17. KELANA BUANA 1

Kelana Buana
You Jian Jiang Hu
Karya : Liang Ie Shen
Saduran : OKT
Jilid 1
Jenazah itu membujur di tengah pendopo, sekitarnya penuh dikelilingi orang-orang yang
berduka cita
mengenakan kain blaco tanda berkabung, sepasang lilin besar menyala terang mengepulkan
asap hitam.
Suara isak tangis terdengar di sana-sini, abu kertas beterbangan.
Yang menangis gerung-gerung adalah putra almarhum yang masih kecil, sedang yang
sesenggukan
adalah janda muda, suara bisik-bisik dan helaan napas adalah para pelayat dan para
murid almarhum.
Suasana duka cita dalam pendopo sama mengetuk dan menekan perasaan semua yang hadir.
Orang yang meninggal she Nyo bernama Bok. Seorang guru silat yang kenamaan dalam
bilangan kota
Siok-ciu.
Sebetulnya berusia lanjut, sakit dan mati adalah kelarasan hidup manusia, maka semua
sanak saudara
dan para sahabatnya tidak akan merasa.berduka cita. Tapi kematian Nyo Bok ini justru
tidak karena
berusia lanjut atau terserang penyakit, usianya masih sedang menanjak, badan sehat dan
penuh
semangat, cuma mendadak ia meninggal secara aneh. Tahun ini usianya baru tiga puluh
delapan.
Meski cuma baru berusia tiga puluh delapan, tapi karena dia merupakan seorang guru
silat yang sedang
menanjak dan tenar, dalam perguruannya ia sudah punya t-nam orang murid pewaris.
Murid terbesar bernama Bun Scng-liong, tahun ini berusia dua puluhan, tiga tahun yang
lalu sudah tamat
belajar, dan sekarang sudah bekerja menjadi piauthau di Tin-wan-piaukiok yang kenamaan
di kota raja.
Murid kedua, Gak Hou berusia 21 tahun, tahun yang lalu baru saja tamat belajar, karena
dia anak seorang hartawan maka tidak perlu keluar pintu mencari pekerjaan di lain
tempat, nganggur di rumah tapi
sering datang menyambangi gurunya.
Murid ketiga Phui Liang. Murid ke empat Hoan To. Kedua orang ini anak-anak bilangan
daerah tempat itu,
tahun ini berusia di antara tujuh delapan belas, karena tempat tinggal mereka tidak
jauh, setiap hari
datang belajar silat di rumah gurunya setelah malam baru pulang rumah. Yang menetap di
rumah Nyo
Bok cuma murid ke lima Song Beng-ki dan murid ke enam Oh Lian-ba, berusia lima belas
dan empat
belas. Tatkala terjadi kematian Nyo Bok secara aneh itu, Cuma kedua muridnya yang
terkecil ini ikut
hadir. Nyo Bok tidak punya sanak kadang, cuma seorang kakak perempuan yang sudah
menjadi janda,
bertempat tinggal di Poting dalam keluarga Ki yang berjarak kira-kira tiga ratus li
jauhnya. Murid ketiga
Phui Liang mendapat perintah dari sang Subo memberi kabar ke Poting dan saat itu masih
belum pulang.
Yang sekarang mengenakan pakaian duka cita dalam pendopo besar itu cuma istri Nyo Bok
yang masih
muda belia dan ayu rupawan bernama Hun Ci-io dan seorang putranya yang berusia tujuh
tahun bernama
Nyo Hoa.
Kalau Nyo Bok seorang guru silat yang termasyhur, justru istrinya yang masih muda ini
dari keluarga
sekolahan yang lemah lembut, menurut kabarnya sedikit pun tidak mengenal pelajaran ilmu
silat. Delapan
tahun yang lalu waktu Nyo Bok pulang kelana dari Kanglam membawa pulang istri mudanya
yang belum
lama dia kawini. Orang lain cuma tahu bahwa istrinya ini berasal dari Soh-ciu, keluarga
sekolahan yang
punya kedudukan dan sangat disegani di bilangan rumahnya.
Soal bagaimana mereka bisa berkenalan, selamanya Nyo Bok tidak pernah menceritakan
rahasia ini,
maka orang luar tiada seorang pun yang bisa tahu.
Kedua suami istri ini hidup rukun dan saling mencintai penuh kasih sayang, selama
delapan tahun ini
belum pernah mereka ribut mulut atau bertengkar. Orang sering memuji bahwa perkawinan
mereka
memang sangat setimpal.
Siapa nyana kehidupan manusia dalam dunia fana ini memang kadang-kadang sudah
ditentukan oleh
suratan takdir, suami istri yang hidup bahagia ini secara mendadak harus ditimpa
kemalangan yang menyedihkan ini.
Memangnya Hun Ci-lo seorang perempuan yang berparas cantik berperawakan langsing dan
rupawan,
sikapnya lemah lembut lagi, setelah mengenakan pakaian duka yang serba sederhana itu,
lebih kelihatan
lagi betapa sedih dan pilu hatinya, sungguh kasihan sekali. Tapi di saat ia meratapi
kematian suaminya di
pinggir layon itu. adalah seseorang yang ujung mulutnya menyunggingkan senyum sinis dan
mengejek.
Orang yang mengulum senyum ejek dan sinis ini adalah murid kedua Nyo Bok yang bernama
Gak Hou,
sekilas ia melirik Subonya dengan pandangan hina, batinnya dalam hati: "Kau Cuma
berpura-pura dan
bermuka-muka di hadapan orang banyak, kalau tingkah lakumu dapat mengelabui orang
banyak, jangan
harap dapat mengelabui aku."
Tapi semua orang yang hadir dalam ruang pendopo itu tiada, seorang pun yang-pernah
memperhatikan
senyum dingin dan pandangan hina Gak Hou ini.
Dasar dari keluarga pendidikan Hun Ci-lo dapat membaca dan tahu adat kesopanan sikapnya
ramah
tamah dan welas asih terhadap semua orang, setia pada suami dan mendidik putranya
dengan giat dan
tekun, sering pula dia mengulur tangan menolong para tetangga yang tertimpa malang dan
perlu diberi
bantuan, maka semua orang dalam bilangan desanya itu sama segan dan mengindahkannya.
Oleh karena itu pula, maka meski kematian Nyo Bok rada aneh, semua orang cuma menyangka
bahwa
kehidupan manusia memang sudah ditentukan oleh takdir ilahi, tiada seorang pun yang
menaruh curiga
terhadap Hun Ci-lo.
Tangis Hun Ci-lo sedemikian menyedihkan, semua orang yang hadir sama merasa kasihan dan
simpatik
pada penderitaannya. Siapa yang tidak akan terketuk sanubarinya? Jangan kata tawa
dingin Gak Hou
tiada seorang pun yang mendengar atau memperhatikan, seumpama ada orang yang Vnelihat
juga
mereka tidak akan menduga bahwa jengek tawanya itu ditujukan kepada Subonya (ibu guru).
Mendadak terdengar seseorang berseru: "Suhu, suhu!"" Seorang pemuda beralis tebal
bermata besar
menerobos masuk dengan sempoyongan langsung menuju ke pendopo.
Gak Hou jadi girang dan terkejut pula, teriaknya: "Toa suheng. kau sudah tiba!"- Lakilaki
yang datang ini
adalah Piauthau dari Tin-wan piaukiok di Pakkhia, murid terbesar Nyo Bok yang bernama
Bun Seng-liong.
Dengan suara serak dan tersendat Bun Seng-liong berteriak se-sambatan: "Suhu, aku
datang terlambat!
Oh suhu, suhu! Kenapa kau tidak beri kami kesempatan untuk bertemu muka yang
penghabisan lantas
tinggal pergi?" berlutut di depan layon kedua tangannya menepuk-nepuk peti mati lalu
menyembah tiga
kali.
Setelah menyembah Bun Seng-liong berdiri, sambil pelototkan kedua biji matanya yang
besar, ia pandang
Hun Ci-lo, katanya: "Sunio, cara bagaimana kematian suhuku?"
Muka Hun Ci-lo pucat pias, sahutnya sambil sesenggukan: "Aku, aku tidak tahu ia
terserang penyakit apa.
Dua malam yang lalu, dia mendadak mengatakan jantungnya sakit, dalam sekejap saja kaki
tangannya
lantas kejang dan dingin terus tak bisa bicara lagi."
"Adakah suhu meninggalkan pesannya yang terakhir?" tanya Bun Seng-liong.
"Ti......tidak!" sahut Hun Ci-lo.
Seorang laki-laki tua maju menimbrung: "Gurumu meninggal mendadak terserang penyakit,
mana ada
tempo buat menulis pesan atau warisan segala? Kau boleh beristirahat sebentar!"
Pembicara ini adalah seorang paman jauh dari Nyo Bok, dulu pernah menerima kebaikan
dari Hun Ci-Io,
sengaja dia datang ikut bela sungkawa dan bantu mengurus segala keperluan.
Tapi Bun Seng-liong tidak gubris seruan orang, serunya: "Aku adalah murid terbesar
suhu, bagaimana
urusan perguruan selanjutnya harus dibereskan, masa tidak boleh aku mengetahui?"
Nyo Toa-siok atau orang tua yang bicara tadi walaupun seorang desa bukan dari kalangan
persilatan tapi
sedikit banyak ia tahu juga peraturan Bu-Iim, begitu mendengar perkataan Bun Seng-liong
ini, lantas dia
tahu urusan apa yang dimaksud dan sangat diperhatikannya itu. Segera ia berkata pula:
"Meskipun gurumu tidak meninggalkan pesan apa, tapi kau sebagai murid terbesar, menurut
adat kebiasaan dan
peraturan umumnya, maka kedudukan Ciangbun Tecu adalah menjadi hak dan bagianmu.
Beberapa
sutemu itu kiranya juga tiada yang hendak main rebut kedudukan dengan kau."
Menurut kebiasaan dan peraturan Bulim umumnya, Ciangbun Tecu boleh mengangkat murid
terbesar,
tapi juga boleh mengangkat murid kecil lainnya yang dirasa lebih setimpal atau
berbakat.
Cuma kalau murid terbesar tidak pernah melakukan sesuatu hal atau perbuatan yang
tercela, delapan
atau sembilan bagian dari sepuluh, kedudukan ini bakal diangkat dari urutan yang
terbesar.
Kejadian seperti ini sudah menjadi peraturan Bulim yang sudah turun temurun secara
tidak resmi. Cuma
soalnya karena tidak ada pesan atau peninggalan warisan apa-apa, maka Bun Sengliong
sendiri jadi tidak
enak mengutarakan isi hatinya. Kalau toh dia mengajukan pertanyaannya tadi, tujuannya
tidak lain supaya ibu gurunya mengeluarkan kata-katanya ini. Tapi sekarang ganti paman
gurunya yang
mengutarakan maksud hatinya itu, walaupun tidak selengkap seperti yang di damkan,
paling tidak
peraturan dan kedudukan dirinya sudah tercatat dalam pendengaran semua hadirin.
Merah jengah selebar muka Bun Seng-liong karena isi hatinya dikorek oleh Nyo Toa-siok
ini, cepat ia
berpura-pura: "Bukan begitu maksudku. suhu belum lagi dikebumi-kan mana boleh
membicarakan soal
pengangkatan Ciangbun baru apa segala?"
"Tidak," terdengar Gak Hou menyela, "Hal ini merupakan suatu peristiwa yang cukup
penting.
Pepatah bilang: negara tak boleh sehari pun tiada pimpinan, rumah pun tak boleh tiada
majikan, bagi
kami aliran persilatan pun ada pula ujar-ujar demikian. Suhu sebagai seorang persilatan
yang kenamaan,
mana boleh tanpa seorang pewaris yang setimpal? Toa-suko, kami beramai sama setuju
menjunjung kau
sebagai Ciangbun, setelah kami sama menanggalkan pakaian duka cita ini segera kita
adakan upacara
pengangkatan ini. Maka untuk selanjutnya segala.urusan perguruan ini menjadi tanggung
jawabmu
seperti keadaan suhu dahulu."
Calon terkuat yang dapat menjadi saingan Bun Seng-liong jadi Ciangbun Tecu cuma Gak Hou
seorang,
tapi kenyataan sekarang Gak Hou rela tunduk dan terima menjadi anak bi ah belaka benarbenar
di luar
perkiraan Bun Seng-liong sendiri. Serta mendengar ucapan Gak Hou ini betapa senang dan
syur hati Bun
Seng-liong, tapi lahirnya ia pura-pura, cepat goyang tangan serta berkata: "Urusan ini
boleh dibicarakan
belakangan, suhu baru meninggal, aku, hatiku sungguh menjadi gundah dan pikiran pun
jadi kalut, entah
bagaimana aku harus bekerja." Sampai di sini ia berhenti, mendadak seperti teringat
sesuatu semangatnya jadi berkobar, serunya: "Ya benar, sunio ada sebuah hal penting
yang ingin kutanyakan
kepadamu. Buku pelajaran silat milik suhu disimpan di mana, sekali-sekali jangan sampai
hilang, harap
kau suka tolong mencarinya dan diserahkan kepadaku."-Dia berani minta buku pelajaran
silat milik gurunya, jelas bahwa dia sudah anggap dirinya sebagai ahliwaris perguruan.
Bertaut alis Hun Ci-lo. agaknya ia jadi hilang sabar dan seperti tidak perhatikan
obrolan Bun
Seng-liong, katanya: "Tidak pernah aku melihat gurumu punya buku pelajaran silat apa,
jikalau
ada, tentu disimpan di kamar buku gurumu, boleh kau pergi ke sana mencari sendiri."
Bun Seng-liong rada kikuk dan canggung, layon gurunya masih membujur di tengah pendopo,
dirinya lantas pergi menggeledah barang peninggalan gurunya, sebe-tulnyalah kejadian
macam ini
rada keterlaluan. Di saat dia kebingungan terdengar Gak Hou menyela bicara: "Setiap
urusan ada
ukuran penting dan berat ringannya, sebagai murid adalah jamak menjaga ruang pendopo
ini, tapi
buku pelajaran silat peninggalan guru juga perlu cepat-cepat dikeluarkan, suhu kan juga
ingin
para muridnya bisa mengangkat nama tinggi perguruan, kalau sampai hilang, masa beliau
bisa
meram di alam baka."
Kira-kira setengah jam kemudian Bun Seng-liong dan Gak Hou berdua baru keluar pula,
rona
wajah mereka sama mengunjuk rasa penasaran dan serba curiga. Bun Seng-liong bertanya:
"Sunio, kucari di kamar buku tidak ketemu. Harap tanya di manakah Pit-kip perguruan
kita
disimpan?"
Kata Hun Ci-lo sambil mengerut kening: "Ucapanmu ini seolah-olah menuduh aku yang telah
melalapnya. Kalian kan tahu aku tidak kenal ilmu silat, untuk apa kusimpan?"
"Agaknya sunio juga terlalu curiga," sela Gak Hou. "Aku percaya bukan ke situlah maksud
perkataan suheng, cuma mohon bantuan, sumo untuk mencarikan saja."
Cepat-cepat Bun Seng-liong manggut-manggut, serunya: "Ya, betul! Begitulah maksudku."
Hun Cin-Io tidak bersuara lagi, namun air mata semakin deras menetes dari ujung
matanya.
Cepat Nyo Toa-siok menimbrung bicara: "Sekarang sudah saatnya berangkat ke pekuburan.
Biarlah sunio kalian merampungkan penguburan suhu kalian lebih dulu, besok kalau ada
senggang
biar bantu kalian mencarinya. Toh malam ini kalian masih berada di sini, kukira tiada
orang yang
berani mencurinya. Kalau kalian tidak lega, boleh silakan berjaga-jaga saja di sini.
Merah jengah selebar muka Bun Seng-liong, ujarnya: "Oh, maaf, aku tidak tahu bila
sekarang
juga layon akan diberangkatkan ke pekuburan sehingga mengganggu sunio."
Tapi sebaliknya Gak Hou berjingkrak kaget, teriaknya: "Apa tidak menanti kedatangan
Toaci
suhu dan para keponakannya lantas hendak dikubur begini saja?"
"Di masa hidupnya suhu kalian paling benci segala tata peradaban, maka setelah dia
meninggal
sudah tentu lebih cepat menguburnya, akan menentramkan arwahnya di alam baka. Kalau
Toacinya datang berani mengomel atau banyak mulut, suruh dia bicara dengan aku saja,"
demikian Nyo Toa-siok memberi keputusan terakhir, memangnya dia sebagai famili dekat
angkatan tua almarhum, dengan dia yang mengatur dan mengurus segala pekerjaan dan
memberi
keputusan pula, meski para murid Nyo Bok sama menggerundel tapi tiada seorang pun yang
berani menentang kehendaknya.
Maka mulailah para murid Nyo Bok beramai-ramai mengusung peti mati, tanah perkuburan
terletak tidak jauh di belakang rumah keluarga Nyo, liang kubur sudah lama digali
demikian juga
batu Bongpaynya sudah ditegakkan. Penguburan dilakukan secara sederhana, dan tanpa
upacara
tetek bengek, setelah layon dikebumi-kan. Hun Ci-lo bersama putranya berlutut memeluk
batu
nisan sambil menggerung-gerung sedu sedan, beberapa kali hampir saja ia jatuh pingsan
saking
berduka.
Diam-diam Gak Hou membatin dalam hati: "Baru berselang dua hari, segala sesuatunya
ternyata sudah dipersiapkan seluruhnya. Hm, sulit juga untuk berpura-pura menangis
sedemikian
persis dan sedih!" tanpa disadari mulutnya menyungging senyum ejek dan mendenguskan
hidung.
Kalau waktu di rumah tadi senyuman sinisnya tidak bersuara, namun kali ini tak tertahan
lagi
sampai bersuara, meski suaranya tidak keras, tapi Bun Seng-liong yang kebetulan berada
di
sampingnya mendengar jelas sekali. Untung sekelilingnya masih diliputi suara
sesenggukan dan
sedu sedan yang bersahutan, jadi jengek tawanya tenggelam oleh suara tangis banyak
orang.
Kecuali Bun Seng-liong yang punya rasa was-was dan rada sirik ini, orang lain tidak
memperhatikan.
Dengan rasa heran dan tidak mengerti Bun Seng-liong berpaling, Gak Hou lalu berbisik:
"Toasuko,
malam ini harap datang ke rumah Siaute, ada sesuatu hal yang perlu kuberitahu
kepadamu!" waktu bicara ia tutupi raut mukanya dengan lengan baju, selesai berkata ia
pura-pura
sesenggukan dan mengusap air mata.
Bun Seng-liong jadi geli, pikirnya: "Suteku ini ternyata setanding dan sama liehaynya
dengan
sunio. keduanya sama-sama pandai berpura-pura main sandiwara jadi sungguhan."
Kira-kira kentongan ketiga hampir tiba, sesuai yang dijanjikan Bun Seng-liong datang ke
rumah
Gak Hou, tampak olehnya kecuali Phui Liang yang belum kembali dari Poting, semua orang
sudah
sama duduk berkeliling.
Kata Bun Seng-liong: "Kiranya kau mengundang para saudara seperguruan semua. Perkara
apa
yang hendak dirundingkan?"
"Peristiwa yang menyangkut kematian suhu kali ini," Gak Hou menjelaskan. "Coba Toasuko
suka memberi keadilan dan keputusan terakhir nanti."
"Agaknya kau rada sirik dan tidak senang terhadap sunio, kenapa?" tanya Bun Seng-liong.
"Bukan saja tidak senang," jengek Gak Hou tertawa dingin. "Menurut dugaanku, kematian
suhu
ini mungkin dicelakai oleh sunio sendiri!"
Semua orang yang hadir sama berjingkrak kaget oleh kata-katanya ini. Hoan To murid ke
empat adalah murid yang paling jujur dan tahu adat kesopanan, cepat ia menyela: "Jisuko,
tanpa
bukti lebih baik jangan kau sembarang omong!"
"Bukti yang nyata memang tiada, tapi berbagai kecurigaan dapat kita selami bersama.
Coba
kutanya, apakah kau sendiri ada melihat jenazah suhu?"
"Tidak!" sahut Hoan To. "Hari itu pagi-pagi benar aku sudah datang ke rumah suhu, peti
mati
sudah dipaku dan didempul rapat."
"Itulah! Harap tanya kenapa begitu buru-buru harus dipaku dan didempul tanpa memberi
kesempatan pada kita untuk menjenguk wajah suhu yang terakhir?"
Hoan To berkata: "Nyo Toa-siok kuatir sunio terlalu berduka, maka setelah suhu
meninggal
cepat beliau menutup dan memaku peti mati supaya dia tidak melihat wajah suhu. Mungkin
pula
karena hawa terlalu panas, jazadnya bisa lekas membusuk. Tapi meskipun aku sendiri
tidak
melihat jenazah suhu, tapi Nyo-sute dan Lak-sute malam itu kan ada di tempat kejadian
itu."
"Beng-ki, Lian-ba," tanya Bun Seng-liong. "Waktu suhu meninggal malam itu, apakah sunio
mengundang kalian masuk? Raut muka suhu apakah menjadi hitam? Tujuh lubang indranya
apakah mengeluarkan darah?"
Song Beng-kie dan Oh Lian-ba merupakan bocah yang masih berusia empat lima belasan,
kena
digertak oleh pertanyaan Toa-suhengnya jadi ketakutan. Kata Song Beng-ki dengan
gelagapan:
"Tatkala itu aku sendiri sedang ketakutan dan sedih, tidak terpikir olehku untuk
memeriksanya."
"Telur busuk yang ceroboh!" maki Bun Seng-liong.
"Tapi hal ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kematian suhu sangat
mencurigakan," demikian sela Gak Hou, "Pertama beberapa orang di antara kami tiada
seorang
pun yang pernah memeriksa jenazah suhu, malah dua bocah yang tidak tahu apa-apa ini pun
telah diutus sunio untuk melakukan sesuatu. Kedua: dari hari kematian sampai penguburan
cuma
tiga hari, kenapa harus begitu tergesa-gesa, apakah bukan takut perbuatannya yang
terkutuk itu
ketahuan? Silakan kalian pikir bersama!"
Kata Hoan To: "Tangis sunio sedemikian sedih dan memilukan, kalian juga melihat
sendiri,
masakah perbuatannya itu pura-pura belaka?"
"Siapa tahu kalau perbuatannya itu memang pura-pura dan bermuka-muka belaka demi
mengelabui mata orang lain?" jengek Bun Seng-liong.
"Sedikit pun tidak akan salah, memang berpura-pura dan bermuka-muka saja!" seru Gak Hou
dengan tandas.
"Darimana kau bisa tahu?" tanya Hoan To heran, dalam hati ia membatin: "Kau kan bukan
cacing dalam perut sunio."
Kata Gak Hou: "Sudah tentu aku tahu. Cui-hoalah yang beritahu kepada aku, dan tanggung
tidak akan salah. Secara diam-diam pernah kutanya kepadanya, menurut katanya sunio
hanya
menangis bila berada di ruang pendopo, begitu kembali ke kamarnya sedikit pun tidak
memperlihatkan sikap sedih atau berduka. Dan lagi setiap makan sunio pasti makan dua
mangkok
nasi, setelah suhu meninggal beberapa hari ini tetap bisa menghabiskan dua mangkok
dengan
lauk pauk yang lezat."
Cui-hoa yang dimaksud adalah budak yang melayani segala keperluan Hun Ci-lo, parasnya
memang cukup cantik. Tapi budak ini bukan pembawaan Hun Ci-lo dari keluarganya sendiri,
adalah di kala Gak Hou masuk perguruan demi mengambil hati sang guru ia sengaja beli
budak ini
diberikan kepada sunio.
Tanya Hoan To: "Kenapa Cui-hoa cuma bilang dengan kau tidak mengatakan juga kepadaku?"
Bun Seng-liong jadi geli mendengar pertanyaan yang lucu ini, katanya: "Si-sute, semula
kuduga
cuma Ngo-sute dan Lak-sute saja yang ceroboh dan gendeng, ternyata kau jauh lebih
goblok dan
pikun! Masa kau bisa dibanding dengan Ji-sukomu, sejak lama memang dia sudah main
sekongkol
dengan Cui-hoa, tahu!"
"Toa-suko, kau menggoda saja," ujar Gak Hou sambil mengunjuk rasa bangga, sambungnya:
"Untuk menyelidiki duduk perkara sebenarnya, terpaksa Siaute menggunakan sedikit akal.
Bicara
terus terang Cui-hoa sudah kepelel sedemikian rupa sehingga dia patuh sekali kepadaku,
apapun
yang dia ketahui pasti dilaporkan kepadaku. Menurut katanya, jangan kalian anggap
hubungan
sunio dan suhu begitu mesra, itu mereka lakukan di kala berhadapan dengan orang lain.
Di
belakang orang selalu sunio bermuram durja, belum pernah ia melihat sunio unjuk seri
tawa di
kala berhadapan sendiri dengan suhu. Malah beberapa kali ia dengar sunio menangis di
dalam
kamarnya."
Bun Seng-liong berpura-pura jadi paham sambil menepuk paha, serunya: "Sekarang aku
paham, mungkin sunio anggap suhu seorang kasaran yang tidak mengenal cinta kasih dan
main
asmara. Atau mungkin dia mempunyai seorang pujaan hati lainnya."
Tak tahan Hoan To menyela: "Suko, sebelum mendapat bukti bahwa dia benar mencelakai
suhu, betapapun dia adalah sunio kita, Guru laksana ayah, sunio seperti ibu, Toa-suko,
ucapanmu
ini, rada..." sebetulnya ia hendak mencerca ucapan Toa-suko tadi yang menghina dan
merendahkan kesucian dan martabat sunionya, tapi di bawah tekanan dan wibawa Toasukonya
yang garang itu akhirnya ia telan kembali kata-katanya.
"Ucapanku bagaimana?" sentak Bun Seng-liong gusar. "Kau jadi merasa kikuk dan menusuk
pendengaranmu? Kalau kau ingin menjadi putranya Hun Ci-lo yang berbakti silakan kau
lanjutkan,
tapi jangan kau tarik lain orang. Tapi mungkin usiamu sudah cukup dewasa, menjadi
adiknya
kiranya lebih cocok"-sebetulnya ia hendak mengatakan menjadi "gendaknya", serta melihat
sikap
Hoan To yang ketakutan dan tidak tentram itu, ia jadi merasa kata-katanya ini terlalu
kotor dan
merendahkan derajat sendiri sebagai calon Ciangbun Tecu, maka, akhirnya ia ubah dengan
katakata
menjadi 'adik'nya.
Gak Hou ikut menjengek dingin: "Buka mulut sunio, tutup mulut sunio, begitu mesra
panggilanmu, tak heran biasanya Hun Ci-lo paling sayang kepadamu!"
"Harap suheng berdua jangan marah," ujar Hoan To. "Bukan maksud siaute hendak membela
sunio, aku cuma bicara menurut keadilan belaka. Beberapa keterangan yang diuraikan Jisuko
tadi
tidak lebih cuma beberapa bahan kecurigaan yang belum bisa dibuktikan, bisakah kita
memutuskan persoalan demikian saja."
Setelah mengumbar adat mendengar pula penjelasan Hoan To ini, Bun Seng-liong jadi
berpikir
secara cermat, terasa olehnya debat Hoan To ini memang masuk di akal. Watak Hoan To
jujur,
polos dan setia kawan, biasanya ia sangat mengindahkan segala petunjuk Toa-sukonya,
setelah
marah-marah tadi Bun Seng-liong jadi merasa menyesal juga, demi mengambil hati dan
menarik
ke pihaknya, terpaksa ia mengubah sikap, serunya sambil tertawa keras: "Si-sute, ada
kalanya kau
terlalu ceroboh, tapi ada waktunya pula kau cukup cermat hati-hati dan matang
menghadapi
persoalan. Sesuai dengan ucapanmu, untuk menghadapi Hun Ci-lo, kami harus memperoleh
buktibukti
yang nyata."
Gak Hou termenung beberapa kejap lalu berkata: "Untuk membuktikan dosa-dosanya tidak
lebih cuma ada dua cara, yaitu mencari saksi manusia dan bukti benda."
Kata Hoan To: "Bila suhu memang dicelakai sampai mati, aku bersumpah untuk menuntut
balas
bagi suhu. Tapi sekarang kami belum mendapat saksi dan bukti barang apa-apa, masa kita
harus
percaya saja sekedar obrolan Cui-hoa lantas menuduh bahwa sunio-Iah yang telah
mencelakai
jiwanya?"
"Barang bukti sih tidak sulit dicari, cuma harus menempuh sedikit bahaya, tapi bila
sampai..."
Gak Hou jadi ragu-ragu.
"Loji, bicaralah secara gamblang, barang bukti apa yang hendak kau cari?" tanya Bun
Sengliong.
"Jenazah suhu!" sahut Gak Hou pendek.
Bun Seng-liong terkejut, serunya: "Jadi maksudmu harus membongkar kuburan membuka peti
mati?"
"Ya, Toa-suko, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Kurasa rada, rada.... kurang tepat. Seandainya suhu tidak mati karena keracunan,
kejadian ini
bisa menjadi buah tertawaan orang banyak!"
"Ditertawakan orang sih tidak menjadi soal. Yang terang kita semua bakal dinista dan
dicerca
oleh seluruh sahabat persilatan di seluruh jagat ini. Dosa-dosa semacam ini, maaf aku
tidak berani
melakukan."
"Maka tadi kukatakan mencari barang bukti memang rada sulit dan serba runyam, terpaksa
cari
dulu seorang saksi," demikian Gak Hou berdiplomasi.
Kata Bun Seng-liong: "Paling banyak Cui-hoa hanya bisa membuktikan bahwa Hun Ci-lo
bahwasanya tidak merasa sedih karena kematian suhu, dapatkah dia kita seret menjadi
saksi?"
"Sudah tentu bukan melulu menyeret dia seorang saja."
Bun Seng-liong melengak, katanya: "Jadi maksudmu masih ada seorang saksi lain. Siapa
orang
itu, apakah dia pernah menyaksikan bahwa Hun Ci-lo benar-benar turun tangan mencelakai
jiwa
suhu?"
"Aku sendiri tidak tahu siapa dia," Gak Hou menjelaskan pula. "Apakah dia pernah lihat
apaapa,
aku pun tidak tahu. Tapi kita dapat mengompes sedikit keterangannya."
Bun Seng-liong semakin heran dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ujarnya:
"Sebetulnya apa sih yang sedang kau rencanakan, kalau toh segalanya kau sendiri tidak
tahu, cara
bagaimana kau bisa mencari orang itu?"
Mendadak Gak Hou berkata: "Ngo-sute, Lak-sute. Malam di mana suhu meninggal itu, ada
terjadi keributan soal seorang pencuri yang main gerayang di gedung suhu, apakah kalian
tahu
akan hal ini?"
"Jadi gedung suhu pernah kemalingan," seru Bun Seng-liong kaget dan heran pula,
"Pencuri
manakah yang begitu besar nyalinya?"
"Peristiwa itu terjadi semalam sebelum kematian suhu, malam kedua lantas suhu
dikabarkan
meninggal secara mendadak," ujar Gak Hou.
Oh Lian-ba ikut menimbrung: "Malam itu tidurku sangat pulas, sedikit pun tidak tahu
terjadinya
peristiwa itu."
"Aku sih ada dengar suara genteng yang terjatuh pecah berhamburan, waktu aku memburu
keluar, kutemui Cui-hoa, dia tertawakan aku terlalu bodoh dan linglung, tiada kejadian
mencari
keributan sendiri, cuma kucing bertengkar saling kejar di atas genteng katanya!" Song
Beng-ki ikut
memberi penjelasan.
Gak Hou jadi tertawa geli, katanya: "Suhulah yang menyuruh dia tutup mulut maka dia
bersikap
kasar terhadap kau. Kau ini memang bodoh, masa suara kucing berkelahi dan jejak orang
berjalan
malam tidak bisa membedakan, begitu gampang kau mau percaya keterangannya."
"Kenapa suhu melarang dia bicara terus terang?" tanya Song Beng-ki uring-uringan.
"Malam itu ketika mendekati kentongan ketiga, Cui-hoa mendengar suara jeritan, disusul
melihat sesosok bayangan berkelebat di luar jendela kamarnya. Tak lama kemudian suhu
dan
sunio lantas menyusul keluar dan menyuruh dia jangan bikin ribut dan kaget, katanya
cuma
seorang maling kecil yang sudah digebah lari oleh suhu. Soal kenapa Cui-hoa dilarang
membocorkan kejadian itu, aku pun tidak tahu." demikian penjelasan Gak Hou lebih
lanjut.
Dalam hati Hoan To membatin: "Apa sulitnya menebak hal itu?" Katanya: "Mungkin demi
gengsi dan nama kebesaran suhu sebagai guru silat yang kenamaan."
"Tidak mungkin," sela Bun Seng-liong, "Kau sih belum dapat menyelami perangai suhu,
biasanya dia paling mengagulkan diri sebagai tokoh yang sudah tenar di kalangan
Kangouw,
menjadi sirik dan benci bila ada orang memandang rendah derajatnya. Kedatangan pencuri
kecil
itu justru melanggar pantangannya ini. Demi gengsi dan nama bukan mustahil dia akan
menghajar
dan menyiksa maling kecil itu, atau mungkin membunuhnya sekalian untuk tutup mulutnya.
Sebab
kalau beliau melepaskan seorang maling kecil, bagi orang yang tidak tahu bisa anggap
dia tidak
mampu meringkus seorang maling kecil, bukankah hal ini malah akan menjatuhkan pamornya?
Apalagi seumpama beliau mendapat pujian sebagai seorang luhur yang baik budi, tapi
mengandal
kebesaran nama suhu, ternyata maling kecil itu tidak tahu apakah beliau tidak
kehilangan muka.
Aku paling tahu martabat suhu, kejadian seperti itu betapapun beliau tidak akan memberi
kelonggaran."
Hoan To menjadi merinding dan berdiri bulu romanya; pikirnya: "Tidak, tidak. Martabat
suhu
tidak mungkin begitu menakutkan seperti yang diuraikan Toa-suheng barusan."
Gak Hou malah tertawa, ujarnya: "Jadi kalau menurut pendapat Toasuko, bahwa maling
kecil
itu memang sengaja dilepaskan oleh suhu?"
"Kecuali ada udang di balik batu, kalau tidak pasti kepandaian maling kecil itu teramat
tinggi,
suhu tidak mampu meringkus dia!"
"Malam pertama pencuri itu datang, malam berikutnya suhu lantas mati, suhu dan sunio
sama
hendak menutup rahasia tentang kedatangan si pencuri itu, hal-hal ini cukup
mencurigakan juga
bukan!" kata Gak Hou.
"Jadi, jadi maksudmu suhu kena dilukai oleh pencuri itu?" tanya Hoan To.
"Bukan, bukan begitu, kau nge-lantur ke mana sih?" olok Gak Hou "Seorang maling kecil
masa
mampu melukai guru kita? Malah sebaliknya guru kita yang berhasil melukai dia!"
"O, kalau'begitu dua kemungkinan yang kita bicarakan itu kini tinggal satu kemungkinan
belaka.
Bukan guru kita yang tidak mampu meringkus pencuri itu, kenyataan bahwa dalam peristiwa
ini
ada tabir rahasianya," demikian Bun Seng-liong mengajukan pendapatnya.
"Memang aku sekarang sedang menyelidiki tabir rahasia itu," ujar Gak Hou. "Untuk itu
kami
harus mengompes keterangan dari si pencuri itu akan kejadian malam itu."
Bun Seng-liong jadi girang. katanya: "Jadi saksi yang kau maksudkan tadi'kiranya,
adalah
pencuri itu, kau sudah berhasil meringkus dia?"
"Untung mendapat bantuan Ting-thocu dari pihak Ui-liong-pang, semalam aku sudah
berhasil
membekuk maling itu. Sebetulnya kepandaian maling itu cukup lumayan, soalnya kakinya
sudah
pincang dilukai oleh guru, tapi dia berani melawan puluhan orang dari orang-orang Uiliong-
pang,
mungkin ada beberapa anggauta Ui-liong-pang yang terluka olehnya, maka akhirnya setelah
badannya kena dihajar babak belur baru dia dapat kita ringkus. Semalam waktu diantar
kemari,
keadaannya masih payah dan empas empis, jadi sukar mengompes keterangannya, setelah
kupanggil tabib untuk mengobati, barusan kudapat laporan katanya dia sudah mampu
menghabiskan tiga mangkok bubur."
Dasar Gak Hou ini keturunan dari keluarga hartawan, suka royal lagi maka hubungannya
cukup
luas dengan berbagai golongan, perkumpulan dan Pang. Pencuri ini berhasil ia bekuk
setelah dia
main sogok dengan uangnya sehingga kawanan Ui-liong-pang mau bekerja demi
kepentingannya.
"Dia dapat menghabiskan tiga mangkok bubur berarti sudah mampu bicara, lekas kau giring
dia
kemari untuk kita mintai keterangan bersama," kata Seng-liong.
Segera Gak Hou keluarkan perintahnya kepada pelayannya, tak lama kemudian dua laki-laki
kekar menggiring pencuri itu masuk. Tampak pencuri ini bermuka kuning seperti malam,
kaki
tangannya penuh luka-luka, demikian juga pakaiannya sudah dedel dowel. dan penuh
berlepotan
darah, luka-lukanya memang tidak ringan. Tapi sepasang matanya masih berkilat penuh
semangat. Luka-lukanya itu sudah cukup berat, tapi kedua laki-laki yang menggusur
datang itu
masih kuatir terjadi sesuatu, kedua tangannya ditelikung ke belakang dan di kat tali
besar.
Setelah Gak Hou menyuruh kedua pembantunya itu keluar, ia turun tangan sendiri
membebaskan belenggu tangan si maling serta memapahnya bangun, tanyanya: "Siapa
namamu?"
"Pekerjaanku adalah mencuri yang dianggap rendah, kalau kukatakan namaku cuma mengotori
nama leluhurku saja," jawab maling itu.
"Kau tidak mau menyebut nama pun tak menjadi soal," ujar Gak Hou. "Tapi kau harus
bicara
terus terang, kenapa kau menggerayangi gedung guruku? Apakah kau tidak tahu beliau
adalah
Nyo-busu yang kenamaan di lima propinsi daerah utara?"
"Tidak tahu!" sahut si maling singkat, melihat keadaannya mungkin dia memang sengaja
tidak
mau menjawab pertanyaan Gak Hou.
Dengan sabar dan suara halus Gak Hou berkata: "Asal kau mau bicara terus terang, tanpa
menyimpan rahasia nanti kulepas kau pergi. Apa yang kau lihat pada malam itu di rumah
guruku?"
"Apapun tiada yang kulihat, tahu-tahu aku sudah ketimpuk oleh senjata rahasia.
Bagaimana, jawabanku
ini sudah cukup memuaskan bukan? Ketahuilah bahwa guru dan ibu gurumu sama
liehaynya!"
"Kalau guruku toh sudah berhasil melukai kau bagaimana mungkin dia melepas kau lari?"
"Bagaimana aku bisa tahu?" jengek simaling. "Kenapa kau tidak tanya pada gurumu
sendiri?"
"Kau sengaja hendak mengutuk kita ya," bentak Bun Seng-liong gusar. "Guruku sudah
meninggal, tahu!"
Si maling merasa heran dan tak percaya, teriaknya: "Nyo Bok sudah mati?"
Meskipun jawaban si maling ini selalu menyimpang dari tujuan pertanyaan yang tepat,
tapi dari
jawaban-jawaban ini diam-diam Gak Hou sudah dapat menemukan titik kelemahannya. Kini
mendengar orang menyebut nama gurunya lagi, tambah besar rasa curiganya. diam-diam ia
berpikir: "Ilmu silat guru cukup tinggi, kalau dikatakan liehay adalah jamak, tapi
sunio bahwasanya
tidak bisa main silat, keliehayan apa yang dia miliki? Tapi maling ini berani
mengatakan bahwa
sunio liehay tentu ada maksud yang tertentu, mungkin bukan melulu menunjuk soal
kepandaian
silat. Inilah titik kelemahan pertama. Semula dia mengatakan tidak kenal nama kebesaran
guruku,
kini bisa menyebut namanya, merupakan titik kelemahan yang kedua. Agaknya dugaan Toasuko
memang tidak meleset, peristiwa malam itu tentu ada tabir rahasianya yang sulit
dipecahkan.
Sayang keparat ini tidak mau bicara terus terang, bagaimanakah baiknya?"
Maka Gak Hou semakin berlaku sabar dan lemah lembut, bujuknya: "Orang pandai tidak
menunjukkan keahliannya, orang ahli tidak suka menunjukkan kepandaiannya. Meski aku
tidak
tahu siapa kau, tapi kuduga tentu seorang tokoh kosen yang mengasingkan nama dan
menyembunyikan asal usul di dunia Kangouw, yang jelas bahwa kau kenal dengan guruku.
Sebetulnya untuk keperluan apa kau malam itu meluruk datang ke rumah guruku. Apa yang
kau
lihat, sudikah kau menjelaskan kepada kami? Kami tidak akan menyakiti kau, luka-lukamu
bahkan
akan kami obati sampai sembuh dan kuantar kau pulang. Tapi kalau kau tidak mau bicara
terus
terang, terpaksa kau kami serahkan kepada Ui-liong-pang."
Dengan mengancam dan membujuk secara halus ini Gak Hou mengira akan dapat mengorek
keterangannya, tak nyana maling ini ternyata masih bersikap acuh tak acuh, matanya
berkedipkedip
serta katanya tawar: "Kau salah alamat', orang kosen memperoleh kebesarannya, bagi aku
segala sanjungan-mu tadi sedikit pun tidak cocok. Aku tidak lebih cuma seorang maling
kecil,
apapun aku tidak tahu!"
Gak Hou jadi naik pitam, baru saja ia hendak mengumbar amarahnya, tiba-tiba didengarnya
Bun Seng-liong membentak: "Siapa yang mencuri dengar di luar?!" — — Seiring dengan
katakatanya
ia dorong terbuka jendela sekaligus menimpukkan tiga biji mata uang. Kiranya kupingnya
yang tajam mendengar ada orang sedang melompat turun dari atap rumah, mengira musuh
kontan ia menyerang dengan senjata rahasianya.
Pelajaran menimpuk senjata rahasia Bun Seng-liong mendapat didikan langsung dari
gurunya,
tak duga timpukan uangnya seperti batu tenggelam ke dalam lautan sedikit pun tidak
berbekas
dan tidak terdengar reaksinya, jadi sulit diketahui apakah timpukannya mengenai
sasarannya.
Sudah tentu Bun Seng-liong terkejut, cepat ia melolos pedang dan baru saja ia membuka
pintu,
maka terdengarlah suara Sam-sutenya Phui Liang berkata di luar: "Inilah Nyo-sukoh (bibi
guru)
telah tiba!"
Baru sekarang Bun Seng-liong berlcga hati, batinnya: "Julukan taci suhu adalah Loakjiu-
koanim
(Dewi Koam-im yang gapah tangan), kiranya memang tidak bernama kosong. Kepandaian
menyambuti senjata rahasia yang dia pamerkan ini agaknya jauh berada di atas suhu
sendiri."
Tersipu-sipu Bun Serfg-liong, Gak Hou dan lain-lain memburu keluar menyambut, tampak di
luar pekarangan sana berdiri jajar tiga orang, kecuali taci suhunya Loak-jiu-koan-im
Nyo-toakoh
dan Sam-sutenya yang berdiri di sebelah kanan adalah pemuda yang berusia enam atau
tujuh
belasan.
Nyo-toakoh tersenyum, katanya: "Seng-liong, tak malu kau sebagai murid terbesar dari
perguruan Nyo, kepandaian menimpuk senjata rahasia dengan tipu Sam-hoan-to-gwat sudah
cukup dari lumayan. Kiat-ji, kembalikan mata uang itu kepada Bun-suheng."
Pemuda itu membuka telapak tangannya, tampak di tengah telapak tangannya berjajar tiga
keping mata uang tembaga.
Baru sekarang Bun Seng-liong tahu bahwa pemuda itu adalah keponakan gurunya yang
bernama Ki Si-kiat. Sudah tentu rasa kagetnya bukan kepalang, semula ia menyangka Loakjiukoanim
yang berhasil menyambuti senjata rahasianya, tak duga bocah yang masih ingusan
inilah
kiranya.
Kata Phui Liang: "Hari ini baru aku sempat menyusul tiba bersama sukoh, menurut
perhitungan
semula masih keburu ikut melawat, tak kira suhu sejak pagi sudah dikebu-mikan. Baru
saja kami
datang dari rumah suhu. Sukoh ingin segera ketemu dengan kau maka kubawa beliau kemari,
karena terburu-buru terpaksa tanpa permisi lebih dulu."
Tanpa membuang waktu segera Nyo-toakoh bertanya: "Seng-liong, cara bagaimana kematian
gurumu? Kenapa Hun Ci-lo begitu buru-buru mengebumikan adikku tanpa memberi kesempatan
padaku untuk menjenguk wajahnya yang terakhir?" - Kiranya Nyo-toakoh juga merasa curiga
akan
kematian adiknya ini.
Diam-diam Bun Seng-liong bersorak dalam hati, sahutnya: "Sukoh, setelah kau orang tua
tiba.
urusan bakal lebih gampang diselesaikan. Memang kami sedang menyelidiki kematian suhu.
Mari
silakan bicara di dalam saja."
Dengan langkah lebar Nyo-toakoh memasuki kamar, begitu melihat maling kecil itu kontan
ia
menjerit, teriaknya: "Kenapa kau pun berada di sini, siapa yang melukai kau sedemikian
rupa?"
"Nyo-toakoh," ujar si maling kecil itu sembari tertawa kecut. "Tak nyana, bertemu kau
di sini.
Kau tanya saja kepada murid keponakanmu."
Kejut dan girang pula Gak Hou dibuatnya, pikirnya: "Akhirnya toh ada orang yang kenal
asal
usul maling ini." Tanyanya: "Sukoh, siapakah dia?"
"Masa kalian tidak kenal dia," kata Nyo-toakoh. "Dia bukan lain adalah Biau-jiu-sin-toh
Kwihwethio
yang kenamaan di kalangan kangouw itu."
Bun dan Gak dua orang sama terperanjat. Batin Gak Hou: "Untung aku tadi tidak bersikap
kasar
terhadapnya."
Ternyata maling kecil ini nama aslinya Thio Siau-yau, kepandaian silatnya sih termasuk
kelas
rendah-an, tapi kepandaian mencurinya justru tiada tandingannya di seluruh dunia,
karena itu
jelek-jelek di kalangan kangouw dia sudah punya nama, tapi justru cara hidupnya kurang
genah
dan suka nyeleweng, ada beberapa perusahaan Piaukiok hendak memberi pekerjaan ia tolak,
beberapa raja bandit minta dia jadi komplotannya ia pun tidak sudi, tapi ia lebih suka
pekerjaan
bebas yang tidak terkekang, yaitu mencuri. Karena menurut anggapannya mencuri cukup
menyenangkan dan bebas tidak terikat, maka dia menggunakan namanya dengan Siau-yau yang
berarti bebas dan julukannya adalah Kwi-hwe-thio (Thio yang suka membadut).
Kata Gak Hou: "Malam di mana guru diberitakan meninggal dia pernah berada di rumah
suhu.
Ting-thocu dari Ui-liong-pang tahu bahwa kami sedang menyelidiki kematian suhu. maka
mereka
mengundangnya kemari."
Nyo-toakoh mengunjuk rasa heran, tidak tanya sebab musababnya, sebaliknya ia berkata:
"Siau-thio (Thio si kecil), dengan kepan-daianmu, tidaklah heran bila adikku yang
meringkus kau,
tapi cara bagaimana kau bisa terjatuh di tangan kawanan Ui-liong-pang? Bukankah berarti
perahu
besar terbalik dalam selokan?"
Maling sakti Thio Siau-yau yang bergelar Kwi-hwe-thio (Thio si badut) serta mendengar
pertanyaan Nyo-toakoh ini jadi tidak gembira, sambil tertawa getir ia menjawab: "Kihujin,
pandanganmu tidak salah, meskipun kepandaianku tidak becus, betapapun tidak akan begitu
mudah terjatuh di tangan Ui-liong-pang. Cuma siapa sebenarnya yang melukai aku agaknya
kau
salah duga."
"Apakah bukan adikku?" tanya Nyo-toakoh.
"Bukan, istri dari adikmu itulah!" sahut Kwi-hwe-thio.
Seketika semua orang sama melcngak dan heran mendengar keterangannya ini.
"Apa, istri adikku yang melukai kau?" tanya Toakoh menegas.
Phui Liang, Hoan To dan lain-lain tanpa berjanji berseru bersama: "Wah urusan semakin
aneh,
bukankah sunio tidak bisa main silat!"
"Tidak bisa main silat?" jengek Kwi-hwe-thio dingin. "Marilah kuperlihatkan sebuah
benda
kepada kalian."- lalu dirogohnya keluar sebentuk tusuk kuridai yang terbuat dari perak
terus
disodorkan kepada Nyo-toakoh, sambungnya: "Hiat-to di lututku ini terluka oleh tusuk
kundai
timpukan istri adikmu itu."
Nyo-toakoh menerimanya serta diamat-amati, tampak tusuk kundai itu masih berlepotan
darah,
dan barang itu memang adalah milik Hun Ci-lo. Murid ke lima Song Beng-ki yang menetap
di
rumah suhunya juga mengenali tusuk kundai itu, katanya menimbrung: "Memang betul, sunio
biasanya memang mengenakan tusuk kundai ini di atas sanggulnya."
Kwi-hwe-thio tertawa getir, ujarnya: "Kini kalian mau percaya bukan! Jikalau senjata
rahasia
timpukan istri adikmu tidak melukai aku, masa perahu besar bisa terbalik di dalam
selokan. Harap
maaf kalau aku bicara kurang hormat, kau tahu bahwa aku paling mengutamakan budi dan
dendam, kejadian ini merupakan peristiwa yang memalukan dan kegagalanku yang pertama
selama hidupku ini. Kau pernah menanam budi kepadaku, tapi istri adikmu menyakiti
hatiku, maka
tusuk kundai itu harap kau kembalikan kepadaku, akan kukembalikan sendiri kepada istri
adikmu
kelak."
Maksudnya bahwa ia hendak menuntut balas kepada Hun Ci-lo karena timpukan senjata
rahasianya sehingga ia terluka dan jatuh pamor habis-habisan.
"Bicara terus terang, sekarang aku sedang menyelidiki kematian adikku itu, kalau
terbukti
teraniaya oleh budak jalang itu, dendam ini tidak perlu kau mencari balas kepadanya."
"Kau boleh mencari balas dendam padanya, tapi aku harus membalas sakit hatiku. Dua
persoalan ini tidak bisa disatukan. Tapi..." maling sakti itu merandek seolah-olah ada
sesuatu yang
sungkan dikatakan.
"Siau-thio," kata Nyo-toakoh, "Waktu suamiku masih hidup dulu, hubungannya begitu akrab
dengan kau sebagai sahabat karib, maka kuharap kau suka bicara jujur dan terus terang
kepada
aku. Tapi apa maksudmu?"
Ternyata dulu Kwi-hwe-thio pernah mendapat pertolongan dari suami Nyo-toakoh ini.
Nyotoakoh
pun mengetahui karakter Kwi-hwe-thio, kalau dengan kekerasan mengompes
keterangannya, meski dihajar sampai mati pun ia tetap akan membandel tidak mau buka
mulut,
maka dengan cara balas budi ia hendak mengorek keterangannya.
"Toakoh, bicara secara terus terang, meski Hun Ci-lo melukai aku, tapi menurut hematku,
belum tentu adikmu mati karena dicelakai Hun Ci-lo."
Gak Hou segera menyela bicara dengan tawa dingin: "Hun Ci-lo pura-pura tidak bisa main
silat,
beberapa tahun ini kita semua kena dikelabui mentah-mentah, berdasar alasan ini cukup
kita
menilai betapa culas dan keji hatinya. Kecuali suhu tidak meninggal secara penasaran,
kalau tidak
lalu siapa pembunuhnya?"
Nyo-toakoh goyang-goyang tangan, katanya: "Gak Hou, jangan kau sembarangan menduga
dan menista, Siaw-thio pasti bisa memberikan pandangannya secara jelas dan gamblang.
Siau-thio
coba terangkan, untuk apa kau meluruk ke rumah adikku, malam itu apa yang kau lihat dan
apa
pula yang kau dengar. Dengan alasan apa pula kau berani mengatakan kematian adikku
bukan
dicelakai oleh istrinya?" ,
Teka teki misterius ini bakal segera terbongkar, pandangan semua orang sama tertuju ke
arah
Kwi-hwe-thio, mereka ingin sekali mendengar penjelasannya.
Tapi Kwi-hwe-thio malah garuk-garuk kepalanya, katanya tertawa kecut: "Ki-hujin,
mungkin
aku cuma membuat kecewa kalian belaka. Meski malam itu aku ada melihat dan mendengar
sesuatu, tapi mengenai sebab musabab kematian adikmu, tidak berani aku mengatakan sudah
jelas duduk perkaranya. Apalagi beberapa pertanyaan yang kau ajukan itu, aku pun tidak
bisa
menjawab secara terus terang."
"Baiklah, berapa banyak yang dapat kau jelaskan silakan saja!"
"Pertama-tama yang harus kutandaskan kepadamu adalah bahwa kedatanganku ke rumah
adikmu bukan bertujuan mencuri."
"Untuk ini aku bisa maklum. Benda berharga apa yang bisa kau curi dari rumah adikku!"
"Bicara terus terang, ada seseorang yang mengutus aku kesana. Orang itu minta aku
menyampaikan sepucuk surat kepada adikmu."
"Siapakah orang itu?"
"Maaf, siapakah dia tidak bisa kujelaskan. Aku cuma bisa berita-hu, pertama: Aku pernah
mendapat pertolongan orang ini. Kedua: kepandaian silat orang itu teramat liehay,
selama hidup
aku tidak kenal takut kepada langit dan bumi, cuma takut menghadapi dia. Surat yang dia
berikan
kepadaku, aku pun tidak berani membuka untuk mencuri baca."
Diam-diam Nyo-toakoh membatin: "Siapakah orang itu? Didengar dari nada Kwi-hwe-thio,
kepandaian orang itu seharusnya jauh lebih liehay dari adikku. Tokoh kangouw yang
memiliki
kepandaian begitu tinggi dapat dihitung dengan jari, cepat atau lambat pasti aku dapat
menyelidiki
hal ini." Maka segera ia berkata: "Baik, teruskan saja penjelasanmu. Bagaimana setelah
kau
sampai di rumah adikku?"
"Aku langsung mencari kamar tidur adikmu, tapi yang berada di dalam kamar cuma seorang
perempuan. Dia sedang berkeluh kesah!"
"Perempuan itu sudah tentu Hun Ci-lo adanya. Apa yang sedang dia keluh kesahkan?"
"Aku tidak tahu apa yang sedang dirisaukan, tapi setelah itu dia lantas mengeluarkan
sebuah
gambar. Gambar itu akhirnya berhasil kucuri!"
Cepat Nyo-toakoh meminta: "Bolehkah aku lihat gambar itu?"
"Boleh. Tapi kau harus kembalikan kepadaku," ujar Kwi-hwe-thio, lalu dia merobek
bajunya
mengeluarkan segulung gambar, lalu dibeber di hadapan orang banyak. Tampak di atas
gambar
itu tertera lukisan seorang laki-laki yang berwajah cakap ganteng, di samping gambar
ada dua
baris syair, yang mengisahkan suka duka sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.
Walaupun Nyo-toakoh orang kasaran yang tidak mengenal ilmu sastra, tapi makna dari dua
bait
syair itu sangat gamblang, sedikit banyak ia tahu arti dari syair itu.
Saking marah raut wajah Nyo-toakoh sampai berubah pucat, katanya gemetar: "Tak nyana
perempuan jalang itu ternyata punya seorang gendak lainnya! Dia sudah menikah dengan
adikku,
putranya pun sudah berusia tujuh tahun, tapi dia masih terkenang akan madu cinta pada
masa
silam."
Cepat Bun Seng-liong berkata: "Gambar ini merupakan bukti, dengan gambar ini kita bisa
secara langsung menuduh dan menimpakan dosa-dosa ini kepada Hun Ci-lo!"
Tapi Nyo-toakoh menggulung gambar itu lalu diserahkan kembali kepada Kwi-hwe-thio
katanya: "Apa yang pernah kita katakan harus ditepati. Sekarang aku sudah tahu perihal
hubungan cinta lama Hun Ci-lo, aku akan berhadapan langsung dengan dia, tanpa membawa
gambar ini, kukira dia pun tidak akan berani memungkiri perbuatannya."
Melihat Nyo-toakoh betul-betul menepati janji dan dapat dipercaya, legalah hati Kwihwe-
thio,
maka ia melanjutkan cerita pengalamannya: "Surat itu harus diserahkan langsung kepada
Nyobusu,
dalam kamar tidurnya tiada, maka aku pun tiada minat mendengar keluh kesah istrinya
itu.
Maka segera aku mencari ke kamar bukunya, kali ini aku berhasil menemuinya, tapi sekali
pandang sungguh aku kaget setengah mati."
"Urusan apa yang membuat kau begitu terkejut?" tanya Nyo-toakoh.
"Orang yang memberi surat kepadaku ada pesan supaya aku menyampaikan surat itu secara
diam-diam kepada Nyo-busu jangan sekali-kali diketahui atau terlihat oleh orang ketiga,
asal surat
ini bisa jatuh ke tangan Nyo-busu, bolehlah aku tidak usah muncul di hadapannya. Maka
malam
itu aku bergerak main sembunyi untuk mencari Nyo-busu.
"Waktu aku tiba di luar kamar bukunya, di sini aku pun mendengar helaan napas
seseorang,
aku jadi heran, cepat aku bergelantungan di atas rumah dan mencuri lihat ke dalam
kamar, ingin
kupastikan apakah orang yang berada di dalam benar Nyo-busu adanya. Toakoh, coba kau
terka,
apakah yang telah kusaksikan ?"
"Sebetulnya kejadian aneh apa yang kau lihat, lekas kau terangkan saja," sahut Nyotoakoh.
"Benar-benar suatu kejadian aneh yang berada di luar dugaanku. Adikmu itu sedang
berdiri di
atas meja, di atas belandar kamar bukunya ada menjulur turun seutas tali, ujung tali
itu sudah
dibuatkan kolongan, di kala aku melongok ke dalam kebetulan adikmu sedang memasukkan
kolongan tali itu ke dalam lehernya, meja ditendang kedua kakinya lantas tergantung
berayunayun!"
"Bohong," sentak Bun Seng-liong. "Tanpa sebab kenapa guruku bisa bunuh diri!"
Gak Hou juga tidak ketinggalan memaki: "Pembual! Malam itu setelah ribut-ribut adanya
maling, guruku sendiri berlari keluar bicara dengan Cui-hoa, mana mungkin dia bunuh
diri dengan
jalan menggantung?"
Kwi-hwe-thio menarik muka, ujarnya dingin: "Kalau tidak percaya jangan tanya kepadaku.
Kan
belum kujelaskan lebih lanjut bahwa guru kalian tidak segera mampus."
Nyo-toakoh tahu bahwa Kwi-hwe-thio tidak akan membual kepadanya, dengan lembut ia
membujuk: "Siau-thio, kenapa kau ajak ribut mulut dengan mereka, teruskan saja
ceritamu, aku
percaya kepadamu."
Kata Kwi-hwe-thio lebih lanjut: "Waktu aku hendak turun untuk menolongnya, di saat
itulah
kudengar suara berkesiur lalu "Tas!" sekeping uang tembaga melesat masuk melalui
jendela,
kebetulan menimpuk putus tali sebesar jari tangan itu, belum lagi badan Nyo-busu
terbanting di
tanah, menerobos masuklah seseorang memeluk tubuhnya. Orang ini bukan lain adalah Hun
Cilo."
Nyo-toakoh merasa di luar dugaan, pikirnya: "Semula kukira Hun Ci-lo perempuan jalang
itu
mengharap benar adikku lekas-lekas mati, bagaimana mungkin dia menolong jiwanya malah?"
Kwi-hwe-thio melanjutkan: "Surat itu tidak bisa kusampaikan di hadapan istrinya, maka
terpaksa aku tetap sembunyi di atap rumah mencuri lihat lebih lanjut."
"Tampak Hun Ci-lo membuka tali di atas leher suaminya, katanya sambil sesenggukan:
"Bok-ko,
kenapa kau hendak tinggalkan aku?' —— Nyo busu berkata: 'Aku hanya main-main saja
terhadap
kau. untunglah pertolongan cepat datangnya, maka setelah istirahat sebentar ia lantas
dapat
bicara lagi."
Kata Hun Ci-lo: "Mana ada cara main-main demikian? Apakah ada sesuatu yang salah
kulakukan, sehingga kau hendak menghukumku sedemikian rupa, bicaralah terus terang
kepadaku."
Nyo-busu berkata lirih: "Beberapa tahun ini kau tidak mau meninggalkan aku, aku sudah
merasa cukup puas. terima kasihku terhadap kau belum sempat kuucapkan masa berani aku
menggerundel kepadamu? Cuma aku berpikir tidak seharusnya aku menahanmu lagi, maka
terpaksa kutempuh jalanku ini. Pertama aku dapat bebas dari dosa, kedua kau pun jadi
merdeka
untuk membebaskan diri dari keluarga Nyo."
"Tidak!" sahut Hun Ci-lo. "Kau tidak tahu sebetulnya aku tidak ingin meninggalkan kau
lagi!"
"Aku tahu," sahut Nyo-busu, "Tapi aku tahu bahwa kau mempunyai ganjalan hati yang sulit
kau
limpahkan."
"Segala urusan kan bisa dirundingkan dengan baik, kenapa kau harus bunuh diri?"
"Ucapanku belum lagi selesai, perbuatanku ini memang setengah-setengah. Setengah
sungguhsungguh
dan setengah pura-pura."
"Apa maksud ucapanmu? Sedikit pun aku mengerti."
"Aku sendiri juga kurang paham, soal bunuh diri mana bisa setengah sungguh setengah
purapura
apa segala? Di kala aku pasang kuping mendengar lebih lanjut, tiba-tiba kudengar Nyobusu
bertanya: "Ci-lo. kau datang bersama siapa?"-Terdengar Hun Ci-lo menjawab: "Cuma aku
seorang
saja, kenapa kau bertanya demikian, masa. . masa kau curigai aku..."-Belum habis
ucapannya,
Nyo-busu lantas berteriak:
"Kalau begitu lekaslah kau keluar, coba lihat siapa dia? Dia datang lebih pagi setindak
dari kau,
jelas kuketahui dia masih belum pergi sekarang !"
"Di kala Nyo-busu mencari kematian tapi masih dapat mengetahui jejak kedatanganku,
kepandaian silatnya yang tinggi memang harus dipuji, tapi hal ini justru membuatku
runyam.
Karena aku harus menyerahkan surat itu langsung ke tangannya dan tidak boleh bocor,
bagaimana baiknya? Belum habis pikiranku, Hun Ci-lo sudah melejit keluar dan mulai
memeriksa,
dalam gugupku lantas timbul sebuah akal, di kala dia melangkah keluar kamar, cepat
surat itu
kulipat membungkus sekeping uang tembaga terus kutimpukkan ke dalam lewat jendela
belakang."
"Begitu aku bergerak Hun Ci-lo lantas mengetahui jejakku, dengan tertawa dingin ia
menjengek: "Maling kecil yang bernyali besar, masih ingin lari ya?"-belum lenyap
suaranya,
tampak selarik sinar perak berkelebat, belum sempat aku angkat kaki tahu-tahu Hoantiau-
hiat di
lututku sudah kena timpuk tusuk kundainya.
"Sebetulnya aku pasti bisa teringkus olehnya, untung pada saat itu juga terdengar Nyobusu
mendadak berteriak: "Ci-lo kembalilah, sahabat lama kita menyuruh orang mengirim surat
kepada
kita."
"Sebetulnya orang itu ada pesan wanti-wanti bahwa surat itu sekali-kali tidak boleh
diketahui
oleh istrinya, tapi kalau toh Nyo-busu sendiri yang memberitahu kepada istrinya, aku
tidak bisa
berbuat apa-apa, aku sudah terluka bukan mustahil bakal terjadi sesuatu atas diriku,
terpaksa aku
lari sipat kuping."
Nyo-toakoh tertawa dingin, jengeknya: "Tak kira Hun Ci-lo memiliki kepandaian menimpuk
senjata rahasia yang sedemikian liehaynya, sekian lamanya aku sendiri pun kena
dikelabui
olehnya."
Kwi-hwe-thio melanjutkan: "Untung adikmu memanggilnya kembali sehingga aku berhasil
lolos.
Waktu aku lewat kembali di kamar tidur adikmu teringat olehku aku harus membawa sesuatu
tanda mata untuk membuktikan bahwa kerjaanku sudah kulaksanakan dengan baik. Gambar itu
masih terletak di atas meja, mungkin saking tergesa-gesa Hun Ci-lo berlari keluar
sehingga tidak
keburu menyimpannya, maka gambar itulah yang kuincar dan kubawa lari. Bagaimana
kejadian
selanjutnya, aku tidak tahu sama sekali."
Setelah cerita Kwi-hwe-thio selesai, para murid perguruan Nyo ini sama saling pandang,
rona
wajah meraka menunjukkan perasaan hati yang berlainan, seperti pepatah ada berkata:
"Hati
manusia tidak sama, sesuai dengan bentuk mukanya yang berlainan."
Song Beng-ki dan Oh Lian-ba berdua sama mengunjuk rasa hampa, seolah-olah mereka baru
siuman dari impian buruk yang masih mempengaruhi sanubarinya, sekian lama masih
terlongong
kebingungan. Murid ke empat Hoan To agaknya masih setengah percaya setengah curiga,
keadaannya pun kosong dan hampa seperti digugah dari impian buruknya. Adalah murid
ketiga
Phui Liang seorang yang pandai melihat arah angin, sepasang matanya jelilatan meliraklirik
kian
kemari, dalam hati ia membatin: "Toh ada Toasuko yang bakal tampil ke depan, tidak
perlu aku
sendiri unjuk diri."
Sebaliknya murid terbesar Bun Seng-liong dan murid kedua Gak Hou masing-masing
mempunyai jalan pikiran dan perhitungannya sendiri, mereka sama memperhitungkan cara
bagaimana mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari peristiwa yang berlangsung ini.
Setelah saling pandang akhirnya mereka tujukan pandangan bersama ke.arah Nyo-toakoh,
tiada seorang pun yang ingin mendahului buka suara.
Kata Nyo-toakoh dingin: "Seng-liong, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Sukoh pun sudah dengar duduk perkaranya dengan jelas. Menurut hematku kita tidak usah
ragu-ragu dan banyak curiga lagi, kematian suhu pasti adalah buah tangan Hun Ci-lo."
Nyo-toakoh manggut-manggut. Tapi tak tertahan Kwi-hwe-thio justru menggelengkan kepala.
"Siau-thio," kata Nyo-toakoh. "Kau sendiri sudah lihat secara sembunyi-sembunyi Hun Cilo
menyimpan dan mencuri lihat gambar itu, kau pun dengar percakapan mereka suami istri,
jelas
dan gamblang bahwa Hun Ci-lo mempunyai gendak lain, malah sudah diketahui pula oleh
adikku,
dengan alasan apa kau berani memastikan bahwa bukan dialah pembunuhnya?"
"Tapi aku pun pernah menyaksikan dia menggagalkan usaha suaminya untuk bunuh diri,
memeluk suaminya dia bertobat sambil menangis, dia mengatakan tidak rela berpisah dan
ditinggal oleh suaminya, sikap dan kelakuannya, menurut penglihatanku pasti bukan ia
lakukan
secara pura-pura."
Gak Hou segera menjengek dingin, timbrungnya: "Justru Hun Ci-lo memang pandai main
sandiwara menjadi sungguhan, waktu di pendopo besar tadi pagi dia pun menangis
gerunggerung
sampai jatuh pingsan berulang kali!"
"Benar, urusan ini harus kita selesaikan secara cermat dan teliti! Siau-thio bukan aku
tidak
percaya kepadamu, bahwasanya perempuan jalang itu memang teramat mencurigakan!"
"Aku hanya bicara menurut pengalaman dan pendapatku sendiri, mana berani aku mencampuri
urusan rumah tangga kalian? Bagaimana kalian hendak menjatuhkan vonis kepada Hun Ci-lo
adalah urusan kalian. Aku sudah bicara secara jelas, aku harus segera pergi."
"Terima kasih akan keterangan-mu sebanyak itu. Inilah sebutir Him-tan-hoan, tepat untuk
kau
gunakan, silakan kau terima."
Him-tan-hoan adalah obat mujarab untuk mengobati luka-luka dalam. Kata Kwi-hwe-thio
dengan tawar: "Baiklah, anggap saja kita sudah melangsungkan suatu usaha dagang."-
Setelah
menerima pemberian obat Nyo-toakoh segera ia keluar dan terus menghilang di atap rumah.
Cuma sehari saja luka-lukanya diobati di rumah keluarga Gak, luka-luka luarnya belum
lagi
sembuh, tapi sudah mampu mengembangkan ginkang sedemikian hebatnya, para murid
perguruan Nyo sama terkejut dan takjub.
Setelah Kwi-hwe-thio pergi, Bun Seng-liong lantas berkata: "Duduk perkaranya sudah
jelas,
harap tanya Sukoh, bagaimana kita harus mengatur langkah-langkah selanjutnya?"
Pelan dan tegas Nyo-toakoh bersuara: "Gali kuburan dan bongkar peti mati!"
Hoan To terperanjat, teriaknya: "Gali kuburan dan bongkar peti mati?"--Dia pernah main
debat
karena persoalan ini dengan Gak Hou, sungguh ia tidak mengira bahwa Nyo-toakoh sendiri
juga
setuju akan saran ini.
"Benar. Kau takut apa? Kalau ada apa-apa akulah yang tanggung jawab!"
Gak Hou jadi takabur dan kesenangan, ujarnya: "Nah, aku pun punya jalan pikiran yang
sama.
Dengan jalan gali kuburan dan membongkar peti mati baru kita dapat membuktikan dosadosa
Hun Ci-lo, kalau tidak tanpa bukti dia pun masih bisa berkeras kepala, memungkiri
segala
perbuatannya. Apalagi Kwi-hwe-thio yang bisa menjadi saksi sudah tinggal pergi."
"Hoan To," sentak Bun Seng-liong. "Soalnya kau cuma takut kalau putusan kita ini salah
langkah, seandainya suhu tidak mati keracunan, maka dosa membongkar kuburan ini harus
kita
tanggung bersama, paling-paling kita berdosa karena mengganggu ketenteraman arwah suhu
dalam baka. Tapi sekarang kenyataan sudah terpapar di hadapan kita, kita semua dapat
melihat
dan membedakan benar buruknya persoalan ini. tidak perlu disangsikan lagi bahwa suhu
pasti
dicelakai oleh Hun Ci-lo! Apa pula yang kau kuatirkan ?"
Betapapun Hoan To merasa urusan masih rada ganjil, tapi terpaksa ia cuma berkata:
"Kematian
suhu sangat janggal, sudah seharusnya kita selidiki biar jelas. Kalau Sukoh dan
Toasuheng
menganggap perlu gali kuburan dan membongkar peti mati, aku sendiri sih tidak bisa
menyumbangkan akal pikiranku, masa aku berani banyak bertingkah segala."
Nyo-toakoh melihat cuaca lalu berkata: "Sekarang sudah kentongan ketiga, kalau kalian
semua
sudah setuju, sekarang juga kita berangkat!"
Cuaca gelap, angin malam menghembus keras, kabut malam mengembang rendah menambah
suasana malam semakin kelam dan sunyi senyap.
Di depan pusara Nyo Bok justru saat mana kelihatan obor dipasang tinggi menerangi hutan
sekelilingnya. Di malam nan sunyi itu terdengarlah suara gedepukan dan beradunya suara
cangkul
menggali tanah, dari dalam hutan terdengar pula pekik burung kokok beluk yang sayu dan
mengerikan, burung sama beterbangan kaget oleh suara gaduh yang tiba-tiba melingkupi
suasana
hening di tengah malam buta rata.
Ada delapan orang bekerja sama menggali kuburan, mereka bukan lain adalah Nyo-toakoh
bersama putranya dan keenam murid Nyo Bok.
Gak Hou sebelumnya memang sudah menyiapkan segala keperluan, mengandal tenaga delapan
orang, tak lama kemudian kuburan Nyo Bok sudah berhasil mereka gali. Terutama Bun Sengliong
dan Gak Hou bekerja paling bernafsu, cepat mereka masuk ke dalam liang dengan kekuatan
mereka bersama mengangkat keluar peti mati.
Sambil mengelus-elus peti mati Nyo-toakoh bersabda: "Adikku, demi membalaskan dendam
sakit hatimu, terpaksa kami mengganggu jenazahmu, harap tidak marah dan salahkan kami
beramai." Setelah bersembahyang dengan kedua tangannya sendiri ia membuka peti mati
itu.
Begitu tutup peti mati terbuka, tenggorokan Nyo-toakoh seperti tersendat sesuatu
barang,
suara tangisnya spontan berhenti dan disusul jeritannya yang melengking.
Dalam sekejap itu keenam murid dari perguruan Nyo itu juga sama berdiri melongo dan
menjublek. Siapapun tiada yang mengira bakal terjadi keanehan ini.
Ternyata yang berada di dalam peti mati itu hanya setumpukan batu merah.
Ke manakah jenazah Nyo Bok? Ke mana? Dia benar-benar mati? Atau pura-pura mati? Atau
istrinya Hun Ci-lo telah menyembunyikan jenazahnya untuk menghilangkan jejak
kejahatannya?
"'Mari kita cari Hun Ci-lo! Mari kita cari Hun Ci-lo!" Nyo-toakoh, Bun Seng-liong dan
Gak Hou
serta yang lain-lain sama berseru tanpa berjanji sebelumnya.
Belum lagi mereka bertindak, tiba-tiba terdengar sebuah suara dingin berkata: "Sudah
sejak
tadi Hun Ci-lo menunggu di sini!"
Tampak Hun Ci-lo melangkah keluar dari balik pohon sambil menuntun putranya, ia
mengenakan pakaian berkabung serba putih bersih, pakaiannya panjang menyentuh tanah,
melambai-lambai terhembus angin lalu. Pelan-pelan ia maju mendatangi.
Saking kagetnya para murid Nyo Bok itu. serempak melompat berpencar, mereka mengambil
kedudukan mengurung bundar, sunio mereka kepung di tengah.
Nyo Hoa si anak yatim yang masih berusia kecil tak tahu apa-apa melihat para suheng
yang
biasanya ajak bermain, sekarang bermuka bengis dan buas, menjadi takut dan menjerit
tangis.
Demi kedudukan dan gengsi, Nyo-toakoh tidak ikut turun gelanggang, dengan pandangan
dingin ia awasi gerak gerik Hun Ci-lo dari samping.
Melihat bibinya yang biasanya paling sayang pada dirinya pun bersikap garang dan
mendelik
gusar. Nyo Hoa semakin takut dan tangisnya lebih keras, jeritnya: "Bu, aku takut, aku
takut!"
Hun Ci-lo mengelus kepalanya serta memeluknya dengan kencang, katanya lembut: "Ibu
berada di sisimu, tak perlu takut!"
"Lepaskan sute kami!" bentak Bun Seng-liong.
Hun Ci-lo berkata tawar: "Putraku sendiri tidak turut aku turut siapa? Sudah kuduga
sebelumnya bakal terjadi peristiwa malam ini. baik, kalau toh kalian sudah curiga bahwa
akulah
yang membunuh suamiku atau guru kalian, terang kami tidak bisa menetap lagi di sini,
terpaksa
kami tinggal pergi saja. untuk selanjutnya aku bukan sunio kalian lagi, jangan sekalikali
kalian
mengganggu jalan hidupku yang akan datang."
Nyo-toakoh marah, bentaknya: "Hun Gi-lo begitu gampang kau hendak tinggal pergi? Cara
bagaimana kau bunuh adikku, hayo bicara terus terang!"
Bun Seng-liong ikut menyela dingin: "Kau pembunuh suhu, masa masih ingin kami panggil
kau
sunio? Kcmana kau sembunyikan jenazah guru, serahkan!"
Ujung mulut Hun Ci-lo menyungging senyum ejek yang menghina, katanya: "Bukan aku yang
membunuh guru kalian, sebetulnya pernah kupikir bolak balik, apakah perlu membocorkan
peristiwa yang serba rahasia ini kepada kalian. Sekarang kalian bersikap begini
terhadap aku, aku
sudah berkeputusan untuk tidak main debat lagi, kalian menuduh aku membunuh guru
kalian,
anggap saja memang aku yang membunuh! Tapi, kalian tidak mengijinkan aku pergi, kukira
kalian
tidak akan mampu berbuat apa-apa atas diriku."
Secara diam-diam Bun Seng-liong memberi isyarat kepada Nyo-toakoh, katanya: "Kalau
urusan
sampai tersiar keluar bisa mengotori nama baik guru, suruh dia meninggalkan sute dan
menyerahkan buku pelajaran ilmu pedang dan pukulan milik suhu, setelah itu baru kita
pikir
apakah perlu kita beri kebebasan hidupnya?"
Maklum tujuan Bun Seng-liong cuma ingin mendapat buku pelajaran sUat perguruannya, soal
balas dendam kepada Hun Ci-lo adalah urusan kedua. Tapi seumpama Hun Ci-lo bisa mereka
tipu
menyerahkan buku pelajaran silat perguruannya, maka jiwanya bakal tergenggam di tangan
mereka bersama.
Sudah tentu Nyo-toakoh tahu ke mana maksud tujuan Bun Seng-liong, setelah berpikir
sejenak,
maka ia lantas pura-pura bersikap urusan seperti tidak begitu penting dan menegangkan,
katanya:
"Hun Ci-lo, bagaimana menurut pendapatmu?"
Kata Hun Ci-lo: "Bun Seng-liong punya tujuan yang tidak lurus, suamiku pernah
mengatakan
bahwa dia tidak cocok menjadi Ciangbun Tecu perguruan keluarga Nyo."
Mendengar kata-kata Hun Ci-lo yang terakhir ini Bun Seng-liong berjingkrak gusar
seperti
kebakaran jenggot. Sebetulnya meski ia tidak mau mengakui sunionya ini, tapi tak berani
bersikap
kasar dan kurang ajar, kini saking marah kontan ia menarik muka, mulutnya lantas
mencaci maki:
"Perempuan jalang, kau..."
Baru saja kata-kata 'kau' tercetus dari mulutnya disusul terdengar suara "plak!" yang
nyaring,
tahu-tahu pipinya sudah kena digampar oleh Hun Ci-lo. Gamparan Hun Ci-lo agaknya cukup
berat,
kontan sebelah pipi Bun Seng-liong seketika melepuh segede bakpao berwarna hijau, hitam
dan
merah.
Bun Seng-liong adalah murid terbesar Nyo Bok, dengan usia yang masih muda ia sudah
menjabat Toa-piauthau dari Tin-wan Piaukiok di kota raja yang kenamaan, kepandaian
silatnya
sudah tentu tidak rendah, tak nyana gamparan Hun Ci-lo ini datang begitu cepat dan
mendadak
sehingga ia tidak mampu berkelit atau menyingkir, jangan kata menangkis atau melawan.
Para
sutenya yang lain cuma melihat berkelebatnya sebuah bayangan putih lalu terdengar
tamparan
yang begitu keras disusul tubuh suheng mereka tersurut mundur genteyongan, baru mereka
tahu
bahwa Toa-suheng telah kena digampar pipinya. Tapi cara bagaimana orang turun tangan
tiada
seorang pun yang melihat jelas.
Waktu melihat dengan tegas, sunio mereka sudah berdiri di tempatnya semula lagi,
mulutnya
masih mengulum senyum ejek yang menghina, seolah-olah sejak tadi belum pernah bergerak,
kecepatan gerak-geriknya sungguh sulit dibayangkan dan di kuti pandangan mata biasa.
Seketika
terkesiap jantung para murid-murid perguruan Nyo itu.
Melihat cara kerja Hun Ci-lo begitu cepat laksana kilat, Nyo-toakoh sendiri juga
bercekat
hatinya, batinnya: "Kepandaian perempuan jalang ini agaknya jauh lebih tinggi dari
adikku, ilmu
silat yang dia mainkan juga bukan dari perguruan Nyo kita, naga-naganya memang ia
menyembunyikan diri dan punya asal usul perguruan lainnya. Dia sudah paham dan
menyelami
intisari ilmu silat perguruan kami, sebaliknya aku tidak bisa meraba asal-usulnya,
kalau bergebrak
mungkin belum tentu aku dapat mengalahkan dia."
Bun Seng-liong menjublek sekian lama sambil mendekap pipinya, mendadak ia menghardik
keras: "Kenapa kalian tidak lekas labrak dia untuk menuntut balas bagi suhu!"
Gak Hou cukup cerdik, cepat ia menambahi, teriaknya: '"Benar! Hayo maju semua labrak
dia!"
Meski Bun Seng-liong dan Gak Hou sudah jeri dan gentar, tapi mengingat ada Nyo-toakoh
yang
menjadi andalan mereka kalau sampai dihajar, paling-paling cuma kena dirugikan sedikit
saja,
lambat atau cepat dengan kekuatan mereka bersama, pasti dapat membekuk Hun Ci-lo, maka
dengan menebalkan muka dan membesarkan nyali, dia kobarkan semangat para sutenya untuk
maju menyerang bersama.
Hoan To merangkap tangan unjuk soja dan berkata: "Hun Ci-lo. dulu kau adalah sunio
kami.
aku tidak akan berani kurang ajar terhadap kau, tapi sekarang kau tidak mau bicara
terus terang
menjelaskan cara kematian guru kita, terpaksa aku menuduh kau dan kaulah yang jadi
musuh
besar kami!"
Hun Ci-lo berkata tawar: "Sudah kukatakan aku akan membela diri di bawah ancaman kalian
bersama, kalau kau mau mendengar hasutan para suhengmu, terserah!"
Kata Hoan To pula: "Kalau begitu, jangan kau salahkan aku tidak sungkan-sungkan lagi."-
Cepat
ia melolos goloknya, dialah orang pertama 'yang merangsak dengan serangan golok kepada
Hun
Ci-lo.
Waktu berunding di dalam kamar rahasia, Hoan To selalu berdebat demi kebaikan nama
sunionya,
sekarang dia melabrak maju lebih dulu, para sutenya jadi ikut berkobar semangatnya,
beramai-ramai mereka ikut menubruk maju. Diam-diam Bun dan Gak merasa menyesal dan malu
pula, terpaksa mereka pun mengeluarkan senjata ikut maju mengeroyok.
Nyo-toakoh berdiri di pinggir sambil menggendong tangan, dengan cermat ia menonton
jalannya pertarungan sengit ini. Sebagai seorang ahli silat yang banyak pengalaman,
sengaja ia
biarkan saja para keponakan muridnya ini melabrak musuh lebih dulu, dengan kesempatan
ini ia
bisa memperhatikan dan menyelami permainan silat Hun Ci-lo.
Dengan tungkak kakinya sebagai poros tiba-tiba badan Hun Ci-lo berputar cepat, ujung
kakinya
yang lain menggores sebuah bundaran di atas tanah, katanya lembut: "Anakku manis,
jangan
takut, dengar kata-kata ibu, duduklah di sini, jangan menangis dan jangan lari!" la
letakkan
anaknya di tengah bundaran itu, lalu berkata lantang: "Siapa yang berani memasuki
bundaran ini,
jangan salahkan kalau nanti aku berlaku telengas kepadanya!" - Di kala bicara
pandangannya
tertuju ke arah Nyo-toakoh dan putranya. Ki Si-kiat segera mendengus, sementara Nyotoakoh
tetap menggendong tangan tanpa memberi reaksi apa-apa.
Kejadian sungguh teramat cepat, para murid-murid itu segera meluruk datang pula dari
berbagai penjuru. Terutama Hoan To yang paling bernafsu, dengan jurus Kiau-hu-bun-lo
(penebang kayu tanya jalan), sinar goloknya berkelebatan beruntun ia lancarkan bacokan
dan
babatan berulang-ulang. Disusul ujung tombak Phui Liang yang berkilauan itu ikut
menyelonong
tiba. Tapi bacokan golok dan tusukan tombak sama sekali tidak berhasil mengenai ujung
baju Hun
Ci-lo, tiba-tiba pandangan mereka menjadi kabur, sebuah bayangan putih berkelebat,
tahu-tahu
Hun Ci-lo sudah menghilang dari hadapan mereka berdua.
Bun Seng-liong menghardik keras menghalangi jalan lari sang sunio, sepasang Jit-gwatlun
senjata andalannya segera mengepruk ke batok kepala lawan. Jit-gwat-lun atau roda bulan
dan
matahari merupakan semacam senjata yang lain dari yang lain, senjata ini peranti untuk
mengunci
dan memutuskan golok dan sebangsa senjata ringan lainnya, pinggir dari kedua roda besar
kecil
ini tajam luar biasa, jangan kata kena teriris oleh tajam giginya, cukup kesambar ujung
bajunya
saja seumpama Hun Ci-lo mampu meloloskan diri, paling tidak kena dibikin malu. Maka
terdengarlah Hun Ci-lo terkekeh dingin tiga kali, setiap tawa dinginnya ia kembangkan
kegesitan
tubuhnya, beruntun tiga gerak langkah kakinya yang begitu enteng dan lincah, ia
berhasil keluar
dari kurungan sepasang roda musuh.
Gak Hou menjadi girang dan terbangkit semangatnya, sebilah pedangnya panjang cepat
menusuk ke uluhati Hun Ci-lo dari sebelah belakang, bentaknya: "Aku boleh mengampuni
jiwamu,
tapi arwah suhu di alam baka pasti tidak akan memberi ampun kepadamu."
Beruntun Hun Ci-lo berkelit tiga kali serta menjengek dingin: "Kupandang muka suhu
kalian
maka aku masih menaruh belas kasihan. Tapi kalau kalian berlaku bandel tidak tahu
kebaikan,
terpaksa aku mewakili suhu kalian memberi hajaran kepada kalian." Belum lenyap suaranya
cepat
ia kebutkan lengan bajunya ke belakang, seolah-olah punggungnya tumbuh sepasang mata
kebetulan ia menyampuk miring tusukan pedang Gak Hou dari sebelah belakang. Maka
terdengarlah suara "trang", di kala Hun Ci-lo menggeser kaki dan berpindah kedudukan,
pedang
Gak Hou yang terbelit oleh ujung bajunya ikut terseret ke samping dan kebetulan menusuk
ke
dalam roda matahari Bun Seng-liong. Lelatu api terpercik, dua gigi di atas roda
matahari kena
tergupil, sementara pedang Gak Hou juga putus ujungnya.
Cepat Gak Hou berteriak: "Toa-suheng inilah pedangku!"--
Untung ia berteriak cepat, kalau tidak bukan saja pedang, lengan kanannya itu pun bakal
tertabas kutung.
Bun Seng-liong jadi sengit dan memaki: "Kau taruh di mana matamu? Aduh, hai, cepatcepat,
jaga pintu hidup berputar ke jalan lurus, jangan sampai dia melarikan diri!"
Kiranya para murid perguruan Nyo ini menggunakan intisari Ngo-hing-pat-kwa untuk
mengepung sunio mereka. Kelihatannya mereka bekerja secara individu menyerang seenaknya
sendiri, ribut dan tidak keruan, sebetulnyalah di situ letak intisari dari barisan yang
serba rumit
dan banyak perubahannya, Bun Seng-liong yang menjadi pimpinan dari Lak-yang-tin ini.
Di luar sangkanya Hun Ci-lo ternyata tidak melarikan diri cuma ia bergerak memutar,
tiba-tiba
ia melejit tiba di hadapan Hoan To, "siut" tiba-tiba ia angkat kakinya menendang
keluar, kontan
Hoan To kena didepak jungkir balik, di kala badannya terjungkal kena ditendang itu
lapat-lapat
kuping Hoan To mendengar orang berkata di pinggir telinganya: "Kau adalah anak baik,
hari-hari
selanjutnya kau harus waspada menghadapi kedua suhengmu." Hun Ci-lo bicara menggunakan
lwekang gelombang suara mengirim kata-katanya ke dekat kuping Hoan To. hanya Hoan To
seorang yang mendengar ucapannya.
Hoan To mencelat terbang dan jungkir balik tiga tombak jauhnya, tapi sungguh aneh,
sedikit
pun ia tidak merasa sakit dan terluka, seolah-olah tubuhnya dijinjing terus diletakkan
lagi di atas
tanah jatuhnya ringan-ringan saja. Baru sekarang Hoan To sadar bahwa sunionya, memang
sengaja hendak memberi kelonggaran kepadanya, setelah merangkak bangun ia berdiri
terlongong
hati terasa hampa.
"Hun Ci-lo berani kau melukai orang!" seraya membentak Bun Seng-liong merangsak maju
pula
sambil menyerang dengan kedua senjata rodanya, dengan jurus Siang-liong-jut-hay, kedua
rodanya itu laksana cakar naga terkembang dari atas dan bawah menusuk dan membabat
bagian
atas dan tengah badan Hun Ci-lo.
"Bun Seng-liong," jengek Hun Ci-lo, "Kau memang terlalu kurang ajar, meski aku sungkan
melukai kau, terpaksa aku harus beri tanda mata kepadamu !"
Kepandaian menggunakan sepasang rodanya ini Bun Seng-liong sudah melatihnya selama
sepuluh tahun, bekal kepandaiannya boleh dikata sudah cukup sempurna. Tapi serta
mendengar
Hun Ci-lo mengancam hendak memberi tanda mata di atas badannya, hatinya terkejut, tak
berani
menyerang, ia menjaga diri lebih rapat, kedua rodanya ia putar dan tarikan begitu cepat
dan rapat
sekali, seumpama hujan juga tidak bakal bisa tembus membasahi badannya, pikirnya:
"Dengan
cara bertempur bertangan kosong, ingin kulihat cara bagaimana kau bisa menyerang masuk
dari
pertahananku dan bisa melukai aku?"
Nyo Bok bisa menggunakan delapanbelas macam senjata dan pukulan, maka keenam muridnya
pun menggunakan senjata yang berlainan. Gak Hou menggunakan senjata pedang, Phui Liang
membe-kal senjata tombak, dua muridnya yang terkecil Song Beng-ki dan Oh Lan-ba
masingmasing
menggunakan ruyung baja dan toya tembaga, meski kepungan kini sudah dikurangi Hoan
To, tapi ke lima murid ini menggunakan lima'macam senjata yang berlainan pula
permainannya
untuk mengeroyok dan merabu kepada Hun Ci-lo, meski kepandaiannya cukup tinggi, ia jadi
kerepotan dan terdesak juga.
Obor sudah padam maka tanah pekuburan yang membelakangi hutan itu ditabiri kabut malam
nan kelam, pertempuran berjalan semakin seru, senjata-senjata tajam dan berat sama
berkilauan
memetakan sinar senjata yang berlainan warna. Sedemikian seru dan sengit pertempuran
berlangsung. Nyo-toakoh yang berpengalaman tempur sekian tahun pun jadi terpesona dan
tegang oleh tontonan yang mendebarkan ini.
Sekonyong-konyong selarik cahaya putih laksana lembayung seperti naga hidup tampak
selulup
timbul memanjang menggubat dan menyusup di antara sambaran senjata-senjata berkilauan
dari
berbagai arah itu. Ternyata Hun Ci-lo terpaksa mengeluarkan ikat pinggangnya dari
pakaian
berkabungnya yang berwarna putih dijadikan senjata. Hanya gerak putarannya yang cepat
luar biasa
dilihat dari kejauhan seolah-olah seperti selarik cahaya putih. Selintas pandang lantas
Nyo-toakoh
mengeluh dalam hati bahwa kelima keponakan muridnya bakal celaka dan terjungkal. Tapi
dia
tetap tidak mau turun tangan.
Diam-diam Nyo-toakoh berpikir: "Semoga mereka masih mampu bertahan kira-kira sesulutan
dupa, saat itu tentu aku sudah keburu dapat menyelami cara permainannya."
Belum lenyap pikirannya, tampak Hun Ci-lo sedang melangkah legat legot seperti ular
sakti,
maka terdengarlah suara gemerincing yang ramai, dalam sekejap mata saja, kelima murid
pengeroyok itu seketika merasa telapak tangan tergetar keras, ruyung Song Beng-ki. dan
toya Oh
Lian-ba lebih dulu jatuh ke tanah, tombak Phui Liang juga terpental terbang ke tengah
udara,
sedang pedang panjang Gak Hou terampas oleh Hun Ci-lo, sementara sepasang roda Bun Seng
liong saling berhantam dan tak terkuasai lagi, saking besar benturan dari kedua
senjatanya itu,
roda bulannya malah terpental balik menusuk ke mukanya sendiri.
Sudah tentu kejut Bun Seng-liong bukan alang kepalang, di kala ia cepat-cepat melepas
tangan
dan mengendorkan tenaga serta memiringkan kepala, namun sudah terlambat sedetik, roda
rembulan itu terbang lewat dari samping lehernya dan giginya yang tajam dengan telak
kena
mengiris jatuh sebelah kupingnya.
Tadi Hun Ci-lo mengancam, hendak memberi tanda mata kepadanya, kini ancaman itu sudah
menjadi kenyataan, sebuah kupingnya tanggal dari kepalanya sebagai tanda mata yang
tidak
mungkin dihilangkan selama hidup, yang lebih celaka lagi justru ia sendiri yang turun
tangan
memberi tanda mata di atas badannya sendiri.
Yang lebih menakjubkan adalah cara Hun Ci-lo memainkan senjata. menggunakan waktunya
yang tepat, tenaganya yang persis serta perhitungan cara lawan pasti menggunakan
senjata
perlawanannya sedikit pun tidak meleset. Ilmu kepandaian yang hebat dan sakti begini
sungguh
sulit dibayangkan dan belum pernah terjadi. Adalah Nyo-toakoh mau tidak mau harus
memuji dan
kagum dalam hati, diam-diam ia membatin: "Selama puluhan tahun ini, aku belum pernah
kebentur musuh tangguh, malam ini mungkin aku kepergok musuh tangguh!"
Dalam pada itu terdengarlah Hun Ci-lo berkata pelan-pelan: "Beng-ki, Lian-ba kepandaian
kalian masih harus berlatih lagi lebih giat dan rajin, jangan ikut-ikutan para suhengmu
bermain
kasar kurang ajar." Setelah memberi peringatan kepada kedua murid terkecil ini lalu
pelan-pelan
memutar badan berkata kepada Gak Hou: "Kau bersekongkol dengan Bun Seng-liong,
seharusnya
aku harus beri tanda mata pula kepadamu, cuma mengingat kau tidak sekurang ajar seperti
Bun
Seng-liong, bolehlah kali ini kuampuni kau. Tapi pedangmu ini tidak bisa kukembalikan
kepadamu."
Lalu ia rangkapkan kedua jarinya pelan-pelan mengetuk ke atas batang pedang itu, "Tak"
pedang panjang Gak Hou kontan putus jadi dua.
Pucat pias muka Gak Hou, tanpa merasa bergidik seluruh badannya, saking gemetar kaki
terasa
lemas dan sempoyongan ke belakang.
Nyo Hoa masih duduk dalam kalangan yang dibuat ibunya, segera ia berteriak sambil tepuk
tangan: "Ibu menang, ibu menang. Ibu apakah kau hendak berkelahi dengan bibi juga?
Caramu
berkelahi sungguh baik sekali, aku tidak takut lagi."
Sebetulnya hatinya takut, tapi meski berusia kecil betapapun ia adalah putra seorang
Busu yang
kenamaan, kecil-kecil sudah punya hobby bermain silat, meskipun takut tapi rasa
senangnya
menonton itu menjadikan rasa takutnya lumer. Biasanya ia sering menonton ayahnya
berlatih
dengan para suheng-nya, tapi perkelahian ini lain, dalam benak kecilnya samar-samar
merasa
bahwa keenam suhengnya sedang mengeroyok ibunya, inilah perkelahian yang sungguhsungguh,
bukan latihan silat seperti ayahnya dengan para suhengnya dulu itu. Maka begitu melihat
ibunya
menang, tak kuasa lagi ia berteriak memuji, sementara dalam hati kecilnya berpikir:
"Air muka bibi
sangat jelek, tapi bila dia menyakiti ibu aku tidak akan peduli lagi padanya lebih baik
mereka
jangan berkelahi, tapi jika sampai berkelahi tentu, aku membantu ibu."
Sementara itu Bun Seng-liong menjemput kedua rodanya terus menghampiri Nyo-toakoh dan
berlutut di depannya, katanya: "Tecu tidak becus, membikin malu perguruan belaka, budi
dan
sakit hati guru sulit kubalas, harap Sukoh suka memberi keadilan kepada kami!"
Nyo-toakoh diam saja, kedua matanya yang tajam mengawasi gerak-gerik Hun Ci-lo, melirik
pun tidak ke arah Bun Seng-liong yang berlutut di hadapannya. Bun Seng-liong jadi serba
runyam
dan mengeluh di dalam hati, dalam hati ia membatin: "Apakah Loak-jiu-koan-im juga
gentar
menghadapi Hun Ci-lo, tidak berani menantangnya berkelahi?"
Setelah Bun Seng-liong selesai memberi laporan baru Nyo-toakoh mengidapkan tangannya,
katanya dengan nada berat: "Apakah belum cukup kau bikin malu perguruan?
Menggelindinglah
pergi, jangan mengganggu gerak-gerik kaki tanganku!"
Kena dicaci maki Bun Seng-liong malah kesenangan, bergegas ia melompat bangun seraya
meng-iakan berulang-ulang dan menyingkir ke samping. Mendengar ucapan Nyo-toakoh yang
terakhir itu lantas dia maklum bahwa Sukohnya sudah siap menempur Hun Ci-lo. Sebagai
jago
yang sudah keok, kuatir kena senjata nyasar sudah tentu ia menyingkir paling jauh
sembunyi di
balik pohon di dalam hutan, malah dia jongkok di belakang sebuah batu besar. Waktu ia
angkat
kepala, bayangan Gak Hou, Phui Liang dan lain-lain juga sudah menghilang, agaknya
mereka pun
lari sembunyi ke dalam hutan.
Dalam tanah pekuburan itu, kini tinggal Nyo-toakoh dengan Hun Ci-lo dan putranya,
keadaan
kembali menjadi hening lelap, kesunyian yang mencekam sanubari.
Dengan ujung bajunya Hun Ci-lo mcngebuti kotoran di atas badannya, dengan sikap wajar
ia
pandang Nyo-toakoh lalu katanya: "Cici masih ada omongan apa yang ingin kau ucapkan?
Kalau
tidak maaf aku segera harus mohon diri." Lahirnya kelihatan ia sangat tenang dan
bersikap wajar,
sebenarnyalah batinnya sedang bergejolak di rongga dadanya.
Nyo-toakoh berkata dingin: "Siapa sudi jadi Cicimu. Hun Ci-lo. jangan kau kira
demonstrasi
kepandaian silat kucingmu tadi lantas dapat menggertak takut aku. Kau hendak merat,
kukira
tidak segampang menurut kehendakmu."
"O, jadi kau melarang aku pergi?" ucapan Hun Ci-lo pun tidak kalah dinginnya. "Tapi
kalau kau
ingin menahan aku kukira juga belum tentu sedemikian gampang."
Dua belah pihak sudah sama siap siaga seperti dua jago aduan yang siap bertempur. Ki
Si-kiat
yang berdiri di samping sejak tadi, berpikir: "Perempuan jalang ini terang bukan
tandingan ibuku,
tapi kalau dia menggunakan putranya sebagai sandera, terpaksa ibu harus bertindak
secara hatihati.
Lebih baik aku rebut Piaute lebih dulu urusan selanjutnya tentu lebih mudah
diselesaikan."-
Usia Ki Si-kiat baru menanjak dewasa, darah panas pikiran masih terlalu sederhana,
meski Hun Cilo
pernah mengancam barang siapa berani melangkah masuk ke dalam kalangan yang dia gambar
di tanah menyentuh putranya, dia tidak akan main sungkan turun tangan dengan telengas.
Tapi
sedikit pun Ki Si-kiat tidak ambil perhatian ancaman ini. Justru karena ancaman Hun Cilo
ini lebih
menimbulkan rasa sirik dan gairahnya untuk melawan Hun Ci-lo.
Sebuah lengking jeritan kaget memecahkan suasana sunyi dan tegang dalam malam nan sunyi
di pekuburan di pinggir hutan. Secepat kilat Ki Si-kiat mendadak menubruk masuk ke
dalam
kalangan bundar, Nyo Hoa yang sedang duduk menjadi kaget dan menjerit sekeras-kerasnya.
Sebetulnya Ki Si-kiat bisa menggunakan kekerasan menyeret Nyo Hoa keluar, tapi
biasanya, dia
sangat sayang kepada adik misannya ini, tidak ingin dia membuatnya kaget dan takut,
maka cepat
ia menggandeng tangannya serta membujuk dengan kata-kata lembut: "Piaute jangan takut,
mari
kuajak ke dalam hutan mencari jeng-kerik."
Nyo Hoa meronta dan berteriak: "Tidak mau, aku tidak mau jengkenk, aku hendak ikut
ibu!"
Begitu mendengar jerit suara puteranya seketika berubah air muka Hun Ci-lo, cepat ia
layangkan telapak tangannya menusuk ke depan.
Sejak tadi Nyo-toakoh sudah menghimpun semangat waspada menanti serangan musuh,
menurut anggapannya mengandal kepandaian silat Hun Ci-lo, kalau orang tidak mengamuk
itulah
baik, tapi sekali mengamuk tentu sekaligus turun tangan secara keji, maka tanpa
mengejar
kemenangan dia menjaga diri lebih dulu, cepat ia bergerak dengan jurus Thi-so-heng-co
(rantai
besi membelenggu perahu), inilah jurus yang sudah dipersiapkan menurut rencananya,
kedua
telapak tangan bersilang melindungi dada, siap berjaga segala kemungkinan dari semua
perubahan serangan musuh, sekaligus dapat melancarkan serangan balasannya yang ganas
dan
mematikan.
Nyo-toakoh membekal kepandaian silat dari dua aliran perguruan yang sama liehaynya
(semasa
masih hidup suaminya adalah seorang cikal bakal sebuah perguruan), jurus Thi-so-heng-co
ini
adalah merupakan kombinasi dari kedua aliran silat yang dia sempurnakan sendiri. Jurus
ini
mempunyai keistimewaannya pula, dapat berjaga untuk balas menyerang, sedikit saja pihak
musuh lena dan menyerang tanpa perhitungan yang matang, tentu berakibat sangat fatal
karena
tergetar luka oleh tenaga pukulan balasannya. Jurus pukulannya ini secara diam-diam
mengandung tiga gelombang tenaga terpendam, gelombang demi gelombang lebih kuat dan
mantap, kecuali lwekang lawan lebih kuat, kalau sebaliknya, jangan harap lawan dapat
menggempur pertahanannya yang kokoh dan rapat ini.
Cara pertahanannya ini sebetulnya merupakan kepandaian silat tingkat tinggi yang sangat
serasi pula dengan keadaan. Di luar perhitungannya cara serangan Hun Ci-lo justru
berada di luar
dugaannya. Meski belum terhitung lebih unggul dan pintar dari dirinya, tapi paling
tidak sudah
membuatnya salah duga dan terjebak.
Ternyata itulah tipu daya Hun Ci-lo bersuara di timur menggempur di sebelah barat, ia
bergaya
melancarkan rangsakannya ke depan, seakan-akan hendak menubruk kepada Nyo-toakoh,
tibatiba
badannya justru melompat jumpalitan ke belakang, karena Nyo-toakoh berjaga-jaga membela
diri, ia jadi kelabakan dan terlambat untuk mengejar maju, tahu-tahu Hun Ci-lo sudah
menggunakan gaya Sip-siong-kiau-hoan-hun (jumpalitan di tengah awan sambil mengempiskan
dada), di kala tubuhnya meluncur turun kebetulan ia hinggap masuk ke dalam kalangan.
Secara sembrono Ki Si-kiat berani serampangan menerobos masuk ke dalam kalangan
terlarang, diam-diam Nyo-toakoh sudah mengeluh dan menginsyafi akan akibatnya yang
fatal tapi
dia tidak menduga akan permainan gertak sambel Hun Ci-lo yang cukup licin ini dilakukan
secara
lincah dan gesit pula, untuk memburu maju memberi pertolongan terang sudah terlambat.
Dalam
kejutnya terpaksa Nyo-toakoh berteriak keras: "Kiat-ji lekas menyingkir!"
Seumpama anak domba yang tidak takut menghadapi harimau bukan saja Ki Si-kiat melarikan
diri, dengan beraninya ia membalik sebelah tangannya begitu merasa adanya sambaran
angin
keras yang menyampuk datang dari sebelah belakang.
Terdengarlah jengekan dingin Hun Ci-lo: "Kau berani mengusik putraku, kalau tidak
kuberi
hukuman kepadamu, tentu kau anggap laranganku cuma bualan belaka." Dengan sejurus
Hudhunjiu
ia kebutkan lengan bajunya menyampuk tenaga pukulan Ki Si-kiat ke samping serta
menyeretnya ke belakang, seketika Ki Si-kiat tidak mampu menguasai badan ikut terhuyung
dan
berputar satu kali.
Di saat orang berputar tiba di hadapannya persis kedua jari Hun Ci-lo sudah terangkat
ke depan
persis memapak kedua biji matanya, dalam sedetik lagi kedua jari yang putih halus itu
bakal
berlumuran darah mencolok keluar dua biji mata Ki Si-kiat.
Maka terdengarlah hardikan Nyo-toakoh seperti geledek mengguntur: "Berani kau melukai
putraku, kuadu jiwa sekalian dengan kau."
Sepak terjang Hun Ci-lo sebenarnya tidak lebih cuma menggertak saja supaya Ki Si-kiat
kuncup
nyalinya, mendengar teriakan Nyo-' toakoh, ia jadi berpikir: "Kalau kutarik balik
tanganku, pasti dia
anggap aku takut ancamannya. Baik seumpama aku tidak perlu mengorek biji matanya,
paling
tidak harus kuberi tanda mata kepadanya."--begitu hawa amarah berkobar kedua jari
tangannya
menyerang secara sungguh-sungguh, ejeknya dingin: "Untuk apa biji mata anakmu yang
tidak
bisa melihat ini!"
Dalam keadaan yang gawat itu, Ki Si-kiat masih berusaha berkelit, lekas ia gunakan
Hong-tiamthau
(burung hong menganggukkan kepala) berbareng telapak tangannya terkepal menggenjot ke
depan memukul ke dada Hun Ci-lo dengan tenaga penuh. Itulah cara berkelahi yang tidak
mau
kena dihina dan bersikap nekad lebih suka gugur bersama.
Mengandal bekal Iwekang Hun Ci-lo yang cukup tinggi meski dadanya kena digenjot oleh Ki
Sikiat
pun tidak bakal bisa terluka. Tapi bilamana kedua jarinya diteruskan berhasil mengorek
bolong
batok kepalanya, kalau batok kepala Ki Si-kiat sampai terluka tentu jiwanya segera
melayang?
Walaupun Hun Ci-lo rada marah karena perbuatan bocah yang tidak aturan ini, betapapun
ia
belum tega untuk membikin buta matanya, apalagi mencabut nyawanya?
Untung latihan kepandaian ilmu silat Hun Ci-lo sudah mencapai kesempurnaannya, dapat
dilancarkan dan ditarik balik menurut suka hatinya, cepat-cepat dengan gaya Ih-singhoan-
wi
(merubah bentuk pindah kedudukan), kelima jarinya terkembang, jurus Ji-liong-jiang-cu
(dua naga
berebut mestika) ia rubah menjadi gerakan Hun-jiu yang hebat, telak sekali telapak
tangannya
kena menyanggah di bawah ketiak Ki Si-kiat serta membentak:
"Pergi!" —— Kepalan Ki Si-kiat mengenai tempat kosong, sehingga badannya tersurut ke
depan
begitu kena disanggah dan disentak ke atas kontan badannya mencelat terbang keluar dari
kalangan.
Di kala Nyo-toakoh memburu tiba, kebetulan Ki Si-kiat di tengah udara sedang jumpalitan
dengan gaya burung dara menukik turun tepat sekali ia hinggap di depan ibunya. Melihat
sang
putra tidak cedera baru Nyo-toakoh merasa lega, tapi ia berkata tawar: "Hun Ci-lo,
terhitung kau
tahu melihat gelagat!"
Sebetulnya Hun Ci-lo hendak membanting Ki Si-kiat jatuh celentang sebagai hukuman yang
setimpal, kejadian justru tidak terlaksana seperti perhitungannya, hal ini betul-betul
berada di luar
dugaannya, dalam hati ia berpikir: "Meskipun aku kurang menggunakan tenaga lebih keras,
tapi
dia kena kusengkelit masih mampu mengembangkan ginkangnya, dalam usia yang semuda ini
kepandaian ini boleh dipuji juga."
Cepat ia berkata dingin: "Sayang putramu ini she Ki, antara paman dan keponakan tiada
hubungan guru dan murid lagi, kalau tidak Ciangbun Tecu dari perguruan Nyo ini jelas
bakal
menjadi jabatannya. Soalnya aku tidak ingin pelajaran silat keluarga Nyo kalian putus
turunan,
baru kuampuni jiwanya. Kau sangka aku gentar kau gertak?"
Ucapannya ini seperti memuji tapi juga cukup pedas sindirannya. Maklum keluarga Ki
merupakan keluarga besar yang sama tenar dan seangkatan dengan keluarga Nyo. Kini Hun
Ci-lo
memuji Ki Si-kiat sudah berhasil mempelajari ajaran silat murni dari perguruan Nyo,
secara tidak
langsung ia mau bicara bahwa Ki Si-kiat belum atau tidak mampu mempelajari kepandaian
silat
dari keluarga Ki. Kalau soal ini lebih diselami lagi timbul pertanyaan, kenapa
pelajaran silat murni
dari aliran keluarga sendiri tidak becus dipelajari? Jawaban ini ada dua sebab, yaitu:
pertama,
pelajaran silat keluarga Ki hakikatnya tidak setanding dengan kepandaian silat keluarga
Nyo, maka
Ki Si-kiat lebih suka belajar silat perguruan lain dari pelajaran turunan leluhurnya
sendiri. Kedua,
bahwa Nyo-toakoh memberikan bekal pelajaran silat keluarganya sendiri secara tekun
kepada
putranya, sehingga terjadilah kombinasi bekal kepandaian kedua aliran kedua keluarga
itu, tapi
pendapatan yang dia peroleh dari pihak ibunya jauh lebih banyak lebih matang dari
ajaran yang
diberikan dari ayahnya.
Namun biasanya di dalam Bulim ada sebuah aturan yang tidak resmi yaitu anak putri yang
sudah menikah, kecuali mendapat ijin dari ayah atau sanak kadang terdekat dari
keluarganya,
kalau tidak sekali-kali dilarang memberikan ajaran silat pembawaan dari keluarga
aslinya kepada
sang putra. Sudah tentu ada kekecualiannya, pula seumpama sang keponakan diangkat jadi
murid
oleh paman dan diajari silat dari keluarga ibunya.
Secara gamblang Hun Ci-lo memuji bahwa Ki Si-kiat sudah mendapat ajaran murni dari
keluarga Nyo, ditinjau dari sudut lain secara tidak langsung hal ini telah merendahkan
derajat
keenam murid Nyo Bok malah. Apalagi dikatakan pula dia cukup setimpal menjadi Ciangbun
Tecu
perguruan Nyo, dalam pendengaran Bun Seng-liong ia jadi mual seperti isi perut sudah
jungkir
balik sulit dirasakan. Mau tidak mau Bun Seng-liong jadi berpikir: "Kemungkinan besar
buku
pelajaran silat milik suhu disimpan dan dicaplok oleh Hun Ci-lo, tapi bukan mustahil
pula sudah
diambil oleh Nyo-toakoh!"
"Hun Ci-lo," terdengar Nyo-toakoh tertawa dingin, "apakah belum puas kau mencelakai
jiwa
adikku, dan kini mengobarkan rasa sirik dan mengadu domba di antara keluarga kita? Hm,
hm,
sekarang kau bukan warga keluarga Nyo, urusan keluarga Nyo tidak perlu kau turut campur
lagi!"
Anggapannya dia hendak membongkar akal licik Hun Ci-lo. Sebetulnya Hun Ci-lo tidak
mempunyai maksud-maksud jahat dan keji sedemikian jauh. Meskipun dalam hati kecilnya ia
sangat benci terhadap Bun Seng-liong.
Hun Ci-lo tidak mau main debat, dengan tawar ia tertawa, ujarnya: "Ucapanmu tidak
salah,
memang aku sekarang bukan warga keluarga Nyo. Hoa-ji! Mari kita pergi!" -sambil
menggandeng
anaknya segera ia tinggal pergi.
Cepat Nyo-toakoh membentak: "Hoa-ji adalah keturunan tunggal adikku merupakan tulang
daging keluarga Nyo pula, tidak kuijinkan kau membawanya pergi!"
Hun Ci-lo menyeringai dingin, jengeknya: "Aku sudah melepaskan anakmu, apakah
sebaliknya
kau tidak rela memberi kelonggaran pada anakku?"
"Memang aku harus berterima kasih dan menaruh hormat kepadamu karena kau sudah
memberi pengampunan jiwa kepada Si-kiat. Sekarang baiklah tidak kupersoalkan lagi
peristiwa
pembunuhanmu terhadap adikku, untuk ini kukira cukup setimpal untuk mengimpas
kebaikanmu."
"Banyak terima kasih," Hun Ci-lo tertawa dingin pula. "Tapi hati nuraniku sendiri
bicara bahwa
aku tiada dosa terhadap siapapun jua, maka tidak perlulah kau pura-pura mengobral budi
kebaikan terhadapku."
Sebenarnya bukan Nyo-toakoh tidak ingin menuntut balas bagi kematian adiknya, soalnya
ia
tiada pegangan untuk mengalahkan Hun Ci-lo, maka dengan akal lain ia pura-pura main
budi dan
kebaikan. Tapi sesuai dengan nama gelarannya Loak-jiu-koan-im (dewi Koan-im bertangan
gapah), adalah sangat ganjil dan belum pernah terjadi selama ini bahwa dia bisa menaruh
belas
kasihan dan main budi apa segala. Untuk ini dia sendiri sudah merasa sangat janggal
merendahkan martabatnya dan cuma bermuka-muka saja terhadap Hun Ci-lo. Siapa tahu
justru
Hun Ci-lo tidak mau memberi muka dan mengalah terhadapnya sehingga ia serba runyam dan
kikuk, mau tidak mau berkobar amarahnya.
Sambil menggandeng tangan putranya Hun Ci-lo tinggal pergi ke arah depan sana, seolaholah
dia tidak ambil peduli terhadap Nyo-toakoh, namun dalam hati ia selalu waspada dan
berhati-hati.
Maklum pertempuran bagi kaum persilatan tingkat tinggi yang diperjuangkan cuma soal
waktu dan
kesempatan, kalau Nyo-toakoh rada gentar menghadapi dia, sebaliknya Hun Ci-lo sendiri
juga
cukup jeri melawan dia. Sikapnya cukup tenang dan wajar seperti memandang rendah pada
lawannya, tujuannya ini memang hendak membangkitkan amarah Nyo-toakoh.
Betul juga belum lagi pikirannya lenyap, terdengarlah Nyo-toakoh menjengek dingin: "Hun
Cilo,
kau boleh bawa pergi putramu asal kau dapat lolos dari sepasang telapak tanganku ini!"
gerak
tubuhnya laksana kilat, seiring dengan suaranya badannya pun sudah menubruk tiba
menghadang
jalan Hun Ci-lo, kedua telapak tangannya terayun bersama. Telapak tangan kanan
menyerang
kepada Hun Ci-lo sementara tangan kiri merebut putranya secara kekerasan.
"Jangan kau lukai putraku!" Hun Ci-lo membentak, dalam sekejap itu kedua telapak tangan
Hun
Ci-lo pun terayun menari.
Begitu empat telapak tangan kebentur di tengah jalan, terasalah perubahan dan
kekuatannya
yang sama aneh dan liehaynya. Di mana telapak tangan kiri Hun Ci-lo merangsak ia
seperti
membentur dinding baja yang kokoh kuat mengeluarkan suara benturan keras seperti bunyi
geledek. Sementara telapak tangan kanan sebaliknya seperti memukul setumpukan kapas
yang
lemas dan empuk tiada membawa reaksi apapun. Meski kepandaian Hun Ci-lo cukup tinggi
dan
liehay, mau tidak mau bercekat juga hatinya. "Kepandaian Kim-kong-lak-yang-jiu
perempuan galak
ini ternyata sudah terlatih sedemikian liehay dan sempurna, sekali-kali aku pantang
memandang
rendah padanya!" demikian batinnya.
Kim-kong-lak-yang-jiu adalah ilmu tunggal dari ajaran keluarga Nyo, kekuatan pukulan
tangannya yang keras dan ulet sudah lama menggetarkan dunia persilatan. Ilmu pukulan
ini
merupakan jiplakan dari Tay-Iik-kim-kong-jiu dari Siau-lim-pay, tapi antara Tay-likkim-
kong-jiu
dengan Kim-kong-lak-yang-jiu mempunyai perbedaan yang teramat menyolok sekali. Jurusjurus
permainan Tay-lik-kim-kong-jiu sangat sederhana, setiap pukulan cuma sejurus saja,
meskipun
dilandasi kekuatan yang hebat dan keras sekali tapi tiada mengandung perubahan apa-apa,
yang
diandalkan hanyalah Iwekang yang hebat untuk mengalahkan musuh.
Adalah Kim-kong-jiu dari keluarga Nyo ini justru setiap jurusnya mengandung tipu-tipu
yang
banyak ragam perubahannya, satu kali pukulan secara tidak terduga tersembunyi enam
macam
gerak perubahan yang teramat liehay. Dalam ilmu pukulan umumnya sejurus ilmu pukulan
mengandung dua gerak perubahan sudah sulit dipelajari, apalagi sejurus mengandung enam
tipu
gerak perubahan, hal ini benar-benar sulit dicari tandingannya di Bulim. Oleh karena
itu perbawa
pukulan ini mungkin memang tidak bisa menandingi Kim-kong-jiu dari Siaulim-pay, tapi
bila
menghadapi lawan yang setanding, Kim-kong-lak-yang-jiu dari keluarga. Nyo ini kiranya
cukup
berlebihan untuk menggasak dan merobohkan lawan dalam keadaan kurang siaga dan waspada.
Ilmu pukulan yang menggunakan landasan kekuatan keras atau negatif macam Kim-konglakyangjiu
umumnya tidak cocok dipelajari kaum hawa, tapi Nyo-toakoh justru dapat
mencangkoknya secara aneh dengan menggunakan cara-cara yang cukup berbelit-belit,
menambah berbagai perubahan dan variasi dalam ilmu pukulan asli dari keluarga Nyo ini,
mengurangi sedikit kekuatan tenaga keras atau negatifnya dan diganti dengan berbagai
tenaga
lunak atau positif, dari ajaran murni kekuatan keras dikombinasikan dengan landasan
negatif dan
positif. Oleh karena itu meski Kim-kong-lak-yang-jiu yang dipelajari Nyo-toakoh memang
boleh
dikata mendapat warisan murni keseluruhannya dari ajaran leluhurnya, tapi sedikit
banyak sudah
ia rubah dan tambah berbagai ciptaan yang lebih sempurna, lebih liehay dan hebat dari
ajaran
mumi semula, malah Kim-kong-lak-yang-jiu yang dia bekal ini jauh lebih telengas dan
keji pula.
Selama sepuluh tahun lebih Hun Ci-lo menjadi istri Nyo Bok, sudah tentu ia sangat hafal
dan
dapat menyelami sampai di mana tingkat kepandaian Kim-kong-lak-yang-jiu dari keluarga
Nyo ini,
adalah di luar dugaannya bahwa Kim-kong-lak-yang-jiu permainan Nyo-toakoh ini justru
jauh
berbeda dari apa yang pernah dia selami, untuk sesaat ia jadi bingung dan kehilangan
akal untuk
berpikir cara bagaimana untuk mengatasi dan mengalahkan ilmu pukulan lawan, seketika ia
terdesak hebat oleh pukulan Nyo-toakoh yang gencar. Akan tetapi bekal kepandaian silat
Hun Ci-lo
sendiri memang cukup tinggi, dalam waktu dekat Nyo-toakoh pun tidak akan mampu
merobohkannya.
Tapi meski demikian betapapun Hun Ci-lo di pihak yang kena dirugikan. Begitu segebrak
dapat
menempatkan posisi di tempat yang lebih unggul sudah tentu Nyo-toakoh tidak menyianyiakan
kesempatan ini, laksana hujan badai pukulan tangannya memberondong mengincar badan Hun
Cilo.
Karena tenaga pukulan tangannya mengandung kekuatan negatif dan positif perbawanya pun
cukup hebat, kadang-kadang angin menderu laksana angin taufan di padang sahara, ada
kalanya
pula menjadi lembek laksana dahan pohon yang melambai tertiup angin lalu, antara keras
dan
lunak saling atas mengatasi dan berubah ganti berganti tidak kenal putus, kelihatannya
pukulan
yang dilancarkan dilandasi kekuatan keras, namun tiba-tiba berubah menjadi tenaga
lunak, Hun
Ci-lo jadi sukar menyelami dan meraba gerak perubahan permainan lawan, terpaksa ia main
mundur dan mundur lagi.
Selain itu masih ada pula segi-segi yang merugikan bagi Hun Ci-lo yaitu dia harus
melindungi
putranya, maka dia hanya bisa menggunakan sebelah tangannya melawan musuh, apalagi dia
tidak berani melangkah lebih tiga tindak dari tempat putranya, oleh karena itu gerak
geriknya yang
cukup lincah dan gesit jadi sulit dikembangkan.
Dalam pertarungan yang sengit itu, tiba-tiba pukulan Nyo-toakoh menyelonong tiba tanpa
bersuara, jelas Hun Ci-lo sudah tidak mampu lagi melawan, terpaksa dia harus berlaku
nekad
mandah kena diga-blok dengan keras supaya putranya tidak kena cedera, adalah dalam
waktu
yang gawat itu tiba-tiba Nyo-toakoh merubah permainannya menyerang ke arah tempat
kosong
yang berlawanan dengan kedudukan keponakannya. Kontan tergerak hati Hun Ci-lo,
terbayang
olehnya suatu akal untuk merebut kemenangan dalam posisi yang terdesak ini. Sebetulnya
dia
berada di muka menutupi putranya, kini mendadak mundur ke samping sehingga putranya
dibiarkan berada di sebelah mukanya. Dalam hati ia berpikir: "Ah-hoa kau anggap sebagai
keturunan tunggal keluarga Nyo, betapapun kau tidak akan berani melukainya!"
Benar juga Nyo-toakoh terperanjat, cepat ia rubah pukulan telapak tangan menjadi
cengkeraman, maksudnya hendak meraih Nyo Hoa, tiba-tiba dari membela diri Hun Ci-lo
balik
merangsak dengan gencar, delapan penjuru angin terbayang berlapis-lapis telapak tangan
yang
serabutan dan menggempur dengan gencar, selintas pandang orang akan kabur pandangannya.
Kiranya ilmu pukulan yang dia lancarkan ini bernama Loh-ing-ciang-hoat. Ilmu ini adalah
ciptaan
seorang pendekar pada ratusan tahun yang lalu. Nyo-toakoh sendiri belum pernah melihat
ilmu
pukulan yang aneh dan hebat ini!
Untuk melancarkan ilmu Loh-ing-ciang-hoat ini perlu dikombinasikan dengan ilmu ginkang
yang
tinggi, Hun Ci-lo sendiri ada mem-bekal semacam ilmu yang dinamakan Coan-hoa-sau-siokhoat
(gerak tubuh mengitari pohon menyelundup ke dalam rumpun bunga), langkah kakinya
laksana
awan mengembang seperti air mengalir, indah gemulai mempesona, tiba-tiba berada di
depan
mendadak memutar ke sebelah belakang, sekonyong-konyong berkelebat ke kiri dan tahutahu
sudah berada di sebelah kanan pula, gerak-geriknya sungguh serasi benar dengan
permainan Lohingciang-
hoat yang dia kembangkan. Kalau tadi Hun Ci-lo harus melindungi putranya tidak
berani
mainkan ilmu pukulannya kini dengan tanpa kuatir dan tiada ganjalan hati apa-apa
posisinya jauh
lebih untung, lambat laun malah semakin mendesak berada di atas angin, cukup sepuluhan
jurus
saja ia bikin lawannya kerepotan dan terdesak mundur.
Sembari mundur Nyo-toakoh menjadi sengit dan memaki dengan gemas: "Perempuan jalang
yang keji, berani kau gunakan keponakanku sebagai tameng keselamatanmu?"
Acuh tak acuh Hun Ci-lo menyahut dingin: "Kau sendiri yang takut melukai bocah ini,
kalau
takut mari tentukan waktu dan tempat yang lain, kutantang kau bertanding satu lawan
satu. Kalau
aku kalah, kami ibu beranak rela kau hukum dan terima nasib. Kalau kau yang kukalahkan
untuk
selanjutnya kularang kau mengurusi bocah ini, bagaimana kau berani dan setuju?"
"Kau kira aku gampang kau tipu?" semprot Nyo-toakoh gusar, "Untuk bertanding satu lawan
satu cukup di sini saja. Kau tempatkan anakmu di dalam hutan, biar Si-kiat
melindunginya. Kalau
kau mampu mengalahkan aku kubiarkan kau pergi membawa anakmu!"
"Kau tidak percaya padaku, masa aku sebaliknya harus percaya kepadamu?" demikian jengek
Hun Ci-lo.
Nyo-toakoh menjadi gusar, bentaknya: "Perkataan seorang kuncu seumpama kuda yang
berlari
kencang, aku kaum hawa, ucapanku pasti dapat dipercaya, berani kau tidak percaya akan
omonganku!"
Pelan-pelan Hun Cin-lo berkata: "Memangnya ucapanku juga tidak dapat dipercaya? Kenapa
pula kau tidak percaya akan kata-kataku? Apalagi seumpama aku percaya akan omonganmu,
belum tentu aku percaya pada putramu, lebih aku tidak bisa percaya sama Bun Seng-liong,
Gak
Hou bocah-bocah kurang ajar yang tidak tahu tata kehormatan."
Sembari bicara sepasang telapak tangan Hun Ci-lo masih bekerja dengan cepat, belum lagi
ucapannya selesai Nyo-toakoh sudah terdesak mundur puluhan langkah ke belakang,
jengeknya
pula: "Jelas kau tidak akan mampu merintangi keberangkatan kami ibu beranak maka
kuanjurkan
pada kau perkara bikin habis saja sampai di sini. Berikanlah kesempatan kepada kami
pergi supaya
kedua belah pihak masih punya hubungan yang cukup intim supaya kelak masih ada muka
untuk
berjumpa kembali."
Hun Ci-lo menganggap bahwa dirinya sudah berada di atas angin, kemenangan jelas bakal
dicapainya, tanpa hiraukan Nyo-toakoh sudi atau tidak memberi jalan ia terjang terus
dengan
kekerasan. Siapa duga sesuai dengan nama julukan Nyo-toakoh Loak-jiu-koan-im, sudah
tentu
gelar namanya ini tidak diperolehnya secara sia-sia dan tanpa sebab. Sekilas ia
mengerut kening
tiba-tiba terbayang olehnya sebuah tipu akal: "Kenapa aku tidak membalasnya dengan
caranya
yang sama!"
Setelah mantap hatinya berke-putusan, kedua telapak tangannya serentak merabu gencar
balas
menyerang dengan jurus-jurus Kim-kong-lak-yang-jiu yang mematikan! Malah kali ini ia
kerahkan
tujuh bagian tenaga negatifnya yang keras dan deras.
Hun Ci-lo terkejut, batinnya: "Mungkinkah dia berani melukai puteraku ?" Betapa cepat
serangan Nyo-toakoh, belum lagi lenyap jalan pikiran Hun Ci-lo, kedua serangan telapak
tangannya sudah melayang tiba laksana geledek menyambar kilat berkelebat! Dinilai dari
daya
kekuatan pukulannya ini agaknya ia sudah berlaku nekad dan tidak menaruh kekuatiran
apapun
jua! Cepat-cepat Hun Ci-lo harus melindungi keselamatan putranya, dengan meng-empos
tenaga
sekuatnya ia berusaha memunahkan rangsakan musuh, tapi tak urung ia balas terdesak
kembali
ke tempatnya semula.
Nyo-toakoh tertawa dingin: "Sebagai seorang ibu kau tidak hiraukan keselamatan putramu,
apalagi aku yang menjadi bibinya masa harus menaruh belas kasihan malah! Seumpama
sampai
melukai dia, kukira adiku pasti akan dapat memaafkan aku di alam baka. Karena sekarang
aku
sedang menuntut balas bagi kematiannya!"
Kiranya Kim-kong-lak-yang-jiu yang dimainkan Nyo-toakoh ini ternyata berada di atas
dari
penilaian Hun Ci-lo semula, tenaga pukulannya sudah mencapai taraf yang sempurna dapat
dilancarkan dan ditarik balik sesuka menurut kehendak hatinya, seandainya benar-benar
pukulannya kena di tubuh Nyo Hoa tidak akan bisa membikinnya mampus. Paling-paling
bocah itu
kena dibikin kaget dan terjatuh, luka ringan jelas tidak bisa terhindar lagi. Nyotoakoh
justru sudah
berketetapan menempuh bahaya yang telah diperhitungkan sebelumnya ini.
Benar juga Hun Ci-lo kena ditipunya, sudah menjadi kodrat alam seorang ibu sangat
sayang
dan pasti melindungi putranya, melihat serangan Nyo-toakoh benar-benar ganas dan
telengas
bagaimana dia tidak akan gelisah? Saat itu seandainya ia tahu bahwa Nyo-toakoh tidak
akan tega
melukai Nyo Hoa, tapi masa dia sendiri berani mempertaruhkan jiwa putranya dalam
pertempuran
yang sengit ini. Apa boleh buat sekuat tenaga ia harus berusaha melindungi jiwa Nyo Hoa
meski ia
sendiri harus mempertaruhkan jiwa.
Kepandaian mereka boleh terhitung setail delapan uang alias setanding dan setingkat.
Kini
sepihak punya rasa kekuatiran dan harus berjaga-jaga terhadap putranya, sebaliknya
pihak yang
lain menggempur gencar dengan sekuat tenaga, sudah tentu Hun Ci-lo jadi tidak mampu
lagi
menghadapi amukan Nyo-toakoh ini.
Nyo Hoa sembunyi di belakang Hun Ci-lo, melihat roman wajah bibinya sedemikian bengis
dan
garang, menggasak dan memberondong ibunya mundur berulang-ulang, saking takut akhirnya
ia
menangis, teriaknya: "Ibu, kalian jangan berkelahi lagi, aku takut, aku takut!"
Dengan sejurus jian-jiu (tangan memutar) Nyo-toakoh merangsak lagi untuk menutup
kesempatan rangsakan balasan Hun Ci-lo, bentaknya: "Hun Ci-lo, tinggalkan saja
keponakanku ini,
kuberi, kesempatan kau pergi! Kalau tidak jangan sesalkan kalau aku berlaku telengas,
tidak
menjadi soal jiwamu melayang, namun jiwa putramu yang tidak berdosa masa harus ikut
dikorbankan !"
Hun Ci-lo menghela napas, ujarnya: "Kenapa kau sedemikian kukuh hendak memisahkan kami
ibu beranak?"
"Anak ini adalah keturunan tunggal keluarga Nyo kita, aku tidak bikin panjang urusan
kau
membunuh suami, masa kau masih berkukuh hendak berebut anak itu denganku?"
"Dengan dalih apa kau berani mengatakan anakku sebagai keturunan tunggal keluarga Nyo
kalian..."
"Anak ini kan putra adikku, sudah tentu menjadi keturunan keluarga Nyo kita, kau
sendiri sudah
bukan menjadi warga keluarga Nyo, masih ada muka kau minta-minta kepadaku?"
Hun Ci-lo jadi berpikir: "Lebih baik tidak kuberitahukan kepadanya, kalau tidak mungkin
jiwa
putraku ini pun sulit kuselamat-kan."
Tapi Nyo Hoa menjerit-jerit: "Aku tidak mau ikut bibi, aku suka ikut ibu!"
"Keponakanku yang baik jangan menangis lagi, ibumu bukan orang baik, dialah yang
mencelakai jiwa..."
Berdiri alis Hun Ci-lo, hardiknya: "Jangan kau menista diriku di hadapan putraku, atau
aku
harus adu jiwa dengan kau!"
Harapan Nyo-toakoh hanya minta kembali keponakannya, maka terpaksa ia telan kembali
katakata
yang sedia diucapkan, katanya: "Baik. sekarang tidak kukatakan, setelah dia besar kelak
tentu akan paham sendiri duduk perkaranya. Suruhlah dia ikut padaku!"
"Kau harus berjanji padaku untuk merawatnya baik-baik!"
"Sungguh menggelikan dan omong kosong belaka! Nyo Hoa adalah tulang daging keluarga
Nyo,
bagaimana mungkin aku tidak akan merawatnya baik-baik?"
"Baik. Kalau begitu aku rela dan cukup lega. Hoa-ji, kau boleh ikut bibi pulang saja!"
Tiba-tiba
ia mencium kedua pipi anaknya terus mendorongnya ke depan sambil menutup mukanya ia
berlari
pergi. Suara tangis anaknya laksana ujung panah menghunjam ke uluhatinya, kuatir kalau
dia
menghentikan langkah tidak akan tega melihat putranya yang tersayang, terpaksa ia
berlari
semakin kencang dan tidak menoleh lagi.
Setelah melihat Hun Ci-lo pergi jauh tak terlihat lagi, para murid dari perguruan Nyo
itu baru
beramai-ramai keluar dari tempatnya sembunyi. Sebagai calon Ciangbun Tecu cepat-cepat
Bun
Seng-liong menjura dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Nyo-toakoh, katanya:
"Kepandaian silat Sukoh memang hebat dan tiada tandingan, akhirnya perempuan jalang itu
berhasil digebah pergi dan melindungi nama baik perguruan kita. Kami para murid sungguh
banyak terima kasih dan semoga arwah suhu di alam baka dapat istirahat dengan
tentram.'"
Gak Hou pun ikut menimbrung: "Cuma sayang Hun Ci-lo berhasil melarikan diri.'"
"'Berkat jiwa besar Sukoh baru dia berhasil lari, kalau tidak masa perempuan jalang itu
masih
bisa hidup?" demikian umpak Bun Seng-liong.
Cepat-cepat Gak Hou menambahkan: "Benar, sepak terjang Sukoh memang amat
mengagumkan, antara budi dan tekanan serta kebaikan sekaligus telah dilaksanakan dalam
selintas tindak, kami para murid sungguh kagum!"
Sementara dalam hati ia membatin: "Cara kepandaian suheng menepuk pantat ternyata jauh
lebih liehay dari aku. Kali ini jikalau Sukoh tidak mempertaruhkan jiwa sute cilik
untuk menekan
dan mengancam Hun Ci-lo, siapa unggul siapa asor mungkin sulit diduga."
Rona wajah Nyo-toakoh membeku dingin, hidungnya mendengus lalu berkata: "Jangan kalian
menempel emas di mukaku, malam ini betapapun aku tidak kuasa membekuk atau mengalahkan
dia. menguntungkan perempuan jalang itu saja! Tapi akan datang suatu ketika aku akan
mencari
perhitungan dengan dia. Baiklah, kalian tidak usah cerewet lagi, kalian boleh lekas
pulang. Mencari
buku pelajaran silat guru kalian lebih penting."
Mendengar ucapan Sukohnya ini diam-diam Bun Seng-liong girang, pikirnya: "Sukoh berkata
demikian, buku pelajaran silat itu pasti masih tersimpan di rumah guru."-Semula ia
curiga bahwa
Hun Ci-lo sudah melalapnya, akhirnya curiga pula pada Nyo-toakoh, cuma biasanya tindak
tanduk
Nyo-toakoh cukup terang-terangan dan cerdik lagi. sekali turun tangan tidak mengenal
belas
kasihan, setiap musuhnya pasti merasakan kekejaman tangannya. Setelah menempur puluhan
jurus melawan Hun Ci-lo. seandainya buku pelajaran silat adiknya berada di tangan Hun
Ci-lo,
mengandal ketajaman dan pengalamannya pasti dapat melihat tegas dari segala gerakgeriknya.
Bahwa dia tidak mengancam dan meminta kepada Hun Ci-lo untuk menyerahkan buku pelajaran
itu, ini membuktikan bahwa buku rahasia silat itu memang benar-benar tidak berada di
tangan
Hun Ci-lo. Apalagi mengandal nama dan kedudukan Nyo-toakoh. betapapun dia tidak akan
bicara
bohong atau membual terhadap para keponakan muridnya. Kalau toh dia suruh para
keponakan
muridnya pulang mencari di rumah, sekali lagi membuktikan bahwa buku pelajaran silat
perguruan
mereka memang tidak tercuri hilang. Oleh karena itu semula Bun Seng-liong merasa putus
asa
dan tiada harapan, setelah mendengar ucapannya yang terakhir hatinya bersorak
kegirangan.
Mendadak Nyo Hoa menjerit gerung-gerung, teriaknya: "Kalian kenapa memaki ibuku, aku
tidak
mau pulang dengan kalian. Aku ingin ikut ibu. aku ingin ikut ibu!"
Dengan suara halus Nyo-toakoh lantas membujuknya: "Anak manis jangan menangis, ibumu
orang jahat, bibi akan sayang kepadamu!"
"Tidak!" teriak Nyo Hoa, "Kalian menjelek-jelekkan ibu, kau inilah orang jahat!"
Nyo-toakoh mengerutkan kening, makinya: "Anak kecil tidak tahu aturan, tidak boleh
sembarangan omong!"-Sekali raih ia mengangkatnya terus dibopong kencang, sehingga Nyo
Hoa
tidak bisa berkutik dalam pelukannya, terpaksa hanya menjerit-jerit dan menangis
gerung-gerung.
Nyo-toakoh tidak peduli tangis dan jeritannya, dengan kekerasan ia bawa anak kecil ini
pulang ke
rumah.
Begitu tiba di rumah Nyo Bok. langsung Nyo-toakoh menyerahkan Nyo Hoa kepada Cui-hoa,
itu
pelayan yang kena dipelet oleh Gak Hou. Dengan memimpin semua keponakan muridnya ia
memeriksa dan menggeledah kamar tidur Hun Ci-lo. Cuma demi gengsi dan kedudukan ia
hanya
memberi petunjuk dan samping tanpa ikut turun tangan.
Geledah punya geledah buku pelajaran silat yang dicari tidak ketemu tapi mereka
mendapatkan
sepucuk surat peninggalan Nyo Bok. Pertama-tama Ki Si-kiat yang bersuara heran,
serunya: "Bu,
inilah surat Kuku (paman) yang ditujukan kepadamu!"
Waktu Nyo-toakoh menerima sampul surat itu, tampak di mana tertulis:
"Disampaikan kepada Lian-ci"
Sewaktu masih perawan nama asli Nyo-toakoh adalah Nyo Lian.
Nyo-toakoh kenal gaya tulisan adiknya, diam-diam hatinya menjadi heran dan curiga.
Sambil
menyobek sampul surat itu dalam hati ia membatin: "Mungkinkah adikku sudah tahu bahwa
dirinya akan dicelakai oleh Hun Ci-lo, sebelumnya sudah menyiapkan surat peninggalan
terakhir ini
mohon aku, menuntut balas baginya? Surat ini disimpan dalam laci lemari toilet Hun Cilo,
masa
Hun Ci-lo tidak menemukannya sebelum ini?"
Soalnya terlalu tebal kepercayaan Nyo-toakoh bahwa adiknya dicelakai oleh Hun Ci-lo,
maka,
sedikit pun ia tidak pernah memikirkan liku-liku lainnya dalam sebab musabab peristiwa
itu.
Siapa tahu setelah ia membaca surat itu, baru ia sadar bahwa dugaannya ternyata
meleset.
Tampak dalam surat itu berbunyi:
"Lian-ci yang budiman. Adik terlibat dalam suatu pertikaian yang sulit kukemukakan
kepadamu,
cuma kematianlah yang dapat membebaskan diriku dari libatan persoalan itu. Segala
kejadian ini
tiada sangkut paut dengan adik iparmu (maksudnya Hun Ci-lo), setelah aku mangkat,
jangan kau
menekan dia berkabung menjadi janda, seumpama dia hendak pergi membawa putra kami. kau
pun jangan merintangi, berilah kebebasan kepadanya. Sebab musabab kematianku kau pun
tidak
usah tanya atau menyelidiki dari mulut iparmu. Pendek kata sekali-kali jangan kau
mempersulit
kepadanya, atau meski adikmu tiba di alam baka pun tidak akan meram dengan tentram.
Apalagi
seumpama adikmu beruntung tidak sampai ajal dalam persoalan ini, sepuluh tahun yang
akan
datang pasti akan kujelaskan segala seluk beluknya kepadamu. Cuma mati atau hidup sulit
ditentukan, tergantung kepada Tuhan yang maha pengasih untuk memberikan peluang hidup
bagiku. Tapi di hadapan orang kau harus anggap bahwa aku memang sudah ajal benar-benar,
kalau tidak, seumpama aku beruntung terhindar dari bencana kali ini. elmaul akan selalu
mengancam keselamatanku juga."
Bunyi surat ini sembunyi-sembunyi kurang gamblang, Nyo-toakoh menaruh heran dan curiga,
tapi hatinya pun menjadi lega dan girang pula. Nyo-toakoh bersikap wajar, diam-diam ia
membatin: "Dari nada bicara surat ini, jelas bahwa adik memang bunuh diri. Tapi
bagaimana
mungkin bisa beruntung terhindar dari bencana?"
Tiba-tiba teringat olehnya akan cerita si maling sakti di malam si maling sakti Kwihwe-
thio
menemukan Nyo Bok hendak bunuh diri dan ketahuan oleh Hun Ci-lo serta menolongnya, Nyo
Bok
pernah berkata: "Bunuh diriku ini hanya setengah-setengah, separuh sungguh-sungguh
separuh
pura-pura. Di saat Kwi-hwe-thio mengisahkan ucapan Nyo Bok ini, ia pernah mengomentari
dengan rasa heran dan tidak mengerti: "Bunuh diri ya bunuh diri, masa ada bunuh diri
setengah
sungguh-sungguh setengah pura-pura?"
Saat ini Nyo-toakoh pun merasa serba curiga dan gundah, tapi seolah-olah ia sudah dapat
meraba sedikit juntrungannya. dari ucapan dalam surat yang kurang gamblang ini,
bukankah
secara langsung sudah memberi penjelasan mengenai 'setengah sungguh dan setengah purapura'
itu?
Bahwasanya adikku benar-benar mati atau pura-pura mati? Setelah melihat surat itu
Nyotoakoh
jadi menduga-duga dan bertanya-tanya dalam hati. Peti mati sudah dibongkar tanpa
menemukan jazatnya, jelas bahwa kematian ini hanya pura-pura saja. Tapi kalau adik
masih hidup
kenapa dia harus menjelaskan sepuluh tahun kemudian? Bukankah cuma aku seorang sanak
kadangnya yang terdekat! Begitulah Nyo-toakoh berpikir-pikir. Pikir punya pikir
sanubarinya
terketuk, tanpa merasa ia jadi duka dan lara. Tapi betapapun harapan ada, semogalah
sepuluh
tahun mendatang ia dapat jumpa kembali dengan adiknya. Oleh karena itu meski hatinya
duka
dan sedih, tapi merasa terhibur juga.
Ki Si-kiat bersama Bun Seng-liong dan lain-lain menunggu sambil menahan napas, setelah
sinar
mata Nyo-toakoh beralih dari pucuk surat itu. tanpa berjanji Ki Si-kiat dan Bun Sengliong
bertanya bersama: "Bu. apa yang ditulis Kuku dalam suratnya itu?" -
"Sukoh, suhu ada meninggalkan pesan apa? Apa beliau ada menyinggung soal buku pelajaran
silatnya itu?"
Pelan-pelan Nyo-toakoh melipat surat itu terus disimpan dalam kantong bajunya, sahutnya
tawar: "Tiada apa-apa."
"Tiada apa-apa?" seru Bun Seng-liong dengan nada heran dan tak percaya.
Nyo-toakoh mendengus, katanya dingin: "Bun Seng-liong, ternyata yang kau perhatikan
cuma
buku pelajaran silat perguruanmu saja ya?"
Berubah kelam dan pucat rona wajah Bun Seng-liong, cepat ia berseru tersipu-sipu:
"Tidak,
tidak! Sukoh, kau jangan salah paham. Tecu mendapat budi pertolongan dan bimbingan
suhu,
kami para muridnya akan segera berusaha menuntut balas bagi beliau menurut petunjuknya.
Kupikir suhu pasti sudah maklum bila kami bukan tandingan Hun Ci-lo, mungkin ada
meninggalkan
rahasia pelajaran silat perguruan kita kepada kami sekalian, supaya kami dapat
meningkatkan
kepandaian untuk membalas dendam bagi beliau. Tapi kalau suhu tidak menyinggung hal itu
sudah tentu kami tidak akan berani sembarangan bertanya."
Sejak pulang dari tanah pekuburan. Hoan To tidak pernah membuka mulut, kini tak tahan
lagi
ia bertanya: "Sebetulnya cara bagaimana kematian suhu, apakah dalam pesannya itu tidak
menjelaskan?"
"Kenapa kau bertanya lagi, sudah tentu dicelakai oleh Hun Ci-lo," jengek Nyo-toakoh.
"Sudah
lama ia mendapat firasat bahwa Hun Ci-lo memang hendak mencelakai jiwanya, maka ia
tinggalkan surat pesannya ini kepada aku."
Bukan maksud Nyo-toakoh hendak menista dan mempersulit Hun Ci-lo, soalnya adiknya ada
pesan supaya jangan membocorkan bahwa dia masih hidup dalam dunia fana ini, maka demi
rahasia ini tidak bocor terpaksa ia memperkuat tuduhan dan dugaan para murid-murid itu
bahwa
memang Hun Ci-lolah yang membunuh guru mereka, percaya para murid itu tidak akan banyak
cincong lagi.
Dalam hati Nyo-toakoh berpikir: "Asal aku tidak mencari Hun Ci-lo dan mempersulit dia,
masa
mereka berani mengganggu usik seujung rambutnya saja. Hun Ci-lo bersikap kasar dan
tidak tahu
kehormatan kepadaku, kalau aku membuatnya ketimpa tuduhan yang penasaran ini kiranya
cukup
setimpal!"
Adalah Hoan To juga berpikir dalam hati: "Tapi kenapa kau sendiri tidak memberi
komentar dan
mengambil suatu tindakan apa-apa?" Ini hanya kecurigaan dalam hati sudah tentu ia tidak
berani
mengutarakan hal itu kepada Sukoh-nya. Tapi agaknya Nyo-toakoh dapat meraba jalan
pikirannya,
segera ia menambahkan dengan suara tawar: "Sebetulnya seumpama tiada surat peninggalan
ini,
aku pun sudah tahu siapa pembunuhnya. Ada atau tidak surat ini hakikatnya sama saja
bagi aku."
"Benar," kini Gak Hou menyela bicara. "Dengan adanya beberapa bukti ini, siapa berani
mengatakan bahwa bukan Hun Ci-lo yang menjadi pembunuhnya?"-Di kala bicara sengaja ia
mendelik kepada Hoan To. Hoan To menundukkan kepala tanpa bicara lagi, dalam batin ia
berpikir
lagi: "Pasti ada latar belakang dalam persoalan rumit ini, aku tidak percaya bahwa guru
mati
dicelakai oleh sunio."
"Pemeriksaan terus dilanjutkan. Aku hendak keluar menengok Hoa-ji!" kata Nyo-toakoh
lalu
mengundurkan diri.
Tatkala itu Nyo Hoa masih menangis dan menjerit-jerit di ruang pendopo, Cui-hoa
berusaha
membujuknya makan, tapi piring mangkok kena dibantingnya hancur.
Nyo-toakoh mengerutkan kening, katanya: "Hoa-ji, kenapa kau begitu tidak dengar kata?
Cuihoa,
biar aku yang memberi makan padanya. Hoa-ji kalau masih nakal dan rewel saja bibi tidak
sayang lagi dan akan pukul kau."
Di luar dugaan bukan saja Nyo Hoa tidak mau makan nasi yang dibawa Nyo-toakoh, malah
dia
mengumbar adatnya lebih besar, tiba-tiba ia gigit lengan tangan Nyo-toakoh serta
berteriak: "Kau
mengusir ibuku, aku benci kepadamu!"
Timbul amarah Nyo-toakoh, makinya: "Kau sangka aku tidak berani menghajar kau?" dengan
bersikap garang ia pura-pura layangkan telapak tangannya hendak menampar ke muka Nyo
Hoa.
Mendadak didengarnya seseorang membentak: "Tahan!"
Nyo-toakoh berjingkrak kaget, cepat ia angkat kepala, tampak seorang orang yang
mengenakan kerudung hitam tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.
Gelaran Nyo-toakoh adalah Loak-jiu-koan-im, bukan saja membekal kepandaian Kim-konglakyangjiu
yang hebat, kepandaian menimpuk senjata rahasia pun sangat mahir, bagi seorang yang
pandai menimpuk senjata rahasia maka ia pun punya kepandaian untuk mendengar angin
membedakan senjata rahasia. Cukup sedikit gerakan saja pasti tidak akan dapat
mengelabui
kupingnya. Tapi orang berkedok ini tahu-tahu sudah berada di hadapannya baru ia
ketahui,
maka bukan kepalang kejutnya.
Betapapun Nyo-toakoh seorang kawakan yang sudah pernah mengalami berbagai pengalaman
besar kecil, meski hatinya sangat terkejut, ia masih cukup tenang, setelah rasa
kejutnya hilang
cepat ia sudah dapat menguasai diri dan siap siaga. Tampak orang ini mengenakan kedok
lebar
warna hitam yang menutupi seluruh kepalanya, cuma dua lubang mata saja yang kelihatan.
Kedua
biji mata orang sedang jelalatan mengamati dirinya dari atas sampai bawah.
Nyo-toakoh jadi gusar dan membentak: "Siapa kau, untuk apa kau main terobosan ke dalam
rumahku?"
Orang berkedok itu menjengek dingin, sahutnya: "Kau tentu adalah Toaci dari Nyo Busu,
tokoh
yang diberi nama gelar Loak-jiu-koan-im Nyo-toakoh!"
Kedua belah pihak hampir bersamaan mengajukan pertanyaan kepada lawannya.
Nyo-toakoh menyeringai dingin, katanya: "Kau sudah tahu akan gelaranku, kenapa berani
bersikap begitu kurang ajar kepadaku."
"Huh!" orang berkedok mende-nguskari hidung, jengeknya: "Orang lain takut pada kau, aku
justru kemari untuk mencari kau. Kau tidak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin kau
menjawab
dua pertanyaanku."
"Kalau aku tidak mau jawab kau mau apa?"
"Kalau begitu boleh nanti kau coba-coba, kau yang bertangan jahil atau aku yang
bertangan
ga-pah!"
Bergelora amarah Nyo-toakoh, namun karena tertarik dan heran sedapat mungkin ia menahan
sabar, katanya: "Baik, cobalah kau katakan, ingin aku mendengar pertanyaanmu. Soal
menjawab
atau tidak tergantung dari senang tidak aku membuka mulut!"
"Pertanyaan pertama, adikmu mati betul-betul atau mati pura-pura? Pertanyaan kedua, ke
mana Hun Ci-lo telah pergi?"
Berubah air muka Nyo-toakoh, tanyanya dengan suara lirih tertekan: "Apa sangkut pautmu
dengan Hun Ci-lo. kenapa kau perhatikan dirinya?"
"Sekarang akulah yang bertanya kepadamu, belum tiba giliranmu!"
"Tanpa kau jelaskan aku pun sudah tahu. Kau adalah gendak lama Hun Ci-lo bukan? Hm,
besar
benar nyalimu berani meluruk ke rumahku."
"Tutup mulutmu!" bentak si orang berkedok, "Jangan kau menista dan menghina Hun Ci-lo!"
"Aku justru akan membeber boroknya, kau mau apa? Baik, dua pertanyaanmu akan kujawab
sekaligus. Hun Ci-lo mencelakai jiwa suaminya dan siang-siang sudah melarikan diri!
Kini aku
sedang menyelidiki siapakah yang menjadi biang keladi dari pembunuhan ini!"
Kelihatannya orang berkedok jadi melongo, kepalanya digeleng-gelengkan, mulutnya
menggumam: "Salah, salah. Ai, masa..." saat itu Nyo-toakoh sudah berdiri di hadapannya,
dua biji
matanya yang mencorong tajam sedang menatap dirinya, kuatir orang menyergap mendadak.
Orang berkedok itu tersentak sadar, maka ucapan selanjutnya ia telan kembali.
"Apanya yang salah!" jengek Nyo-toakoh.
"Hun Ci-lo menikah dengan adikmu, meski burung cendrawasih ikut burung gaok, tapi
nuraninya sangat luhur dan bijaksana, kalau toh nasi sudah menjadi bubur, dia pasti
menikah
dengan ayam ikut ayam, menikah dengan anjing ikut anjing."
"Kau adalah gendaknya dan dia perempuan serong, kalian bersekongkol membunuh adikku,
berani kau di dalam pendopo di hadapan pemujaannya menghina dan memakinya!"
Sebagai seorang ahli silat meski orang berkedok belum turun tangan namun Nyo-toakoh
insyaf
bahwa lawan punya kepandaian silat liehay seperti setan keluar dan malaikat muncul,
terutama
kedua biji matanya yang berkilat tajam dapatlah dinilai bahwa orang pasti seorang kosen
dari
Bulim.
Mau tidak mau terpikir oleh Nyo-toakoh: "Ya, mungkin Bok-te sudah tahu bahwa perempuan
jalang itu ada berlaku serong, tahu bahwa kekasih atau gendaknya ini adalah seorang
tokoh Bulim
yang berkepandaian tinggi, untuk menjaga bila dirinya bukan tandingan maka pura-pura
mati saja.
Mungkin karena Bok-te bersikap sangat baik terhadap perempuan jalang itu, nuraninya
terketuk
dan mengingat hubungan suami istri sekian lamanya maka cukup ia minta Bok-te
selanjutnya tidak
muncul di hadapan umum, sehingga dia dapat rujuk kembali dengan gendaknya yang lama,
maka
dia pun tidak akan mempersulit dirinya. Demi terlaksananya angan-angannya ini sudah
tentu
dengan suka rela ia mau menutupi rahasia kematian Bok-te.'
Menurut prasangka Nyo-toakoh bahwa jalan pikirannya ini cukup beralasan dan sesuai
dengan
keadaan, maka sikapnya jadi ketus menaruh sikap bermusuhan terhadap orang terkedok ini,
tapi
ia tidak berani memberikan data-data yang benar atau membocorkan rahasia yang menurut
anggapannya tepat dengan dugaannya, supaya orang main tebak akan cara kematian adiknya
yang pura-pura itu. Bahwa dengan gamblang ia tuding si orang berkedok bersekongkol
dengan
Hun Ci-lo membunuh adiknya, maksud tujuannya adalah supaya orang main reka dan percaya
bahwa adiknya memang sudah mati. Soal siapakah pembunuh yang sebenarnya terserah kepada
si orang berkedok untuk menganalisa dan menebaknya sendiri.
Dicaci maki dan dicerca oleh Nyo-toakoh sudah tentu orang berkedok jadi gusar,
bentaknya:
"Kau perempuan galak ini jangan sembarangan omong dan main tuduh !"
Nyo-toakoh menyurut selangkah, diam-diam ia kerahkan tenaga murninya siap siaga menjaga
serangan musuh, jengeknya dingin: "Kau mau apa ?"
Nyo-toakoh menyangka si orang berkedok segera hendak turun tangan, di luar dugaan orang
berkelebat memberosot lewat dari samping tubuhnya serta menyerong maju dua tindak
sampai ke
depan meja pemujaan. Gerak langkah kakinya menggunakan Ngo-heng-pat-kwa-pou-hwat, di
mana terkandung langkah-langkah tersembunyi yang sulit diraba, jelas ia pun sudah
bersiap
melawan rangsakan Nyo-toakoh.
Sepiring nasi yang dibawa oleh Nyo-toakoh untuk Nyo Hoa ditaruh di atas meja pemujaan
itu,
karena Nyo Hoa tidak mau makan, kini masih penuh dan berada di pinggir meja, sementara
dengan senggaksengguk anak kecil itu pun berdiri di samping meja, waktu ia angkat
kepala
didapatinya sang bibi sedang perang mulut dengan orang berkedok. Memang dia sudah
terlanjur
benci pada bibinya, melihat orang berkedok berani memaki dan melawan bibinya, sedang
sang
bibi kelihatannya rada gentar terhadap si orang berkedok, diam-diam hatinya bersorak
kegirangan.
"Apa yang hendak kau lakukan?" bentak Nyo-toakoh.
"Aku tidak sudi melayani perempuan galak seperti kau ini! Tapi setelah kau mengusir Hun
Ci-lo
maka tidak kuijinkan kau menganiaya dan menyiksa bocah ini." Tangan terulur dengan
lemah
lembut ia mengelus-elus kepala Nyo Hoa, katanya lembut: "Anak manis, mari kuajak kau
menemui
ibumu, bagaimana kau mau tidak?"
"Hore!" Nyo Hoa bersorak dengan berjingkrak kegirangan, "Aku tidak mau ikut bibi aku
hendak
mencari ibu !"
Di kala si orang berkedok mengelus kepala Nyo Hoa badannya terbungkuk jadi sebelah
bagian
bawah badannya menempel meja pemujaan, sementara Nyo-toakoh berada di sebelah meja yang
lain, mendadak ia menggebrak meja seraya membentak: "Kurang ajar! Lepaskan
keponakanku!"
Kekuatan pukulan Kim-kong-jiu Nyo-toakoh dapat disalurkan melalui sesuatu benda yang
dipukulnya, telapak tangannya menggebrak meja, tujuannya memang ia ingin menggunakan
lwekang tingkat tinggi melukai si orang berkedok secara mendadak dan membokong.
Maka terdengarlah "blang" meja pemujaan itu kontan pecah menjadi dua persis dari
tengahtengahnya,
barang-barang sesajian jadi beterbangan ke mana-mana. Tapi sedikit pun si orang
berkedok tidak bergeming, sebaliknya Nyo-toakoh sendiri yang tergetar mundur dua
tindak.
Kaget dan gusar pula Nyo-toakoh dibuatnya. Kiranya pukulan tenaga dalam Nyo-toakoh yang
disalurkan dari pukulannya ke meja kena dipukul kembali oleh kekuatan perlawanan lawan,
malah
tenaga balik yang memberondong itu jauh lebih besar dan kuat. Urusan sudah terlanjur
terpaksa
Nyo-toakoh bekerja tidak kepalang tanggung.
Menggunakan Gun-goan-it-ou-kang si orang berkedok berhasil memukul balik Kim-kongcianglat
Nyo-toakoh, melihat Nyo-toakoh cuma tersurut mundur dua tindak dan tidak sampai
terjungkal
jatuh, diam-diam hatinya pun bercekat, pikirnya: "Loak-jiu-koan-im ternyata memang
tidak
bernama kosong, untung Gun-goan-it-ou-kangku sudah sempurna kulatih.
"Nyo-toakoh," seru orang berkedok sambil membopong Nyo Hoa yang berhasil direbutnya,
"Kau
memang tidak tahu diri dan perlu dihajar adat." Demikian ancamnya sambil melayangkan
telapak
tangannya. kalau tidak belum tentu aku dapat mengatasinya!"-Terpikir pula olehnya: "Dia
rela
menghancurkan meja sembahyangan adiknya, naga-naganya kematian Nyo Bok memang bukan
isapan jempol belaka."
Belum habis ia berpikir, tiba-tiba dirasakannya angin kesiur merangsang datang, kiranya
Nyotoakoh
sudah menubruk tiba! Sekilas dilihatnya bayangan telapak tangan menari serabutan,
itulah
sejurus serangan mematikan dari Kim-kong-lak-yang-jiu yang hebat.
Setiap jurus Kim-kong-lak-yang-jiu yang mengandung enam gerak perubahan sekali
dikembangkan perbawanya memang bukan olah-olah liehaynya. Dalam sekejap itu delapan
penjuru semua adalah bayangan Nyo-toakoh melulu, seluruh badan si orang berkedok kena
terbendung dan dikurung di dalam tenaga pukulan telapak tangannya.
Terdengar Nyo-toakoh membentak dengan pongah: "Tidak kau lepaskan keponakanku, jangan
harap kau dapat meninggalkan pintu keluarga Nyo kami!"
Belum lenyap suaranya mendadak angin bergolak hebat, suara deru sampukan angin makin
keras menusuk pendengaran, bayangan telapak tangan yang merabu dari delapan penjuru
angin
laksana hujan badai itu seketika kuncup dan sirna hilang. Dengan menjulurkan ke bawah
kedua
tangannya lekas-lekas Nyo-toakoh melejit setombak lebih ke belakang, sementara si orang
berkedok sambil menggandeng tangan Nyo Hoa tahu-tahu sudah tiba di ambang pintu.
Jengek si orang berkedok dingin: "Mau datang atau pergi sesuka hatiku, siapa kuasa
merintangi
aku?"
Nyo-toakoh tidak bersuara mendadak ia gertak gigi, di mana ia ayun tangannya sekaligus
menyambitkan
segenggam Bwe-hoa-ciam, dalam hati ia membatin: "Seumpama sampai melukai Hoaji,
aku pun tidak dapat berbuat apa-apa."
Bwe-hoa-ciam milik Nyo-toakoh ini sangat lembut seperti bulu kerbau, waktu disambitkan
tak
bersuara, setiap timpukannya khusus mengarah Hiat-to penting di tubuh orang. Gelar
Loak-jiukoanim
yang dia dapatkan kebanyakan justru karena senjata rahasianya yang liehay dan cukup
ganas ini. Tatkala itu kebetulan si orang berkedok sudah putar tubuh membelakangi
dirinya.
Dengan sambitan Bwe-hoa-ciam yang tersebar atas bawah dan kanan kiri itu, Nyo-toakoh
menyangka usahanya pasti berhasil.
Tak diduga kepandaian mendengar angin membedakan senjata rahasia orang berkedok jauh
lebih unggul dari kemampuan Nyo-toakoh sendiri, belakang kepalanya seperti tumbuh mata
saja,
secara tepat dan kebetulan waktu sambitan Bwe-hoa-ciam musuh sampai dekat di belakang
punggungnya, si orang berkedok tiba-tiba mengebutkan lengan bajunya yang panjang dan
lebar
itu ke belakang, sekaligus ia gulung seluruh sambitan Bwe-hoa-ciam Nyo-toakoh ke dalam
lengan
bajunya, waktu dibuka kembali tampak puluhan Bwe-hoa-ciam sama berjajar lurus menembusi
kedua lengan bajunya. Tapi tiada sebatang pun yang berhasil menembus lewat mengenai
jalan
darahnya.
Maka tertawalah si orang berkedok dingin, jengeknya: "Nyo-toakoh, kalau kau tidak tahu
diri,
jangan menyesal setelah kau merasakan keliehayanku. Baik, diberi tidak membalas rasanya
kurang hormat, nih, kau pun harus merasakan keliehayan kepandaian sambitan senjata
rahasiaku!"
Berbareng orang berkedok menggertak kedua lengan bajunya, puluhan jarum yang berjajar
di
kedua lengan bajunya laksana kena pegas berbareng melesat keluar, segulung tabir kuning
sekaligus memberondong balik ke arah Nyo-toakoh.
Ki Si-kiat dan keenam murid perguruan Nyo pada saat itu kebetulan mendengar ribut-ribut
dan
memburu datang, Ki Si-kiat dan Bun Seng-liong berjalan paling depan. Dalam kejutnya,
tersipusipu
Nyo-toakoh mendorong telapak tangannya, kontan ia dorong putranya tergentak ke samping.
Sinar kuning berkilauan tersebar luas, laksana bintang kelap kelip di malam kelam deras
dan
rapat laksana hujan angin. Untung Ki Si-kiat sempat didorong minggir oleh pukulan
ibunya
sehingga ia tidak kena terluka apa-apa.
Melihat Nyo-toakoh dapat menggunakan kekuatan pukulan Kim-kong-lak-yang-jiu yang kuat
dan keras itu menjadi tenaga lunak dan empuk, bukan saja kuasa menahan daya sambitan
Bwehoaciam
sambitan baliknya, sekaligus telah menyelamatkan jiwa putranya lagi, cara
permainannya pun cukup cekatan dan lincah, mau tidak mau si orang berkedok memuji dan
kagum dalam hati.
Tahu bahwa dirinya bukan tandingan orang, terpaksa Nyo-toakoh cuma main gertak dengan
suara berat: "Mengandal kekuatan kau merebut keponakanku, kelak jangan kau menyesal
karenanya. Kecuali sekarang juga kau bunuh aku, kalau tidak akan datang suat u hari aku
akan
mencarimu untuk membalas dendam."
"Meski kau galak dan garang, tapi dosamu belum setimpal dihukum mati. Untuk apa aku
bunuh
kau? Aku tidak gentar kau menuntut balas berani pula bicara secara cengli. Memang anak
ini
adalah keponakanmu, tapi dia masih punya keluarga yang lebih dekat, demi ibunya maka
dia
kurebut dari tanganmu yang gapah itu, ke mana pun untuk mengadukan secara keadilan aku
akan
selalu menghadapi kau"--Mulut bicara sementara kaki si orang berkedok tidak berhenti
melangkah,
di kala kata-katanya habis diucapkan bayangannya pun sudah tidak kelihatan lagi.
Jaraknya sudah
cukup jauh, tapi setiap patah katanya masih terdengar jelas.
Dengan lesu Nyo-toakoh duduk di atas kursi. Mendadak didengarnya Gak Hou berseru kejut:
"Toasuko-' Kenapa kau!"
Waktu Nyo-toakoh berpaling, tampak selebar muka Bun Seng-liong berlepotan darah dan
mulutnya pun sedang merintih-rintih. Ternyata mukanya penuh tertancap puluhan batang
Bwehoaciam.
Segenggam jarum lembut yang disambitkan balik oleh si orang berkedok sebagian
besar
memang kena disampuk runtuh oleh pukulan Nyo-toakoh, tapi ada sebagian kecil pula yang
bersarang ke muka Bun Seng-liong.
Untung karena bobot jarum lembut itu sangat ringan, jadi menancapnya tidak terlalu
dalam,
maka rasa sakit Bun Seng-liong tidak begitu hebat, soalnya hatinya sudah kuncup saking
degdegan
tanpa disadari mulutnya merintih-rintih.
Seluruh perhatian semua orang dipusatkan kepada si orang berkedok tadi, setelah musuh
pergi
baru mereka memperhatikan keadaannya.
Nyo-toakoh sedang uring-uringan dan jengkel, melihat kelakuan orang yang tengik ia
semakin
dongkol, semprotnya: "Sudah untung orang menaruh belas kasihan tidak membutakan
sepasang
matamu. Beberapa jarum itu tidak akan mencabut jiwamu, merengek apa kau? Tidakkah malu
kau
sebagai calon Ciangbun Tecu. menjadi buah tertawaan para sutemu saja. Kemari biar
kuperiksa
dan kuobati!"
Bun Seng-liong pun membatin: "Kau cuma menolong putra sendiri tanpa hiraukan
keselamatanku. Hm, kau sendiri juga terjungkal di tangan orang, apa kau sendiri tidak
kena malu,
bisa saja kau lampiaskan dan dongkolanmu kepada aku!"-Tapi mendengar Nyo-toakoh suka
memberi pengobatan, rasa jengkelnya jauh berkurang.
Nyo-toakoh mengeluarkan sekeping besi sembrani, seluruh jarum yang menancap di muka Bun
Seng-liong disedot keluar semua, katanya: "Bwe-hoa-ciam milikku ini tidak kububuhi
racun, kau
bisa polesi dengan Kim-jong-yok saja!"
"Toa-suko," sela Gak Hou, "Mari kubantu membubuhi obat!" --untuk mengambil hati
suhengnya ia mengumpak: "Masih untung lubang jarum ini sangat kecil setelah sembuh
tidak akan
meninggalkan bekas apa-apa."
Hoan To segera ikut menimbrung sambil menahan geli: "Sayang kalau wajah suko yang
ganteng ini kelak menjadi burik."
Bun Seng-liong jadi gusar: "Jadi kau senang kalau aku burikan?" dampratnya.
"Bukan," sahut Hoan To cepat, "Maksudku aku menaruh simpatik akan luka-lukamu."
"Sukoh," ujar Bun Seng-liong, "Tecu kena terhina adalah soal kecil. Tapi sute cilik
kena direbut
orang, hal ini dapat menodai nama baik perguruan, kalau sampai diketahui orang luar,
orang itu
berhasil merebut sute dari tangan Sukoh, wah hal ini akan semakin runyam!"
Nyo-toakoh mendengus, katanya: "Tak usah kau memancing kemarahanku, kalau aku tidak
balas sakit hati ini, selanjutnya jangan kalian panggil aku Loak-jiu-koan-im lagi!"
"Ada Sukoh yang bertanggung jawab, tak usah kuatir sakit hati ini kelak tidak akan
terbalas,"
demikian Gak Hou yang licik ini ikut menimbrung, "Yang menyulitkan bahwa kita tiada
yang kenal
siapakah sebenarnya orang berkedok itu."
"Tidak tahu masa tidak bisa menyirapi?" jengek Nyo-toakoh,
"Walau aku tidak melihat mukanya, tapi aku sudah menjajal kepandaian silatnya,
permainan
silatnya itu merupakan sumber penyelidikan. Baiklah, kalian teruskan pencarian buku
pelajaran
silat guru kalian secara pelan-pelan, sekarang juga aku harus pulang."
"Masa Sukoh tidak tinggal lagi barang dua tiga hari?" tanya Bun Seng-liong. "Apakah
kami para
murid berlaku kurang adat?"
"Bukankah kau sendiri ingin segera membalas dendam?" semprot Nyo-toakoh. "Maka harus
lekas-lekas kembali untuk memberi laporan kepada Siok-co Si-kiat."
Bun Seng-liong jadi girang, serunya: "Apakah beliau sudah kembali?"
Ternyata Siok-co (kakek) Ki Si-kiat adalah Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya yang sangat
kenamaan di
kalangan kangouw. Bukan saja kepandaian silat Ki Kian-ya teramat tinggi, pergaulannya
pun
sangat luas, lebih banyak waktunya untuk mengembara di luar dari menetap di rumah,
jarang
pulang lagi. Maka untuk menyirapi asal-usul seseorang-persilatan kiranya cukup minta
petunjuk
kepada dia orang tua, harapannya cukup besar untuk berhasil.
Agaknya Nyo-toakoh menjadi sebal akan pertanyaan-pertanyaan yang berulang kali, untuk
selanjutnya ia tidak hiraukan pertanyaan lagi.
Berkatalah Ki Si-kiat: "Sudah sepuluhan hari yang lalu Siok-kong kembali, kabarnya tak
lama ini
akan keluar lagi."
Nyo-toakoh berkata: "Kau sudah tahu bahwa Siok-kongmu segera akan keluar lagi, masih
banyak kata apa lagi di sini? Membuang waktu saja!"
Ki Si-kiat mengiakan, perbekalan memang sudah disiapkan, saat itu juga mereka ibu
beranak
segera berangkat meningggalkan rumah Nyo Bok.
-ooo0000ooo-
Tatkala itu si orang berkedok sedang berjalan cepat sambil menggandeng tangan Nyo Hoa,
tapi
tujuan mereka berbeda dengan arah perjalanan Nyo-toakoh berdua. Tujuannya adalah tanah
pekuburan di belakang rumah keluarga Nyo itu, ia ke sana hendak mencari tempat kuburan
Nyo Bok.
Dengan berhasil mengalahkan Loak-jiu-koan-im yang kenamaan di dunia persilatan, sedikit
pun
ia tidak merasa senang, hatinya terasa hampa dan kosong. Soalnya dua pertanyaan yang
mengganjal sanubarinya masih belum terjawab. Sebetulnya Nyo Bok betul mati atau purapura
mati? Entah ke mana pula sekarang Hun Ci-lo berada?
Tangan Nyo Hoa digandeng dibawa berjalan cepat laksana berlari terbang tanpa menginjak
tanah, angin menderu di pinggir kupingnya, pohon-pohon di kedua samping jalan sama
berkelebat
mundur ke sebelah belakangnya, hatinya jadi senang dan takut pula. Mendadak terasa
badan
menjadi enteng, karena tidak terduga-duga Nyo Hoa sampai menjerit kaget.
Pelan-pelan orang berkedok menurunkan ke tanah, katanya tersenyum lembut: "Membuat
kaget kau ya?"
"Sungguh menyenangkan, sedikit pun aku tidak takut," ujar Nyo Hoa tertawa mungil.
"Paman,
ginkangmu sungguh baik, lebih baik dari ayah. Siapakah kau sebenarnya?"
"Aku she Song," sahut orang berkedok, "Aku adalah teman karib ibumu. Kau panggil aku
Songtoasiok
saja!"
"Song-toasiok, ke mana sekarang kita hendak pergi?"
"Kali ini kau turut aku keluar pintu, entah kapan baru akan kembali pula ke rumah.
Sekarang
kubawa kau untuk menyampaikan selamat tinggal dengan ayahmu."
Terunjuk kurang mengerti pada wajah Nyo Hoa, katanya: "Bukankah tadi kau berkata hendak
membawa aku mencari ibu?"
"Benar. Tapi aku sendiri tidak tahu kapan baru akan menemukan ibumu, maka kupikir kau
harus pamitan dulu pada ayahmu."
"Tapi ayah pun sejak lama sudah menghilang, apakah kau dapat menemukan dia?"
"Maksudku kubawa kau ke tempat pusaranya di mana kau berlutut minta diri, bukankah
ayahmu dikcbumikan di belakang gunung sana ?"
"Tidak, ke sana kau pun tidak akan menemukan dia."
"Sudah tentu tidak dapat menemukan dia. Kau tidak paham, kau ikut aku saja." -Dia
anggap
anak kecil masih belum tahu urusan, adalah di luar tahunya bahwa tanah kuburan itu
beberapa
saat yang lalu sudah dibongkar. Soalnya Nyo Hoa sendiri ikut menyaksikan kejadian itu,
terbukti
ayahnya tiada dalam peti mati itu maka ia keluarkan ucapannya itu.
Karena dibawa lari kencang, Nyo Hoa tidak berani banyak bicara, cepat ia mengiakan:
"Ya, ya,
aku ikut, mengikutimu saja"
Dalam hati orang berkedok berpikir: "Bocah ini sudah berusia tujuh tahun, masih belum
tahu
urusan, kalau tidak bisa menemukan Hun Ci-lo, terhitung aku mencari kesulitan sendiri."
Tapi lantas terpikir pula olehnya: "Setelah kehilangan anaknya tentu Hun Ci-lo sangat
sedih.
Betapapun harus ada seseorang yang harus melakukan pekerjaan bodoh ini membawakan
anaknya keluar lalu pelan-pelan menemukan dia. Beng Goan-cau tidak datang, terpaksa aku
Song
Theng-siau yang melakukan pekerjaan bodoh ini."
Tiba-tiba teringat olehnya beberapa patah makian kotor Nyo-toakoh, dalam hati ia
tertawa
getir, terpikir pula olehnya: "Perempuan galak itu mengatakan aku adalah kekasih
lamanya,
sebaliknya aku memang mengharap demikian. Cuma sayang sampai detik ini juga aku masih
belum paham, ke manakah sebetulnya hatinya berkiblat. Sudah tentu ia tidak secara suka
rela
dinikahkan dengan Nyo Bok, namun entahlah orang yang dia benar-benar cintai adalah aku
atau
Beng Goan-cau!"
Hati sedang gundah pikiran pun butek, pengalaman yang sudah lalu terbayang lagi dalam
benaknya, seketika rongga dadanya bergejolak.
Dua puluh tahun yang lalu, waktu itu Hun Ci-lo masih merupakan seorang nona kecil yang
menguncir dua rambutnya, mereka sudah merupakan sahabat intim. Karena mereka sama
menetap dalam bilangan satu kampung, demikian pula ayah dan keluarga mereka adalah
sahabat,
hubungan sangat kental.
Keluarga Hun Ci-lo pindah datang ke Soh-ciu dari luar daerah, akhirnya baru dia ketahui
bahwa
ayah Hun Ci-lo ternyata adalah seorang tokoh kosen persilatan yang menyembunyikan nama
mengasingkan diri, di waktu mudanya pernah kelana di kangouw dan pernah pula angkat
nama,
punya hubungan dan pengalaman yang pahit getir dalam perjuangan hidup bersama ayahnya.
Mungkin karena usia sudah lanjut dan suka kesepian ingin menetap bersama sahabat tua
maka
beliau pindah ke Soh-ciu itulah.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, setelah ayah kedua keluarga ini sama
meninggal,
hubungan kedua keluarga ini masih tetap erat dan intim –dewi-. Di puncak bukit, dalam
taman
bunga di pinggir sungai entah berapa kali dan lama dia bersama Hun Ci-lo menghabiskan
waktu
dengan suka ria? Hun Ci-lo menganggap dirinya sebagai kakak, ia anggap Hun Ci-lo
sebagai adik.
Keduanya sama tiada perasaan apa-apa, demikianlah keadaan mereka di waktu masih kecil.
Tapi di kala Hun Ci-lo menginjak usia lima belas, keadaan yang tiada perasaan apa-apa
itu mau
tidak mau harus berubah secara mendadak. Bukan karena usia mereka lambat laun menanjak
dewasa, adalah karena adanya orang ketiga yang mendesak di antara mereka secara tidak
terduga-duga.
Orang ketiga yang dimaksud ini adalah Beng Goan-cau yang akhirnya menjadi sahabat karib
mereka juga.
Beng Coan-cau ada hubungan sanak dengan keluarga Hun, kalau tidak salah leluhur Beng
Goan-cau masih sangat dekat dengan keluarga Hun. Sejak Beng Goan-cau datang sifat Hun
Ci-lo
menjadi berubah sama sekali, setiap kali Song Theng-siau ajak Hun Ci-lo keluar pesiar
dia selalu
mengajak Beng Goan-cau ikut serta. Demikian pula sebaliknya bilamana Beng Goan-cau
berada
bersama dia, Song Theng-siau pun tidak akan keting-galan.
Perawakan Beng Goan-cau kekar dan tegap, badannya kuat dan sehat, wajahnya halus di
tengah alisnya terbayang hawa jernih, orangnya pendiam tak suka bicara. Hun Ci-lo
paling suka
menggodanya, dikatakannya dia ini seperti sebuah gunung di Kanglam.
Song Theng-siau jauh lebih lincah dan suka kelakar, dia pandai memetik harpa
tindaktanduknya
serba halus lembut dan sopan santun, tapi bila dia mengumbar adatnya garangnya luar
biasa. Hun Ci-lo pun suka menggoda dia, dikatakan dia seperti air di Kanglam.
Teringat oleh Song Theng-siau pada suatu ketika mereka bertiga sama pergi ke Hangciu
dan
tamasya di Sec-ouw, itu telaga barat yang termasyhur. Setengah harian mereka putar
kayun
menggayuh perahu lalu naik ke atas Oh-san memetik kembang Bwe jalan-jalan lagi di
pesisir
telaga. Waktu itu hari sudah menjelang magrib matahari sudah hampir tenggelam,
ketiganya sama
terpesona, oleh panorama yang terbentang di hadapan mereka Song Theng-siau tidak tahu
apa
yang mereka pikirkan, adalah dia sendiri sedang memikirkan isi hatinya. Angin telaga
menghembus sepoi-sepoi, hidungnya mengendus bau harum dari rambut Hun Ci-lo. Mendadak
dia
jadi besar nyalinya, terasa ada beberapa patah kata dia harus bicara dengan Hun Ci-lo.
Saat mana Hun Ci-lo sama Beng Goan-cau sedang asyik bersenandung serta membaca
syairsyair
karya beberapa pujangga yang terukir di batu-batu gunung, satu sama lain sedang debat
dan
saling memuji syair karya pujaan hatinya. Yang jelas kedua syair yang mereka debatkan
sama
memuji akan keindahan panorama pegunungan dan permukaan air danau yang terpancar sorot
cahaya matahari. Terpaksa Song Theng-siau datang sama tengah melerai. Katanya: "Dulu
ada
seorang Se-si yang terkenal sebagai perempuan tercantik di Soh-ciu dan kau adalah
perempuan
tercantik di Soh-ciu pada jaman kini. Entahlah kau menyukai pandangan air danau yang
kemilau?
Atau menyukai puncak Oh-san yang penuh diliputi kabut halus mengembang enteng?"
Mendengar pertanyaan ini kontan jengah muka Hun Ci-lo, semprotnya: "Sembarangan
mengoceh kau."
Song Theng-siau tertawa, ujarnya: "Cuma guyon-guyon saja kenapa sih? Tapi aku jadi
ingin
tahu benar-benar kau suka gunung atau menyenangi air?"
Beberapa kejap kemudian baru Hun Ci-lo berkata tertawa: "Syair karya So Tong-poh ini
sudah
memberi jawaban bagiku, cahaya danau baik, panorama pegunungan pun bagus, keduanya
samasama
elok dan menyegarkan!"
Usaha Song Theng-siau untuk mengorek isi hatinya kali ini boleh dikata gagal, tak lama
kemudian karena suatu peristiwa yang tak terduga akhirnya mereka harus berpisah. Kepada
siapa
hati Hun Ci-lo berkiblat, sejak mula sampai sekarang masih merupakan teka-teki.
-oooo000oooo-
Dengan perasaan hati yang tidak keruan Song Theng-siau beranjak terus ke depan, kedua
kakinya sedang berlari demikian juga hatinya sedang berdebur keras seperti kuda
pingitan yang
berlari tiba di pesisir telaga barat menanjak bukit Oh-san, kembali pada penghidupan
masa lalu,
kehidupan yang lalu satu-satu berkelebat dalam benaknya.
Suara bocah bagat kelintingan dari mulut Nyo Hoa menyentak sadarkan lamunannya: "Paman,
jangan lari jauh-jauh, kita sudah sampai. Tuh lihat, mana dapat kau menemukan ayah di
situ?"
Waktu Song Theng-siau melihat tegas, tampak batu nisan sudah ambruk, gundukan tanah
kuburan sudah morat-marit terbongkar dan berlubang besar, di samping lubang peti mati
terbuka
lebar tanpa isi, kosong melompong.
Kalau isi hati Hun Ci-lo belum lagi mampu ia pecahkan, adalah kematian Nyo Bok yang
menjadikan kecurigaan dalam hatinya kini sudah terkupas.
Tanya Song Theng-siau: "Di mana ayahmu? Kau tahu di mana dia sembunyi?"
Nyo Hoa menggeleng kepala, sahutnya: "Aku tidak tahu. Mereka sama mengatakan ayah tidur
di dalam peti mati ini, tapi kenyataan ayah tidak berada di dalam peti mati ini. Paman,
kenapa
mereka suka menipu aku?"
"Kelak kalau ketemu ibumu boleh kau tanya kepadanya. Bagaimana pula dengan ibumu?"
"Ibu kena dikalahkan oleh bibi lalu lari!"
"Apakah bibimu yang membongkar kuburan ini?"
"Ya, dibantu oleh para suko. Selama ini aku anggap mereka orang baik-baik, tapi mereka
membongkar kuburan ayah, dan berkelahi dengan ibu, maka mereka kuanggap bukan orang
baik.
Paman, apakah ucapanku betul?"
"Benar! Bibimu dan para suhengmu bukan orang baik-baik. Tapi kau tidak usah pedulikan
mereka, kair ikut aku saja, kelak bila kau sudah besar, siapapun takkan berani
menyakiti kau lagi."
Tiba-tiba Nyo Hoa berkata: "Tidak, sekarang aku tidak mau pergi."
"Kenapa? Bukankah tadi kau mengatakan suka ikut aku?"
"Perutku lapar, kau menyeret aku, aku pun tidak akan kuat berlari lagi," ternyata
karena tadi
mengumbar adat dan merengek-rengek sehingga tidak sempat makan, kini perutnya sedang
keroncongan minta di si.
]
Song Theng-siau tertawa geli, ujarnya: "Tak usah kuatir, aku punya makanan enak untuk
kau
makan." Lalu ia mengeluarkan sebuah dos roti, katanya pula: "Nih, kau pilih sendiri,
bolu
kukus, kue lapis, ada permen madu dan lain-lain, tentu kau suka makan, habiskan saja."-
Ternyata
dos roti yang dia bawa ini adalah kesukaan Hun Ci-lo di masa kecilnya dulu, hadiah yang
dia bawa
untuk ibunya kini telah dihabiskan oleh anaknya.
Nyo Hoa makan dengan lahapnya, mulutnya memuji berulang-ulang: "Enak benar, sungguh
nikmat!" -Dari samping sambil tersenyum lebar Song Theng-siau mengawasi bocah yang
jenaka ini
makan roti dan permen, tiba-tiba dirasakan olehnya sepasang mata si bocah yang bundar
itu
berkedip-kedip seperti seseorang.
Sepanjang jalan ini karena Song Theng-siau sedang memikirkan isi hatinya, belum sempat
ia
mengamati bocah ini. Kini bukan saja ia merasa bocah ini sangat mirip seperti pinang
dibelah dua,
seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan orang itu.
Mendadak terpikir oleh Song Theng-siau sebuah pertanyaan yang tidak seharusnya ia
pikirkan:
"Anak siapakah dia, anak siapakah dia?"
Melihat sorot mata orang yang ganjil Nyo Hoa jadi terkejut, ia letakkan rotinya
bertanya:
"Paman, kenapa kau mendelikkan mata melihat aku, apakah aku terlalu serakah?"
"Tidak, tidak, kau makan saja sesukamu. Aku cuma terkenang pada seseorang."
"Siapakah dia?" tanya Nyo Hoa, hati kecilnya diliputi rasa curiga, kenapa paman
mengamati aku
jadi terkenang pada seseorang.
Belum lenyap suaranya mendadak Song Theng-siau pun membentak: "Siapa itu? Hayo
menggelundung keluar!"
Tampak dari semak rumput di sana menerobos keluar seseorang, sambil tertawa cengarcengir
ia berkata: "Song-tayhiap, selamat bertemu. Masih kenal aku si maling sakti Kwi-hwethio
tidak?"
Nyo Hoa membatin: "Kiranya si maling yang datang malam itu, jadi paman sedang
memikirkan
dia." — — Mana dia tahu bahwa Song Theng-siau mendengar di semak rumput sana ada suara
keresekan baru dia tahu bila ada seseorang sembunyi di sana. Orang yang dia sedang
pikirkan
bukanlah si maling sakti Kwi-hwe-thio, tapi adalah sahabat karibnya Beng Goan-cau.
Begitu melihat si maling sakti Kwi-hwe-thio, Song Theng-siau merasa heran dan curiga,
katanya: "Kwi-hwe-thio, untuk apa kau sembunyi di tempat itu?"
"Semalam memang aku sudah sembunyi di sini untuk melihat orang berkelahi."
Ternyata Kwi-hwe-thio si maling sakti tak dapat menahan keinginan hatinya karena heran,
setelah tahu bila Nyo-toakoh dan Bun Seng-liong hendak membongkar kuburan tak tahan
lagi ia
meluruk ke sini untuk menonton keramaian.
"Jadi kau sembunyi di situ untuk melihat Nyo-toakoh berkelahi dengan Hun Ci-lo, tapi
perkelahian mereka sudah bubar, kenapa kau masih sembunyi di situ tidak mau pergi?'"
demikian
tanya Song Theng-siau.
"Ya, memang aku sedang menunggu kau!"
"Menunggu aku? Kau tahu bila aku pasti datang kemari?"
"Waktu terang tanah sebetulnya sudah mau kutinggal pergi, di waktu sampai di kaki
bukit,
kulihat kau sedang bergoyang gontai di jalan raya menuju ke rumah keluarga Nyo, kuduga
tentu
kau seperti aku ingin membongkar rahasia kematian Nyo-busu, maka lekas aku kembali- ke
sini
untuk menunggu kau."
"Kenapa kau harus menunggu aku?"
"Ada sebuah urusan ingin aku mohon bantuanmu, bukankah kau hendak kembali ke Soh-ciu?"
"Kalau benar, kenapa?"
"Bicara terus terang, kedatanganku ke sini adalah mengirimkan surat Beng Goan-cau, dia
minta
suratnya disampaikan kepada Nyo Bok, lalu mengambil sebuah barang bukti sebagai tanda
mata
untuk membuktikan bila aku sudah menyelesaikan tugasku. Kau tahu hidupku sudah biasa
bebas
kelana ke mana suka, bila ada sesuatu persoalan mengikat diriku aku selalu merasa risi
dan benci.
Jikalau kau sudi bantu aku mengembalikan tanda mata itu kepada Beng tayhiap, maka aku
tidak
perlu lari jauh-jauh ke sana. Yang jelas kau adalah sahabat karib Beng tayhiap, kalau
kau kembali
ke Soh-ciu tentu dapat jumpa dengan dia."
"Baiklah, tanda mata apa. coba berikan kepadaku!"
Waktu Song Theng-siau membuka gambar itu, tampak laki-laki yang terlukis dalam gambar
itu
sahabat karibnya Beng Goan-cau. Setelah membaca dua bait syair di sebelah pinggirnya,
seketika
Song Theng-siau berdiri terlongong.
Kwi-hwe-thio tidak tahu bahwa hatinya sedang gundah dan gelisah, katanya dengan
tertawa:
"Mirip tidak gambar itu? Inilah buah karya tangan Hun Ci-lo sendiri, kukira Beng
tayhiap mau
percaya akan tanda mata yang kubawa ini."
Teka-teki yang selama ini mengganggu pikirannya kini sudah terbongkar, Hun Ci-lo
mencintai
Beng Goan-cau.
Song Theng-siau mengamat-amati Beng Goan-cau dalam gambar itu lalu mengawasi pula Nyo
Hoa di hadapannya, tak terasa hatinya jadi rawan dan mendelu. Gambar orang dalam
lukisan dan
bocah di hadapannya ini benar-benar mirip seperti pinang dibelah dua.
Secara langsung teka-teki yang lain pun jadi tertebak pula. "Dia 'adalah putra Beng
Goan-cau,
dia adalah putra Beng Goan-cau!" — — Mendadak Song Theng-siau jadi sadar dan paham
duduk
perkaranya.
Kalau satu dua teka-teki sudah tertebak, namun masih serentetan persoalan yang
mencurigakan masih terikat dalam alam pikirannya. Pertanyaan yang terbesar adalah:
kalau orang
yang dicintai Hun Ci-lo adalah Beng Goan-cau, kenapa ia menikah pula dengan Nyo Bok?
Dan lagi,
Hun Ci-lo menikah dengan Nyo Bok sudah delapan tahun, meski waktu itu Beng Goan-cau
tidak
tahu. tapi setelah berselang sekian tahun, paling tidak tentu juga pernah dengar.
Kenapa Beng
Goan-cau tidak datang mencarinya? Mungkinkah dia tidak tahu bila Hun Ci-lo sudah
melahirkan
anaknya? Apakah dia seorang yang sudah mengecap manis sepah dibuang?
Tidak, karakter Beng Goan-cau tidak seperti itu. Sejak kecil dia adalah sahabat
terdekat dengan
Beng Goan-cau, dialah yang paling hafal dan tahu sedalam-dalamnya martabat dan watak
Beng
Goan-cau. Beng Goan-cau adalah seorang laki-laki sejati yang setia akan setiap
ucapannya, kecuali
dia tidak mau, kalau sesuatu urusan sudah ia setujui tentu dia akan membereskan dengan
sempurna. Apalagi terhadap kekasih yang dicintainya?
Apalagi, Nyo Bok tidak tahu akan rahasia ini? Apakah mungkin dia sudah tahu akan
rahasia ini.
maka dia lantas bunuh diri atau hanya pura-pura mati belaka?
Kenapa? Kenapa? Kenapa? Serentetan pertanyaan ini tak kuasa ia menjawabnya sendiri,
sehingga hati Song Theng-siau merasa hampa.
Sikap Song Theng-siau yang terlongong seperti linglung ini menarik perhatian dan rasa
heran
Kwi-hwe-thio, sebagai seorang cerdik, lapat-Iapat ia dapat menduga-duga, tapi ia
berpikir: "Entah
di antara mereka bertiga ada hubungan apa, yang sangat rumit, yang kukejar adalah
membebaskan belenggu yang mengikat diriku, kenapa aku turut campur mengurus tetek
bengek."
Segera ia berkata: "Song tayhiap, tanda mata ini harap kau suka membawanya pulang,
kalau kau
tiada pesan apa-apa, aku ingin segera pergi."
"Tunggu sebentar, ada sebuah pertanyaan ingin kutanya kepadamu, Beng tayhiap titip
surat
kepadamu supaya disampaikan kepada Nyo Bok, apakah kau tahu apa yang tertulis dalam
surat
itu?"
Kwi-hwe-thio menggeleng kepala, sahutnya: "Song-tayhiap, kau kan tahu Bcng-tayhiap
seorang
yang tidak suka banyak bicara, dia tidak menjelaskan apa isi suratnya, sudah tentu aku
pun tidak
berani banyak tanya, lebih-lebih aku tidak berani mencuri baca." Song Theng-siau sudah
menduga
orang akan menjawab demikian, soalnya surat itu merupakan kunci yang sangat penting,
maka ia
ajukan juga pertanyaannya.
Song Theng-siau berpikir sebentar lalu bertanya pula: "Kapan kau bertemu dengan
Bengtayhiap?"
"Satu bulan yang lalu."
"Berapa lama dia kembali ke Soh-ciu?"
"Maaf hal ini tidak pernah kutanyakan kapadanya."
"Paling tidak dia tentu pernah membicarakan diriku dengan kau bukan?"
"Betul, soal itu memang dia pernah bicara sama aku, katanya dia tidak tahu kau kapan
akan
kembali, tapi dia akan menunggu kau kembali ke Soh-ciu baru dia akan berangkat lagi."
"Baiklah, aku tidak banyak tanya lagi, silakan kau pergi!"
Setelah Kwi-hwe-thio pergi, Song Theng-siau masih berdiri menjublek di pinggir peti
mati
kosong itu, seperti mabok laksana orang sinting ia terkenang dan memikirkan isi
hatinya.
"Kenapa dia mau menikah dengan Nyo Bok? Kenapa dia mau menikah dengan Nyo Bok?" Song
Theng-siau sedang menyelami pertanyaan ini untuk mendapat jawabannya. Pengalaman lama
kembali terbayang dalam benaknya.
Terbayang olehnya di kala dia berpisah dengan Hun Ci-lo.
Tidak lama setelah mereka kembali dari tamasya ke Hang-ciu, terjadilah satu peristiwa
yang
tidak terduga, karena kejadian itulah maka dia bersama Beng Goan-cau harus berpisah
dengan
Hun Ci-lo.
Masih segar dalam ingatannya, kejadian pada suatu malam hujan gerimis, karena tidak
berhasil
mengorek isi hati Hun Ci-lo dia sedang dirundung gundah dan bingung, duduk ongkangongkang
sambil menikmati gambar-gambar lukisan di atas dinding. Mendadak Beng Goan-cau seorang
diri
datang bertandang ke rumahnya.
Memang Song Theng-siau sedang kesepian dan iseng, segera ia bawa temannya itu ke dalam
kamar bukunya, tanyanya sambil tertawa: "Kenapa kau menjenguk aku seorang diri, kenapa
kau
tidak menemani Hun Ci-lo? Kini kentongan kedua baru lewat, kukira Hun Ci-lo tidak akan
tidur
sepagi ini." Maksud kata-katanya adalah menyalahkan temannya ini kenapa tidak ajak Hun
Ci-lo
datang sekalian.
Sahut Beng Goan-cau: "Ada sebuah persoalan aku ingin berunding dengan kau, sementara
ini
tidak ingin aku diketahui oleh Hun Ci-lo."
"O, jadi kau punya persoalan yang mengelabui Hun Ci-lo? Apakah yang terjadi?" Mau tidak
mau
Song Theng-siau jadi heran dan terkejut.
Kata Beng Goan-cau pelan-pelan: "Untuk soal ini aku ingin mohon bantuanmu. Kim-to Lu
Siugun,
nama pendekar tua ini kukira kau pernah dengar bukan?"
Song Theng-siau bergelak tawa, katanya: "Maksudmu Kim-to Lu Siu-gun dari karesidenan
Samho
di Ih-pak itu? Pendekar tua itu justru adalah paman dekatku. Di masa mendiang ayahku
masih
hidup beliau punya dua sahabat karib, seorang adalah ayah Ci-lo yaitu Hun Ciong-san,
dan
seorang yang lain adalah dia itulah. Coba kau lihat gambar ini, inilah buah karya
ayahku tiga puluh
tahun yang lalu, tiga orang dalam gambar ini adalah mereka. Dulu mereka seperti keadaan
kita
sekarang ini, sering bergaul bersama."
Waktu Beng Goan-cau menegasi, tampak dalam gambar itu ada tiga pemuda sedang
mencongklang kuda di padang rumput, pemuda di sebelah kiri, samar-samar terlihat
seperti Song
Theng-siau, sudah tentu pemuda dalam gambar itu adalah ayahnya, Song Sip-lun, di
pinggir
lukisan itu ada sebuah syair yang menggambarkan keadaan dan asal-usul persahabatan
mereka
bertiga.
Beng Goan-cau menggulung kembali gambar lukisan itu dikembalikan kepada Song Thengsiau,
katanya tersenyum: "Benar, tiga puluh tahun yang lalu, sejarah mereka yang malang
melintang
bersama pernah kudengar. Tapi, akhirnya ayahmu putus hubungan dengan pendekar tua she
Lu
itu bukan?"
"Darimana kau bisa tahu?"
Beng Goan-cau tersenyum, sepatah demi sepatah ia berkata: "Karena Kim-to Lu-lo-enghiong
dari Sam-ho itu adalah guruku."
Song Theng-siau berseru kejut, katanya: "O, jadi kau adalah murid Kim-to Lu Siu-gun,
kenapa
selama ini kau tidak pernah beritahu kepadaku?"
"Sudah tentu ada sebabnya. Sebab yang kumaksud adalah sebab kenapa akhirnya ayahmu
tidak berhubungan pula dengan guruku itu."
"Memang aku ingin sekali tahu "sebab"-nya itu, kuharap kau suka menjelaskan kepadaku."
Beng Goan-cau meneguk secangkir air teh Liong-kin sebagai pelicin tenggorokan, katanya:
"Kalau dibicarakan sangat panjang kisahnya. Baiklah kujelaskan dulu orang macam apa
sebenarnya guruku itu."
"Lahirnya guruku membuka Bu-koan (perguruan) menerima murid, seorang guru silat
kampungan kecil yang tidak tahu menahu urusan dunia luar, sebenarnyalah beliau adalah
seorang
patriot bangsa yang melawan pemerintah Boan-ciu."
"Tiga puluh tahun yang lalu, dalam istana raja ada seorang durna bangsa Boan yang
bernama
Ho Kun, sekarang kalau orang-orang tua lanjut usia membicarakan orang ini, tentu masih
kertak
gigi dan menyumpah-nyumpah. Kukira kau pun tahu akan hal ini."
"Ya, aku pernah dengar perihal durna yang laknat itu dari beberapa orang tua. Menurut
kabarnya semula dia cuma tukang tandu Kian-Iiong, karena wajahnya mirip dengan salah
seorang
selir Kian-liong yang meninggal, tak berselang lama dari seorang tukang tandu naik
pangkat jadi
perdana menteri. Setelah menjadi perdana menteri kerjanya cuma menjilat kepada sang
junjungan, memeras rakyat jelata dan main bunuh terhadap bangsa Han kita, di mana-mana
ia
mengumbar kejahatan. Dia berkuasa selama dua puluh tahun, koleksi harta bendanya hasil
rampasan dan rampokannya dari rakyat tak terhitung banyaknya, jauh lebih besar dari
milik
negara. Setelah Kian-Iiong mampus, Ka-ging menerima jabatan, akhirnya dia beri anugerah
padanya untuk 'bunuh diri' dan menyegel rumahnya. Maka pada waktu itu ada tersebar luas
ucapan rakyat jelata yang mengatakan 'Ho Kun jatuh, Ka-ging kenyang', ujar-ujar ini
sampai
sekarang masih luas dibicarakan kalangan rakyat jelata."
"Guruku justru sangat benci pada Ho Kun ini, tiga puluh tahun yang lalu, di kala beliau
berkelana sama ayahmu dan paman Hun, diam-diam dia sudah membuat rencana untuk
membunuh Ho Kun itu secara menggelap. Soalnya dia tidak mau merembet para sahabatnya
maka
beliau mengelabui ayahmu.
"Sebetulnya guruku sudah mengundang tiga jago kosen untuk meluruk ke dalam istana untuk
membunuh Ho Kun, tak diduga tepat tiba pada hari yang sudah direncanakan, yang datang
cuma
satu orang. Dua orang yang lain entah karena takut atau terjadi urusan lain, akhirnya
menyembunyikan diri tidak mau menemuinya. Guruku jadi kewalahan, terpaksa beliau
melanjutkan rencana semula bersama seorang kawannya itu dengan menempuh bahaya."
"Akhirnya karena dikerubut sekian banyak musuh, setelah mereka berhasil merobohkan
delapan belas jago bhayangkari dari istana raja, mereka sendiri pun kena tcrluka.
Guruku rada
beruntung, luka-lukanya tidak membahayakan jiwanya, adalah sahabat yang membantunya itu
tak
beruntung akhirnya meninggal karena luka-lukanya yang berat.
"Sahabatnya yang tidak beruntung dan akhirnya meninggal itu adalah ayahku."
Song Theng-siau menaruh hormat, katanya: "Jadi kau keturunan patriot bangsa melawan
penjajah, baru sekarang aku tahu."
"Peristiwa ini terjadi pada dua puluh empat tahun yang lalu, waktu itu aku belum
dilahirkan,
aku adalah putra dalam kandungan ibuku, tahun kedua baru aku lahir."
"Setelah usaha pembunuhan itu gagal, malam itu juga guruku bersama ibuku meninggalkan
Pak-khia, masuk gunung dan sembunyi di sana. Tahun kedua begitu aku lahir guruku lantas
menerima aku sebagai muridnya. Suhu, suhu, guruku memang sesuai benar dengan namanya,
sebagai guru menjadi ayah pula, dengan kedua tangannya itu beliau mendidik dan mengasuh
aku
sampai besar."
"Peristiwa ayahmu membunuh Ho Kun, apakah paman Hun mendapat tahu?"
"Paman Hun sudah tentu tahu."
Song Theng-siau mengerut kening, katanya: "Kenapa hanya mengelabui ayahku seorang?"
"Bukan guruku suka membeda-bedakan hubungan satu sama lain, adalah karena asal-usul dan
kedudukan ayahmu dengan paman Hun berlainan."
"Apanya yang berbeda?"
"Secara rahasia paman Hun juga menjadi salah satu anggota dari patriot bangsa melawan
penjajah, di waktu guruku membuat rencana untuk membunuh Ho Kun sebetulnya ingin
mengundang dia supaya membantu, tapi karena saat itu paman Hun mempunyai tugas rahasia
lain yang tidak kalah pentingnya, jadi kurang leluasa ikut dalam usaha itu, apalagi
bila asal-usul
dan wajahnya sampai diketahui musuh. Maka akhirnya guruku membatalkan niatnya, setelah
berusaha beberapa tahun kemudian baru dia memperoleh pembantu yang benar-benar dapat
diandalkan.
"Pertama karena ayahmu tidak menjadi anggauta, kedua beliau pun seorang hartawan dari
Soh-ciu yang kenamaan, punya harta, punya keluarga maka guruku dan paman Hun tidak mau
sampai merembet pada beliau. Setelah gagal membunuh Ho Kun guruku jadi buruan
pemerintah,
maka dia harus hati-hati bertindak supaya orang tidak tahu akan hubungan karibnya
dengan
ayahmu. Itulah sebabnya kenapa beliau selalu menghindar diri untuk bertemu muka dengan
ayahmu."
"Sebetulnya meski ayahku tidak menjadi anggota, tapi beliau pun membenci penjajah Boanciu.
Bukan aku suka menempel lapisan emas di muka ayahku, mengandal ilmu silat dan
kepandaian
sastranya, sebetulnya dapat ikut ujian mendapat pangkat dan kedudukan yang tinggi,
entah
sebagai pembesar sipil atau pembesar militer. Tapi dia lebih suka hidup bertani di
kampung
halaman, dari sini dapatlah membuktikan akan jiwanya yang luhur dan terbuka."
"Aku tahu. Kalau tidak masa guruku dulu bisa bersahabat dengan ayahmu, demikian juga
akhirnya paman Hun harus mencari perlindungan kepada ayahmu."
Perasaan Song Theng-siau jadi rada longgar, katanya tertawa: "Meski gurumu tidak
memberi
tahu ayahku, tapi menurut dugaanku, rahasia gurumu akhirnya diketahui juga oleh ayahku.
Lihatlah bait syair di bawahnya, di mana ada disebut beberapa tokoh pembunuh gelap pada
jaman
kuno yang kenamaan, bukankah secara tidak langsung menggambarkan peristiwa pembunuhan
Ho Kun yang gagal oleh gurumu itu. Menurut hematku, memang sengaja ayahku memilih syair
ini
bukan karena ayahku secara kebetulan kelahiran Sam-ho dan mengenang pengalaman lama
mereka bertiga."
"Benar, makna syair ini memang ada mengandung arti seperti yang kau katakan." kata
Goancau.
Sementara dalam hati ia membatin: "Mungkin setelah paman Hun datang baru
memberitahukan persoalan guruku itu kepadanya." Beng Goan-cau melanjutkan:
"Setelah guruku jadi buronan pemerintah, bukan saja pihak istana hendak membekuk dia,
malah menyelidiki semua komplotannya. Hubungan paman Hun dengan guruku meski serba
rahasia cuma kabar berita di luaran terlalu santer, betapapun harus berjaga dari segala
kemungkinan. Apalagi paman Hun merupakan salah seorang tokoh penting dari salah satu
anggota patriot bangsa melawan penjajahan itu, setelah tidak bisa menetap di lima
propinsi
daerah utara, terpaksa membawa istri dan putrinya hijrah ke selatan serta minta
perlindungan
ayahmu."
"Lalu kau bagaimana, kau pun melarikan diri karena persoalan yang sama?"
"Boleh dikata demikian, tapi juga ada sebab lainnya."
"Bagaimana duduk perkara sebenarnya?"
"Aku tidak lebih cuma kaum keroco yang baru menongolkan kepalaku, belum sempat menjadi
incaran pihak istana sebagai tokoh penting dalam melawan penjajah. Tapi aku mendapat
perintah
dari guruku untuk datang ke tempat kalian ini, bila dikatakan untuk menghindari
kesulitan juga
bolehlah dikatakan demikian."
"Kini aku harus kembali pada persoalan pertama, setelah Ho Kun ditumpas oleh Ka-ging,
guruku beranggapan kejadian sudah sekian tahun lamanya, belum tentu pihak istana masih
begitu
ketat mengawasi segala gerak-geriknya, maka beliau jadi rada lena dan kurang waspada,
tak
terduga jejaknya dapat diendus oleh pihak pemerintah, beberapa tahun belakangan ini,
hidupnya
selalu dalam pelarian."
"Tiga tahun yang lalu. Dasar ilmu silat perguruan kami baru saja dapat kupelajari. Pada
suatu
hari guru lantas berkata kepadaku: 'Bukan aku tidak suka kau berada di dampingku,
segala waktu
aku bisa ketimpa malang yang tidak terduga sebelumnya. Kau adalah satu-satunya
keturunan
keluarga Beng yang masih ada, jikalau sampai ikut ketimpa bencana bersama aku,
bagaimana aku
harus memberi pertanggungan jawab pada arwah ayahmu? Maka aku ingin kau pergi ke suatu
tempat untuk menyelamatkan diri sementara waktu.'"
"Sudah tentu aku tidak mau menurut pesannya, tapi guruku berkata lagi: 'Mengandal ilmu
silatmu sekarang, kau tidak akan bisa banyak membantu kesulitanku, adalah lebih baik
setelah
kepan-daianmu jadi sempurna baru kau kembali membantu aku. Di sana ada dua sahabat
kentalku, setelah berada di sana tak perlu kau buron sana lari sini ikut menderita
secara langsung
kau bisa memperoleh petunjuk mereka pula yang berharga, belajar dan berlatih dengan
tekun dan
rajin, sudah tentu jauh lebih gampang dibanding sekarang ini. Kau harus dengar dan
patuh akan
ucapanku.'"
"Perintah guru sukar ditampik, apa boleh buat terpaksa aku menurut saja akan semua
pesannya. Baru setelah itu guruku menyebut nama ayahmu dan paman Hun, malah dia pun
menambahkan: 'Aku pun sangat ingin tahu berita kedua kawan lamaku ini, tapi aku tidak
bisa ke
sana menjenguk mereka, karena itu kau harus ke sana untuk mengetahui keadaan mereka'.
Paman dan bibi Hun waktu kecil aku pernah melihatnya, guruku menyuruh aku mengaku
sebagai
famili dari keluarga Hun, datang untuk minta perlindungan, maklum peperangan sudah
terjadi di
mana-mana. Tapi tak nyana paman Hun dan ayahmu sudah meninggal, kedatanganku sangat
terlambat, tak bisa aku bertemu dengan mereka."
"Namun meski aku tidak beruntung dapat bertemu dengan kedua paman ini, hubungan kental
kita dari generasi mendatang kiranya tidak kalah erat dan intimnya dari mereka, selama
tiga tahun
ini, aku, kau dan Ci-lo laksana saudara sepupu saja bukan?"
"Waktu pertama kali datang, aku takut merembet kau, maka tidak berani memberitahukan
asalusulku
yang sebenarnya kepadamu, tapi aku selalu berharap dan menunggu kesempatan untuk
memberitahukan hal ini kepadamu. Sekarang tibalah saatnya aku harus memberi-tahu
segalagalanya
kepadamu."
Girang dan haru pula perasaan Song Theng-siau, dengan kencang ia genggam tangan Beng
Goan-cau, katanya tersendat: "Banyak terima kasih, Beng-heng. Terima kasih akan
kepercayaanmu kepadaku, kau beberkan semua rahasia kepadaku."
Mendengar ucapannya ini, tak urung diam-diam Beng Goan-cau merasa menyesal dalam hati,
ternyata dia masih mempunyai suatu rahasia yang masih mengelabui Song Theng-siau,
meskipun
rahasia itu termasuk rahasia pribadinya.
Sebenarnya dia ada mengesampingkan satu persoalan, di waktu gurunya menyuruhnya datang
menetap di rumah Hun, ada pernah berpesan wanti-wanti kepadanya: "Berkorban hidup demi
keadilan dan kebenaran adalah sepak terjang kaum cendekia dan patriot bangsa seperti
kita. Tapi
kau adalah keturunan keluarga Beng satu-satunya, kuharap setelah kau menikah dan
mempunyai
anak, baru kuijinkan kembali untuk berjuang berdampingan denganku, bahagia atau ketimpa
bencana diresapi bersama. Paman Hunmu punya seorang putri, kuharap kau dapat menikah
dengan dia." Gurunya ada menulis sepucuk surat menyuruhnya menyerahkan langsung kepada
paman Hun, dalam suratnya itu ia ada menyinggung maksudnya itu. Ayah Hun Ci-lo sudah
meninggal, adalah ibunya sudah pernah membaca surat itu.
Sebelum Beng Goan-cau datang, calon mantu yang dipenujui dalam hati Hun-hujin
sebetulnya
adalah Song Theng-siau, soalnya usia mereka pada waktu itu masih kecil, maka tidak
pernah ia
menyinggung soal perjodohan. Setelah Beng Goan-cau datang, sepihak karena isi surat
itu, meski
Kim-to Lu Siu-gun tidak secara terang-terangan menjelaskan, tapi secara tidak langsung
sudah
mencurahkan harapan hatinya, semoga muridnya ini dapat memperoleh jodoh yang setimpal.
Mengharap supaya Hun-hujin suka membantu untuk menyempurnakan cita-citanya. Ini jelas
bahwa secara tidak langsung suratnya itu meminang putrinya untuk dijodohkan dengan
muridnya.
Hubungan Kim-to Lu Siu-gun dengan keluarga Hun bukan hubungan biasa, kalau toh dia
sudah
mengajukan lamaran bagi muridnya, tidak bisa tidak Hun-hujin harus mempertimbangkan
secara
mendalam.
Pihak kedua, watak Beng Goan-cau tegas lurus dan penuh keyakinan, sifatnya jujur dan
polos
lagi. sebaliknya Song Theng-siau suka membawa adatnya sebagai anak hartawan yang serba
mewah, kalau dibandingkan. Hun-hujin jauh lebih tertarik dan penujui perangai dan
martabat
Beng Goan-cau.
Ada dua persoalan yang berhubungan erat satu sama lainnya ini, lambat laun Hun-hujin
mulai
meru-bah sikap dan haluan, dia serahkan keputusan terakhir kepada putrinya untuk
memilih
sesuka hatinya. Tapi meski dia tidak campur tangan dalam keputusan terakhir ini, toh
secara
diam-diam ia rada memberi angin dan memberi peluang bagi Beng Goan-cau.
Pengaruh seorang tua terutama seorang ibu kepada putrinya adalah teramat besar, meski
pemberian angin dan peluang ini tidak memberikan bekas-bekas yarig nyata, tapi putrinya
secara
langsung akan merasakan secara wajar. Oleh karena itu. akhirnya Hun Ci-lo memang jatuh
cinta
kepada Beng Goan-cau, walaupun bukan karena pengaruh ibunya, tapi hal-hal itu merupakan
unsur-unsur kesuksesan yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.
Tiga tahun kemudian setelah Beng Goan-cau berada di Soh-ciu. sebetulnya secara diamdiam
antara Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo sudah ada sumpah setia sebagai suami istri, tapi
karena
mereka tidak tega membuat Song Theng-siau berduka, maka sementara mereka mengelabuinya.
Kini Song Theng-siau mengenang kejadian malam itu kembali, tanpa merasa ia tertawa
getir
dalam hati. pikirnya: "Semula kuanggap Goan-cau sudah mencurahkan seluruh isi hatinya
kepadaku, siapa tahu ternyata ia masih menyembunyikan satu rahasia besar kepadaku. Ai,
kecewa
aku mengagulkan diri sebagai pelajar yang cerdik pandai, sebetulnyalah aku begitu
goblok seperti
babi. mereka sudah sumpah setia dan mengikat janji sebagai suami istri, adalah aku
masih main
raba dan menebak-nebak."
Hatinya gundah pikiran pun kalut. Teringat akan kejadian malam itu. Song Theng-siau
jadi
merasa bahwa dirinya kena dipermainkan begitu runyam. Sebab bukan saja ia sudah
dikelabui,
malah dia anggap dirinya adalah orang yang paling mengenal perangai dan sifat-sifat Hun
Ci-lo.
Malam itu. Beng Goan-cau ada menuturkan tentang hubungan dirinya dengan kedua keluarga
Hun dan Lu. serta sebab musabab kenapa ia sampai meluruk datang ke Soh-ciu. semua itu
sudah
jelas bagi Song Theng-siau, lalu Song Theng-siau berkata: "Tadi kau mengatakan ada
sesuatu hal
yang mohon ban-tuanku. entah perihal apa yang kau maksud?"
"Sebuah hal yang ada sangkut pautnya dengan guruku." sahut Goan-cau.
Song Theng-siau girang, tanyanya: "Kau sudah memperoleh kabar dari gurumu?"
"Benar. Hari ini ada seorang murid Kaypang yang datang membawa kabar dari sunio
kepadaku,
beliau minta aku segera kembali."
"Kenapa kabar dari suniomu, bagaimana dengan suhumu?"
"Dia orang tua terluka parah, kabarnya keadaannya sudah sangat payah tinggal menunggu
waktu saja."
Song Theng-siau terkejut, serunya: "Kepandaian silat Kim-to Lu Siu-gun teramat tinggi,
siapakah yang mampu melukainya?"
"Seorang gagah tak kuasa menghadapi orang banyak, jejak beliau ketahuan oleh sepasukan
berkuda, setelah dikerubuti tujuh jagoan kelas tinggi dari istana raja, dengan matimatian
ia
bertempur dan berhasil menerjang keluar kepungan. Tapi luka-luka yang dia derita pada
tubuhnya
jauh lebih parah dibanding waktu dia membunuh Ho Kun dulu."
Beng Goan-cau melanjutkan: "Sunio mendesak aku segera pulang, maksudnya supaya aku bisa
bertemu muka pada penghabisan kalinya dengan suhu. Tapi yang kukuatirkan bukan melulu
keadaan suhu saja!"
Sebagai seorang cerdik, apa yang terpikir oleh Beng Goan-cau sudah tentu dia pun dapat
memikirkannya, katanya: "Keadaan suniomu sekarang tentu teramat berbahaya. Sudah
semestinya dia memerlukan bantuan seorang murid yang dapat dipercaya."
Beng Goan-cau manggut-mang-gut, ujarnya: "Justru karena soal itulah, maka aku harus
mendapat bantuanmu. Seluruh keluarga guruku, sekarang sama sembunyi di Ki-lian-san,
tempat
sembunyi itu meski sangat rahasia, bukan mustahil bisa ketahuan oleh musuh juga. Guru
sedang
luka parah, sute dan su-moay masih berusia kecil, seorang diri masa sunio mampu melawan
musuh? Umpama aku sempat datang juga mungkin tidak kuasa melindungi keselamatan mereka.
Apakah kau sudi membantu kesulitanku ini?"
"Kim-to Lu Siu-gun merupakan pamanku juga, meski aku belum pernah ketemu dengan beliau,
sejak lama aku sudah kagum dan kangen padanya. Kini dia sedang mengalami kesukaran,
jiwa
terancam lagi. masa aku tega berpeluk tangan? Beng-heng, apapun yang kau katakan ini
seolaholah
anggap aku orang luar saja."
"Banyak terima kasih akan kesediaanmu ini, biarlah aku bicara secara gamblang saja,
bagaimana kalau besok juga, kita lantas berangkat?"
"Menurut hematku masih ada seorang yang bisa kita ajak sekalian."
"Siapa?"
Song Theng-siau rada kurang senang, katanya: "Kau sudah tahu sengaja tanya lagi.
Tentunya
Hun Ci-lo yang kumaksud! Beng-heng, persoalan ini sebetulnya kau jangan mengelabui dia,
kita
kan tri tunggal, kau boleh memberi tahu padaku, kenapa tidak boleh memberitahu
kepadanya?"
"Aku tidak ingin dia ikut kena perkara, lain dengan kau dia adalah anak perempuan..."
"Kali terlalu pandang enteng Hun Ci-lo," cepat Song Theng-siau menukas. "Dia adalah
seorang
Srikandi, jangan kau samakan dia dengan perempuan umumnya! Ilmu silatnya tidak di
sebelah
bawah aku atau kau, betul-betul seorang pembantu yang paling baik, kenapa kau tidak
undang
dia?"
"Ini, ini... ai," Beng Goan-cau tergagap tak mampu bicara. "Kau tidak tahu, bukan saja
aku
tidak ingin dia tersangkut, apalagi, apalagi..."
"Apalagi apa?"
"Kalau terdesak terpaksa aku harus beritahu kepadanya," diam-diam Beng Goan-cau
membatin
dan ambil putusan. Sambil kertak gigi, ia berkata: "Apalagi seumpama kuundang dia belum
tentu
dia sudi ikut sama kita!"
Song Theng-siau tertawa, katanya: "Hun Ci-lo tidak mau pergi! Haha! Ucapanmu ini
rasanya
terlalu ceroboh dan tanpa pertimbangan, darimana kau bisa tahu bila dia tidak mau
pergi? Bengheng,
bukan aku suka mengunggulkan diri, perangainya aku jauh lebih paham dari kau."
Sebetulnya Beng Goan-cau hendak memberitahu rahasia Hun Ci-lo kepadanya, tapi mendengar
ucapan Song Theng-siau ini, terpaksa ia telan kembali. Katanya: "Aku cuma menduga-duga
saja,
kupikir mereka ibu beranak hidup saling memerlukan, belum tentu Ci-lo tega meninggalkan
ibunya."
Tak terasa Song Theng-siau bergelak tawa mendengar alasannya ini.
Beng Goan-cau jadi dongkol, katanya: "Song-heng menertawakan dugaanku yang tidak
berdasarkan alasan yang tepat?"
"Untuk itu tidak bisa salahkan kau, kau cuma tiga tahun bergaul dengan Ci-lo, adalah
aku sejak
kecil dibesarkan bersama, terhadap perangai, watak dan karakternya sudah tentu aku jauh
lebih
jelas dari kau. Jangan kau anggap sikapnya yang lemah lembut itu, lantas kau anggap dia
seorang
nona aleman yang tidak tega meninggalkan ibunya, bahwasanya justru dia sangat merasa
sebal
hidup dalam pengasingan yang sepi ini, sejak lama dia sudah ingin berkelana, keluar
menerjang
berbagai kesulitan hidup nan luas ini. Bukan saja dia memiliki perangai yang hangat dan
lembut,
dia pun punya jiwa ksatria yang gagah berani. Kau paham belum?"
Sikap Beng Goan-cau kaku tanpa ekspresi, sahutnya: "Sudah paham, sudah paham. Tapi aku
tidak ingin pergi mengundangnya."
"Kalau kau merasa rikuh mengundang dia, biar aku mewakili kau. Sekarang belum lewat
kentongan ketiga, mungkin Ci-lo belum lagi tidur. Kau tunggu aku di sini, sebentar aku
kembali.
"Baiklah, baik juga kau pergi coba-coba!"
Hujan gerimis masih terus berlangsung, membawa hatinya yang berkobar dan semangat yang
menyala-nyala, sambil berlari-lari kecil Song Theng-siau menempuh hujan meluruk ke
rumah Hun
Ci-lo dan memanggilnya keluar.
Tak nyana sesuai dengan dugaan Beng Goan-cau, bujuk punya bujuk Hun Ci-lo tetap tidak
mau
ikut mereka pergi.
Mereka berdiri berendeng di teras dalam taman bunga, selama itu Hun Ci-lo diam saja
mendengarkan penjelasannya. Lampu lampion di teras sebelah pojokan sana tergoyang
gontai
terhembus angin malam, tapi dari cahaya sinar lampion yang remang-remang itu masih
dapat
terlihat jelas sikap dan segala gerak-gerik Hun Ci-lo.
Hun Ci-lo seperti pulas dalam impiannya, kedua matanya mende-long lurus ke depan entah
apa
yang dilamunkan. Agaknya dia terkejut oleh berita yang sangat mendadak ini, gugup dan
menjadi
hampa pula. Kadang kala saja ia ikut menimbrung beberapa patah: "Kau kemari bukan
suruhan
Beng Goan-cau bukan?"-"O, jadi besok benar-benar hendak berangkat?"
Reaksi yang dihadapi sama sekali berbeda dengan dugaan sebelumnya, sedikit pun ia tidak
kelihatan terharu, berat dan tidak terpengaruh sedikit pun.
Waktu Song Theng-siau selesai memberi penjelasan, tampak tanah di sekitar kakinya penuh
ditaburi kelopak kembang. Ternyata sambil mendengar penjelasannya, Hun Ci-lo, di luar
kesadarannya, meremas-remas kelopak-kelopak kembang mawar, entah berapa banyak kuntum
kembang mawar yang sudah dihancurkannya.
Song Theng-siau teramat gelisah, tanyanya: "Sebetulnya kau mau ikut atau tidak?"
Dengan tertekan Hun Ci-lo menyahut: "Aku ingin pergi, sayang aku tidak bisa pergi!"
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Ayahku sudah meninggal, aku harus menjaga ibuku. Berat rasanya
meninggalkan beliau."
Ai, kiranya jawabannya persis seperti dugaan Beng Goan-cau.
"Hm, kukira kau adalah Srikandi yang gagah berani, siapa kira tindak tandukmu tepat
seperti
yang dikatakan oleh Beng Goan-cau, ternyata nona pingitan yang berat meninggalkan
ibunya!"
Selamanya Song Theng-siau belum pernah mengumbar amarahnya kepada Hun Ci-lo, kali ini
adalah yang pertama kali.
Pecah tangis Hun Ci-lo, katanya sesenggukan: "Terserah apa yang kau katakan, untuk
selanjutnya kau tidak usah hiraukan diriku." Sambil berlari masuk kamar, "biang" ia
tutup pintunya
terus dikunci dari dalam.
Di bawah jendelanya Song Theng-siau mengeluarkan banyak kata-kata bujukan, entah berapa
lamanya Hun Ci-lo baru menghentikan tangisnya, terdengar suaranya berkata: "Kau jangan
banyak curiga, aku tidak salahkan kau. Kita masih sebagai sahabat karib. Aku cuma benci
pada
diriku kenapa aku tidak bisa ikut pergi. Sekarang cuaca hampir terang tanah, mungkin
Goan-cau
sudah tidak sabar menunggu kau, lekaslah kau pergi menemuinya!"
Mimpi pun tidak nyana beginilah akhirnya, kalau datangnya Song Theng-siau membawa
semangat yang menyala-nyala, kembalinya menjadi lesu seperti jago yang kalah di medan
laga.
Sungguh ia menyesal kenapa tadi dia marah-marah kepada Hun Ci-lo, lebih menyesal pula
akan
kecerobohan dirinya.
Mengawasi Nyo Hoa di hadapannya ini, dalam hati ia berpikir: "Ternyata pada waktu itu
perutnya sudah mengandung anaknya Beng Goan-cau, sudah tentu tidak bisa salahkan dia
tidak
mau ikut pergi."
Setelah perutnya kenyang, melihat Song Theng-siau masih berdiri menjublek seperti
kehilangan
semangat, mematung tidak bergerak, hati Nyo Hoa jadi kesal dan waswas, katanya: "Paman
Song,
bukankah kau sudah berjanji hendak membawa aku mencari ibu?"
"Benar, aku hendak membawa kau. Tapi kau baru saja habis makan, tidak baik melanjutkan
perjalanan, istirahat sebentar lagi."
Kenangan lama kembali terbayang dalam benaknya, karena Nyo Hoa merengek hendak
mencari ibunya, teringat olehnya pada tiga tahun yang lalu di kala dia kembali ke Sohciu
dengan
tujuan hendak menemui Hun Ci-lo.
Sebelumnya dia sudah berjanji dengan Beng Goan-cau, bilamana gurunya beruntung tidak
sampai ajal, setelah gurunya sembuh mereka akan segera dapat kembali. Sebaliknya bila
gurunya
meninggal, maka dia harus mengantar keluarga gurunya menuju ke Siau-kim-jwan. Karena di
Siau-kim-jwan sana ada laskar gerilya. Pemimpin dari laskar gerilya ini adalah Leng
Tiat-jiau dan
Siau Ci-wan, kedua orang ini adalah sahabat karib gurunya.
Pendeknya, bila tiada terjadi sesuatu di luar dugaan, paling cepat setengah tahun,
paling lama
satu tahun mereka bakal bisa kembali ketemu lagi dengan Hun Ci-lo.
Tak nyana, sekali mereka pergi lima tahun kemudian baru kembali, waktu berangkat adalah
sepasang teman karib, di kala pulang cuma dia seorang diri. Malah waktu dia tiba di
rumah
keluarga Hun, keadaan gedung kediamannya masih tetap seperti sedia kala, cuma
penghuninya
sudah kosong.
Selama lima tahun ini, penghidupan yang dialaminya adalah sedemikian tegang dan penuh
mara bahaya, begitu tegangnya sampai-sampai ada kalanya dia tidak sempat mengenang Hun
Cilo.
Waktu berangkat dari Soh-ciu mereka menempuh perjalanan siang malam, setiba di Ki-liansan
kebetulan masih sempat bertemu muka dengan guru Beng Goan-cau.
Waktu itu Beng Goan-cau berlutut di depan pembaringan gurunya dengan lirih ia
mengucapkan
beberapa patah kata, entah apa yang diucapkan tidak terdengar jelas cuma lapat-lapat
Song
Theng-siau ada mendengar 'cita-cita kau orang tua sudah terlaksana' dan beberapa patah
kata
lain yang dia tidak mengerti.
Setelah mendapat laporan muridnya, rona wajah Lu Siu-gun kelihatan senang dan berseri
tawa
lebar, sambil menunjuk putrinya, ia berkata kepada Song Theng-siau: "Aku bersahabat
dengan
ayahmu, aku bisa melihat kau, seperti juga melihat ayahmu, aku sangat senang. Tapi
mungkin
aku tidak bisa bicara tentang pengalaman yang lalu dengan kau, kedua putra putriku ini,
harap
kau bersama Goan-cau suka memberi bimbingan dan perlindungan."
Melihat Lu Siu-gun mengulum senyum lebar, semangatnya banyak pulih kembali, mereka sama
mengira bahwa dia ada harapan sembuh kembali, tak kira setelah memberikan pesanpesannya
yang perlu, tiba-tiba kedua kakinya menjulur lurus, saat mana juga beliau telah
meninggal.
Secara kenyataan Lu Siu-gun meninggal, sudah tentu mereka tidak bisa segera kembali ke
Sohciu,
terpaksa melaksanakan rencana kedua yaitu mengantar keluarga Lu Siu-gun menuju ke
Siaukimjwan.
Tapi sebelum mereka berangkat, secara tak terduga-duga mereka mengalami kejadian diluar
dugaan Sebetulnya bukan 'di luar dugaan', seharusnya siang-siang sudah mereka duga
sebelumnya, sebab cakar alap-alap pihak istana raja sudah menemukan jejak Lu Siu-gun,
sekali
tidak berhasil membekuk dia, kena dirugikan besar-besaran lagi, sudah tentu mereka
tidak akan
berhenti di tengah jalan, mereka masih mengerahkan kaki tangannya yang tersebar di
mana-mana
untuk mengejar buronan penting ini.
Secara kebetulan justru mereka berdua kebentur dengan peristiwa macam itu, yaitu
bentrok
dengan para jagoan kosen dari istana raja yang untuk kedua kalinya meng-grebek tempat
sembunyi mereka.
Hari itu kebetulan adalah hari ketiga setelah wafatnya Lu Siu-gun, untung mereka sudah
mengebumikan Lu Siu-gun, kalau tidak terjadi peristiwa yang di luar dugaan ini, menurut
rencana
hari kedua mereka sudah akan berangkat.
Para jagoan istana yang meluruk datang kali ini ada lima orang, ke lima orang ini sama
pernah
ikut dalam penggrebekan Lu Siu-gun yang pertama kali dulu.
Penggrebekan pertama kepada Lu Siu-gun tempo hari ada tujuh jagoan kosen, untung dua di
antaranya yang berkepandaian paling tinggi luka-lukanya masih belum sembuh, mereka
tidak ikut
datang, kalau tidak, malam itu, bagaimana akibatnya sulitlah dibayangkan.
Pihak musuh pun mempunyai perhitungan yang matang, dulu mereka bertempur mati-matian
melawan Lu Siu-gun sampai kedua pihak sama jatuh korban dan terlu-ka parah, tapi lukaluka
yang diderita Lu Siu-gun jauh lebih berat, meski tidak segera mampus, kiranya juga
tidak akan
mampu melawan lagi. Menurut anggapan mereka paling-paling mereka harus menghadapi istri
Lu
Siu-gun saja, maka meski mereka kurang dua jagoan yang paling tinggi kepandaiannya, toh
masih
memberanikan diri meluruk datang.
Adalah rekaan mereka hanya tepat separuh saja, memang Lu Siu-gun sudah wafat, tapi
justru
pihak sini kedatangan rjua bantuan Beng Goan-cau dan Song Theng-siau, dua pemuda
seperti
anak domba yang tidak takut menghadapi harimau.
Untung pihak musuh dikurangi dua jagoan kosen, maka pihak keluarga Lu baru bisa
beruntung
memperoleh kemenangan. Tapi meski demikian, Beng dan Song dua orang di dalam
pertempuran
sengit itu boleh dikata hampir saja mereka gugur.
Peristiwa itu sudah berselang beberapa tahun yang lalu, teringat akan pertempuran
sengit
malam itu, hati Song Theng-siau masih berdebar keras.
Lu Siu-gun mempunyai dua anak, seorang putra dan putri. Putrinya bernama Lu Su-bi,
tahun
itu berusia lima belas, putranya bernama Lu Su-hou. usianya jauh lebih kecil, cuma
sembilan
tahun. Malam itu hanya putra terkecil dari keluarga Lu ini saja yang tidak terjun ke
dalam medan
laga.
Pihak sini ada empat, jadi empat lawan lima, memang jumlahnya masih kalah dari pihak
musuh, tapi Beng Goan-cau dan Song Theng-siau baru pertama kali ini benar-benar
menghadapi
musuh tangguh. Terutama Lu Su-bi, meski masih merupakan bocah kecil yang tenaganya
belum
lagi matang, dengan ajaran keluarganya yang hebat yaitu Pat-kwa-yu-sin-to-hoat, ilmu
golok yang
baru saja berhasil dia pelajari. Keempat orang ini hanya Lu-hujin seorang yang sudah
biasa
menghadapi pertempuran yang menegangkan urat syaraf ini, tapi dia baru saja kematian
suami,
sudah tentu tenaga dan semangatnya banyak berkurang.
Dalam pertempuran sengit itu, Song Theng-siau sendiri tidak tahu berapa banyak ia kena
terluka, luka-lukanya itu pun tidak terasakan sakit sama sekali, tahunya cuma bertempur
matimatian
dan kalap, ganyang dan bunuh semua musuh-musuhnya.
Dari tengah malam mereka berhantam sampai terang tanah, baru pertempuran sengit itu
berakhir. Kelima jagoan kosen dari istana pemerintah sama dapat ditumpas di alas
pegunungan
itu. Jiwa mereka melayang tanpa ada tempat liang kubur.
Setelah Song Theng-siau menyaksikan musuh terakhirnya kena dirobohkan, baru dia sempat
menarik napas lega, tapi begitu perasaan menjadi longgar, ia sendiri pun tak kuat
bertahan lagi,
jatuh semaput.
Setelah peristiwa itu berselang, baru Song Theng-siau tahu bahwa badannya kena tiga
tabasan
golok yang cukup berat, di samping itu kena sekali pukulan Thi-sa-ciang, tertusuk piau
terbang
musuh yang dilumuri racun jahat lagi.
Luka-luka golok sih gampang diobati, adalah pukulan Thi-sa-ciang itu telah menggetar
luka isi
perutnya, lebih liehay pula senjata rahasia beracun itu, karena senjata rahasia itu
sudah direndam
dalam racun air Khong-ciok-tam dan Ho-ting-ang, racun ini tidak bisa disembuhkan dengan
sembarangan obat pemunah umumnya.
Mungkin memang ajal Song Theng-siau belum sampai, hari kedua secara kebetulan datang
seorang murid Kaypang yang bertandang hendak menemui Lu-hujin, orang ini bernama Goan
Ittiong,
murid dari Kaypang Pangcu sekte utara Tiong Tiang-jong. Murid-murid Kaypang banyak
yang pandai menggunakan racun dan memunahkan racun, Goan It-tiong ini pun punya
hubungan
intim dengan Bu-ay Siansu, pemuka dari Cap-pwe-lo-han yang kenamaan dari Siau-lim-pay.
Untung dia membawa tiga butir Siau-hoantan dari pemberian Bu-ay Siansu, menggunakan
ajaran pengobatan pihak Kaypang yaitu tusuk jarum memunahkan racun ia sedot dan
membubuhi
obat pula bagi luka-luka Song Theng-siau, pula ia berikan sebutir Siau-hoan-tan untuk
menambah
tenaga dan memulihkan hawa murninya, karena pertolongan yang tepat dan mujarab ini baru
jiwanya dapat diselamatkan.
Meski demikian, Song Theng-siau harus berbaring tiga hari tiga malam di atas ranjang
baru
siuman kembali. Tatkala itu Goan It-tiong sudah pergi, dari penuturan Lu-hujin, baru
dia tahu
bahwa siapa yang telah menolong jiwanya.
Bahwa luka-luka Song Theng-siau sudah amat berat, tapi luka-luka yang diderita Beng
Goancau
jauh lebih parah lagi.
Luka di seluruh tubuh Beng Goan-cau sulit dihitung, kalau dikatakan seluruh badan babak
belur
kiranya tidak berkelebihan. Yang paling berbahaya dan paling mengancam jiwanya adalah
tiga
belas batang Bwe-hoa-ciam beracun yang mengenai tubuhnya, ketiga belas jarum-jarum
lembut
ini tersebar mengenai berbagai jalan darah di tubuhnya.
Murid Kaypang Goan It-tiong sendiri sampai kewalahan dan tidak mampu menyembuhkan
lukaluka
yang kena tertusuk jarum pada jalan darahnya, terpaksa ia tinggalkan kedua butir Siauhoantan
dan satu resep obat kepada Lu-hujin, terus pamitan karena masih ada tugas-tugas lain
yang
harus dia kerjakan.
Entah karena perawakan Beng Goan-cau yang tegap dan kuat, atau karena cara perawatan
yang tekun dan pengobatan yang tepat, setelah tujuh hari tujuh malam dia pingsan tidak
sadarkan
diri, ternyata tidak mati, sebaliknya kembali siuman dan hidup lagi. Bahwa Beng Goancau
dapat
luput dari kematian dan hidup kembali, memang berkat kedua unsur yang dikisahkan di
atas, tapi
yang terbesar adalah karena jasa-jasa Lu Su-bi.
Dalam tujuh hari tujuh malam itu, Lu Su-bi tidak mengenal lelah, siang malam merawatnya
sampai sembuh, dengan besi semberani menyedot keluar jarum yang menusuk ke dalam jalan
darahnya, menggodok obat serta melolohkan-nya, sehari tiga kali mengunyah obat pil lalu
dijejalkan ke mulutnya pula. Dan yang lebih mengagumkan dan mengharukan, dengan
mulutnya
yang kecil mungil itu ia menyedot keluar darah beracun pada luka-luka Beng Goan-cau.
Sudah tentu sikap baik Lu Su-bi ini bukan saja cuma terhadap suhengnya, terhadap Song
Theng-siau pun demikian. Setelah setengah tahun berbaring dan dirawat serta diobati
dengan
tekun baru luka-luka mereka sembuh seluruhnya. Untunglah ada Lu Su-bi yang menjadi
teman
dan selalu ajak mereka bicara sebagai pelipur lara, sehingga selama setengah tahun itu
mereka
tidak merasa kesepian, penyakit pun sembuh lebih cepat dari dugaan semula. Karena bukan
saja
Lu Su-bi sudah memperlihatkan pengabdiannya yang luar biasa, adalah dia pula yang telah
memberi semangat dan kekuatan.
Walaupun seluruh sanubari Song Theng-siau sudah diarahkan kepada Hun Ci-lo, namun
sedikit
pun tidak menjadi halangan akan kenangannya terhadap Lu Su-bi. Setiap kali ia terbayang
pada
nona kecil yang lincah dan pintar ini, hatinya pun menjadi hangat dan gembira.
Dikatakan Lu Su-bi memberikan semangat dan kekuatan bukan berarti bahwa mereka berdua
sudah jatuh cinta kepadanya, keadaan justru terbalik, hakikatnya mereka belum pernah
memikirkan ke arah itu, entah kelak pada suatu ketika mungkin mereka bisa jatuh cinta
kepadanya.
Nona kecil yang berusia lima belasan bak umpama sekuntum bunga yang mulai mekar,
jiwanya
diliputi kekuatan hidup yang menyala-nyala, bagi seorang yang berbaring sakit di atas
ranjang
selama setengah tahun, bukan mustahil merasa kesal dan sebal, gelisah dan gugup lagi.
Di kala
mereka terganggu oleh perasaan-perasaan inilah seperti seekor burung kecil Lu Su-bi
terbang
hinggap di pinggir ranjang mereka, ajak mereka bicara dan berkelakar, menghilangkan
kekesalan
hati. Ada kalanya tanpa dia membuka mulut, cukup hanya melihat tingkah lakunya yang
lucu dan
jenaka berloncatan sebagai nona cilik, mereka lantas merasa betapa indahnya jiwa itu,
secara
wajar nalarnya lantas mengejar akan kehidupan yang lebih panjang dan menyenangkan ini.
Dalam pandangan mereka sama menganggap Lu Su-bi sebagai adik kecilnya. Tapi kuncup
kembang bisa mekar, budak cilik pun lekas tumbuh dewasa. Mendadak suatu hari,
sekonyongkonyong
mereka sama merasa bahwa adik kecil ini bukan lagi sebagai budak kecil yang masih
ingusan, sekarang, sudah menjadi dewasa sebagai gadis yang sedang mekar semerbak.
Sudah tentu mereka tidak dalam waktu yang sama menyadari akan hal ini.
Yang pertama-tama mendapati perubahan ini adalah Song Theng-siau, kejadian itu
berlangsung
di kala mereka sudah berada di Siau-kim-jwan.
Di dalam waktu setengah tahun mereka merawat sakit itu, demi menghindari sergapan musuh
lagi. Lu-hujin harus berpindah-pindah beberapa kali dari rumah ke rumah yang lain, tapi
mereka
tetap bergerak di pegunungan Ki-lian-san. Setelah luka-luka mereka sembuh seluruhnya
baru
mereka meninggalkan Ki-lian-san.
Sepanjang jalan itu banyak kesulitan dan penderitaan harus mereka alami, bukan saja
selalu
waspada akan kejaran musuh, mereka pun harus melawan hawa dan cuaca yang buruk,
melewati
jurang yang dalam. Pada musim semi tahun kedua akhirnya mereka tiba juga di Siau-kimjwan.
Adalah Lu Su-bi selama dalam perjalanan ini secara diam-diam ia sudah melampaui hari
ulang
tahunnya yang ke tujuh belas.
Di kala mereka tiba di Siau-kim-jwan, kebetulan pasukan besar pemerintah Boan sedang
datang
menggempur, sudah tentu mereka harus membantu pihak laskar gerilya untuk memukul musuh,
maka rencana untuk kembali ke Soh-ciu terpaksa tertunda lagi.
Pada suatu hari, Song Theng-siau bersama Lu Su-bi keluar meronda, kebetulan kebentur
dengan sepasukan kecil tentara pemerintah, mengandal kekuatan mereka berdua cukup
berkelebihan membikin musuh berlari kocar-kacir dan banyak yang terbunuh pula. Song
Thengsiau
pernah memujinya:
"Siau-sumoay, kau sungguh berani, jauh melebihi keberanian seorang laki-laki."
Lu Su-bi menjawab dengan aleman: "Aku kan bisa tumbuh dewasa, kau anggap aku sebagai
budak kecil yang tidak berguna dulu itu?"
"Apa benar? Coba biar kupandang, o, ya, memang kau sudah tumbuh besar, tapi kau jangan
salah paham, maksudku dulu kau pun cukup berani dan banyak jasanya, apa lagi sekarang
sudah
dewasa lebih berguna."
Bahwasanya Song Theng-siau sendiri belum menyadari akan arti 'tumbuh dewasa' yang
dimaksudkan oleh Lu Su-bi. Sambil berjalan berendeng mereka kembali ke markas,
sepanjang
jalan bercakap-cakap dan bersendau gurau, entah mengapa, akhirnya mereka membicarakan
Hun
Ci-lo. Mendadak Lu Su-bi bertanya: "Kudengar katanya Hun-cici sangat cantik molek, apa
benar?"
"Ya, dia cantik molek," Song Theng-siau menjawab pendek.
Lu Su-bi lantas menunduk, agaknya sedang memikirkan sesuatu. Mendadak terpikir oleh
Song
Theng-siau bahwa 'adik cilik' ini sekarang sudah benar-benar 'tumbuh dewasa', di
hadapan
seorang gadis ia memuji kecantikan gadis yang lain, adalah mungkin menimbulkan rasa
kurang
senang orang, maka dengan tersenyum ia lantas menambahkan: "Siau-sumoay, kau sendiri
pun
sangat elok dan rupawan."
Biasanya Beng Goan-cau selalu memanggil Lu Su-bi dengan sebutan Siau-sumoay, Song
Thengsiau
adalah sahabat karibnya, maka ia pun jadi kebiasaan ikut memanggil Siau-sumoay kepada
Lu
Su-bi.
"Jangan kau membujuk senang hatiku, mana bisa aku lebih cantik dari Hun-cici?"
"Kau anggap aku membual belaka, bukan aku saja yang memuji kecantikanmu."
"Masih ada siapa lagi?"
"Masih ada Toa-suhengmu Beng Goan-cau."
"Apa yang dia katakan?"
"Katanya budak kecil berambut kuning berubah delapan belas kali, kau semakin besar jadi
semakin ayu!"
Jengah muka Lu Su-bi, katanya pura-pura bersungut: "Beng-toako seorang polos, masa dia
juga seperti kau suka menggoda orang?"-
Kata-katanya seperti tidak percaya dan pura-pura aleman, sebenarnya dalam hati ia
sangat
girang, mukanya yang bersungut itu tidak bisa mengelabui perasaan senang hatinya. Song
Thengsiau
tahu akan hal ini, dalam hati menjadi geli, baru sekarang secara tiba-tiba ia merasa
bahwa
Siau-sumoay yang dianggapnya masih kecil ini ternyata sudah tumbuh dewasa.
"Sedikit pun aku tidak menipu kau, bersama Hun Ci-lo kalian mempunyai keelokan
masingmasing.
Jikalau kalian berdiri berjajar, orang lain pasti menyangka kalian adalah sepasang
saudara
yang sama cantik dan rupawan."
"Sayang aku tidak punya keberuntungan seperti itu," lalu Lu Su-bi bertanya lebih
lanjut: "Kalian
sama menyenangi Hun-Cici itu bukan?"
"Benar, tapi kami sama-sama pula menyenangi kau," lahirnya ia berkata demikian, tapi
Song
Theng-siau sendiri paham, kedua 'senang" dan 'senang' ini mengandung arti yang
berlainan,
terpaut amat jauh.
"Lalu bagaimana dengan Hun-cici? Dia lebih suka kepadamu, atau lebih menyenangi Beng
toako?"
Song Theng-siau tidak pernah menyangka Lu Su-bi bakal menanyakan hal ini, tepat pula
mengenai rasa sirik hatinya, seketika Song Theng-siau merasa sangat hampa dan
kebingungan,
sesaat lamanya baru dia menjawab tersekat: "Aku, aku tidak tahu. Mungkin sama saja?"-
Maklum
justru pertanyaan itulah yang memang dia kejar-kejar jawabannya, sekian lamanya dia
masih
belum memperoleh jawaban yang positif.
Lu Su-bi tertawa: "Tidak mungkin sama saja. Menurut pandanganku, Hun-cici tentu lebih
senang kau, sebab kau pandai bicara."
Song Theng-siau tak tertahan tertawa geli, ujarnya: "Aku sendiri tidak tahu, masa kau
bisa tahu
malah!"
Lu Su-bi cekikikan, katanya: "Apa yang kuterka di antara sepuluh ada delapan yang
tepat, kalau
kau tidak tahu berarti kau ini bodoh!"
Dalam hati Song Theng-siau berpikir: "O, budak ini kiranya sudah mulai mekar asmaranya.
Kelihatannya dia pasti menyenangi Beng Goan-cau."-Sudah tentu Song Theng-siau memang
mengharap percintaan mereka terjadi, karena bila mereka jatuh cinta, berarti Beng Goancau
adalah sahabatnya, dan tidak mungkin bakal menjadi lawan asmaranya.
Tapi secara diam-diam Song Theng-siau pun memperhatikan dengan pikiran dingin,
diketahui
olehnya bahwa Beng Goan-cau bersikap rada dingin terhadap Siau-sumoaynya yang sudah
menanjak dewasa ini, sering ia sengaja menjauhkan diri dengan berbagai alasan supaya
Siausumoaynya
ini bergaul lebih dekat dengan Song Theng-siau. Naga-naganya Beng Goan-cau sudah
mendapat tahu akan perubahan Siau-sumoaynya ini, maksud tujuannya sama dengan pandangan
dirinya.
Tentang Lu Su-bi sendiri sikapnya memang seperti dulu, sulit diraba atau diterka
terhadap siapa
dia lebih suka.
Orang kuno suka mengibaratkan seorang gadis yang lincah Jenaka dan pintar serta nakal
sebagai 'kembang pelipur lara', ibarat ini justru sangat cocok bagi Lu Su-bi. Selama
beberapa
tahun hidup dalam suasana kacau peperangan itu, untunglah ada Lu Su-bi berada di
samping
mereka sehingga tekanan batin banyak menjadi ringan, kalau tidak Song Theng-siau pasti
merasa
hidupnya sangat menderita dan sengsara.
Namun demikian, tak urung hidup dalam lautan hutan lebat dan puncak bersalju membuat
kenangan Song Theng-siau sering melayang ke Soh-ciu yang terkenal dinamakan sorga
dunia,
karena di sana ada Hun Ci-lo yang selalu dikenangnya.
Hidup dalam peperangan sangat menegangkan urat syaraf, tapi setiap kali ada waktu
senggang, mau tidak mau pikirannya lantas mengenang Hun Ci-lo, ingin rasanya ia tumbuh
sayap
dapat terbang ke sampingnya.
Rencana semula cuma satu tahun pasti dapat kembali, tak nyana tahu-tahu lima tahun
sudah
lewat, Song Theng-siau masih berada jauh di pedalaman. Kapan baru aku, bisa kembali
berada di
sampingnya? Demikian ia sering berpikir.
Harap punya harap akhirnya tibalah suatu kesempatan yang sangat diharapkan. Dalam suatu
pertempuran kedua pasukan laskar gerilya dari Siau-kim-jwan dan Tay-liang-san dapat
menggabungkan diri, bersama menggempur pasukan pemerintah yang memblokir pasukan
mereka, sehingga untuk beberapa lama kemudian mereka memperoleh suasana yang cukup aman
dan tentram.
Kedudukan Song Theng-siau dalam laskar gerilya itu tidak lebih sebagai tamu belaka,
kalau toh
situasi sudah cukup tenang, sudah tentu dengan sesuka hatinya ia boleh meninggalkan
pasukan.
Sebetulnya dia hendak pulang bersama Beng Goan-cau, tapi Beng Goan-cau terpaksa harus
menunaikan suatu tugas penting pergi ke Tay-liang-san, terpaksa ia pulang seorang diri.
Tugas
Beng Goan-cau itu teramat penting, memerlukan seseorang yang benar-benar mahir dan
cerdik
untuk melaksanakannya. Adalah Beng Goan-cau memberanikan diri menerima tugas berat ini.
Menghadapi seluk beluk dan urusan dalam laskar memang dia jauh lebih bersemangat dan
gairahnya memang lebih besar dari pada Song Theng-siau.
Membawa hati yang menyala dan gembira Song Theng-siau meninggalkan pedalaman yang
penuh ditaburi salju dan semak belukar itu, langsung kembali ke Soh-ciu, kebetulan ia
tiba di
Kanglam pada musim semi.
Lima tahun sudah ia meninggalkan kampung halamannya, apakah Hun Ci-lo masih dalam
keadaan dulu? Tentu dia tumbuh lebih matang lebih cantik? Melihat aku kembali betapa
dia akan
kegirangan?
Karena ingin segera bisa ketemu dengan Hun Ci-lo belum lagi Song Theng-siau pulang ke
rumah sendiri sudah meluruk ke rumah Ci-lo lebih dulu, sepanjang jalan pikirannya
membayangkan berbagai kemungkinan, akhirnya ia tiba di depan rumahnya.
Kembang buah Tho di halaman rumah sedang mekar semerbak, tapi pintu besar rumah Hun
Cilo
tertutup rapat. Song Theng-siau merasa sangat heran, kenapa siang hari bolong kok tutup
pintu?
Menekan jantungnya yang berdebur keras, ia menggedor pintu sekeras-kerasnya, "Ci-lo,
Ci-lo,
lekas buka pintu! Coba kau lihat siapa yang sudah kembali?"
"Blum, blum, blum!", yang dia dengar cuma suara gedoran pintu melulu, tanpa mendapat
penya-hutan suara Hun Ci-lo.
Entah berapa lama dan berapa kali ia berteriak-teriak dan menggedor semakin keras,
akhirnya
ada seseorang kena dikejutkan oleh keributan ini dan memburu keluar. Tapi orang itu
bukan Hun
Ci-lo seperti yang diharapkannya. Orang ini adalah Ong-toama, seorang tetangga Hun Cilo.
Ong-toama adalah perempuan yang sudah lanjut usia, sekian lama ia mengamat-amati Song
Theng-siau, akhirnya baru mengenalnya, teriaknya merasa di luar dugaan: "Oh, kiranya
kau Songsiauya.
Kau sudah pulang!"
Cepat Song Theng-siau bertanya: "Ke mana nona Hun?"
Ong-toama menghela napas, sesaat baru ia berkata: "Song-siauya, kau datang terlambat!
Nona
Hun, dia, dia..."--Ong-toama tahu akan isi hati Song Theng-siau.
Deburan jantung Song Theng-siau serasa hendak melonjak keluar, tanyanya dengan suara
gemetar: "Kenapa dia?"
"Mereka ibu beranak sudah lama meninggalkan rumah ini!"
"Kapan mereka pergi? Apa dia ada memberitahu hendak pindah ke mana?"
Ong-toama menggeleng kepala, sahutnya: "Setelah kalian pergi kira-kira setengah
tahunan,
mereka pun lantas meninggalkan Soh-ciu, aku sendiri tidak tahu ke mana tujuan mereka.
Waktu
Hun-toaseng (ibu Ci-lo) hendak berangkat, dia ada berpesan kepadaku supaya menunggu
rumahnya baik-baik. Setiap bulan aku pasti kemari untuk membersihkan rumah ini."
"Kenapa mereka pergi?"
"Ini, ini..."
"Ong-toama kau mesti tahu, harap suka beritahu aku, beritahu kepadaku!"
"Ai," Ong-toama menghela, napas lagi, akhirnya ia membuka kata: "Nona Hun sudah
menikah!"
Seketika Song Theng-siau melongo dan menjublek seperti patung, hampir ia tidak mau
percaya
akan pendengaran kupingnya.
Ong-toama menggeleng kepala, dengan lemah lembut ia membujuk: "Sudah lima tahun dia
menikah. Song-siauya, kau tidak perlu bersedih. Masih banyak perempuan cantik di kolong
langit
ini..."
Song Theng-siau menenangkan pikirannya, lalu berkata: "Tidak, aku ingin tahu kepada
siapa
dia menikah?"
"Kabarnya seorang yang dipanggil Nyo-toaya."
"Orang macam apakah orang she Nyo itu?"
Ong-toama menggeleng kepala lagi, sahutnya: "Aku tidak tahu. Nyo-toaya itu menetap dua
malam di rumah ini, hari ketiga mereka bertiga lantas berangkat bersama. Semula
kusangka Nyotoaya
itu adalah famili jauh mereka, waktu mereka hendak berangkat, Hun-toaseng baru
memberitahu bahwa dia adalah calon mantunya. Kuduga mereka pergi karena mendapat
perlindungan mantunya itu. Sayang aku nenek tua ini tidak suka campur urusan orang
lain, aku
tidak mencari tahu orang manakah sebenarnya Nyo-toaya itu, maka aku pun tidak bisa
memberi
jawaban kepadamu."
Inilah suatu kejadian yang tidak bisa dibayangkan sebelummnya, selamanya Song Thengsiau
tidak pernah mendengar keluarga Hun mempunyai seorang sahabat kental she Nyo, kalau
begitu
berarti Hun Ci-lo baru berkenalan dua hari lamanya, mana bisa begitu gampang lantasmenikah
begitu saja dengan orang itu?
Kira-kira setengah tahun yang lalu baru dia berhasil mencari tahu. Ternyata Nyo-toaya
yang
dimaksud itu adalah guru silat kenamaan di Siok-ciu yang bernama Nyo Bok.
Cepat-cepat ia menyusul ke Siok-ciu tujuannya adalah hendak berjumpa dengan Hun Ci-lo,
tak
terduga kejadian justru sudah berubah sama sekali, hal ini benar-benar di luar
dugaannya.
Entah Nyo Bok ini benar-benar mati atau hanya pura-pura, tapi paling tidak untuk
sementara
jejaknya menghilang. Dari kenyataan yang dianalisa oleh Kwi-hwe-thio, peristiwa yang
misterius
ini tentu ada sangkut paut yang erat dengan Beng Goan-cau.
Tapi kenapa Hun Ci-lo rela menikah dengan Nyo Bok? Teka-teki ini masih belum dapat ia
pecahkan.
Lalu ke mana pula sekarang ibunda Hun Ci-lo? Semula ia pun punya pikiran yang sama
dengan
Ong-toama, sangkanya Hun-hujin tentu menetap bersama mantunya, setelah tiba di Siok-ciu
baru
ia tahu, bahwa tahun itu Nyo Bok cuma membawa pulang mempelai atau istrinya yang baru
saja
menikah, bahwasanya ia tidak pernah membawa pulang ibu mertuanya.
Akan tetapi persoalan ini sekarang dia pun tidak keburu hendak mengetahui, sebab
sekarang ia
sudah paham orang yang dicintai Hun Ci-lo bahwasanya bukan dirinya, maka bila dia sudah
menikah dengan Nyo Bok atau menikah dengan Thio Sam atau Li Si tiada sangkut pautnya
lagi
dengan dirinya. Sudah tentu dalam hal ini sedikit banyak ia masih rada ingin tahu
seluk-beluk yang
sesungguhnya. Pula ia pun merasa rada penasaran bagi sahabat karibnya itu. Meski Nyo
Bok
adalah seorang guru silat yang cukup tenar, tapi dalam pandangan hatinya, Hun Ci-lo
menikah
dengan Nyo Bok berarti burung cenderawasih ikut dengan burung gaok.
Bagi Song Theng-siau, tugas yang terpenting sekarang dia harus lekas-lekas menemukan
Hun
Ci-lo untuk menyerahkan putranya kembali. Kalau tidak tugas untuk mengasuh dan
membimbing
bocah sekecil ini sampai besar, wah tugas ini terasa amat berat bagi dia. Soalnya
sekarang dia
sendiri tiada punya pegangan dapat menemukan jejak Hun Ci-lo.
Setelah perutnya kenyang Nyo Hoa menggayut di atas batang pohon, mungkin saking lelah
tanpa sadar ia jadi tertidur pulas, waktu ia bangun siuman pula dilihatnya Song Thengsiau
masih
berdiri di tempatnya dengan menjublek, tapi mukanya mengulum senyum manis, tidak
seperti tadi
berwajah kaku tidak punya perasaan. Nyo Hoa jadi heran, sambil mengucek-ucek matanya ia
melompat bangun seraya berseru: "Paman, apa yang sedang kau pikirkan, sekarang kita
bisa
berangkat bukan?"
"Baik, sekarang juga kubawa kau mencari ibumu."
Nyo Hoa berjingkrak girang, serunya: "Apa benar? Jadi tidak lama lagi aku sudah bisa
ketemu
ibu?"
"Jangan kau tergesa-gesa, kutanggung kau bakal ketemu dengan ibumu. Kalau hari ini
tidak
berhasil, paling lama satu bulan pasti sudah dapat kita ketemukan."
Beng Goan-cau sudah pulang ke Soh-ciu, ia tahu Hun Ci-lo pasti juga akan pulang ke Sohciu
untuk menemui Beng Goan-cau. Bukan mustahil di waktu ia sampai di rumah kebetulan
mereka
pun sedang menunggu kedatangannya.
-ooo00d0w00k0z0ooo-
Hari sudah magrib, cahaya matahari yang kekuning-kuningan menyinari sebuah pedesaan
kecil
di luar kota Soh-ciu, pancaran cahaya emas yang kemilau membuat pedesaan yang nyaman
dan
menyegarkan ini laksana terdapat di dalam sebuah lukisan belaka.
Seorang perempuan yang mengenakan pakaian hitam sedang berlenggang di jalanan desa
yang berlika-liku itu seorang diri. Pemandangan pedesaan kecil yang indah ini memang
sudah
sangat dikenalnya, sekali berpisah delapan tahun sudah berselang, hari ini kembali ia
pulang ke
kampung halaman, pemandangan masih tetap seperti sedia kala, tapi perasaan hatinya
sekarang
jauh berlainan.
Dugaan Song Theng-siau memang tidak meleset, perempuan berpakaian hitam ini memang
bukan lain adalah Hun Ci-lo. Soalnya Song Theng-siau menempuh perjalanan sambil membawa
anak kecil sudah tentu jauh lebih lambat kedatangannya. Waktu itu Song Theng-siau masih
berada
di tengah jalan, sementara dia sudah beranjak di kampung halaman, di mana dia dulu
dibesarkan,
tempat dia bermain di waktu kecil.
Delapan tahun yang lalu sambil menahan air mata ia keluar dari pedesaan kecil ini,
tatkala itu
pujaan hatinya berada jauh di ujung barat sana. malah mati hidupnya juga tidak
diketahui sama
sekali.
Hari ini dia kembali, keadaan masih tetap indah, meski orang yang selalu dipuja dan
dikenang
itu berada di depan mata, namun perasaannya tidak segembira dan seriang dulu.
Selama delapan tahun ini, setiap saat setiap waktu, malah dalam impian pun ia sangat
mengharap dapat berjumpa kembali dengan Beng Goan-cau! Tapi di kala harapan yang selalu
dinanti-nanti itu bakal terlaksana, sekarang sebaliknya dia menjadi takut bertemu
dengan Beng
Goan-cau.
"Aku tahu Goan-cau akan dapat memaafkan aku, tapi kejadian masa silam yang merunyamkan
ini, cara bagaimana aku harus menjelaskan kepadanya?"-Matahari sudah terbenam, cuaca
sudah
remang-remang, perasaan hati Hun Ci-lo, bak umpama pandangan mata yang gelap ini.
Semakin
dekat dengan rumahnya, hatinya semakin gundah dan gelisah.
Dia sudah ingin melupakan kejadian masa silam, tapi mau tidak mau ia harus mengenangnya
pula. Dua bulan setelah Goan-cau berangkat, perutnya yang semakin membesar sudah tidak
mungkin dapat mengelabui orang lagi, terpaksa ia memberitahukan hubungan rahasia itu
kepada
ibunya. Sebetulnya umpama dia tidak memberitahu, ibunya pun sudah lama mengetahui
keadaannya.
Tapi ibunya tidak menyalahkan atau memarahi dia, sebab waktu pertama kali Beng Goan-cau
datang, sejak itu pula ibunya sudah mengharap pada suatu ketika Beng Goan-cau bakal,
menjadi
mantunya. Tapi sebelum menikah secara resmi putrinya lantas melahirkan anak, kejadian
ini
membuat ibunya serba susah.
Untung Beng Goan-cau ada janji paling lama satu tahun akan kembali, terpaksa ia hanya
berharap-harap dalam setengah tahun mendatang Beng Goan-cau benar-benar sudah pulang,
dan
sebelum dia keburu pulang, terpaksa dia suruh putrinya selalu sembunyi di dalam kamar
supaya
tidak dilihat orang luar.
Tak nyana belum lagi Beng Goan-cau pulang, secara tak terduga mereka mendapat sebuah
berita, berita yang jelek mengenai dirinya. Orang yang membawa berita buruk ini adalah
murid
Kaypang yaitu Goan lt-tiong.
Dari itu waktu Goan lt-tiong tiba di rumah mereka ia ada memberitahu. katanya Song
Thengsiau
dan Beng Goan-cau sama mendapat luka-luka yang amat berat, kalau Song Theng-siau masih
ada harapan, adapun Beng Goan-cau keadaannya sangat menguatirkan, bicara secara terus
terang mungkin saat mana dia sudah tidak berada di dunia fana lagi.
Goan It-tiong adalah seorang tabib sakti yang terkenal ilmu pengobatannya, terutama
luka-luka
yang terkena racun berbisa, luka-luka yang dia anggap tidak bisa diobati, pasti orang
itu akan
mati, dia adalah sahabat karib Kim-to Lu Siu-gun, soal Lu Siu-gun mewakili muridnya
meminang
putri keluarga Hun pernah dibicarakan dengan dia, maka dia merasa dia punya tanggung
jawab
untuk menyampaikan berita ini kepada ibu beranak keluarga Hun, supaya Hun Ci-lo tidak
tersia-sia
masa remajanya.
Namun dia tidak tahu bahwa Beng Goan-cau dan Hun Ci-lo bahwasanya belum lagi
bertunangan secara resmi akan tetapi Hun Ci-lo sudah mengandung anaknya Beng Goan-cau.
Belum selesai Hun Ci-lo mendengar penuturannya lantas jatuh pingsan. Waktu ia siuman
pula
Goan It-tiong sudah lama pergi, hanya ibunya yang berada di sisinya.
Sambil mengalirkan air mata ibunya berkata kepadanya: "Anakku, memang nasibmulah yang
jelek, sekarang ada dua jalan harus kau pilih salah satu di antaranya."
"Dua jalan apakah itu?"
Berkatalah ibunya: "Kau tidak mungkin sembunyi untuk selamanya, kalau terpaksa harus
pergi
ke tempat yang jauh. meninggalkan kampung halamanmu ini, atau sebaliknya kau harus
lekaslekas
mencari suami yang lain, ada lebih baik kalau orang itu dari luar daerah, punya citacita
besar dan pandangan yang luas, sudi menjadi ayah bayi dalam kandunganmu pula."
Kedua jalan ini Hun Ci-lo tidak mau melakukannya.
Meskipun menurut penuturan Goan lt-tiong jiwa Beng Goan-cau lebih banyak ajal daripada
selamat, bagaimana juga ia belum lagi sempat melihat kematian Beng Goan-cau
sesungguhnya,
maka Hun Ci-lo. masih mempunyai setitik harapan, semoga dia masih tetap hidup. Dia
kuatir bila
kelak Beng Goan-cau pulang tidak menemukan dirinya.
Soal menikah dengan orang lain, ia lebih tidak sudi. Kalau dia diharuskan memilih satu
di antara
kedua jalan itu, terpaksa dia lebih suka, memilih jalan yang pertama, meninggalkan
tempat itu dan
pergi ke tempat nan jauh.
Sebetulnya ibunya pun hanya mengada-ada saja, mana ada orang yang demikian tepat dan
secara kebetulan bisa mereka cari dan dijodohkan kepada putrinya? Adalah di luar dugaan
mereka, kejadian justru sangat kebetulan, malah tanpa mereka cari calon suami Hun Ci-lo
yang
diharapkan ini malah datang sendiri bertandang ke rumah mereka.
Di saat mereka sedang bersiap-siap untuk meninggalkan Soh-ciu, mendadak mereka
kedatangan seorang tamu, orang ini adalah Nyo Bok, guru silat ternama dari bilangan
Siok-ciu.
Di waktu pertama kali kelana di kangouw dulu Nyo Bok pernah mendapat bantuan dari ayah
Hun Ci-lo, entah bagaimana ia berhasil mencari tahu alamat kediaman keluarga Hun ini,
maka
sengaja ia datang bertandang.
Entah berapa banyak orang-orang yang pernah mendapat bantuan dan kebaikan ayah Hun
Cilo,
semua kejadian itu boleh dikata Hun-hujin sudah sama melupakannya. Tapi meski ia tidak
punya kesan yang mendalam terhadap Nyo Bok ini, setelah bertemu muka dengan Nyo Bok,
mau
tidak mau lantas terpikirlah akan perkawinan putrinya.
Dan yang lebih kebetulan lagi kedatangan Nyo Bok ini justru juga hendak meminang putri
keluarga Hun. Kiranya sejak lama ia sudah pernah dengar bahwa keluarga Hun mempunyai
putri
tunggal yang cantik ayu, oleh karena itu meski ia tahu bahwa tuan penolongnya sudah
ajal, ia
pura-pura menggunakan berbagai alasan untuk datang menyambangi mereka ibu dan anak.
Belum lagi Hun-hujin menjelaskan keadaan mereka yang serba runyam ini, Nyo Bok lantas
mengutarakan maksud kedatangannya.
Leluhur Nyo Bok juga keluarga persilatan, kepandaian silat Nyo Bok sendiri juga tidak
lemah,
perjodohan ini boleh dikata cukup setimpal. Keluarga Nyo bertempat tinggal di Siok-ciu,
seluruh
sanak kadang keluarganya belum pernah ada yang melihat Hun Ci-lo, maka di kala ia
membawa
istrinya yang baru dinikah ini pulang, asal dia mau mengakui anak dalam kandungan Hun
Ci-lo itu
sebagai anaknya, siapa yang akan tahu perihal borok ini.
Segala sesuatunya persis dan tepat atau sesuai dengan syarat-syarat yang diajukan oleh
Hunhujin,
tapi ibu Hun Ci-lo tidak segera memberi persetujuannya karena ada dua persoalan yang
mempersulit dirinya, pertama: ia harus mendapat persetujuan langsung dari putrinya,
kedua:
umpama ia mendapat persetujuan dari putrinya, cara bagaimana nanti ia harus memberi
penjelasan soal kejadian yang memalukan ini kepada Nyo Bok.
Meskipun kedaan serba runyam, tapi Hun-hujin tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini,
maka pertama-tama ia harus membujuk putrinya sendiri.
Di bawah bujukan dan penjelasan ibunya, Hun Ci-lo tidak menganggukkan kepala, tapi juga
tidak menolak secara kekerasan seperti semula. Karena terpikir olehnya suatu cara
tersendiri. Hari
kedua seorang diri ia langsung menemui Nyo Bok.
Secara terus terang ia membeberkan perihal dirinya bahwa dia sudah mengandung, dan lagi
ia
mengajukan satu syarat, kalau Nyo Bok memang masih ingin mengawini dirinya, palingpaling
ia
hanya bisa menjadi suami istri tidak resmi dengan Nyo Bok. Tapi harus menunggu selama
tiga
tahun, jikalau Beng Goan-cau memang tidak ada kabar beritanya, baru ia menjadi keluarga
Nyo
yang sesungguhnya.
Semula ia sangka Nyo Bok tidak akan sudi meluluskan permintaannya ini, di luar dugaan,
tanpa
ragu-ragu Nyo Bok memberikan persetujuannya, hal ini benar-benar di luar perhitungan
Ci-lo
sendiri, tapi syaratnya sudah ia kemukakan sendiri, kalau toh Nyo Bok sudah setuju,
terpaksa ia
harus menepati janji sendiri.
Mendapat penyelesaian ini, sudah tentu senang Hun-hujin bukan kepalang. Sebenarnya ia
sangat percaya akan keterangan Goan It-tiong, ia yakin bahwa Beng Goan-cau memang sudah
ajal di perantauan, lagi demi menghilangkan rasa bimbang sanubari putrinya, terpaksa ia
meluluskan permintaan putrinya, seorang diri ia menyusul ke Ki-lian-san untuk mencari
tahu akan
kebenaran dari berita Beng Goan-cau.
Hun Ci-lo sudah berjanji kepada Nyo Bok, kalau dalam tiga tahun ia tidak memperoleh
berita
Beng Goan-cau, baru dia rela menjadi istri Nyo Bok secara kenyataan.
Tiga tahun sebanyak seribu hari lebih, setiap siang malam, Hun Ci-lo selalu bermimpi
sangat
indah, ia mengharap ibunya bisa lekas-lekas pulang bersama Beng Goan-cau, seandainya
tidak
pulang bersama, paling tidak membawa berita Beng Goan-cau. «
Tiga tahun sudah berselang, bukan saja ia tidak mendapat berita Beng Goan-cau, ibunya
pun
tidak pernah kembali lagi.
Dalam tiga tahun ini, Nyo Bok dapat menepati janji, entah berada di dalam kamar atau di
hadapan orang banyak, ia tetap berlaku hormat dan sopan santun.
Anak Hun Ci-lo sudah berumur tiga tahun, bisa bicara memanggil ayah ibu, sudah tentu
dia
memanggil ayah kepada Nyo Bok.
Demi menepati janjinya sendiri, untuk membalas budi budi kebaikan Nyo Bok, supaya anak
sendiri tidak digoda dan dihina orang lain pula, terpaksa dengan suka rela ia menjadi
istri Nyo Bok.
Kenangan itu sangat pahit, tapi ada terselip pula perasaan madu mesra. Tiga tahun
sebagai
suami istri pura-pura, lima tahun kemudian baru menjadi suami yang resmi, selama
delapan tahun
ini, sikap Nyo Bok terhadapnya tetap sama, menghormatinya, kasih sayang dan
melindunginya
dengan mesra, ia hidup serba berkecukupan.
Walaupun bayangan Beng Goan-cau masih tersembunyi di alam sanubarinya, tapi setelah dia
menjadi istri Nyo Bok, lambat laun ia jadi merasa seolah-olah dirinya sudah jatuh cinta
kepada Nyo
Bok. Namun hanya seolah-olah belaka, karena pada suatu hari, secara tak terduga ia
mendengar
berita mengenai Beng Goan-cau, sanubarinya yang sudah tentram sekian lamanya kini mulai
bergolak dan gelisah,- baru sekarang ia tahu, anggapan 'cinta' terhadap suaminya ini
kiranya tidak
lebih cuma perasaan membalas kebaikan belaka, perasaan terima kasih karena iba.
Pergaulan Nyo Bok sangat luas, kawan-kawannya yang pergi datang, terdiri dari berbagai
golongan. Pada suatu hari datanglah seorang tamu, tamu ini adalah seorang piau-thau
dari salah
satu piaukiok di kota, menurut ceritanya dua tahun yang lalu ia pernah melindungi bahan
obatobatan
milik pedagang obat yang dikirim ke Su-cwan, bicara punya bicara akhirnya mereka
menyinggung suasana pertempuran di perbatasan. Nyo Bok lantas menanyakan beberapa
enghiong
yang menonjol di antara pimpinan laskar gerilya, kecuali menyebut dua pimpinan laskar
gerilya yang hebat yaitu Ling Tiat-jiau dan Siau Ci-wan, tamu itu menambahkan lagi:
"Konon
kabarnya pihak Siau-kim-jwan sekarang kedatangan banyak bala bantuan yang hebat-hebat,
kecuali Ling dan Siau dua pimpinannya, muncul lagi dua pemuda pendekar yang
berkepandaian
sangat hebat pula."
Kebetulan Hun Ci-lo keluar menyuguhkan teh, mendengar ucapan tamunya ini tergeraklah
hatinya, cepat ia bertanya: "Siapakah nama kedua pendekar muda itu?"
Tamu itu menjawab: "Kabarnya mereka bernama Beng Goan-cau dan Song Theng-siau, sayang
pertempuran di Siau-kim-jwan itu baru saja berlangsung, kami para piau-thau jadi tidak
berani
membawa barang terlalu jauh ke arah pedalaman sehingga tiada kesempatan berkenalan
dengan
mereka."
Belum lagi ucapan sang tamu selesai, "Prak!" tahu-tahu cangkir teh di tangan Hun Ci-lo
terjatuh
hancur berantakan, hatinya pun ikut hancur lebur.
Setelah tamu itu pulang, Hun Ci-lo lantas jatuh sakit. Sudah tentu Nyo Bok tahu asal
mula dari
penyakit istrinya, ia menghindari menyinggung soal itu, dengan teliti dan cermat ia
menjaga
istrinya, setelah sakit Hun Ci-lo sembuh baru dia berkata: "Aku tidak suka melihat kau
menderita,
kalau kau ingin menyusul ke Siau-kim-jwan, aku tidak merasa keberatan!"
Bicara sih gampang, namun jarak berlaksa li yang sedemikian jauhnya masa bisa ditempuh
dalam waktu yang pendek, apalagi Hun Ci-lo sendiri pun tidak mau membuat Nyo Bok
bersedih
karena hal ini.
Selamanya Hun Ci-lo tidak pernah berbohong, tapi dalam keadaan yang terdesak ini, tidak
bisa
tidak ia harus mengelabui suaminya. Katanya setelah penyakit ini sembuh, pengalaman
yang lalu
anggap saja sudah terpendam, yang dia cintai sekarang hanya suaminya, ia tidak ingin
berjumpa
pula dengan Beng Goan-cau.

Related Posts: