Cerita seks Kerajaan: Si Pedang Tumpul 3

Ketika mereka tiba di luar, mereka melihat tiga orang
berpakaian tosu (pendeta Agama To) berdiri di luar pintu. Tiga
orang itu begitu melihat yang muncul seorang wanita cantik
dan seorang anak laki-laki, segera memberi hormat dengan
mengangkat kedua tangan depan dada dan membungkuk.
"Nyonya muda, harap maafkan kami bertiga kalau kami
mengganggu nyonya dengan kedatangan kami," kata PekTiraikasih
mau-sian Thio Ki yang menjadi juru bicara mereka karena dia
yang paling pandai bicara, juga sikapnya halus dan sopan,
tidak seperti Ciu-sian yang biarpun pandai bicara pula, namun
ugal-ugalan dan terbuka.
Melihat sikap mereka yang sopan, Ju Bi Ta juga membalas
penghormatan mereka.
"Tidak mengapa, akan tetapi siapakah sam-wi to-tiang
(bapak pendeta bertiga) dan ada keperluan apakah dengan
kami?"
"Kami datang berkunjung untuk bertemu dengan saudara
Se Jit Kong karena kami mempunyai urusan penting untuk
dibicarakan dengan dia. Adapun saya bernama Thio Ki, dua
orang saudara ini bernama Tong Kui dan Louw Sun. Kami
datang dari jauh, dari timur, dari kota raja Nan-king." kata
pula Dewa Rambut Putih.
"Hemm, apakah sam-wi (anda bertiga) datang untuk
merampas benda-benda pusaka milik ayah ?" tiba-tiba Sin
Wan bertanya dengan suara lantang dan terlambatlah ibunya
untuk mencegah dia mengajukan pertanyaan yang
dianggapnya tidak sopan itu.
"Ha ha ha ha, anak baik. Apakah engkau putera Se Jit
Kong?"
"Benar, aku puteranya, namaku Sin Wan."kata anak itu
dengan tabah. "Kalau sam-wi datang untuk merampas pusaka,
lebih baik sam-wi segera pergi lagi saja, jangan sampai dihajar
oleh ayahku seperti tigabelas orang tempo hari,"
"Ha ha ha ha, sungguh hebat. Engkau jujur dan juga
lembut, menyenangkan sekali, Sin Wan. Anak baik, apakah
kaullhat kami bertiga ini seperti perampok-perampok?" kata
pula Dewa Arak sambil tersenyum lebar, perutnya yang
gendut terguncang dan mukanya menjadi semakin merah dan
cerah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sin Wan memandang wajah si gendut itu, juga wajahnya
yang penuh tawa dan nampak gembira dan lucu. "Terus
terang saja, totiang (bapak pendeta), kalau melihat totiang ini
bukan seperti perampok, lebih mirip seperti seorang
pemabok."
"Sin Wan ......!" ibunya menegur lagi. Heran ia mengapa
puteranya yang biasanya lembut itu kini nampak seperti orang
yang tidak sabaran. Hal ini ditimbulkan karena peristiwa tiga
hari yang lain.
"Wah, ha ha ha! Engkau ini kecil-kecil sudah pandai melihat
sampai ke dasarnya! Memang aku pemabok, memang aku
tukang minum arak, ha ha!" kata pula Ciu-sian Tong Kai
sambil tertawa bergelak. Suara ketawanya yang lepas itu
setengah disengaja, mengandung khi-kang sehingga suaranya
bergema sampai ke dalam rumah.
Akalnya ini berhasil. Suara ketawa yang amat nyaring ttu
menyusup sampai ke dalam kamar dan ke dalam telinga Se Jit
Kong, menggugahnya dari samadhi. Se Jit Kong mengerutkan
alisnya, merasa terganggu oleh suara tawa bergelak itu dan
diapun tahu bahwa kembali ada orang yang datang hendak
mengganggunya. Mukanya menjadi kemerahan dan dia pun
segera bangkit, berganti pakaian baru dan keluar dari dalam
kamar, langsung menuju keluar.
Dan begitu melihat pria tinggi besar yang gagah perkasa itu
keluar. Tiga Dewa yang belum pernah berjumpa dengan Si
Tangan Api itu, segera memberi hormat kepadanya.
"Hemm, apa yang terjadi di sini ?" tanya Se Jit Kong tanpa
memperdulikan penghormatan yang diberikan tiga orang tosu
itu. Dia tidak membalas penghormatan mereka dan
mengajukan pertanyaan yang mengandung teguran itu.
Isterinya berkata dengan nada lembut dan menyabarkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tiga orang totiang ini datang dari timur, dari Nan-king dan
mereka mempunyai urusan untuk dibicarakan denganmu.
Harap kau sambut tamu-tamu jauh ini dengan baik-baik."
Se Jit Kong mengerutkan alisnya dan mengangguk. Hatinya
masih mendongkol karena merasa terganggu, akan tetapi
diam-diam dia, terkejut juga mendengar bahwa mereka
datang dari Nan-king, dan segera dia dapat menduga bahwa
tentu kedatangan mereka ini ada hubungannya dengan
benda-benda pusaka yang dicurinya dari gedung pusaka
kaisar di Nan-king.
"Aku tidak mengenal sam-wi (anda bertiga) ......." katanya
dengan setengah hati.
"Ayah, mereka bilang tidak datang sebagai perampok yang
hendak merampas benda-benda pusaka milik ayah," tiba-tiba
Sin Wan berkata.
"Sebaiknya kalau ada urusan dibicarakan di dalam Sam-wi
to-tiang, mari silakan masuk ke ruangan tamu,” kata Ju Bi Ta
dengan sikap ramah.
Tiga orang tosu itu memandang kepada tuan rumah.
"Terima kasih, nyonya, kami suka sekali kalau saja sicu (orang
gagah) Se Jit Kong memperbolehkan," kata Thio Ki ragu-ragu.
"Hemm, isteriku sudah mempersilakan kalian masuk,
kenapa masih bertanya lagi? Masuklah dan cepat ceritakan
apa maksud kedatangan kalian."
Tiga orang tosu itu mengikuti tuan dan nyonya rumah
memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri depan.
Ruangan yang cukup luas, di mana terdapat meja kursi yang
nyaman.
Ji Bi Ta sengaja tidak meninggalkan suaminya sekali ini,
karena ia tidak ingin suaminya membuat ribut dan perkelahian
Iagi. Ia merasa yakin bahwa kalau ada terjadi keributan,
hanya ia seoranglah yang akan mampu mengendalikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suaminya dan mencegah terjadinya keributan. Karena ia tetap
di ruangan tamu, Sin Wan juga mendapatkan kesempatan
untuk ikut pula hadir dan mendengarkan. Dan biarpun Se Jit
Kong merasa tidak senang dengan kehadiran isteri dan
puteranya, dia tidak berani mengusir isterinya dan
kemarahannya dia tumpahkan kepada tiga orang tamunya.
"Nah, cepat bicara. Siapa kalian dan mau apa kalian
mencariku!" katanya ketus.
Sikap Se Jit Kong ini berwibawa sekali, dan biasanya para
calon lawannya sudah merasa gentar dibuatnya, seperti
wibawa seekor harimau kalau mengaum dan dengan wibawa
auman itu sudah mampu melumpuhkan korbannya. Akan
tetapi, tiga orang tosu itu nampak tenang saja.
Dewa Arak bersikap acuh, memandang ke sekeliling seperti
mengagumi keindahan hiasan ruangan Itu, lalu mengambil
guci arak yang diselipkan di gendongannya dan
mengguncangnya untuk mengetahui isinya. Diteguknya arak
dari mulut guci dan wajahnya nampak gembira sekali seperti
menikmati araknya yang sedap. Si Dewa Pedang nampak
tenang, menatap wajah tuan rumah dan diam saja, karena
seperti juga Dewa Arak, dia menyerahkan pembicaraan
kepada rekannya, yaitu Dewa Rambut Putih.
Jilid 2
PEK-MAU-SIAN THIO Ki tersenyum ramah. "Sicu (orang
gagah), maafkan kalau kunjungan kami mengganggu. Saya
bernama Thio Ki, dan kedua orang teman saya ini bernama
Tong Kui dan Louw Sun. Kami bertiga datang berkunjung
dengan dua tugas."
"Aku tidak mengenal kalian, tidak mempunyai urusan
dengan kalian. Persetan dengan tugas kalian, tidak ada
sangkut pautnya dengan aku!" Se Jit Kong memotong dengan
ketus pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Justeru kedua tugas kami ini mempunyai hubungan erat
denganmu, sicu, sebagai akibat dari apa yang telah sicu
lakukan."
Sepasang mata yang seperti mata harimau itu berkilat. Tak
salah dugaannya, mereka ini tentu datang karena urusan
pusaka-pusaka dari istana! Marahlah dia dan kalau saja di situ
tidak ada isterinya, tentu sudah diterjangnya tiga orang itu
tanpa banyak peraturan lagi. Akan tetapi, ketika dia melirik ke
arah isterinya, dia melihat isterinya memandang kepadanya
dan dalam pandang mata itu seperti dilihatnya isterinya
menggeleng kepala melarang dia membuat keributan.
“Perduli apa kalian dengan apa yang kulakukan? Cepat
katakan, apa urusan itu, tidak perlu bicara berbelit-belit seperti
nenek-nenek yang bawel!" bentaknya.
"Heh-heh, Dewa Rambut Putih, menghadapi seorang kasar
seperti Se Jit Kong ini, percuma engkau menggunakan segala
macam tata-susila. Katakan saja dengan singkat dan padat
apa yang menjadi keperluan kita!" Si Dewa Arak mencela
sambil tertawa.
Pek-mau-sian Thio Ki juga memperlebar senyumnya dan
seperti seorang yang kegerahan, dia membuka kipasnya dan
mengipasi tubuh bagian leher. Pada hal, sesungguhnya dia
bukan hanya mengipas untuk mencari angin, melainkan
gerakan itu disertai kekuatan batin untuk menolak sihir yang
diam-diam dilancarkan oleh Se Jit Kong untuk menyerangnya.
Tuan rumah ahli silat dan ahli sihir itu ingin memaksanya
bicara menurut kehendak hati Se Jit Kong yang tidak ingin
mereka bicara sesukanya di depan isterinya! Se Jit Kong
merasa betapa kekuatan sihirnya buyar seperti asap yang
disambar angin dari kipas.
"Hayo bicara, jangan seperti kanak-kanak!" bentaknya
semakin penasaran dan marah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dengarlah baik-baik, Se Jit Kong. Tugas kami yang
pertama merupakan tugas yang ka¬mi terima dari Kaisar
Kerajaan Beng-tiauw, dan inilah tanda kekuasaan yang
diberikan kepada kami."
Dewa Rambut Putih mengeluarkan sebuah tek-pai (bambu
tanda kuasa) dan memperlihatkannya kepada Se Jit Kong
yang memandang sambil lalu saja.
Dewa Rambut Putih menyimpan kembali tek-pai itu di saku
bajunya.
"Adapun tugas itu adalah untuk mencari dan merampas
kembali benda-benda pusaka yang hilang dari gudang pusaka
istana. Maka kami datang berkunjung dan minta kepada sicu
untuk menyerahkan benda-benda pusaka itu kepada kami."
Ju Bi Ta memandang kepada suaminya dengan kedua mata
terbelalak.
"Ya Allah! Engkau mencuri pusaka dari istana kaisar? Kalau
benar, kembalikan barang-barang haram itu!"
Se Jit Kong memandang kepada isterinya dan sungguh
aneh, ketika dia bicara, lenyap semua kekerasannya dan
suaranya terdengar lembut.
"Ju Bi Ta, harap engkau tidak mencampuri urusan ini."
Cepat dia menoleh kepada tiga orang tamunya.
"Cepat katakan, apa tugas kedua agar aku dapat segera
memberi keputusan dan jawaban!"
Si Dewa Rambut Putih Thio Ki memandang dengan wajah
cerah. Datuk besar yang amat jahat ini ternyata mempunyai
kelemahan yang sama sekali tidak disangkanya, yaitu takut
dan tunduk kepada isterinya yang muda dan cantik! Mungkin
kelemahan datuk ini akan membuat tugas mereka semakin
mudah dan ringan, kalau bisa bahkan tanpa kekerasan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tugas kedua datang dari para ketua partai persilatan, di
antaranya dari Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Butong-
pai yang minta bantuan kepada kami untuk
mengundangmu menghadiri pertemuan yang akan mereka
adakan, di mana sicu diminta untuk mempertanggung
jawabkan kematian dan terlukanya banyak tokoh mereka."
Se Jit Kong mengepal kedua tangannya, mukanya menjadi
merah sekali dan matanya seperti memancarkan api, bahkan
kedua tangannya perlahan-lahan berubah menjadi merah
seperti baja membara dan mengepulkan uap putih! Akan
tetapi, begitu melirik kepada isterinya, kemarahannya
menurun seperti api yang tidak mendapat udara, akan tetapi
suaranya masih ketus ketika dia berkata kepada tiga orang
tamunya.
"Untuk kedua urusan itu, jawabanku hanya satu. Bendabenda
pusaka itu kudapatkan dengan kepandaian. Kalau
kalian ingin mendapatkannya, kalian harus mampu
merampasnya dariku! Dan kedua, kalau kalian ingin membawa
aku ke timur, kalian harus mampu meringkusku. Pendeknya,
kalian bertiga harus dapat mengalahkan aku!"
"Heh, heh, sudah kuduga. Berurusan dengan datuk sesat
tak mungkin menggunakan cara damai," kata pula Dewa Arak
dan tiga orang tosu itu sudah bangkit berdiri. Juga Se Jit Kong
bangkit berdiri.
"Aku tidak menghendaki kalian membikin ribut di dalam
rumah ini!" kata Ju Bi Ta dengan suara mengandung
kekhawatiran.
Sedangkan Sin Wan hanya memandang saja. Diam-diam
dia terkejut mendengar bahwa ayahnya telah mencuri bendabenda
pusaka dari istana kaisar. Kini tahulah dia bahwa
benda-benda pusaka yang demikian dibanggakan ayahnya itu
adalah barang-barang curian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada hal, ibunya selalu mengharamkan barang curian!
Tentu hal itu dilakukan di luar tahu ibunya. Dan ayahnya telah
membunuh dan melukai para tokoh partai-parta persilatan
besar sehingga kini mereka mengutus tiga orang tosu ini
untuk menangkap ayahnya.
Pek-mau-sian Thio Ki menarik napas panjang. "Tidak ada
jalan lain, Se Jit Kong. Terpaksa kami menuruti keinginanmu
dan kami akan mengalahkanmu agar engkau suka
mengembalikan pusaka-pusaka istana itu dan ikut dengan
kami menghadap para pimpinan partai persilatan. Akan tetapi,
kami menghormati isterimu dan kami tidak ingin membikin
ribut di rumah ini, bahkan tidak ingin membikin ribut di kota
ini. Kami akan menantimu di luar kota sebelah timur. Kami
percaya bahwa Si Tangan Api bukan seorang pengecut yang
melanggar janji dan melarikan diri."
Dia memberi isyarat kepada dua orang rekannya. Mereka
memberi hormat kepada tuan rumah dan isterinya, kemudian
meninggalkan ruangan itu, keluar dari rumah dan terus keluar
dari kota itu pula, berhenti menanti di luar kota sebelah timur
yang sunyi.
"Biar kubereskan mereka. Aku pergi takkan lama." kata Se
Jit Kong kepada isterinya dan diapun melangkah pergi.
"Se Jit Kong, jangan bunuh mereka!” Ju Bi Ta berseru dan
suaminya berhenti, menengok dan mengangguk, kemudian
sekali berkelebat diapun lenyap.
"Ibu, aku ingin nonton pertandlngan itu," kata Sin Wan
yang ingin sekali melihat bagaimana ayahnya akan melawan
tiga orang tosu itu.
"Jangan, Sin Wan. Untuk apa nonton orang berkelahi?
Berkelahi merupakan perbuatan jahat. Di antara sesama
manusia harus saling mengasihi, bukan saling bermusuhan.
Bermusuhan dan berkelahi hanya pekerjaan Iblis."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sin Wan merasa kecewa sekali, akan tetapi dia tidak berani
membantah ibunya. Dia selalu taat kepada ibunya, seperti
juga ayahnya. Hanya bedanya, kalau dia mentaati Ibunya
karena dia sayang dan kasihan kepada ibunya, tidak ingin
menyebabkan hati ibunya, sedangkan Se Jit Kong taat kepada
isterinya karena takut isterinya marah kepadanya.
"Ibu, kalau ibu tidak berada di sana, bagaimana kalau nanti
ayah lupa diri dan membunuh tiga orang tosu yang kelihatan
sopan dan baik itu?" tiba-tiba Sin Wan berkata.
"Ah, engkau benar juga! Mari kita melihat ke sana, aku
harus mencegah ayahmu melakukan pembunuhan lagi!"
Ju Bi Ta menggandeng tangan puteranya dan Sin Wan
diam-diam tersenyum girang. Mereka berjalan secepatnya
menuju ke timur, keluar dari kota Yin-ning.
◊◊◊
"Tosu-tosu lancang, sombong dan busuk. Apakah kalian
sudah bosan hidup? Tidak tahukah kalian siapa aku?"
Kini, setelah seorang diri saja berhadapan dengan tiga
orang tosu itu, Se Jit Kong menumpahkan seluruh
kemarahannya. Isterinya tidak ada iagi di situ untuk
mengendalikannya.
"Heh ... heh ... heh, Se Jit Kong. Tentu saja kami tahu
benar siapa engkau. Engkau adalah Se Jit Kong, peranakan
Uigur yang berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, akan
tetapi menjadi hamba iblis dan tidak pantang melakukan
segala macam kejahatan demi mencari nama besar dan harta
kekayaan. Engkau berjuluk Si Tangan Api, Iblis Tangan Api
karena engkau memiliki ilmu yang membuat kedua tanganmu
mengandung panasnya api. Engkau telah mengacau di timur,
membunuh banyak tokoh pendekar, mengalahkan para
pimpinan partai persilatan, mengaduk-aduk dunia persilatan
dengan kekejaman dan kecongkakanmu," kata Ciu-sian Tong
Kui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkaupun ahli pedang yang sukar dikalahkan. Entah
berapa ratus orang roboh oleh tangan dan pedangmu. Entah
berapa banyak darah yang telah diminum pedangmu. Engkau
bukan manusia, melainkan ibiis sendiri, karena itu engkau
harus bertanggung jawab terhadap para pimpinan partaipartai
persilatan besar," kata Kiam-sian Louw Sun.
"Se Jit Kong, engkau menggunakan sihir untuk mencuri
pusaka dari gudang pusaka istana. Engkau berdosa besar,
bukan saja terhadap kaisar, akan tetapi juga terhadap negara
dan bangsa. Baru saja Kaisar Thai-cu telah membebaskan
rakyat dari cengkeraman penjajah Mongol. Sepatutnya kita
berterima kasih dan bergembira. Akan tetapi engkau bahkan
mengganggu dengan pencurian pusaka. Engkau memang
keturunan bangsa biadab yang tidak tahu terima kasih." Pekmau-
Sian Thio Ki yang biasanya halus itupun kini mencela
dengan kata-kata yang keras.
Hal ini tidaklah mengherankan. Pemimpin rakyat Cu Goan
Ciang yang berasal dari rakyat petani biasa, telah berhasil
memberontak terhadap pemerintah Mongol, bahkan kemudian
berhasil menghancurkan dan menghalau penjajah Mongol
yang telab menguasai Cina selama seratus tahun. Tentu saja
Cu Goan Ciang dianggap pahlawan besar ketika dia
mendirikan Kerajaan Beng-tiauw dan menjadi kaisarnya yang
pertama berjuluk Kaisar Thai-cu (1368-1398).
Kini Se Jit Kong yang tertawa bergelak dan suara tawanya
itu amat dahsyat, karena bukan saja mengandung tenaga khikang
yang hebat, juga mengandung kekuatan sihir yang
membuat tiga orang tosu itu harus mengerahkan sin-kang
(tenaga sakti) mereka untuk melindungi diri agar tidak
terpengaruh.
"Ha-ha-ha, kalian tiga orang tosu jahanam. Sudah tahu
betapa semua pimpinan partai persilatan besar tidak ada yang
mampu menandingiku, dan kalian tiga orang tosu tak ternama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berani mencariku sampai ke sini? Ha-ha-ha, kalau mencari
mampus, kenapa susah-susah dan jauh-jauh sampai ke sini?"
Tentu saja Se Jit Kong tidak tahu bahwa dia berhadapan
dengan tiga orang sakti yang selama puluhan tahun memang
tidak pernah muncul di dunia persilatan sehlngga ketika dia
merajalela di timur, dia tidak pernah mendengar nama
mereka. Akan tetapi, dia merasa terkejut juga ketika melihat
betapa tiga orang tosu itu tenang-tenang saja dan sama sekali
tidak terpengaruh oleh suaranya yang dahsyat tadi. Pada hal,
tidak banyak orang yang akan mampu bertahan, baik
terhadap pengaruh khi-kang maupun ilmu sihir yang
terkandung dalam tawanya tadi.
"Se Jit Kong, ketahuilah bahwa kami tidak biasa dan tidak
suka membunuh orang. Oleh karena itu, mari kita membuat
perjanjian. Kalau kami kalah bertanding denganmu, terserah
kepadamu mau diapakan kami ini. Kalau engkau hendak
membunuh kamipun terserah. Kami tahu akan resiko tugas
kami. Akan tetapi, kalau engkau yang kalah, engkau harus
menyerahkan kembali semua pusaka istana, dan engkau harus
dengan suka rela mengikuti kami untuk menghadap para
pimpinan partai persilatan." kata Pek-mau-sian Thio Ki.
"Bagus! Kalian memang sudah bosan hidup. Nah, kalian
hendak main satu demi satu atau dengan keroyokan? Bagiku
sama saja!" Ucapan ini saja sudah menunjukkan watak yang
takbur dari datuk itu, akan tetapi di balik itu juga mengandung
kecerdikan, karena ucapan itu, kalau diterima oleh orangorang
yang merasa diri mereka memiliki ilmu kepandaian
tinggi, tentu akan mendatangkan rasa malu dan tidak enak
untuk maju bersama dan melakukan. pengeroyokan.
"Kami bukan orang-orang pengecut yang suka melakukan
pengeroyokan, Se Jit Kong,” jawab Dewa Rambut Putih. “Kami
mendengar bahwa engkau memiliki tiga ilmu yang hebat.
Pertama ilmu silat tangan kosong, gin-kang dan sin-kang yang
sukar dicari bandingnya. Kedua, engkau ahli pedang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hebat pula. Dan ketiga, engkau memiliki Ilmu sihir yang kuat.
Nah, kau akan kami imbangi dengan ilmu-ilmu itu. Pertama,
engkau akan ditandingi Dewa Arak dalam ilmu silat tangan
kosong. Kedua, engkau akan dihadapi Dewa Pedang dalam
ilmu pedang, dan terakhir, aku sendiri yang akan mencoba
kekuatan sihirmu.
"Bagaimana pendapatmu ? Kalau dua orang di antara kita
kalah, biarlah kami mengaku kalah."
Tentu saja syarat ini amat menguntungkan bagi Se Jit
Kong. Dia tidak dikeroyok, dan kalau dapat mengalahkan dua
orang, biarpun andaikata yang seorang menang, dia tetap
keluar sebagai pemenang.
"Bagus! Nah, majulah kau, tosu pemabok! Aku akan
membuat perut gendutmu menjadi kempis!" ejeknya sambil
menghadapi Ciu-sian Tong Kui.
"Heh-heh-heh, perut ini berisi hawa arak, bagaimana
engkau akan mampu membikin kempis tanpa terkena gasnya?
Heh .. heh .. heh!" Biarpun dia membadut, namun Dewa Arak
tidak pernah lengah karena dia maklum bahwa dia
berhadapan dengan seorang datuk sesat yang amat lihai dan
licik.
Benar saja, belum habis dia tertawa, tubuh tinggi besar itu
telah menyerangnya secara curang dan dahsyat sekali. Kalau
saja dia lengah dan belum siap, siaga, setidaknya serangan itu
tentu akan membuat Dewa Arak kelabakan! Namun, dia telah
siap siaga dan dengan cepat kakinya bergeser secara aneh
dan cepat sekali, dan dia telah berhasil menghindarkan diri
dari terkaman lawan, bahkan sambil memutar tubuh dia
membalas dengan totokan ke arah lambung lawan.
Se Jit Kong menangkis sambil mengerahkan. sin-kang
untuk mematahkan tulang lengan lawan, juga untuk
mengukur sampai di mana kekuatan sin-kang lawannya yang
gerakannya aneh dan seperti ugal-ugalan itu. Dewa Arak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
justeru mengharapkan tangkisannya karena diapun ingin
mengadu sin-kang. Bukankah mereka berdua memang
bertanding mengadu sin-kang dan gin-kang (ilmu
meringankan tubuh ) sambil menguji pula ilmu silat tangan
kosong masing-masing?
"Dukkkk!!!"
Keduanya terdorong ke belakang. Se Jit Kong terdorong
sampai tiga langkah, sedangkan Dewa Arak terdorong mundur
dua langkah. Dari akibat adu tenaga ini saja sudah dapat
diketahui bahwa Dewa Arak masih lebih kuat sedikit! Tentu
saja Se Jit Kong menjadi terkejut bukan main. Tak
disangkanya bahwa lawan yang cacingan perutnya ini memiliki
tenaga yang demikian kuatnya.
Dia tidak tahu bahwa Ciu-sian Tong Kui adalah seorang ahli
sin-kang yang telah menguasai Thian-te Sin-kang (Tenaga
Sakti Langit Bumi)! Dia mangeluarkan teriakan marah dan kini
dia mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk
menyerang lawan. Gerakannya amat cepat sehingga tubuhnya
lenyap berubah menjadi bayangan yang menyambar-nyambar.
Namun, kembali Dewa Arak mengeluarkan suara tawanya
yang nyaring dan diapun mengimbangi dengan gerakan kaki
yang berloncatan, bergeseran dan semua serangan lawan
dapat dielakkannya. Kalau gerakan lawan amat cepat,
gerakannya sendiri amat aneh, seolah-olah setiap gerakan
kaki yang bergeser ke sana sini dan berloncatan itu seperti
sepasang kaki burung yang amat lincahnya. Dan memang si
gendut ini menguasai ilmu meringankan tubuh atau ilmu
langkah ajaib yang diberi nama Hui-niauw-poan-soan (Burung
Terbang Berputaran).
Pada saat itu, Ju Bi Ta dan Sin Wan sudah berada tak jauh
dari situ, menjadi penonton pertandingan Hanya mereka
berdualah yang menjadi penonton karena tempat itu sepi dan
tidak ada orang lain yang berada disitu. Ju Bi Ta sengaja
berdiri di tempat terbuka agar suaminya dapat melihatnya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena dia ingin agar suaminya tahu akan kehadirannya
sehingga suaminya tidak akan bertindak keterlaluan, tldak
akan melakukan pembunuhan seperti yang telah dipesannya
tadi.
Dan memang Se Jit Kong tentu saja sudah melihat
kehadiran isterinya dan puteranya. Hal ini membuat dia
kurang leluasa bergerak. Biasanya, kalau bertanding, apa lagi
melawan seorang yang demikian lihainya, dia akan
mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk
membunuh lawan. Akan tetapi sekarang, isterinya hadir dan
tadi isterinya berpesan agar dia tidak membunuh tiga orang
tosu itu!
Hal ini membuat serangannya tidak begitu ganas. Dia
hanya ingin merobohkan dan mengalahkan lawan, tidak mau
membunuhnya karena kalau hal ini terjadi, isterinya tentu
akan marah. Sejak dia memperisteri Ju Bi Ta, dia begitu
sayang kepada isterinya. Dia merasa amat berbahagia kalau
isterinya bersikap manis kepadanya, akan tetapi sorga
berubah menjadi neraka baginya kalau isterinya marah dan
tidak menyambutnya dengan manis.
Setiap orang pria yang normal, siapapun dia, kaya atau
miskin, pandai atau bodoh, dari kaisar sampai buruh kecil,
yang sudah dewasa, pasti mempunyai suatu kerinduan akan
seorang wanita yang dapat dicintanya sepenuh hati. Seorang
wanita yang akan membangkitkan kejantanannya, yang akan
berbahagia oleh cintanya, seperti tanah subur bagi benih
cintanya yang akan bersemi dan tumbuh dengan suburnya.
Pria akan selalu merasa bangga kalau ada wanita yang
menghargai cintanya, membuat dia merasa jantan, perkasa
dan mampu membahagiakan wanita. Demikian pula dengan
Se Jit Kong. Biarpun dia seorang datuk besar kaum sesat,
diapun seorang pria normal. Sudah kerap kali dia menikah,
namun selalu pernikahannya gagal, walaupun kegagalan ini
disebabkan oleh wataknya sendiri yang kasar dan kejam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, sejak dia memperisteri Ju Bi Ta kurang lebih
sebelas tahun yang lalu, atau sepuluh tahun lebih, dia benarbenar
menemukan seorang wanita yang memenuhi segala
keinginannya. Karena itu, diapun takut akan kehilangan sikap
isterinya, dan ini membuat dia menjadi taat karena takut kalau
isterinya marah kepadanya.
Tentu saja keadaan Se Jit Kong yang demikian itu
menguntungkan Dewa Arak. Memang ilmu silat tangan
kosong, ilmu meringankan tubuh dan tenaga sakti mereka
berimbang, atau Dewa Arak lebih menang sedikit. Kini dengan
hadirnya Ju Bi Ta yang membuat Se Jit Kong tidak leluasa
bergerak, membuat Dewa Arak lebih unggul.
Akan tetapi sebaliknya, Dewa Arak juga tidak ingin
membunuh datuk besar itu. Biarpun dia seorang yang
berwatak riang gembira dan ugal-ugalan seperti orang yang
selalu mabuk arak, namun dia adalah seorang pertapa yang
sudah melepaskan nafsu-nafsunya, terutama sekali nafsu ingin
menang dan nafsu membenci dan ingin mencelakai orang lain.
Dia tidak mau membunuh, bahkan kalau bisa hanya
menangkan pertandingan itu tanpa membuat lawan terluka
parah.
Limapuluh jurus telah lewat dan pertandingan tangan
kosong itu masih berlangsung semakin seru dan hebat.
Biarpun mereka berdiri agak jauh. Ju Bi Ta dan Sin Wan dapat
merasakan sambaran angin pukulan yang membuat rantingranting
pohon dl sekeliling tempat itu seperti diamuk angin
kuat, bahkan daun-daun kering yang berserakan di bawah
beterbangan ketika dua pasang kaki itu bergerak dan
berloncatan dengan amat cepatnya!
Sukar bagi Ju Bi Ta untuk membedakan mana suaminya
dan mana orang lain dari dua bayangan yang berkelebatan
itu.
Sin Wan yang sejak berusia lima tahun sudah digembleng
ilmu oleh ayahnya, sudah dilatih siu-lian (samadhi) sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memiliki ketajaman pandangan, biarpun dapat mengikuti
gerakan mereka, tetap saja dia tidak dapat menilai siapa yang
mendesak dan siapa yang terdesak. Gerakan mereka terlalu
cepat.
Akan tetapi diam-diam Se Jit Kong mengeluh. Kedua
lengannya sudah berubah merah seperti baja membara, dan
dia sudah mengeluarkan ilmu silatnya, namun lawannya
sungguh tangguh. Lengannya yang mengandung hawa panas
membakar itu bertemu dengan sepasang lengan yang kadang
keras, kadang lunak. akan tetapl selalu dingin dan tidak
terbakar oleh tangan apinya!
Tahulah dia bahwa kalau diianjutkan, andaikata dia tidak
kalahpun dia akan kebabisan tenaga, pada hal dia masih harus
bertanding melawan dua orang lagi yang tentu juga amat lihai
seperti Si Dewa Arak ini. Mulailah dia ragu-ragu.
Dewa Arak melihat keraguannya ini dan tidak ingin menyianyiakan
kesempatan. Dia mengerahkan llmu gin-kangnya dan
kakinya bergeser aneh ke depan, bahkan seolah hendak
menerima tamparan tangan kanan Se Jit Kong yang melayang
dari atas ke arah kepalanya. Namun, secepat kilat tubuhnya
menyelinap ke bawah dan tiba-tiba Se Jit Kong terhuyung ke
belakang karena lambungnya telah didorong oleh telapak
tangan Dewa Arak.
Kalau Dewa Arak menghendaki, dorongan itu dapat saja
menjadi pukulan maut yang akan merusak isi perut lawan.
Akan tetapi dia hanya mendorong, membuat lawan terhuyung
untuk membuktikan bahwa dia menang dalam pertandingan
itu.
Akan tetapi Se Jit Kong bukanlah orang yang mau mengaku
kalah begitu saja. Bahkan selama hidupnya, dia belum pernah
mengaku kalah! Sejak dia berguru kepada seorang pertapa
sakti di India, dia merasa dirinya tak terkalahkan, bahkan dia
tidak pernah mau percaya bahwa dia dapat dikalahkan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kesombongan merupakan penyakit yang selalu menyeret
kita ke alam pikiran sesat. Nafsu daya rendah yang
mencengkeram hati dan akal pikiran kita mendorong kita
untuk merasa bahwa kita ini yang paling pandai, paling benar,
paling baik dan paling segala! Kalau kita pandai, kita
membanggakan pikiran kita, kalau kita kuat, kita
membanggakan tubuh kita. Kita selalu lupa bahwa kita ini
hanya alat!
Seluruh tubuh dan hati akal pikiran ini hanya untuk hidup
sebagai manusia, alat yang semula dimaksudkan untuk
mengabdi kepada jiwa yang menjadi penghuni diri kita. Akan
tetapi sayang, alat-alat itu kemudian digelimangi nafsu daya
rendah sehingga kita dibawa menyeleweng.
Alat-alat yang seharusnya dipergunakan oleh jiwa, diambil
alih oleh nafsu, diperalat oleh nafsu sehingga apapun yang
dilakukan tubuh dan hati akal pikiran, selalu ditujukan untuk
memuaskan nafsu daya rendah. Nafsu daya rendah atau setan
selalu mengejar kesenangan, memperalat dan
menyelewengkan kita sehingga membawa pula kita kepada
kesombongan diri, kebencian, iri hati, ketakutan, kemurkaan,
dan sebagainya.
Kalau kita melakukan sesuatu, kita menjadi bangga dan
menganggap bahwa kita yang pandai! Kita lupa bahwa
kepandaian yang berada di dalam kepala kita itu hanya alatalat
belaka, terdiri dari sel-sel otak, darah dan syaraf. Ada
sedikit saja kerusakan pada alat itu, ada satu saja syaraf
lembut itu yang putus, maka akan sirnalah semua kepandaian
yang kita banggakan semula!
Demikianpun kekuatan pada tubuh. Kita membanggakan
tubuh kita yang kuat. Padahal, tubuhpun hanya alat dan ada
sedikit saja kerusakan pada tubuh, kekuatan yang
dibanggakan itupun sirna. Jelas bahwa kita pandai karena kita
diberi kepandaian, kita kuat karena diberi kekuatan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kita lupa bahwa ADA yang memberi! Setan membisikkan
kesombongan kepada kita sehingga kita lupa kepada SANG
PEMBERI. Orang. yang sadar akan hal inl, tidak akan berani
memuji diri sendiri yang hanya alat, melainkan memuji kepada
SANG PEMBERI yang telah memberi semua itu kepada kita
sebagai alat, memuji kepada SANG PEMBERI atau Tuhan Yang
Maha Kasih, Allah Yang Maha Esa!
Karena merasa terdesak, sebelum dia dirobohkan, Se Jit
Kong sudah meloncat lagi dan kini tangannya memegang
sebatang pedang terhunus yang mengeluarkan sinar
berkilauan. saking tajamnya. Itulah Gin-kong-pokiam (Pe-dang
Pusaka Sinar Perak), sebuah di antara benda pusaka yang
dicurinya dari gudang pusaka istana.
"Tranggg....l" Sebatang pedang lain menangkis pedang
bersinar perak yang menyambar ke arah Dewa Arak. Ternyata
Dewa Pedang telah meloncat dan menangkis pedang yang
menyambar ke arah rekannya itu. Kini, Dewa Pedang dan Se
Jit Kong berhadapan, dengan pedang di tangan. Pedang di
tangan Dewa Pedang juga mengeluarkan cahaya kekuningan.
Pedang ltupun sebuah pedang pusaka ampuh yang bernama
Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari).
"Heh .. heh .. heh, Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong, engkau
sudah kalah dalam pertandingan pertama denganku! Lihat
saja baju lambungmu," kata Dewa Arak yang sudah meloncat
jauh ke belakang, mengambil guci araknya dan minum arak
dari gucinya beberapa teguk.
Se Jit Kong maklum akan kebenaran ucapan itu dan dia
tidak mau lagi melirik ke arah baju di lambungnya yang
berlubang sebesar telapak tangan lawan. Diapun maklum
bahwa kalau Dewa Arak menghendaki, tentu bukan hanya
bajunya yang berlubang, melainkan lambungnya dan tentu dia
telah tewas.
Akan tetapi dia tidak mau bicara tentang itu, hanya diamdiam
dia merasa heran mengapa ada orang setolol itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendapat kesempatan baik tidak mau mempergunakannya!
Karena merasa kalau dalam pertandingan pertama, dia harus
mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk
memenangkan dua pertandingan yang lain.
Dia merasa yakin akan menang karena dia memiliki ilmu
pedang yang hebat, campuran dari ilmu pedang Bangsa Kazak
yang ahli bertempur itu, dan ilmu pedang dari India. Dia telah
mengolah ilmu-ilmu yang dikuasai itu menjadi ilmu pedang
yang ampuh sekali, yang. selama ini belum terkalahkan.
Biarpun ketika dia mengadu ilmu pedang dengan tokoh
Kun-lun-pai, kemudian tokoh Bu-tong-pai, dia tidak dapat
menang dan hanya dapat mengimbangi ilmu pedang lawan,
namun diapun tidak dikalahkan. Dan dia menang dalam
perkelahian itu dengan bantuan ilmu sihirnya dan ilmu pukulan
Tangan Api.
"Hyaaaatttt ......!"
Dia mengeluarkan bentakan lantang dan pedangnya sudah
menyerang dengan dahsyatnya. Karena dia sudah kalah dalam
pertandingan pertama, kini Se Jit Kong melupakan pesan
isterinya, lupa bahwa isterinya berada tak jauh dari situ
menjadi penonton. Dia tidak perduli lagi karena kalau dia tidak
mampu menang berarti dia kalah dan dia harus menepati
janjinya.

Related Posts:

Loading Cerita Dewasa...
Comments
1 Comments