PPH 13

"Jangan berkata begitu Kek-toako," tukas Tan Ciok-sing, "bahwa Lui Tayhiap sudah
berada di Hay-ling, cepat atau lambat aku pasti bisa bertemu dengan beliau. Yang
penting kau sudah kembali dengan selamat, itulah yang kukehendaki."
"Sekarang aku sudah kembali dengan selamat, kau boleh tidak usah kuatir. Besok juga
kalian boleh berangkat, tepat saatnya kalian akan saksikan air pasang yang serba ajaib
di Hay-ling itu."
"Mungkin kami tidak sempat pulang untuk memberi selamat hari ulang tahun kepada
Ong Goan-tin di Thay-ouw," kata In San bimbang.
"Hal itu sudah kupikirkan," ucap Kek Lam-wi, "Ulang tahun Ong Goan-tin adalah tanggal
22, setelah kalian menonton air pasang di Hay-ling masih ada empat hari, bila tanpa
menghadapi sesuatu diluar dugaan, dalam jangka empat hari itu, kalian masih sempat
tiba di Thay-ouw tepat waktunya. Lewat hari raya Tiong-jiu, udara selalu cerah dan
hawa sejuk, berperahu di Thay-ouw bisa berlaju mengikuti arah angin, kemungkinan
tanggal 21 malam kalian sudah akan tiba di tujuan."
"Perhitungan waktunya amat mendesak bukan? Bila kita datang terlambat, bukankah
rikuh jadinya?"
"Jangan pikirkan hal itu, pertama kami sudah wakilkan kalian memberi penjelasan.
Kedua Tam Tayhiap adalah kenalan baik Ong Goan-tin, setiba kalian di Hay-ling,
pulangnya pasfi bersama mereka. Bila Ong Goan-tin tahu kalian datang mengajak It-cuking-
thian, tentu dia akan kegirangan dan berterima kasih kepada kalian malah."
"Begitupun baik. Biar sekarang juga kami pulang pamitan kepada Kiau-thocu," ucap In
San.
Kira-kira kentongan ketiga baru mereka tiba di markas Kaypang
Cabang Soh-ciu, kiau-thocu dan orang-orangnya sedang menunggu gelisah, legalah
hati mereka setelah melihat Ciok-sing pulang bersama Kek Lam-wi.
Kiau Hun berkata: "Ada sebuah kabar gembira perlu kuberitahu kepada kalian. Tiga
pentolan Giam-ong-pang dan ln Kip ayah beranak sudah ketakutan, maka mereka tidak
berani bercokol di Soh-ciu lagi, sudah kabur dari kota ini. Tapi mereka lari berpencar,
kami hanya tahu keluarga In di bawah lindungan Bak Bu-wi dari Hoay-yang-pang lari ke
kota raja minta perlindungan yang berwajib Sementara ketiga pentolan Giam ong-pang
itu entah lari kemana!"
"Syukurlah kalau kawanan jahat itu meninggalkan Soh-ciu. Tan-toako, boleh kau
segera berangkat saja." lalu Lam-wi jelaskan rencana mereka kepada Kiau Hun. Kiau
Hun nyatakan persetujuannya.
Tan dan In menempuh perjalanan siang malam, tepat tanggal delapan belas mereka
tiba di Hay-ling, satu jam menjelang lohor. Hay-ling terletak seratus dua puluh li di
sebelah utara Hangciu, tepatnya berada di teluk Wan-pak, berada di muara Ci-tongkang.
Air pasang di Ci-tong-kang inilah merupakan pemandangan ajaib yang tiada
keduanya di dunia ini, merupakan tontonan aneh dan menakjupkan, hari yang
dinamakan ulang tahun malaikat air adalah tepat datangnya air pasang yang paling
tinggi pada setiap tahun. Pada hari itu, entah berapa laksaan manusia yang
berbondong-bondong datang ke Hay-ling menyaksikan air pasang di Ci-tong-kang itu.
Ternyata ada sebabnya kenapa orang-orang suka menyaksikan air pasang di Hay-ling.
Ternyata bentuk mulut muara Ci-tong-kang mirip terompet, pesisir selatan penuh
bertumpuk pasir, maka air pasang menyerbu ke sebelah utara, sehingga ke residenan
Hay-ling ini yang menjadi sasaran damparan air pasang yang utama. Karena terdesak
oleh bentuk mulut muara Ci-tong kang yang seperti terompet itu sehingga air pasang
yang mulai bergelombang itu setiba di daerah Kan-bo (tujuh puluhan li dari Hay-ling),
damparan ombak semakin bergolak tinggi karena mengikuti bentuk dari teluk yang
semakin menyempit itu, hingga setiba di Hay-ling, karena air pasang itu terbendung
oleh bukit-bukit karang yang kokoh tinggi, airnya berpusar ke selatan tapi dipukul
gelombang di sebelah belakang lagi, sehingga arus pusaran air semakin dahsyat,
saling hantam dan bergelombang semakin keras, sehingga air seperti sengaja diaduk
menjadi gelombang pasang yang tidak terbendung lagi.
Tanggul kokoh panjang telah dibangun di selatan kota Hay-ling menjurus ke arah barat,
tujuan pembangunan tanggul ini untuk menahan damparan air pasang. Setiap tanggal
delapan belas, manusia berjubel di atas tanggul yang menyerupai panggung tontonan
menyaksikan damparan ombak yang sambung menyambung laksana laksaan tentara
sudah berbaris rapi.
Ciok-sing dan In San tidak tahu, dimana tempat pertemuan Tam Pa-kun dengan It-cuking-
thian, namun mereka duga bila pertemuan itu tepat diadakan di Hay-ling pada hari
ini, umpama bukan menonton air pasang, paling tidak juga ikut meramaikan suasana.
Karena tak bisa menemukan Tam Pa-kun, terpaksa Tan dan In ikut berjubel di tengah
ribuan manusia yang menonton di atas tanggul.
"Nah, itu sudah datang, sudah datang," orang-orang yang berdiri di deretan paling
depan mulai berteriak-teriak sambil tepuk tangan.
Tampak selarik warna putih mulai tampak di permukaan air laut di kejauhan sana, arus
gelombang datangnya ternyata laksana ribuan pasukan kuda yang berderap laju
bersama, lekas sekali suara gegap gempita dari gelombang ombak besar menerjang
batu-batu karang, sementara gelombang yang bergulung-gulung dari belakang saling
susul terus mendampar tiba.
Gelombang pasang ini kira-kira berlangsung setengah jam baru mulai mereda, tapi ini
baru permulaan dari tontonan yang menakjubkan, gelombang pasang kedua akan
segera menyusul tiba pula lebih dahsyat. Mengikuti arus manusia yang mulai mundur
karena takut terbawa arus, In San berkata kepada Ciok-sing: "Tan-toako, kukira disini
takkan bisa menemukan Tam Tayhiap dan Lui Tayhiap."
"Lalu kemana kita harus mencari mereka?" tanya Ciok-sing.
"Entahlah, tapi menurut pendapatku, mereka tidak akan berjubel di tempat banyak
orang ini, umpama mereka ingin menyaksikan air pasang juga pasti disuatu tempat
yang sepi dan sukar diinjak manusia," demikian ucap In San, tiba-tiba dia teringat
sesuatu, baru saja dia menoleh hendak bicara pula, tiba-tiba Tan Ciok-sing menoleh
kesana dengan bersuara heran.
"Ada apa, kau melihat mereka..."
"Lihat kesana, kedua orang itu?"
In San menoleh kearah yang ditunjuk, dilihatnya dua orang meninggalkan tanggul
menuju ke timur laut, langkahnya cepat dan tangkas. In San melenggong katanya:
"Bayangan punggung orang di sebelah belakang itu seperti pernah kulihat, kau tahu
siapa dia?"
"Lapat-lapat kudengar dia bilang kepada temannya maksudnya tengah hari sudah
hampir tiba, dia mendesak temannya supaya tidak terlena karena menonton air pasang
disini sehingga melalaikan tugas. O, ya, aku ingat sekarang, dia adalah Thi Khong."
"Thi Khong?" In San kaget, "maksudmu Thi Khong dari Tok-liong-pang?"
Seperti diketahui In Hou ayah In San dahulu terjebak di Jit-sing-giam di daerah Kwi-lin
sehingga luka-lukanya tidak tersembuhkan d.in akhirnya meninggal. Yang melukainya
secara langsung memang adalah Le Khong-thian dan Siang Po-san, tapi Le dan Siang
bersekongkol dengan seorang lagi, orang ketiga ini adalah Thi Ou Tok-liong-pangcu!
Yaitu kakak tertua dari Thi Khong yang mereka lihat ini.
Setelah Thi Ou mati, adiknya Thi Khong mengambil alih pimpinan sebagai Tok-liongpangcu.
Dua tahun yang lalu, waktu Tan Ciok-sing dan In San pulang ke kampung
halaman bersembahyang di makam In Hou ayah In San, kebetulan kepergok oleh Thi
Khong dan Siang Po-san serta orang-orangnya. Thi Khong dan Siang Po-san akhirnya
lari dikalahkan oleh gabungan sepasang pedang mereka. Oleh karena itu meski Thi
Khong bukan musuh pembunuh ayah In San, tapi permusuhan mereka dengan
manusia yang satu ini boleh dikata cukup mendalam juga.
"Betul, kuingat lagi, bayangan punggung seorang yang lain juga sudah kukenal."
"Apakah Siang Po-san?"
"Bukan. Dari gaya orang itu berlari, aku curiga dia adalah seorang perempuan."
"Perempuan? Dalam Tok-liong-pang atau orang-orang komplotan Thi Khong, agaknya
tiada perempuan yang memiliki kepandaian tinggi. Bila dia berada bersama Thi Khong,
yakin dia bukan orang baik-baik. Jangan kita abaikan kedua orang ini."
"Baik. Mari kita kuntit mereka. Terpaksa kita kesampingkan dulu mencari Tam Tayhiap
dan Lui Tayhiap."
In San berpikir lalu bertanya: "Mereka lari kearah mana, kau melihat jelas tidak?"
"Agaknya ke timur laut."
"Kebetulan, ingin kuusulkan, kita pergi ke Siau-po-toh saja, coba mencari paman Tam
dan paman Lui. Letak Siau-po-toh kebetulan berada, di sebelah timur laut kira-kira lima
li jauhnya."
"Hayolah lekas kesana." Setelah keluar dari desakan orang banyak, segera mereka
angkat langkah berlari-lari kencang. Perhatian orang banyak tertuju ke air pasang,
maka tiada yang perhatikan mereka tengah mengembangkan lari cepat. Mungkin
mereka agak terlambat, bayangan kedua orang itu sudah tidak kelihatan, tapi jarak lima
li cepat sekali telah mereka capai, kira-kira setengah sulutan dupa, Siang-po-toh sudah
kelihatan di kejauhan.
Karena ingin lekas sampai tujuan, dilihatnya sekeliling tiada orang tanpa ragu lagi
mereka segera kembangkan Ginkang melambung tinggi ke dinding karang. Arus
gelombang seperti mengamuk di bawah mereka, untung gelombang pasang kedua
belum tiba, namun demikian pakaian mereka toh basah kuyup keciprat air, mereka
memiliki ilmu tinggi, tanpa takut sedikitpun, mereka terus berlari-lari di atas karang yang
licin dan curam itu.
In San berlari sambil berkata: "Biang keladi pembunuh ayah adalah bangsat she Liong,
untuk mereka kita perlu mencari kesempatan untuk menggasaknya. Demikian pula
orang-orang lain yang bersangkutan langsung umpamanya Le Khong-thian telah mati di
tangan Suhumu Thio Tan-hong Thio Tayhiap, seorang lagi yang tidak ikut turun tangan
secara langsung, tapi perancang muslihat yaitu raja golok le Cun-hong sudah mampus
di bawah pedangmu, seorang lagi sebagai pembantu adalah Thi Ou telah dibunuh oleh
Lui Tayhiap, kini yang masih ketinggalan hidup hanya ketinggalan Siang Po-san saja.
Aku mengharap semoga keparat ini ikut Thi Khong datang juga kemari." — — Belum
habis In San bicara, tiba-tiba suara "Crang-creng" dari petikan senar gitar yang dipetik.
Puncak karang yang runcing seperti berlomba ingin menembus angkasa, deburan
ombak sedahsyat itu dengan suaranya yang gemuruh tapi petikan senar gitar tadi
masih terdengar jelas di tengah deburan gemuruh ombak yang mengamuk. Karuan In
San kaget, katanya:
"Toako, kau dengar petikan senar gitar itu, mungkin orang yang kita bicarakan betulbetul
berada disini?"
"Tidak benar," kata Tan Ciok-sing.
In San melongo, tanyanya: "Maksudmu orang itu bukan Siang Po-san?"
"Ya, Siang Po-san tidak memiliki Lwekang setangguh itu."
In San maklum, Siang Po-san pernah mereka kalahkan di bawah gabungan sepasang
pedang peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu, dalam jangka sekian lama ini, yakin
Siang Po-san tidak mungkin memperoleh kemajuan sepesat itu. Tapi bila bukan Siang
Po-san, lalu siapa? Mau tidak mau In San bercekat hatinya.
Tengah berpikir sambil berlari, tiba-tiba didengarnya seorang berkata lantang: "Sianglocianpwc,
silakan katakan pertandingan apa kehendakmu," itulah suara It-cu-king-thian
Lui Tin-gak.
Karuan girang bukan main hati In San, pikirnya: "Kedudukan Lui Tayhiap di Bulim
cukup tinggi, namun dia panggil orang itu Locianpwe, pada hal Siang Po-san palingpaling
setingkat dengan dirinya, lalu siapakah orang slip Siang ini, mungkinkah..."
Baru saja dia teringat pada mang ini, Tan Ciok-sing juga terlugti pada orang yang sama,
kalanya
"O, kiranya iblis tua itu masih hidup. Adik San, dia adalah..."
"Aku sudah tahu," tukas In San, dia bukan lain adalah cikal bakal Bi-ba-bun, yaitu
paman Siang Pesan, namanya Siang Ho-yang."
Siang Ho-yang adalah tokoh seangkatan dengan Thio Tan-hong, dia menciptakan
permainan senjata gitar yang aneh dan menyendiri dari ilmu silat kebanyakan, dulu
pernah juga dia malang melintang dengan kebolehannya itu. Suatu ketika dikalahkan
oleh pedang Thio Tan-hong, sejak itu jejaknya menghilang tak karuan paran. Setelah
Keponakannya Siang Po-san muncul di Kangouw, khalayak ramai baru tahu ilmu
permainan senjata gitar besinya ternyata telah diwariskan kepada Siang Po-san, namun
kejadian ini sudah dua puluh tahun sejak dia mengundurkan diri dari percaturan dunia
persilatan. Tapi Siang Po-san belum pernah bercerita kepada siapapun, apakah
pamannya masih hidup atau sudah mati. Kaum Bulim sama mengira bahwa Siang Hoyang
telah lama meninggal dunia.
Waktu Tan dan In berdua memandang ke arah datangnya suara, tampak di sebelah kiri
atas di tengah-tengah lamping gunung yang curam menjulur keluar sebuah tonggak
karang raksasa yang bentuknya mirip panggung, di atas panggung karang itu berdiri
empat orang. Yang berdiri di sebelah timur adalah It-cu-king-thian Lui Tin-gak dan Kimto-
thi-ciang Tam Pa-kun, yang berdiri di sebelah barat bukan lain adalah Tang-bun
Cong yang beberapa hari lalu pernah gebrak dengan mereka, seorang lagi kakek
berambut uban dengan alis jenggot yang memutih pula. Kakek tua ini tidak mereka
kenal, tapi mereka duga pasti dia ini adalah Siang Ho-yang itu. Tempat dimana Tan dan
In sekarang berada, kebetulan teraling oleh dinding karang, mereka mengintip kesana
dari celah batu, dari sini bisa jelas melihat kesana, sebaliknya dari sana tidak bisa
melihat kesini.
In San mengerti, katanya: "Kiranya iblis tua ini yang mengajak Lui Tayhiap bertanding
disini, paman Tam Pa-kun mungkin menjadi wasit dan saksi pihak Lui Tayhiap," lalu dia
menambahkan, "bagaimana, apa perlu kita manjat ke atas juga?"
"Sementara tidak usah muncul saja," ujar Tan Ciok-sing. Maklum menurut aturan
Kangouw, bila kedua pihak sudah berjanji akan bertanding menentukan kalah menang
bila perlu sampai gugur, itu berarti pertandingan harus dilakukan satu lawan satu, orang
luar dilarang ikut campur. Bila dalam situasi seperti itu Tan dan In mengunjuk diri, meski
tiada maksud turut campur, itu sudah termasuk melanggar pantangan.
Maka terdengar kakek alis putih itu berkata kalem: "Kau serahkan cara pertandingan
kepadaku, apa nanti kau tidak menyesal?"
Kuatir Lui Tin-gak segera menjawab secara gegabah, lekas Tam Pa-kun mendahului
bicara: "Lui-heng, lebih baik kau dengar dulu cara pertandingan apa yang dikehendaki
Siang-locianpwe, nanti dirundingkan lebih lanjut."
Kakek tua itu seketika menarik muka, katanya kurang senang: "Aku Siang Ho-yang
orang apa, memangnya kau kuatir aku bakal memungut keuntungan dari temanmu?"
Dugaan Tan Ciok-sing tidak meleset, kakek ubanan ini memang bukan lain adalah cikal
bakal Thi-bi-ba-bun Siang Ho-yang.
Lui Tin-gak tertawa gelak, katanya: "Siang-locianpwe tidak usah marah, hari ini
Wanpwe memperoleh kesempatan untuk bertanding, entah rejeki apa yang bakal
nomplok padaku, apa kehendak Locianpwe boleh silakan katakan saja, orang she Lui
akan mengiringi segala kehendakmu."
Tang-bun Cong tertawa, katanya: "Ternyata Lui Tayhiap lebih lapang dada dan berjiwa
besar, coba pikir Siang-losiansing adalah seorang maha guru silat, seorang cikal bakal,
cara pertandingan yang diusulkan pasti cukup adil dan masuk diakal. Kalau Lui Tayhiap
mau percaya, kenapa kau berkuatir malah."
Yang berkepentingan sudah setuju, sebagai seorang saksi meski Tam Pa-kun tahu
pihak lawan pasti menggunakan muslihat, terpaksa dia bungkam saja.
Siang Ho-yang menoleh ke tengah laut, dilihatnya gelombang samudera yang di
belakang mendorong yang di depan terus melandai tiba dengan kecepatan luar biasa,
diam-diam dia berpikir: "Nah tiba saatnya," katanya: "Lui Tayhiap, hari ini mari kita
bertanding secara luar hiasa, belum pernah terjadi pertandingan seperti yang kuusulkan
ini selama ratusan tahun, marilah kita bertanding di atas panggung batu ini di tengah
damparan gelombang pasang nanti."
Perlu diketahui panggung batu karang yang menjulur ke tengah laut itu dinamakan Haysin-
tai (panggung malaikat laut), merupakan tempat paling berbahaya untuk
menyaksikan air pasang dari dekat. Gelombang ombak paling besar dan dahsyat di
tempat ini, sekali terpeleset dan dibawa arus, maka tamatlah riwayatnya.
Diam-diam In San membatin: "Bila bertanding menurut kebiasaan, yakin Lui Tayhiap
tidak akan terkalahkan. Tapi bertanding di Hay-sin-tay, Lwekang Siang Ho-yang jelas
lebih kokoh karena dia berlatih dua puluh tahun lebih lama, maka siapa bakal kalah dan
menang sukar diramalkan."
Terdengar Lui Tin-gak sedang berkata: "Tolong tanya Siang-locianpwe pertandingan
luar biasa yang jarang terjadi bagaimana?"
"Tang-bun-heng," kata Siang Ho-yang, "terangkan tata tertib pertandingan kepada
mereka."
Tang-bun Cong segera membuat sebuah garis lintang tepat di tengah panggung
karang, katanya: "Kedua pihak hanya boleh berhantam di bagian luar yang menjorok ke
laut, siapa dipukul jatuh atau yang melampaui garis lintang ini, dia dianggap kalah."
"Berhantam saling tutul dan jamah saja, atau berkelahi sampai ada yang mati?" tanya
Tam Pa-kun.
Siang Ho-yang ngakak, katanya: "Sudah tiga puluh tahun Losiu tidak pernah
berkecimpung di Kangouw, kalau bukan untuk menuntut balas sakit hati keponakan,
hari ini aku tidak akan berada disini. Jikalau hanya saling tutul dan jamah, buat apa
jauh-jauh aku mengajak Lui Tayhiap bertanding di Hay-sin-tay ini."
Tan Ciok-sing berpikir: "O, waktu Siang Po-siang kukalahkan bersama adik San di Kwilin
dahulu ternyata dia tidak segera melarikan diri. Mungkin akhirnya dia kebentur
oleh paman Lui, di bawah tangan besinya dia terkalahkan pula sekali pukulan."
Tawar suara Lui Tin-gak, katanya: "Kalau Siang-locianpwe ingin menjajal kepandaianku
terpaksa Wanpwe mengiringi saja kehendakmu."
"Baiklah," seru Tang-bun Cong, "kalau kedua pihak sudah setuju, maka pertempuran ini
bebas berhantam sampai ada yang mati. Pihak mana yang kalah dan sampai mati,
teman famili, anak atau muridnya tidak boleh mendendam dan menuntut balas? Biarlah
aku menjadi saksi dari pihak Siang-losiansing." --"bebas berhantam" artinya pihak mana
setelah dipukul roboh tidak berkutik meski sudah mengaku kalah, pihak lawan masih
punya hak untuk menamatkan jiwanya.
"Bagus, aku saksi dari pihak Lui Tayhiap bolehlah segera dilaksanakan menurut
kehendak kalian. Tapi perlu aku tanya satu hal supaya jelas."
"Silakan katakan," kata Tang-bun Cong.
"Bila mereka sama-sama tfdak mampu merobohkan lawannya?"
"Lama kelamaan, pasti akan tiba saatnya satu pihak yang mundur keluar garis, itupun
sudah termasuk kalah."
"Yang kalah bagaimana?"
Siang Ho-yang tertawa tergelak gelak, katanya: "Selama hidup Lohu hanya pernah
kalah sekali, dikalahkan oleh jago pedang nomor satu di dunia ini yaitu Thio Tan-hong.
Thio Tan-hong adalah tokoh besar, kekalahanku itupun sudah kuanggap sebagai hal
yang memalukan dan penghinaan, sehingga aku menyepi tiga puluh tahun lamanya.
Hehe bila Lui Tayhiap mampu mengalahkan aku, sekarang usiaku sudah tujuh puluh
tahun, memangnya mukaku setebal itu tetap takut mati? Tidak usah Lui Tayhiap
menjatuhkan fonisnya, aku akan terjun sendiri ke Ci-tong-kang."--kata-katanya
mengandung sindiran yang cukup pedas, "meski kau Lui Tin-gak pernah menggetarkan
daerah Thian-lam, tapi bila dibanding dengan Thio Tan-hong dulu kau masih belum
apa-apa." Secara langsung menandakan pula bahwa dia amat yakin akan dirinya,
dalam pertempuran kali ini dia pasti berada di pihak yang menang.
Lui Tin-gak berkata tawar: "Kukira tidak perlu demikian."
Siang Ho-yang mendengus, wajahnya tampak bersungut gusar, katanya: "Setelah kau
mengalahkan aku boleh kau berbuat sesukamu. Tapi apa yang telah kuucapkan takkan
kujilat kembali?"
"Baiklah, biar aku menurut saja apa kehendak Siang-locianpwe, bila aku kalah, segera
aku kutungi kedua tanganku, selanjutnya tiada nama Lui Tin-gak dalam percaturan
Kangouw. Bila aku beruntung dapat mengalahkan Siang-locianpwe, apa kehendak
Locianpwe untuk membereskan diri sendiri, boleh terserah, aku tidak akan memaksa."
"Bagus, ucapan seorang Kuncu laksana kuda lari susah dikejar," ucap Tang-bun Cong,
"setelah kedua pihak sama setuju akan cara itu, maka tidak perlu banyak omong lagi,
nah boleh silakan mulai saja."
Siang Ho-yang melangkah masuk ke garis lintang yang dibuat Tang-bun Cong, secara
enteng dia memetik senar gitarnya, katanya: "Silahkan, Lui Tayhiap."
Di kala kedua pihak sudah mulai pasang kuda-kuda siap bertempur, mendadak
terdengar Tam Pa-kun membentak: "Siapa disana?"
Tan Ciok-sing kaget, dia kira jejaknya bersama In San konangan, cuma Tam Pa-kun
tidak tahu akan mereka. Baru saja dia hendak tarik tangan In San diajak melompat
keluar, dilihatnya dua orang telah melompat ke atas dari lekuk batu karang sebelah
belakang Lui-sin-tay. Dua orang yang tadi mereka lihat bayangan punggungnya waktu
di tanggul panjang mclihal gelombang pasang tadi.
Kini mereka melihat jelas, kedua orang itu satu laki satu perempuan.
yang laki memang Thi Khong, pejabat Pangcu deri Tok-liong-pang sekarang. Diluar
dugaan Tan Ciok-sing, walau tadi dia sudah menduga bayangan punggungnya
menyerupai perempuan, tapi tidak pernah dia sangka bahwa perempuan ini adalah
pimpinan Bu-san-pang yaitu Bu-sam Niocu.
Tam Pa-kun seketika mengerutkan alis, katanya: "Tang-bun-siansing, menurut tata
tertib pertandingan yang sudah kita gariskan tadi, pertandingan ini hanya dilakukan oleh
Lui Tayhiap melawan Siang-locianpwe, orang luar dilarang turut campur atau menonton
pertempuran ini dari dekat, lalu untuk apa kedatangan kedua orang ini? Siapa yang
memberitahu mereka supaya kemari?"
"Betul," ujar Tang-bun Cong, "tapi kedua orang ini bukan orang luar. Pertama, Thipangcu
adalah orang utama sebagai penuntut keadilan."
Belum habis Tang-bun Cong bicara, Thi Khong sudah berkaok-kaok. "Lui Tin-gak, kau
membunuh engkohku, sakit hati ini nanti akan kuperhitungkan dengan kau."
Lui Tin-gak lintangkan goloknya katanya menyeringai dingin: "Bagus sekali. Lalu kau
yang maju dulu atau Siang-locianpwe? Atau boleh juga kalian maju bersama?"
"Lui Tin-gak," damprat Siang Ho-yang naik pitam, "berarti kau memandang rendah
diriku. Kau kira aku sudi minta bantuan orang, sontoloyo kau," lalu dia menoleh dan
membentak: "Thi Khong, lekas kau bicarakan supaya jelas, jangan sampai orang salah
paham."
Thi Khong mengiakan, katanya: "Memang aku ingin menuntut balas sakit hati
engkohku, yakin hari ini orang she Lui takkan lolos dari hukuman Siang-locianpwe, sakit
hati ini jelas aku tidak usah turun tangan sendiri. Kedatanganku ini untuk menyaksikan
musuhku terpenggal kepalanya."
"Kalian sudah dengar?" teriak Siang Ho-yang, "aku menuntut balas sakit hati
keponakan, dua persoalan yang berlainan dengan persoalan orang lain, aku larang
siapapun mencampuri urusanku. Kini aku akan bertanding dengan Lui Tayhiap, dia
hanya penonton saja, kalian boleh legakan hati saja."
Dengan goloknya Lui Tin-gak memang pernah membunuh engkoh Thi Khong, sebagai
salah seorang yang ikut menuntut pembalasan kepada musuhnya, menurut aturan
Kangouw dia diperbolehkan hadir dan menyaksikan pertempuran ini. Tapi bila mau
bertindak tegas sesuai aturan pertandingannya, sebagai Pa-kun masih punya hak untuk
mengusir mereka dari arena pertandingan. Tapi tindakan itu justru memperlihatkan
kesempitan jiwa mereka, Lui Tin-gak yang bersangkutan secara langsung tidak
menentang, maka Tam Pa-kun menjadi rikuh kalau mengusir Thi Khong dari tempat itu.
Siang Ho-yang berkata lebih lanjut: "Satu hal mungkin Lui Tayhiap dan Tam Tayhiap
belum tahu, ayah Thi Ou dan Thi Khong dahulu adalah saudara angkatku, maka
persoalan hari ini aku akan cangking juga sakit hati putra-putra saudara angkatku itu.
Keponakanku tak bisa menyaksikan pertempuran disini, biarlah Thi Khong mewakilinya,
kan tidak melanggar peraturan Kangouw?" »
"Bagus sekali," ujar Lui Tin-gak tenang, "bila perhitungan dilakukan satu persatu akan
makan waktu dan membuang tenaga, kebetulan bila Thi-pangcu ingin menyelesaikan
dua persoalan sekaligus, aku tidak menentang."
Thi Khong berdiri ke samping, katanya: "Orang she Lui, tak usah bermulut besar, bila
kau selamat di tangan Siang-locianpwe, belum terlambat aku membuat perhitungan
dengan kau. Kuatirnya hari ini kau takkan lolos, hanya dalam mimpi kau bisa melarikan
diri."
Tam Pa-kun tiba-tiba menghardik: "Dan yang seorang lagi?"
Bu-sam Niocu terkikik tawa, katanya: "Aku maksudmu? Aku juga sebagai penonton
saja."
"Apa sangkut pautmu dengan persoalan ini? Apakah Lui Tayhiap juga membunuh anak
familimu?" Dia tahu Lui Tin-gak tidak pernah kenal Bu-sam Niocu, maka pertanyaannya
mengandung olok-olok.
Tak nyana Bu-sam Niocu berkata: "Ya, dia membunuh sanak familiku."
"Bapakmu atau suamimu?"
"Dia termasuk kakakku," ujar Bu-sam Niocu tawar, "perempuan setelah menikah ikut
suami, engkoh suami bukankah termasuk familiku juga?"
Tam Pa-kun melengak, katanya: "Menurut tahuku, Bu San-hun tidak punya saudara,
dari mana datangnya engkohmu itu?"
"Tam Pa-kun," seru Thi Khong, "kau hanya tahu satu tidak tahu yang kedua."
"Apanya yang kedua?" Tam Pa-kun menegas.
"Dia sebetulnya adalah Sumoayku, dahulu lantaran tunduk kepada perintah ibunya dan
menikah dengan Bu San-hun, sc|ak lama pasti aku sudah mengawininya."
Tam Pa-kun kaget katanya: "Jadi sekarang dia jadi binimu?"
Thi Khong membusung dada, katanya: "Sekarang dia sudah jadi isteriku. Sianglocianpwe-
lah yang menjadi saksi pernikahan kami, boleh kau percaya kepada beliau."
Siang Ho-yang manggut-manggut membuktikan bahwa perkataannya memang benar.
Lalu katanya: "Sebagai isterinya kalau Thi Khong boleh menonton disini, sepantasnya
isterinya juga boleh ikut."
Bahwa Bu-sam Niocu mendadak jadi bini Thi Khong, bukan saja hal ini diluar dugaan
Tam Pa-kun. Tan dan In juga merasa diluar dugaan. Tanpa merasa Tan Ciok-sing
membayangkan cerita Kek Lam-wi yang diketahuinya dari mulut Bu Siu-hoa, bahwa
ayah kandung Bu Siu-hoa yaitu Bu San-hun mati secara mendadak dalam sehat
walafiat, bukan mustahil kematiannya dulu memang perbuatan ibu tirinya ini yang
sekongkol dengan Thi Khong.
Tam Pa-kun sendiri terang merasa curiga juga, tapi dalam keadaan di tempat seperti ini
pula, dia tidak ingin urusan berkepanjangan, apa lagi kematian Bu san-hun yang
misterius itu tiada sangkut pautnya dengan pihak sendiri.
Lui Tin-gak berkata: "Jangan hiraukan dia, kalau dia suka menonton, biarkan."
"Nah, kan begitu, waktu sudah berlarut-larut, jangan diulur-ulur lagi. Lui Tayhiap, boleh
kau mulai dulu."
"Mana Cayhe berani kurang ajar, boleh silahkan Locianpwe mulai dulu."
"Baiklah, aku tidak perlu sungkan," kata Siang Ho-yang mengayun gitar dengan jurus
Heng-sau-jian-kun.
"Tang" gitar besi Siang Ho-yang beradu dengan golok Lui Tin-gak, kembang api
berpijar. Lui Tin-gak berdiri tegak di tempatnya, Siang Ho-yang kelihatan limbung, tapi
kalau tidak diperhatikan orang tidak tahu.
Melihat sekali bentrokan ini, legalah hati Tan Ciok-sing, pikirnya: "Agaknya Lwekang Lui
Tayhiap tidak lebih asor dari bangsat tua itu." Tam Pa-kun belum tahu kedatangan Tan
Ciok-sing berdua, kalau Ciok-sing sudah merasa lega, dia justeru was-was, yang
dikuatirkan bukan Lui Tiu-gak bukan tandingan Siang Ho-yang, yang dia kuatirkan
adalah situasi tidak menguntungkan pihaknya.
Diam-diam Tam Pa-kun berpikir: "Lwekang kedua orang ini kira-kira setanding; Lui
Toako lebih muda tenaganya kuat dan kekar, tapi permainan senjata Siang Ho yang
juga liehay, tapi bila pertempuran berjalan seru dan lama, yakin Lui Toako tidak mudah
dirugikan. Kuatirnya bila Thi Khong tidak mematuhi aturan Kangouw, bila mereka
membokong aku sukar mencegah."
Maklum, secara diam-diam dia menerawang, dirinya yakin tidak kalah melawan Tangbun
Cong, tapi untuk mengalahkan Tang-bun Cong sedikitnya dia harus melabraknya
sampai ratusan jurus, Bu-sam Niocu adalah seorang ahli racun, Thi Khong seorang ahli
menggunakan senjata rahasia lagi, di kala dia bersama Lui Tin-gak harus menghadapi
lawan-lawan tangguh, bila kedua orang ini membokong, susah mereka menjaganya,
cukup satu senjata rahasia beracun mengenai badan, mereka harus kerahkan tenaga
untuk mencegah menjalarnya racun dalam tubuh, dalam keadaan demikian, mana
mampu dia menghadapi lawan tangguhnya pula?
Di sebelah sana Siang Ho-yang sudah menyerang maju pula, pertempuran sengit
berlangsung pula lebih seru, Tam Pa-kun perhatikan pertempuran, maka dia tidak
sempat pikirkan urusan lain.
Setelah jajal sejurus, diam-diam Siang Ho-yang berpikir: "It-cu-king-thian Lui Tin-gak
memang tidak bernama kosong. Gelombang pasang kedua akan segera tiba, lebih baik
aku menyimpan tenaga, tak usah melawannya secara keras," maka gitarnya sekarang
ditarikan dengan kencang dengan senarnya berbunyi crang-creng, senar gitarnya itu
mendadak bisa copot dan menyabet ke urat nadi Lui Tin-gak. Serangan senar gitar
yang tidak terduga ini adalah hasil ciptaannya dari perobahan Kim-kiong-cap-pwe-ta,
padahal senar gitarnya ini jauh lebih ulet dan punya daya mulur yang keras dibanding
senar gendewa, bila urat nadi lawan terbaret luka, ilmu silatnya akan dikorting lima
puluh persen.
Lui Tin-gak sudah punya persiapan, namun melihat permainan lawan yang aneh dan
liehay ini bercekat juga hatinya. "Sebagai cikal bakal suatu aliran, memang dia tidak
boleh dipandang remeh." Segera dia membalas dengan serangan golok cepat,
menyerang sekaligus membela diri, dia paksa Siang Ho-yang bertempur dari jarak
dekat. "Tang, creng" kembali golok dan gitar beradu beberapa kali. Karena Lui Tin-gak
membungkus tubuhnya dengan cahaya golok yang diputarnya sekencang kitiran, maka
serangan goloknya kali ini tidak sekuat jurus pertama tadi, begitu senjata kedua pihak
beradu, tenaga murni kedua pihak dengan sendirinya terkuras lebih banyak.
Tapi dinilai secara lahirnya, kelihatannya Siang Ho-yang berada di atas angin.
Mendadak terdengar gemuruh gelombang pasang mulai mendarrrp.ir tiba, waktu Tan
Ciok-sing menoleh ke laut, tampak gelombang ombak satu susun lebih tinggi dari susun
yang lain secara berduyun-duyun mengalun datang dengan gemuruh suaranya yang
menggetar bumi. Mau tidak mau Tan Ciok-sing tersirap melihat pemandangan yang
dahsyat ini. Mereka sembunyi di belakang karang, tapi mereka harus berpegang
kencang batu karang supaya tidak terseret arus, napas menjadi sesak rasanya. Dari
sini dapatlah dibayangkan, Lui Tin-gak dan Siang Ho-yang yang lagi berhantam di
panggung batu karang yang menjorok ke tengah laut betapa hebat tekanan gelombang
ombak yang menerjang mereka.
Amukan ombak kali ini memang jauh lebih besar dan dahsyat dari yang pertama,
pemandangan jadi kabur, namun mereka tetap mendengar suara senar gitar. In San
mengerutkan alis, katanya di pinggir telinga Tan Ciok-sing. "Lagu apa yang dia
mainkan, kenapa jelek sekali."
Terdengar suara gitar seperti pekik kokok beluk, anjing menggonggong, kera memekik
serigala melolong, pokoknya berbagai suara binatang-binatang liar sehingga siapa
mendengarnya perasaan menjadi risih, alat musik manapun di dunia ini yakin tiada
yang bisa menirukan suara binatang-binatang itu.
Semakin dipetik senar gitar itu mengeluarkan suara yang aneh-aneh, aneka ragam,
nadanyapun turun naik berbeda-beda, betapapun dahsyat gemuruh ombak, tetap tidak
kuasa menekan suara petikan senar gitar itu. Terpaksa In San mendekap telinga sambil
mendongak kesana, kebetulan gelombang mereda, maka dia melihat keadaan di atas
panggung, Thi Khong dan Bu-sam Niocu tidak kelihatan, tapi mendekam jauh di bawah
karang sana. Merekapun menekap kuping masing-masing.
Mau tidak mau Tan Ciok-sing berkuatir akan keselamatan Lui Tin-gak, pikirnya: "Gitar
besi Siang Ho-yang ternyata seliehay ini, suara gitarnya ternyata juga dapat melukai
lawan. Jarak sejauh ini aku masih tetap tidak kuat menahannya, Lui Tayhiap sedang
melabraknya dalam jarak dekat, di bawah tekanan damparan ombak lagi, mana
mungkin dia bisa mengkonsentrasikan lahir dan batinnya."
Gelombang pasang kali ini datang lebih dahsyat dan susun bersusun, saat-saat
berakhirnya gelombang pasang hampir tiba, namun amukan ombak justru lebih hebat
lagi. Semula pada setiap kesempatan ombak mereda Siang Ho-yang masih bisa
memetik senarnya, kini agak lama kemudian baru terdengar senar gitarnya berbunyi.
Namun lega juga hati Tan Ciok-sing berdua melihat Lui Tin-gak tetap berdiri sekokoh
gunung di tempatnya walau tidak jelas bagaimana jalan pertempuran mereka, karena
percikan ombak yang mengamuk, namun kelihatannya dia masih kuat .bertahan untuk
beberapa waktu lamanya.
Tan Ciok-sing tidak pernah lena, pandangannya tetap diarahkan ke Hay-sin-tay meski
panggung batu itu seperti sudah ditelan ombak besar, suatu ketika di saat ombak
sedikit mereda tampak oleh Tan Ciok-sing golok Lui Tin-gak membacok dan membelah
beberapa kali, gerakan goloknya itu seperti sudah amat hapal dan dikenalnya. Tiba-tiba
tergerak pikirannya, akhirnya dia teringat: "Ha, bukankah ilmu golok itu hasil perobahan
dari Bu-bing-kiam-hoat yang diajarkan oleh oleh suhu? Perobahan yang dimainkan Lui
Tayhiap barusan sungguh amat menakjubkan."
Mata Ciok-sing memang tajam, serangan yang dilancarkan It-cu-king-thian Lui Tin-gak
barusan memang benar adalah hasil cangkokan dari Bu-bing-kiam-hoat ciptaan Thio
Tan-hong.
Kekalahan Siang Ho-yang di tangan Thio Tan-hong, walau sekarang Lui Tin-gak tidak
setaraf Thio Tan-hong dahulu namun melihat lawannya mendadak bisa melancarkan
serangan pedang ciptaan Thio Tan-hong dulu, mau tidak mau mencelos juga hati Siang
Ho-yang.
Semula waktu mendengar suara ribut dari bunyi berbagai suara binatang oleh petikan
senar gitar tadi, perasaan Lui Tin-gak memang terpengaruh dan hampir saja dia tidak
kuat bertahan. Di saat-saat kritis itulah, mendadak pikiran sehatnya bekerja, tanpa
merasa ilmu golok hasil cangkokannya dari ilmu golok ciptaan Thio Tan-hong segera
dilancarkan. Begitu damparan ombak mereda, kontan dia merangsak dengan serangan
golok kilat, setiap jurus permainan goloknya menyerang dari posisi, arah dan letak yang
tak pernah diduga oleh Siang Ho-yang. Pertama Siang Ho-yang sudah dibikin jera oleh
ilmu pedang Thio Tan-hong, maka permainannya menjadi keripuhan, untuk
membendung serangan golok ini dia sudah kelabakan, maka tidak sempat pula dia
memetik senar gitarnya.
Diam-diam Lui Tin-gak bersyukur delam hati, pikirnya: "Bila Tan Ciok-sing tidak
mendemonstrasikan seluruh rangkaian Bu-bing-kiam-hoat di hadapanku dulu, hari ini
mungkin aku tidak akan mampu menghadapi iblis ini."
Tapi bahaya masih tetap mengintip, bahaya datang dari damparan ombak yang
semakin deras, panggung batu karang itu rasanya mau ditelan bulat-bulat dan diseret
ke tengah laut saja. Dengan kekuatan Lwekang mereka, sedapat mungkin
memperkokoh kuda-kuda, sehingga tidak terseret air, namun tak urung mereka tetap
tertarik mundur ke belakang. Beberapa langkah lagi mereka bakal keluar dari garis
yang telah ditetapkan.
Siang Ho-yang mundur selangkah lebih banyak, jelas kakinya hampir menginjak garis
pemisah itu, kebetulan ombak besar mendampar pula, dengan kertak gigi, tiba-tiba
timbul nafsu jahatnya, maka dilancarkannya sejurus serangan yang teramat keji secara
licik. Ternyata perut gitarnya itu kosong, di dalamnya dia simpan beberapa jenis senjata
rahasia beracun, bila dia menekan tombol, tiga Toh-kut-ting segera melesat keluar.
Sebetulnya Lui Tin-gak tahu akan serangan keji lawan ini, maka sejak tadi dia sudah
waspada dan perhatikan setiap gerak-gerik lawan. Tapi kali ini Siang Ho-yang
menyerang bersama datangnya ombak, sudah tentu sukar dijaga dan diduga. Suara
gemuruh menelan desiran senjata rahasia, tahu-tahu ketiga batang paku telah melesat
di depan matanya.
Di saat-saat kritis ini, memperlihatkan betapa liehay ilmu silat Lui Tin-gak, dalam seribu
kesibukannya, lekas dia gunakan gerakan keledai malas menggelinding, dia jatuhkan
tubuh ke atas karang, golok emas melindungi kepala, "Tring" beruntun tiga kali paku itu
masih sempat dia tangkis jatuh. Agaknya Siang Ho-yang tidak menduga lawannya
mampu menangkis senjata rahasianya, namun dia juga sudah mempersiapkan
serangan susulan, di kala lawan masih rebah di tanah, kontan dia layangkan kakinya
menendang dengan serangan berantai. Dia pikir umpama tidak berhasil mencopot
nyawa Lui Tin-gak, cukup asal mendesaknya keluar garis, berarti dia sudah kalah.
Diluar tahunya perhitungannya meleset, di kala kedua kakinya beterbangan itulah,
sebuah ombak besar melanda tiba pula, itulah ombak besar terakhir dari gelombang
pasang ini, tapi ombak yang paling keras dan kuat pula. Siang Ho-yang sedang
menendang dengan sepenuh kekuatannya, sudah tentu pertahanan kakinya tidak
begitu kuat, kontan dia tersungkur kesana terdorong arus.
Sebat sekali Lui Tin-gak sudah membalik memegang pergelangan tangannya, Siang
Ho-yang merontakan kedua tangannya, namun tak kuasa dia melepas pegangan
telapak besi Lui Tin-gak, sekalian diapun pegang lengan atas Lui Tin-gak. Lwekang
kedua orang kira-kira setaraf, cepat sekali setelah saling berkutet dan bergumul
akhirnya kedua orang pelan-pelan sama berdiri, kebetulan keduanya tetap berdiri di
atas garis. Kini Siang Ho-yang berhasil meronta lepas dari pegangan lawannya, sambil
kerahkan tenaga dia ingin mendorong Lui Tin-gak keluar garis.
"Pyaaaar" di tengah gemuruh ombak terdengar gempuran keras seperti guntur
menggelegar, empat telapak tangan bertemu, kedua orang lantas lengket berhadapan
tidak bergerak lagi.
Kini pertempuran meningkat pada adu Lwekang, yang tenaganya besar dialah yang
bakal menang, jelas adu tenaga tidak mungkin menggunakan akal atau memungut
keuntungan secara licik. Namun bahayanya jauh melebihi damparan ombak besar tadi.
Dinilai tenaga dalamnya, kedua lawan ini kira-kira sebanding, cuma Siang Ho-yang
kelebihan dua puluh tahun latihan, namun Lui Tin-gak masih muda dan tenaga kuat,
seharusnya dia lebih kuat benahan lama dibanding lawannya, tapi pada gebrak terakhir
tadi Siang Ho-yang mendapat rugi lebih besar, sehingga keadaan sekarang terbalik, Lui
Tin-gak berada di atas angin. Namun sedikit unggul inipun susah diketahui meski
seorang maha guru silat yang liehay sekalipun dalam waktu dekat ini.
Diam-diam Tam Pa-kun berkuatir bagi Lui Tin-gak, demikian pulaTang-bun Cong juga
kuatir akan nasib Siang Ho-yang. Tiba-tiba kedua orang berkata tanpa berjanji: "Dua
harimau bertempur pasti ada satu yang terluka. Kukira pertempuran cukup diakhiri
sampai disini saja."
Siang Ho-yang tahu bila adu tenaga dilanjutkan lebih lama, dirinya jelas pasti kalah, tapi
dia tidak mungkin pecah perhatian untuk bicara, terpaksa dia mengangguk saja. Maka
Tam Pa-kun berkata: "Siang-losiansing mau berdamai dan anggap seri, Lui-toako,
kaupun akhiri saja bagaimana?" - secara tidak langsung dia memberi kisikan kepada
temannya, meski Siang Ho-yang dikalahkan, pihak lawan masih ada tiga orang lagi.
Tang-bun Cong juga tahu keadaan Siang Ho-yang agak kepepet, maka dia tidak
banyak berkomentar lagi.
Maka Tam Pa-kun maju menarik Lui Tin-gak sementara Tang-bun Cong menarik Siang
Ho-yang. Lui dan Siang sama-sama mengendorkan tenaganya baru mereka dapat
dipisahkan. Padahal Lwekang mereka amat tangguh, namun setelah mengalami
pertempuran sengit, napas merekapun tersengal, badan lemas lunglai.
Tam Pa-kun berkata: "Pertempuran diakhiri dengan seri, maka permusuhan ini bolehlah
dianggap himpas sampai disini saja."
Hampir saja dirinya kecundang, beruntung nama baik dan pamornya tidak sampai
runtuh sudah tentu dia setuju saja tanpa bersuara dia mengangguk. Tak kira Thi Khong
dan Bu-sam Niocu malah tampil ke muka, katanya: "Permusuhan Siang-locianpwe
dengan Lui Tin-gak boleh dianggap himpas, tapi permusuhan kami dengan Lui Tin-gak
kan belum diselesaikan."
"Apa?" hardik Tam Pa-kun, "kalian menantang Lui Tayhiap?"
"Betul. Sakit hati engkohku, memangnya tidak boleh kutuntut padanya," seru Thi
Khong.
Dengan tawa genit Bu-sam Niocu menimbrung: "Aku tahu tidak setimpal menantang Lui
Tayhiap, tapi isteri harus ikut suami, terpaksa aku mengiringi kehendak suami saja."
*'Lui Tayhiap baru saja habis bertempur, bila kalian hendak menuntut balas, biar aku
wakili dia menyambut tantangan kalian," damprat Tam Pa-kun.
Tang-bun Cong tertawa tergelak-gelak, katanya: "Tam Tayhiap omonganmu apa tidak
salah."
"Kenapa salah? Coba terangkan."
"Thi-pangcu mau membalas sakit hati engkohnya, itu urusan lain. Bila Tam Tayhiap ada
minat boleh kau menjadi saksi lagi, tapi bukan tempatnya kau ikut campur urusan orang
lain."
"Jadi menurut pendapatmu, mereka menggunakan akal licik ini malah boleh
dibenarkan?"
"Berdasar apa kau katakan aku berbuat licik?" damprat Thi Khong.
"Bila kalian menuntut balas secara terang-terangan, boleh tentukan waktunya dan
tantanglah Lui Tayhiap untuk bertanding lain kesempatan,"
Bu-sam Niocu menimbrung pula: "Mumpung hari ini ketemu dan ada kesempatan.
Kenapa susah-susah cari waktu dan tempat lain segala, biar hari ini juga kami
menyelesaikan permusuhan kita."
Tang-bun Cong terbahak-bahak, katanya: "Menuntut balas memang boleh
menggunakan cara apapun, apakah ucapan Tam Tayhiap tadi tidak terlalu mengadaada?
Apalagi sebagai kaum persilatan, mereka adalah Pangcu dari suatu perkumpulan,
tapi kedudukan mereka masih terlalu jauh dibanding Lui Tayhiap. Walau barusan Lui
Tayhiap habis bertempur, kukira dia sendiri tidak ambil pusing soal tetek bengek ini."
Sudah tentu Lui Tin-gak naik pitam, bentaknya: "Kawanan tikus juga berani bertingkah,
baik, biarkan mereka kemari."
Melihat betapa garang dan angker sikap dan tampang Lui Tin-gak, ciut juga nyali Thi
Khong. Tapi Bu-sam Niocu justru lebih cermat, dari suara Lui Tin-gak dia dapat meraba
bahwa tenaga murninya sudah hampir ludes. Maka dia memberi lirikan mata kepada
Thi Khong, katanya: "Betul, sang waktu tidak boleh dilewatkan begini saja. Lui Tayhiap
sendiri sudah menantang, marilah kita maju bersama."
Thi Khong cukup cerdik, dia tahu kemana arah perkataan Bu-sam Niocu, pikirnya: "Ya,
mumpung tenaga Lui Tin-gak belum pulih, lekas turun tangan lebih menguntungkan,"
segera dia keluarkan senjatanya, bentaknya: "Orang she Lui, hari ini kalau bukan kau
mampus, biar aku yang mati. Kami tidak akan memungut keuntungan, boleh silakan
kau mulai dulu."
Pertempuran babak kedua sudah bakal berlangsung pula, mendadak seorang
membentak: "Nanti dulu."
Bentakan ini membuat Thi Khong suami isteri sama tersentak, kontan berobah air muka
mereka. Lui Tin-gak justru berseru girang: "Ciok-sing Hiantit, kau, bagaimana kau bisa
datang kemari?"
Tampak Tan Ciok-sing bergandeng tangan dengan In San melompat naik ke panggung
karang. Tam Pa-kun berseru memuji: "Ginkang bagus."
Bertepatan saatnya tiba-tiba Siang Ho-yang menghardik: "Siapa berani kemari
membuat onar." Gitar diangkat terus terayun ke belakang memapak kedatangan Tan
Ciok-sing dan In San.
Bukan Siang Ho-yang tidak tahu siapa Tan Ciok-sing, karena dia dengar Lui Tin-gak
memanggil nama Tan Ciok-sing, maka sengaja dia pura-pura sambil menyergap.
Maklum selama dua tahun ini nama besar Tan Ciok-sing sudah cukup terkenal di
Kangouw, walau belum pernah melihatnya, pernah dia mendengar dari cerita Thi
Khong. Kini melihat kedatangan mereka begitu cepat dan tangkas selintas pandang
lantas dia tahu bahwa kepandaian Thi Khong suami istei i bukan tandingan mereka.
Maka tidak segan-segan dia gunakan sisa tenaganya yang tidak seberapa, mumpung
kedua muda-mudi ini belum berdiri tegak lantas menyergapnya.
Jurus ini dinamakan Oh-ka-cap-pwe-bak, serangan tunggal mematikan yang paling
sukar dan rumit perobahannya dalam ilmu permainan gitar besinya itu, senar gitar
dapat digunakan mengiris urat nadi, sementara badan gitarnya dapat dibuat
mengemplang, sementara petikan senarnya menimbulkan suara ribut yang memekak
dan mengganggu konsentrasi pikiran lawan, seluruh kekuatan perbawa dari ilmu gitar
yang diciptakannya dikembangkan semaksimal mungkin meski hanya dengan landasan
sisa tenaga belaka.
Tam Pa-kun memaki: "Tidak tahu malu," baru saja dia hendak menubruk maju, namun
Tang-bun Cong telah menghadang di depannya. Semula Lui Tin-gak juga tersirap, tapi
lekas sekali dia sudah berseru dengan tertawa lega: "Tidak jadi soal."
Tan Ciok-sing dan In San dua tingkat lebih rendah dari Siang Ho-yang, boleh dikata
Siang Ho-yang telah boyong segala
kemampuannya untuk menyergap mereka, dia kira meski Tan Ciok-sing memiliki
Kungfu tinggi, tapi usia masih muda,, betapapun tangguh Lwekangnya juga masih ada
batasnya, maka dia yakin serangan liehaynya ini pasti akan membuat Tan dan In bila
tidak mampus juga terluka parah.
Tak nyana kesudahannya justru jauh diluar perhitungannya.
Mendadak Tan Ciok-sing memekik panjang, suaranya melengking tinggi memekak
telinga. Di tengah pekik suaranya itu, tampak sinar pedang berkembang. Bersama In
San mereka melancarkan gabungan sepasang pedang, sehingga bayangan tubuh
Siang Ho-yang seketika seperti terbungkus didalam libatan cahaya pedang mereka.
Bukan main gembira Lui Tin-gak, pikirnya: "Gelombang sungai yang di belakang
memang mendorong yang di depan, pepatah ini cocok untuk mengibaratkan Kungfu
Ciok-sing saat ini," belum habis dia berpikir, tiba-tiba didengarnya suara ribut tak karuan
dari senar gitar, cahaya pedang yang kemilau menyilaukan matapun mendadak kuncup
tak berbekas.
Terdengar Tan Ciok-sing berkata lantang: "Maaf, kami terpaksa merusak alat musik
Locianpwe, rasanya jadi tidak enak."
Tampak Siang Ho-yang berdiri menjublek di samping sana seperti patung. Tangannya
masih memeluk gitarnya, tapi senar gitarnya sudah putus seluruhnya. Demikian pula
perut gitarnya sudah bolong. Karang di sekitar kakinya tercecer puluhan keping besibesi
tak berguna lagi, ada Toh-kut-ting, Thi-lian-cu, Ouw-tiap-piau, ada pula Bwe-hoaciam
yang remuk menjadi bubuk oleh gilasan sinar pedang sakti Tan dan In berdua.
Ternyata berbagai senjata rahasia yang puluhan buah jumlahnya itu seluruhnya telah
dibabat remuk berkeping-keping oleh sepasang pedang Ciok-sing dan In San. Perlu
diketahui, didalam melancarkan serangan jurus yang hebat tadi Siang Ho-yang masih
bermain licik sekaligus menekan tombol sehingga berbagai macam senjata rahasia
yang tersimpan di perut gitar melesat keluar seluruhnya
Diluar perhitungannya, perbawa gabungan sepasang pedang Tan dan In ternyata amat
hebat. Bukan saja serangan gelap senjata rahasia tidak membawa hasil, gitar besinya
yang dipandangnya sebagai mustika itupun telah tertusuk bolong. Seperti diketahui
pedang Tan Ciok-sing adalah Ceng-bing Pokiam, sedang yang digunakan In San
adalah Pek-hong Pokiam, sepasang pedang mustika peninggalan Thio Tan-hong suami
istri dan diwariskan kepada mereka. Gitar besi Siang Ho-yang boleh terhitung senjata
antik pula, golok atau pedang biasa jangan harap mampu merusaknya tapi sekarang
kenyataan telah dirusak oleh sepasang pedang mustika.
Siang -Ho-yang sudah pertaruhkan seluruh
kemampuannya, meski dia habis mengalami pertempuran sengit, tenaganya jauh
berkurang, tapi hanya segebrak dirinya telah terkalahkan oleh dua muda mudi yang
boleh termasuk cucunya, betapa mengenaskan kekalahan ini, bukan saja diluar dugaan
orang lain, dia sendiri juga ragu-ragu, menyangka dirinya berada di alam mimpi. Maka,
dia berdiri mematung di samping sana, wajahnya kelihatan hambar, pandangannya
kosong. Tiada yang tahu apa yang sedang dipikir dalam benaknya, tapi dapat diduga
betapa rawan perasaan hatinya.
Tam Pa-kun sudah hampir memakinya "Hina" serta melihat keadaan orang, kata-kata
yang sudah hampir terlontar di ujung lidahnya lekas ditelannya kembali.
Setelah mengalahkan Siang Ho-yang, baru Tan Ciok-sing berkata: "Lui-pepek,
pertandingan babak selanjutnya boleh serahkan kepada kami saja, kami berdua
melawan mereka berdua, pihak mana tiada yang memungut keuntungan."
Tang-bun Cong coba menempatkan dirinya scbaj-ai wasit, katanya: "Kalian tahu tidak
aturan kaum persilatan, Thi Khong suami istri hendak menuntut balas kepada Lui Tingak,
berdasarkan apa kalian berani menampilkan diri?"
In San tertawa dingin, katanya: "Kau ini saksi macam apa, memangnya Thi Khong yang
boleh menuntut sakit hati kematian engkohnya, aku tak boleh menuntut balas kematian
ayahku? Orang-orang yang dulu membunuh ayahku, engkohnya adalah salah satu
diantaranya. Belakangan Lui Tayhiap berhasil membunuh engkohnya, bila dia ingin
menuntut balas, boleh kau membuat perhitungan kepadaku saja."
"Baik, dan kau?" tanya Tang-bun Cong menuding Tan Ciok-sing.
Tam Pa-kun mendahului bicara: "Ibu nona In pernah berpesan kepadaku, supaya aku
jadi comblang menjodohkan putrinya dengan Tan Ciok-sing, mereka adalah calon
suami isteri."
Hal ini baru pertama kali ini In San mendengarnya. Tam Pa-kun membeber persoalan
pribadinya di muka umum, sudah tentu merah jengah selebar mukanya.
Tan Ciok-sing berkata: "Hubungan soal ini boleh dikesampingkan, dengan Tok-liongpang
akupun punya permusuhan yang mendalam. Kakekku dulu dibokong dan dilukai
oleh orang Tok-liong-pang, karena luka-lukanya beliau akhirnya meninggal. Rumah
leluhurku juga dibakar habis oleh kawanan Tok-liong-pang, aku tidak tahu siapa yang
turun tangan, tapi Thi Khong sekarang adalah pejabat Pangcu Tok-liong-pang, maka
aku wajib menuntut balas kepadanya."
Kalau tadi Tang-bun Cong berkukuh memperbolehkan Thi Khong suami isteri menuntut
balas kepada Lui Tin-gak, maka sekarang tiada alasan dia menentang usaha Tan Cioksing
berdua menuntut balas kepada Thi Khong suami isteri.
"Baiklah, urusan tidak perlu dibicarakan lagi," ucap Tam Pa-kun, "biar aku dan Tangbun-
siansing menjadi saksi. Tang-bun-siansing bila kau ingin bertanding dengan aku,
boleh dilaksanakan di babak terakhir saja? Atau sekarang juga boleh? Jadi tidak perlu
pakai saksi segala."
Situasi berobah seratus delapan puluh derajat, sudah tentu Tang-bun Cong tidak berani
mencari perkara, katanya: "Tam Tayhiap, soalnya perdebatan tadi takkan berakhir
begitu saja, maka aku usulkan untuk diselesaikan dengan pertandingan. Sebetulnya
tiada hasratku untuk bertanding dengan kau," secara tidak langsung dia mau bilang,
bahwa persoalan sudah jelas juntrungannya, maka dia setuju saja bila Thi Khong suami
isteri membuat penyelesaian langsung dengan Tan Ciok-sing secara adil.
Sudah tentu tanpa memperoleh dukungan Tang-bun Cong, Thi Khong suami isteri tidak
berani melawan Ciok-sing berdua. Diam-diam Bu-sam Niocu memberi kerlingan mata
kepada suaminya, maka mereka berkata bersama: "Baik, bertanding ya bertanding,
memangnya kami takut menghadapi bocah keparat ini."
"Bagus, kalau tidak takut, hayo maju."
Tak nyana di mulut Thi Khong suami isteri masih bersikap garang, tapi perbuatan
mereka justru teramat licik dan nakal. Bu-sam Niocu maju melangkah, mendadak dia
menimpukkan senjata rahasia. Itulah senjata rahasia tunggal perguruannya, Tok-bukim-
cian-Iiat-yam-tam.
"BUM" senjata rahasia meledak di tengah udara, asap tebal seketika bergulung ke
empat penjuru, gumpalan api tampak menerjang ke arah Tan dan In berdua. Di tengah
kepulan asap gelap masih menyamber pula bintik-bintik emas yang tak terhitung
banyaknya, itulah Bwe-hoa-ciam yang selembut bulu kerbau. Berbareng Thi Khong juga
menimpukkan senjata rahasia beracun perguruannya, Tok-liong-piau. Habis menimpuk
senjata rahasia mereka lantas melompat mundur bersama.
Tok-bu-kim-cian-liat-yam-tam yang ditimpukkan Bu-sam Niocu boleh dikata merupakan
senjata rahasia dahsyat yang bisa mengakibatkan kematian yang paling mengerikan,
meski sasarannya adalah Tan Ciok-sing, tapi asap beracun mengepul jarum emas juga
menyamber kian kemari di tengah kepulan asap tebal lagi, sehingga semua orang yang
berdiri di Hay-sin-tay ini tiada yang tak terkena serangan.
Oleh karena itu, begitu senjata rahasia meledak di tengah udara, semua orang yang
berada di atas panggung karangpun serempak turun tangan. Tam Pa-kun menghardik
sekali, beruntun dia memukul tiga kali. Julukannya Kim-to-thi-ciang, kekuatan pukulan
telapak tangannya ternyata hebat luar biasa. Asap beracun kontan tersapu pergi seperti
terserap oleh angin lesus.
Sementara Tan dan ln kembali mengembangkan permainan gabungan sepasang
pedang dengan jurus Pek-hong-koan-jit, dua batang pedang bersatu padu sehingga
cahayanya menjadi dwi tunggal seperti lembayung. Jarum berbisa Bu-sam Niocu, Tokliong-
piau Thi Khong hakikatnya tidak mampu mendekati mereka, semua terpukul
rontok menjadi berkeping-keping.
Tapi setelah asap tebal lenyap terbawa angin laut, bayangan Thi Khong dan Bu-sam
Niocu telah lenyap.
Segera Tan Ciok-sing memeriksa keadaan sekitarnya, dilihatnya dua bayangan orang
sedang berlari kesana melampaui jalur pemisah dan berada di tepi karang yang
menjorok ke tengah laut.
Tan Ciok-sing gusar, dampratnya: "Melukai orang dengan senjata rahasia keji,
memangnya kalian masih bisa lari?" baru saja dia hendak ajak In San mengudak
kesana, tiba-tiba Thi Khong dan Bu-sam Niocu sudah terjun ke Ci-tong-kang.
Agaknya mereka juga insaf, senjata rahasia berbisa paling hanya merintangi musuh
sekejap, Tan Ciok-sing dan lain-lain tidak mungkin bisa kecundang. Senjata rahasia
yang digunakan Bu-sam Niocu hanya untuk melicinkan jalan mundur mereka, di kala
asap tebal masih merintangi pandangan mata orang, bersama Thi Khong mereka akan
menyingkir leluasa.
Tok-liong-pang adalah kumpulan perampok yang sering beroperasi di lautan, Thi Khong
adalah Pangcu, maka kepandaiannya bermain dalam air teramat mahir. Sementara
sejak kecil Bu-sam Niocu dibesarkan di pinggir Tiangkang, di tiga selat yang paling
berbahaya sepanjang sungai besar itu maka diapun mahir berenang, kali ini mereka
terpaksa terjun ke Ci-tong-kang untuk menyelamatkan diri. Memang untung bagi
mereka karena gelombang pasang saat mana sudah reda, kalau ombak masih
mengamuk, betapapun liehay ilmu berenang mereka juga pasti mampus menjadi
hidangan ikan.
In San berkata gegetun: "Menguntungkan mereka saja."
"Ombak masih sebesar ini, belum tentu mereka bisa selamat, biarlah mereka
menentukan mati hidupnya sendiri," demikian ujar Tan Ciok-sing. Baru saja dia
melangkah hendak menghampiri Lui Tin-gak ajak berbincang-bincang, tiba-tiba
didengarnya Lui Tin-gak berteriak kaget: "Aduh celaka."
Karuan Tan Ciok-sing kaget: "Apanya celaka?" dilihatnya bola mata Lui Tin-gak
terbeliak, berdiri mematung seperti orang pikun. Tan Ciok-sing menoleh kesana
menurut arah pandangan Lui Tin-gak, tampak Siang Ho-yang entah sejak kapan secara
diam-diam sudah berdiri di pinggir karang sana.
Begitu menoleh kesana kontan Tan Ciok-sing merinding di buatnya, rona muka Siang
Ho-yang tampak amat mengerikan. Ternyata waktu menghadapi serangan senjata
gelap Thi Khong suami isteri, siapapun sibuk pada keselamatan diri sendiri sehingga
tiada yang teringat untuk melindungi Siang Ho-yang. Setelah menghadapi gempuran
sepasang pedang Tan Ciok-sing dan In San, hakikatnya Siang Ho-yang sudah tidak
mampu lagi menolak atau menangkis serangan senjata rahasia itu. Apalagi dia tidak
mengira bahwa Thi Khong suami isteri bakal menggunakan senjata rahasia keji ini
tanpa perdulikan keselamatan orang sendiri.
Usianya sudah selanjut itu, hari ini sudah terjungkel di tangan muda mudi yang pantas
menjadi cucunya, jangan kata dia sudah tidak punya tenaga bertahan diri lagi, umpama
tenaga masih kuat juga dia tidak akan bisa berkelit lagi. Bukan saja dia menyedot asap
beracun, Thay-yang-hiat, lng-hiang-hiat dan tepat di tengah alisnya terkena tiga batang
Bwe-hoa-ciam beracun timpukan Bu-sam Niocu, sementara pundaknya terkena Tokliong-
piau begitu racun menyentuh darah, kontan tenggorokan tersumbat.
Padahal Lwekangnya sudah ludes, umpama masih tangguh, setelah terkena senjata
rahasia beracun di banyak tempat lagi, jelas jiwanya juga susah diselamatkan.
Setelah lenyap rasa kagetnya, lekas Lui Tin-gak memburu maju.
teriaknya: "Siang-locianpwe, jangan kau bergerak, biar kubantu kau mengobati."
Siang Ho-yang tertawa perih, katanya: "Usiaku sudah setua ini, memangnya harus
bertahan hidup tiga puluh tahun pula? Sungguh aku menyesal kenapa aku melanggar
sumpahku terhadap Thio Tan-hong dulu, kini aku terkalahkan pula oleh murid Thio Tanhong,
mungkin Thian Yang Maha Kuasa telah menjatuhkan vonisnya kepadaku.
Memangnya aku harus ingkar janji?" sebelum Lui Tin-gak tiba di depannya, Siang Hoyang
sudah menerjunkan dirinya kedalam laut mengikuti jejak Thi Khong suami isteri.
Kalau Thi Khong suami isteri mahir berenang, tidak terluka apa-apa, kemungkinan
mereka masih bisa menyelamatkan diri. Tapi Siang Ho-yang dalam keadaan serba
payah, ombak Ci-tong-kang masih sederas itu, jelas jiwanya susah diselamatkan lagi.
Lui Tin-gak menghela napas, katanya: "Jelek-jelek Siang Ho-yang adalah seorang cikal
bakal suatu aliran, siapa nyana nasibnya sejelek ini."
Waktu Thi Khong suami isteri menimpukkan senjata rahasianya, diam-diam Tang-bun
Cong sudah yakin bahwa sergapan licik ini takkan membawa hasil maka sebelum asap
tebal itu sirna, diapun sudah kabur dari tempat itu.
Lui Tin-gak tertawa, katanya: "Hari ini dia sebagai saksi, menurut aturan Kangouw, dari
pada kita cari perkara dengan dia, biar dia yang cari perkara terhadap kita saja, tapi aku
yakin dia tidak seberani itu. Tapi ada satu hal aku belum jelas, perlu aku tanya kepada
Tan-hiantit."
"Entah paman ingin tahu soal apa?" tanya Tan Ciok-sing.
"Kabarnya kalian akan tinggal di Soh-ciu saja, kenapa mendadak berada disini?" tanya
Lui Tin-gak.
Tan Ciok-sing berkata: "Ada sebuah kabar gembira perlu kusampaikan kepada paman
berdua."
Lekas Tam Pa-kun berkata: "Apakah kalian sudah memperoleh berita Kek Lam-wi?"
"Bukan hanya beritanya saja," ujar In San tertawa, "orangnyapun sudah kami temukan."
Tam Pa-kun kegirangan, tanyanya: "Bagaimana kalian menemukan dia?"
"Paman Tam, pandanganmu tajam, dugaanmu ternyata benar," ujar In San?"
"Memang nona Bu itulah yang menolongnya, belakangan secara diam-diam dia
membantu kami pula sehingga Kek Lam-wi ditemukan," lalu dia bercerita secara
ringkas.
"Memang sudah kuduga bahwa nona Bu itu tidak bermaksud jahat kepada Kek Lam-wi,
syukur aku tidak salah menilai orang. Sekarang Lam-wi..."
"Waktu kami meninggalkan Soh-ciu, dengan Kiau-thocu dari Kaypang dia sudah
berangkat lebih dulu ke Thay-ouw."
Lui Tin-gak memotong: "Ya. Ong Goan-tin Cong Cecu dari tiga puluh enam markas
perairan di Thay-ouw akan merayakan hari ulang tahunnya ke enam puluh, hari ulang
tahunnya jatuh pada tanggal dua puluh satu bukan?"
"Betul," ujar Tam Pa-kun, "aku memang ingin mengajakmu kesana."
"Sebenarnya akupun punya maksud. Cuma sebelum hari ini, aku sendiri tidak tahu
apakah aku bakal berumur panjang untuk menikmati arak perjamuan ulang tahunnya
itu. Sekarang boleh aku ikut kalian kesana."
Dua hari kemudian, sebuah perahu sedang berlaju di tengah Thay-ouw. Tiada angin
tiada ombak, cuaca cerah, selepas mata memandang permukaan air berpadu dengan
langit di kejauhan sana.
Berada di tengah keindahan alam permai bak sebuah lukisan ini, ln San yang berdiri di
ujung perahu sampai terpesona. Timbul gairah mereka bersenandung, In San segera
tarik suara, sementara Tan Ciok-sing keluarkan harpanya.
Yang dibawakan adalah puisi ciptaan Thio It-ouw, pujangga dynasti Song yang pernah
memperoleh pangkat tinggi dalam kalangan pemerintahan.
Begitu lagu habis dan suara harpa berhenti, mendadak kumandang suara seorang
berseru memuji: "Nyanyian bagus, petikan harpa juga bagus."
Mendengar pujian ini, Tam Pa-kun dan Lui Tin-gak sama-sama kaget. Padahal di
perairan sekitar perahu mereka tidak kelihatan ada perahu lain. Selepas mata
memandang, kelihatan di kejauhan sana ada setitik bayangan layar berkembang. Bila
orang yang berseru memuji di atas kapal itu, dalam jarak sejauh itu namun suaranya
tetap terdengar sejelas tadi, maka betapa tangguh Lwekangnya, dapatlah dibayangkan.
Tan Ciok-sing juga kaget, katanya: "Agaknya orang itu menggunakan Lwekang tingkat
tinggi mengirim suaranya dengan gelombang panjang."
"Betul," ucap Lui Tin-gak menghela napas. "Di atas langit masih ada langit, orang
pandai ada yang lebih pandai lagi. Kata-kata ini memang patut diresapi. Betapa
tangguh dan murni Lwekang orang itu, sungguh belum pernah kulihat selama hidup ini.
Siapa nyana di tempat ini aku bakal bertemu dengan tokoh seliehay ini. Tam-heng, kau
lebih hapal mengenai seluk beluk benggolan Bulim, tahukah kau siapa dia?"
Bahwa It-cu-king-thian Lui Tin-gak yang sudah punya kedudukan setinggi itu di
kalangan Bulim, masih berkata demikian, sudah tentu Tan Ciok-sing dan In San sama
tersirap. Maka pandangan mereka tertuju ke arah Tam Pa-kun serta menanti
penjelasannya.
Tam Pa-kun- berpikir sebentar, katanya kemudian: "Thio Tan-hong Thio Tayhiap
beruntung aku pernah melihatnya, jikalau Thio Tayhiap belum meninggal pasti aku
duga dia adanya. Tapi Thio Tayhiap sudah meninggal empat tahun yang lalu, aku jadi
tak habis pikir siapa gerangan yang memiliki Lwekang setangguh itu?"
"Apakah Lwekangnya mampu menandingi maha guru silat seperti Thio Tan-hong Thio
Tayhiap?" tanya Lui Tin-gak.
"Dibanding Thio Tayhiap jelas belum memadai, tapi di antara Bulim Cianpwe yang
kukenal dan masih hidup sekarang, kurasa tiada yang mampu menandingi dia," ucap
Tam Pa-kun.
"Tam-heng, pengetahuan dan pengalamanmu luas, coba kau pikir-pikir lebih cermat,
umpama kau tidak mengenalnya, mungkin pernah mendengar namanya?"
"Suhu Le Khong-thian yaitu Kiau Pak-bing dulu adalah gembong iblis besar yang
sejajar dengan Thio Tayhiap. Konon sejak lama dia sudah mati diluar lautan."
"Benar," timbrung Tan Ciok-sing, "Le Khong-thian mati di tangan guruku, aku
mendengar sendiri dia menantang guruku, katanya mau menuntut balas, ini sudah jelas
bahwa kematian Kiau Pak-bing tidak pertu diragukan lagi"
"Kalau tidak bisa mengingatnya, ya sudahlah. Diterawang dari situasi sekarang ini, ada
seorang setangguh ini berada di Thay-ouw, hari ini adalah ulang tahun Ong Goan-tin
lagi, kedatangannya sudah tentu akan memberi selamat kepadanya. Setiba kita di
Tong-ting-ouw barat, pasti akan segera diketahui siapa dia adanya."
Tiba-tiba Tam Pa-kun berkata: "Sekarang kuingat seseorang."
"Siapa?" tanya Lui Tin-gak.
"Tang-hay-liong-ong."
"Siapa itu Tang-hay-liong-ong?"
"Dia, dia adalah..." tengah bicara tampak kapal di sebelah belakang itu sudah berlaju
kencang mendekati perahu mereka, jaraknya sudah terjangkau oleh pandangan mata.
Kapal itu memang besar sekali, panjangnya ada tiga puluhan tombak, bersusun tiga.
Lebih tepat kalau dinamakan kapal loteng.
Lui Tin-gak berkata: "Kapal loteng macam ini agaknya jarang berlayar di sungai?"
"Betul," ucap Tam Pa-kun, "memang kapal loteng yang khusus berlayar di lautan teduh.
Nah, kalian melihat bendera di puncak tiang itu tidak?"
Lekas Tan Ciok-sing memandang kesana, tampak sebuah bendera besar sedang
melambai-lambai ditiup angin di ketinggian tiangnya. Di tengah bendera bergambar
seekor naga hitam yang membuka mulut lebar dan pentang cakarnya.
Naga merupakan lambang kebesaran seorang raja, kapal ini ternyata berani
menggunakan naga sebagai lambang benderanya, tak usah ditanya siapa pemiliknya,
yang terang keberaniannya cukup mengejutkan.
Tam Pa-kun menghela napas, katanya: "Dugaanku ternyata tidak meleset, memang
Tang-hay-liong-ong adanya."
Kapal loteng itu melebarkan layarnya sehingga berlaju pesat ditiup angin buritan, lekas
sekali kapal besar itu sudah jauh semakin mengecil dan lenyap dari pandangan mata.
Diperhitungkan dari perjalanan air, kini kapal besar itu tentu sudah berlabuh di kaki
Tong-thing-san, penumpang kapal kemungkinan juga sudah sama mendarat.
"Kapal itu berlabuh di Tong thing-san barat, naga-naganya mereka memang hendak
memberi selamat ulang tahun kepada Ong-goan-tin. Tam-heng, orang macam apa
sebenarnya Tang-hay-liong-ong ini? Tadi belum sempat kau jelaskan."
"Dia orang baik atau orang jahat?" In San mendesak juga tidak sabaran.
"Aku juga tidak tahu apakah dia orang baik atau orang jahat. Malah siapa she dan
namanya akupun tidak tahu."
"Aku hanya tahu dia adalah pentolan kawanan perampok yang mengganas di lautan
timur, membunuh orang merampok barang adalah kerja rutin mereka, tanpa pandang
bulu lagi. Karena dia mengerek bendera naga sebagai pelambang, maka orang banyak
sama menjulukinya Tang-hay-liong-ong. Konon ilmu silatnya teramat tangguh, namun
jarang berkecimpung di Kangouw, di lautan orang pun tiada yang pernah melihat
tampangnya. Oleh karena itu kaum persilatan di Tionggoan hanya beberapa orang saja
tahu akan dirinya."
Lui Tin-gak mengerutkan kening, katanya:. "Orang seperti itu, walau Ong Goan-tin
mempunyai kedudukan tinggi dan disegani orang, mungkin masih tidak dipandang
sebelah mata olehnya, lalu apa sebabnya hari ini dia sudi datang memberi selamat
kepada Ong Goan-tin, urusan rasanya agak ganjil? Tam-heng, tahukah kau apakah dia
teman baik Ong Goan-tin."
"Pernah kudengar Ong Goan-tin membicarakan tentang dia, tapi Ong Goan-tin sendiri
juga bilang, dia belum pernah melihat Tang-hay-liong-ong, apa lagi hubungan intim
segala jelas tidak mungkin. Sudahlah tidak perlu menduga-duga, setiba di Tong-thingsan,
kitapun akan tahu sendiri."
Perahu kecil mereka jelas kalah cepat dibanding kapal loteng tadi, namun lajunya juga
tidak lambat. Kira-kira setengah jam setelah mereka kehilangan bayangan kapal loteng
di depan sana merekapun telah tiba di Tong-thing-san.
Berempat mereka segera mendarat.
Tong-thing-san memang tidak setinggi dan sebesar Ngo-gak yang terkenal itu, tapi
mempunyai bentuk dan wajah yang tersendiri pula. Sejak dari pinggir danau mereka
terus memanjat gunung, pemandangan permai sepanjang jalan sawah ladang
bertangga telah menghijau, pohon-pohon buah nan rimbun serta beraneka ragam jenis
bunga yang indah dan semerbak Tam Pa-kun memberitahu orang banyak: "Ong Goantin
memang pemimpin serba bisa, pandai perang juga mahir bercocok tanam, rangsum
keperluan pasukan airnya diperoleh dari hasil perkebunan dan sawah ladang dan subur
di samping juga perikanan yang tidak kunjung habis dikeduk setiap hari di danau.
Kecuali harta tidak halal dari pembesar dorna, pedagang biasa yang sering mondarmandir
mencari nafkah secara semestinya mereka lindungi."
Tan Ciok-sing berpikir: "Ong Goan-tin memang pemimpin sejati, tak heran Kim-to Cecu
menaruh penghargaan dan perhatian khusus kepadanya."
Setiba mereka di lamping gunung, dua Thaubak telah turun menyambut mereka.
Mereka kenal Tam Pa-kun, begitu melihat kedatangannya mereka berjingkrak girang
serta berseru: "Tam Tayhiap, syukurlah kau telah datang, kami kuatir hari ini kau belum
akan datang."
"Ada urusan apa?" tanya Tam Pa-kun.
Seorang Thaubak menjawab: "Barusan kedatangan seorang tamu luar biasa."
"Aku sudah tahu. Tang-hay-liong-ong bukan?" ucap Tam Pa-kun.
"Betul, Tang-hay-liong-ong membawa banyak orang, biasanya dia tidak pernah
berhubungan dengan kami."
"Kau kira kedatangan mereka tidak bermaksud baik?"
"Kecuali rombongan Tang-hay-liong-ong, masih ada juga orang-orang lain yang punya
hubungan biasa dan masing-masing tidak pernah kontak kerja, ada pula orang-orang
dari golongan hitam. Dan orang-orang ini agaknya kenal baik dengan Tang-hay-liongong,
begitu ketemu lantas bicara dan kelakar seperti di rumah sendiri. Aku jadi curiga
bukan mustahil kedatangan mereka memang ada maksud-maksud jahat," demikian
tutur Thaubak itu.
"Baiklah, mari kita jalan lebih cepat, untuk menemui Cecu kalian, tidak usah kalian
menunjukkan jalan," ucap Tam Pa-kun. Berempat mengembangkan Ginkang menuju ke
markas pusat Ong Goan-tin yang terletak di Biau-biau-hong di puncak utama Tongthing-
san.
Ong Goan-tin menyambut para tamunya di Kik-gi-ting, dimana para tamu memberi
selamat ulang tahun kepadanya. Begitu mereka memasuki pintu markas, Thaubak yang
menyambut kedatangan mereka kelihatan rona mukanya agak ganjil seperti tertekan
perasaannya. Begitu tiba di Kik-gi-ting, lantas terdengar suara ribut-ribut didalam,
suaranya seperti laksaan nyamuk berpadu menjadi suara guntur layaknya, terlalu
banyak orang bicara, saling debat dan cerca sehingga keadaan menjadi kacau dan
susah dibedakan persoalan apa yang tengah diributkan.
Tam Pa-kun tidak tanya lagi kepada petugas penyambut tamu, langsung dia masuk ke
Kik-gi-ting. Tepat dia tiba di ambang pintu, didengarnya Ong Goan-tin sedang berteriak
keras: "Usiaku sudah tua, mulai' hari ini aku akan mencuci tangan di baskom emas.
Cong Cecu di kawasan Thay-ouw ini aku tidak berani menjabatnya lagi, apalagi Bu-limbeng-
cu dari wilayah Kanglam segala? Terus terang tidak pernah timbul angananganku
ke arah itu."
Disusul seorang berkata: "Apakah betul kita memerlukan seorang Bu-lim-beng-cu,
pendapat masih simpang siur. Ong Cecu, apakah perkataanmu ini tidak terlalu pagi
diucapkan?"
Seorang lagi berteriak lebih keras, "Ong Cecu, semangatmu umpama naga dan kuda,
enam puluh tahun mumpung masih jaya-jayanya, kenapa kau main cuci tangan di
baskom emas segala?"
Seorang lagi berseru: "Urusan besar harus segera dibicarakan dan diputuskan,
umpama Ong Cecu ingin mencuci tangan di baskom emas juga bukan sekarang
saatnya."
Mendengar ribut-ribut ini diam-diam. Tam Pa-kun merasa kesal, pikirnya: "Entah
kenapa timbul akal pemilihan Bu-lim-beng-cu segala? Mungkin hasutan anasir-anasir
pihak Tang-hay-liong-ong, tujuan yang utama adalah supaya Tang-hay-liong-ong
berhasil menguasai seluruh Kangouw? Urusan besar harus segera dibereskan, urusan
besar apakah itu? Ada satu hal yang mengherankan adalah, biasanya Ong Goan-tin
berjiwa patriot, gagah berani pantang mundur, baru belasan hari aku berpisah dengan
dia, selama ini belum pernah dia mengutarakan maksudnya hendak mengundurkan diri
segala? Kenapa sekarang bilang mau mencuci tangan di baskom emas,
kedengarannya urusan teramat mendesak sikapnya pesimis dan putus asa."
Maka terdengar suara ribut-ribut pula: "Bila Ong Cecu ingin dipensiun, kita juga tidak
usah memaksanya."--"Untuk membereskan urusan luar biasa, harus dipimpin seorang
yang luar biasa pula. Agaknya tugas ini teramat berat, Ong Cecu tidak mau
memikulnya, marilah kita pilih seorang lain yang mampu memikul tugas berat dan
bertanggung jawab dalam segala persoalan?"--
"Omong kosong, Thay-ouw kita selama ini hidup berdikari, selama puluhan tahun
tentram, hidup sejahtera dan sentosa, buat apa memilih Bu-lim-beng-cu segala? Yang
kita dukung dan junjung hanyalah Ong Cong Cecu saja." — — "Persoalan jangan
bilang demikian, sekarang kita mulai memperoleh tekanan oleh pihak penguasa, tiba
saatnya kita bersatu padu, kalau dipimpin seorang Bu-lim-beng-cu, apa salahnya."
Pembicara terdiri dari dua pihak yang bertentangan, banyak suara lebih mendukung
diadakannya pemilihan Bu-lim-beng-cu, tidak sedikit pula yang berpendapat tidak usah
memaksa Ong Goan-tin untuk memikul tugas berat ini. Celakanya pembicara tidak
sedikit dari para Cecu yang termasuk diantara tiga puluh enam Cecil dari Thay-ouw
sendiri.
Pada saat itulah Tam Pa-kun berempat sudah melangkah masuk ke Kik-gi-tiang, orang
didalam sudah ada yang melihat kedatangan mereka. Tidak sedikit hadirin yang kenal
Tam Pa-kun, maka banyak di antaranya berteriak: "Hadirin supaya tidak ribut, Tam
Tayhiap sudah datang," disusul seorang berteriak juga, "Nah itu dia It-cu-king-thian Lui
Tin-gak Tayhiap yang menggetarkan Thian-lam juga datang."
Tan Ciok-sing dan In San berjalan di belakang kedua orang ini, namun hadirin jarang
yang memperhatikan mereka.
Girang Ong Goan-tin seperti kejatuhan rejeki nomplok, katanya: "Lui Tayhiap, sungguh
tidak nyana akan kehadiranmu disini, maaf aku terlambat menyambut. Tam-toako,
kenapa tidak kau memberi kabar lebih dulu?"
Tam Pa-kun berkata: "Beberapa hari yang lalu baru aku tahu Lui-toako berada di
Kanglam. Sengaja aku pergi ke Hay-ling menyambutnya kemari."
Lui Tin-gak berkata: "Sengaja aku hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepada
Ong-cecu. Ong Cong-cecu tidak usah sungkan."
Setelah basa-basi ala kadarnya, Ong Goan-tin berkata: "Hari ini kedatangan Tang-hayliong-
ong, disusul kehadiran It-cu-king-thian pula, sungguh orang she Ong hari ini betulbetul
amat bahagia dan bangga. Mari, mari aku perkenalkan kalian berdua."
Seorang laki-laki yang duduk berhadapan dengan Ong Goan-tin berperawakan tinggi
tujuh kaki berjambang lebat, usianya sekitar lima puluh, sorot matanya berkilat walau
pandangannya tidak tertuju ke arah Lui dan Tam yang baru datang, sikapnya kelihatan
angkuh.
Diam-diam In San berbisik di pinggir telinga Tan Ciok-sing: "Tentu orang itulah Tanghay-
liong-ong, jumawa benar, melihat tampangnya aku jadi sebal dibuatnya."
Sorot mata laki-laki berjambang itu tiba-tiba beralih ke arah Tan Ciok-sing berdua,
entah karena dia mendengar suara bisikan In San. Diam-diam Tin Ciok-sing
menggenggam telapak tangan In San, maksudnya supaya dia tidak sembarang omong.
Lekas mereka mundur ke gerombolan orang banyak.
Tatkala itu suara keributan itu tanpa merasa menjadi terhenti karena kedatangan Tam
dan Lui dua tokoh kenamaan yang disegani, perhatian hadirin ditujukan ke arah Tanghay-
liong-ong yang bakal diperkenalkan dengan dua pendekar besar yang telah
menggetar Bulim.
Terdengar Ong Goan-tin mulai memperkenalkan: "Inilah Tang-hay-liong Sugong-thocu
yang kenamaan di lautan," sesuai dugaan In San, laki-laki jambang bauk ini memang
adalah Tang-hay-liong-ong.
"Inilah It-cu-king-thian Lui Tin-gak Lui Tayhiap yang menggetarkan Thian-lam."
Habis diperkenalkan tampak Tang-hay-liong-ong sedikit menggerakkan tubuhnya,
katanya tawar: "Cayhe Sugong Go, sudah lama kudengar nama besar Lui Tayhiap."
Banyak hadirin tidak tahu siapa nama asli Tang-hay-liong-ong, baru sekarang mereka
tahu namanya adalah Sugong Go.
Di mulut Sugong Go berkata
"mengaguminya" tapi badannya hanya sedikit bergerak ke depan belaka, sikap
jumawanya ternyata terlalu ditonjolkan, seolah-olah dia tidak pandang sebelah mata
kepada It-cu-king-thian Lui Tin-gak.
Banyak hadirin merasa penasaran dan keki, namun Lui Tin-gak bersikap wajar dan
tenang, sesuai kebiasaan kaum persilatan dia merangkap kedua tangan sambil
menjura, suaranyapun tawar: "Maaf bila orang she Lui tinggal di daerah belukar di
selatan, baru hari ini aku tahu akan kebesaran nama Tang-hay-liong-ong, mohon
dimaafkan," kata-katanya cukup pedas, agaknya dia sengaja hendak menjatuhkan
sikap jumawa Tang-hay-liong-ong, namun lekas sekali dia sudah tertawa lebar, dengan
tertawa tergelak-gelak dia berkata: "Sugong Go tinggal di lautan, sejak lama hidup di
pengasingan, tidah pernah berhubungan dengan orang gagah di Tionggoan, mungkin
aku berlaku kurang hormat, harap Lui Tayhiap suka maafkan," sembari tertawa dia
membungkuk membalas hormat. Serangkum tenaga dahsyat laksana damparan
amukan ombak tiba-tiba melanda tanpa bersuara. Lui Tin-gak seperti diterjang
kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan, dadanya terasa sesak.
Bagi tokoh silat yang memiliki Kungfu tinggi, bila mendadak menghadapi bokongan,
secara reflek akan timbul reaksinya mempertahankan diri. Lui Tin-gak tidak banyak
pikir, lekas dia menjura pula membalas hormat orang.
Dua jalur pukulan Bik-khong-ciang saling tumbuk di tengah udara "Pyaaar" seperti
balon pecah, tanpa kuasa ternyata Lui Tin-gak tergentak mundur selangkah.
Maklum Tang-hay-liong-ong menyerang lebih dulu, Lui tin-gak tidak menduga dan
menangkis secara tergesa-gesa, logis kalau dia sedikit kecundang, walau mundur
selangkah, dia masih belum terhitung kalah.
Cuma kedua pihak saling jajal kepandaian meminjam saling hormat dengan merangkap
kedua tangan, Lui Tin-gak tahu bahwa lawan mengambil keuntungan, namun tak
mungkin dia membalas secara membabi buta di hadapan sekian banyak orang, secara
lahirnya, karena dia mundur selangkah, bagaimana juga dia tetap kalah.
Tang-hay-liong-ong terbahak-bahak serunya: "Lui Tayhiap, jangan terlalu hormat,"
habis bicara dia langsung duduk pula dengan merenggang kedua kaki tanpa hiraukan
orang.
"Inilah Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun Tam Tayhiap," Ong Goantin memperkenalkan Tam
Pa-kun.
Tam Pa-kun maju selangkah, katanya sambil «Iur tangan: "Sudah lama aku mendengar
kebesaran Tang-hay-liong-ong, beruntung hari ini dapat berkenalan."
Sudah menjadi kebiasaan kaum persilatan untuk saling menghormat pada setiap
pertemuan, kecuali saling menjura, mereka saling berjabatan tangan. Karena Lui Tingak
menderita rugi dalam adu Bik-khong-ciang, maka Tam Pa-kun sengaja ajak orang
berjabatan tangan. Jelas maksudnya hendak bantu melampiaskan penasaran Lui Tingak.
Suasana menjadi hening, seluruh hadirin tumplek perhatiannya, banyak yang
membatin: "Tam Tayhiap berjuluk Kim-to-thi-ciang, ilmu pukulan telapak tangannya
tentu amat liehay. Kemungkinan kali ini Tang-hay-liong-ong akan dirugikan."
Tak nyana begitu telapak tangan kedua orang saling jabat, mau tidak mau Tam Pa-kun
amat kaget dibuatnya. Terasa oleh Tam Pa-kun telapak tangan lawan ternyata lemas
dan empuk seperti kapas, tiada suatu tempat yang mampu untuk dirinya mengerahkan
tenaga meremasnya. Tapi Tam Pa-kun menambah tenaga remasannya, namun sikap
lawan tetap wajar dan biasa. Lekas sekali Tam Pa-kun sudah kerahkan Lwekangnya
sampai puncak kematangannya. Julukannya Kim-fo-thi-ciang, biasanya cukup dia
mengerahkan setengah tenaganya, batu pilarpun akan pecah berhamburan, namun
sekarang dia sudah kerahkan seluruh kekuatannya, tapi lawan tetap adem ayem tidak
kurang suatu apapun.
Kekuatan telapak tangannya terus dilontarkan namun seperti batu kecemplung laut,
lenyap tidak ada bekasnya, Tam Pa-kun yang pengalaman menghadapi musuh mau
tidak mau mencelos hatinya. "Orang bilang Kungfu Tang-hay-liong-ong susah diukur,
ternyata memang tidak bernama kosong," sebagai seorang ahli silat, dia maklum bila
saat ini dia lepas tangan, tenaga dalam Tang-hay-liong-ong akan balik menyerang
dirinya, terpaksa dia kertak gigi terus menyalurkan kekuatannya. Rona muka Tang-hayliong-
ong hakikatnya tidak pernah berubah, namun bila hadirin mau memperhatikan
orang akan melihat jidatnya mulai berkeringat. Tapi sikap Tam Pa-kun memang
kelihatan jauh lebih tegang.
Ong Goan-tin kuatir bila dua harimau bertarung salah satu pasti terluka, baru saja dia
hendak ajak Lui Tin-gak maju bersana memisah, tiba-tiba didengarnya Tang-hay-liongong
bergelak tertawa, katanya: "Tam Tayhiap bergelar
Kim-to-thi-ciang, memang tidak bernama kosong, kagum, sungguh kagum," di tengah
gelak tawanya dia lepas pegangannya langsung duduk kembali di tempatnya. Setelah
kedua orang sama melangkah berpindah tempat, maka tampak dimana tadi Tam Pakun
berdiri, lantainya dekuk berbentuk telapak kakinya. Sedang lantai dimana Tanghay-
liong-ong berdiri tetap utuh tidak kurang suatu apa.
Tam Pa-kun meninggalkan bekas telapak kakinya di batu hijau yang keras, betapa
hebat Kungfunya dapatlah dibayangkan. Tapi dalam pandangan para ahli, bahwa Tanghay-
liong-ong tidak meninggalkan bekas apapun setelah mengadu kekuatan sedahsyat
itu, ilmunya jelas lebih mengejutkan lagi. Orang-orang pihak Ong Goan-tin mau tidak
mau sama kaget, "Tak nyana kekuatan telapak tangan Kim-to-thi-ciang ternyata tetap
dikalahkan pula oleh Tang-hay-liong-ong."
Perlu diketahui pukulan telapak tangan yang diyakinkan Tam Pa-kun adalah ilmu
Gwakeh, sebaliknya Tang-hay-liong-ong meyakinkan pukulan yang dilandasi tenaga
Lwekeh. Bila Lwekang dan Gwakang sama diyakinkan sampai taraf yang paling top
sebetulnya sukai dibanding mana lebih unggul Cuma dipandang lahirnya, bila Lwekang
diyakinkan sampai puncaknya, orang lain akan sukar mengukur tinggi rendah ilmunya.
Lain lagi yang meyakinkan Gwakang, selintas pandang orang akan dapat mengukur
taraf kepandaiannya. Umpamanya Tam Pa-kun, setelah dia kerahkan seluruh
kekuatannya, tak heran bila dia meninggalkan bekas tapak kakinya.
Dua jagoan kosen yang paling diandalkan sama-sama dirugikan setelah bertanding
dengan Tang-hay-liong-ong. Hadirin sama pucat dan saling pandang dengan perasaan
tidak karuan. Setelah batuk sekali Ong Goan-tin berkata: "Nah, kalian sudah samasama
kenal, silakan duduk, kita bicarakan persoalan semula."
Tak nyana begitu Lui dan Tam mengambil tempat duduknya, Tang-hay-liong-ong malah
berdiri. Katanya: "Masih ada dua pendekar muda, Ong Cecu, kenapa tidak kau
perkenalkan mereka kepadaku."
Perhatian hadirin tadi ditujukan kepada Tam dan Lui berdua, sehingga Tan Ciok-sing
dan in San yang mengintil di belakang mereka tidak diperhatikan, sampaipun Ong
Goan-tin juga mengira kedua muda-mudi ini hanyalah angkatan muda yang mana saja
dan datang mumpung ada kesempatan bersama Tam dan Lui berdua. Apakah mereka
kenal baik dengan kedua pendekar besar ini, Ong Goan-tin juga tidak tahu. Oleh karena
itu umpama benar mereka adalah tunas harapan, didalam pertemuan besar seperti ini,
belum setimpal untuk diperhatikan oleh Ong Goan-tin, apa lagi diperkenalkan kepada
para tamu.
Tam Pa-kun segera berseru: "Tan-heng, In-hiantit, mari kemari."
Di sebelah sana Tan Ciok-sing berkata: "Aku inikan pupuk bawang mana berani..."
Belum habis dia bicara, In San sudah tertawa ringan, selanya: "Walau kita ini anak
muda kaum keroco, tapi mumpung ada kesempatan sebaik ini, apa salahnya kita
berkenalan dengan Tang-hay-liong-ong?" terpaksa Tan Ciok-sing yang diseret
melangkah maju.
Baru saja mereka keluar dari gerombolan orang banyak Tang-hay-liong-ong segera
menyongsong maju, dengan tertawa dia berkata kepada Tan Ciok-sing: "Tan-heng, aku
belum tahu siapa kau, tapi kau adalah orang yang paling kukagumi di antara hadirin
ini."
Terhadap dua pendekar besar yang kenamaan Tang-hay-liong-ong bersikap jumawa
dan tidak memandang sebelah mata, siapapun tiada yang menyangka terhadap
seorang pemuda ternyata dia bersikap hormat dan sopan malah, karuan hadirin
melongo dan saling pandang.
Tan Ciok-sing sendiri juga tertegun, katanya: "Sugong-thocu berkelakar saja, Wanpwe
mana berani menerima penghargaan ini."
Tang-hay-liong-ong tertawa, katanya: "Selama hidupku aku tidak sembarang memuji
apalagi menghargai orang lain, bagaimana Kungfumu, tinggi atau rendah aku tidak
tahu. Tapi aku tahu sedikitnya kau memiliki semacam kepandaian, tiada orang dalam
jagat ini yang bisa menandingi kepandaianmu itu."
Mendengar pujian Tang-hay-liong-ong, baru hadirin percaya dan sikap serta
pandangannya terhadap Tan Ciok-sing berobah 180 derajat, semua pasang kuping
mendengarkan dengan seksama.
"Di atas danau tadi, aku menikmati petikan harpamu yang memukau, aku yakin dalam
jagat ini tiada orang yang mampu menandingi petikan Tan-heng tadi. Entah pernah apa
kau dengan Khim-sian Tan Khim-ang yang pernah menggemparkan dunia pada tiga
puluh tahun yang lampau?"
"Beliau adalah kakekku," sahut Tan Ciok-sing.
Mendengar jawaban ini, tidak sedikit hadirin yang sudah menduga akan asal-usul Tan
Cioksing. Tang-hay-liong-ong tertawa tergelak-gelak, katanya: "Tak heranlah. Hehe,
bicara soal Kungfu semua yang hadir hari ini termasuk diriku, mungkin tidak ada yang
berani diagulkan nomor satu di dunia ini? Ilmu macam apapun bila nomor satu di dunia
ini pasti kukagumi. Yakin Tan-heng percaya bahwa aku bicara setulus hatiku?"
"Terima kasih akan pujian Thocu, sesungguhnya tak berani Wanpwe menerima pujian
setinggi ini."
"Kenapa sungkan?" ujar Tang-hay-liong-ong tertawa, "hayolah kemari, kita bicara
disana," sembari bicara dia menarik tangan Tan Ciok-sing.
Barusan hadirin mendapat sajian yang menegangkan dalam pertandingan adu tenaga
dalam antara Tang-hay-liong-ong melawan Lui Tin-gak lalu Tam Pa-kun, Lui Tin-gak
kecundang, Tam Pa-kun juga dirugikan. Kini melihat dia menarik tangan Tan Ciok-sing,
hadirin sama kaget. Tan Ciok-sing juga kuatir lawan menggunakan cara serupa, maka
dia sudah siaga. Diam-diam dia kerahkan ajaran Lwekang karya Thio Tan-hong,
serangkum tenaga seperti ada tapi tiada, seperti kosong tapi juga tidak berisi
dikerahkan ke telapak tangannya.
Tang-hay-liong-ong memang gembong iblis besar dari kalangan sesat, namun dia
punya watak menyendiri suka menjalin hubungan baik dan senang membimbing tunastunas
muda yang berbakat. Semula dia tidak ingin menjajal ilmu silat Tan Ciok-sing, tapi
sebagai maha guru silat tiba-tiba dirasakannya Lwekang Tan Ciok-sing ternyata aneh
bin ajaib, terasa bahwa Ciok-sing bersikap hati-hati dan waspada kuatir dirinya
membokongnya, tapi tenaga dalamnya seperti ada tapi tiada, ingin melawan tapi juga
menyambut. Padahal
pengalamannya cukup luas, tapi dia sukar meraba Lwekang aliran mana yang
diyakinkan Tan Ciok-sing, Karena timbul rasa ingin tahunya, tanpa sadar Tang-hayliong-
ong ingin mencoba Lwekang Ciok-sing.
Bahwa Tan Ciok-sing tidak kerahkan Lwekangnya menyerang, maka dia mendahului
kerahkan tenaga dalamnya memancing. Situasi justru terbalik dari pada waktu dia
melawan Tam Pa-kun tadi, kini dia berada di pihak yang menyerang seperti Tam Pakun
menyerang dirinya tadi.
Perlahan-lahan, Tang-hay-liong-ong menambah tenaganya, tetap dia tidak berhasil
menjajaki taraf kepandaiannya, setelah dia kerahkan tujuh puluh persen tenaganya
baru terasa sedikit perlawanan tenaga Tan Ciok-sing. Terasa olehnya meski tenaga
perlawanan Tan Ciok-sing ini tidak sekokoh dan sekuat tenaganya, namun mutunya
jelas seperti lebih unggul dari ilmu yang dipelajarinya. Apalagi sejauh ini dia belum
berhasil meraba asal-usul ilmu Tan Ciok-sing, entah dari golongan atau aliran mana.
Tang-hay-liong-ong tidak ingin melukai Tan Ciok-sing, tapi dia juga tidak mau kalah,
setelah lenyap rasa kagetnya, dia berpikir: "Asal-usul pemuda ini pasti luar biasa,
sepantasnya aku harus tahu diri," maka segera dia melepas tangan Tan Ciok-sing, lalu
bergelak tawa pula.
Serunya: "Gelombang sungai memang saling dorong mendorong patah tumbuh hilang
berganti. Pepatah itu memang tidak keliru. Sungguh tidak kira Tan-heng mahir memetik
harpa juga pandai bermain silat, Kungfumu juga bukan kepalang hebatnya."
Mendengar pujian ini, mereka yang tidak tahu asal-usul Tan Ciok-sing sama kaget dan
heran, yang tahu siapa sebenarnya Tan Ciok-sing juga amat kagum dan terharu pula.
Di tengah tepuk tangan hadirin, diam-diam Tan Ciok-sing mencucurkan keringat dingin,
hatinya mengucap "syukur". Ternyata waktu Tang-hay-liong-ong kerahkan tenaganya
pada taraf tujuh puluh persen Tan Ciok-sing sudah gunakan seluruh kekuatannya. Bila
percobaan itu dilanjutkan lebih lama sedikit, jelas Tan Ciok-sing tidak tahan dan bakal
mengalami luka-luka yang parah.
Tam Pa-kun lantas berdiri, di hadapan hadirin dia
memperkenalkan: "Tan Ciok-sing Lote ini adalah murid penutup dari Thio Tan-hong
Thio Tayhiap."
Ong Goan-tin tersentak kaget, serunya: "Jadi kau inilah Tan-siauhiap yang pernah
menggetarkan istana raja beberapa bulan yang lalu?"
"Betul," ucap Tam Pa-kun. "Nona In bernama tunggal San, dia..."
Ong Goan-tin tertawa tergelak-gelak, tukasnya: "Tak usah kau perkenalkan lagi aku
sudah tahu. Nona In adalah cucu tunggal In-conggoan In Jong, putri kesayangan In
Tayhiap In Hou, betul tidak? Gabungan sepasang pedang Tan-siauhiap dan In-lihiap
sudah terkenal di jagat ini."
In San menjura hormat, katanya: "Sugong-thocu, paman Tam adalah sahabat baik
ayahku, memandang muka ayahku, paman Tam dan Ong Cecu memuji belaka, mana
berani aku menerimanya. Untuk itu semoga kau tidak menjajal Kungfuku juga."
Dengan laku sopan lekas Tang-hay-liong-ong membalas hormat, katanya: "Ayahmu
dulu adalah orang yang kupuja, sayang tiada kesempatan bertemu. Dari keturunan
keluarga besar, bagaimana kepandaian Lihiap, tidak usah dijajal juga sudah cukup
kukagumi."
Sejak Thio Tan-hong mengasingkan diri ke Ciok-lim, In Hou adalah pendekar besar
yang paling tenar di kalangan Kangouw. Walau beliau sudah meningal beberapa tahun
lalu, kaum persilatan masih menaruh hormat kepadanya. Seperti apa yang dikatakan
Tang-hay-liong-ong, tanpa dia mendemontrasikan ilmu silatnya, hadirin sudah bersikap
lain terhadapnya
Tiba-tiba seseorang batuk-batuk ringan sambil berdiri, katanya: "Para tamu sudah hadir
lengkap, nah tiba saatnya kita membicarakan persoalan utama tadi."
Usia orang ini kira-kira empat . puluhan, mengenakan topi persegi, memelihara tiga
jenggot kambing, berpakaian seperti sastrawan. Tapi sepasang matanya besar kecil
siapa melihat tampangnya akan merasa sebal.
Tam Pa-kun kenal siapa orang ini, dalam hati dia berpikir: "Tiada angin orang ini suka
menimbulkan gelombang, dia ditampilkan untuk bicara di pihak Tang-hay-liong-ong,
pasti mengandung maksud yang tidak baik."
Orang ini she rangkap Cim ih bernama tunggal Thong. Selama hidup tidak punya
tempat tinggal tetap, hidupnya terlunta-lunta dan melanglang buana, hubungannya
teramat luas, entah golongan hitam atau aliran putih, kaum lurus atau gerombolan
sesat, asal dia seorang Bulim yang kenamaan, dia suka menjilat dan bermuka-muka.
Pandai omong bersilat lidah, juga mengadu biru senang memfitnah lagi. Tapi lantaran
hubungannya luas, pengetahuanpun mendalam, apa saja dapat dikerjakan, maka tidak
sedikit yang mau berhubungan dengan dia.
Setelah dia membuka kata, melihat Ong Goan-tin tidak menunjukkan sikap tertentu,
segera dia lanjutkan perkataannya: "Lui Tayhiap, Tam Tayhiap, mungkin kalian belum
tahu urusan apa yang hendak dirundingkan bukan?"
"Tahu sedikit, ingin aku mendengar penjelasan," kata Tam Pa-kun.
Cun-ih Thong berkata: "Baiklah akan kuulang dari permulaan, bagaimana?" matanya
yang besar kecil mengerling ke arah Ong Goan-tin.
Ong Goan-tin berkata tawar: "Cun-ih-heng, bermulut tajam dan pandai bersilat lidah,
boleh kau saja yang menjelaskan."
Cun-ih Tong menelan ludah lalu batuk-batuk menarik suara, katanya: Persoalan yang
dibicarakan hari ini bakal mendatangkan keuntungan besar bagi kaum persilatan di
Kanglam ini. Pertama Tang-hay-liong-ong ada maksud mengikat ikrar bersama Ong
Goan-tin Loenghiong Cong-cecu dari tiga puluh enam markas perairan di Thay-ouw
melawan tindakan sewenang wenang dari penguasa, sejauh melangkah diharapkan
pula sambutan baik seluruh warga persilatan di Kanglam ini untuk mendukung
perserikatan ini."
"Nanti dulu," seru Tam Pa-kun. "Kau bilang Sugong-thocu akan berdampingan dengan
Ong-cecu melawan tindakan sewenang-wenang, entah tindakan sewenang-wenang
apa?"
"Memangnya perlu dijelaskan lagi?" ujar Cun-ih Thong, "sudah tentu melawan tindakan
sewenang-wenang pasukan negeri yang memeras rakyat jelata. Aku tahu pihak
kerajaan telah mengirim armadanya ke Thay-ouw, dalam waktu dekat pasti akan
melancarkan serangan besar-besaran. Demikian pula Tang-hay-liong-ong memperoleh
tekanan pula di lautan teduh, di samping harus hati-hati menghadapi sergapan kaum
cebol (bangsa Jepang), susah untuk bercokol di lautan timur sana. Mengingat
kepentingan bersama, menurut hematku, apa salahnya kalau dua kekuatan digabung
menjadi satu, lalu pusatkan seluruh perhatian dan kekuatan untuk melawan pasukan
negeri, yakin akan membawa manfaat besar bagi kedua pihak..."
Belum habis Cun-ih Thong mengoceh mendadak seseorang berseru lantang: "Hancecu
dari Cau-ouw tiba"
Ong Goan-tin kenal baik orang yang datang terlambat ini, yaitu orang kedua dari Cauouw-
siang-kiat Han King-hong, tampak wajahnya berlepotan darah, pakaiannya
compang-camping, matanya mendelik gusar melangkah masuk setengah berlari.
Sudah tentu Ong Goan-tin kaget, teriaknya: "Han-lote, kenapa kau?"
Han King-hong berkata: "Dua kapal kita bentrok dengan armada kerajaan, Engkohku
dan para saudara sama luka-luka dan mati, Engkohku tertawan, hanya aku seorang
beruntung meloloskan diri, syukur masih sempat menghaturkan selamat ulang tahun
kepadamu."
Han King-kang engkoh Han King-hong memiliki Kungfu yang tinggi, sifatnya terbuka,
gagah perkasa dan terbuka tangan, supel lagi, namanya hanya di bawah Ong Goan-tin
di antara semua Pang dan Hwe atau markas perairan dibilangan Thay-ouw ini,
mendengar dia ditawan pasukan kerajaan, hadirin menjadi ribut dan marah.
Berlinang air mata Ong Goan-cin, katanya: "Gara-gara ulang tahunku sehingga banyak
kawan gugur di medan laga, apakah aku tidak malu menerima ucapan selamat kalian?
Biarlah perjamuan ulang tahun ini dibatalkan saja."
"Ong-cecu, jangan kau bilang demikian," seru Han King-hong lantang. "Pepatah bilang
adalah logis seorang panglima gugur di medan laga. Orang-orang yang punya kerja
seperti kita, siapa tidak siap menerima akibat apapun yang paling buruk. Umpama kami
tidak datang memberi selamat ulang tahunmu, pasukan kerajaan memang bermaksud
menindas kami. Sekarang yang terpenting kita harus segera bersiap, cara bagaimana
untuk menghadapi serbuan pasukan kerajaan. Kecuali itu, apa pula yang harus
disesalkan. Ong-cecu, tidak usah kau menyalahkan pihak sendiri. Hari ini adalah hari
ulang tahunmu, kita harus tetap merayakan secara meriah. Besok juga kita gempur
pasukan kerajaan."
"Bagus," seru Cun-ih Thong sambil angkat jempolnya tinggi-tinggi, "beralasan sekali
apa yang diucapkan Han-cecu, sekarang sudah terbukti bagaimana tindakan pasukan
kerajaan terhadap kita? Mungkinkah kita tidak bersaiu padu? Han-cecu kau tidak perlu
sedih, Tang-hay-liong-ong sudah punya rencana yang sempurna untuk menuntut balas
sakit hatimu yakin engkohmu juga pasti dapat dibebaskan."
Han King-hong terkejut, katanya: "O, jadi tuan inilah Tang-hay-liong-ong Sugong-thocu?
Selamat bertemu, selamat bertemu. Entah rencana apa?" mulutnya bicara hormat,
namun kelihatan sikapnya hambar. Seolah-olah mimpi juga dia tidak duga bahwa Tanghay-
liong-ong muncul disini, maka dia tidak begitu percaya.
"Sugong-thocu," ujar Cun-ih Thong, "soal rencana itu, lebih baik kau sendiri yang
menjelaskan,” sikapnya tampak dibuat-buat.
"Baiklah," ujar Tang-hay-liong-ong berdiri, "pepatah bilang, tentara datang kita lawan,
air bah melanda kita bendung. Pasukan kerajaan, berani menindas kita, memangnya
kita tidak berani balas menggempurnya?"
"Maksud Sugong-thocu, kita akan melawan secara terbuka?1' tanya Han King-hong.
"Betul. Sekarang adalah saat yang paling baik. Mumpung Ong-locecu mengadakan
perjamuan ulang tahun ini, orang-orang gagah dari seluruh pelosok hadir disini, bila kita
bisa berikrar minum darah sebagai janji setia dan perserikatan, bersatu padu melawan
kekerasan, jangan kata armada kerajaan, meski seluruh pasukan negeri dikerahkan
juga kita mampu menandinginya. Bukan mustahil kita masih bisa melakukan kerja
besar demi kepentingan kita bersama."
"Entah kerja besar apa yang bakal direncanakan Sugong-thocu?" tanya Tam Pa-kun,
"tentunya rencana sudah kau rangkai dengan baik, coba terangkan di hadapan umum?"
"Memang akan kurundingkan hal ini di hadapan hadirin," ujar Tang-hay-liong-ong, "bila
hadirin mau sumpah setia minum darah, sekalian kita akan bekerja tidak tanggungtanggung,
umpama seluruh orang-orang gagah yang hadir setuju, sebelumnya kita
harus memilih seorang Bu-lim-beng-cu untuk mengepalai gerakan kita"
"Soal besar dan luas sangkut pautnya, maaf bila aku tidak bisa segera memberi
jawaban," kata Ong Goan-tin.
"Waktu amat mendesak," Cun-ih Thong mengoceh pula, "harap Ong-locecu bisa
mengambil posisi dan lekas memberi putusan."
Ong Goan-tin berkata: "Usiaku genap enam puluh, usia tua tenaga kurang, untuk
memikul tugas berat, mungkin aku tidak becus lagi."
"Ong-locecu, kau terlalu rendah hati. Orang kuno pada usia tujuh puluh masih giat
dalam kepemimpinan, Ong Cecu baru enam puluh? Untuk cuci tangan menggantung
golok segala, bukankah terlalu pagi?"
"Ah, mana berani aku dibanding orang-orang kuno," tukas Ong Goan-tin kurang
senang.
"Jangan sungkan Ong Cecu," ucap Cun-ih Thong, "tapi, bila Ong Cecu tidak mau
mencalonkan diri, apa salahnya kita mencalonkan orang lain sebagai Bu-lim-bcng-cu,"
habis bicara pandangannya ditujukan kearah Tang-hay-liong-ong.
"Nanti dulu," kembali Tam Pa-kun tampil bicara.
"Tam Tayhiap ada usul apa?" tanya Cun-ih Thong.
"Pemilihan Bu-lim-beng-cu ditunda saja. Coba tanyakan dulu kepada hadirin, apakah
mereka setuju memberontak. Sugong-thocu, rencanamu itu lebih tepat bila kukatakan
sebagai pemberontak kepada kerajaan yang berkuasa. Betul tidak?"
Tang-hay-liong-ong terkial-kial, katanya: "Betul memangnya kami perompak,
memangnya perompak takut memberontak?"
Cun-ih Thong segera menimpali: "Betul, tujuh delapan puluh persen yang hadir disini
semua adalah kaum begal yang mendirikan pangkalan, peduli apa sebab kalian
bergerak dalam bidang ini, pendek kata siapapun harus mengaku sebagai kaum
perampok. Sugong-thocu memang pandai bicara. Kalau perampok takut memberontak,
bukankah menggelikan malah? Tapi Tam Tayhiap, kau jelas bukan perampok, bila kau
menjaga gengsi dan demi mempertahankan martabat, tidak sudi bergabung dalam
perserikatan kita, boleh terserah apa kehendakmu."
Maklum calon Bu-lim-beng-cu yang bisa sejajar menandangi Tang-hay-liong-ong yang
hadir sekarang hanya beberapa orang saja, Tam Pa-kun adalah salah satu di
antaranya. Tujuan perkataan Cun-ih Thong justru untuk melicinkan jalan Tang-hayliong-
ong, dengan menyerang Tam Pa-kun sehingga membuatnya marah dan ada
alasan untuk menyingkirkan dia dari sini.
"Cun-ih Siansing," jengek Tam Pa-kun. "terlampau jauh kau mengoceh. Urusan besar
yang sekarang dibicarakan adalah apakah pantas kita memberontak, apa tujuannya
dan bagaimana gerakannya. Soal kehadiranku disini, kemana aku berkiblat, kukira tidak
penting dan tidak perlu hadirin membicarakannya."
Cun-ih Thong tidak berani membantah dengan Tam Pa-kun, dengan sikap munafik
segera dia berkata menyeringai: "Baiklah. Mari kita dengarkan pendapat Tam Tayhiap
yang berharga," sehabis berkata dia maju kesana, duduk di samping Tang-hay-liongong.
Lantang suara Tam Pa-kun: "Rampok pun punya haluan dan tujuan, seperti Ong Cecu
umpamanya, dia tidak pernah mengambil harta yang tidak halal, malah melindungi
rakyat, jauh lebih baik dan sempurna dari pada pihak kerajaan membina rakyatnya.
Sepak terjangnya berbeda dengan kawanan rampok umumnya. Hadirin tidak sedikit
yang mendirikan pangkalan mengangkat diri sebagai kepala rampok, aku yakin
kebanyakan kalian pun termasuk golongan perampok seperti Ong Cecu. Demikian pula
Kim-to Cecu yang mendirikan pangkalannya diluar perbatasan. Meski dia melawan
pasukan negeri, tapi berapa kali dia menggagalkan pasukan bangsa asing menyerbu ke
negeri kita, sehingga kerajaan yang berkuasa sekarang tetap kokoh berdiri, gerakan
mereka hanya boleh dinamakan laskar gerilya, jadi bukan kawanan rampok lagi, betul
tidak?"
"Betul," hadirin banyak yang sepaham, "rampok harus punya tujuan dan haluan, tepat
sekali."
Tam Pa-kun meneruskan pidatonya: "Memberontak pun ada beberapa macam, dengan
kekuatan senjata merebut pasaran dagang, menjatuhkan raja membebaskan rakyat
dari tekanan pajak. Karena dipaksa keadaan sehingga angkat senjata demi
menunaikan darma baktinya kepada Thian yang berkuasa. Mendirikan pangkalan
angkat diri sendiri sebagai raja. Memperebutkan tanah perdikan, ingin merebut tahta
kerajaan, jadi ada empat macam pemberontakan. Sugong-thocu tolong tanya termasuk
macam mana yang kau rencanakan?"
Tang-hay-liong-ong mendengus jumawa, katanya: "Orang kuno bilang, menjadi raja
harus giliran, besok tiba giliranku. Kerajaan lalim pemerintahan rapuh, seluruh rakyat
wajib menentangnya, siapapun boleh saja menjadi raja, kenapa tidak boleh?"
"Bagus," sorak Cun-ih Thong, "omongan Sugong-thocu memang betul, bukan orang
she Cu saja yang ditakdirkan untuk jadi raja seterusnya. Bukankah Bing-thay-co Cu
Goan-ciang dahulu juga memberontak baru dia angkat diri menjadi raja?"
Lui Tin-gak tidak punya hubungan luas dengan kaum persilatan di Kanglam, sejak tadi
sungkan dia buka suara, tapi sekarang tidak tahan lagi, pelan-pelan dia berdiri dan
berkata: "Tapi Cu Goan-ciang memberontak terhadap kaum penjajah serta merebut
kembali tanah air kita sendiri."
Cun-in Thong mengelus jenggot kambingnya sambil mengerling ejek, katanya: "Tapi
raja Bing dynasti yang sekarang bukan lagi Cu Goan-ciang, Cu Goan-ciang berjasa
besar, memangnya anak cucu Cu Goan-ciang juga harus menjadi raja seterusnya?"
Lui Tin-gak tahu ambisi Tang-hay-liong-ong teramat besar, lapat-lapat terasa olehnya,
antara Tang-hay-liong-ong dengan Cun-ih Thong sudah ada kata sepakat didalam
permainan kotor, dengan main silat lidahnya yang manis, untuk menghasut hadirin
memberontak, yakin di belakang semua ini pasti ada suatu rencana jahat yang keji.
Tapi dia seorang lugu, tidak pandai bicara, sesaat dia jadi kelakep oleh debat Cun-ih
Thong, sesaat dia jadi mati kutu dan susah membantah perkataan Cun-ih Thong.
Maka hadirin mulai ribut pula, satu sama lain saling debat dan memberi usul. Seorang
dengan muka berlepotan darah dan keringat berteriak: "Pasukan negeri sudah
menekan kita sampai menemui jalan buntu, sanak famili kita ditawan, dijadikan
sandera, dibunuh lagi, sabar, sampai kapan kita harus bersabar dan terima nasib
sejelek ini, tapi kalian masih juga berunding soal memberontak dengan aneka
ragamnya? Aku ini orang kasar, tidak tahu aturan, aku hanya tahu angkat senjata dan
menuntut balas bagi kematian Toh Toako dari Tiau-ma-kian kita.
Siapapun yang sudi memimpin, bila disuruh kami menyerbu ke kota raja, meski
tubuhnya tercacah hancurpun aku akan berjuang di paling depan," pembicara ini adalah
seorang Cecu dari Tiau-ma-kian bernama Hou Pong, Toa Cecu atau saudara tuanya
bernama Toh Bo kemarin tertawan oleh pasukan negeri di perairan Thay-ouw.
Kontan Cun-ih Thong acungkan jempol, serunya: "Betul, itulah seorang gagah
perkasa."
"Ong Cecu," kata Tang-hay-liong-ong, "Toh Bo adalah tamu undanganmu, sekarang
Hou-hcng menuntut pembalasan sakit hati Toh-toako, sepantasnya kau angkat bicara
demi kepentingan orang banyak?"
Ong Goan-tin tampak amat sedih, katanya: "Membalas dendam aku tidak akan
menentang, tapi..."
"Tapi apa?" desak Cun-ih Thong.
"Aku tidak akan menentang siapapun menuntut balas, tapi cara bagaimana akan
menuntut balas, kurasa harus dirundingkan bersama."
Tang-hay-liong-ong memicing mata dengan lirikan tajam: "Cekak aos saja, kau setuju
tidak memberontak?"
Ong Goan-tin sudah merasa kurang benar akan perdebatan ini. namun dia sendiri
masih belum jelas tentang duduk persoalannya, pada hal Tang-hay-liong-ong dan Cunih
Thong yang jelas sekongkol ini justru memojokkan dirinya, terpaksa akhirnya dia
menghela napas, katanya: "Aku sih terserah kepada keputusan umum, bila hadirin
banyak yang setuju aku sih tidak banyak komentar."
Menuding Han King-hong, Cun-ih Thong berkata: "Bagus, lalu kau? Coba katakan,
bagaimana baiknya?"
Engkoh Han King-hong menjadi tawanan pasukan negeri, Cun-ih Thong kira dia akan
setuju secara spontan. Tapi Han King-hong justru kebingungan, sesaat baru dia buka
suara: "Aku tidak tahu. Aku hanya tunduk atas kepemimpinan Ong Cecu saja,"
maksudnya diapun terserah kepada keputusan umum.
Salah satu dari tiga puluh enam Cecu di Thay-ouw Ha It-seng berkata: "Walau kita ini
tidak pingin jadi raja, tapi bila kita mau bergabung menjadi satu, biar pihak kerajaan
tahu bahwa kita tidak boleh dipandang remeh. Marilah kita contoh perjuangan Kim-to
Cecu, dia berkuasa di daerah utara, Ong Cecu kenapa kau tidak berkuasa di selatan?"
Ong Goan-tin tertawa pahit, katanya: "Aku mana berani dibanding Kim-to Cecu?"
Ha It-seng berkata: "Kalau dia bisa kenapa kita tidak? Maka menurut pendapatku, apa
salahnya diantara kita ada seorang Bu-lim-beng-cu," sengaja dia menggunakan "kita"
jelas maksudnya bukan melulu orang-orang pihak Ong-cecu saja, secara tidak
langsung dia mau bilang bila Tang-hay-liong-ong mau menjadi Bu-lim-beng-cu, diapun
tidak menentang.
Hadirin ribut lagi, disana sini menggerombol kasak kusuk dan bisik-bisik, suasana
menjadi kacau. Mendadak Tan Ciok-sing berdiri, katanya lantang: "Hadirin diharap
tenang sejenak, aku ingin bicara," dia bicara sambil mengerahkan Lwekang ajaran Thio
Tan-hong, suaranya tidak keras namun suara keributan dalam pendopo itu kelelap oleh
kata-katanya, suaranya seperti gembreng ditabuh, yang berkepandaian rendah merasa
pendengarannya pekak.
Kaget juga hadirin akan pameran tenaga dalam yang hebat ini, suara ribut seketika
sirap. Hanya Cun-ih Tong saja yang terkecuali. Dia pikir hendak turun tangan lebih dulu
maka segera merebut bicara: "Belum lama ini Tan-siauhiap pernah membuat geger
kota raja bersama orang-orang gagah, bersama nona In masuk ke istana terlarang
menemui raja lagi, perbuatannya itu sudah layak diangggap memberontak, tentunya
kau setuju akan rencana pemberontakan Sugong-thocu betul tidak?" agaknya sengaja
dia mengumpak Tan Ciok-sing supaya dia rikuh dan tidak membantah serta menentang
rencana mereka.
Tak nyana Tan Ciok-sing tidak mempan diagulkan, apalagi dihasut, katanya tawar: "Aku
belum bicara dari mana kau tahu bahwa aku setuju memberontak?"
Untung Cun-ih Thong tebal kulit mukanya, meski meringis malu seperti kera makan
sambal tapi dia masih berani menebalkan muka membantah: "Aku pengagum Tansiauhiap
yang sudah membuat lembaran sejarah keperwiraan, maka ingin aku
mengikuti nadamu didalam perjuangan yang sama. Kalau Tan-siauhiap anggap aku
cerewet, baiklah, silakan Tan-siauhiap angkat bicara saja."
Melirikpun Tan Ciok-sing tidak sudi, katanya kalem: "Tidak benar, suaraku tidak senada
dengan ocehanmu. Pendek kata, aku tidak setuju dengan pemberontakan yang kalian
rencanakan."
Sudah tentu Tang-hay-liong-ong dan Cun-ih Thong merasa kecewa akan pernyataan
ini, tapi mereka sih tidak merasa diluar dugaan. Adalah orang-orang Ong Goan-tin
malah merasa bingung dan tidak habis mengerti.
Tan Ciok-sing berkata lebih lanjut: "Selama puluhan tahun, Kim-to Cecu bercokol diluar
perbatasan, entah berapa kali dia bekerja demi keselamatan negara memukul mundur
serbuan kaum penjajah, ini suatu kenyataan yang tidak boleh dipungkiri oleh siapapun.
Hadirin berusia lebih tua dari aku, apa yang kalian tahu tentu juga lebih banyak dai i
pengalaman dan pengetahuanku yang masih cetek ini."
"Memang berapa kali diapun pernah menggempur pasukan negeri, tapi mereka
terpaksa membela diri karena terdesak oleh keadaan, hal ini tidak boleh disejajarkan
dengan
perlawanannya terhadap serbuan bangsa Watsu."
"Kalian bilang mau menelad perbuatan Kim-to Cecu, maka yang harus kalian telad
adalah semboyan perjuangannya "Demi nusa dan bangsa, sebagai kaum pendekar
wajib kita memiliki jiwa ksatria."
Ha It-seng tampak agak malu, namun dia masih berusaha mendebat: "Tan-siauhiap,
teorimu memang betul. Tapi Watsu kan tidak memukul kita di Kanglam ini, mana bisa
kita melawan Watsu disini? Saat ini pasukan negeri yang menekan dan menindas kami,
kenapa tidak kami pukul dulu pasukan negeri."
"Betul," teriak Hou Pong, "menurut pandapatku, Watsu patut dilawan, tapi raja lalim
itupun harus dijatuhkan."
Tan Ciok-sing bertanya: "Dua tinju memukul sekaligus lebih kuat atau pukulan satu tinju
lebih kuat."
"Sudah tentu pukulan dua tinju sekaligus lebih kuat," sahut Hou Pong.
"Tapi bila satu tinju sekaligus harus menghadapi dua musuh lalu bagaimana?"
"Tan-siauhiap, memangnya kau kira aku ini anak kecil? Siapapun tahu, kalau berkelahi
dengan cara demikian, dia pasti kalah total."
"Maka itu. Kalau Hou Cecu maklum akan hal ini, seharusnya kaupun mengerti kenapa
kami tidak menyerukan kalian untuk menjatuhkan raja lalim sekarang ini."
"Setiap urusan ada perbedaan, yang penting dan yang perlu ditunda, kini pihak Watsu
sedang kerahkan pasukan besarnya, mereka sudah siap menyerbu ke negara kita,
maka kita perlu siap-siap melawan serbuan mereka. Bila kita bisa merangkul pihak
kerajaan berjuang bersama membendung serbuan dari luar, itulah cara yang paling
baik, betul tidak?"
Ternyata Hou Pong masih belum kapok, bantahnya: "Tapi pasukan negeri menindas
kita, memangnya kita berpeluk tangan membiarkan mereka bertingkah?"
"Sudah tentu harus dihadapi. Tapi yang terpenting sekarang harus bersatu padu
melawan penjajah. Persoalan kalian itu masih bisa dibereskan secara damai melalui
cara tersendiri. Asal kita angkat senjata bersama, seluruh kekuatan laskar rakyat
mampu membendung serbuan musuh dan menjadikan tonggak negara, yakin pasukan
negeri tidak akan berani meremehkan kekuatan kita."
Reda juga emosi Hou Pong, katanya: "Tapi masih ada satu hal aku tidak mengerti,
tolong Tan-siauhiap memberi'petunjuk."
"Mana berani aku memberi petunjuk dengan bekal pengetahuanku yang cetek ini.
Untunglah aku sendiri pernah memperoleh petunjuk langsung dari utusan Kim-to Cecu,
persoalan apa yang Hou-heng belum jelas, coba katakan, mungkin persoalanmu itu
sudah pernah dipikirkan oleh Kim-to Cecu, boleh nanti umumkan pernyataannya."
"Terus terang, aku sudah tidak percaya pada raja lalim. Kau kira apakah dia mau
berjuang berdampingan bersama kita melawan musuh?"
"Pertanyaanmu memang bagus, bicara terus terang, aku sendiri juga tidak percaya, bila
raja yang sekarang berkuasa punya niat baik untuk berjuang bersama kita."
Hou Pong kebingungan, katanya: "Kalau Tan-siauhiap sendiri tidak percaya pada raja
lalim, kenapa pula kau anjurkan kita bergandeng tangan sama dia melawan penjajah?"
"Bagi seorang raja apa yang paling penting bagi kedudukannya? Yaitu
mempertahankan tahta"
kerajaannya, dijunjung oleh seluruh rakyat. Bila dia tunduk dan minta damai kepada
Watsu, tidak lain juga demi mempertahankan kedudukan dan tahtanya belaka, betul
tidak?"
Hou Pong manggut-manggut, "betul," sahutnya.
"Kenapa tidak kita beritahu kepadanya, bila dia tidak mau bergabung dengan kita
melawan penjajah, kita akan gerakkan perlawanan di berbagai tempat, mengundang
orang-orang gagah di seluruh jagat ini untuk menentang dia dan memukul mundur
penjajah. Kalau hal ini sampai terjadi, siapa yang bakal dijunjung dan didukung oleh
rakyat?"
"Sekarang aku mulai mengerti," kata Hou Pong. "Benar, karena itu raja kehilangan
kepercayaan dari rakyat, itu berarti tahta kerajaannyapun mulai goyah."
"Bila dia mau bergabung dengan kita melawan penjajah, kita akan tetap mendukungnya
jadi raja, yakin dia cukup pintar memilih arah angin, demi kepentingan pribadi pula,
coba katakan, beranikah dia menentang kehendak kita?"
Kini lenyap keraguan Hou Pong, katanya: "Tan-siauhiap penjelasanmu memang
menyeluruh, sekarang aku sudah paham betul."
"Bukan pengetahuanku mendalam, aku hanya menyambung lidah Kim-to Cecu saja."
Hou Pong bertanya: "Tujuanmu masuk ke istana terlarang menemui raja adalah untuk
menyampaikan rencana kita dan memaksanya setuju bukan?"
"Betul. Aku sudah bertemu dengan baginda, memang sesuai dugaan Kim-to Cecu,
terpaksa dia setuju rencana kita," dengan secara ringkas Tan Ciok-sing lalu ceritakan
kejadian kala dia menyelundup ke istana menemui Baginda, sudah tentu hal-hal yang
perlu dirahasiakan tidak dia beberkan di depan umum. Waktu mendengar Tan Ciok-sing
meninggalkan peringatan berdarah yang berbunyi:
"Ingkar janji membuang kebenaran, Thian tidak akan mengampunimu "
Hadirin sama tepuk tangan dan berseru memuji.
Pelan-pelan Ong Goan-tin berdiri, katanya sambil menjelaskan kepada Tan Ciok-sing:
"Tam siauhiap, terima kasih atas uraianmu yang penuh arti itu sehingga terbuka
pikiranku.
Tersipu-sipu Tan Ciok-sing balas menghormat, katanya: "Locecu terlalu memuji, aku
hanya menyampaikan keinginan Kim-to Cecu saja."
Ha It-teng angkat bicara lagi: "Soal memberontak baiklah ditunda dulu. Tapi Sugongthocu
adalah orang gagah jaman ini, dia mau bergabung dengan kita, sepantasnya kita
terima uluran tangannya," beberapa Cecu segera mendukung suaranya, tapi tidak
sedikit pula suara yang menentang, walau secara gamblang mereka tidak mengusir
Tang-hay-liong-ong tapi jelas banyak yang tidak setuju bergabung sama dia.
Perdebatan kembali terulang, yang terang hadirin terpecah menjadi dua, keributan
semakin memuncak.
Tiba-tiba Cun-ih Thong berkata dingin: "Bukan aku mencurigai Tan-siauhiap, kalau Tansiauhiap
selalu bilang hanya menyampaikan suara Kim-to Cecu hanya Tan-siauhiap
saja yang meneruskan pesan utusan Kim-to Cecu, kita kan tiada yang tahu akan
kebenarannya. Apakah Tan-siauhiap punya bukti supaya kita percaya babwa
pernyataanmu tadi betul adalah suara Kim-to Cecu?"
Pertanyaan yang tidak terduga ini, memang membuat Tan Ciok-sing serba salah.
Untunglah di kala Tan Ciok-sing kebingungan, mendadak Kek Lam-wi berdiri,
katanya: "Aku punya bukti," lalu dia keluarkan serulingnya, sekali tekan ujung seruling
lalu ditiupnya, sebutir bola malam menggelinding keluar, bila bola malam itu dipecah di
dalamnya terdapat lempitan kertas tipis yang banyak tulisan kecil-kecil, langsung dia
serahkan lempitan kertas itu kepada Ong Goan-tin.
"Inilah surat dari Lim-toako yang titip kepadaku supaya disampaikan kepada Ong Cecu,
kehadiranku disini mewakili Pat-sian, dalam suratnya juga diterangkan perihal Tan
Ciok-sing mewakili Kim-to Cecu, silahkan Ong Cecu baca, persoalannya akan jadi
terang," demikian ujar Kek Lam-wi.
Seperti diketahui Kek Lam-wi terlambat dua hari setelah Tan Ciok-sing dan In San
berangkat. Lim Ih-su sebagai tertua dari Pat-sian orangnya tabah, pikiran matang dan
bekerja amat teliti, setiap urusan selalu dia rencanakan dengan baik, mengingat urusan
cukup penting, maka dia sendiri menulis sepucuk surat sebagai tanda bukti. Maka dia
tulis surat rahasia ini, menerangkan bahwa Pat-sian menyetujui usul Kim-to Cecu,
sekaligus membuktikan bahwa Tan Ciok-sing hadir sebagai wakil Kim-to Cecu."
Gaya tulisan Lim Ih-su banyak dikenal hadirin, setelah membaca surat itu, tiada yang
curiga pula akan kehadiran Tan Ciok-sing.
Ong Goan-tin berkata: "Tan-siauhiap telah menyampaikan pesan Kim-to Cecu, bahwa
hadirin tiada yang curiga dan membantah, apakah kalian masih ada yang merasa
kurang setuju akan maksud Kim-to Cecu?"
Han King-hong menyeletuk lebih dulu: "Kim-to Cecu adalah orang yang amat kukagumi,
dia bilang bagaimana, akupun begitu."
Hou Pong ikut menimbrung: "Semula aku tidak setuju, tapi setelah mendengar
penjelasan Tan-siauhiap yang tidak bosan-bosan tadi, menilai untung ruginya, aku jadi
tahu diri bahwa aku hanyalah gentong nasi saja. Apalagi sekarang bukan saatnya kita
memberontak, kalau itu sudah menjadi kehendak Kim-to Cecu apapula yang harus
kukatakan," hadirin menjadi tertawa riuh mendengar banyolannya.
Maka hadirin serempak menyatakan sikapnya menjunjung Ong Goan-tin, walau
rombongan yang datang bersama Tang-hay-liong-ong tiada yang mau terima kalah, tapi
mereka tak berani menentang kehendak umum, terpaksa sementara tinggal diam.
Ong Goan-tin berseru lantang: "Bahwa hadirin tiada yang menentang pula, maka
perundingan hari ini anggap selesai sampai disini. Terima kasih akan kehadiran para
sahabat dalam pesta ulang tahunku ini, kini sebagai tuan rumah, kusuguh hadirin
secangkir arak, mari kita habiskan satu cangkir ini."
"Tunggu sebentar," tiba-tiba Cun-ih Thong berseru sambil berdiri.
"Entah Cun-ih Siansing ada petunjuk apa?"
"Kedatangan kita memang khusus hendak memberi selamat ulang tahun kepada
Locecu, perjamuan ini jelas tidak boleh terganggu. Tapi mumpung ada pertemuan
sebesar ini, maka persoalan yang belum diselesaikan tadi kurasa perlu dibicarakan
sekalian."
Berkerut alis Ong Goan-tin, katanya: "Masih ada urusan besar apa yang belum
diselesaikan?"
Kalem suara Cun-ih Thong: "Kim-to Cecu ingin supaya sekarang kita tidak usah bentrok
dengan pasukan negeri, hal ini sebetulnya kurang kusetujui tapi setelah hadirin banyak
yang mendukungnya, akupun tunduk saja akan putusan umum."
Hou Pong orangnya kasar dan suka blak-blakan, segera dia menukas dengan
sentakan: "Mau bicara lekas berkata, kalau mau kentut lekas lepaskan."
Untung muka Cun-ih Thong tebal, dia anggap tidak mendengar, katanya lebih lanjut:
“Tam Tayhiap, Lui Tayhiap pernah bilang kita harus bersatu padu menjadi satu
kekuatan besar, betul tidak?"
"Benar," timbrung Tan Ciok-sing. "Tapi bersatu demi kepentingan umum, kalau tidak
mana bisa membendung serbuan musuh."
"Membendung serbuan musuh sudah menjadikan ikrar kita bersama, hal itu tak perlu
diperbincangkan lagi, pendek kata, apapun kita harus bersatu, betul tidak?" ini soal
prinsip, meski Ciok-sing merasa mual menghadapi manusia tengik ini, terpaksa dia
mengangguk.
"Dua orang satu hati, tekadnya dapat memutus emas. Bila ribuan orang bersatu padu,
kekuatannya dapat membendung laut. Maka aku mengajukan usul, kita harus memilih
seorang Bu-lim-beng-cu sebagai pemimpin kita," sambutan anak buah Tang-hay-liongong
amat meriah, tidak sedikit pula anak buah Ong Goan-tin memberi aplus.
Salah satu Cecu dari tiga puluh enam Cecu di Thay-ouw bernama Su Kian berdiri,
katanya: "Usul Cun-ih Siansing memang masuk akal, kapan ada kesempatan para
orang-orang gagah sebanyak ini kumpul disini, memang tepat saatnya kita memilih
seorang Bu-lim-beng-cu."
Ha It-seng menimbrung: "Benar, di bawah pimpinan Bu-lim-beng-cu, selanjutnya
langkah kita seirama, peduli melawan penjajah atau menentang tindasan pasukan
negeri, urusan akan lebih mudah dibereskan,"—kebanyakan hadirin sama setuju
adanya seorang Bu-lim-beng-cu, meski ada beberapa orang merasa kemungkinan hal
ini adalah muslihat Tang-hay-liong-ong, tapi keadaan sudah terlanjur sejauh ini, maka
merekapun tidak menentang.
Cun-ih Thong berkata lantang: "Kalau hadirin tiada usul lainnya, baiklah sekarang kita
mulai pemilihan. Aku memberanikan diri, mencalonkan seorang Enghiong besar yang
namanya sudah tersohor di kawasan ini, yakin hadirin akan setuju memilihnya sebagai
Bu-lim-beng-cu."
Hadirin kira calon yang diusulkan adalah Tang-hay-liong-ong Sugong Go, tak kira dia
ternyata bilang: "Bu-lim-beng-cu pilihanku bukan lain adalah tuan rumah disini, Ong
Goan-tin Ong Locecu, Cong-cecu dari tiga puluh enam Cecu di Thay-ouw ini."
Pernyataan diluar dugaan, membuat hadirin melongo, akhirnya pecah sorak sorai
gegap gempita disertai tepuk tangan riuh.
Cun-ih Thong berpidato lebih lanjut: "Ong-locecu memiliki Kungfu tinggi, hal ini tidak
perlu kujelaskan. Apalagi sebagai Cong-cecu dari tiga puluh enam Cecu yang lain,
boleh dikata dia menguasai keadaan, memperoleh dukungan banyak orang lagi.
Bijaksana dalam kepemimpinan, tidaklah berkelebihan bila Bu-lim-beng-cu harus
dijabatnya."
Kedengarannya omongan Cun-ih Thong mengagulkan dan menyanjung Ong Goan-tin,
tapi bila mau ditelusuri secara cermat, dibalik pidatonya ini mengandung arti lain. Yaitu
lantaran adanya jabatan yang diduduki Ong Goan-tin sekarang barulah dia mendukung
pencalonannya, seperti pepatah mengatakan, sekuat-kuatnya naga juga tidak lebih
menang dari ular tunggon.
Segera Ong Goan-tin angkat bicara: "Tadi sudah kukatakan, setelah merayakan hari
ulang tahunku ke enam puluh ini, aku sudah berkeputusan hendak cuci tangan
menggantung golok. Jangan kata aku tidak berani menerima sanjung puji Cun-ih
Siansing, umpama topi kebesaran itu kukenakan juga aku tidak mampu menjadi Bu-limbeng-
cu segala."
Memang tujuan Cun-ih Thong memancing jawabannya ini segera dia mengoceh pula.
"Bahwa Ong-locecu menampik pencalonan dirinya, akupun tidak akan memaksa. Tapi
kawanan naga tidak boleh tanpa pimpinan, baiklah aku usulkan Sugong-thocu menjadi
Beng-cu kita."
Su Kian segera memberi suara: "Betul, Tang-hay-liong-ong bermaharaja di lautan teduh
menggetarkan dunia, ilmu silatnya juga tangguh, kira-kira sepadan untuk berjajar
dengan Kim-to Cecu. Usianya mumpung kekar kuat pula, hanya dia mungkin yang
dapat memimpin kita melakukan usaha besar yang menggemparkan. Bila Ong-locecu
benar-benar mengundurkan diri, pilihan yakin hanya akan terjatuh di tangannya."
--Su Kian adalah salah satu Cecu dari tiga puluh enam Cecu bawahan Ong Goan-tin
yang punya kedudukan baik dan disegani, bahwa dia mendahului rekan-rekannya
mendukung pencalonan Tang-hay-liong-ong, hal ini benar-benar diluar dugaan banyak
orang.
Mendapat dukungan Su Kian sudah tentu rombongan Tang-hay-liong-ong semakin
bangga, senang setengah mati, sontak mereka tempik sorak dengan ramai, ternyata
orang-orang Ong Goan-tin ada juga yang memberi aplus ala kadarnya.
Ih Ti-bin Cecu Tong-thing-san timur adalah tangan kanan Ong Goan-tin yang
terpercaya, dia melirik kearah Su Kian, pikirnya "Keparat ini bersama Ha It-seng entah
kenapa beberapa kali memberi suara kepada Tang hay liong-ong memihak orang luar,
agaknya mereka sudah kena sogok dan dihasut untuk menentang kebijaksanaan Congcecu.
Namun memilih Bengcu sudah menjadi kata sepakat para hadirin, meski Ih Ti-bin
merasa kurang senang terhadap sikap Su dan Ha malah menaruh curiga pula, namun
dia merasa kurang tepat dan belum saatnya untuk membongkar kesalahan Su Kian.
Sebetulnya ingin dia menentang pencalonon Tang-hay-liong-ong, tapi sukar dia
memperoleh alasan tepat. Di kala dia peras keringat mencari calon, dilihatnya Tanghay-
liong-ong sudah berdiri.
Dengan senyum lebar dan senang Tang-hay-liong-ong berkata: "Terima kasih akan
dukungan kalian, cuma aku baru pulang dari luar lautan betapapun tak berani
menerima jabatan berat ini. Kalau Ong-locecu tetap menolak pencalonan ini baiklah aku
mencalonkan It-cu-king-thian Lui Tayhiap saja."
Lekas Ih Thi-bin menyeletuk: "Betul, Lui Tayhiap berbudi luhur dan memperoleh
simpatik banyak orang, ketenaran namanya sudah menggetar utara dan selatan sungai
besar. Pada pertemuan di Lian-hoa-hong tahun yang lalu tiada orang-orang gagah yang
hadir pada waktu itu yang tidak memuji-muji dan mengaguminya. Aku dukung Lui
Tayhiap menjadi Bengcu kita."
Ha It-seng tiba-tiba berdiri, serunya: "Akupun mengagumi Lui Tayhiap, tapi dia tidak
sebanding Sugong-thocu dengan
rombongannya, hubungannyapun tidak intim dengan para saudara didalam Pang atau
Hwe yang ada di Kanglam ini. Menurut pendapatku biarlah Lui Tayhiap menjadi wakil
Bengcu saja."
Seorang lagi lebih tegas lagi, dia bukan lain pembantu Tang-hay-liong-ong yang
berjuluk Tay-lik-sin Lamkiong King, setelah mendengus dia berkata dingin: "Berapa sih
bobot nama besar Lui Tin-gak, bila dibanding dengan Sugong-thocu kami, kurasa jauh
ketinggalan."
"Jangan kurang ajar terhadap Lui Tayhiap," sentak Tang-hay-liong-ong, lahirnya dia
memaki pembantunya, tapi orang banyak maklum bahwa sikapnya ini hanya pura-pura
belaka.
"Lamkiong King," seru Ih Ti-bin gusar, "berani kau meremehkan pimpinan Bulim kami,
memangnya apa sih yang kau andalkan?"
Serak kasar suara Lamkiong King, dampratnya: "Ih Ti-bin kalau tidak terima, nanti bila
ada kesempatan, ingin kujajal kau."
"Jajal boleh saja, kapan saja aku bersedia, memangnya aku takut?"
Ong Goan-tin mengerutkan kening, katanya: "Jangan ribut dulu, marilah bicarakan
urusan itu."
"Tidak karuan, tidak karuan," seru Hou Pong, meski tidak langsung dia sebut nama
orang yang tidak karuan, tapi hadirin tahu kata-katanya ditujukan kepada Lamkiong
King.
Lui Tin-gak segera berdiri, katanya goyang tangan: "Apa yang dikatakan Hu-cecu
memang tidak salah, seorang tamu mana boleh mendahului tuan rumah, baru kali ini
aku datang ke Kanglam, tidak kenal orang tidak hapal jalan, entah jadi Bengcu atau
wakil Bengcu, terus terang aku tidak berani terima."
Tang-hay-liong-ong pura-pura menghela napas, katanya: "Ai, Ong-locecu tidak mau
terima, Lui Tayhiap juga menampik, yah, apa boleh buat, terpaksa biarlah aku
menerima pencalonan ini."
"Nanti dulu," tiba-tiba Ih Ti-bin berteriak lantang.
"Ada petunjuk apa lh-cecu?" tanya Tang-hay-liong-ong kalem.
"Saatnya belum tiba terpaksa menerima pencalonan. Aku mencalonkan Kim-to-thiciang
Tam Tayhiap menjadi Bengcu kita, harap hadirin memutuskan."
"Betul," seru Ong Goan-tin, "bukan aku menentang pencalonan Sugong-thocu, tapi Tam
Tayhiap adalah teman baik Kim-to Cecu, bila dia sudi menjabat Bu-lim-beng-cu dari
Kanglam utara dan selatan terjalin satu ikatan kerja sama, hasilnya tentu jauh lebih baik
dari yang kita harapkan."
Pelan-pelan Cun-ih Thong berdiri sambil mengelus jenggot, katanya: "Benar, sudah
tentu, akupun amat mengagumi Tam Tayhiap. Justru lantaran dia teman baik Kim-to
Cecu, bila dia yang jadi Kanglam Bu-lim-beng-cu, diluar mungkin orang bisa iseng
bicara kaum persilatan di Kanglam ini dianggap sebagai anak buah dan tunduk perintah
Kim-to Cecu melulu. Memang Kim-to Cecu adalah tokoh yang diagulkan banyak orang,
bila ada kata-kata iseng yang memanaskan kuping, lalu mau ditaruh dimana muka kita
ini."
Tam Pa-kun tertawa ngakak, katanya: "Sebetulnya aku tidak ingin menjadi Bu-lim-bengcu
segala, memang beralasan juga bahwa Cun-ih Siansing menguatirkan pencalonan
diriku. Tapi aku jadi ingin mencalonkan seorang pendekar muda untuk menjadi Bu-limbeng-
cu di Kanglam ini."
Sebetulnya Cun-ih Thong sudah menduga, namun sengaja dia bertanya: "Siapakah
pendekar muda yang kau calonkan?"
"Tan Ciok-sing Tan-siauhiap," seru Tam Pa-kun kalem; "Dia adalah murid maha guru
silat Ihio Tan-hong Thio Tayhiap, tunas muda yang punya harapan nomor satu di antara
generasi mendatang. Bulan yang lalu bersama In Lihiap mereka membuat geger di
istana terlarang, menundukkan dan menjumpai Baginda Raja, tiada orang gagah di
dunia ini yang tidak mengacungkan jempol untuknya. Jabatan Bu-lim-beng-cu kukira
tepat sekali bila diserahkan kepadanya."
Tan Ciok-sing amat kaget, serunya: "Tam Tayhiap jangan kau berkelakar dengan aku.
Siautit masih muda dan cetek pengalaman, jabatan Bengcu teramat berat untuk dipikul,
mana aku mampu mendudukinya?"
"Ada cita-cita tidak diukur dari usia," seru Hou Pong lantang, "Tiada akal sia-sia hidup
seratus tahun. Tan-siauhiap punya akal ada cita-cita luhur, dari peristiwa geger di istana
raja itu sudah merupakan bukti nyata. Uraian yang panjang lebar tadi merupakan bukti
pula akan pengetahuan dan kecerdikan otaknya. Bila dia yang menjadi Bu-lim-beng-cu
aku orang she Hou pertama yang mendukungnya."
Tan Ciok-sing goyang tangan, katanya: "Hou-cecu, jangan menempel emas di mukaku,
betapapun, Bu-lim-beng-cu aku tidak berani menerimanya."
"Kenapa tidak berani terima?" seru Hou Pong sengit, "menurut pendapatku, kau jadi
Bengcu dan
In Lihiap menjadi wakil Bengcu, begitu lebih baik."
In San tertawa, katanya: "Hou-cecu, kau memang suka berkelakar, jangan kau
menyeret aku."
"Aku tidak berkelakar, gabungan sepasang pedang kalian sudah terkenal di kolong
langit, sepantasnya kalian menduduki jabatan yang sejajar."
Merah muka ln San, dia tidak berkomentar lagi.
Ong Goan-tin berkata: "Ucapan Tam Tayhiap memang betul, jabatan Bu-lim-beng-cu
adalah pantas kalau diserahkan kepada angkatan muda. lan-siauhiap, kau adalah
pendekar muda, gagah perwira yang dipuji orang banyak..."
"Ong-cecu," teriak Lamkiong King kurang senang, "kau kan belum tanya aku,
memangnya kau tahu bila aku mengaguminya?"
Ong Goan-tin tersenyum, katanya: "Sugong-thocu sendiri tadi bilang amat
mengaguminya, hadirin metyfldi saksi. Kau sendiri juga sudah menyatakan tunduk akan
kehendak pemimpinmu, betul tidak? Oleh karena itu, maaf bila aku kelu u udak tanya
dulu kepada kau, aku sudah anggap kaupun mengaguminya."
Lamkiong King tidak menduga bakal didebat sekonyol itu, karuan mulutnya kelakep.
Tapi Cun-ih Thong yang pandai silat lidah segera membantah: "Tan-siauhiap adalah
jagoan top dari generasi muda, hal ini sudah diakui oleh umum. Tapi Tan-siauhiap
sendiri bilang, untuk menjadi Bu-lim-beng-cu, usianya masih terlalu muda. Maka untuk
menjadi Bu-lim-beng-cu harus dicalonkan seorang yang sudah ternama, punya
pengalaman luas, disegani dan menggetarkan dunia. Apa yang dikatakan Sugongthocu
tadi tidak lain hanyalah pujian dan dorongan semangat bagi angkatan muda,
bukan berarti bahwa dia pasti boleh menjadi Bu-lim-beng-cu."
Kek Lam-wi berdiri, katanya perlahan: "Cun-ih Siansing, agaknya ada satu hal tidak kau
utarakan."
"O, soal apa yang tidak kuutarakan, harap Kek-jithiap mengoreksi."
"Demi nusa dan bangsa, pendekar berjiwa besar diutamakan. Seorang yang menjadi
Bu-lim-beng-cu, kecuali harus berilmu silat tinggi, pengetahuan dan pergaulannya harus
luas, kecuali harus pula menggetar dunia, yang penting adalah jiwa kependekarannya.
Bila dia sudah memiliki bekal 'pendekar', soal syarat-syarat lain meski masih kurang
sedikit juga kurasa tidak jadi soal."
Kontan Hou Pong bersorak sambil keplok, teriaknya keras:
"Betul, yang diutamakan adalah jiwa pendekar. Walau Tan-siauhiap masih muda,
namun dia cukup setimpal menjadi seorang pendekar. Aku dukung dia menjadi Bu-limbeng-
cu."
Lamkiong King marah-marah, serunya: "Memangnya kau kira Thocu kita tidak setimpal
sebagai pendekar?"
"Kapan aku bilang demikian," semprot Hou Pong, "tapi tidak banyak yang kuketahui
tentang Thocu kalian, bagaimana dia mendarma baktikan diri kepada kepentingan
umum aku tidak tahu."
Lekas Cun-ih Thong menengahi, katanya: "Harap jangan ribut dulu, dengarkan dulu
penjelasanku."
"Oho, kau punya penjelasan apa?" jengek Hou Pong.
Cun-ih Thong mengalah untuk maju, katanya pertahan: "Hou-cecu, agaknya kau
merasa benci kepadaku. Bila kau tidak memberi kesempatan aku bicara, baiklah aku
tidak usah banyak mulut."
"Kalau orang tidak boleh bicara, memangnya itu yang dinamakan adil?" teriak Lamkiong
King.
Hou Pong membantah: "Kapan aku melarang dia bicara, tapi aku tidak percaya
obrolannya kau pun tidak berhak memaksa aku percaya Sudah Cun-ih Thong, kau mau
omong apa boleh silahkan, mau kentut juga lekas keluarkan "
Sudah menjadi kebiasaannya setiap habis berkata mengutarakan pendapatnya Hou
Pong pasti mengolok-olok lawannya, karuan Cun-ih Thong jengkel dan naik pitam,
mukanya sampai menguning.
"Cun-ih Siansing," kata Lamkiong King, "jangan kau hiraukan salakan anjing itu,
katakan saja pendapatmu."
Hou Pong sudah berjingkrak berdiri hendak melabrak Lamkiong King, untung Han Kinghong
menekannya dan membujuknya perlahan: "Demi kepentingan umum sementara
tidak usah ribut mulut."
Cun-ih Thong memang bermuka tebal, setelah reda amarahnya seperti tidak terjadi
apa-apa dia berkata: "Apa yang dikatakan Kek-jithiap memang benar, untuk menjadi
seorang Bu-lim-beng-cu, punya jiwa pendekar memang amat penting, tapi apa itu
pendekar dan bagaimana serta apa syaratnya seorang dinamakan pendekar, masingmasing
orang yakin punya pendapat yang berbeda. Apalagi tidak sedikit orang yang
telah melakukan kerja besar tapi tidak mau disiarkan, sehingga jarang orang tahu, itu
sering terjadi. Pendek kata kalau hanya berdasar seorang yang punya jiwa pendekar
baru boleh dipilih jadi Bu-lim-beng-cu kurasa juga belum tepat, itu akan gampang
menimbulkan perdebatan pula. Oleh karena itu, kurasa lebih baik kita gunakan cara
umum yang sering berlaku di kalangan Kangouw saja."
"Betul, yang kuat menang, si lemah kalah," teriak Lamkiong King. "Siapa saja yang
menentang Sugong-thocu menjadi Bengcu kita, boleh silakan keluar melawannya."
Orang-orang pihak Tang-hay-liong-ong kembali bertempik sorak menyambut
pertanyaan Lamkiong King. Sebaliknya orang-orang di pihak Ong Goan-tin saling
pandang dengan melongo, sesaat mereka kclakep tak tahu bagaimana mengatasi
situasi yang mendesak ini.
Akhirnya Ong Goan-tin angkat bicara, "Kalau hadirin menganggap syarat seorang
pendekar susah ditentukan, memilih Beng-cu melalui pertandingan juga salah satu cara
yang sering berlaku. Tapi, kusarankan lebih baik cukup saling tutul dan jamah saja,
jangan sampai ada pihak yang luka parah atau mati."
Ong Goan-tin memang cukup pengalamanan dan pandai melihat gelagat, perkataannya
cukup dipertimbangkan sebelumnya. Maklum meski selama setahun ke belakang ini
Tan Ciok-sing sudah menjulang namanya, tapi bila dibanding Tang-hay-liong-ong
betapapun masih terpaut cukup jauh. Bila pemilihan diambil suara, jelas yang
mendukung Tang-hay-liong-ong masih lebih banyak. Kaum persilatan yang tidak
diundang banyak yang hadir disini, bukan mustahil mereka adalah komplotan Tanghay-
liong. Meski sukar mencapai kemenangan didalam pertandingan, betapapun
mereka masih harus bertaruh dan membuktikan kemampuan masing-masing.
Pada hal orang-orang pihak Tang-hay-liong-ong juga kuatir bila pemimpin mereka tidak
terpilih, kalau bertanding mereka yakin pihaknya pasti menang, mendengar pernyataan
Ong Goan-tin setuju menempuh cara ini, kontan mereka berjingkrak dan bersorak:
"Betul bertanding menentukan Bengcu memang tepat. Siapa yang menentang Sugongthocu
jadi Bengcu silakan keluar, akulah yang akan menghadapinya lebih dulu."
Menurut peraturan pertandingan dalam permilihan Bengcu, seseorang yang
mendukung orang lain menjadi Bengcu, dia punya hak untuk bertanding melawan
pendukung pihak lawan.
Tan Ciok-sing berkata: "Usiaku masih muda, tidak becus lagi, sebetulnya aku tidak
berani menjadi Bu-lim-beng-cu..."
Sebelum orang habis bicara Ong Goan-tin sudah menekannya duduk, katanya
perlahan: "Jikalau kau menolak, bukankah berarti menyerahkan kedudukan penting itu
kepada Tang-hay-liong-ong begitu saja? Apa kau rela dia menjadi Bu-lim-beng-cu?"
Terpaksa Tan Ciok-sing diam saja tidak banyak komentar lagi.
Siapapun tahu Kungfu Tang-hay-liong-ong merupakan yang paling top di antara hadirin,
berulang kali Lamkiong King mendesak dan menantang orang-orang yang tidak setuju
Tang-hay-liong-ong jadi bengcu keluar untuk bertanding, siapa berani menampilkan
diri?
Hening sejenak, melihat tiada orang keluar Hou Pong tidak tahan lagi, segera dia berlari
keluar, teriaknya: "Sugong-thocu aku tahu ilmu silatmu tinggi, tapi aku tetap tidak tahu
diri, mohon kau memberi petunjuk beberapa jurus," meski tahu dirinya bakal kalah, tapi
dia tetap tampil menantang perang, maksudnya tidak lain bahwa ada juga orang yang
menentang dan tidak tunduk kepada Tang-hay-liong-ong.
Tang-hay-liong-ong mendongak, pandangannya ke atas langit-langit, sikapnya jumawa
seperti tidak mendengar teriakan Hou Pong, melirikpun tidak. Lamkiong King tertawa
tergelak-gelak, katanya: "Hou-cecu, hari ini kau sudah banyak bicara hanya katakatamu
terakhir kali tadi yang kurasa benar, kau memang tidak tahu diri, memangnya
kau setimpal bergebrak dengan Thocu kita. Marilah biar aku saja yang layani kau
beberapa gebrak."
Hou Pong gusar, mereka segera berhantam.
Hou Pong meyakinkan Thi-sa-ciang, permainannya keras dan deras, kedua orang
saling jotos dan tendang, suara gedebukan dari tinju dan kaki mengenai sasaran jadi
membuat hadirin geli tercampur kuatir.
Suatu ketika empat telapak tangan mereka beradu berhadapan. "Biang" Hou Pong
tergentak mundur dua langkah, Lamkiong King hanya tergeliat, kelihatannya tenaga
Lamkiong King lebih besar. Karena berada di atas angin Lamkiong King tertawa
tergelak-gelak, langkahnya beruntun mendesak maju kakinyapun menendang berantai.
Dengan telapak tangan Hou Pong gunakan Hou-te-jan-hou, dia lancarkan pukulan Thisa-
ciang. Ternyata Lamkiong King juga perkasa, meski tahu Thi-sa-ciang lawan liehay
namun dia tidak mau mengalah, sebat sekali dia tarik kaki kanan, hampir waktu yang
sama kaki kiri melayang pula, tendangannya deras dan kuat. Diam-diam Ong Goan-tin
bertaut alisnya melihat cara pertempuran kasar ini. Lekas dia berseru: "Pertandingan
terbatas saling tutul dan jamah, pantang melukai lawan." Syarat ini sudah disetujui
kedua pihak sebelum pertandingan dimulai, Ong Goan-tin hanya memberi ingat dan
ketegasan. Tapi memperoleh angin Lamkiong King tidak memberi kesempatan kepada
lawannya, serangannya itu makin gencar dan menggebu. Akibat dari serangannya itu
bila mendarat di tubuh lawannya jelas tidak mungkin menjamah atau menutul,
hakikatnya lebih mendekati adu jiwa.
Begitu Hou Pong merobah menjotos lekas Lamkiong King melintangkan telapak tangan
menangkis, namun Hou Pong merobah jotosan menjadi sampukan, sebelum tenaga
lawan disalurkan lekas sekali dia sudah merobah posisi merobah serangan dengan
pukulan lengket jarak dekat, sasaran ke atas menggenjot muka musuh. Jotosannya ini
dinamakan Jong-thian-bau liehay luar biasa. Tapi Lamkiong King juga tidak lemah, dia
yakin tenaganya lebih kuat, maka cukup mengibas tangan dia gunakan daya cantel
menjadi pukulan gempur terus digenjot keluar, kembali dia punahkan jotosan dekat Hou
Pong serta balas menyerang.
Diluar tahunya tujuan Hou Pong memang memancing dirinya demikian, setelah dirabu
serangan Hou Pong, nafsu berkelahi sudah membara memperoleh kesempatan baik
balas menyerang sudah tentu tanpa pikir segera dia ingin menggasak lawannya ini.
Tanpa disadari bahwa balas menyerang saat itu belum tiba waktunya, begitu dia balas
menyerang penjagaan menjadi kosong. Sekonyong-konyong Hou Pong membalik tubuh
dengan kaki menyapu, hardiknya: "Kena," berbareng kedua telapak tangan memukul
pula, telapak tangan kiri menggunakan Hun-kin-joh-kut sementara telapak tangan
kanan memukul dengan Thi-sa-ciang.
Sebetulnya Lamkiong King bisa meluputkan diri dari salah satu serangan itu, namun
serangan kedua jelas pasti mendarat di tubuhnya, bila dia nekad juga melancarkan
serangan balasan, kemungkinan pertempuran bakal seri dengan akibat kedua lawan
sama-sama roboh terluka. Cuma didalam keadaan terdesak serupa itu, luka-lukanya
pasti lebih parah dari Hou Pong.
Baru saja Hou Pong melancarkan serangan keji, tiba-tiba dia sadar akan seruan Ong
Goan-tin bahwa pertandingan ini hanya terbatas saling tutul dan jamah saja, maka Thisa-
ciang batal dia lancarkan, dia pikir hanya akan menggunakan Hun-kin-joh-kut saja,
cukup bila lawan tak mampu berkutik terhitung dirinya di pihak yang menang.
Siapa tahu pikiran bajiknya ini justeru mendatangkan akibat yang fatal bagi dirinya.
Lamkiong King tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini untuk merobah
posisinya dari pihak yang terdesak ke pihak yang menang. Lamkiong King meyakinkan
ilmu kekebalan, Hun-kin-joh-kut mengutamakan kekuatan jari, begitu menyentuh
tubuhnya seperti mencengkram batu, hanya dengan kekuatan jarinya tidak mungkin
bisa menyebabkan dirinya keseleo tulang dan urat. Kontan dia menelikung lengan serta
ditariknya sekali, "krak" tulang lengan Hou Pong malah dipelintirnya putus.
Perobahan tak pernah diduga oleh hadirin, banyak yang menjerit kaget dan ngeri.
Tang-hay-liong-ong pura-pura kaget dan marah sambil berdiri, segera dia keluarkan
sebotol obat terus dilempar ke arah Lamkiong King, bentaknya: "Kenapa kau tidak hatihati.
Hou-cecu sampai kau lukai, lekas berikan obat penyambung tulang ini kepada
Hou-cecu," lahirnya memarahi Lamkiong King, yang benar tujuannya ingin memberi
obat menanam budi, sehingg.i orang-orang pihak Ong Goan-tin menaruh simpatik
padanya.
Ih Ti-bin segera berdiri dan memburu kesana memapah Hou Pong.-Jengeknya: "Tak
perlu kalian pura-pura bajik, kalau hanya menyambung tulang mengurut urat
memangnya kami tidak bisa." Sembari membubuhi obat dan menyambung tulang Hou
Pong dia menjengek pula: "Sudah dijanjikan hanya terbatas saling tutul dan jamah Houcecu
tidak ingin melukai kau, kau justru turun tangan sekeji ini, memangnya apa sih
maksudmu?"
Dari malu Lamkiong King jadi gusar, bentaknya: "Pertandingan kaum persilatan siapa
kuat dia menang. Ih Ti-bin, memangnya Hou Pong benar-benar mengalah kepadaku,
aku malah mau bilang aku telah berbelas kasihan kepadanya. Kalau tidak sekali pukul
tadi aku sudah bisa membunuhnya. Hehe, Ih-cecu jikalau kau tidak terima boleh
silahkan turun gelanggang, mari bertanding melawan."
"Baik aku memang ingin mengukur kemampuan," jengek Ih Ti-bin.
"Baik, aku tidak peduli akan tata tertib pertandingan, mati atau hidup adalah jamak di
medan laga." "Wut" kontan dia menjotos lebih dulu.
Ong Goan-tin ingin bicara tidak keburu lagi.
Mengikuti arus angin pukulan lawan Ih Ti-bin berkelit ke pinggir. Lamkiong King
menjengek kaki melompat ke atas, kedua tangan merangsek bersama telapak tangan
kiri mengepruk batok kepala, jari-jari tangan kanan mencengkram tulang pundak, Ih Tibin
gunakan gerakan tubuh Hong-biau-loh-hoa, tampak pakaiannya melambai-lambai
kembali dia meluputkan diri dari serangan lawan. Beberapa teman Ih Ti-bin terdengar
berteriak: "Ih-cecu, hayo balas, dia menghendaki nyawamu, kenapa kau sungkan
terhadapnya?"
Tam Pa-kun menghela napas lega, katanya kepada Ong Goan-tin. "Kelincahan dapat
menundukan tenaga, Ih-cecu tidak akan kalah. Keparat itu memang liar dan buas biar
nanti dia mendapat ganjaran setimpal."
Sebetulnya Ong Goan-tin mau menyerukan pula tata tertib pertandingan supaya ditaati,
namun setelah melihat Hou Pong terluka parah hatinya agak marah, apalagi setelah
dibujuk Tam Pa-kun, akhirnya dia berpikir: "Benar mereka memang perlu dihajar biar
kapok," maka dia bungkam dan duduk kembali.
Dalam pada itu Lamkiong King beruntun telah melancarkan tiga jurus, kaki menginjak
Hong-bun (berhadapan muka dengan lawan) tinjunya menjotos pula ke rusuk kiri Ih Tibin.
Jurus ini dinamakan Hing-sin-bak-hou (melintang badan memukul harimau), gaya
jotosannya teramat kuat dan ganas; namun pada detik-detik yang gawat selalu dapat
dihindarkan oleh Ih Ti-bin. Baru sekarang dia buka suara, bentaknya: "Nah, tadi kau
sudah bertanding satu babak, maka aku mengalah tiga jurus, jangan nanti kau anggap
aku memungut keuntungan. Hati-hati serangan balasan," pelan dia mengeluarkan
sebatang kipas lempit, begitu jotosan lawan mendera tiba, kipasnya terbuka terus
dikebas ke samping, gaya permainan ternyata mengikuti ajaran pedang dan golok,
ujung kipasnya yang tajam mengiris ke jari-jari tangan Lamkiong King.
Kelihatannya kipas lempitnya itu hitam gelap mengkilap, merupakan senjata luar biasa
yang jarang terlihat, namanya kipas lempit besi tetapi tulang kerangkanya terbuat dari
baja murni, ujung kipasnya yang runcing ternyata kemilau setajam pisau.
Cun-ih Thong memuji: "Bagus," katanya: "Sudah sering kudengar kipas lempit menutuk
Hiat-to yang diyakinkan Ih-cecu merupakan ilmu tunggal di Bulim. Kipas besinya ini
dapat pula digunakan sebagai Ngo-hing-kiam, jurus permainannya rumit dan beraneka
ragam, beruntung hari ini dapat menyaksikan, ternyata memang tidak bernama
kosong," kedengarannya dia memuji Ih Ti-bin, yang benar tujuannya memberi
peringatan kepada Lamkiong King bahwa ilmu kipas lawan cukup liehay supaya dia
hati-hati.
Sayang peringatannya terlambat. Sengaja Ih Ti-bin memancing lawan dengan suatu
gerak pancingan, di kala Lamkiong King menubruk seperti harimau kelaparan
menerkam mangsanya, dengan gerak kecepatan kipasnya telah menutuk Jian-kin-hiat.
Menyusul dengan Hun-kin-joh-kut-hoat, dia tebas putus ke sepuluh tulang-tulang jari
Lamkiong King serta memelintir tulang lengan kirinya hingga keseleo.
Tulang-tulang jari tangan remuk sakitnya bukan kepalang, ditambah lagi tulang lengan
keseleo di atas pundak, karuan sakitnya bukan kepalang. Lamkiong King meraung
sekeras-kerasnya, orang segede itu ternyata tidak tahan sakit, kontan dia jatuh
semaput.
Ih Ti-bin berkata dingin: "Maaf Lamkiong King hendak membunuhku, terpaksa aku
melukainya. Sugong-thocu, yakin kau tidak menyalahkan aku."
Tulang lengan Hou Pong bani saja disambung, luka-lukanya habis dibalut, saking
senang dia tertawa gelak dengan meringis kesakitan "Pembalasan kontan yann tidak
tanggung-tanggung, Ih-toako, banyak terima kasih, kau telah melampiaskan
penasaranku."
Orang kedua pihak membawa para korban ke ruang belakang untuk istirahat,
pertandingan tetap berlangsung. Beberapa babak selanjutnya masing-masing pihak
ada kalah ada menang tapi jumlah total pihak Tan Ciok-sing masih unggul satu babak.
Tang-hay-liong-ong sedang putar otak untuk memilih jagonya, tiba-tiba dilihatnya
seorang pemuda dalam rombongannya
menampilkan diri, pemuda yang memberi minyak rambutnya dengan wewangian dan
memupur muka pula. Walau bukan calon pilihan yang diharapkan, namun Tang-hayliong-
ong berpikir: "Biarlah dia keluar sekedar membuat kegaduhan juga baik."
Pamuda perlente yang pakai wewangian ini bernama Liu Yau-hong, ayahnya Liu Pekcong
adalah seorang ahli pedang, selama hidupnya menekuni pelajaran ilmu pedang,
jarang dia mencampuri urusan Kangouw, namun di kalangan Kangouw dia punya nama
yang disegani.
Lain bapak lain anak, putranya yang satu ini justru sering membuat onar diluar, pemuda
yang suka berpelesiran dan suka berfoya-foya, konon beberapa peristiwa perkosaan
yang menggemparkan adalah perbuatannya, namun karena tidak tertangkap basah dia
tetap mungkir.
Liu Yau-hong bukan anak buah Tang-hay-liong-ong, hanya karena suatu hubungan
tidak langsung, orang pihaknya berhasil menariknya untuk membuat ramai-ramai disini,
jadi secara formil dia bukan "orang sendiri" dari pihak Tang-hay-liong-ong. Bahwasanya
Tang-hay-liong-ong juga tidak menduga bahwa dia berani dan mau menampilkan
dirinya.
Justru karena dia bukan orang sendiri mumpung juga bagi Tang-hay-liong-ong untuk
melonggarkan situasi yang tidak menguntungkan pihaknya. Ilmu pedang Liu Yau-hong
memperoleh didikan ' langsung ayahnya, jelek-jelek dia keturunan dari seorang ahli
pedang yang ternama. Tang-hay-liong-ong pikir pihak lawan tidak sedikit Bu-limcianpwe,
sedikit banyak pasti memberi muka, umpama akan memberi hukuman
setimpal pasti juga diperhitungkan dan tidak di saat-saat seperti ini. Apalagi dengan
bekal ilmu silatnya, bila lawan jago kosen kelas wahid dia menaruh harapan untuk
menambal kekalahannya.
Setelah tampil di arena, Liu Yau-hong berkata ke arah Tan Ciok-sing dan In San. "Aku
kagum akan ilmu pedang Tan-siauhiap. Cayhe tidak becus, namun pernah juga belajar
pedang selama dua puluh tahun, melihat ahli sejenis tanganku jadi gatal..."
Belum habis dia omong Kek Lam-wi sudah menuding dan mendamprat: "Tampangmu
ini juga setimpal bertanding dengan Tan-siauhiap, apa tidak bikin kotor pedang
pusakanya?"
Numpang ketenaran ayahnya, meski Liu Yau-hong tidak setimpal berhubungan dengan
kaum pendekar, namun setiap kehadirannya dimanapun, tidak sedikit orang yang
bermuka-muka di depannya, ketambah bekal ilmu pedangnya memang cukup liehay,
sehingga menjadi kebiasaannya bersikap jumawa. Kali ini diluar dugaan dia tidak
marah meski dimaki Kek Lam-wi, malah dia tertawa dingin dan berkata lebih lanjut.
"Aku belum bicara habis, Kek-jithiap, tolong kau bersabar sebentar."
"Kau memang benar, Tan-siauhiap adalah calon Bu-lim-beng-cu, sebetulnya aku ingin
mohon pengajaran pedangnya, namun aku juga tahu belum tiba saatnya dia turun
gelanggang. Tapi aku ini sudah terlanjur masuk gelanggang, bila Tan-siauhiap tidak
mau melayaniku, aku jadi rikuh kembali ke romborfgan," sampai disini dia berpaling
kearah In San, sambungnya; "Gabungan sepasang ilmu pedang In Lihiap dan Tansiauhiap
terkenal di kolong langit, ilmu pedangnya tentu juga amat tinggi. Maaf bila aku
memberanikan diri, entah sudikah In Lihiap memberi petunjuk
beberapa jurus kepadaku?"-
ternyata dia kepincut keayuan In San, karena kesengsem sampai lupa daratan, meski
tahu bukan tandingan orang dia nekat juga menampilkan diri. Jadi bukan ingin
membantu pihak Tang-hay-liong-ong, tapi dia ingin pamer kepandaian, syukur karena
bertanding kali ini, dia bisa berkenalan dengan In San. Dalam pertandingan silat,
biasanya tidak ada aturan harus menantang seseorang, tapi bila ada juga orang yang
menantang seseorang, jarang ada orang yang ditantang tidak berani melawannya.
Berdiri alis In San, baru hendak berdiri, seorang lain tiba-tiba mendahului berdiri. Orang
inipun seorang galis belia, dia bukan lain adalah salah satu dari Pat-sian, Toh So-so
yang berusia paling muda. Toh So-so menjengek dingin: "Kau ingin bertanding pedang,
aku juga gatal tanganku, mari biar kuiringi kau beberapa jurus."
Liu Yan-hong melirik dengan sikap tengik, melihat Toh So-so berwajah cantik pula,
senang hatinya, segera dia tertawa cengar-cengir, katanya: "Terima kasih akan
kemurahan hati Toh Lihiap sudi mengiringi pertandingan ini lega hatiku."
Kualir Toh So-so tidak tahu asal-usul orang sengaja Ong Goan-tin bertanya kepada Liu
Yau-hong: "Liu-heng, pedang yang kau gunakan itu bukankah Thian-liong-pokiam milik
ayahmu itu."
Thian.-liong-kiam adalah salah satu pedang yang terkenal di Kangouw. Liu Pek-cong
ayah Liu Yau-hong memang memiliki ilmu yang luar biasa, tapi tanpa membekal Thianliong-
pokiam namanya tidak akan setenar itu.
Dengan tertawa Liu Yau-hong berkata: "Betul. Dalam pertandingan ini siapapun tidak
dilarang menggunakan gaman apapun bukan?"
In San berkata: "Toh-cici, pakailah pedangku," pedang In San adalah Ceng-bing-kiam
warisan isteri Thio Tan-hong, In Lui. Ceng-bing-kiam jelas masih lebih unggul dibanding
Thian-liong-kiam.
Toh So-so berkata: "Tidak usah. Bila aku kalahkan dia dengan pedang Thio Tayhiap,
mungkin dia tidak akan menyerah lahir batin."
Liu Yau-hong tertawa lebar, katanya: "Kalian tidak usah kuatir, aku hanya berlatih
pedang dengan Toh Lihiap, cukup asal sentuh saja, terserah dia mau pakai pokiam
atau pedang biasa, aku tidak akan memanfaatkan pokiamku ini untuk mengalahkan
dia."
"Sret" Toh So-so mencabut pedangnya, bentakuya: "Jangan cerewet, awas pedangku
ini tidak punya mata."
Sikap Liu Yau-hong tetap tak acuh, katanya menyengir: "Toh Lihiap, boleh kau pamer
seluruh kemampuanmu. Pepatah bilang dapat mati di bawah kembang, jadi setan juga
tidak penasaran. Bila aku terluka oleh pedangmu, matipun aku rela."
Meski tahu lawan salah satu dari Pat-sian, ilmu pedangnya jelas bukan kelas
sembarangan. Tapi mengingat usia Toh So-so lebih muda, cetek pengalaman,
perempuan lagi, tenaga jelas dirinya lebih unggul. Apalagi Toh So-so tidak mau pakai
pedang mustika, dalam hal senjata dia lebih unggul, maka pertandingan ini dia yakin
pasti berada di pihak pemenang.
Sudah tentu Toh So-so sebal mendengar ocehannya, bentaknya dengan tawa dingin:
"Baik memang omongannu ini yang kutunggu. Lihat pedang."
Dimana pedang berkelebat dengan jurus Liong-li-joan-ciam, "Sret" pedangnya menusuk
pundak kiri Liu Yau-hong. Kelihatan serangan ini hanya gertakan namun kenyataan
bisa dirobah jadi sungguhan atau sebaliknya pula, disinilah letak inti sari dari Ya-li-kiamhoat
yang diyakinkan.
Hanya segebrak tapi Liu Yau hong sudah tahu akan keliehayan serangan pedang ini,
dengan tergesa-gesa dia memuji "bagus", namun tubuhnya tidak bergeming, bila ujung
pedangnya sudah hampir menusuk pundak, baru dia memutar pergelangan tangan
membalas dengan jurus Kim-beng-jan-ci, pedangnya terayun keluar.
Jurus serangan ini memang diperhitungkan pada waktu yang tepat. Tidak sedikit di
antara hadirin adalah ahli-ahli ilmu pedang, meski mereka memandang rendah
martabatnya, melihat dia mampu bersilat dengan ilmu pedang sebagus itu mau tidak
mau mereka berseru memuji.
Namun meski ilmu pedang yang dilancarkan ini termasuk tingkat kelas atas, kalau
senjatanya bukan mustika dia tidak akan seberani itu menahan pedang lawan dengan
tekanan melintang, apalagi pedangnya lebih panjang, menurut teori pedang dalam
serang menyerang seperti itu, jelas pedang Toh So-so takkan luput saling bentur
dengan pedang mustika lawan.
Hadirin berkuatir bagi Toh So-so, maklum Thian-liong-kiam adalah pedang tajam luar
biasa, mengiris besi seperti merajang sayur, Toh So-so menggunakan Ceng-kong-kiam
biasa, mana kuat melawannya? Bila pedangnya putus, berarti dia di pihak yang kalah.
Tak nyana dalam detik-detik yang menentukan itu, situasi justru berobah, pelayanan
gerak pedang Toh So-so justru tidak seperti yang diduga lawan, juga diluar dugaan
hadirin. Terdengar Toh So-so menjengek dingin, katanya: "Pedangmu memang tajam,
memangnya kau bisa apa terhadapku?" sembari tawa dingin mendadak tubuhnya
berputar secara gemulai, begitu cepat sehingga orang-orang tidak melihat jelas. Tahutahu
pedangnya itu telah putar balik satu lingkar dengan jurus Ceng-hun-ka-kan
menusuk ke arah Liu Yau-hong. Ujung pedang mengincar tempat yang tidak terduga
oleh Liu Yau-hong.
Tidak malu Liu Yau-hong jadi putra seorang ahli silat kenamaan. Kungfunya sudah
mendapat warisan ayahnya, permainan ilmu pedangnya nyata memang liehay juga. Di
kala situasi berobah sehingga dirinya terdesak ini sikapnya tetap tenang-tenang saja,
mendadak dia gunakan Hong-tiam-thau, berbareng pedangnya melintang balik pula
sehingga gerakannya berobah Heng-ka-kim-liang, secara tepat dalam saat-saat kritis
itu dia tekan dan punahkan serangan pedang Toh So-so Gerakan indah tepat
waktunya, jelas pedang Toh So-so bakal membenturnya pula. Tapi gerakan cepat itu
masih diungguli kecepatan Toh So-so pula, permainan pedangnya ternyata lebih
menakjubkan lagi, hadirin dibikin kabur pandangannva oleh kelincahan tubuhnya.
Heng-ka-kim-liang yang dilancarkan Liu Yau-hong bukan saja tidak berhasil membentur
pedang lawan, malah tiga kali bacokan saling susul yang dilancarkan selanjutnya juga
tidak mampu menyentuh ujung baju lawan.
Tampak Toh So-so menggoyang pundak, pakaian berkibar, selincah kecapung menutul
air, atau kupu-kupu menari di pucuk bunga, dimana pedangnya berkelebat, dengan
jurus Ciok-li-toh-so, disusul Kim-ke-toh-siok, satu jurus dua gerakan, membabat
pinggang menjojoh rusuk, karena serangan mengenai tempat kosong, meski
menggunakan pedang mustika, sia-sia belaka usaha Liu Yau-hong, malah dirinya
terdesak mundur beberapa langkah. Gebrakan ini terjadi dalam waktu singkat, kelihatan
kedua orang seperti ayam jago yang disabung di tengah arena, belum lagi hadirin
melihat jelas jalannya pertempuran, mendadak didengarnya Toh So-so menghardik:
"Lepas pedang." Dimana sinar pedang berkelebat, kontan Liu Yau-hong menjerit
kesakitan, bukan saja pedang mustika jatuh berkerontang, orangnya juga tersungkur
di atas lantai.
Karuan Ong Goan-tin amat kaget, teriaknya: "Toh Lihiap, beri ampun padanya,
jangan..." maksudnya supaya Toh So-so tidak membunuh Liu Yau-hong, namun
dilihatnya Liu Yau-hong sudah roboh, maka perkataannya ditelannya lagi.
Dalam hati diam-diam Ong Goan-tin mengeluh. Maklum perbuatan Liu Yau-hong
memang brutal, cabul dan sudah rusak martabatnya, namun ayahnya adalah seorang
jago silat yang punya nama harum, dengan Ong goan tin juga kenal baik. Dikala dirinya
merayakan ulang tahun, putra kenalannya mati di markasnya, jelas dia tidak akan
terima dan pasti akan membuat perhitungan kepadanya.
Toh So-so tahu maksud Ong Goan-tin, katanya tertawa: "Ong-cecu tidak usah kuatir,
keparat ini masih hidup," habis bicara dia angkat sebelah kakinya menendang tubuh Liu
Yau-hong sehingga terbalik celentang. Kontan Liu Yau-hong menjerit pula. Kini hadirin
melihat jelas, selebar mukanya ternyata berlepotan darah, wajah yang semula ganteng
putih dan sering dipupuri itu, kini sudah penuh goresan pedang yang malang melintang,
itulah hasil karya Toh So-so.
Dalam sejurus ternyata dia mampu menggores luka malang melintang sebanyak itu di
muka Liu Yau-hong, hadirin tiada yang melihat jelas betapa cepat gerakan pedangnya,
sungguh amat mengejutkan. Kaum pendekar sama bersorak dan memuji, sebaliknya
orang-orang pihak Tang-hay-liong-ong sama pucat dan saling pandang tak bersuara.
Setelah menendang Liu Yau-hong, Toh So-so berkata dingin: "Bukankah tadi kau
bilang rela mati di bawah pedangku? Menilai perbuatan kotormu selama ini,
sepantasnya aku membunuhmu, namun kupandang muka Ong locecu, hari ini adalah
ulang tahunnya, dalam suasana gembira tidak pantas membunuh orang maka nonamu
mengampuni jiwamu, hayo enyah, memangnya ingin kutendang pula"
Liu Yau-hong keras kepala, saking kesakitan dia siuman dari pingsannya, pelan-pelan
dia meronta bangun sempoyongan, katanya gemetaran: "Toh So-so, kau, kau memang
kejam, akan kuingat hadiahmu hari ini... selama hayat masih dikandung badan aku..."
sampai disini dia tidak kuat melanjutkan perkataannya lagi. Tapi siapapun tahu apa
maksud perkataannya, yaitu bersumpah akan menuntut balas sakit hati hari ini.
Toh So-so tertawa dingin, "Boleh, kau mau menuntut balas, kapan saja kutunggu."
Dua orangnya Tang-hay-liong-ong keluar menggotong Liu Yau-hong mengundurkan
diri.
Tang-hay-liong-ong segera berdiri. Gerak-geriknya menarik perhatian seluruh hadirin.
Toh So-so tertawa menyeringai, katanya: "Sugong-thocu apakah kau ingin menuntut
balas sakit hati orang she Liu?"
Tawar suara Tang-hay-liong-ong. "Tinju dan senjata tajam tidak bermata, salahnya
sendiri tidak becus belajar silat, Toh Lihiap tidak boleh disalahkan. Mati hidup di medan
laga sudah menjadi suratan takdir, apalagi gugur dalam pertandingan seperti ini, tidak
usah bicara soal balas dendam segala. Toh Lihiap, silahkan kau mundur saja, Sugong
Go tidak sudi bergebrak dengan seorang angkatan muda."
Toh So-so tahu kepandaiannya terlalu jauh dibanding lawan, maka dia berkata:
"Baiklah, agaknya Sugong-thocu tidak ingin cari perkara dengan aku, maaf bila
perkataanku tadi salah," segera dia mengundurkan diri.
"Sugong-thocu," kata Ong Goan-tin, "bagaimana selanjutnya?"
Kaku tidak menunjukan perasaan hatinya, pelan-pelan Tang-hay-liong-ong menoleh
kesana dan berkata dengan lantang kepada Tan Ciok-sing dan In San. "Hadirin sudah
setuju untuk memilih seorang Bu-lim-beng-cu, tujuannya supaya ada seorang pemimpin
sehingga kekuatan kita terpadu dan sehaluan. Tak nyana terjadilah pertandingan babak
demi babak untuk memperebutkan Bengcu itu. Beberapa babak pertandingan telah
terjadi kericuhan, kejadian jadi menyeleweng dari tujuan semula, bukankah demikian
Tan-siauhiap?"
"Betul," sahut Tan Ciok-sing, "lalu bagaimana penyelesaiannya, harap Sugong-thocu
memberi saran."
"Menurut pendapatku, lebih baik kita saja yang mengakhiri babak terakhir ini, siapa
menang atau kalah, mati hidup biarlah ditentukan dalam babak terakhir ini supaya banjir
darah tidak berlarut-larut."
Cun-ih Thong bertepuk tangan lebih dulu, serunya: "Betul, jumlah orang kedua pihak
cukup banyak, bila pertandingan tidak habis-habis, entah kapan baru akan berakhir?
Biarlah dua calon Bengcu menentukan pertandingan babak terakhir ini saja."
"Sugong-thocu," seru Ong Goan-tin, "sebagai seorang tokoh yang sudah ternama di
Kangouw, walau Tan-siauhiap kini juga telah menggetarkan dunia, paling juga baru dua
tahun."
"Nanti dulu, aku belum habis bicara," tukas Tang-hay-liong-ong terbahak-bahak,
"memang benar pendapat Ong-cecu, aku tahu Tan-siauhiap berkepandaian tinggi,
betapapun dia masih muda dari aku, aku sendiri juga tidak ingin ditertawakan kaum
persilatan sedunia..." sampai disini sengaja dia merandek. Hadirin bingung, dia yang
menantang tapi bilang tidak mau menindas yang muda, memangnya apa maksudnya?"
Pelan-pelan Tang-hay-liong-ong melanjutkan. "Maksudku aku ingin menjajal gabungan
sepasang pedang Tan-siauhiap dengan In Lihiap. Dengan cara ini yakin hadirin tidak
akan katakan aku yang tua ini menindas yang muda bukan?"
Cun-ih Thong tiba-tiba bertanya: "Gabungan sepasang pedang Tan-siauhiap dan In
Lihiap tiada bandingan di dunia, bukankah tadi Han-heng yang berkata demikian."
Han King-hong orang kasar, tanpa pikir segera dia menjawab: "Banyak kawan-kawan
Kangouw semua bilang demikian, memangnya kenapa?"
Cun-ih Thong ngakak, katanya: "Tidak apa-apa aku merasa bersyukur hari ini bakal
memperoleh kesempatan melihat saja. Hehe, apa benar pujian tadi sebentar juga akan
terang dan terbukti. Tapi kalau sudah tersiar luas di Kangouw bila gabungan sepasang
pedang mereka menempur Sugong-thocu tidak bisa dikatakan yang tua menekan yang
muda lagi. Betul tidak?"
Baru sekarang hadirin maklum, sengaja dia putar kayun dengan ocehan panjang lebar,
tujuan tidak lain bantu menarik keuntungan pihak Tang-hay-liong-ong.
Berkerut alis Tan Ciok-sing, hampir meledak amarahnya, namun dia dibujuk oleh Tam
Pa-kun. "Ucapan Cun-ih Thong memang benar, bertanding cara begitu memang tiada
yang mengambil keuntungan. Kalian bergabung melawan musuh dijumlah usia kalian
juga masih muda lawan. Maka menurut pendapatku, pertandingan ini cukup adil."
Maksud Tan Ciok-sing adalah tidak mau memungut keuntungan ini, tapi setelah dipikir
lagi sekarang bukan saatnya adu mulut dan bertengkar, maka dia tidak banyak
bicara. .
Tapi In San malah berkata: "Siang-kiam-hap-pik sudah merupakan kebiasaan,
menghadapi satu lawan kami berdua, menghadapi sepuluh lawan, kami tetap berdua.
Bila Cun-ih Siansing anggap kita mengambil keuntungan boleh silahkan Cun-ih
Siansing maju bersama Sugong-thocu."
Cun-ih Thong cengar-cengir katanya: "In Lihiap, kenapa kaupun menyeret diriku."
Tang-hay-liong-ong menarik muka katanya: "Jangan cerewet. Had irin sudah akur
bahwa pertandingan ini cukup adil, marilah segera kita mulai. Tapi perlu aku bicara di
depan."
Lekas Cun-ih Thong menjilat pantat pula. "Betul peduli apapun akhir pertandingan ini
akibatnya harus dibicarakan lebih dulu."
Perlahan Tang-hay-liong-ong berkata: "Kalau aku yang beruntung menang dalam
pertandingan ini, kalian bagaimana?"
"Sudah tentu terserah kepadamu, hukuman apa terserah."
Tang-hay-liong-ong geleng-geleng, katanya: "Aku tidak punya maksud menyakiti
kalian."
Tam Pa-kun tiba-tiba berdiri, katanya lantang. "Bahwa pertandingan ini menentukan
kalah menang bila Sugong-thocu dapat mengalahkan mereka berarti pertandingan
memilih Bengcu inipun berakhir. Selanjutnya Sugong-thocu adalah Bengcu kita."
"Kalau kami kalah boleh terserah Sugong-thocu menjatuhkan vonisnya..."
"Sugong-thocu barusan bilang tidak akan menyakitkan kalian," tukas Cun-ih Thong.
Tan Ciok-sing tidak hiraukan ocehannya, katanya lebih lanjut: "Sekarang kita nyatakan
pula bila kami yang kalah, umpama Sugong-thocu tidak sudi menjatuhkan vonisnya.
Kami sudah berkeputusan untuk memunahkan ilmu silat sendiri tapi kami tidak akan
mendukungnya menjadi Bengcu."
Cun-ih Thong mengerutkan kening, katanya: "Lho, apa tidak mencari gara-gara?"
"Kami lebih suka memunahkan ilmu silat sendiri dan tidak sudi mendukungnya adalah
urusan pribadi kami, tiada sangkut pautnya dengan orang lain." Ciok-sing
mempertegas.
Tujuan Tang-hay-liong-ong adalah menjadi Bengcu, dia tidak peduli apakah mereka
berdua mau atau tidak mendukung dirinya, bila mereka memunahkan ilmu silat sendiri
juga kebetulan malah bagi dirinya. Maka dia tertawa, katanya: "Urusan sebetulnya tidak
sefatal itu. Tapi setiap manusia punya keinginan sendiri-sendiri, bila Tan-siauhiap
sudah berkeputusan demikian, ya boleh terserahlah."
Tan Ciok-sing bertanya: "Tapi bila kami yang beruntung dan kau yang kalah,
bagaimana?"
Tang-hay-liong-ong tertawa lebar, katanya: "Kalau aku kalah, jelas malu bercokol di
dunia persilatan. Tan-siauhiap apapun keputusannmu aku akan meniru janjimu," jadi
pertandingan ini bukan melulu memperebutkan Bengcu, malah pihak mana yang kalah
dia harus memunahkan ilmu silat sendiri.
Ong Goan-tin kaget, dia menoleh ke arah Tam Pa-kun, agaknya dia kuatir bila
gabungan sepasang pedang Tan Ciok-sing dan In San bukan tandingan Tang-hayliong-
ong. Tam Pa-kun tahu kekuatirannya, dia hanya memberi senyum simpul tanpa
bersuara. Tapi dari sorot mata dan rona mukanya, Ong Goan-tin tahu bahwa Tam Pakun
yakin gabungan sepasang pedang Tan dan In pasti akan menang, maka lega juga
hati Ong Goan-tin.
Tan Ciok-sing dan In San sudah berdiri jajar di tengah gelanggang, pedang masingmasing
sudah terlolos. Pedang mereka adalah warisan pedang Thio Tan-hong, begitu
keluai sarungnya pedang pusaka itu memancarkan cahaya terang gemerlap
menyilaukan mata.
Dengan lagak jumawa pelan-pelan Tan-hay-liong-ong bersuara: "Bawa kemari
senjataku."
Sebagian besar yang hadir hanya tahu bahwa Kungfu Tang-hay-liong-ong amat tinggi,
namun gaman apa yang dia gunakan tiada satupun yang tahu, maka perhatian hadirin
ditujukan kepadanya, mereka ingin tahu apakah senjatanya mampu menandingi
sepasang pedang pusaka Tan Ciok-sing dan In San yang sudah terkenal sejak puluhan
tahun.
Tampak empat laki-laki memanggul keluar sepasang tombak mengkilap gelap, dikata
tombak juga bukan tombak, tidak mirip ruyung atau trisula, namun ujungnya berbentuk
tombak, di sisi kiri kanan terdapat lekuk bulan sabit yang tajam dan runcing, lebih
bawah lagi merupakan pedang sampai di gagang ada besi melengkung sebagai
pelindung jari-jari tangan. Ada yang tahu bahwa gaman ini dinamakan Ban-ci-toh,
senjata dari garis luar gaman yang jarang digunakan oleh insan persilatan, namun
kasiat senjata ini dapat digunakan merampas senjata lawan.
Dalam hati Ong Goan-tin berpikir: "Ban-ci-toh memang dapat merampas pedang, tapi
menghadapi pedang pusaka peninggalan Thio Tan-hong, yakin tidak akan mampu
berbuat banyak."
Ban-ci-toh panjang seluruhnya ada tujuh kaki, besarnya kira-kira sama dengan gagang
tumbak umumnya, tapi dua lelaki yang memanggul sebatang kelihatan keberatan,
sungguh hadirin sama heran dan kaget. "Betulkah Ban-ci-toh ini berbobot seberat itu?"
Han King-hong menjadi sebal, kontan dia mengolok: "Ah, pura-pura belaka,
memangnya siapa yang takut digertak."
Tengah bicara, dilihatnya ke empat lelaki itu sudah melemparkan Ban-ci-toh itu ke arah
Tang-hay-liong-ong. Entah mereka mendengar olok-olok H an King-hong, yang terang
salah satu dari Ban-ci-toh itu ternyata meleset ke depan Han King-hong.
Lekas Han King-hong lolos golok besar yang berpunggung tebal terus membacok,
"Traaang" kembang api berpijar, golok besar tak kuat lagi dipegang, jatuh berkerontang
bersama tubuhnya yang kekar.
Lekas teman-teman memapahnya bangun, tampak darah meleleh dari ujung mulutnya,
untung tidak terluka dalam, namun golok punggung tebalnya itu patah jadi dua. Setelah
membentur patah golok besar Han King-hong, Ban-ci-toh itu masih meleset ke depan
ke arah majikannya. Dengan enteng Tang-hay-liong-ong gerakan kedua tangan meraih
kedua gamannya, berdiri santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Han King-hong terkenal sebagai jagoan yang punya tenaga raksasa, golok tebalnya itu
berat 64 kali ternyata tidak kuat menghadapi benturan Ban-ci-toh, golok patah
pemiliknya juga terjungkal meski tidak terluka parah, tapi hadirin sama kaget.
Tapi Han King-hong sendiri memang berjiwa polos dan jujur, meski dia terbentur jatuh
oleh gaman Tang-hay-liong-ong, diam-diam dia kagum malah terhadap berat gaman
orang, sambil merangkak tapi mulutnya menggumam: "Kukira dia hanya pura-pura saja,
ternyata memang berat sekali, tak heran dua orang memikulnya dengan payah. Aneh,
gaman terbuat dari logam apakah, hanya sebatang senjata macam tombak, aku
ternyata tidak kuat menyambutnya."
Cun-ih Thong ingin pamer kepintarannya di samping ingin menunjukkan bahwa dirinya
punya hubungan intim dengan Tang-hay-liong-ong, dari samping segera dia mengoceh
pula sambil membusung dada: "Sepasang Ban-ci-toh milik Sugong-thocu ini memang
bukan sembarangan senjata, pada setiap pertempuran jarang dipakai. Maka maklum
bila kaum persilatan jarang yang tahu asal-usul senjatanya. Perlu diketahui bahwa
sepasang gaman Sugong-thocu ini dibuat dari Hian-tiat (besi murni). Apa itu Hian-tiat?
Dalam bentuk dan besar yang sama bobot Hian-tiat sepuluh kali lipat dari besi biasa"
Sejak melihat Tan dan In mengeluarkan sepasang pedang pusaka, timbul harapan
orangorang gagah, namun setelah tahu gaman Tang-hay-liong-ong ternyata terbikin
dari Hian-tiat, goyah pula keyakinan mereka. Apakah Hian-tiat itu hadirin banyak yang
belum pernah lihat, tapi banyak juga yang tahu bahwa Hian-tiat itu merupakan sari
gabungan dari lima unsur logam, konon hanya di puncak Sing-siok-hay di Kun-lun-san
baru kedapatan ada Hian-tiat namun Hian-tiat itu sendiri juga sukar ditemukan disana.
Apakah pedang mustika Tan dan In mampu melawan senjata yang terbuat dari Hiantiat?
Tampak dengan menggenggam kencang senjatanya Tan-hay-liong-ong sudah berdiri
tegak di tengah arena, katanya kepada Tan dan In. "Aku lebih tua, di hadapan sekian
banyak orang-orang gagah, aku pantang memungut keuntungan dari kalian. Tidak
lekas kalian turun tangan, masih tunggu apa lagi?" sikap jumawa nadanya mengejek.
In San berdarah panas, tanpa bicara segera dia gerakan Ceng-bing-kiam, sinar pedang
gemerlap ujung pedangnya langsung menusuk ke ulu hati di dada kiri Tang-hay-liongong.
Dalam keluarga persilatan ada sebuah pameo. "Golok menempuh jalan putih,
pedang jalan hitam" maksudnya bahwa pedang kebanyakan dimulai dari sebelah kiri,
jarang membuka serangan dari tengah. Begitu turun tangan In San langsung menusuk
dada, meski bukan bermaksud merendahkan lawan, namun didalam kebiasaan adu
kekuatan di Bu-lim, sikapnya ini sudah dianggap kurang hormat terhadap seorang
Cianpwe.
Karuan Tang-hay-liong-ong naik pitam, bentaknya: "Biar budak kecil macammu ini tahu
keliehayanku," serempak dia mengembangkan kedua lengan atasnya kesamping,
"Trak" sepasang gamannya serempak menjepit ke kedua kuping In San. Jurus ini
dinamakan Siang-hong-koan-hi (sepasang angin mengunci telinga). Melihat kedua
pihak mulai pertempuran dengan serangan keji yang mematikan, tak urung hadirin
sama menjerit kaget. Maklum bobot senjata lawan seberat itu, bila kepala In San
tergencet sungguhan, kepalanya pasti remuk dan gepeng. Tujuan Tang-hay-liong-ong
hendak membendung gerakan In San didalam jangkauan sepasang gamannya, tak
nyana In San memiliki gerak tubuh lincah, belum lagi sepasang senjata lawan
menggencet tiba dengan langkah Lou-kik-hou-pou dia berkisar ke samping kanan
Tang-hay-liong-ong. Cepat sekali Pek-hong-kiam Tan Ciok-sing juga sudah bergerak
laksana lembayung perak terjun ke tengah pertempuran.
Jurus ini dinamakan Sin-liongjip-hay (naga sakti masuk laut), kelihatannya amat keji
dan berbahaya, namun tujuannya untuk mematahkan serangan Tang-hay-liong-ong
yang mematikan sekaligus membantu In San untuk melontarkan serangan mematikan
selanjutnya. Dimana ujang pedang bergetar, tiba-tiba timbul tiga ceplok kuntum sinar
pedang, hanya dalam jangka kilatan dalam satu jurus dia telah menyerang tiga Hiat-to
mematikan tubuh Tang-hay-liong-ong, serangan ganas yang memaksa lawaan
menyelamatkan diri lebih dulu. Betapa tinggi ilmu silat Tang-hay-liong-ong, tak urung
bercekat juga hatinya. "Thio Tan-hong memang seorang maha guru silat besar, Siangkiam-
hap-pik yang diwariskan sepasang muda mudi ini memang luar biasa. Aku tak
boleh memandang enteng mereka."
Begitu mundur cepat sekali In San sudah merangsak pula. Ceng-bing-kiam bergerak
dengan jurus Hian-niau-hoat-sa, secara membalik menyontek lengan kiri musuh, lekas
Tang-hay-liong-ong memperbesar lingkaran gerak senjatanya, Tan Ciok-sing bergerak
mengikuti permainan pedangnya, sebat sekali dia melayang keluar dari lingkaran
benturan sepasang gaman lawan tadi secara enteng. Malah di antara maju dan mundui
itu, secepat kilat dia tambahi pula dua jurus serangan, Tang-hay-liong-ong dipaksa
berlaku hati-haati sehingga tidak berani menyerang In San dengan segala tenaganya.
Maklum Lwekang In San memang lebih rendah, walau dirinya tidak kebentur gaman
lawan namun ketindih tekanan angin keras, tak urung dia merasa sesak napasnya.
Tang-hay-liong-ong tahu titik kelemahan berada di gadis yang satu ini, mendadak dia
menghardik sekali, gaman kiri menyontek ke atas mematahkan serangan pedang Tan
Ciok-sing, berbareng gaman kanan disapukan miring agak rendah menyerampang
bagian bawah In San. Mendadak In San menjejak lantai tubuhnya melejit tinggi, "Sret"
berbareng pedangnya menusuk dari posisi yang tidak terduga, lekas Tang-hay-liongong
memutar miring Ban-ci-toh, lalu mendadak didorong ke depan serta ditekan pula ke
bawah, agaknya dia nekad biar dirinya tertusuk pedang In San, lawan juga pasti terluka
oleh senjatanya. Kebentur deru angin senjata lawan saja pedang In San sudah
tersampuk pergi, meski gerak susulan sudah siap dilancarkan dalam keadaan seperti
itu, tenaganya juga sudah ludes umpama pedang berhasil melukai lawan, Tang-hayliong-
ong juga hanya terluka ringan saja. Gebrak berlangsung cepat dan singkat,
gaman Tang-hay-liong-ong kelihatan hampir menutul ke pusar In San. Hadirin sama
mencelos kaget, ada di antaranya malah menjerit ngeri. Namun pada detik gawat itu
mendadak terdengar suara "Tang" begitu kerasnya sehingga kuping hadirin pekak
rasanya.
Untuk menyelamatkan In San terpaksa Tan Ciok-sing menolongnya membentur gaman
lawan secara kekerasan, dengan pedangnya dia mendorong pergi Ban-ci-toh Tanghay-
liong-ong yang hampir mengenai In San. Bertempur selama puluhan jurus, baru
sekali ini gaman mereka saling beradu.
Bentrokan senjata menimbulkan percikan kembang api. Seluruh hadirin terbelalak diam
hingga sunyi senyap, semua ingin tahu bagaimana akibat dari benturan keras ini.
Tampak gerak Tan Ciok-sing melenting terus berkelebat miring kesana. Pek-hong-kiam
tetap dipegang sedikitpun tidak kurang suatu apa, hadirin baru merasa lega
Di tengah percikan api tadi, mau tidak mau Tang-hay-liong-ong juga kaget dan mundur
selangkah. Tersipu-sipu dia melirik ke bawah melihat gamannya tidak kurang suatu
apa, maka lega juga hatinya.
Masing-masing pihak tidak dirugikan, Tang-hay-liong-ong berseru: "Bagus," dua gaman
menjulur bersama, mumpung Tan Ciok-sing belum berdiri tegak dia sudah
mendesaknya pula.
Gebrak selanjutnya jauh lebih hebat dan menegangkan, kini tiada rasa memandang
enteng kedua lawannya dalam benak Tang-hay-liong-ong, dia himpun semangat dan
kerahkan tenaga mengembangkan kemahiran permainan sepasang senjatanya yang
lain dari pada yang lain. Siang-kiam-hap-pik Tan Ciok-sing dan In San ternyata
dihadapinya dengan gagah berani. Bobot senjata sudah berat, dilandasi tenaga raksasa
dengan Lwekang tinggi lagi, maka gerak gaman itu sendiri sudah merupakan tenaga
raksasa yang luar biasa, lawan dapat memainkan secara lincah dan enteng lagi hingga
kelihatannya seperti dua ekor naga yang mengikuti gerak-gerik serangan Tan dan In
berdua
Lama kelamaan hadirin menjadi kabur pandangannya, hati kebat kebit lagi, Ong Goantin
Congcecu dari tiga puluh enam Cecu di perairan Thay-ouw tak urung merasa kuatir
dan berkeringat dingin, dengan suara perlahan dia tanya kepada Kim-to-thi-ciang Tam
Pa-kun: "Tam-toako, menurut pandanganmu, mereka, apakah mereka kuat bertahan..."
Belum habis dia bertanya, Tam Pa-kun juga belum menjawab, mendadak didengarnya
Tan Ciok-sing dan In San berkata dua patah.
Hadirin tidak tahu apa arti dua patah kata yang diucapkan, tapi Tam Pa-kun dan Ong
Goan-tin maklum dua patah kata itu adalah inti sari ilmu tingkat tinggi yang mendalam
artinya, seketika mereka tertawa saling pandang, yang satu tidak perlu tanya lagi, yang
ditanya juga tidak perlu menjawab. Tampak permainan pedang Tan Ciok-sing semakin
lambat, ujung pedang seperti diganduli benda ribuan kaki beratnya, menuding timur
menggaris ke barat, gerak-geriknya seperti tidak aturan malah.
Hadirin kaget, tapi rona muka Tang-hay-liong-ong sendiri kelihatan prihatin dan makin
gelap, meski gerak pedang Tan Ciok-sing makin lambat, seperti terbuka lobang
serangan, namun dia tetap tidak berani merangsak maju menyerang, sikapnya malah
amat hati-hati.
Lain lagi permainan In San, pedangnya diputar makin kencang disertai kelincahan
tubuhnya yang tangkas dan sebat, mendesak maju mencelat mundur, mencelat ke atas
mendak ke bawah. Semula dia hanya bertahan saja, kini terbalik dia yang melancarkan
serangan menggebu malah.
Latihan Tan Ciok-sing berdua memang belum mencapai tingkat paling tinggi, namun dia
meyakinkan ajaran Lwekang Thio Tan-hong, ajaran yang telah diresapinya diluar
kepala itu memang mandraguna, meski baru beberapa tahun tapi bekal ilmunya sudah
cukup setimpal mengangkat dirinya ke taraf jago kelas wahid demikian pula kali ini, mau
tidak mau Tang-hay-liong-ong harus numplek seluruh perhatiannya untuk
menghadapinya.
Setiap kali Tang-hay-liong-ong lancarkan serangan dengan tenaga raksasa, selalu
Ciok-sing gunakan tenaga lunak dengan gerakan pedangnya menuntun dan
memunahkannya, meminjam tenaga untuk balas menggempur lawan pula. Bila
serangan dianggap kosong mendadak gelombang tenaga besar justru melanda tiba.
Oleh karena itu meski taraf Kungfu Tang-hay-liong-ong lebih tinggi dari kedua lawan
mudanya ini mau tidak mau bercekat juga hatinya.
Taraf latihan In San setingkat di bawah Tan Ciok-sing, permainannya belum memadai
ke taraf yang lebih tinggi sehingga sukar baginya mengembangkan permainan yang
lebih ampuh. Namun dasar otaknya cerdas dia cukup pintar menyesuaikan diri, syarat
yang tidak tercapai dia ganti dengan cara lain, terpaksa dia mengembangkan ilmu
"dengan sentuhan mematahkan tenaga"
Lwekangnya jauh ketinggalan dibanding Tang-hay-liong-ong namun Ginkang dan
kelincahan tubuhnya jelas lebih unggul, maka dengan kombinasi permainan ini, dia
gunakan kemahiran sendiri untuk menyerang titik lemah musuh. Begitu dia
kembangkan ilmu pedangnya menusuk, menyontek, mengetuk, membelah, dan
mengikis, semua ini dilaksanakan secara tepat dan bagus gerakannya, boleh
digambarkan lambat di tengah kecepatan, lincah di saat enteng, gerak-gerik
berkembang lembut laksana air mengalir dan mega mengembang mantap dan tegap
penuh keyakinan.
Jikalau satu lawan satu jelas Tang-hay-liong-ong tidak mudah dicecar sehebat ini,
namun permainan Siang-kiam-hap-pik mereka memang amat serasi, kerja sama
mereka amat ketat dan sembabat, walau yang satu lambat yang lain cepat,
kelihatannya seperti bertempur sendiri-sendiri, namun dari berlainan ini justru timbul
perpaduan yang terjalin amat ampuh, kombinasi permainan sepasang pedang mereka
semakin memuncak kesempurnaannya.
Tapi hanya beberapa orang saja di antara hadirin yang melihat kehebatan dari Siangkiam-
hap-pik itu. Ong Goan-tin sudah tentu satu di antaranya, kini baru dia melihat titik
terang hingga lega hatinya, katanya setengah berbisik kepada Tam Pa-kun: "Tamtoako,
pandanganmu memang lebih tajam."
Perkataannya amat lirih, tapi Tang-hay-liong-ong yang lagi berhantam di tengah arena
mendengarnya. Mau tidak mau gundah hatinya, pikirnya: "Jikalau bertempur seperti ini
dilanjutkan, sedikit lena salah-salah aku bakal konyol. Kalau aku tidak kuasa
menjatuhkan dua muda mudi, umpama ingkar janji, memangnya masih ada muka aku
berkecimpung di Kangouw."
Maklum sebelum bertanding tadi mereka sudah berjanji pihak yang kalah secara suka
rela akan punahkan ilmu silat sendiri. Dalam posisi Tang-hay-liong-ong sekarang
dituntut untuk menang, karena terdesak oleh keadaan akhirnya timbul nafsu jahatnya,
dia bertekad akan mengadu jiwa.
Mendadak dia menghardik, suaranya sekeras guntur, tanpa hiraukan tusukan pedang
Tan Ciok-sing sepasang gamannya mendadak mengepruk ke batok kepala In San. Kala
itu Tan Ciok-sing sedang melancarkan jurus Pek-hou-liang-ci ujung pedangnya
menepis lengan kiri Tang-hay-liong-ong. Bila jurus serangan kedua pihak ini
dilancarkan sesungguhnya Batok kepala In San jelas bakal remuk terketuk gaman
lawan, tapi lengan kiri Tang-hay-liong-ong juga akan tertabas kutung dari badannya.
Kepala pecah jiwa melayang, sebaliknya lengan buntung tetap hidup, agaknya Tanghay-
liong-ong merelakan sebelah lengannya untuk menuntut jiwa In San
Perkembangan tidak terduga ini menimbulkan kagemparan orang-orang kedua pihak,
semua sama menjerit kuatir.
Namun hanya dalam waktu sekejap itu sebelum hadirin melihat jelas apa yang terjadi,
mendadak cahaya kemilau di tengah gelanggang kuncup seluruhnya, sepasang gaman
Tang-hay-liong-ong menjulur lurus ke depan, sementara Tan dan In menyanggah
dengan kedua pedang, tiga orang sama tidak berani bergerak.
Agaknya Tang-hay-liong-ong sudah memperhitungan di kala melancarkan keprukan
sepasang gamannya ke batok kepala In San dia yakin Tan Ciok-sing takkan berani
mempertaruhkan jiwa In San dengan membabat kutung lengannya, sesuai dugaannya,
baru saja otaknya menduga tahu-tahu Tan Ciok-sing sudah merobah permainan. Begitu
cepat gerak perobahannya dan
perkembangannya pun sama-sama dirasakan kedua pihak, dua pihak sama-sama
menyerempet bahaya, tapi perkembangan ini justru sudah merupakan rencana Tanghay-
liong-ong yang licik.
Dengan kekuatan Lwekang dan bobot sepasang senjatanya yang kuat, dia salurkan
tenaganya secara bergelombang seperti air bah mengalir tidak putus-putus tenaganya
terus disalurkan pada sepasang gamannya menindih ke arah musuh. Dalam keadaan
seperti itu Tan dan In sudah tidak mungkin menangkis atau menggeser senjatanya
pula, sehingga terjadilah adu kekuatan tenaga dalam.
Kelihatannya memang tenang-tenang, senjata kedua pihak seperti lengket menjadi satu
tanpa bergerak. Tapi dalam ketenangan ini bagi seorang jago silat kelas tinggi justru
merupakan babak yang paling tegang dan mengejutkan.
Maklum adu tenaga, Lwekang siapa kuat dia bakal menang, dalam adu kekuatan ini
hakikatnya orang tidak bisa main curang. Walau Tan dan In melawan satu, namun
mereka baru berusia dua puluhan. In San perempuan yang bertenaga jauh lebih lemah
lagi, sementara Tang-hay-liong-ong dibekali latihan Lwekang puluhan tahun, mana
mereka mampu melawannya?
Di kala hadirin mencucurkan keringat dingin dan menyaksikan dengan kuatir, tampak
uap putih mulai mengepul dari ubun-ubun kepala Tang-hay-liong-ong.
Kiranya Lwekang Tan Ciok-sing memang agak lemah dibanding Tang-hay-liong-ong,
tapi Lwekang yang diyakinkan dari aliran lurus dan murni memperoleh ajaran tingkat
tinggi dari ciptaan Thio Tan-hong, kemurniannya jelas lebih unggul dibanding bekal
Lwekang Tang-hay-liong-ong, ketahanannya juga lebih lama dan kuat.
Tang-hay-liong-ong terus menggempur dengan menambah tenaganya, laksana gugur
gunung layaknya menindih kedua lawannya, gelombang pertama disusul gelombang
kedua yang lebih dahsyat. Pek-hong-kiam Tan Ciok-sing sudah melengkung, tapi aneh,
keadaan seolah batu karang di tengah sungai yang tidak bergeming meski diterjang
gelombang badai.. Bukan begitu saja, di tengah rangsakan membadai lawannya, ada
kalanya diapun balas menyerang. Meski hanya kadang kala, namun hal itu cukup
membuat rasa kejut Tang-hay-liong-ong makin besar.
Sudah delapan puluh persen Tang-hay-liong-ong meningkatkan tekanan tenaganya,
terpikir dalam benaknya sisa dua puluh persen kekuatannya hendak dia gunakan
menggempur In San, tiba-tiba terasa Ki-ti-hiat di lengan kanannya kesakitan luar biasa
seperti ditusuk jarum, rasa sakit yang meresap tulang sumsum. Ternyata Tan Ciok-sing
gunakan cara memusatkan tenaga dalam menyerang satu titik sasaran dari ajaran
Lwekang ciptaan Thio Tan-hong. Cara mengerahkan Lwekang
menggunakan tenaga dari ilmu tingkat tinggi seperti ini. Tang-hay-liong-ong sendiripun
belum tahu.
Lwekang Tan Ciok-sing memang bukan tandingan Tang-hay-liong-ong, tapi dia justru
menyerang ke titik sasaran yang tidak terduga, karuan Tang-hay-liong-ong kelabakan
dan tidak berani menguras seluruh tenaganya. Karena itu dia tidak berani menambah
kekuatannya menekan In San, cukup asal tenaga perlawanan In San dapat
dibendungnya saja, maka tujuh puluh persen tenaganya dia gunakan menggempur Tan
Ciok-sing.
Lwekangnya memang tangguh, namun setelah berkutet setengah sulutan dupa, tak
urung uap putih mulai mengepul dari kepalanya, itulah pertanda Lwekang telah
disalurkan mencapai puncaknya.
Di bawah tekanan kekuatan berat lawan, keringat sudah membasahi jidat Tan Ciok-sing
napasnyapun mulai berat, keadaan In San lebih payah lagi, napasnya sudah sengalsengal
muka pucat, keringat gemerobios.
Dari pertandingan senjata berganti adu kekuatan tenaga dalam, hal ini tidak terduga
pula oleh Tam Pa-kun.
Sejauh ini Siang-kiam-hap-pik merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang sudah
mencapai taraf tinggi di kalangan Bulim. Tam Pa-kun menaruh harapan besar, dia
berpendapat hanya Siang-kiam-hap-pik inilah yang mampu menundukkan musuh
tangguh ini. Tapi keadaan justru berobah adu tenaga dalam, bagaimana akhir
pertempuran nanti susah diramalkan. Walau dia sudah melihat keadaan Tang-hayliong-
ong yang menunjukkan tanda-tanda akan kehabisan tenaga, namun keadaan Tan
Ciok-sing berdua juga tidak kalah payahnya, apakah mereka kuat bertahan lebih lama
dari Tang-hay-liong-ong?
Ong Goan-tin kebat-kebit, tak tahan dia berdiri, katanya: "Dua harimau berkelahi pasti
ada satu yang luka, kukira pertandingan ini biarlah dianggap seri bagaimana?"
Tang-hay-liong-ong tidak berani memberi komentar, dia perlu meningkatkan
kewaspadaan dan ketahanannya untuk menjaga sergapan tenaga dalam Tan Ciok-sing
yang menyerang satu titik sasaran, jelas dia tidak mampu buka suara. Tapi Cun-ih
Thong yang telah disogoknya itu pandai bersilat lidah, tanpa diminta dia akan tahu diri
bagaimana dia harus bertindak, terdengar sebelum buka suara beruntun tiga kali
tertawa dingin.
Han King-hong membentak: "Kau keparat ini tertawa apa?"
"Kukira pernyataan Ong-Iocecu kurang bijaksana dan tidak adil."
Ong Goan-tin gusar, dampratnya: "Dalam hal apa yang tidak adil?"
"Babak pertandingan terakhir ini bakal menentukan siapa.menang dia jadi Bengcu,
mana boleh dianggap seri? Kalau seri lalu siapa yang harus jadi Bengcu?"
"Keduanya bukan Bengcu," seru Han King-hong
"Jawaban yang tidak kenal aturan," cemooh Cun-ih Thong, "pertandingan menentukan
Bengcu sudah disetujui khalayak ramai, mungkinkah pertandingan ini boleh tidak usah
menentukan seorang Bengcu."
Ong Goan-tin menahan amarah, katanya: "Maksudku supaya mereka tidak perlu gugur
bersama, maka aku serukan supaya urusan ditempuh jalan damai. Tentang siapa bakal
merebut jabatan Bengcu, setelah pertandingan selesai, masih bisa kita bicarakan lagi."
"Menurut pendapatku," jengek Cun-ih Thong, "Sugong-thocu kini jelas berada di atas
angin, kurasa tidak mungkin akhirnya bakal gugur bersama."
Ong Goan-tin menguatirkan keselamatan jiwa Tan Ciok-sing dan In San, demi
mempertahankan jiwa mereka apa salahnya terima kalah dan tunduk di bawah
perintahnya. Tak nyana di kala mulutnya sudah terbuka belum sempat bersuara, tibatiba
didengarnya Tan Ciok-sing berkata: "Ong-locecu, menurut pendapatku perkataan
Cun-ih Siansing memang beralasan, babak terakhir ini harus ditentukan siapa kalah
dan menang."
Dalam saat-saat kritis mengadu tenaga dalam ternyata Tan Ciok-sing mampu bersuara,
bukan saja hadirin kaget. Tang-hay-liong-ong sendiripun tidak kurang kejutnya.
Dimakluminya bahwa Lwekang Tan Ciok-sing bukan tandingannya, kalau dia pantang
bersuara Tan Ciok-sing justru buka suara. Ternyata aliran Lwekang yang mereka
pelajari memang jauh berbeda.
Tang-hay-liong-ong meyakinkan Lwekang yang ganas tapi sekali bertempur harus
kerahkan seluruh tenaga, tumplek perhatian tidak boleh bicara. Tan Ciok-sing justru
meyakinkan Lwekang lunak berpupuk dasar kuat, berbicara hakikatnya tidak
mempengaruhi pengerahan tenaganya, namun sedikit akibat memang ada. Begitu
Tang-hay-liong-ong tambah tekanan tenaganya, Pek-hong-kiam di tangan Tan Cioksing
melengkung lebih rendah lagi.
Melihat dan mendengar Tan-Ciok-sing mampu bicara, hadirin bertempik sorak riuh
rendah. Han King-hong berkata dengan tawa lebar: "Bagus, Cun-ih Thong, hayo
bertaruh coba nanti buktikan pandangan siapa lebih tajam."
Dingin muka Cun-ih Thong, diam saja tidak memberi tanggapan, kini tiba gilirannya
menguatirkan keadaan Tang-hay-liong-ong.
Meski sedikit lega tapi Ong Goan-tin masih berkuatir juga. Dia tahu, Tan Ciok-sing bisa
bicara, itu pertanda dia kuat bertahan lebih lama dari dugaannya semula, tapi dia tidak
yakin apakah Ciok-sing berdua mampu mengalahkan Tang-hay-liong-ong.
Di kala hadirin tumplek seluruh perhatian ke tengah gelanggang, ada seorang
perempuan menggeremet masuk secara diam-diam. Tiada orang memperhatikan
kedatangannya, namun Kek Lam-wi justru melihat kedatangannya. Lam-wi tidak
percaya akan pandangan mata sendiri, tak terasa dia bersuara heran. Toh So-so
mendengar suara heran Lam-wi, lekas dia angkat kepala. Begitu dia melihat gadis itu,
sesaat diapun melongo, tapi hatinya kaget dan senang. Lekas dia memburu kesana
menyambutnya.
Gadis ini bukan lain adalah Bu Siu-hoa yang sedang dicari oleh Kek Lam-wi. Mereka
tidak tahu entah sembunyi di tempat sepi mana Bu Siu-hoa sekarang, sungguh tidak
nyana sekarang dia muncul sendiri, malah muncul di hadapan orang-orang gagah
sebanyak ini.
"Bu-cici, betapa payah kami mencarimu," seru Toh So-so menyongsong maju serta
menarik lengan Bu Siu-hoa.
Sikap Bu Siu-hoa agak kikuk dan risi katanya tergagap: "Toh-cici, aku berbuat salah
terhadap kau, aku menipumu."
"Kau telah menolong Lam-ko, belum sempat aku berterima kasih kepadamu, urusan
sudah lalu tidak usah disinggung lagi. Tapi bagaimana kau bisa datang kemari."
Belum lagi Bu Siu-hoa menjawab, tiba-tiba didengarnya Kek Lam-wi berteriak: "Awas
serangan gelap."
Toh So-so bertindak lebih cepat. "Tring" sebutir pelor duri yang terbuat dari besi telah
dipukulnya jatuh. Gerakan membalik melolos pedang serta memukul jatuh senjata
rahasia dilakukau secara mahir dan cepat seperti belakang kepalanya tumbuh mata
saja.
Kek Lam-wi berteriak pula "Si pendek yang duduk di pojok timur itulah penyerangnya,
lekas gusur dia keluar."
Belum habis dia berteriak tiba-tiba didengarnya si pendek itu sudah menjerit dan
terguling di lantai.
Bu Siu-hoa tertawa dingin, jengeknya: "Memberi tidak dibalas kurang hormat, biar
keparat itu juga rasakan senjata rahasia." Ternyata orang itu tersambit Bwe-hoa-ciam di
lutut, tepatnya di Hoan-tiau-hiat. Didalam kelompok orang-orang sebanyak ini dia
mampu menyambitkan jarum sekecil itu tepat kesasarannya, mau tidak mau hadirin
merasa kagum dan heran, tidak sedikit orang yang bisik-bisik, saling tanya: "Siapa
gadis ini?"
Si pendek yang membokong tadi merangkak duduk terus berteriak: "Perempuan
siluman ini adalah putri Bu-sam Niocu dari Bu-san-pang, ln Kip adalah ayah angkatnya,
pasti • In Kip mengutusnya kemari jadi mata-mata."
In Kip punya hubungan rahasia dengan pihak kerajaan, hal ini sudah terbongkar dan
diketahui banyak orang. Beberapa orang yang berangasan kontan memaki: "Bagus,
perempuan siluman ini berani bertingkah melukai orang disini, lekas bekuk dia."
Bu Siu-hoa bertolak pinggang, katanya dingin menuding si pendek: "Aku pernah
melihatnya, walau aku tidak tahu namanya, tapi aku tahu dia salah satu tamu
kepercayaan In Kip."
"Betul," timbrung Toh So-so teringat, "di rumah keluarga In, hari itu akupun pernah
melihatnya. Kini dia pura-pura menjadi kaum pendekar dan menyelundup kemari."
Beberapa lelaki kasar berangasan itu sudah memburu keluar hendak membekuk Bu
Siu-hoa mendengar perkataan Toh So-so, mereka sama melenggong saling pandang.
Si pendek berkata: "Jangan percaya obrolan perempuan siluman itu. Apapun dia
adalah putri Bu-sam Niocu dari Bu-san-pang yang sudah rusak namanya, putri angkat
ln Kip yang jahat dan kemaruk harta itu, coba kalian tanya dia berani tidak dia
mengaku?"
Tam Pa-kun berdiri, katanya: "Aku percaya perkataan nona Bu ini. Tapi dia memang
benar putri Bu-sam Niocu dari Bu-san-pang, tapi sekarang dia sudah insyaf dan
kembali ke jalan lurus, aku bisa menjadi saksi."
Bahwa Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun angkat bicara menjadi saksi kebenaran asal-usul
Bu Siu-hoa, sudah tentu hadirin lebih percaya kepada keterangannya.
Kek Lam-wi berdiri ikut bicara: "Akupun berani menjadi saksi, dia pernah menolong
jiwaku. Menurut apa yang kuketahui akhir kali ini, dia sudah meninggalkan Bu-san-pang
dan putus hubungan dengan ibunya."
Lenyap kecurigaan hadirin terhadap Bu Siu-hoa, maka perhatian kini ditujukan kepada
lelaki pendek itu, tanpa banyak bicara dua orang telah mencengkramnya keluar dan
hendak mengompresnya.
Tapi Tam Pa-kun berkata: "Gusur keluar dan sekap dulu keparat ini, nanti kita minta
keterangannya."
Dalam pada itu adu kekuatan tenaga dalam antara Tan Ciok-sing bersama In San
kontra Tang-hay-liong-ong tetap tertahan, keadaan tetap seperti tadi, sama-sama tegak
kaku seperti patung. Pertandingan seperti ini sudah tentu tidak lebih mengasyikkan dari
adu pukulan dan tipu menipu, bagi mereka yang rendah kepandaiannya, malah bosan
dan gerah rasanya. Tapi bagi para ahli silat, adu kekuatan seperti ini justru lebih
menegangkan, karena babak akhir dari adu kekuatan ini sebentar lagi bakal mencapai
klimaknya.
Mendengar seruan Tam Pa-kun baru hadirin sadar, karena kedatangan Bu Siu-hoa tadi
perhatian mereka jadi terpecah, kini kembali mereka memperhatikan adu kekuatan di
tengah arena pula.
Sudah tentu lebih banyak hadirin yang tidak bisa menyelami kehebatan adu kekuatan,
namun mereka bisa menduga ketenangan yang kelihatannya bertahan ini, suatu ketika
bakal meledak kesudahan yang menggemparkan. Maka mereka tidak mau pedulikan
urusan lain pula. Laki-laki berangasan tadipun maju minta maaf kepada Bu Siu-hoa lalu
si pendek itu diseret keluar.
Bu Siu-hoa berkata: "Tam Tayhiap, ada urusan penting perlu kulaporkan kepada Onglocecu."
"Baik, mari ikut aku," ujar Tam Pa-kun.
Bu Siu-hoa menjura kepada Ong Goan-tiri, katanya: "Siau-li datang tanpa diundang,
mohon maaf akan kehadiranku yang serampangan ini."
"Nona Bu jangan sungkan, entah ada urusan penting apa yang ingin kau sampaikan
kepada Lohu?"
"Soal ini kurasa harus kubeber di hadapan umum," kata Bu Siu-hoa. Nadanya seperti
urusan ini amat penting, sebelum meneruskan perkataannya dia bertanya pula kepada
Ong Goan-tin: "Tolong tanya, apakah orang yang bertanding melawan Tan-siauhiap
dan In Lihiap adalah Tang-hay-liong-ong Sugong Go?"
"Benar, dia memang Sugong thocu," sahut Ong Goan-tin
"Baiklah, syukur kedatanganku belum terlambat," ujar Bu Siu-hoa.
Belum habis dia bicara, tiba-tiba terdengar Tang-hay-liong-ong menggeram rendah dan
serak, suaranya seperti dengus sapi yang hendak disembelih. Maka tampak Tang-hayliong-
ong melangkah maju setapak.
Ong Goan-tin tidak perhatikan lagi apa yang diucapkan Bu Siu-hoa kepadanya, lekas
dia menoleh kesana menatap arena pertempuran.
Setelah Tang-hay-liong-ong maju setapak keadaan kembali bertahan sama kuat. Tapi
tapak kaki tampak membekas di atas lantai yang keras itu sedalam tiga senti. Pada hal
lantai balairung ini dilandasi batu hijau yang keras sekali, tapi kekuatan Tang-hay-liongong
mampu membuat bekas tapak kaki di atas lantai yang keras itu. Tan Ciok-sing dan
In San memang belum kalah, tapi melihat bekas tapak kaki itu mau tidak mau hadirin
sama tersirap dan berkuatir bagi mereka.
Toh So-so lebih gelisah dari Ong Goan-tin, katanya: "Bu-cici, ada urusan apa, lekas kau
katakan saja."
Bu Siu-hoa berkata: "Ong-locecu kumohon kau membaca sepucuk surat."
Ong Goan-tin melenggong, katanya: "Surat siapa?" tapi dia sudah tidak sempat banyak
pikir, karena dia menduga surat ini pasti amat besar artinya bagi situasi yang
dihadapinya sekarang, kalau tidak Bu Siu-hoa tidak akan suruh dirinya melihat surat
dalam keadaan segawat ini.
Maka Bu Siu-hoa berkata: "Yaitu surat Tang-hay-liong-ong ini ditujukan kepada In Kip."
Hadirin kaget dan heran, tanpa sadar mereka tujukan perhatian pada surat yang berada
di tangan Ong Goan-tin.
Ong Goan-tin langsung melolos sepucuk surat dari sampulnya terus dibeber dan
dibaca, mimik mukanya tampak kaget dan terbelalak girang. Sekilas matanya melirik ke
arah Tang-hay-liong-ong, dilihatnya rona muka Tang-hay-liong-ong berubah hebat, tapi
sepasang senjatanya masih menekan keras dan berat, sedikitpun tidak menjadi kendor
meski keadaan gawat mulai mengancam pihaknya, keringat sebesar kacang telah
berketes di jidat Tan Ciok-sing dan In San terasa tekanan tenaga lawan bertambah
lebih keras lagi.
Akhirnya Toh So-so yang tidak sabaran bertanya: "Apa yang ditulis dalam surat itu?"
"Nona Bu," tanya Ong Goan-tin, "apakah surat ini. boleh kubacakan di muka umum?"
"Memang tujuanku supaya seluruh orang-orang gagah yang hadir disini tahu siapa
sebenarnya dan bagaimana karakter Tang-hay-liong-ong ini," demikian sahut Bu Siuhoa.
Makin buruk rona muka Tang-hay-liong-ong, sayang dia tidak berani memecah
perhatian untuk bersuara, terpaksa dia biarkan Ong Goan-tin membaca suratnya itu.
Perlahan suara Ong Goan-tin: "Surat Sugong-thocu ini ditujukan kepada In Kip, dia
memperkenalkan dua orang sahabatnya, seorang ialah Tang-bun Cong dan seorang
lagi adalah Poyang Gun-ngo. Kedua orang ini sudah datang ke Soh-ciu, diaa minta
kepada In Kip supaya menerima mereka secara rahasia dan di tempatkan ke suatu
tempat yang tersembunyi pula, dengan suatu tugas besar yang akan diserahkan
kepada mereka."
Tang-bun Cong adalah salah satu jago kosen di dunia persilatan, bahwa diam-diam dia
sudah menjadi antek kerajaan, jarang kaum persilatan yang tahu, tapi ada juga orang
yang sudah tahu akan rahasianya. Tapi siapa Poyang Gun-ngo jarang orang tahu.
Seperti diketahui Poyang Gun-ngo adalah salah satu Busu negeri Watsu yang terkenal
tapi kaum persilatan di Kanglam hanya beberapa gelintir saja yang pernah mendengar
nama dan tahu asal-usulnya.
Banyak hadirin yang kasak-kusuk tanya sini tanya sana: "Siapakah sebetulnya Poyang
Gun-ngo?"
Maka Kek Lam-wi berdiri dan berkata dengan lantang: "Poyang Gun-ngo adalah salah
satu dari empat jago pedang kepercayaan Khan agung negeri Watsu. Waktu negeri
Watsu mengutus Duta rahasianya ke Pakkhia tempo hari, Poyang Gun-ngo adalah
salah satu dari pengawal Duta rahasia itu. Setelah Duta rahasia itu^ menyelesaikan
tugasnya dan kembali ke negerinya, seorang diri ternyata dia tetap berada di Pakkhia,
tahu-tahu sekarang sudah berada di daerah Kanglam di I uar tahu orang banyak. Kali
itu aku kecundang dan terluka di bawah tangannya. Tan Ciok-sing juga pernah bertemu
dangan dia di hotel milik In Kip."
Keterangan Kek Lam-wi sekaligus membongkar asal-usul Poyang Gun-ngo juga
membeber isi surat Tang-hay-liong-ong yang ditujukan kepada In Kip. Bahwa setelah
berada di Soh-ciu Poyang Gun-ngo memang bersekongkol dengan In Kip.
Karuan hadirin menjadi gempar. Han King-hong yang berangasan lantas berteriak:
"Bagus ya, Sugong-thocu tadi menyerukan orang-orang gagah seluruh pelosok tanah
air supaya angkat senjatanya melawan serbuan bangsa Watsu, diluar tahu kita dia
justru berintrik dengan pihak musuh."
Ih Ti-bin ikut menjengek dingin, serunya: "Bukan hanya sekongkol dengan seorang
Busu dari Watsu saja, apa tujuan Poyang Gun-ngo datang ke Kanglam, kita sudah
tahu. Agaknya hanya di mulut saja Sugong-thocu bilang kita harus seia sekata
membendung serbuan bangsa asing, secara diam-diam dia justru bekerja demi
kepentingan musuh."
Perhatian hadirin terpencar karena kejadian yang tidak terduga ini, kini baru mereka
sadar duduknya perkara, maka perhatian kembali ditujukan ke arena pertempuran.
Tampak perawakan Tang-hay-liong-ong seperti mengkerat, ternyata saking besar
tenaga yang dia kerahkan, tanpa terasa kedua kakinya amblas kedalam tanah.
Sebaliknya Tan dan In masih berusaha bertahan dengan susah payah, sepasang
pedang mustika sudah melengkung seperti gendewa yang ditarik. Walau hadirin kaget
dan berkuatir bagi mereka, tapi kelihatannya sikap mereka masih lebih segar dari pada
Tang-hay-liong-ong yang sudah kelihatan runyam.
Kuatir Tan dan ln tidak kuat benahan lagi, lekas Ong Goan-tin berseru: "Cun-ih
Siansing, menurut pendapatmu bagaimana?"
Cun-ih Thong sengaja bersikap tak acuh dan adem ayem, katanya: "Nona Bu ini dulu
memang pernah menjadi putri angkat In Kip, tapi bagaimana juga surat rahasia ini tidak
mungkin In Kip mau menyerahkan kepada dia? Maka tolong tanya kepada nona Bu dari
mana kau peroleh surat ini?"
"Aku pernah menjadi sekretaris pribadi In Kip, dimana dia menyimpan surat-surat
penting aku tahu dengan jelas, surat ini sengaja kucuri."
Kalem perkataan Cun-ih Thong: "Maaf bila aku menilai dirimu dengan sikap seorang
rendah, apakah kau punya bukti bahwa surat rahasia ini memang benar tulisan tangan
langsung dari Sugong-thocu? Maka menurut pendapatku, biarlah kita tunda dulu urusan
ini setelah pertandingan usai, nanti kita dengar pembelaan langsung Sugong-thocu di
hadapan umum. Kalau sekarang juga membuat kesimpulan kurasa masih belum
saatnya."
Tiba-tiba Ong Goan-tin berkata: "Segera aku bisa memberikan buktinya."
Lalu dia keluarkan kartu nama Sugong-thocu, menurut lazimnya sebelum naik ke atas
gunung Tang-hay-liong-ong memang sudah suruh anak buahnya mengirim kartu
namanya ke markas Ong Goan-tin. Katanya: "Cun-ih Siansing silahkan kau periksa
kartu namanya ini coba periksa gaya tulisan Sugong-thocu di atas kartu nama ini,
apakah mirip dengan tanda tangan di bawah surat rahasia ini?"
"Ah, gaya tulisan atau tanda tangan kan bisa dipalsu," demikian debat Cun-ih Thong.
"Mana mungkin nona Bu pernah melihat gaya tulisan Tang-hay-liong-ong serta
memalsunya?" bantah Ong Goan-tin.
"Bagaimana juga, urusan harus diselesaikan setelah pertan-dingan ini usai, biar mereka
yang bersangkutannya."
"Persoalan surat ini tulen atau palsu jauh lebih penting dari pemilihan Bengcu itu
sendiri. Kalau Sugong-thocu ingin membela diri, pertandingan boleh ditunda
sementara." Pada hal kedua pihak sudah mengerahkan seluruh kekuatan dalamnya,
sudah tiba saat-saat paling genting. Ong Goan-tin kuatir'Tan dan In tidak kuat benahan
lagi.
Kalau Ong Goan-tin bicara dengan suara lantang berpegang kebenaran. Cun-ih Thong
sebaliknya kelihatan bimbang. Otaknya tengah menerawang, bagaimana dia harus
bersikap supaya waktu bisa terulur lebih lama sehingga Tang-hay-liong-ong bisa
menggunakan waktu dengan baik mencapai kemenangan pertandingan babak terakhir
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tang-hay-liong-ong meraung rendah. Pandangan
hadirin serempak tertuju ke tengah arena pertempuran.
Di tengah raungan Tang-hay-liong-ong itu tampak tubuhnya tiba-tiba mencelat mumbul
ke atas, jubin di sekitar kakinya tampak retak berantakan. Sebaliknya Tan dan ln
berdua berputar laksana gangsingan, beruntun mereka mundur berkisar beberapa
putaran.
Karuan hadirin berjingkat kaget dan kuatir semua melongo.
It-cu-king-thian Lui Ting-gak bersuara lebih dulu dengan nada riang dan senang:
"Bagus. Syukurlah. Tan-siauhiap dan In Lihiap memenangkan pertandingan babak
terakhir ini."
Belum lenyap suara kejut para hadirin baru sekarang mereka melihat jelas setelah
mencelat turun dan berdiri tegak, tampak pakaian di depan dada Tang-hay-liong-ong
koyak silang bersilang seperti palang merah jelas itu hasil goresan ujung pedang
mustika Tan Ciok-sing dan In San. Setelah berkisar beberapa bundaran, beruntun Tan
dan In mundur tujuh delapan langkah baru berhasil menegakkan pula tubuh mereka.
Agaknya Tang hay-liong-ong menjadi kacau pikirannya sejak Bu Siu-hoa muncul
membeber surat rahasianya kepada In Kip, maka akhirnya dia berkeputusan untuk
secepatnya mengakhiri pertempuran ini dengan seluruh sisa kekuatan tenaga
dalamnya.
Hasilnya meski dia berhasil memukul mundur kedua lawannya, tapi dia tetap tidak
berhasil melukai mereka. Sebaliknya hampir saja dadanya koyak oleh permainan
sepasang pedang lawan.
Sayang sekali Tan dan In berdua tergetar mundur oleh getaran keras senjata berat
lawan, meskipun dalam keadaan sekejap itu mereka sempat memanfaatkan
kesempatan dengan kecepatan gerak pedang mereka, paling juga hanya berhasil
menggores koyak baju di depan Tang-hay-liong-ong, tak urung mereka sendiri tertolak
mundur oleh getaran tenaga lawan yang dahsyat. Bila getaran tenaga senjata berat
Tang-hay-liong-ong sedikit lemah lagi, sepasang pedang mustika mereka pasti sudah
membelah dada Tang-hay-liong-ong.
Diam-diam hadirin merasa sayang, namun walau tidak berhasil melukai Tang-hay-liongong
betapapun Tan dan In sudah merebut kemenangan. Surat itu tulen atau palsu tidak
penting lagi artinya, apapun sekarang Tang-hay-liong-ong tidak berhak lagi merebut
kedudukan Bengcu. Karuan hadirin banyak yang berjingkrak senang dan bersorak
sorai. Lekas Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun memburu maju memapah Tan Ciok-sing,
sebelah telapak tangannya menekan punggung, diam-diam dia salurkan tenaga
dalamnya ke tubuh orang supaya tenaganya lekas pulih, katanya: "Hianti syukurlah
jerih payahmu berhasil."
Getaran yang dialami In San tidak sekeras yang diterima Tan Ciok-sing, lekas dia
memapak ke arah Bu Siu-hoa, katanya pegang lengan orang: "Bu-cici, kali ini
beruntung dapat bantuanmu. Hari itu kau telah membantu kami, belum sempat kami
mengucapkan terima kasih kepadamu. Betapa rindu kami kepada kau, kali ini kuharap
kau tidak pergi pula secara diam-diam lho."
Panas muka Bu Siu-hoa, hatinya haru dan tentram, sesaat lamanya matanya berkedipkedip
tak mampu mengeluarkan suara.
Kejut dan gembira agak mereda, sementara itu terjadi pula keributan antara dua
rombongan orang yang berada di dua pihak. Tang-hay-liong-ong mencak-mencak
gusar bentaknya. "Kalian sengaja menyuruh budak she Bu ini mengacau untuk
memecah perhatianku, apakah pertandingan ini boleh dikata adil?"
Pihak orang-orang gagah menjadi geger, Han King-hong segera menanggapi: "Sugong
Go, belum lagi kami mengusut persekongkolanmu dengan pihak Watsu, serta dosa
besarmu menipu seluruh orang-orang gagah yang hadir disini, berani kau mencakmencak
mencari perkara disini."
Ih Ti-bin ikut mencemooh: "Muslihatmu sudah terbongkar, masih berani kau mau
angkat diri menjadi Bengcu, apakah tidak menggelikan. Hm, kau tamak harta dan gila
pangkat, rela menjual bangsa dan negara, kenapa tidak kau beset saja mukamu di
hadapan umum. Nah bukalah kedokmu, jangan pura-pura mengagulkan diri-sebagai
orang gagah segala, lekas ngacir saja ke negeri Watsu, pintalah kepada Khan Agung
Watsu untuk mengangkatmu menjadi menteri atau pembesar apa saja menurut
keinginanmu sendiri."
Dari malu Tang-hay-liong-ong naik pitam bentaknya gusar. "Hari ini aku datang untuk
memberi selamat ulang tahun kepada Ong-cecu aku tidak sudi mendengar kotbah
kalian. Bulim Bengcu dapat tidak kuraih tidak jadi soal, tapi jangan sekali-sekali kau
berani bertingkah pula di depanku. Menurut aturan Kangouw, siapa kuat dia menang,
memangnya kalian mau apa sekarang?"
Anak buah Tang-hay-liong-ong segera ikut-ikutan berkaok-kaok: "Memangnya, bila
mereka mau cari gara-gara menghina Thocu kita hayolah gasak saja."
Sudah tentu pihak orang-orang gagah semakin mendidih, serempak mereka telah
melolos senjata siap melabrak musuh, kebanyakan berpendapat untuk menahan
mereka disini sehingga situasi menjadi tegang.
Ih Ti-bin berteriak: "Kalian ingin main kekerasan, kamipun sudah siap, memangnya
kami takut?"
Tang-hay-liong-ong menyeringai sadis: "Baiklah boleh kalian maju, coba saja apa kalian
mampu menahan diriku disini?"
"Kungfumu memang tinggi, mungkin kami tidak mampu menahan disini," demikian
debat Ih Ti-bin, "tapi jangan kau kira bisa keluar dari bilangan Thay-ouw dengan masih
hidup. Ketahuilah bila pertempuran terjadi disini, perahu kalianpun sudah berada di
tangan kami, sekali ledakan cukup menghancurkan kapal itu. Umpama kalian tidak mati
dalam pertempuran juga akan mati kelaparan di atas gunung."
Anak buah Tang-hay-liong-ong memang tidak sedikit jumlahnya tapi apapun mereka
berada di markas Ong Goan-tin, situasi jelas tidak menguntungkan mereka Umpama
ancaman Ih Thi-bin menjadi kenyataan mereka tidak berhasil lolos dari Thay-ouw,
meski memiliki Kungfu tinggi juga tiada harapan hidup lagi. Oleh karena itu lahirnya saja
mulut anak buah Tang-hay-liong-ong masih garang, pada hal dalam hati sudah jeri dan
kebat-kebit.
Ong Goan-tin diam-diam menerawang keadaan di pihak Tang-hay-liong-ong, Lamkiong
King dan Liu Yau-hong sudah terluka, tapi masih ada Tong-pck-siang-ki, Hiap-tiongsam-
koay dan Sat-to begal kuda kelahiran Kwan-tiong dan jago-jago tangguh lainnya,
bila pertempuran besar terjadi, umpama musuh berhasil dibabat habis, korban di pihak
sendiri juga pasti cukup berat. Maka mumpung Tang-hay-liong-ong kelihatan bimbang
dan lembek semangatnya, segera dia berdiri membuka suara.
"Hadirin diharap tenang," Ong Goan-tin tampil ke depan, suaranya lantang. "Hari ini
adalah hari kelahiranku, banyak terima kasih kalian sudi datang menghadiri perjamuan
sederhana ini, apapun maksud kedatangan kalian, betapapun hari ini kalian adalah
tamu-tamuku. Sebagai mana lazimnya sebagai tuan rumah tidaklah pantas aku berlaku
kurang hormat terhadap para tamunya, tapi akupun mengharap para tamu suka
memberi muka kepadaku, jangan sampai terjadi keributan yang tiada gunanya disini.
Akan tetapi Sugong-thocu tadi bilang hendak menyampaikan selamat kepadaku, terus
terang aku tidak berani menerimanya. Kalau sudi kau memberi muka kepadaku,
silahkan minum secangkir arak suguhanku ini dan silahkan berlalu saja."
Pidatonya mengandung beberapa maksud. Pertama, dia bilang sebagai mana
lazimnya, secara tidak langsung dia mau bilang, bila Tang-hay-liong-ong ingin
menggunakan kekerasan dia pasti "mengiringi". Kedua bahwasanya Tang-hay-liongong
belum mengeluarkan pernyataan mohon diri, tapi Ong Goan-tin menyuguhnya
secangkir arak baru menyilakan tamunya berlalu seolah-olah Tang-hay-liong-ong sudah
berpamitan kepadanya, ini jelas sudah mengusirnya secara halus. Tapi dia pandai
merangkai pidatonya sehingga Tang-hay-liong-ong tidak merasa malu karena
pamornya tidak dibikin jatuh di muka umum. Ketiga ucapannya hanya ditujukan kepada
mereka yang mengandung maksud jahat, maka dia menggunakan istilah hari ini
betapapun kalian adalah tamuku, jadi maksudnya setelah hari ini, orang-orang tertentu
bukan lagi tamunya, kalau bukan tamunya sudah tentu bukan teman atau sahabatnya
lagi.
Pidatonya memang masuk akal dan dapat diterima oleh segala pihak, maka hadirin
tiada yang membantah, Han King-hong berseru: "Baiklah, demi memberi muka kepada
Ong-cecu biarlah hari ini kita memberi kelonggaran kepada mereka."
Tang-hay-liong-ong memang pandai kendalikan biduk sesuai arah angin, dirinya tidak
dibuat malu di muka umum, maka diapun tidak berani membuat keributan lagi meski
sikapnya kelihatan kikuk dan runyam, tapi dia masih bisa tertawa lebar, katanya
lantang. "Kedatanganku bermaksud baik, kalian justru salah paham dan mencurigai
aku. Baiklah untuk memberi muka kepada Ong-cecu kejadian hari ini tidak akan
kuambil dalam hati, tapi kekalahanku hari ini tidak akan dilupakan, kelak masih ada
waktu untuk membuat perhitungan dengan kalian. Suguhan arak ini biar tidak usah
kuminum, mohon pamit saja." Lekas sekali orang-orang Tang-hay-liong-ong sudah
meninggalkan ruang perjamuan ini. Ki-gi-ting kembali dalam suasana pesta pora yang
riang gembira, banyak orang berjingkrak menari dan menyanyi.
Di kala perjamuan berlangsung, tiba-tiba Ih Ti-bin memberi laporan kepada Ong Goantin:
"Ha It-seng dan Su Kian entah kemana perginya sudah kusuruh orang mencari
mereka tidak ketemu."
Han King-hong berjingkrak gusar, serunya: "Melihat kelakuan mereka hari ini, aku jadi
curiga mungkin mereka ikut ngacir bersama Tang-hay-liong-ong."
"Jangan menuduh mereka yang bukan-bukan," ujar Ong Goan-tin, "selidiki dulu
persoalannya baru ambil kesimpulan. Bila mereka memang benar sudah pergi, biarkan
saja."
"Betul," ujar lh Ti-bin, "bila mereka musuh dalam selimut, tak ubahnya bisul dalam
perut, lebih baik sebelum saatnya dia sudah ngacir lebih dulu."
Mendengar orang banyak membicarakan Ha It-seng dan Su Kian yang melarikan diri,
tiba-tiba Toh So-so teriak kepada In San dan Tan Ciok-sing, katanya: "In-cici, Tan-toako
kalian melihat Bu Siu-hoa tidak?"
In San sadar dan terkejut, katanya: "Sesudah kami mengalahkan Tang-hay-liong-ong
tadi aku sempat bicara beberapa patah kata dengan dia, belakangan suasana agak
ribut, entah kemana dia pergi?"
"Memangnya, akupun akan menyatakan terima kasih kepadanya tahu-tahu orangnya
sudah tak kelihatan lagi," demikian timbrung Tan Ciok-sing.
Lenyapnya Bu Siu-hoa tidak boleh dibanding menghilangnya Ha It-seng dan Su Kian
maka Ong Goan-tin suruh anak buahnya berpencar mercarinya, tak nyana setelah
perjamuan usai Bu Siu-hoa tetap tidak ditemukan jejaknya.
Kek Lam-wi tidak tega, hidangan-hidangan tidak tertelan lagi, katanya: "Dia dilahirkan
dari golongan sesat, mungkin dia kuatir dihina dan dipandang rendah, maka diam-diam
meninggalkan kita?"
Ong Goan-tin berkata: "Jasanya hari ini paling besar, kukira dia sendiri maklum akan
hal ini, lalu siapa berani memandang rendah kepadanya. Tak mungkin hanya karena
soal sepele ini dia pergi dari sini?"
"Ya kukuatirkan justru dia tidak punya pikiran sejernih kita," ucap Lam-wi. Ong Goan-tin
segera menghibur: "Menurut analisa, tidak mungkin Bu Siu-hoa ikut naik kapal Tanghay-
liong-ong, kalau dia mau meninggalkan Thay-ouw, pasti menggunakan perahu kita.
Ada petugas khusus yang menyambut dan mengantar para tamu keluar masuk,
umpama ada tamu yang datang naik perahunya sendiri, setelah mereka mendarat,
orang kita juga yang mengurus perahunya, bila tahu siapa saja meninggalkan
pangkalan, orang-orangku pasti tahu. Kenyataan mereka tiada yang memberi laporan,
kuduga nona Bu belum meninggalkan tempat ini. Cepat atau lambat jejaknya pasti
ketemu."

Related Posts: