lemah lembut
seperti seorang pelajar yang tak bertenaga apa-apa, tapi kuda
tunggangannya justru seekor kuda jempolan yang liar.”
Sudah dua tahun ia tinggal di wilayah Sin-kiang, banyak
sudah kuda jempolan yang pernah ditemui, sedikit banyak dia
mengerti juga tentang sifat kuda.
Ketika sastrawan itu selesai menghabiskan sepoci arak dan
sepiring daging sapi tinggal beberapa potong saja, kepada
pelayan segera teriaknya, “Sediakan sekati arak putih dan
setengah kati daging sapi lagi!”
Ternyata apa yang dipesan persis seperti apa yang dia
pesan.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Ki See-kiat,
pikirnya, ‘Takaran minum arak sastrawan ini besar sekali,
jangan-jangan dia pun orang persilatan?”
Tampaknya sastrawan itu pun sangat menaruh perhatian ke
arahnya, seririgkaii dia melirik kemari.
Dengan kepala tertunduk Ki Sce-kiat minum arak, sedang di
hati kecilnya kembali berpikir, “Tidak peduli siapakah dia, aku
tak akan memberi kesempatan kepadanya untuk mengajakku
berbicara, dengan begitu aku rasa dia pun tak berani mencari
gara-gara denganku.”
Di kala sastrawan itu menyaksikan sikap lawannya dingin
dan hambar, lewat beberapa saat kemudian dia pun minum
araknya sendiri.
Berbicara sesungguhnya, Ki See-kiat tidak pandai minum
arak, akan tetapi berhubung pikirannya sedang jenuh oleh
pelbagai persoalan, dia ingin meminjam pengaruh arak untuk
melenyapkan kerisauannya itu hingga tanpa terasa
terpengaruh juga oleh alkohol.
Sastrawan itu tidak mengusiknya, namun seorang lain
justru datang “mengusiknya”.
Ketika orang itu melarikan kudanya kencang-kencang
melewati jalan raya di depan warung tersebut, tiba-tiba
melihat Ki See-kiat yang sedang minum arak dalam warung
tersebut, bagaikan menemukan mes-tika dia bersorak gembira
lalu berlari masuk ke dalam warung tersebut
“Ki lote, aku memang sedang mencarimu, selagi kesal
karena tak dapat menemukan kau, eeh tak tahunya kita dapat
bersua di sini, buat apa kau minum arak di tempat ini?
Kalau ingin minum arak wangi, ayolah turut aku pindah ke
tempat laini” Orang itu tak lain adalah komandan opas kota
Po-teng, murid dari Lo Hi-hong yang bernama Lau Kun.
Rupanya Lo Hi-hong sudah kembali ke gedung pengadilan
dan menceriterakan pengalamannya bersama Nyo Bok di kuil
Hay-sin-bio kepada muridnya Lau Kun, kebetulan sekali anak
buah Lau Kun mengabarkan kalau Ki See-kiat sudah keluar
kota.
Perlu diketahui, Ki See-kiat adalah buronan yang dicurigai
sebagai orang yang menyerbu ke dalam penjara, berhubung
pemuda itu mempunyai hubungan famili dengan Nyo Bok
sehingga Lau Kun tak berani menurunkan perintah untuk
membekuk Ki See-kiat, tapi sebagai komandan opas, mau tak
mau dia harus memerintahkan juga kepada anak buahnya
untuk mengawasi gerak-gerik Ki See-kiat secara ketat
Lau Kun seperti gurunya, ia telah menduga kalau Nyo Bok
telah berhasil memecahkan kasus tersebut, dan sembilanpuluh
persen orang yang membantu Nyo Bok guna menghajar lari
“bajingan kecil” itu adalah Ki See-kiat.
Menghadapi keadaan seperti ini, mereka pun segera
membuat suatu kesimpulan sekalipun Ki See-kiat sudah tidak
dianggap sebagai buronan yang mencurigakan lagi, namun
mereka masih ingin mengorek sedikit berita dari Ki See-kiat
untuk merebut sedikit pahala.
Sementara itu Ki See-kiat yang sudah dipengaruhi oleh
arak, menatap Lau Kun tajam-tajam, segera tegurnya dengan
dingin, “Lau toa-phutau (kepala opas), apakah kau datang
untuk membekuk diriku?”
Lau Kun terkejut, sorot matanya segera dialihkan sekejap
ke arah sastrawan di meja lain.
Tapi sastrawan itu sedang menundukkan kepala sambil
minum arak, terhadap apa yang terjadi di hadapannya seakanakan
sama sekali tidak tertarik….
Dengan suara direndahkan Lau Kun segera menjawab,
“Kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari berselang harap
jangan Ki siauhiap pikirkan dalam hati. Aku khusus datang
kemari untuk minta maaf kepadamu.”
“Baik, sekarang permintaan maafmu sudah disampaikan,
kau boleh segera pergi!”
Sambil tertawa paksa Lau Kun berkata lagi, “Ki siauhiap,
kau suka minum arak bukan? Mari kuundang kau minum arak
di loteng Si-hoa-
Si-hoa-lo adalah rumah makan termasyhur di kota Po-teng.
“Sayang aku tak punya waktu untuk menemani kau minum
arak,” tolak Ki See-kiat dengan cepat
“Aku rasa tempat ini kurang leluasa bagi kita untuk
berbincang-bincang,…” bisik Lau Kun lagi.
Ki See-kiat yang mendengar perkataan itu segera
menghentakkan cawan araknya ke atas meja, kemudian
teriaknya keras-keras, “Tiada persoalan yang tak boleh
diketahui orang lain, siapa bilang kalau tempat ini kurang
leluasa untuk berbicara?”
Menyaksikan tindak-tanduk pemuda itu, Lau Kun kembali
berpikir, “Entah dia sudah mabuk atau tidak tahu keadaan?
Bicara ya bicara, setelah dia pergi nanti, paling kubunuh
sastrawan itu, agar rahasiaku tak diketahui orang lain. Pelayan
warung ini adalah penduduk kota, urusan pengadilan tak
berani dia bocorkan. Tapi, aku toh bisa saja mengurungnya
satu atau setengah tahun dalam penjara.”
Dan begitu mengambil keputus-an, dia lantas berkata, “Ki
sauya, aku sudah tahu kalau pagi tadi kau telah membantu
engku-mu.”
Ki See-kiat tertegun.
“Ooh, kau tahu aku sudah membantu apa kepada Nyo
Bok?” tegurnya.
Berhubung dia membenci eng-ku-nya, ditambah lagi sudah
terpengaruh arak, tanpa terasa dia menyebut langsung nama
engku-nya.
Ketika sastrawan yang sedang minum arak itu mendengar
nama Nyo Bok disinggung, tanpa terasa dia meletakkan cawan
araknya ke meja.
Ki See-kiat tidak memperhatikan, tapi Lau Kun telah
memperhatikan gerak-gerik orang itu dengan seksama.
Ketika sastrawan itu menyaksikan sinar mata Lau Kun
ditujukan ke arahnya, dia baru sadar kalau sikapnya telah
menunjukkan kesilap-an, cepat-cepat ia minum arak kembali.
Terdengar Lau Kun berkata lebih jauh, “Di hadapan orang
yang bersangkutan rasanya soal itu tak perlu disinggung lagi.
Ki sauya, aku pun tak ingin merampas pahala dari engku-mu,
aku hanya bermaksud untuk menumpang keberhasilannya
saja. Kini bagaimanakah keadaan dari kedua orang itu? Harap
kau sudi memberitahukan kepadaku….”
“Ooh, kau ingin mengetahui kabar tentang Ciat Hong, agar
kau bisa membekuknya lagi?”
“Ooh tidak, tidak, aku toh sudah bilang, aku tak bakal
merebut pahala engku-mu!”
“Aku tidak percaya padamu.” Sekali lagi Lau Kun merengek,
“Ki sauya, bila kau tak bersedia memberitahukan jejak mereka
kepadaku, harap kau sudi memberitahukan kepadaku
bagaimana hasil dari pemecahan kasus tersebut, tentunya
bersedia bukan? Seperti misalnya kedua orang tawanan itu
sudah digusur engku-mu ke ibu kota, kau harus
memberitahukan kepadaku, agar aku dapat mempertanggung
jawabkan diri kepada atasanku….”
Ki See-kiat hanya membungkam seribu bahasa.
Lau Kun segera menatap sekejap ke arah sastrawan itu,
kemudian pikirnya, “Sekarang kau boleh mendengarkan
pembicaraan kami sampai puas, sebentar akan kuberangus
mulutmu untuk selamanya.”
Oleh karena dia sangat berharap bisa mengorek sedikit
keterangan dari mulut Ki See-kiat, maka tak malu-malu
menunjukkan kejelekannya di hadapan orang lain, cepat-cepat
dia menjura dalam-dalam, lalu berkata, “Ki sauya, harap kau
dapat memahami kesulitanku, aku adalah komandan opas
kota Po-teng, tanggung jawabku atas persoalan ini berat
sekali, bila persoalan apa pun tidak kuketahui, hal ini sungguh
memalukan sekali.”
Tiba-tiba Ki See-kiat berkata, “Baik, tidak sulit jika kau ingin
mengetahui kabar dariku, cuma kau mesti memberi sedikit
hadiah untukku.”
“Entah sauya menginginkan hadiah apa?”
Terbayang kembali bagaimana dia pernah minta uang
sebesar lima laksa tahil perak dari Pui Hou, meski Pui Hou
belum mengeluarkan secara sungguh-sungguh, toh dia mau
tak mau harus waspada dan berjaga-jaga atas kejadian itu. – -
Sambil tertawa Ki See-kiat segera berkata, “Tak usah
khawatir, hadiahku ini tak akan melampau nilai iimaratus tahil
perak.”
Lau Kun menjadi gembira sekali, buru-buru serunya,
“Hadiah yang bernilai beberapa ribu tahil perak pun siaujin
masih mampu untuk memberi, sauya, cepat kau katakan!”
“Baik… kalau begitu dengarkan baik-baik, Ciat Hong serta H
uan Kui sudah tidak berada di kota Po-teng lagi.”
“Soal ini aku sudah tahu, buat apa kau memberitahukan
lagi kepadaku?” pikir Lau Kun.
Dia mengira pemuda itu masih mempunyai kata-kata
selanjurnya, siapa tahu baru saja dia memasang telinganya
baik-baik, Ki See-kiat telah melompat bangun dan meluncur ke
arah kuda tunggangannya.
Dengan perasaan terperanjat Lau Kun segera mengejar ke
muka, teriaknya keras-keras, “Sauya, mau apa kau?”
Sahut Ki See-kiat sambil tertawa, “Harga kudamu ini paling
banter cuma tigaratus tahil perak, hadiahnya telah aku ambil
sendiri!”
Sementara berbicara, kudanya sudah dipacu kencangkencang,
dalam waktu singkat dia sudah pergi jauh sekait.
Lau Kun berteriak lagi, “Ki sauya, harap kau kembali dulu!
Hadiahnya sudah pasti akan kuberikan kepadamu, tapi aku
masih ada persoalan….”
Belum selesai dia berkata, bayangan tubuh dari Ki See-kiat
sudah tak tampak lagi.
Kontan saja Lau Kun mencaci maki kalang kabut, “Bocah
keparat, kau berani mempermainkan aku….”
Mendadak dia melihat kuda milik sastrawan yang tertambat
di tepi jalan, dalam sekilas pandang saja dia sudah
mengetahui kalau kuda itu jempolan, tanpa berpikir panjang,
tali lesnya segera dilepaskan.
Siapa tahu sifat kuda itu amat liar, melihat orang asing
mendekatinya, ia lantas menyepak kian kemari.
Walaupun Lau Kun sudah berkelit dengan cepat, tak urung
tubuhnya kena tertendang juga sehingga mencelat dan jatuh
terjerembab ke atas tanah….
Lau Kun menjadi gusar sekali, segera bentaknya, “Kurang
ajar, kau binatang sialan pun berani mempermainkan aku!”
Baru saja dia hendak menaklukkan kuda tersebut dengan
kekerasan, mendadak terdengar seseorang berkata dengan
dingin, “Aku adalah seorang pelajar rudin, perjalananku hanya
mengandalkan kekuatan kuda ini saja, sekalipun kau sebagai
penyamun ingin mencari makan, harap berbuatlah kebaikan
dengan tidak merampas kuda milikku ini!”
Si sastrawan yang beberapa saat berselang masih minum
arak dalam warung, tahu-tahu sudah berada di sisi Lau Kun
tanpa disadari olehnya.
Dengan perasaan terkejut Lau Kun segera membentak,
“Ngaco belo tak karuan, aku adalah opas yang ingin
meminjam kudamu untuk menangkap penyamun, mengerti?”
Dengan cepat sastrawan itu menggelengkan kepalanya
berulang kali.
“Mengambil tanpa permisi sama dengan mencuri,
mengambil dengan kekerasan namanya merampok! Aku tahu
dalam istilah kalian sebagai opas, mencuri adalah meminjam,
meminjam adalah mencuri. Tidak kupinjamkan, tidak
kupinjamkan!”
Mendadak Lau Kun menyikut dada sastrawan tersebut
keras-keras, lalu bentaknya, “Aku bukan cuma menginginkan
kudamu saja, nyawamu pun akan kurenggut… aduuh,
aduh….”
Dia melancarkan serangan dengan menggunakan segenap
tenaga yang dimilikinya, dalam anggapannya, sekalipun
sastrawan itu pandai bersilat toh tak bakalan lolos dari
sergapannya itu.
Siapa sangka ketika kepalannya menyentuh di tubuh lawan,
dia merasa seakan-akan menumbuk lapisan baja yang keras,
kemudian segulung tenaga yang amat besar tahu-tahu sudah
melemparkan tubuhnya hing-ga jatuh terlentang.
Sambil tertawa sastrawan itu berkata, “Anggap saja sebagai
hukuman peringatan, cepat merangkak pulang ke Po-teng.
Bila kau berani menyulitkan pemilik warung ini, akan kucari
dirimu dan kurenggut nyawa anjingmu, mengerti?”
Setelah berada di punggung kuda, dia melemparkan
sekeping uang ke dalam warung sambil katanya, “Uang arak
Ki sauya sekalian kubayar.”
0odwo0
Ki See-kiat sedang melarikan kudanya sewaktu ia
mendengar suara derap kaki kuda yang ramai bergema dari
belakang, kemudian menyusul seseorang berteriak, “Ki Seekiat,
Ki See-kiat!”
Ketika Ki See-kiat berpaling, ia saksikan sastrawan tadi
telah menyusulnya.
Dengan wajah tertegun Ki See-kiat segera menegur, “Aku
tidak saling mengenal denganmu, mau apa kau menyusul
diriku?” Sastrawan itu tertawa. “Kepala opas itu memanggilmu
Ki sauya, aku pikir kau pasti Ki See-kiat, ternyata dugaanku
benar!”
“Jika Ki See-kiat lantas kenapa?” tanya pemuda itu.
“Tidakapa-apa, aku hanya ingin mengajukan beberapa
pertanyaan saja, betulkah Nyo Bok adalah engku-mu?”
“Sewaktu di rumah makan tadi, kau toh sudah
mendengarkan pembicaraanku dengan opas tersebut, buat
apa mesti banyak bertanya lagi?”
“Aku ingin mendapatkan penegasan dari mulutmu. Hm,
begitu ibunya begitu pula anaknya, begitu engku-nya begitu
pula keponakannya. Kau adalah putra Lak-jiu-Koan-im
keponakan Nyo Bok, tak heran perbuatanmu hanya membantu
kaum durjana saja. Dengarkan baik-baik, semua pertanyaan
yang kuajukan sekarang harus kaujawab dengan sejujurnya!”
Waktu itu Ki See-kiat belum hilang dari pengaruh araknya,
mendengar sastrawan tersebut menyinggung ibunya, kontan
amarahnya meluap, dia tak mau ambil peduli lagi siapakah
sastrawan itu dan apa tujuannya mencari dia.
Dengan kemarahan yang meluap-luap Ki See-kiat berseru,
“Apa pangkatmu dalam pemerintah penjajah?”
“Hei, apa maksudmu?” ganti sastrawan itu yang tertegun.
“Tak usah banyak bicara!” bentak Ki See-kiat “Sekarang aku
yang sedang bertanya kepadanu, kau harus menjawab dengan
sejujurnya pula, ayo bicara!”
Ternyata dia mempergunakan ucapan yang sama dengan
lawannya untuk berbalik membentak orang itu, tak heran
kalau sastrawan tersebut menjadi gusar setengah mati.
Setelah mendengus, sastrawan itu berkata, “Hmmm,
pertama aku bukan pembesar, kedua aku bukan perampok,
urusan ini aku sudah bertekad untuk mengurusinya! Jika tahu
diri ayo cepat menjawab kalian apakan Ciat Hong?”
Ki See-kiat tertawa dingin. “Heeech… heeeehh… aku masih
mengira kau adalah pembesar apa. kalau toh kau bukan
pembesar, atas dasar apa kau menganggapku sebagai
buronan? Atas dasar apa kau hendak memeriksa diriku? Maaf,
aku justru tak tahu diri, persoalan yang kau tanyakan itu
meski kuketahui juga tak bakal kuberitahukan kepadamu.”
“Kau benar-benar tak mau berbicara?” bentak sastrawan
itu.
“Sekali bilang tidak, selamanya tidak, mau apa kau?”
“Tidak mau apa-apa, aku dengar orang banyak memuji-muji
dirimu, katanya Kwantang tayhiap LTtti Keng pun pernah
kalah di tanganmu, aku ingin sekali mengetahui sampai di
mana taraf ilmu silatmu itu…”
Mendengar sastrawan tersebut menyebut Utti Keng sebagai
“Kwantang tayhiap”, tergerak juga hati Ki See-kiat
“Jangan-jangan dia pun berasal dari kaum patriot?”
demikian dia berpikir.
Akan tetapi, berhubung pihak lawan memaksa terus dengan
nada ucapan yang tak sedap, dia merasa tak bisa menerima
keadaan tersebut dengan begitu saja, segera pikirnya, “Peduli
amat siapakah orang ini, pokoknya kalau dia bersikap begini
angkuh, aku mesti hajar dulu keangkuhannya itu. Hmm, ada
juga kaum pembesar yang menyaru sebagai
pendekar,contohnya engku!”
Berpikir demikian, segera ujarnya dengan dingin, “Ooh,
rupanya kau hendak mengandalkan ilmu silat untuk
memaksaku mengaku? Baik, kita selesaikan saja persoalan ini
dengan kekerasan!”
“Betul, asal kau tidak bersedia menjawab, terpaksa aku.
harus mengandalkan pedangku untuk memaksamu menjawab.
Bila kau kalah di tanganku, maka aku pun tak akan merenggut
nyawamu, aku hanya meminta kepadamu untuk menyerahkan
Ciat Hong kepadaku!”
“Baik, seandainya kau yang kalah”
“Bila aku kalah kepadamu, aku bersedia menyembah di
hadapanmu!”
Kebanyakan umat persilatan berprinsip lebih baik kepala
dipenggal daripada menyembah kepada orang lain, sastrawan
itu bersedia mempertaruhkan kehormatannya, hal ini
menandakan kalau dia yakin pasti bisa memenangi
pertarungan tersebut
Amarah Ki See-kiat segera memuncak, segera bentaknya,
“Ucapan seorang kuncu bagaikan kuda yang dicambuk, sekali
diucapkan selamanya tak boleh disesalkan, marilah!”
Sastrawan itu pun tidak sungkan-sungkan lagi, dia
mencabut keluar pedangnya kemudian membentak, “Lihat
serangan!”
Sreet! Dia melepaskan bacokan mendatar ke dada K. i Seekiat
Dalam pelajaran silat dikatakan, golok berjalan putih,
pedang berjalan hitam. Artinya orang yang menggunakan
pedang lebih banyak menggunakan tipu muslihat, tapi
sekarang sastrawan itu menyerang dengan satu tusukan
biasa, jelas hal ini merupakan sikap memandang rendah
kepada lawannya.
Ki See-kiat menahan diri tanpa bergerak, menanti ujung
pedang sudah hampir mengenai sasaran, mendadak dia
mengembangkan sepasang lengannya dengan jurus Toa-tiautianci
(Rajawali Raksasa Mementangkan Sayap), cahaya
tajam berkilauan dan langsung membabat ke arah belakang,
selain tepat waktunya, jitu pula dengan sasarannya.
Siapa tahu perubahan jurus sastrawan itu lebih cepat lagi,
ketika serangan musuh sudah hampir mengenai dadanya,
mendadak dari jurus Pek-hong-koan-jit (awan putih menutupi
matahari) berubah menjadi H i an-nio-h ua-seh (burung hitam
menyambar pasir),’ arah sasaran miring ke samping dan,
“Trang!” saling membentur keras dengan golok Ki See-kiat.
Di antara benturan yang amat nyaring, golok di tangan Ki
See-kiat gumpil sebagian, rupanya senjata yang dipergunakan
sastrawan itu adalah sebilah pedang mestika.
Meski begitu, berhubung Ki See-kiat menggunakan tenaga
Liong-siu-kang yang hebat, tanpa terasa sastrawan itu
menjadi gontai dan pergelangan tangannya kesemutan.
“Pedang bagus!” puji Ki See-kiat
Mendadak dia menghantam ke bawah dengan
mempergunakan gagang goloknya yang tumpul.
Sastrawan itu sudah tahu kalau tenaga dalam Ki See-kiat
masih jauh lebih unggul darinya, kini dia tak berani
memandang enteng musuhnya lagi, pedangnya segera diputar
dengan mengandalkan kelincahan serta tipu muslihat dengan
mengikuti gerak golok Ki See-kiat dia mencoba memancing
senjata lawan keluar.
Sreeet, sreeet, sreeet! Secara beruntun dia melancarkan
beberapa kali serangan, hawa pedang bagaikan pelangi
dengan perubahannya yang tak terduga, memaksa Ki See-kiat
mundur terus beberapa langkah.
Sambil tertawa sastrawan itu segera berkata, “Tentunya
aku bukan mencari kemenangan dengan mengandalkan
pedang bagus bukan?”
“Menang kalah masih terlampau awal untuk dibicarakan,”
dengus Ki See-kiat dingin. “Betul ilmu silatmu sangat baik, tapi
belum tentu lebih hebat daripada Utti tayhiap. Aku mengakui
masih kalah dibandingkan dengan Utti tayhiap tapi dengan
kau, harus dicoba dulu)”
Sambil bertarung dia pun bersilat lidah, mengandalkan
kesempatan tersebut dia sindir kesombongan sastrawan itu.
“Betul!” kata sastrawan itu kemudian. “Aku tahu kalau
diriku pun masih kalah jauh dibandingkan dengan Utti tayhiap,
oleh sebab itu aku tak berani menetapkan batas seratus jurus
untuk menangkap dirimu!”
Walaupun sastrawan itu tak berani memandang enteng
musuhnya, namun nada pembicaraannya masih tetap
mengunggulkan diri.
Ki See-kiat semakin curiga lagi setelah mendengar orang itu
menyinggung pula soal “batas seratus jurus”, dengan cepat
pikirnya, “Soal batas seratus jurus memang diucapkan Utti
Keng di hadapan seluruh anggota keluarga Pui Hou, seandainya
mereka yang menyiarkan berita tersebut hingga terdengar
oleh bocah angkuh ini, rasanya hal ini bukan sesuatu yang
aneh.”
Sementara itu jurus pedang yang dipergunakan sastrawan
itu makin lama semakin gencar, sekalipun Ki See-kiat ingin
mencari tahu keadaan yang sebenarnya dari sastrawan itu
juga tak mungkin bisa.
Tampaknya ilmu pedang yang dimiliki sastrawan itu masih
jauh lebih hebat daripada ilmu golok Ki See-kiat, di bawah
kurungan hawa pedang lawan, mau tak mau Ki See-kiat
merasa terkejut juga, pikirnya, “Tak heran kalau dia berani
bicara sesumbar, tampaknya ilmu pedang yang dia miliki
masih jauh lebih unggul daripada NyoYan. Menurut
pengalamanku selama ini, ilmu pedangnya boleh dibilang meru
pakan ilmu pedang nomor satu yang pernah kujumpai!
Siapakah dia? Tampaknya tiga bagian mirip ilmu pedang
Thian-san-kiam-hoat, tapi seperti juga mencakup jurus-jurus
lihay dari pelbagai perguruan di daratan Tionggoan. sungguh
membuat orang tidak habis menduga!”
Untung saja Ki See-kiat bisa tahu diri tahu lawan, maka dia
pun mengembangkan kelebihan yang dimilikinya untuk
menghadapi musuh lebih mantap lagi.
Baik pihak lawan menyerang gencar, memancing dengan
tipu muslihat, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh
semuanya itu. Pertahanannya begitu mantap dan kokoh ibarat
benteng baja yang tahan gulungan ombak samudra.
Pada dasarnya tenaga dalam yang ia miliki masih lebih
unggul daripada sastrawan itu, maka permainan goloknya dari
cepat pun semakin melamban, kini dalam setiap bacokannya
selalu disertai deruan angin serangan yang dahsyat, Liong-siukang
angkat kedelapan yang dimilikinya segera disalurkan ke
ujung golok, hebatnya jadi luar biasa.
Sastrawan itu jago kawakan yang tahu mutu permainan
orang, kini dia tak berani menyambut serangan lawan dengan
kekerasan, dalam suasana begini, sulit baginya untuk meraih
kemenangan.
Sementara pertarungan masih berlangsung dengan
serunya, mendadak sastrawan itu berseru sambil menghela
napas, “Sayang, sayang sekali!”
“Apanya yang sayang?” tanya Ki See-kiat sambil
memperketat pertahanannya.
“Sayang sekali ilmu silatmu amat baik namun orangnya
justru tak mau belajar baik!”
Nada ucapannya ternyata persis sekali dengan nada ucapan
Utti Keng waktu itu.
Cuma saja Ki See-kiat boleh kagum terhadap Utti Keng,
tidak demikian dengan sastrawan tersebut, segera ujarnya
sambil tertawa dingin, “Baik atau buruk, aku rasa kau tak usah
menasihati diriku!”
Lantaran dia ke lewat banyak ber-bicaraa perhatiannya
menjadi sedikit bercabang, “Sreet!” sebuah bacokan pedang
sastrawan itu muncul secara tiba-tiba dari arah yang sama
sekali tak terduga, kemudian “Criiit!” ujung baju Ki See-kiat
telah terpapas sebagian.
Coba kalau musuh tidak jeri terhadap kehebatan Liong-siukang
milik Ki See-kiat, sehingga ujung pedangnya yang
menempel di tubuh lawan segera ditarik kembali, kalau tidak,
sudah pasti sambaran tadi telah melukai lengan Ki See-kiat
“Sudah takluk belum?” bentak sastrawan itu keras-keras.
Ki See-kiat tertawan dingin, “Heehh heeh heehh, menang
kalah belum ditentukan, kalau aku menyuruh kau menyembah
diriku sekarang, apakah kau bersedia?”
Mendadak goloknya diayun bersama dengan sambaran
telapak tangannya, segulung angin pukulan dahsyat dengan
cepat mengguncang tubuh sastrawan tersebut
Menggunakan kesempatan yang amat baik ini, Ki See-kiat
segera mengubah taktik permainan goloknya.
Tampak dia memutar goloknya seperti pedang, bergerak
enteng bagaikan hembusan angin, lalu mencungkil, menusuk,
menahas, menyambar, dalam sepuluh jurus serangan ada
tujuh jurus di antaranya mirip dengan ilmu pedang.
Tapi berhubung serangan dilancarkan dengan golok, maka
di antara gerakan yang sangat ringan terselip juga kekuatan
yang berat dan mantap.
Sastrawan tersebut tidak mengenali gerak serangan lawan,
terpaksa untuk sementara waktu dia mengurangi serangan
dan lebih banyak menghadapi serangan musuh dengan sikap
tenang, dengan demikian dia pun berubah posisinya dari pihak
penyerang menjadi pihak yang bertahan.
Pertarungan berlangsung semakin lama, sastrawan itu
merasa semakin terperanjat dengan jurus-jurus aneh lawan
yang menggunakan golok sebagai pedang itu.
Yang paling aneh dan mengejutkan baginya bukan hanya
jurus-jurus serangan yang aneh saja, bahkan dalam
pertarungan sengit yang berlangsung ia merasakan juga munculnya
segulung hawa dingin yang merasuk ke tulang sumsum
.
Rupanya Ki See-kiat telah menggunakan ilmu pedang Pengcoankiam-
hoat yang berhasil dipelajarinya dalam gua es
tempo hari, andaikata senjata yang digunakannya sekarang
adalah pedang Peng-pok-han-kong-kiam, mungkin sedari tadi
sastrawan tersebut sudah bukan tandingannya lagi.
Ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat ditambah dengan ilmu
Liong-siu-kang, dengan cepat mengubah posisi Ki See-kiat
yang terdesak jadi unggul.
Sastrawan itu seorang tokoh silat berilmu tinggi yang
berjiwa angkuh, dia mempunyai sifat ingin menang yang amat
besar, saat itu hatinya terperanjat juga.
“Bagaimanapun juga, aku tak dapat menyembah
kepadanya, sekalipun ilmu pedang atau ilmu goloknya lebih
hebat d ari ku, lebih baik beradu jiwa daripada menerima aib
tersebut.”
Begini rasa takutnya hilang dan kenekatannya timbul,
serangan yang terpancar keluar dari ilmu pedangnya semakin
bertambah besar dan hebat.
Harus diketahui, sebetulnya ilmu pedang yang dia miliki
masih jauh lebih hebat dari ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat,
cuma dia tidak mengenal ilmu pedang Peng-coan-kiam-hoat
tersebut, sehingga untuk permulaannya dia agak repot juga
menghadapinya.
Namun kalau berbicara soal tenaga dalam, maka dia masih
kalah jauh dibandingkan Ki See-kiat, apalagi Ki See-kiat
memancarkan hawa dingin dalam permainan ilmu pedang
Pcng-coan-kiam-hoatnya, sehingga memaksa dia harus mengerahkan
tenaga untuk melawan, tanpa disadari permainan
pedangnya secara otomatis ikut terpengaruh juga.
Begitulah, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan
kelebihan masing-masing untuk saling menyerang, tapi
keadaan tetap seimbang.
Pertarungan entah sudah berlangsung berapa lama, tanpa
terasa kedua belah pihak sama-sama merasakan kepayahan
dan kehabisan tenaga.
Sastrawan itu mulai berpikir, “Jika keadaan seperti ini
dibiarkan berlangsung terus, mungkin kendatipun aku dapat
memaksakan kemenangan darinya, paling tidak juga akan
berakibat luka yang cukup parah. Tapi kalau aku mengajaknya
berdamai tapi ditolak olehnya, bukankah aku bakal kehilangan
muka?”
Sebaliknya Ki See-kiat juga sedang berpikir, “Dalam
kelompok kuku garuda, mana mungkin ada manusia seperti
ini? Jika kudengar dari nada pembicaraannya, kemungkinan
besar dia adalah sahabat Utti tayhiap, bukan orang
pemerintah yang menyamar sebagai pendekar. Cuma dia
begitu mendesak diriku masa aku mesti mengajak damai lebih
dulu?”
Meskipun kedua belah pihak tak ingin melangsungkan
pertarungan itu lebih jauh, namun mau tak mau mereka harus
mengeraskan kepala untuk meneruskan pertarungan itu.
Sementara kedua belah pihak merasa serba salah, tiba-tiba
terdengar seseorang berteriak keras, “Hei, bukankah dia
adalah Kang siauhiap? Kang siauhiap, aku mendapat perintah
dari pangcu untuk menyambut kedatanganmu, eeeh, mengapa
kau malah bertempur melawan Ki siauhiap? Kita semua adalah
orang sendiri, cepat hentikan pertarungan!”
Baik Ki See-kiat maupun sastrawan itu memang sangat
berharap munculnya pihak ketiga yang melerai mereka, maka
tanpa menunggu ucapan berikut, serentak mereka
menghentikan serangan sambil mundur ke belakang, pedang
dan golok pun disarungkan kembali ke tempatnya.
Sewaktu Ki See-kiat mengalihkan pandangan matanya,
ternyata orang yang barusan berteriak adalah si pendayung
sampan yang semalam mengantar kepergian Pui Liang dan
Huan Kui itu.
Sastrawan itu segera menjura seraya berkata, “Aah,
merepotkan Han hiangcu harus menyambut kedatanganku
dari jauh, aku orang she Kang benar-benar merasa berterima
kasih sekali. Harap maafkan kecerobohan aku orang she Kang
sehingga menyalahi sahabat perkumpulan kalian.”
Semalam, Ki See-kiat juga hanya tahu kalau pendayung
sampan itu anggota Kaypang, tapi hari ini dia baru tahu kalau
orang itu adalah seorang hiangcu, buru-buru serunya, “Maaf!”
Menyusul kemudian sastrawan itu pun saling memberi
hormat dengannya, Sementara itu sang sastrawan itu tampak
tidak habis mengerti setelah mendengar perkataan maaf dari
pemuda itu. Kalau Ki See-kiat tak tahu kedudukan Han
hiangcu dalam perkumpulan Kaypang, bagaimana mungkin
Han hiangcu menganggapnya sebagai “orang sendiri”?
Ternyata si pendayuug sampan itu she Han bernama Thiansiu,
baik kepandaian di air maupun di darat semuanya amat
iihay, dia merupakan salah satu di antara tiga hiangcu dalam
Kaypang, tapi kedudukannya justru jauh lebih tinggi daripada
hiangcu lainnya.
Semalam, setelah dia mengantar Pui Liang dan Huan Kui ke
tempat yang aman, tugas mendayung sampan tersebut lantas
diserahkan kepada anak buahnya, sementara ia sendiri
kembali ke Po-teng.
Tapi berhubung dia kenal dengan sastrawan ini, apalagi
mendapat perintah dari toucu-nya, dia pun berangkat ke situ
untuk menyambut kedatangan tamu agung.
Sastrawan itu cukup mengetahui kedudukan Han Thian-siu.
Orang bilang, meski tidak memberi muka kepada pendeta,
juga memberi muka kepada Buddha, otomatis terhadap Ki
See-kiat mau tak mau dia harus bersikap lebih sungkan.
Namun didengar dari nada pembicaraannya dia hanya
menganggap Ki See-kiat sebagai sahabat Kaypang, sama
sekali tidak menganggapnya sebagai “orang sendiri”.
Han Thian-siu segera tertawa terbahak-bahak, “Haah haah
haah. tentunya kalian berdua belum saling mengenal bukan?
Saudara Siang-hun adalah ji-kongcu dari Kang tayhiap, sedang
dia….”
Tidak menanti diperkenalkan, Kang Siang-hun sudah
menukas dulu dengan hambar, “Aku sudah tahu kalau dia
adalah Ki See-kiat.”
Sementara ini K i See-kiat baru merasa terperanjat setelah
mengetahui asal-usul dari sastrawan itu, segera pikirnya,
“Ternyata dia adalah putra Kang Hay-thian, tak aneh kalau
ilmu silatnya begitu hebat!”
Kang Hay-thian adalah jago nomor satu di kolong langit
yang diakui setiap orang, sekalipun belakangan ini sute-nya
Kim Tiok-liu semakin pesat namanya mengungguli dia, namun
menurut kebanyakan orang ilmu pedang Kim Tiok-liu meski
lebih mengungguli suheng-nya, namun tenaga dalamnya
masih tak mampu melebihi suheng-nya.
Orang she Kang yang pantas mendapat julukan sebagai
“tayhiap”, mungkin cuma Kang Hay-thian seorang.
Berhubung sikap Kang Siang-hun sangat angkuh, Ki Seekiat
juga tak mau menyanjung dia lantaran dia adalah putra
Kang Hay-thian, terpaksa dengan nada yang tidak merendah
maupun mengunggulkan diri, ujarnya cepat, “Ooh, rupanya
Kang ji-kongcu, selamat bersua!” “Hmmm, aku pun sudah
lama mendengar nama saudara Ki cuma belum ini aku selalu
menganggap saudara Ki sebagai keponakan dari Nyo Bok,
seorang pengawal istana, tidak kuketahui sedari kapan kau
telah berubah menjadi orang sendiri bagi Kaypang?”
Han Thian-siu yang mendengar perkataan itu segera
tertawa terbahak-bahak, “Haha haha haha… tidak heran kalau
Kang siauhiap tak tahu, aku sendiri pun baru kemarin malam
menjadi sahabat Ki siauhiap!”
Kang Siang-hun dapat mendengar kalau di balik
perkataannya masih ada perkataan, tentu saja mau tak mau
dia harus bertanya, “Harap Han hiangcu sudi menerangkan
bagaimana kisahnya hingga kau bisa bersahabat dengannya,
apakah aku boleh tahu?”
Han Thian-siu tertawa. “Aku justru hendak menerangkan
pada siauhiap!”
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Benar Nyo Bok adalah
engku Ki siauhiap, tapi antara engku dan keponakan berdua
bukan berasal dari satu aliran yang sama. Seperti juga antara
Huan Kui dengan gurunya Nyo Bok, bukankah antara guru dan
murid menempuh aliran yang berbeda?”
“Jadi Huan Kui sudah terlepas dari marabahaya?” buru-buru
Kang Siang-hun bertanya.
“Ki siauhiap-lah yang mengantar mereka naik perahu. Aku
adalah pendayung dari sampan tersebut.”
“tapi bukan aku yang menyelamatkan dia dari bahaya,” Ki
See-kiat segera berseru.
“Entah kau atau bukan, yang pasti kau telah berusaha keras
untuk menyelamatkan jiwanya.”
Secara ringkas dia lantas menceritakan bagaimana Ki Seekiat
menyerempet bahaya membantu Pui Liang dan Huan Kui
untuk lolos dari marabahaya.
Kang Siang-hun menjadi tertegun sejenak, kemudian
serunya, “Bagaimana dengan Ciat Hong? Apakah dia belum
lolos dari marabahaya…?”
“Semalam sudah ada orang yang menolongnya lepas dari
penjara….”
Berbicara sampai di situ, sambil tertawa ujarnya kepada Ki
See-kiat, “Orang itu sudah pasti dirimu bukan?”
Kiranya sewaktu Nyo Yan mengantar Ciat Hong ke markas
Kaypang, dia sama sekali tidak menampakkan diri.
“Apakah Huan Kui belum memberitahukan kepadamu,
orang yang menyerbu ke dalam penjara bukan aku, melainkan
seorang sahabatku.”
Dengan wajah tersipu-sipu karena ia malu, Kang Siang-hun
segera minta maaf kepada Ki See-kiat, katanya, “Semuanya
harus menyalahkan diriku yang berwatak berangasan, karena
menyaksikan kau berbicara dengan opas tersebut, lantas salah
menganggap dirimu.”
“Hal ini tak bisa menyalahkan-mu, aku pun berwatak tidak
baik, tidak menerangkan lebih dulu ke-padamu. Dalam posisi
seperti saat ini, memang paling gampang memancing
kecurigaan orang bahkan sampai Lau Kun pun menganggap
aku sebagai pembantu Nyo Bok!”
“Ki siauhiap, apakah kau meninggalkan kota Po-teng untuk
menghindari Nyo Bok mencari gara-gara denganmu?”
“Benar, aku mendapat perintah dari ibuku untuk
meninggalkan rumah dan menyingkir dari bencana. Sekalipun
ibuku dan engku-ku yang menjadi kuku garuda adalah
saudara sekandung, namun dalam peristiwa ini, dia tidak
berpihak kepada adiknya.”
Kang Siang-hun menjadi makin malu, katanya agak
gelagapan, “Jika aku telah salah berbicara tadi, harap saudara
Ki sudi memaafkan.”
Han Thian-siu tidak mengetahui apa yang dia katakan, tapi
dari nada pembicaraan orang dia sudah dapat menebak
beberapa bagian, diam-diam pikirnya kemudian, “Kalau begitu
kau baru bertarung dengannya, sebab mengira dia satu
rombongan dengan Nyo Bok?”
Berpikir sampai di situ, dia lantas tertawa terbahak-bahak,
“Haah… aah… haah… kalau tidak saling bertarung bagaimana
mungkin bisa saling mengenal? Kesalahapaharnan yang sudah
lewat buat apa mesti disinggung kembali? Toucu kami sedang
menantikan kedatanganmu, entah kau akan berpisah dengan
Ki siauhiap di sini atau bagaimana?”
“Kedatanganku ke Po-teng kali ini adalah dalam rangka
kasus Ciat Hong, sekarang Ciat Hong dan Huan Kui sudah
lolos dari mara-bahaya, tolong sampaikan saja kepada toucumu,
terima kasih banyak atas kebaikan hatinya, aku tak ingin
masuk ke dalam kota lagi.”
“Mengapa harus pergi terburu-buru? Apa salahnya untuk
tinggal satu dua hari lagi di sini?”
“Pertama, karena aku masih mempunyai tugas yang harus
diselesaikan. Kedua, semalam baru ada orang menyerbu
penjara Po-teng, kedatanganku hari ini bisa jadi akan
memancing perhatian kuku garuda, betul perkumpulan kalian
tidak takut paling tidak toh akan menimbulkan
kekurangleluasaan juga.”
Han Thian-siu merasa apa yang diucapkan ada benarnya
juga, maka dia lantas berkata, “Kalau memang begitu, aku
pun tak akan terlalu memaksa Kang siauhiap lagi.”
Setelah Han Thian-siu pergi, kedua orang itu melanjutkan
perjalanan bersama-sama.
Di tengah jalan, Kang Siang-hun berkata, “Beberapa hari
berselang ketika berada di tengah jalan aku telah bertemu
dengan Utti tayhiap.”
“Tahukah saudara Kang, Utti tayhiap telah pergi ke mana?”
buru-buru Ki See-kiat bertanya
“Dia bermaksud pergi ke Jik-tai-bok untuk menjenguk
sahabat karibnya Beng Goan-cau.”
“Sayang dia belum tahu kalau Nyo Yan hendak membunuh
Beng Goan-cau….” pikir Ki See-kiat. “Sekalipun dia berada di
Jik-tat-bok juga belum tentu bisa membantu Beng Goan-cau.”
Sementara dia masih berpikir, Kang Siang-hun telah berkata
lagi, “Utti tayhiap amat memuji dirimu, aku menyesal sekali
tidak mempercayai perkataannya sehingga hampir saja timbul
kesalahpahaman dengan dirimu.”
Ki See-kiat tertawa getir. “Padahal dalam peristiwa pertarunganku
dengan Uni tayhiap tempo hari, urusan timbul
karena kesalahanku. Apa yang dia kagumi dari diriku ini?”
“Ditinjau dari peristiwa tersebut, dia sudah dapat melihat
kalau kau belum kehilangan kegagahanmu, dia yakin kalau
kau tak bakal sealiran dengan Nyo Bok maupun Pui Hou. Utti
tayhiap memang pintar sekali menilai orang, sungguh
membuat orang kagumi”
Dia menunjukkan rasa kagum yang luar biasa terhadap Utti
Keng, dalam kenyataan sekali lagi meminta maaf kepada Ki
See-kiat
Walaupun Ki See-kiat merasakan apa yang diterimanya
berlebihan, tapi kata pujian dari Utti Keng justru menimbulkan
suatu kehangatan dalam hati kecilnya.
‘Ternyata para jago yang tergabung dalam aliran lurus
adalah manusia-manusia yang gagah dan berjiwa terbuka,
mereka sama sekali tak memandang rendah diriku dikarenakan
Nyo Bok adalah engku-ku.”
Berpikir demikian, dia lantas berkata, “Seandainya saudara
Kang tidak mempunyai urusan yang kelewat penting,
bersediakah kau untuk mewakili diriku berkunjung ke Jik-tatbok…?”
“Baru saja aku datang dari Jik-tat-bok,” jawab Kang Sianghun
dengan cepat “masa kau suruh aku ke Jik-tat-bok lagi?
Ooh, mengerti aku sekarang, bukankah kau menginginkan
agar aku yang menyampaikan kabar tersebut kepada Beng
tayhiap?”
“Seandainya saudara Kang tidak bersedia, ya sudahlah!”
Kang Siang-hun tertawa.
“Bukan aku tidak bersedia, tapi maaf kalau terpaksa
kuutarakan kata-kata yang tersimpan di hatiku. Aku ingin
bertanya kepadamu, mengapa bukan kau sendiri yang memberitahukan
soal tersebut kepada Beng tayhiap?”
Ki See-kiat menjadi tersipu-sipu, untuk sesaat ia menjadi
gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab.
Melihat itu, Kang Siang-hun segera tertawa terbahak-bahak,
“Haah… haah… haah… apakah kau khawatir mereka tak akan
mempercayai perkataanmu? Leng Thiat-jiau dan Beng Goancau
tak akan sebodoh aku! Aku saja dapat bersahabat
denganmu, apalagi mereka? Lagi pula Utti tayhiap juga berada
di sana, dia pasti akan mempercayai perkataanmu. Mana yang
benar mana yang salah toh akan terlihat, apa sih yang kau
takuti?”
Ki See-kiat merasa pikirannya sangat kalut dia tetap
membungkam dalam seribu bahasa.
Terdengar Kang Siang-hun berkata lebih lanjut,
“Sebenarnya aku pun bersedia membantumu, tapi terus
terang saja kukatakan, kedatanganku kali ini juga bukan
hanya menjenguk famili saja Ibuku adalah ciangbunjin dari
Bin-san-pay, tiap sepuluh tahun sekali pihak Bin-san-pay pasti
menyelenggarakan pertemuan di samping berziarah ke makam
cousu pendiri partai kami Tok-pi Sin-ni dan Lu Su-nio. Ibuku
telah berpesan kepadaku agar tahun ini aku pergi menghadiri
pertemuan itu bersamanya. Tentu saja bila kedua persoalan
itu dibandingkan maka masalahmu itu jauh lebih penting, tapi
seandainya kau bisa pergi sendiri ke Jik-tat-bok, aku pun tak
ingin mengingkari janjiku dengan ibu.”
“Pertemuan besar yang diselenggarakan tiap sepuluh tahun
sekali, tentu saja merupakan suatu pertemuan yang tak boleh
disia-siakan dengan begitu saja. Maaf bila siaute tak tahu akan
soal itu sehingga memohon bantuanmu.”
Dengan gelisah Kang Siang-hun segera berseru lagi, “Aku
pun tak akan sungkan-sungkan lagi denganmu, aku ingin
tanya, apa sebabnya kau tidak mau pergi sendiri ke situ? Tadi,
kau belum menjawab pertanyaanku ini!”
“Terus terang saja kukatakan, aku tak bisa pergi sendiri ke
Jik-tat-bok karena antara aku dengan ibuku sudah terikat oleh
suatu janji.”
“Apakah ibumu melarang kau berjumpa dengan Beng Coancau?”
“Bukan cuma Beng Goan-cau saja Pokoknya ibuku tak suka
kalau aku berkunjung ke Jik-tat-bok.”
“Ooh… aku mengerti sekarang, jadi dia khawatir kalau kau
sampai terlibat hubungan dengan pasukan pembela tanah
air?”
Merah padam selembar wajah Ki See-kiat, dengan mulut
membungkam dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
“Kau toh bisa saja pergi ke Jik-tat-bok, kemudian
sekembalinya ke rumah nanti tak usah memberitahukan hal ini
kepada ibumu?” usul iKang Siang-hun kemudian.
“Kalau aku sampai berbuat demikian, bukankah tindakanku
ini sama artinya dengan sengaja membohongi ibuku? Aku tak
ingin melakukan perbuatan yang tidak berbakti.”‘
Kang Siang-hun segera berkerut kening, lalu ujarnya
dengan wajah bersungguh-sungguh, “Saudara Ki, watakku
adalah suka berterus terang, apa yang ingin kuucapkan
selamanya kuutarakan secara blak-blakan, harap kau jangan
marah. Tadi aku yang menaruh kesalahpahaman kepadamu,
itu kesalahanku dan aku telah minta maaf, tapi bila kau yang
melakukan kesalahan, aku pun terpaksa akan menegurmu!”
“Silakan memberi petunjuk!” “Aku rasa kau telah salah mengartikan
kata berbakti tersebut! Kau anggap dengan hanya
menuruti perkataan ibumu saja maka kau sudah berbakti
kepadanya? Menurut pen-dapatku, yang disebut berbakti
bukanlah demikian!”
“Lantas apa?” tanya Ki See-kiat kebingungan.
“Yaitu kau harus membuat setiap orang menghormati
orangtuamu, maaf kalau aku berbicara secara terus terang,
seperti kau ketahui nama ibumu di dalam dunia persilatan tidak
begitu baik, walaupun para jago dari golongan lurus tidak
sampai menganggapnya sebagai musuh, namun mereka pun
tidak begitu hormat kepadanya. Tapi seandainya kau telah
melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat bagi pasukan
pembela bangsa, kau bisa membuktikan kepada semua orang
kalau ibumu tidak sealiran dengan Nyo Bok. Maka keadaannya
pada waktu itu tentu saja akan jauh berbeda.”
Bagaikan kepalanya dipukul dengan kayu besar,.Ki See-kiat
segera tersadar kembali, cepat-cepat dia menjura sambil
berseru, ‘Terima kasih banyak atas petunjukmu, sampai jumpa
lain saat….”
Kang Siang-hun memburu ke depan, teriaknya cepat,
“Tunggu sebentar!”
“Apakah saudara Kang masih ada petunjuk lain?”
“Mari kita bertukar kuda!”
Tentu saja Ki See-kiat memahami maksud hatinya, sambil
tertawa dia berkata “Aku sudah merasa berterima kasih sekali
dengan petunjukmu yang begitu berharga, mana berani
mencari keuntungan lagi darimu?”
Perlu diketahui, kuda merah milik Kang Siang-hun ini jauh
lebih bagus daripada kuda milik Lau Kun tersebut.
Kang Siang-hun tertawa terbahak-bahak, “Haah… haah…
haah… aku tahu kalau kudamu itu merupakan ‘hadiah’ yang
kau peroleh dengan mengorbankan uang sebesar tigaratus
tahil, sedangkan kudaku itu justru pemberian gratis dari
seorang sahabatku tanpa membayar sepeser uang pun,
berbicara terus terang, perjalanan yang hendak kau tempuh
sangat jauh, bila tiada kuda yang baik, kau tak akan sampai ke
situ!”
“Tapi kau toh akan melanjutkan perjalanan pula?”
Kembali Kang Siang-hun tertawa.
“Bukan aku sengaja menyombongkan diri, sahabatku di
dalam dunia persilatan jauh lebih banyak darimu, sekali aku
buka suara, pasti ada orang yang akan memilihkan kuda
paling jempolan untukku dan lagi aku hendak ke wilayah
Kang-lam, sebaliknya kau menuju ke wilayah Say-pak,
perjalanan yang akan kutempuh jauh lebih enak daripada
perjalananmu. Bila kau menolak hadiahku ini, berarti kau tak
menganggapku sebagai sahabat”
Karena mendengar ucapan orang itu diutarakan dengan hati
yang tulus, terpaksa Ki See-kiat menerima pemberian itu.
Setelah saling bertukar kuda, mereka pun saling berpisah.
Jalanan gunung tidak rata, dalam keadaan melamun itulah
banyak sekali yang dipikirkan olehnya sepanjang jalan.
“Yang bersih tetap bersih, yang kotor tetap kotor, apa yang
mesti kau takuti?”
Dia berpaling, bayangan tubuh Kang Siang-hun sudah lama
tak tampak lagi.
Tapi perkataannya seakan-akan masih mendengung di sisi
telinganya, sekalipun Kang Siang-hun dikenal olehnya setelah
melalui pertarungan yang alot, namun persahabatan tersebut
mendatangkan perasaan hangat dalam hatinya.
Perasaan takut jika para pendekar memandang sinis
kepadanya kini sudah tersapu lenyap, hatinya kini merasa
gembira bercampur malu.
“Apa yang dikatakan Kang Siang-hun memang benar, hanya
orang yang bisa membuat kedua orangtuanya dihormati orang
lainlah baru merupakan suatu tindakan yang amat berbakti,
bukan berarti bila menuruti semua perkataan ibu maka hal ini
berarti berbakti.”
Setelah berhasil memahami makna perkataan itu, dia pun
bertekad untuk berangkat sendiri ke Jik-tat-bok untuk
menyampaikan warta tersebut Tapi kini masih ada satu hal
yang masih mengganjal dalam hatinya,
“Leng Ping-ji adalah keponakan Leng Thiat-jiau,
mungkinkah kini dia pun berada di Jik-tat-bok?
“Sekalipun aku belum pernah mengajukan pinangan
kepadanya, tapi dia tahu kalau aku mencintainya Dia pernah
dicemooh dan dibikin malu oleh ibuku, sekarang dia pun telah
mengikat tali perkawinan dengan piaute, seandainya kami saling
bersua di Jik-tat-bok, ooh, betapa rikuh dan sungkannya
suasana waktu itu.”
Tapi dia segera berpikir kembali, “Untuk melakukan urusan
besar, masalah kecil harus disingkirkan, demi menyelamatkan
jiwa Beng tayhiap, perkataan dari ibuku pun sudah tidak
kuturuti, mengapa harus takut rikuh?”
Matahari memancarkan sinar keemas-emasan ke seluruh
penjuru dunia, hatinya pada saat ini bagaikan awan mendung
yang telah tersapu lenyap dan muncullah hari yang cerah.
0odwo0
Keadaan Nyo Yan pada saat itu berbeda, pikirannya terasa
kalut sekali.
Yang berbeda, kini pikiran Ki See-kiat sudah terbuka dan
menjadi cerah kembali sebaliknya pikiran Nyo Yan masih tetap
diliputi awan mendung.
Dia pun teringat akan Leng Ping-ji, teringat pesan Leng
Ping-ji yang menyuruhnya melenyapkan rasa permusuhannya
terhadap Beng Goan-cau.
“Seandainya dia tahu kalau aku hendak pergi membunuh
Beng Goan-cau yang dihormatinya, apakah dia tak akan
mempedulikan diriku lagi…?”
“Aku telah mengabulkan permintaannya dalam tujuh tahun
ini tak akan berjumpa lagi dengannya, seandainya dia pun
berada di Jik-tat-bok, apa yang harus kulakukan?”
“Soal maksudku hendak membunuh Beng Goan-cau bila
sampai diketahui olehnya pun sudah luar biasa, apalagi kalau
sampai disaksikan sendiri olehnya dengan mata kepalanya,
apa… apa yang bakal terjadi….”
Akibat itu benar-benar tak berani dipikirkan olehnya.
Tapi, bukankah dia telah mengabulkan permintaan
ayahnya, bukankah telah bersumpah, hendak memenggal
batok kepala Beng Goan-cau? Apakah sumpah tersebut harus
diingkari?
“Aaaai… aku lebih suka mati di ujung pedang enci Leng
daripada tidak membalas dendam sakit hati ini.”
Memang bila berpikir demikian, semenjak dilahirkan baru
pertama kali ini dia berjumpa dengan ayahnya, tentu saja
bobot ayahnya di hati kecil pemuda ini masih kalah berat
dibandingkan dengan enci Leng yang telah merawat dan
mencintainya semenjak dia masih kecil dulu….
Dia tak berani memikirkan persoalan itu lebih jauh, ingatan
itu hanya melintas sebentar dalam benaknya, lalu tak berani
dipikirkan lebih jauh.
Dua jago persilatan yang pernah menjadi gurunya pernah
memuji kecerdasan maupun bakarnya yang luar biasa, tapi
sekarang dia seolah-olah kehilangan kesadaran, seakan-akan
kehilangan kecerdasan otaknya, dia hanya tahu berjalan
dengan perasaan bimbang.
Belasan hari sudah lewat. Suatu hari sampailah dia di kota
Bu-wi diwilayah Kan-siau.
Nama lama kota Bu-wi adalah Keng-ciu, letaknya di sebelah
timur Hoo-say, sejak dulu tempat itu merupakan pusat
perdagangan untuk wilayah Hoo-say dan Cing-sia.
Hampir sebagian besar pedagang bulu domba yang berada
di seputar wilayah itu berkumpul dan berdagang di kota
tersebut, itulah sebabnya kota itu disebut pula sebagai kota
Bu-wi Emas.
Setelah beberapa hari berada di tempat yang penuh
pepohonan dan jarang bertemu manusia Nyo Yan merasakan
pikirannya agak cerah juga setibanya di situ.
Mempermainkan Sepasang Malaikat dari Im-tiong
Suatu hari, dia bertemu dengan rombongan manusia yang
menggembel senjata sedang melakukan perjalanan dengan
tergesa-gesa, dalam sekilas pandang dapat diketahui kalau
mereka adalah jago-jago persilatan, tapi Nyo Yan sama sekali
tidak memikirkannya di dalam hati. Setelah masuk kota,
Nyo Yan bersantap siang di sebuah rumah makan terkenal,
karena hatinya sedang kesal maka dia memesan dua kati arak
Tiok-yap-cing dan beberapa macam sayur lezat, kemudian
bersantap dengan lahapnya
Kursi di dalam rumah makan itu banyak yang kosong,
manusia persilatan yang pernah berjumpa di tengah jalan pun
jarang yang ditemukan di situ.
Hanya di meja sebelah terdapat dua orang manusia
persilatan, kedua orang itu sedang berbincang-bincang
dengan bahasa persilatan.
Nyo Yan tidak mengerti pembicaraan mereka dia pun tidak
begini memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan.
Tapi secara tiba-tiba salah seorang di antaranya telah
mengucapkan tiga patah kata yakni “Siluman perempuan
kecil”.
Begini mendengar ketiga patah kata itu, Nyo Yan segera
merasa amat terperanjat, segera pikirnya, “Mungkinkah
siluman perempuan kecil yang mereka maksudkan adalah
Liong Leng-cu?”
Ketika dua orang itu menyadari kalau Nyo Yan sedang
memperhatikan mereka, mereka pun mulai memperhatikan
pula diri Nyo Yan, tanpa terasa mereka lantas berpikir, “Kalau
dilihat dari sorot mata pemuda ini ilmu silat yang dimilikinya
tentu lihay. Usianya begitu muda, tetapi berani berkelana
seorang diri dalam dunia persilatan, entah dari mana
datangnya? Sebentar aku mesti mencari info tentang orang
ini.”
“Persoalan itu lebih baik kita bicarakan lagi setibanya di
Thio-gi saja,” agaknya salah seorang di antara mereka
khawatir Nyo Yan menyadap pembicaraan mereka, buru-buru
dia memperingatkan rekannya.
Sementara itu Nyo Yan telah berpikir lebih jauh, “Siluman
perempuan kecil yang dimaksudkan oleh orang persilatan
biasanya pasti memiliki ilmu silat yang luar biasa. Siluman
perempuan kecil berarti usianya muda, aku pikir tidak banyak
orang muda yang bisa menjadi jagoan dalam dunia persilatan.
Hmmm pasti sudah, yang mereka maksudkan adalah nona
Liong!”
Tanpa terasa dia telah menghabiskan arak yang dipesan.
Pelayan datang mendekat sambil bertanya, “Apakah kekkoan
ingin menambah arak?”
Melihat tamu kecilnya ini sanggup menghabiskan dua kati
arak keras, pelayan ini kelihatan agak terkejut bercampur
keheranan. ‘Tidak, mana rekeningnya?” Tampaknya pelayan
itu sudah selesai menghitung rekeningnya, cepat dia berkata,
“Terima kasih kek-koan, satu tahi! tiga rence lima nun perak.”
Nyo Yan segera merogoh ke dalam koceknya, tapi dengan
cepat paras mukanya berubah menjadi merah padam.
Rupanya pemuda ini tak pernah mempedulikan soal uang,
sepanjang jalan makan dan minum, kini persediaan uangnya
sudah habis sehingga ketika ia merogoh koceknya baru
diketahui kalau uangnya tinggal dua rence ditambah beberapa
puluh uang tembaga, tidak cukup untuk membayar rekening
makanannya.
Dalam keadaan gelisah dia membuka kocek membalik
seluruh isinya dengan harapan bisa muncul hal yang di luar
dugaan, siapa tahu kalau masih ada hancuran uang perak
yang tersisa?
Terdengar suara gemerincing nyaring berkumandang,
belasan mata uang tembaga berikut dua mata uang perak
yang tersisa segera menggelinding keluar, hanya sejumlah itu
saja.
“Aah, masa begitu mahal?” Nyo Yan segera berseru. Kontan
saja pelayan itu memelototkan matanya bulat-bulat, dengan
wajah menghina dia berseru sambil tertawa dingin, “Hmm,
yang kau pesan adalah arak dan sayur paling baik, satu tahi 1
tiga rence lima nun perak pun sudah kelewat murah. Kalau tak
mampu membayar, mengapa mesti memesan sayur dan arak
mahal? Hmm, rupanya kau ingin makan gratis?”
Dalam keadaan demikian, dua orang tamu yang barusan
membicarakan tentang “siluman perempuan kecil” itu
menggapai Nyo Yan.
“Kalau hanya satu dua tahil perak biar aku saja yang
membayarkan untukmu,” katanya
“Sungguh?” tanyanya sambil mendekat.
“Masa aku membohongimu?” jawab orang itu sambil
tertawa.
Dia mengeluarkan koceknya dan mengambil sepotong
hancuran perak, kemudian sambil digoyangkan di muka Nyo
Yan, ucapnya, “Hancuran perak ini mencapai tiga tahil lebih
bukan? Nah, ambillah….”
“Eeeh, nanti dulu!” seru Nyo Yan mendadak.
“Kau tak mau?” tanya orang itu tercengang.
“Aku harus mengetahui lebih dulu, mengapa kau
membayarkan rekening makananku?”
“Aku merasa amat cocok denganmu sejak pertemuan
pertama tadi, aku bersedia untuk berteman denganmu.”
“Mengapa kau merasa cocok begitu berjumpa denganku?”
desak Nyo Yan lebih jauh.
Agaknya pelayan itu khawatir kalau Nyo Yan sampai
membuat marah toaya yang punya uang ini, buru-buru
katanya, “Kau si bocah rudin benar-benar tidak tahu diri, ada
orang menghadiahkan uang untukmu, mengapa kau masih
cerewet terus?”
Nyo Yan sama sekali tidak menggubris ucapannya, kembali
katanya kepada tamu itu, “Maaf, aku si bocah rudin memang
sedikit tidak tahu diri, meskipun kau bersedia untuk
bersahabat denganku, belum tentu aku bersedia untuk
berteman denganmu!”
Tampaknya orang itu seperti tak berani mempercayai apa
yang didengarnya, cepat dia berseru, “Mengapa kau tidak
bersedia?”
‘Tidak apa-apa,” jawab Nyo Yan dingin, “sekalipun kau
merasa cocok denganku semenjak pertemuan yang pertama
tadi, tapi sayang aku justru merasa amat jemu terhadap
dirimu.”
Orang itu menjadi marah sekali setelah mendengar
perkataan tersebut, andaikata tidak berada di depan orang
banyak, hampir saja dia akan menghajar orang itu habishabisan.
Cepat-cepat rekannya melerai. “Asai punya uang kenapa
khawatir tiada tempat untuk menghamburkannya? Buat apa
kau mesti ribut dengan bocah keparat yang tidak tahu diri
itu..7″
‘Orang itu segera menyimpan kembali koceknya kemudian
berseru dengan gusar, “Baik akan kulihat bagaimana cara kau
si bocah keparat menanggung malui”
Sementara itu si pelayan telah berseru lagi sambil
mendengus, “Hmmm, tampaknya kau si bocah keparat benarbenar
sudah edan, yang dilakukan cuma perbuatan gila saja,
kau ingin gila itu urusanmu tapi rekening tetap harus dibayar!”
“Anjing budukan, kau cuma pandai menghina orang tak
punya uang, kau anggap aku benar-benar tak punya uang?”
teriak Nyo Yan
dengan mata melotot “Nih, ambili Sisanya persen untukmu
I”
Piaaang! Sepotong uang perak dibanting keras-keras ke
meja.
Ternyata uang perak itu masih jauh lebih besar daripada
uang perak yang tadi, paling tidak mencapai lima tahi I.
Saking terkejutnya pelayan itu sampai berdiri tertegun,
dengan cepat dia menenangkan kembali hatinya, kemudian
sambil membungkukkan badannya berulang kali, serunya
sambil munduk-munduk, “Benar, benar, siaujin memang punya
mata tak berbiji, terima kasih banyak atas pemberian
toaya.”
Dalam keadaan seperti milah, Nyo Yan segera berlalu
meninggalkan tempat itu.
Peristiwa tersebut kontan saja membuat orang tadi merasa
malu, dia segera membanting sumpitnya keras-keras ke meja
sambil berteriak lantang, “Mana rekeningnya!”
Pelayan itu tahu kalau orang ini marah karena dia kelewat
menyanjung si dewa rejeki kecil yang telah membuatnya malu
tadi, buru-buru katanya sambil tertawa, “Rekeningnya sudah
selesai dihitung, semuanya satu tahil delapan rence perak.”
Di mulut dia berkata demikian, sementara dalam hati
kecilnya berpikir, “Andaikata dia merasa tidak terima dengan si
bocah rudin tadi, persen yang bakal diberikan untukku sudah
pasti akan jauh lebih besar daripada si bocah rudin tadi,
haahh… haahh… tampaknya aku bakal memperoleh rejeki
tiban!”
Siapa tahu ketika orang itu merogoh kocek uangnya,
mendadak dia menjerit kaget “Aah, kocekku kenapa lenyap?”
Dengan terkejut rekannya meraba kocek miliknya, tapi
setelah tertegun sejenak dia pun berseru, “Aah, kocekku turut
lenyap!”
Mendengar perkataan tersebut paras muka si pelayan
segera berubah seratus delapanpuluh derajat sambil tertawa
dingin segera ujarnya, “Sialan, kau maki orang lain sebagai
bocah rudin, padahal kau sendiri yang telur busuk, begitu
rudinnya sampai celana pun bakal digadaikan….”
Waktu itu, tamu tersebut sedang mendongkol karena rasa
gusarnya tak dapat dilampiaskan keluar, dalam marahnya tak
tahan lagi dia segera menampar pelayan itu karas-keras,
bentaknya, “Kau berani memandang hina locu?”
Begitu kena digaplok, dua gigi pelayan itu segera terlepas,
darah segar dengan cepat bercucuran membasahi pakaiannya,
dia segera mencak-mencak sambil berkaok keras, “Bajingan
busuk! Sudah makan tak mau bayar, masih berani memukul
orang, sialan! Tolong, tolong bekuk bajingan itu!”
Begitu teriakan tersebut diutarakan, segera muncul
beberapa orang
tamu yang siap menyeret mereka ke pengadilan.
Meskipun tamu itu buas, tentu saja dia tak ingin ribut-ribut
sehingga masuk ke pengadilan hanya gara-gara urusan sekecil
itu, apalagi kalau sampai urusan besar mereka terbengkalai,
nyawa bisa turut hilang
Dalam keadaan terdesak, terpaksa mereka membanting
mangkuk cawan yang ada di meja kemudian melarikan diri
terbirit-birit
0odwo0
Waktu itu Nyo Yan sudah makan kenyang sudah minum
sampai setengah mabuk dan keluar dari kota, dengan langkah
gontai dan membawakan senandung lirih, selangkah demi
selangkah dia melanjutkan perjalanannya
Mendadak dari arah belakang terdengar, suara derap kuda
yang ramai berlari mendekat
Sewaktu berpaling, ternyata kedua orang yang dijumpai di
rumah makan tadi telah melakukan pengejaran.
Rupanya di rumah makan tersebut beruntung sekali mereka
telah berjumpa dengan sahabat yang bersedia membayarkan
rekening mereka sehingga kedua orang ini dapat lolos dengan
selamat
Akan tetapi, tamu yang menampar si pelayan tadi pun kena
dihajar beberapa kali bogem mentah oleh kerubutan orang
yang sedang marah, bukan begitu saja, selain harus
mengganti rugi, dia pun dipaksa minta maaf.
Tak heran kalau rasa bencinya terhadap Nyo Yan merasuk
sampai ke tulang sumsum.
Begitu berhasil menyusul Nyo Yan kontan saja dia mencaci
maki kalang kabut dengan gusarnya, “Bajingan cilik, kau
masih ingin kabur? Apakah kau tidak berusaha mencari tahu
dulu siapakah kami, berani betul mengusik tay-sui-ya-mul”
“Hei, kau memaki siapa sebagai bajingan cilik?”
“Kau tak usah berlagak bodoh, locu sedang memaki kau,
mengerti?” bentak orang itu keras-keras.
“Atas dasar apa kau memaki bapakmu sebagai bajingan
cilik?” goda Nyo Yan kemudian.
Habis sudah kesabaran orang itu, dia segera melompat
turun dari kudanya dan siap menghabisi Nyo Yan.
Tapi rekannya yang lebih teliti segera mencegah rekannya,
cepat-cepat dia melompat turun dari kudanya sambil berseru,
“Tanya dulu sampai jelas, sebelum diputuskan untuk
menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadanya.”
“Bajingan cilik ini bernyali be-, bukan cuma mau main gila,
dia rani juga mencari keuntungan
dariku, sialan!”
Nyo Yan segera tertawa katanya, “Kau sendiri boleh
membahasakan diri sebagai locu (bapak) mengapa aku pun
tak boleh membahasakan diri sebagai locu pula? Apa aku salah
bertanya. Aku toh bertanya kepadamu atas dasar apa kau
memaki bapakmu sebagai bajingan? Apa aku salah bicara?”
“Kau sudah mencuri uang kami, sekarang berani
menyangkal?” teriak orang itu semakin gusar.

Related Posts: